Khotbah Minggu Pagi Desember 2001

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu, 16 Desember 2001

HIKMAT

Mari kita buka Alkitab kita di dalam Amsal 

8:22 TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. 
8:23 Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. 
8:24 Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. 
8:25 Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir; 
8:26 sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu dataran yang pertama. 
8:27 Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya, 
8:28 ketika Ia menetapkan awan-awan di atas, dan mata air samudera raya meluap dengan deras, 
8:29 ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi, 
8:30 aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; 
8:31 aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku. 

Ini adalah cuplikan dari keberadaan hikmat. Di dalam kata hikmat itu ditulis sebetulnya di dalam huruf besar, yaitu Yesus sendiri, saudara, yang dikatakan disana sebagai 'ada sebelum dunia ini dijadikan'. Saudara lihat bangunan ini. Kita mau bangun 5 tingkat, maka sebetulnya ada tiang-tiang yang dibangun dari bawah. Tiang yang dibawah ini jauh lebih besar, yang diatas lebih kecil terus keatas lebih kecil. Tiang ini menyangga supaya diatas ini tidak roboh, memakai beton. Saudara bisa perhatikan langit, Tuhan tidak pakai tiang. Saudara tahu dunia itu bulat, saudara tahu; yang bilang dunia itu persegi, dia tukang martabak pasti. Jadi dunia itu bulat, saudara-saudara, tapi kenapa air tidak tumpah? Langit semesta alam, orang yang disini bilang langit itu disana, orang yang disini bilang langit itu disana, orang yang disini bilang langit itu di sana - tapi untuk ke bulan saja orang memerlukan berapa waktu dengan pesawat Apollo untuk ke Mars memerlukan 4 bulan dengan kecepatan Pathfinder itu sekian ribu kilometer perjam, memerlukan 4 bulan baru sampai. Benda yang hanya 50 cm dengan roda diatur dari bumi -  itu 4 bulan sampai kesana. Bagaimana sampai ke langit? Dan ayat ini, cuplikan ini berkata: Aku telah ada. Kalau saudara membaca tadi ada dilahirkan. Ini adalah istilah manusiawi supaya bisa mengerti bahwa itu ada awalnya. Jadi sebelum alam semesta dijadikan, Tuhan sudah ada; pakai kata lahir supaya kita mengerti. Karena kalau dipakai kata lahir, siapa yang melahirkan Dia. Tidak ada. Tapi supaya kita mengerti. Jadi kalau nanti kita merayakan natal, kita tidak salah kaprah, kita tidak terfokus pada Maria yang melahirkan Yesus. No, karena sebelum dunia dijadikan Dia sudah lahir, Dia sudah ada. Amin. Dikatakan di sana, waktu ayat 22, Tuhan telah menciptakan Aku. Seolah-olah Dia diciptakan Tuhan. Tetapi dalam bahasa asli, Tuhan mengawali ciptaannya. Jadi Dia itu sebagai awal ciptaan. Awal yang mencipta, yaitu salah satu juga yang mencipta, ayat 23, pada zaman purbakala Aku dibentuk, sebelum air samudera raya ada, Aku telah lahir, Aku telah ada. Mari kita lompat sekarang kepada Injil Yohanes pasal 1, di sana kita akan membaca satu ayat:

1:1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah-tepat sama dengan Amsal 8 tadi, pada waktu itu aku bersama-sama dengan Dia menjadi kesenanganNya-dan Firman itu adalah Allah. 
1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah-sama dengan Amsal 8 tadi, Dia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. 
1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia-jadi Dia bukan yang awal yang diciptakan, tapi awal yang mencipta-dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Nanti besok pagi kelas dua bisa belajar kitab Wahyu, saudara-saudara, lebih jelas lagi saya akan terangkan ini. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Tuhan adalah awal ciptaan, Dia yang mencipta.

1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. 
1:5. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. 

Jadi kita melihat bahwa Tuhan Yesus itu Dia bersama-sama dengan Allah pada awal pertama. Apa bedanya kita dengan Tuhan? Apa bedanya saudara dan saya dengan Tuhan? Dengar baik-baik, perhatikan. Tuhan tidak ada permulaannya, tidak ada akhirnya. Walaupun dalam Yohanes pasal 1, pada awalnya, pada mulanya, sebetulnya Dia tidak ada permulaannya, Dia maha ada, Dia sudah ada; sebelum apa-apa ada, Dia sudah ada. Dia tidak perlu pelayan, Dia tidak perlu dilayani walaupun saudara  nyanyi tadi melayani, melayani, Dia tidak perlu. Dia ada dan Dia maha ada. Omni presence - Dia ada, Dia omni science - Dia maha mempunyai pengetahuan. Dia sangat ada, bisa ada dimana-mana dalam satu waktu, Dia ada, Dia sekarang ada di tempat ini, Dia ada di Amerika, Dia ada di negara manapun juga, Dia ada di Afghanistan, Dia ada di Eropa, Dia ada dimana-mana, tetapi Surga tidak kosong. Dia maha ada, Dia maha hadir - ini kehebatan dari Allah, Dia ada. Dia tidak ada awal, Dia tidak ada akhirnya. Nah, kita ada awalnya tapi tidak ada akhirnya. Sama. Kalau Allah tidak ada awal tidak ada akhir, kalau kita ada awalnya - melalui kelahiran, tapi tidak ada akhirnya. Mati dikubur itu bukan akhir dari hidup kita manusia. Kita masih ada roh yang akan terus hidup. 

Nah, inilah yang kita sedang atur dalam masa hidup, karena daging ini engga tahan menahan hidup itu dia ngga tahan, karena daging ini sudah berdosa. Jadi begitu kita dilahirkan tambah lama tambah busuk ya. Coba saudara cium bayi, aduh wanginya luar biasa, cium bayi, cium hawa mulutnya, wangi bayi itu. Saya ciumin cucu saya, mulutnya, ngomong, wangi sekali - itu pada mulanya. Tetapi lama-lama, lama-lama, lama-lama, lama-lama, coba jangan mandi, karena saya sendiri ini terlalu tajem, saya shio tikus, jadi saya bisa tahu siapa yang tidak mandi pagi ini, saya bisa tahu saudara-saudara. Ini hanya humor saja. Saya tidak tahu kebiasaan-kebiasaan saudara. Saudara urusan dengan Tuhan, mandi atau tidak mandi. Tetapi kita, roh kita tidak ada akhirnya, yah. Jadi kita setelah kita jadi anak Tuhan, ada yang meninggal, saudara Sun Lan meninggal, si ini meninggal, Rita meninggal, dan sebagainya. Bagi kita, mata rohani kita, no, dia tidak meninggal yah. Bapaknya Ko Ijes meninggal bagi anak Tuhan, saudaraku, ini akhir kok, akhir dari ini bungkusan ini yang tidak tahan lagi, tapi roh itu dia tidak ada akhirnya, dia terus. Nah, itulah yang kita sedang kelola sekarang pada dari kebaktian Minggu, kebaktian Rabu, kebaktian Minggu sore, kita doa, kita baca Firman, kita belajar memperbaiki diri dengan kekuatan Tuhan, kita belajar karakternya Tuhan - supaya kita tambah hari tambah seperti Dia, tambah hari tambah seperti Dia karena kita akan bersama-sama dengan Dia. Nah, di dalam Yohanes pasal 1 ini kita baca lagi terus.

1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; 
1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. 
1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. 
1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. 
1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 
1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 
1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; 

Haleluyah. Waktu kita natal di Jakarta pada tanggal 11, saya ada di lantai 13. Waktu sudah mau jam 6 saya turun. Di lantai 7 lift terbuka, jadi belum turun lift terbuka. Waktu kita tunggu di lift ada satu gadis masuk, ih badannya bagus, rambut hitam. 'Mau kemana ini', saya bilang. 'Lantai 3'. 'Ada apa di lantai 3? Ada pesta. Pesta apa? Pesta natal. Oh natal, natal dari mana? Tau tuh dari pendeta itu tuh, pendetanya papa saya. Papamu siapa? Yanto. Oh Yanto penyanyi? Iya. Pendetanya siapa namanya? Tau tuh namanya, Awondatu. Dia ngomong sama saya, saudara-saudara. Yang khotbahnya Awondatu, yah? Iya. Sudah kenal belum sama dia? Belum. Papa saya tuh, pendeta papa saya. Oh, iya. Sama seperti itulah manusia, kata Yohanes. Kita memakai fasilitas Tuhan, kita memakai bernafas dari udara yang diciptakan Tuhan, kita mandi air yang diciptakan Tuhan. Saudara-saudaraku, kita makan buah yang diciptakan Tuhan, kita saudaraku bersenang-senang dengan sinar matahari yang diciptakan Tuhan. Tapi kadang-kadang kita tidak sadar siapa Penciptanya? Kita memakai yang diciptakan-Nya tetapi kita tidak mau kenal kepada yang menciptakannya. Kita tidak kenal siapa yang punya lalakon. Kita tidak mau kenal, kita tidak tahu. Maka waktu kita buka toko kita dapat untung, kita anggap kita yang dagang yang untung. Waktu kita punya toko bisa besar lalu kita bangun rumah yang besar, kita anggap kita yang bangun rumah. Waktu kita bisa sekolahkan anak, anak bisa sukses - kita anggap kita yang sukses. Padahal kita tidak bisa apa-apa. Kita bisa sukses saudaraku. 

Nah, sekarang saya kasih ilustrasi lagi. Sebelum saya lahir, sudah ada do-re-mi-fa-sol-la-si-do - 7 not. Sebelum saya lahir. Jadi sekarang saya tidak bisa ngomong lagu ini ciptaan saya. Karena apa? Sebelum saya lahir sudah ada do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Nah, Tuhan memberikan hikmat kepada saya, Tuhan memberikan kemampuan, Tuhan memberikan lagu sehingga saya bisa mengatur do- re- mi- fa- sol- la- si- do, diijinkan oleh Tuhan sampai saya ketemu itu lagu-lagu. Maka itu saya tidak ada sedikitpun saudara, bisa mengambil kemuliaan Tuhan andaikata ini lagu ciptaan saya; ini lagu adalah saya yang bikin. Nggak bisa. Karena sebelum saya lahir sudah ada do- re- mi- fa- sol- la- si- do. Dengan begini kita akan sadar. Jadi kalau orang yang dari Ambon, dari Poso, dari Manado kejar-kejar rumah terbakar sampai usaha rumah ditinggalkan. Kenapa stres? Karena mereka anggap itu rumah saya. Itu rumah saya dibakar. Kita stress kalau begitu. Itu bukan  rumah kita. Itu rumah Tuhan kasih pinjam. Kalau kita anggap itu rumah kita, stress kita. Tapi kalau kita anggap itu rumah memang Tuhan punya, Tuhan bisa pelihara kita disini Tuhan bisa pelihara kita dimana-manapun kita berada. Tuhan punya langit dan bumi; Dia menciptakan langit dan bumi - dimana kita berada, kita saudaraku akan dipelihara oleh Tuhan. Apa artinya Ambon? Sedangkan pisang Ambon ada dimana-mana. Apa artinya Ambon? Bika Ambon ada dimana-mana. 

Saudaraku, jadi kita harus mempunyai visi yang luar biasa dari Firman Allah. Tuhan menciptakan segala sesuatu dimana-mana. Kalau kita kecopetan, kita  kehilangan, aduh kita marah, kalau kita anggap itu adalah dompet saya, uang saya. Benda saudara. Jadi anggap saja itu Tuhan punya. Waktu saya kehilangan anak lalu saya bilang anak saya yang meninggal. Aduh, sakitnya luar biasa. Tapi kalau kita kembali bahwa segala sesuatu dari Tuhan kepada Tuhan; memang dari Tuhan kembali kepada Tuhan. Segala sesuatu bagi Tuhan. Saya dapat kalimat itu dari Tuhan sendiri: Dia itu anakmu tapi bukan anakmu. Maksudnya apa Tuhan? Iya, dia anakmu tapi bukan anakmu. Kalau anakmu lagi tidur, tuh siapa yang jaga anakmu. Terbuka. Kamu tidak bisa jaga anakmu digigit nyamuk. Nyamukpun kamu tidak bisa jaga. Nanti jika bangun ini anak digigit nyamuk kurang ajar ini nyamuk, ambil kayu putih, aduh kasihan digigit nyamuk - kita ngak bisa jaga. Waktu anakmu sekolah diluar kota siapa yang jaga anakmu. Maka tadi lagu Tuhan menetapkan langkah-langkah orang Yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Dimana saja kita ada saudaraku, Tuhan pelihara. Rumah kita ada dimana-mana. Langit Dia nggak pakai tiang karena kalau udah pakai tiang nanti manusia bilang ini daerah saya; dari tiang ini sampai tiang sana ini daerah saya punya. Tuhan nggak pakai tiang. Ayat 12   
1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; 

Saya berhenti disitu, kita lihat Amsal 8. 
8:30 aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; 
8:31 aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku. 

Sekarang kita lihat Yohanes 1
1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; 

Yesus disenangi oleh Bapa - Aku menjadi kesenanganNya, kesayanganNya, dalam Amsal 8. Dan Dia suka bermain dipermukaan bumi. Ini adalah nubuatan Dia akan turun kedalam dunia. Dia suka bermain dipermukaan bumi. Lalu ayat yang terakhir kita baca : anak-anak manusia menjadi kesenanganku. 
3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 

Ayat 12 tadi - semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. Heran Dia Anak Allah menyenangi anak-anak manusia supaya kita anak-anak manusia menjadi anak-anak Allah. Dia, Allah, menjadi manusia supaya kita manusia menjadi seperti Tuhan. Dia yang mulia menjadi berdosa karena kita supaya kita orang berdosa menjadi mulia seperti Tuhan. Dia yang tinggal di Surga masuk kedalam dunia ini supaya kita yang tinggal di dunia ini masuk ke dalam Surga. Dia menyenangi anak-anak manusia - dengar pagi hari ini - Tuhan Yesus mengasihi saudara! Tuhan Yesus bukan hanya mengasihi, menyenangi, menyukai anda, menyukai saudara. Karena Dia menyukai saudara, Dia tidak suka ada duri dosa di dalam. Kalau saya menyukai buku ini, saya tidak suka ada debu, karena saya suka. Kalau saya menyukai gitar saya, saya raba tadi, ih ada banyak ini, saya punya tangan sudah terlatih, ini ada banyak karat di senar ini, saya musti gosok karena saya sayang ini gitar. 

Demikian juga Tuhan karena Dia sayang kita, Dia tidak suka ada dosa. Dia tidak suka ada kesalahan dalam hidup kita. Makanya Dia poles, makanya fuh dia tiup. Dengan apa? Melalui FA. Dari hari  ke hari, dari bulan ke bulan sampai kita jadi sempurna seperti Dia. Dia bersihkan kalau ada debu, Dia bersihkan supaya seperti ini mimbar ah, kotor - ketahuan nggak dilap. Jadi saudaraku kita harus mengasihi Tuhan seperti kita mengasihi benda-benda yang kita senangi. Coba saja foto anak kita, foto cucu kita, kita gantung di tempat yang terbaik. Kalau kita kangen kita lihat oh, luar biasa senyumnya anak kita ya; eh, luar biasa senyumnya cucu kita ya. Biar kata orang lain seperti cucurut tetapi kita anggap kita sudaraku anak kita ini seperti cocorot - manis sekali, seperti kue cocorot. Walaupun orang lain bilang apa - tidak bisa. Saya pernah lihat ada satu anak ibunya bilang disebutnya Isabela. Kalau saya lihat muka anak itu nggak cocok pake nama Isabela tapi sudah memang dia sayang sekali dia punya anak. Biar bagaimana kata orang pokoknya aku punya anak itu Isabela. Walaupun mukanya saudara-saudaraku, bukan seperti Isabela tapi seperti kuda belang tetapi saudaraku dia tetap adalah Isabela. Nah, sekarang saya bawa kepada Tuhan. Kita ini banyak dosa, kita ini tidak baik tapi kalau Tuhan sudah sayang, Dia bilang anak-Ku ini baik, Anak-Ku ini manis. Aku akan bikin dia jadi baik, Aku akan bikin dia jadi pandai, Aku akan bikin dia jadi berhasil. Walaupun dunia bilang ah, jelek - tapi Tuhan bilang engkau baik. 

Jadi saudara pada pagi hari ini, sebelum nanti kita minggu depan akan bernatal-ria, kita musti berpengetahuan dulu bahwa natal itu urusan kecil dihadapan Tuhan. Nggak ada apa-apanya karena Dia sudah ada sebelum dunia dijadikan - pakai kata lahir tadi. Aku adalah Awal yang Akhir. Makanya saya itu suka agak menyayangkan orang yang mempelajari Tuhan itu, mempelajari FA itu, ngomong yang nggak-nggak - setengah-setengah. Nanti datang, nanti nggak. Majunya itu ya kalau ada waktu. Kalau eng eng kita datanglah ko Yoyo ya, kalau eng eng, ini lagi bo eng. Jadi berarti saudaraku pekerjaan no 1, Tuhan no. 2.  Saudara belum kenal Dia. Kalau saudara sudah kenal Tuhan sungguh-sungguh, saudara akan bikin Dia selalu no. 1, pekerjaan no 2 bahkan no 17. Karena apa? Karena Dia no. 1

Ayat terakhir dari Amsal 8 saya akan baca    
8:34 Berbahagialah orang yang mendengarkan daku, yang setiap hari menunggu pada pintuku, yang menjaga tiang pintu gerbangku. 
8:35 Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan akan dia. 
8:36 Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut."

Jadi saudaraku, kalau kita mau hidup, dipelihara oleh Tuhan, dijaga oleh Tuhan, dipusti-pusti oleh Tuhan jadi bagaimana perlakuan kita kepada sang Putra itu kepada Yesus. Saya mau kasih ilustrasi.  Ada orang kaya di Amerika punya anak-satu satunya anak laki-laki. Eh, anak lelaki ini umur 28 tahun atau 25 tahun saya lupa ceritanya - meninggal. Wah, sedih ini sang bapa. Belum kawin, belum dinikahkan sudah meninggal. Paling menangis itu pelayannya pembantunya yang tahu dia dari kecil, satu wanita tua. Akhirnya nggak lama, beberapa tahun kemudian, orang kaya ini juga meninggal. Sudah duda dia meninggal juga. Kalau di Amerika itu ada balai harta peninggalan lalu diperiksa ini untuk siapa. Diperiksa ada surat wasiat - tidak ada surat wasiat, jadi disita sama pemerintah. Tinggal pembantu rumah tangga ini pelayannya ini dia bilang: Bapa, saya ini pembantu rumah tangga dari kecil anak tuan ini, boleh nggak saya minta itu foto dari anaknya Tuan Besar. Fotonya kecil nempel di tembok. Boleh, ambil aja itu, kata pengadilan. Pulang. Karena sayang itu, dia mau cium itu foto, dia buka itu foto, waktu dia buka ada amplop yang jatuh pluk. Waktu dia buka warisan - surat wasiat; semua kekayaan saya diberikan kepada orang yang mencintai anak saya. Jadi dia taruh amplop itu. Nah, itu pembantu rumah tangga tidak perlu uang tapi dia kasih sama pengadilan. Pengadilan bilang oh ini kalau begitu ini gedung semua adalah milikmu. Diberikan kepada orang yang mencintai anak saya. Pembantu ini mencintai sang anak sampai fotonya saja dia minta mau dicium. Makanya dia buka dari pigura, jatuh amplopnya. Kekayaan Surga akan diberikan kepada siapa saja yang mencintai anak ini, yaitu Yesus. 

Pada pagi hari ini, coba periksa dalam diri kita, apa saudara cinta Tuhan itu karena fasilitas, apa saudara cinta Tuhan itu karena oh saya diberkati atau saudara mengharapkan saya ingin dapat berkat, itu sebabnya saya mencintai Tuhan. Apa saudara mencintai Tuhan karena ah saya berharap disembuhkan, saya berharap dapat kesehatan. Apa itu? Apa saudara mencintai Tuhan tanpa pamrih? Nggak hujan, nggak panas aku mengasihi Tuhan. Diberkati atau tidak, aku mengasihi Tuhan. Saudara sering tidak memperhatikan ya kalau kebaktian pernikahan, orang jemaat suka tidak datang. Jadi saya mengukur memang jemaat kita belum dewasa. Dia tidak suka. Tapi kalau anaknya kawin dia minta jemaat datang.  Tapi kalau anak orang lain kawin dia tidak suka datang. di dalam pernikahan, selalu saya doa - sumpah janji di hadapan Tuhan. Aku mencintai aku akan setia kepada istri akan setia kepada istri dalam susah atau senang. Dalam sakit atau sehat. Dalam kekurangan atau berkelimpahan. Sampai maut memisahkan kami berdua. Itu janji dan sumpah di depan Tuhan. 

Tahukah saudara bahwa kita itu sebetulnya juga harus berjanji dihadapan Tuhan bahwa aku mau mengasihi Tuhan dalam susah atau suka. Berkekurangan atau berkelimpahan, waktu sakit atau sehat - saya mau mengasihi Tuhan. Tanggal 11 Desember itu sukses besar. Banyak orang kirim SMS dapat berkat ditegur Tuhan dapat kekuatan, dapat pemulihan, dsb. Tapi Tuhan memberikan kepada saya warning - the most important thing is not the day before the war but the day after the war. Yang paling penting itu adalah sehari sebelum perang tetapi sehari setelah perang (rec. habis. - sc.).  

-- o --

Minggu, 23 Desember 2001

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

Dalam Injil Lukas pasal 1, kita akan membaca nyanyian dari Maria, ayat 46: 

1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, 
1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 
1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 
1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 
1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 
1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 
1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 
1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 
1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 
1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." 

Nyanyian Maria ini khususnya kita lihat ayatnya yang ke 51-53 : Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

Nyanyian ini mirip, sebangun dengan nyanyian Hana dalam I Samuel pasal yang ke 2. Dalam I Samuel pasal yang ke 2, nyanyian Hana ayatnya yang ke 5 :

2:5 Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu. 
2:6 TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. 
2:7 TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga. 
2:8 Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi;  

Kalau kita memperhatikan dua nyanyian ini, saudara-saudara, mempunyai persamaan, yaitu reciprocate (hal timbal-balik, pertukaran - sc). Saudara-saudara lihat ke depan, asalnya tinggi dibikin rendah, asalnya rendah Tuhan bisa bikin tinggi; yang lapar, Dia Tuhan bisa bikin kenyang, yang kenyang Tuhan bisa bikin lapar. Yang sombong Tuhan kasih rendah, yang rendah Tuhan tinggikan. Saya pun tidak sadar, kemarin saya di Jambi tiga hari memimpin lima kebaktian, tiga KKR dua seminar ternyata kunjungan saya ke Jambi itu 19 tahun yang lalu. Tidak rasa, seperti baru kemarin. Jadi saya tanya, mana itu keluarga yang saya doakan, mandul, dia tidak punya anak, saya doakan, lalu punya anak. Oh, sekarang sudah punya anak, tiga, sudah besar-besar. Sekarang sudah punya, sudah jadi bagian penjualan mobil, salah satu merk mobil terkenal di Indonesia. Dimana sekarang saya ingin ketemu? Wah, susah ketemu dia, sudah sibuk, hanya istrinya yang tetap kebaktian. Tapi suaminya, karena sudah kaya, sudah tidak kebaktian lagi. 

Saya baru belajar dari sini - betapa gampangnya kesuksesan, kekayaan, uang, membuat seorang melupakan Tuhan. Lalu disana saya tahu dulu ada satu hamba Tuhan yang saya harapkan di hari depan akan menjadi seorang yang maju karena dia menikah dengan anak hamba Tuhan setempat. Jadi saya tidak tahu 19 tahun itu apa yang terjadi. Saya bilang mana ini saudara ini, saya mau ketemu. Pendetanya bilang, sudah pisah dengan anak saya. Hah? Sudah apa, pisah? Iya, sudah tinggalkan anak saya. Lha, kenapa dia, karena dia masih keluarga dengan anggota majelis pusat. Dia sudah menikah lagi sama orang islam. Jadi bingung saya. Jadi bingung. Mana itu dulu yang panitia pembangunan gereja? Sudah sakit-sakitan sekarang. Tapi yang saya terhibur, ada satu anak rohani saya yang angkat saudara dengan saya, dia mau pakai nama Awondatu. Jadi dia saudara angkat, angkat saudara. Saya ada 2 saudara angkat - satu di Situbondo, satu di Jambi, memakai nama Awondatu. Dia tetap setia. Dia ditipu 400 juta, orangnya ada di Jambi. Ditagih nanti besok, ditagih besok nanti - tapi dia tidak terikat dengan uang. Lihat saja, kalau saya ko Yoyo ikut mau emosi mau tagih ini saya bisa cerai sama istri saya. Tapi saya yakin Tuhan bisa membuat saya kaya tanpa orang itu. Dan apa yang terjadi memang Tuhan memberkati Dia. Jadi stabil kerohaniannya. Anaknya yang saya lihat satu tahun dulu itu sekarang sudah 20 tahun, saya cari-cari nggak ketemu-temu. Nanti dia di Jakarta katanya. Jadi kalau saya pikir dalam 19 tahun, saudara, saya bilang sama dia kira-kira 20 tahun lagi kita bisa ketemu nggak?  

Jadi dunia itu berputar. Orang yang sombong, Tuhan bilang : Aku rendahkan. Orang yang rendah, jangan putus asa. Kalau engkau setia ikut Tuhan, Tuhan bisa bikin jadi kaya, Tuhan bisa bikin berkelimpahan. Nah, inilah nyanyian yang kita juga harus mengerti dalam natal ini. Kita kembali kepada nyanyian Maria. Di dalam nyanyian Maria tadi adalah puji-pujian setelah malaikat Gabriel  menyatakan cerita natal kepada dia bahwa dia akan melahirkan seorang Anak. Dalam ayat 46 dia bilang: Jiwaku memuliakan Tuhan. 

Jiwaku, jadi urusan kelahiran Yesus itu urusan jiwa, bukan urusan badan. Bukan urusan mata, bukan urusan telinga - tetapi urusan jiwa. Jadi saudara kalau nanti sebentar sore merayakan natal, saudara punya penekanan adalah kepada badan, apa yang saudara rasa di lidah, apa yang saudara mau lihat, apa yang saudara mau dengar - saudara-saudara akan keliru. Sebab urusan natal adalah urusan jiwa; karena nyanyian dari Maria ini dia berkata jiwaku memuliakan Tuhan. Nah, kalau natal cuma mulutku yang memuliakan Tuhan, saya ditawari tetap untuk mengisi acara natal di TVRI dengan bayar sekian, dengan bayar sekian. Nggak. Ini sudah lain. Bapak mau tidak tetap pegang seluruh acara, seluruh 52 minggu sekarang kita pegang tahun 2002, bapak tetap di TVRI, bicara. Tapi dengan membayar sekarang lima ratus juta. Teman saya di Jakarta bilang, kerjain aja Ko Yoyo saya yang bayar. Saya bilang, enggalah, jangan. Karena urusannya sudah bukan urusan lagi rohani, sudah urusan badan.

Nah, di dalam Lukas 1 tadi ayat 46 dalam bahasa Inggris saya mau baca: My soul magnifies the Lord - memuliakan Tuhan. Tapi saya mau pakai itu istilah magnify. Memuliakan itu bisa juga to praise the Lord, memuji Tuhan. Tetapi dalam bahasa Inggris memakai kata magnify. Saudara-saudara, saudara tahu orang kalau mau lihat kuman ditangan kita ini ada kuman apa tidak, saudara tidak bisa lihat dengan kaca mata kasat begini; saudara harus taruh tangan saudara dibawah kaca magnification, yaitu kaca pembesar yang bisa dibesarkan 4.000 X, saudara taruh tangan itu dan saudara lihat, saudara baru bisa lihat kuman ya. Jadi yang kecil dibikin besar, yang tidak kelihatan jadi kelihatan. Yang kecil dia bisa kelihatan, itu harus ada di dalam kaca pembesar. Yang kita tahu mikroskop, yang kecil-kecil dibikin untuk melihat yang kecil-kecil tapi itu magnify. Nah, saya ini dobel kacamata saya, yang atas untuk lihat jauh yang bawah untuk lihat dekat. Kalau saya tanpa kacamata, saya engga bisa nih. Umpamanya tanpa kacamata ini tapi saya ada kaca pembesar, magnify, saya taruh disini, saya bisa baca walaupun tidak pakai kacamata karena ini huruf diperbesar. 

Nah, Maria bilang : Jiwaku, magnify the Lord. Bahasa Indonesia cuma memuliakan Tuhan tapi bahasa Inggris bukan memuliakan Tuhan, membesarkan Tuhan. Banyak kita umat Tuhan itu, saudara, engga ingat kebesaran Tuhan. Selama satu tahun ngomel terus, kayanya Tuhan itu engga pernah berbuat baik sama kita. Sepertinya Tuhan itu utang sama kita. Sekarang saya ini aja, pakai uang saja, berapakah uang saudara yang saudara beri kepada Tuhan selama satu tahun ini? Nah, sekarang bandingkan dengan kebaikan Tuhan. Seimbang apa tidak? Apakah persembahan saudara selama satu tahun itu hanya untuk sumbang natal saja? Apa saudara suka duduk merenung sendiri lalu meneteskan air mata bukan karena sedih tetapi karena inget kebaikan-kebaikan Tuhan? Pada bulan Januari, Tuhan begitu baik sama saya, begini, begini, begini. Pada bulan Februari, begini, begini, begini. Pada bulan Maret, saya tidak bisa lupa Tuhan kasih cucu sama saya. Begitu tergetar hati saya, tergopoh-gopoh, sebab sebelum berangkat sudah yakin kita Helga sudah melahirkan. Sepanjang perjalanan hati kita bersyukur sama Tuhan, aduh terima kasih Tuhan. Begitu saya lihat cucu saya, aduh Tuhan saya sudah tua kalau begini. Cucu yang manis, cucu yang baik. Nah, saya tidak mau sampai omongan saya, ceritaan saya sekarang cucu saja. Lalu ceritaan Tuhan hilang, kalah sama cerita cucu, saya engga mau. Saya mau magnify the Lord - Tuhan itu yang terbesar. Ada haleluya saudara? Nah, ada seorang hamba Tuhan yang sederhana sekali, saudara sudah tahu. Yah, kita bisa baca perkataan dia dalam Injil Yohanes. Yohanes pasalnya yang ke 3, saudara-saudara, kita mau membaca ayatnya yang ke 30, bunyinya begini. Ini Yohanes Pembaptis, dia berkata demikian, kita baca dari ayat 29 : 

3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. 
3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. 

Sekarang Yohanes Pembaptis, dia sudah pakai pakaian dari kulit unta, makanannya belalang, minumannya madu hutan. Tadi pagi istri saya bilang, nah ini coba kue. Ini kue dari keluarga Samuel Rahmat, coba. Ini kue dari Cia Hai Ing, coba. Jadi saya kalau makan sepotong dua potong, jadi dua potong, tiga potong terlalu banyak. Jadi saya potong, sepotong. Saya potong kue dari Samuel Rahmat, oh, inilah rasa dari Samuel Rahmat dan keluarganya. Saya potong dari Cia Hai Ing, oh inilah kue dari Cia Hai Ing. Tapi yang saya besarkan adalah Tuhan. Terima kasih Tuhan, karena Tuhan bisa menggerakkan jemaat membawa kue, inget natal kepada saya. Saya setiap ulang tahun istri saya, tidak usah saya sibuk-sibuk, karena seluruh dunia ini merayakannya. Yah, istri saya 25 Desember, saudara-saudara. Berterima kasih sama Tuhan. Coba istri saya lahir 32 Desember kan bahaya, saudara-saudara. Tapi untung dia lahir 25 Desember. Kita berterima kasih kepada Tuhan.

Nah, saya ingat juga siswa-siswi jauh dari orang tua, tentu ingin ketemu, bisa telephone, ingin ketemu. Saya juga ngerti. Tapi coba magnify dulu. Anda ada disini itu karena Tuhan. Tuhan bisa memberkati keluarga yang ditinggalkan dalam natal mereka. Tapi jangan mengecilkan bahwa Tuhan tidak bisa memberkati kita di sekolah alkitab dalam natal. Karena berkat bukan materi, bukan yang kita makan, bukan yang kita lihat kalau dalam natal, bukan yang kita dengar. Jadi jangan sibuk dengan seragam. Waktu siswa-siswi nyanyi di Jakarta, saya kesel melihat siswi-siswi, ada yang kemejanya tidak dikancing, ada yang dasinya di atas, ada yang dasinya di bawah. Tapi saya pikir yah sudahlah, tidak usah sibuk dengan seragam. Memang mereka dandan tidak bisa, memang mereka bukan peragawati, yah sudah. Ada yang jalan naik ke atas, yah siswa jalan egang, yah sudahlah. Engga apa-apa. Jangan sibuk dengan seragam, jangan sibuk dengan lipenstip. Urang mah euy natal ieu mah erek make warna biru euy, bulao - jangan saudara-saudara. Itu nomor tujuh belas. Yang penting sebentar sore kita rayakan, jiwa kita memuliakan Tuhan. 

Bikin besar itu Tuhan. Aduh, Tuhan yang maha besar. Bukan saya, biar saya makin kecil. Biar saya engga kelihatan, yah. Acaranya dibikin sederhana, sesederhana mungkin supaya kita mengerti arti natal, makna natal supaya kita bisa rasa itu arti kandang domba, bukan istana Herodes. Supaya kita bisa mengerti apa itu arti palungan, supaya kita bisa mengerti apa itu arti rumput, apa itu domba, apa itu bau kandang. Disana kain lampin, kain potongan-potongan kecil - disitu Yesus. Tidak ada minyak kayu putih. Saya pikir-pikir anak saya waktu lahir senang ya, cucu saya senang. Yesus - betapa dari masih kecil harus sudah naik keledai harus ke Mesir harus lari dari Herodes. Jadi rasanya kita bersalah, rasanya kita berdosa kalau kita memperingati kelahiran Yesus dengan asoy geboy amboy enjoy. Tapi mari kita magnify, memperbesar Tuhan. Patutlah Dia makin besar dan aku ini makin kecil. Saudara itu ditesnya disana. Coba kita lihat apa yang Yesus bilang dalam Markus 

10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" 
10:36 Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" 
10:37 Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." 
10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" 
10:39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 
10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan." 
10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. 
10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 
10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 
10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 
10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." 

Tuh, ternyata Yesus pun begitu karakternya. Siapa yang ingin menjadi "besar", magnify, biar dia jadi kecil. Saya kan gembala sidang, saudara. Dari tahun 1968 saya sudah belajar Firman Tuhan, saya sudah belajar juga melihat orang. Orang ngomong begini, orang sifatnya begini, modelnya begini, orang begini, orang ambisi kaya begini, orang rendah hati, orang rajin - itu kuncirnya ketahuan. Tapi yang saya heran, di Malaysia ada satu tukang kuam miah, tukang mistik, tukang kuam miah. Dia bisa tahu orang. Oh, garis ini kamu nasib begini, ini kamu nasib begini, nasib begini, nasib begini, tukang kuam miah. Dia sendiri tahu bahwa dia tidak bisa umur panjang karena dia lihat di tangannya sendiri, garis kehidupannya tuh pendek. Dia bilang katanya, saya tidak akan umur panjang.

Nah, sudah. Satu kali ada langganan dia yang sudah terima Yesus, dia tidak tahu sudah jadi kristen. Langganan dia banyak. Dia kira mau rajah tangan lagi. Tidak, langganan dia bilang. Pak, terima Yesus, pak, saya sudah terima Yesus. Bersaksi. Terima Yesus itu bagaimana? Bapak inget engga dulu saya suka rajah tangan? Sekarang saya sudah terima Yesus. Saya tidak takut lagi. Saya pasti dapat senang, dapat rejeki. Coba saya lihat tanganmu. Itu semua pasien di sana di foto tangannya supaya dia punya file. Waktu dia tahu namanya, dia cari filenya, dapat fotonya, dia lihat tangannya ini orang yang sudah terima Yesus. Dia kaget. Garisnya saja berubah. Wuh, kenapa garisnya jadi begini? Di file kok lain? Garis kehidupan jadi panjang, garis rejeki jadi panjang. Yang bikin sial-sial itu hilang. Langsung dia terima Tuhan. Begitu dia dibaptis, keluar dari baptisan, dia kaget, karena garis tangan dia pun berubah. Saudara-saudaraku, mau jadi besar jadi kecil. Besarkan Tuhan, magnify. Jadi karakter juga berubah kalau kita terima Yesus. Asalnya pemarah terus jadi peramah. Asalnya malas jadi bisa rajin. Asalnya kopet, medit, skaker, pedit - suka memberi sekarang. Jadi kalau saudara masih medit, skaker, pedit - saudara belum ketemu Yesus! 

Jangan kasih tahu siapa-siapa, saudara-saudara, hanya kita saja yang tahu, bahwa di dalam Yesus saudara-saudaraku, Dia tidak berubah, tapi kita harus berubah! Dari yang tidak baik menjadi lebih baik. Yang sudah baik tambah baik lagi. Sampai kita ketemu dengan Tuhan muka dengan muka, dan rasanya tidak lama lagi. Sampai di Jambi tuh saya mimpi. Saya mimpi ketemu teman saya yang di SMA. Tiga puluh tahun tidak ketemu sekarang ketemu dia, tiga puluh dua tahun lebih. Eh, Yohanes mau kemana? Sebab saya di SMA nama saya Yohanes. Saya mau tanya kamu, kamu mau kemana? Saya mau ke Finlandia nih, saya mau menikah di sana. Menikah? Iya. Joko - dia pegawai, anak dari pegawai istana di Cipanas. Iyalah, nanti saya datang, saya hadir nanti. Oke, doakan yah saya mau menikah ke Finlandia. Bangun saya. Buh, kan Joko sudah meninggal. Joko ini meninggal waktu umur 18 tahun, karena kecelakaan. Anaknya ganteng, saudara-saudara. Dia yang kasih pinjem mobilnya, coba kalau Yohanes mau belajar stir mobil, tuh stirin mobil saya. Ganteng sekali anaknya. Tapi sudah meninggal. Kok bisa? Maka saya bilang tiga puluh tahun tidak ketemu akhirnya meninggal. Kok bisa tiga puluh tahun sudah meninggal, bisa kasih mimpi, saya mau ke Finlandia. Nah, ini lagi dug, saudara. Ini bisa ketemu dalam mimpi, tetapi nanti kalau kita ke Surga bukan mimpi lagi. Itu satu kenyataan. 

Coba aja saudara bayangkan, papa saya sudah di sana, anak saya yang pertama sudah di sana, mama saya sudah di sana, mertua saya sudah disana, emanya dari istri saya sudah disana, emanya saya sudah di sana. Saya mau kemana lagi, apa saya mau ke Finlandia? Engga mau. Sayapun pasti akan ke sana. Tetapi coba belajar pada pagi hari ini. Jangan kita tertipu, deuh natal, natal, natal. Aduh, saya di Cipanas bingung, saudara. Ada satu restoran disana, kita masuk, pohon natal kelap-kelip. Ada lagu itu kartu yang di buka ada lagu, saya kira kristen orangnya. Engga tahu di sebelah pohon natal itu, disebelahnya meja sembahyang. Cung cung cep. Bersebelahan. Antara surga dan neraka. Jadi natal bisa dirayakan oleh orang-orang yang bukan kristen. Tapi magnify the Lord, mempermulia, memperbesar Tuhan. Nah, nanti kita kalau sudah dewasa rohani, natalnya bukan natal kulit, tapi natal di dalam hati. Haleluyah. Mari kita berdiri bersama-sama, kita mau memuliakan Tuhan.  

-- o -- 

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________