Khotbah Minggu Pagi Januari - Februari 2003

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu pagi, 19 Januari 2003

Perlakukan Tuhan Sepatutnya

Injil Markus 

4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." 
4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. 
4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. 
4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" 
4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. 
4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" 
4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Kejadian ini yang baru kita baca adalah kejadian yang terjadi setelah Yesus berbicara mengenai banyak perumpamaan. Lalu ketika sore hari petang, Yesus berkata: “Marilah kita bertolak ke seberang”. Dalam bahasa Inggris, dikatakan: Let us pass over the sea. Kata pass over adalah istilah yang sama dengan kata paskah atau melewati. “Let us pass over  the sea” - “marilah kita pergi ke seberang”. 

Kalau kita tenang-tenang memikirkan perkataan Yesus ini, maka kita tahu Yesus berjanji membawa murid-murid-Nya pergi sampai ke seberang. Ada 1 peribahasa yang berkata: “Dia, Tuhan, tidak pernah menjanjikan pelayaran yang tenang, tetapi Dia menjanjikan pelabuhan yang damai”. Itu sebabnya sebagai seorang Kristen kita harus siap-siaga, kita harus waspada, supaya jangan saudara anggap jadi Kristen itu semuanya enak, jadi Kristen itu semuanya gampang. Yesus tidak pernah janji perjalanan yang nikmat, perjalanan yang gampang, tapi Yesus berjanji Dia akan membawa kita sampai ke seberang. Amin saudara-saudara? Kita yakin apapun problem kita, apapun percobaan yang dihadapi, kita yakin Tuhan kita, Yesus, akan membawa kita ke seberang. 

Di dalam ayat berikutnya. Ayat 36

4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. 

Di dalam bahasa Inggris Yesus dibawa “even”, Yesus dikatakan dibawa dengan even. Kata “even” ini disalin hanya dalam bahasa Indonesia lama, bahasa Indonesia baru tidak ada. Saya baca bahasa Indonesia lama: ”Setelah disuruhnya orang banyak itu pergi, lalu murid-muridNya membawa Yesus seada-adanya”. Apa adanya Yesus, seadanya saja. 

Dan inilah yang menjadi pemikiran saya beberapa bulan terakhir ini. Sekarang banyak orang Kristen lalai, membawa Yesus seadanya, asal bawa, asal ke gereja, asal sembahyang, asal nyanyi, asal berbakti, asal bedstone. Dan ini adalah tanda-tanda awal dari datangnya angin ribut besar! 

Kalau kita sudah datang ke gereja, sudah asal ke gereja, asal sembahyang, ya, membawa Yesus seadanya, asal setor muka, asal kebaktian kelihatan pendeta, tapi di hati kita tidak ada satu kontak dengan Yesus, maka ini tanda awal dari datangnya angin ribut. 

Memang kita punya janji Yesus, Dia membawa kita ke seberang, tapi kekeliruan murid-murid-Nya adalah membawa Yesus seada-adanya, apa adanya. Tidak tahu Dia itu Tuhan. Jadi gereja dianggap tempat pertemuan sosial, gereja dianggap tempat pertemuan dimana kita bisa jual beli, gereja dianggap tempat pertemuan dimana kita bisa ngobrol. Kita tidak tahu bahwa gereja adalah tempat kita menyembah kepada Tuhan. Seadanya kebaktian, seadanya bedston, seadanya sembahyang, asal sembahyang, asal berbakti. Saya sedih, saya takut, karena ini adalah warning, tanda, dimana angin ribut akan datang.

Jangan kita ke gereja asal ke gereja, asal berbakti. Saya marah sekali kemarin, orang bedston, kaum muda ngobrol di bawah. Begitu saya datang, lari ke atas. Dianggap apa gereja ini? Dianggap apa Tuhan? Semua seadanya! Seadanya! Ngobrol. Lari ketakutan, takut oom Yoyo. Tapi tidak takut Tuhan. Jadi mau berapa menit bedston? Mau berapa lama sembahyang, kalau ngobrol? Jam 5.15 saja masih ngobrol.

Pengerja, sami mawon sego rawon. Bukannya kasih tau. Ini tanda, angin ribut. Murid-murid bawa Yesus seadanya. Saya tidak mau saudara-saudara celaka. Saya tidak mau saudara-saudara tenggelam ditengah laut, saya ingin saudara-saudara sampai di seberang. Saya ingin saudara-saudara sukses, berhasil menjadi orang Kristen yang sukses yang berhasil sampai tiba di seberang. Dan ini warning bagi kita!

Apa musti ditaruh 1 orang yang jaga, supaya tidak ada yang ngobrol di bawah? Langsung bedston naik ke atas? Lucu kan, di gereja ada yang jaga.

Ayat 36: “Mereka meninggalkan orang banyak itu, lalu bertolak dan membawa  Yesus beserta. Bahasa Indonesia lama, seadanya. 

Sangkur, asal sangkur! Nyanyi asal nyanyi! Saya sudah bilang sama pelatih yang sangkur, jangan nyanyi kalau jelek. Tuhan mau yang terbaik. Nyanyi itu harus membawa umat Tuhan itu melihat kepada Yesus, bukan melihat kepada pemimpin pujian, melihat kepada Tuhan! Lagi nyanyi cengangas-cengenges, asal aja kebaktian! Nggak ada takut sama Tuhan. Kita baca ayat berikutnya ayat 37: Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.  

Sekali lagi saya bilang: “Yesus tidak janji pelayaran yang enak, tapi Yesus janji bertolak sampai ke seberang”. Dan apa yang terjadi? Pertama mengamuklah taufan. Bukankah taufan ini adalah ciptaan Tuhan? Menurut Ibrani 1,2,3 halilintar pun ciptaan Tuhan, Tuhan yang menyuruh! Bukankah ombak, angin, laut ... ciptaan Tuhan? Bukankah Yesus dikatakan dalam Yohanes 1:1 ... Dia bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Allah sendiri. 
Segala sesuatu diciptakan oleh Dia. 

Jadi kalau kita kebaktian itu, kita sedang berhadapan dengan Pencipta kita! Kita berbakti, menyembah, sembahyang kepada yang bikin kita. Kalau badan kita ini ada sakit, kita datang sama yang bikin kita. Tapi kita sering lebih percaya dokter daripada Yang bikin kita. Saya lebih percaya Tuhan yang membuat saya dari pada dokter. Dia yang membuat saya, Dia tahu dong, apa segala sesuatu di dalam tubuh saya yang tidak baik, Dia tahu memperbaikinya. Dia pencipta saya!

Nah kenapa kalau ini angin, ombak, diciptakan oleh Tuhan, kok Tuhan izinkan angin, ombak, itu nyembur masuk di perahu. Saudara-saudara, percobaan ada 3 macam:

1. Percobaan oleh karena kesalahan kita,

2. Percobaan yang diizinkan Tuhan. Seperti Ayub,

3. Percobaan yang diakibatkan oleh setan.

Nah, kalau yang kita sedang baca ini, ini percobaan datang oleh setan. Karena Pencipta sedang tidur, tidak mungkin diganggu. Tapi setan tidak suka dan setan tahu, murid-Nya belum kenal siapa Yesus ini! Karena apa? Karena dia bawa seadanya saja. Asal ikut, asal ada di perahu, asal ke gereja, asal berbakti, asal tepuk tangan, asal angkat tangan, asal peureum, asal nyanyi, asal sembahyang, asal kolekte. Kalau kita kebaktian kaya begitu, kapan kita bisa maju di dalam Tuhan?

Berikutnya, ayat 38. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" 

Saya tuh merasa kasihan sama Yesus. Pertama Dia dicuekin, dibawa seadanya. Yesus pokoknya sampai di seberang ya! Yesus duduk saja, tidur saja! Disiapin tilam, kasur kecil, tidur saja! Ditaruhnya juga dibelakang, diburitan! Yang di depan mah murid-murid, saya kan ahli nakhoda kapal. Saya jago soal angin, bertahun-tahun saya hidup di Tiberias ini, saya sudah tahu angin gelombang tiap belokan saya tahu!

Saya minta ampun sama Tuhan karena kita termasuk saya, suka nyuekin Tuhan. Saya lebih pengalaman Tuhan, soal toko, soal dagang, soal bengkel, soal pabrik, soal ternak, soal apa, saya lebih tahu, Tuhan. Tuhan mah diam aja dibelakang, asal ikut. Ada Yesus, sudah diam aja, non aktif.

Saya berhenti disitu, saya ingat Wahyu 3:20
3:20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. 

Ketika Yesus diluar pintu - Dia tamu, tapi ketika Dia masuk di dalam pintu, Dia tuan rumah. Ingat itu, saudara! Ketika Yesus diluar rumah Zakheus, Dia hanya tamu “Hai, Zakheus turunlah, Aku mau makan dirumahmu”, tapi ketika Dia masuk di dalam rumah Zakheus, Dia yang menjadi tuan rumah. Dia duduk sampai Zakheus hormat-hormat sama Dia.

Saudara-saudara, ketika Yesus ada di dalam perahu, seharusnya Dia jadi nakhoda, seharusnya Dia jadi Tuan rumah, tapi dicuekin. Saya yang jago, saya yang pinter cari uang, saya lebih mengerti, saya .. saya .. semuanya saya! Saya yang menonjol, saya paling pintar, saya paling tahu. Begitu kena mentok tembok, mentok dengan angin ribut besar, bo hwat, tidak bisa tahu apa-apa, dibangunkan Yesus. Begitu bangun disalahin! Maka saya bilang tadi saya kasihan! Yesus ini selalu jadi bulan-bulanan aja. Kalau lagi senang dicuekin Yesus, nanti kalau lagi susah, minta tolong sama Yesus, sekaligus disalahin: “Kok, Engkau tidak peduli?” “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Kalau ngomong mah manis, angin surga! Guru, Rabi, Bapa Guru, Guru, Guru, Guru.

Ada murid SAC, baru belikan sepatu sama saya, tapi dia tidak dengar-dengaran. Saya bilang, tolong ke Cianjur, ambil lagi sepatumu ini! Dia minta-minta maaf. Guru, minta maaf ... Guru maafkan saya. Pakai sms. Saya bilang, saya tidak perlu belas kasihan kamu! Datang kesini atau saya kembalikan via pos ini sepatu! Saya tidak perlu pemberian kamu, karena kamu tidak dengar-dengaran kepada Firman Tuhan.

“Maaf Guru”, kalau ngomong Guru! Tuhan, Guru, Lao Tze, Guru - tapi nggak nurut. Udah ngomong Guru, tapi nuduh, “Engkau tidak peduli kalau kita binasa!”

Justru ada satu ayat yang berbunyi begini saudara: “Tuhan itu tidak mau seorangpun binasa”. Dia sangat peduli. Kalau didunia ini cuma ada 1 orang, Dia tetap akan mati disalib menurut 1 peribahasa : Dia sangat peduli kepada saudara! Dia tidak peduli saudara punya mobil atau tidak punya mobil. Dia tidak peduli rumah saudara bagus atau tidak. Dia tidak peduli baju saudara mahal apa nggak. Dia tidak peduli saudara punya sanggul model yang mutakhir atau tidak. Dia tidak peduli warna rambut saudara itu seperti kemoceng atau tidak. Dia tidak peduli saudara pakai minyak wangi atau tidak. Yang Dia peduli adalah hidup saudara. Satu hidup kita lebih berharga dari seluruh kekayaan dunia.

Itu yang Tuhan peduli, itu yang Tuhan sayang. Itu sebabnya saudaraku, Dia dituduh begini, berapa perasaan Yesus ini? Tadi Aku dicuekin, sekarang aku dibangunkan, sekarang aku dituduh.

Ayat 39
4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!"  

Tadi saya katakan bahwa angin ribut ini karena setan, kenapa? Karena Yesus menghardik. Masa angin dihardik, masa laut dihardik! Itu ciptaan Tuhan. Kalau saudara baca kitab Kejadian, adalah terang, terang ada! Nggak usah dihardik. Kenapa dihardik? Yang dihardik itu setan. Karena kata menghardik ini, bahasa Indonesia lama menengking, itu hanya dipakai untuk iblis! Dia menghardik apa yang ada di belakang angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” ... Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. 

Coba saudara pernah renungkan nggak? Ini gelombang ribut besar, ribut sudah mau tenggelam, air ombak masuk di perahu dan murid-murid sudah tidak tahan, tidak tahu harus berbuat apa, 1 menit berikutnya, sssttt … tenang sekali. Itu Tuhan sanggup lho saudara!

Rumah tangga yang ribut macam-macam, no no no, dalam berikutnya sssttt … rumah tangga yang tenang!  Perdagangan yang kacau balau, tidak ada keuntungan  sssttt … dibikin banyak keuntungan, diberkati oleh Tuhan. Pendidikan sekolah yang tidak maju sssttt … tiba-tiba jadi maju. Hati yang gelisah, penuh kekuatiran, ketakutan, sssttt …tiba-tiba menjadi tenang, menjadi teduh. Itu Tuhan sanggup.

Tadi kan kita nyanyi, Dia sanggup. Tuhan sanggup membuat, menolong kepada kita, apa yang kita kira sudah tidak bisa lagi tertolong, tapi di dalam Tuhan masih bisa, ada haleluyah? Di dalam Yesus masih bisa, ada harapan, ada ketenangan!  "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" 

4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. 

Di sinilah problemnya sekarang. Lalu ayat 40

4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"  

Sudah dibaptis? Sudah, oom! Sudah ikut perjamuan kudus? Sudah! Sudah kebaktian? Sudah! Sudah sembahyang, bedstone? Sudah, oom! Kalau mau lebih maju lagi, belajar ikut doa malam! Iya, oom, sudah! 

Mengapa kamu begitu takut? Nama? Murid Yesus! Satu perahu sama Yesus, “Mengapa kamu tidak percaya?”

Saya senang Tuhan itu menjawab dulu doa. Dia tenangkan dulu angin, Dia tenangkan dulu ombak, baru Dia urus persoalan sama murid; Dia bikin tenang dulu semua, baru Dia urus ini murid! Tuhan bisa tolong saudara, sakit disembuhkan, toko diberkati, pendidikan sekolah diberkati, rencana pernikahan diberkati, keperluan saudara dicumponi sama Tuhan, dipenuhkan sama Tuhan. Saudara mulai belajar dagang, Tuhan berkati - itu gampang untuk Tuhan. Tapi Dia ingin bicara lebih dalam lagi: “Mengapa kamu takut?”, “Mengapa kamu tidak percaya?”

Kita musti ngaku! Kalau saya ikut Yesus, kalau saya ikut Tuhan, saya jadi jemaat, tapi takut. Mengapa?

Yesus tanya: “Kenapa?” Ragu! Kenapa musti ragu, wong kita mati, kita melek di Surga, Yesus yang kita lihat kok, kenapa takut? Yang menguasai dunia ini Yesus kok, kenapa tidak percaya? Sekarang susah, makan susah, cari uang susah, harga ini naik, harga itu naik. Kan kita punya Tuhan, mengapa takut? Kalau air naik, perahu juga naik. Kalau harga-harga naik, berkat Tuhan untuk kita juga naik. Mengapa kita tidak percaya?

Yohanes Pembaptis grogi dipenjara! Jadi kita nggak usah minder kalau kita grogi. Dia kirim muridNya, tanya sama Yesus : “apakah Engkau betul-betul Mesias?” Padahal Yohanes Pembaptis yang baptis Yesus. Ragu!!

Yesus kirim balik, kasih tahu sama Yohanes: “Orang buta dicelikkan, yang sakit disembuhkan, orang lumpuh berjalan”. Kasih tahu sama Dia. Begitu dikasih tahu, tenang Yohanes Pembaptis. Dipenggal kepalanya juga dia tenang. Karena sudah ketemu Yesus.  

Nah, ini yang saya katakan hari natal, jangan sampai kita natal tanpa Kristus. Sama kebaktian tanpa Kristus, sembahyang nggak ketemu Kristus, sama. Haleluyah, haleluyah, tapi nggak ketemu Tuhan! Nyanyi haleluya, puji Tuhan, tapi nggak ketemu Dia. Satu perahu sama Yesus, tapi apa kata murid-Nya,

4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Ini bukti bahwa mereka belum kenal siapa Yesus ini, sampai pertama ngomong Guru, sekarang Orang ini siapa? Satu perahu, dikasih tilam, disuruh tidur, berarti di terima Yesus masuk diperahu saya, tidur di belakang, ngomong Guru. Sudah tahu kebaktian, sudah dibaptis, sudah bahasa Roh, tapi masih takut, tapi masih tidak percaya!          Kenapa saudara tidak bawa perpuluhan? Karena tidak percaya, karena takut! Kenapa tidak berani memberi? Tidak percaya, takut! Kita ke dokter lebih percaya dari pada Tuhan! Karena kita nggak percaya.

Nah, ada 2 kata takut. Takut dalam ayat 40 dan takut ayat 41, itu lain.

Ayat 40 berkata, mengapa kamu begitu takut? Dalam hal yang negatif. 

Ayat 41 mereka menjadi sangat takut. Dalam hal yang positif.

Seperti istilah 'takutlah akan Tuhan', itu hal yang positif. Takut berbuat dosa, itu hal yang positif; takut menyakiti hati Tuhan, itu yang positif; takut Tuhan marah, itu hal yang positif; menjaga perasaan hati Tuhan, itu hal yang positif; takut menyakiti hati istri, itu yang positif; takut menyinggung perasaan suami, itu hal yang positif; takut terlambat, itu hal yang positif; takut berbuat jinah, itu hal yang positif; takut selingkuh, itu hal yang positif; takut akan Tuhan, itu hal yang positif.

Tapi ayat 40 “Mengapa kamu begitu takut?” Takut tenggelam, takut rugi, takut tidak bisa sampai, takut celaka, takut tidak punya anak, takut tidak makan, takut nggak sembuh, takut nggak sehat - semua takut-takut yang negatif.

“Siapa orang ini?” Tadi dia sudah ngomong Guru, Lao Tze. Sekarang dia bilang: “Siapa orang ini?”

Saya korban 100 juta loh satu tahun, saudara! Untuk pekerjaan penginjilan. Saya nggak takut, buktinya Tuhan pelihara. Itu lain dari perpuluhan. Maka kalau Tuhan berkati saya, nggak boleh ngiri, karena saya berani, korban nggak takut, memberi untuk Tuhan nggak takut. Karena saya tahu, Tuhan nggak mau kehutangan.

Ayat 41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Ini yang aneh, angin dan ombak taat sama Tuhan tapi kita manusia tidak taat. Amsal 14.

14:26 Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. 

Bisa bilang amin? Kenapa ktia nggak tenteram?Nggak takut sama Tuhan. Kalau kita takut sama Tuhan, ada ketentraman besar! Harga-harga naik, tenteram aja hati! Begini … begini …begini … kita mah tenteram aja!

Sampai ada orang luar negeri bertanya, kenapa ya Indonesia belum tenggelam-tenggelam? Karena Indonesia ini hutangnya udah pasti kelelep. Jawabannya, karena banyak anak Tuhan! Bukan karena Megawati, karena menteri-menteri, tidak! Karena banyak anak Tuhan di Indonesia! Itu yang masih menjalankan ekonomi Indonesia!

14:27 Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut. 

Sumber hidup, nggak akan mati, nggak akan rugi. Dagang nggak akan rugi, pasti untung punya. Anak cucu kita, anak mantu kita, pasti diberkati saudara-saudara, asal kita tetap takut akan Tuhan! Bukan takut yang negatif, tapi takut yang positif.

Ayat 41b: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Karena sudah banyak yang batuk, ini sudah saatnya kita akhiri kebaktian. Tapi saya mau undang, siapa ada keperluan, siapa di dalam rumah tangga sedang ada angin ribut, siapa ada keperluan sakit penyakit, siapa mau didoakan ... apa saja persoalan. Bukan saya yang tolong, tapi Dia yang menghentikan angin dan ombak, itu yang akan menolong. Yesus yang ada ditengah-tengah kita akan menolong kita. Mari kita berdiri bersama-sama. 

-- o --   

Minggu pagi, 26 Januari 2003

PEKA DAN RAMAH TERHADAP TUHAN

Kita buka injil Yohanes 

2:13 Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. 
2:14 Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. 
2:15 Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. 
2:16 Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." 
2:17 Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." 
2:18 Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" 
2:19 Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." 
2:20 Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" 
2:21 Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. 
2:22 Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus. 

Cerita ini pendek, cerita ini adalah tentang Yesus membersihkan Bait Allah, Yesus menyucikan Bait Allah. Di dalam Alkitab, Yesus menyucikan Bait Allah itu dua kali. Yang kedua kita baca dalam Matius 

21:12 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati 
21:13 dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." 
21:14 Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. 

Apakah sia-sia Yesus membersihkan Bait Allah? Saya rasa tidak! Yesus membersihkan Bait Allah karena Dia melihat ada cara yang keliru yang dikerjakan oleh umatNya di Bait Allah. Ada beberapa hal yang membuat Yesus marah. Yang pertama adalah Dia melihat bahwa Bait Allah dijadikan tempat orang berjual beli. Saudara-saudara bahwa Bait Allah jaman dahulu sinagog, Bait Allah kecil, Bait Allah ... Bait Allah besar, gereja atau kapel gereja kecil, gereja yang besar ... itu semata-mata adalah tempat di mana kita berbuat bakti, beribadah kepada Tuhan! 

Tetapi lebih detail lagi, kita akan melihat kenapa Tuhan marah. Tuhan marah ini yang pertama saudara-saudara karena umat-Nya tidak memperhatikan, tidak peka terhadap kehadiranNya. Kalau kita membaca Matius 18 dalam Matius 18 kita akan membaca satu ayat disana yang dengan jelas berkata kepada kita. Matius 
18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. 
18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." 

Saya bicara kepada kaum muda hari Kamis yang lalu. Kadang-kadang pada waktu saya beribadah kepada Tuhan, beribadah ... apa kebaktian umum, apa kebaktian kaum muda, apa bedston, ... dalam roh saya, saya merasa Dia ada disini. Kadang-kadang Dia duduk disebelah saya, kadang-kadang Dia ada diatas dalam kebaktian. Itu sebabnya Roh Kudus bekerja, Dia bicara melalui satu orang diatas, Roh Kudus bicara pada satu pemuda disana persis seperti yang saya rasa Dia ada disana, Roh kudus Dia bicara disana. Persis yang roh saya merasa Dia duduk diatas, Roh Kudus bicara disana. Persis yang saya merasa Dia ada disebelah kiri saya, Roh Kudus bicara melalui satu orang disana. 

Apa yang kita belajar dalam setiap pertemuan itu dimanapun saja kita berada, Yesus ada di tengah-tengah kita. Dan kita harus peka bahwa Dia ada. Dan kalau kita peka Dia ada, kita akan hormat kepada Dia. Kita tidak akan ngobrol waktu kita berdoa. Kita tidak akan bicara satu dengan yang lain, kita tidak akan bermain-main waktu kita berdoa. Kenapa? Karena kita hormati ... ada Raja segala raja! 

Kalau Megawati sekarang duduk disini, apa saudara-saudara ngobrol? Kalau saya umumkan: Saudara, pagi hari ini ada bapak bupati, kita akan dengar nasehat dari dia, apa saudara akan ngobrol? Nggak mungkin! Apalagi ini Raja segala raja - Yesus. Maka saya sangat peka dalam doa. Saya tidak mau ngobrol, saya tidak suka ngobrol kalau berdoa. Buka matapun tidak. Siapa yang berdoa itu nomor 17 tapi saya harus peka Raja saya, Juru Selamat saya, Pemimpin saya, Boss saya, Yang memanggil saya ... Dia ada di sini.   

Kalau orang bawa sapi ke gereja, bawa merpati ke Bait Allah, bawa money changer tukar uang di Bait Allah, ributnya luar biasa di Bait Allah. Ngobrol, teriak-teriak kesana kemari, tidak lagi ingat kepada paskah akan bikin korban di Bait Allah. Tapi ngobrol jual beli kambing, domba, lembu, sapi .. itu gede saudara-saudara di bawa ke Bait Allah. Ini kepekaannya sudah rusak, sudah tidak peka lagi. 

Okelah jemaat, umat masih polos-polos, tapi kalau hamba Tuhan, kalau calon hamba Tuhan? Orang lain berdoa,  dia ngobrol; orang lain berdoa dia jual sapi. Kenapa? Karena dihalaman Bait Allah itu, itu tempat kumpulan-kumpulan dari iman-imam sebelum mereka masuk di dalam ruang mahasuci, itu kumpulannya itu dihalaman mereka. Imam-imampun sudah tidak lagi memperhatikan, tidak lagi peka. Marah Yesus. 

Ada ayat di dalam Amsal Salomo bicaranya begini: Lebih baik ditempeleng oleh sahabat daripada dicium oleh musuh. Nah, ini imam-imam lebih senang dicium oleh musuh karena orang yang jual beli ini nyogok, dia bawa uang: Pak, saya mau jual sapi; pak saya mau jual domba; pak, saya mau jual kambing; pak, saya mau jual merpati ... ini sedikit duit buat bapak. Asal kami bisa buka stand disini, kami mau jual sapi. Cium. Seteru. Banyak yang sakit hati. Tidak sia-sia Yesus bila bikin ada ayat: kalau kamu ditempeleng pipi kanan, kasihlah pipi kiri. Belajar menerimakan keadaan. Tidak peka bahwa ini Bait Allah. Dalam Yohanes dibilang: kamu jadikan ini tempat berjual beli! 

Mari apa itu tempat jual beli? Saya ke gereja nggak jual beli kok. Bersaksi dan bersaksi ada dua macam. Ada jemaat yang bersaksi memang keluar dari hati, memang dia saksikan cinta Tuhan begitu besar sampai dia keluar air mata seperti kesaksian kita dengar hari minggu yang lalu, suaminya lumpuh tetapi puji Tuhan dia bertobat, dia datang kepada Yesus. Dulu dia agama Go Hon Son tetapi ketika terima Yesus, suaminya yang lumpuh dia bisa jalan. Bersaksi. Aduh kita dengarnya juga terima kasih Tuhan. Haleluyah. Puji Tuhan. 

Tapi ada yang bersaksi ingin kapuji, hayang kapuji. Ada yang bersaksi supaya orang bisa gerrr ketawa. Ada yang bersaksi wah kalau si aci eta bersaksi mah lucu resep dengerna. Jadi si aci ini jadi bersaksinya jadi hobi. Bukan bersaksi dia cerita cinta Tuhan tapi bersaksinya itu sudah jadi kebiasaan, jadi hobi. Hayang dipuji kubatur. Ini jual beli. 

Nyanyi. Baik paduan suara ataupun kita siapapun menyanyi bermain musik itu adalah kita menyanyi memuji kepada Tuhan .. menurut Mazmur 100, harus dengan suka cita bawa puja puji kita kepada Tuhan. Tapi ada dua macam. Ada orang nyanyi kepada Tuhan ingin dapat keplokan tangan. Ada orang menyanyi ingin mendapat aplaus. Ini jual beli. Aku memberi nyanyian, engkau memberi pujian. Khotbah. Ada dua macam. Kalau saya khotbah disuruh oleh Tuhan saya bawa Firman Allah, saya hamba Tuhan. Tapi kalau saya khotbah hanya mau nyenangkan kuping orang, supaya jemaat tidak tersinggung, saya elus-elus - saya bukan hamba Tuhan.        

Baru-baru ini dari Jakarta ada satu jemaat. Dia mau minta saya doakan rumahnya. Saya bilang kan saya sudah doa. Oh ini kita mau bikin doa ini untuk yayasan penginjilan. Lho, yayasan penginjilan apa? Saya kerja sama dengan pendeta ini pak. Oh, suruh saja pendeta anda, pendeta itu. Iya, tapikan oom kan gembala saya. Lho, kalau gembala anda, kenapa saya tidak tahu ada yayasan ini, apa tujuannya .. apa semuanya, saya bilang saya tidak tahu. Akhirnya dia minta maaf. Oh, iya saya memang salah kalau begitu. Dia perpuluhannya satu bulan 10 juta. Kalau saya sayang duit, saya sayang-sayang dia. Aduh jangan, jangan sampai apa tersinggung dia. Nggak. Saya bukan hamba Tuhan. Saya nggak peduli dia perpuluhan 10 juta. Kalau dia salah, salah. Jangan jual beli. Kamu pakai rumah-Ku tempat berjualan. Sudah disebut rumah-Ku tempat orang berdoa.

Tapi saya katakan doa itu bukan di gereja, dua tiga orang saja kumpul di toko di rumah: Ah, mau buka toko ini saya, sembahyang dulu yu. Kita bawa anak kita, kita bawa kita punya pembantu yang kristen: Ayo, kita berdoa bertiga 'Tuhan Yesus'. Baru ngomong Tuhan Yesus, Dia hadir kok - menurut Firman Allah Dia ada. Maka buka toko sembahyang dulu, pasti diberkati Tuhan karena Dia hadir. Dia yang narik itu pengunjung pembeli-pembeli datang, Dia yang memberkati usaha kita karena kita berdoa dua tiga orang. Bukan hanya di gereja. 

Aduh, anak kita ini sekolah di Bandung, bagaimana ya pergaulannya kita tidak tahu. Sama siapa dia berjalan, sama siapa kita nggak tahu. Ayo doa : Tuhan tolong anak saya. Dia hadir kok beracara. 

Jadi yang pertama yang Yesus marah itu, kok ini orang Yahudi umat Allah yang disayang sama Tuhan, disebut biji mata Tuhan, kok hilang kepekaannya kepada hadirat-Nya Allah ... di Bait Allah lagi dia jual beli.

Yang kedua. Dalam Matius Yesus marah sampai diterbalikkan meja, meja dibalik-balikkan. Mungkin kalau sekarang ada pendeta mau balik-balikkan meja ini disebut pendeta emosi. Langsung dipecat sama majelis daerah. Saya nggak peduli jadi pendeta organisasi, saya lebih peduli jadi pendeta Tuhan. Apa terjadi saudara? Kenapa dibalik-balikkan? 

Rumahku adalah tempat berdoa tapi kamu bikin sarang penyamun. Nggak beda dengan sarang penyamun. Kenapa? Ini orang Israel orang yang banyak yang susah dia datang, menurut Taurat harus bawa domba yang tidak ada cacat. Tentu saja ada yang bawa domba yang agak sedikit cacat. Tentu ini tidak bisa. Maka orang tuh banyak siapkan domba-domba karena ini bisnis besar. Ini orang yang susah ini: Aduh, saya ini bawa domba ini pak - kepada Lewi - ... saya mau bawa korban untuk Tuhan. Nggak bisa. Dia bilang itu cacat, nggak bisa. Tapi saya cuma ini, saya nggak punya lagi yang lain. Terserah kebijaksanaan bapaklah bagaimana. Keluarin duit sogok. Ini pak, supaya ini bisa lulus, domba saya ini bisa dipersembahkan, bisa dikorbankan. Masa segini? Janda-janda tuh yang datang. Masa segini? Supaya diluluskan. Ini kan, ini kan bisa dihukum Tuhan. Ini kan kamu nggak bisa lulus ini ... domba ini cacat. Supaya lulus kan kamu harus ngerti saya. Akhirnya dikasih lagi duit lebih banyak. Ya sudah. 

Bayangkan satu orang satu jiwa satu jemaat saudara yang susah, umpamanya satu dinar. Nah, seratus orang, 100 dinar. Jadi apa saudaraku? Yang kaya itu imam, korban kepada Tuhan itu busuk. Korban kepada Tuhan itu busuk tapi imamnya kaya. Saya nggak mau begitu. Di dalam Maleakhi kita buka kitab Maleakhi       

2:7 Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam. 
2:8 Tetapi kamu ini menyimpang dari jalan; kamu membuat banyak orang tergelincir dengan pengajaranmu; kamu merusakkan perjanjian dengan Lewi, firman TUHAN semesta alam. 
2:9 Maka Akupun akan membuat kamu hina dan rendah bagi seluruh umat ini, oleh karena kamu tidak mengikuti jalan yang Kutunjukkan, tetapi memandang bulu dalam pengajaranmu.

Jadi kalau lihat orang kaya, ini imam oke deh, tapi kalau dia lihat orang miskin dia nekennya luar biasa maka disebut memandang bulu. Tuhan memarahi Israel karena kawin campur dan perceraian dan sebagainya tetapi saudara-saudara kita lihat Maleakhi  
1:6. Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?" 
1:7 Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?" Dengan cara menyangka: "Meja TUHAN boleh dihinakan!" 
1:8 Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.  

Lho, kita bilang mana bisa Tuhan dikasih domba buta, Tuhan dikasih domba yang timpang, domba yang tuli, domba yang cacat. Menurut Keluaran 12 tidak boleh, musti mulus ini anak domba umur setahun ... tidak boleh ada cacat, musti sehat ... baru korban sama Tuhan. Jadi korban sama Tuhan musti yang the best, yang terbaik. Kenapa bisa masuk, kata Tuhan? Karena disogok itu saudara. Imam-imam Lewi ini disogok. Okelah nggak apa-apa itu korban jelek nggak apa-apa asal duit. 

Nampaknya sekarang bukan hanya jemaat tetapi calon-calon hamba Tuhan juga calon-calon pendeta: Nggak apa-apa dah Tuhan nggak dihormati juga, nggak apa-apa kita ngobrol orang sembahyang kita ngobrol, nggak apa-apalah itu Firman Tuhan yang khotbahnya juga teman kita, nyanyi semau-maunya dibikin salah-salah, nyanyi teriak-teriak. Saya aja bisa rasa ini nyanyi tidak sungguh-sungguh. Masa Tuhan tidak rasa ini korbannya timpang, cacat, buta. 

Yang pimpin orang bilang: Mari kita berdoa. Siapapun dia di mimbar, dia jadi imam. Mari kita berdoa. Berdoalah saudara. Berdoalah. Kalau kita mau jadi pemimpin, kita musti rela dipimpin. Kalau saudara tidak bisa dipimpin, ya jangan memimpin, jangan jadi pemimpin. Saya tidak salah. Lho, kalau tidak salah kenapa mundur. Amsal 28:1 orang benar berani seperti singa. Kenapa mundur kalau tidak salah? Tidak ada yang protes. Semuanya bawa mundur, sapi dibawa pulang. Semua dibawa pulang karena memang sudah salah. 

Tahun baru Imlek hari Sabtu nggak tahu kenapa saya kecipratan sudah dari kemarin. Ada yang bawa sayur hoi som sama rebung sama ayam, aduh wangi dimakannya enak. Tahun baru Imleknya sabtu dan saya tidak merayakan imlek tapi tidak menolak kalau ada yang kirim masakan Imlek. Senang. Tiap minggu selalu ada jemaat yang bawa jeruk. Nah, bagaimana perasaan saya kalau jeruk itu begitu saya buka bilatung keluar. Tidak, saya buka wangi.  Saya buka aduh segar. Nah, tiap senin selalu ada yang telepon : oom mau dimasakin ayam obat? Kalau saya lagi sehat saya bilang ayamnya saja, nggak usah pakai obat. Tapi kalau saya lagi lelah ya seperti hari ini, ini lelah ada penganten di Jakarta jam 10, harus balik lagi kesini, khotbah lagi. Waduh, besoknya itu musti ada ayam obat datang. 

Nah, kenapa kita sama Tuhan kita nggak memberi yang terbaik, nggak memberi perhatian. Ada satu ayat berlakulah ramah terhadap Tuhan! Jangan bikin Dia marah. Kita buka ini sebagai ayat terakhair. Kitab Ayub  

22:21 Berlakulah ramah terhadap Dia, supaya engkau tenteram; dengan demikian engkau memperoleh keuntungan. 

Bahasa Inggris tidak memakai berlakulah ramah tetapi 'bertemanlah baik-baik dengan Dia'. Acquintance. Gandenglah tangan Dia, Tuhan kita. Saudara lihat menggandeng tangan Tuhan itu seperti bahasa sundanya ogoan sedikit sama Tuhan. Tapi gandenglah tangan Tuhan, berlakulah ramah, baik-baik sama Dia supaya kamu tenteram. Ini cengli benar ini ayat. 

Kalau kita dekat sama Tuhan, kita baik-baik sama Tuhan sampai Tuhan lingkarkan tangan-Nya memeluk kita karena Dia senang juga didekati. Hampirilah Dia maka Dia akan menghampiri kamu. Kalau kita datang mendekat pada Tuhan dengan sungguh-sungguh, Dia akan mendekati kita dengan sungguh-sungguh. Kalau kita mendekati Dia memegang tangan Dia erat-erat, Dia akan memeluk kita dan memegang kita erat-erat. Kalau kita meninggikan menjunjung Firman Tuhan tinggi-tinggi, Dia juga akan menjunjung mengangkat kita tinggi-tinggi. Kalau kita mencintai Dia, Dia akan mencintai kita; kalau kita menghormati Dia, Dia akan menghormati kita; kalau kita mengasihi Dia, Dia akan mengasihi kita; kalau kita menyayangi Dia, Dia akan menyayangi kita.

Bukankah saudara  waktu ke gereja kan mandi dulu subuh tadi pakai sabun yang wangi, berbedak pakai pakaian. Maksud saya perempuan, kalau lelaki jangan pakai bedak. Saudara-saudara pakai lipstick, pakai minyak seungit. Buat siapa itu? Kan untuk Tuhan. Kalau Tuhan lihat saudara sungguh kepada Tuhan begitu, Diapun akan sungguh memberkati kita. Kita berdiri bersama sama, kita akan berdoa. Haleluyah.    

-- o --   

Minggu pagi, 02 Februari 2003

Pilih Yang Terbaik

Selamat pagi, selamat berbakti di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kita akan membuka injil Lukas 

10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 
10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 
10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 
10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 
10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Cerita ini cerita baku. Marta dan Maria. Tetapi setiap kita menyelidikinya, selalu ada arti yang baru bagi kita. Maria dan Marta ini adalah salah satu dua pertiga saudara dari Lazarus, satu lagi. Jadi 3 bersaudara ini, 2 wanita 1 laki-laki sangat dekat dengan kehidupan Yesus. Delapan kali Yesus lewat ke Yerusalem, belum pernah Dia sekalipun tidur di Yerusalem. Dia selalu tidur di rumah Maria, Marta dan Lazarus ini. Jadi hubungan 3 saudara ini sangat dekat dengan Yesus, secara hubungan biasa. 

Nah, saudara-saudara, kemarin saya menyambangi ibu Tan Nie Sin yang meninggal di Bandung dalam usia 90 tahun. Ketika anak-anaknya melihat saya, mereka menangis. Selalu yang dikatakannya ayah saya. Tidak ada duanyalah hamba Tuhan seperti papa kamu, tidak ada duanya. Zus Melly telepon nangis dia ditelepon: tidak ada duanya, sampai kami lagi kontrak di Bandung juga papa kalau ke Bandung selalu memaksakan diri harus menginapnya dirumah kami kontrakan. Tidak mau ditempat lain. 

Kurang lebih seperti itulah  hubungan Yesus dengan 3 bersaudara ini. Dan nampak saudara, Marta dan Maria ini sangat dekat. Tapi kalau kita lihat bahwa 2 wanita ini menjadi contoh buat pelayanan, dua wanita ini menjadi contoh dua keadaan, 2 wanita ini menjadi contoh dua macam orang kristen, dua wanita ini menjadi contoh dua kapasitas, dua wanita ini menjadi contoh dua kepribadian.

Mari kita akan lihat. Yang pertama disebut adalah Marta. Karena dia sejak ayat 38 disebut dia menerima Yesus dirumahnya. Nampaknya Marta ini lebih dominan dari 3 keluarga ini. Dia yang disebut memiliki rumahnya. Berarti ini rumah dikuasai oleh Marta. Ini Marta menjadi ibu dari rumah tangga kelihatannya. Dia yang mengatur dari depan pintu sampai dibelakang. Dia seorang pekerja. Dia seorang yang rajin, dia seorang yang ramah karena dia yang pertama keluar dan menerima Yesus dirumahnya. 

Dikatakan masih ayat 39 masih Marta. 10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. - Maria tidak disebut menerima Yesus dirumahnya -. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. 

Boleh saya katakan kalau Marta menerima Yesus dirumahnya, Maria menerima Yesus di dalam hatinya. Saudara, dia duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya. 

Ada dua macam jemaat. Ada jemaat yang menerima Yesus secara luar, menerima Yesus secara kulit, menerima Yesus secara enteng saja di luar dengan penilaian kalau aku sudah ke gereja, itu artinya aku sudah terima Yesus, kalau aku sudah kebaktian, kalau aku sudah ke gereja, rasanya sudah cukup bagi kami. Tapi ada jemaat yang duduk. Duduk dikaki, itu bahasa perjanjian baru adalah belajar. Rasul Paulus duduk di kaki Gamaliel waktu dia dididik tentang perkara-perkara injil. Dia duduk di kaki Gamaliel. Jadi istilah duduk di kaki, itu belajar. Sama seperti istilah anak buah. 

Jadi ada jemaat yang seperti Marta ... someah, ramah, dalam pekerjaan Tuhan, rajin - tapi cuma sampai disitu. Kalau air itu cuma riaknya saja di atas. Tidak dalam kedalaman. Kalau Maria dia duduk, dia belajar, dia mendengar dari Yesus. Marta menerima Yesus dirumahnya tapi Maria menerima Yesus dihatinya. 

Saya kirim sms pagi hari ini kepada ratusan orang, baik di Indonesia maupun di luar negeri, bunyinya "banyak sekali orang yang melayani Yesus dengan cara Marta tetapi sedikit sekali orang yang melayani Yesus seperti Maria".

Nah, pada pagi hari ini saya ingin terangkan kepada saudara, apa yang dimaksud oleh Firman Tuhan ini. Kita mulai lihat perbedaannya ini di dalam ayat 39. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan - belajar - dan terus mendengarkan perkataan-Nya. 

Nah, kata 'mendengar' disana, datang dari bahasa Yunani akuouo, yaitu mendengar dan menyimpan dalam hati. Ada orang dengar kebaktian, dengar Firman Allah, keluar pulang, dia lupa. Dia tidak akan ingat. Untuk ngetes coba saudara ingat-ingat khotbah minggu yang lalu pagi apa? Itu saja. Saya tidak usah terima jawaban. Saya khotbah apa minggu lalu pagi, itu aja tesnya. Apa saudara masih ingat, apa saudara sudah lupa. Kalau saudara lupa, saudara Marta; kalau saudara masih ingat, saudara Maria. 

Itu sebabnya saudaraku, jangan sampai kita dengar Firman Allah, pulang aja 10 menit keluar dari gereja, lupa. Apa yang dikatakan Sabda Tuhan, kita lupa, sama sekali lupa. Kalau salah orang, kita nggak lupa; kalau kesalahan orang, simpan hati, dendam, kita nggak bisa lupa. Tapi Firman Allah kita lupa. 

Maka saya perhatikan saudara, orang yang berdoa setelah Firman Allah main-main itu saya yakin 99% dia tidak ingat Firman Allah, dia tidak simpan Firman Allah. Orang yang simpan Firman Allah akan terus mendengar. Jadi walaupun khotbah sudah selesai, dia berdoa, terus dia mendengar Firman. Pulang dari gereja, terus dia dengar. Sampai dirumah, pendeta boleh berhenti khotbah tapi itu Roh Kudus terus dia dengar, terus ada kontak sampai datang minggu depan, sampai datang lagi dia belajar baru. 

Nah, Marta itu kalau di roda, itu dia kaya dipinggir roda. Dia muter Marta ini. Begitu aktif. Dia diatas, dia dikanan, dia dibawah, dia dikiri. Pokoknya roda berputar dia ikut berputar. Kalau Maria itu as nya. Biar roda berputar kemana-mana, dia di as, dia di sumbernya, dia di Yesusnya. 

Saya terangkan sekarang. Melayani Tuhan seperti yang dinyanyikan oleh paduan suara .. baru hari ini saya dengar siswa nyanyi rada eucreug. Baru hari ini. Selama dari mulai dia masuk, baru hari ini dia rada mendinganlah, bisa masuk di kuping. Tentang melayani Tuhan, melayani Tuhan itu bukan khotbah, melayani Tuhan itu bukan main musik, melayani Tuhan itu bukan jadi singer, bukan. 

Itu khotbah, main musik, singer, bersaksi, itu pelayanan Marta! Saya terangkan. Main musik, khotbah, kebaktian, singer, bersaksi, deklamasi dengan judul Gong Xi Fa Cai, umpamanya sekarang deklamasi. Itu melayani pekerjaan Tuhan. Jadi majelis daerah, itu melayani pekerjaan Tuhan. Bapak pendeta Warlela meninggal ini. Jadi dalam tiga bulan ini, sudah dua MD meninggal. Jangan jadi MD dah. Sebab MD itu singkatan Meninggal Dunia, saudara. Waktu saya KKR Natal di Depok, hanya ibunya yang datang. Mana bapaknya? Sakit. Memang sudah mulai sakit itu. Tapi saya tidak tahu sakitnya itu sampai meninggal.       

Itu Marta. Kalau begitu, yang Maria bagaimana? Sembahyang. Sederhana. Sembahyang. Doa. Itu Maria. Duduk di kaki Tuhan. Terus dengar saja.   
10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. - Jadi bukan Marta melayani, sibuk sekali melayani -. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 

Dalam penilaian Marta, Maria duduk di kaki Yesus itu buang-buang waktu; dalam penilaian Marta, Maria duduk dikaki Yesus ini malas; dalam penilaian Marta, aduh, orang yang duduk dikaki Yesus itu nggak peduli. Masa saya ini kerja sendiri, dia nggak ada basa basi nya untuk bantu? Kok, duduk terus di kaki Yesus. Maka dia menegur Yesus. Maka orang yang melayani terlalu sibuk melayani secara Marta, dia jadi GR, berani tegur Yesus. Yesus itu ditegur. Dengan lain kata, Yesus dinasehati. Banyak orang kalau sembahyang itu menasehati Yesus. Saya kalau dengar orang sembahyang itu suka pengen ketawa. Biasanya kalau dalam bedstone atau dalam doa malam, suka ada tuh, orang-orang yang berdoa terus 'menasehati' Yesus, mungkin salah pakai bahasa kata-kata.  

Tuhan tolong, masa Maria disuruh duduk begitu, malas, tidak aktif. Lihat saya, seorang diri begini. Saya selalu ingat lagu sekolah minggu dulu. Eee lihat saya .. Saya pakai mahkota .. Mahkota dari Surga ... Kar'na rajin ke g'reja. Selalu Eee lihat saya! Coba kalau saudara di foto, begitu jadi fotonya, begitu kasih lihat, foto siapa yang saudara lihat? Saya. Urang dimana? Euh, kahalangan payung. Eta si aci eta mah mamawa payung dipotret teh. Urang jadi teu kacirian.  Kita yang dilihat. Manusiawi. Tetapi dalam pandangan Yesus, justru Maria yang baik. 

Ayat 41. Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, ...".

Ini satu pelajaran saudara, apa saja di Alkitab kalau sampai Tuhan ngomong satu nama dua kali, berturut-turut, itu sangat penting. Ada special warning! Harap diperhatikan. Di Kejadian: Adam ... Adam ... di manakah engkau? Dalam kitab Keluaran: Musa ... Musa ... tanggalkanlah kasutmu! Sekarang: Marta ... Marta ... 

Jadi selalu sama. Harap diminta perhatian. Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara. 

Ini yang saya ingin bicara pagi hari ini. Yesus bilang engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara. Saudara, kita bisa berbuat melakukan banyak macam. Kita bisa bekerja, kita bisa menyanyi, kita bisa jalan-jalan, kita bisa ke salon, kita bisa dicukur, kita bisa olah raga. Macam-macam. Tapi kita tidak bisa mengerjakannya sekaligus. Kita pagi subuh bangun, itu waktunya untuk doa. Habis doa amin, itu waktunya untuk kerja. Siap-siap mandi, dsb. Untuk murid sekolah, setelah mandi kerja, siap-siap ada waktu untuk belajar. Jam 9 waktunya untuk makan. Masuk lagi kelas, belajar lagi. Waktunya dibagi. Nanti siang, makan siang. Setelah itu istirahat. Setelah istirahat, siap lagi mandi. Untuk apa? Belajar lagi. Ini saya pakai yang gampang saja. Sudah belajar sore, mandi lagi. Nanti malam, belajar lagi. Makan malam ada waktunya. Untuk istirahat tidur.

Nah, kalau ini diputar balik, saudaraku. Bangun pagi dia tidak berdoa, dia langsung kerja. Masuk kelas, dikelas tidur. Dia tidak belajar. Terbalik. Ini repot. 

Nah, waktunya untuk Marta sekarang bukan untuk kerja. Bukan untuk kerja sibuk melayani, bukan. Waktunya sekarang untuk Marta adalah untuk duduk diam dengar Yesus karena Dia ada di dalam rumah. Nah, ini kita seringkali keliru. Datang ke gereja bukan dengar Firman, tapi ngobrol. Duh, ko Yoyo, mun aya ko Yoyo mah mani ka tenang gereja teh. Coba ko Yoyo euweuh mah, waduh ... siga pasar mambo. Nu batuk, aduh, oek-oekan. Aya ko Yoyo mah tenang. Ku naon nya? Teuing. 

Jadi saya ingin katakan kepada saudara, datang ke gereja kalau masih mau ngobrol, di bawah. Di handap heg. Tapi setelah masuk dalam ruangan ini, kita harus tahu ada di rumah Tuhan. Kita siapkan diri. Ada waktunya. Setelah ke gereja, kemana kita? Keluar. Waktunya apa? Mempraktekkan apa yang kita dengar. Ada waktunya. 

Jadi seolah-olah Yesus berkata: Marta, Marta kamu kuatir. Ternyata yang banyak kerja banyak kesibukan itu bisa saja dia kuatir. Dan menyusahkan diri. Bikin kita susah, bikin kita kuatir. 

Yesus pernah bilang dalam Matius 6: Siapa yang dengan kuatirnya bisa menambah 30 cm sehasta saja dari hidupnya. Nggak ada. Kita tidak tertolong karena kita kuatir, karena kita cakah-cikih, karena kita riweuh - itu kita tidak tertolong. Dan menyusahkan diri. Jadi kalau kita Yesus ada, cakah-cikih, cakah-cikih, tidak mau duduk di kaki Yesus. Mau melayani Dia, katanya. Kita yang menyusahkan diri. Kebentur sendiri kan stress. Kenapa Maria dibiarkan? Kebentur sendiri. 

Belajar ada di as. Biar roda berputar kemana-mana, ada di as saja. Rodanya maju 100 meter, kita mah tetap di as. Dia maju roda 10 km, kita tetap di as. Nggak keatas, nggak kebawah, nggak kekiri, nggak ke kanan. Dalam doa ..  ada di dalam as. Puji Tuhan.  

10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 
10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."   

Saya minggu ini dikirimin banyak makanan oleh saudara-saudara karena berhubungan dengan Imlek. Gong Xi. Saya juga kehilangan banyak uang, memberi ang pao kepada anak cucu, keponakan-keponakan, keluarga, teman-teman. Tapi saya senang, saya bahagia. Dan waktu saya lihat masakan-masakan ini semua, masakan-masakan yang terbaik, masakan-masakan yang enak. Hoi som belum digigit, dia sudah turun sendiri. Aduh, ngarti bener, saudara. Inilah hoi som tahun 2003. Nggak usah digigit, dia bisa turun sendiri. Belajarlah memilih yang terbaik.      

Sekarang seekor sapi. Saudara pasti pernah makan otak sapi. Enak gurih tapi itu bukan yang terbaik. Saudara pernah makan kerupuk kulit sapi, enak - tapi bukan yang terbaik. Sop buntut sapi, enak resep gurih - tapi bukan yang terbaik. Sop kaki sapi, enak tapi bukan yang terbaik. Saudara suka makan kalilipa, babat, itu dari sapi semua lidah, enak semua - tapi bukan yang terbaik. Habis yang terbaik apa? Daging has yang cuma sepotong kecil saja, dari badan sapi yang begitu besar, itu adalah bagian yang terbaik disebut daging has. Itu yang terbaik. 

Ayam. Bapa saya dulu karena ekonomi, tiap pagi selalu beli kepala leher ayam. Saya pikir-pikir mungkin saya bisa khotbah suara keras karena makan leher ayam saudara. Tapi itu bukan yang terbaik. Kadang-kadang kepala ayam dibuka, makan otaknya, enak gurih - tapi bukan yang terbaik. Sayap ayam digoreng enak gurih, brutu bagian belakang ayam bempernya, itu juga enak gurih. Tahun 79 saya ke Sydney, pendeta disana waktu itu belum kerja sebagai pendeta, masih jadi tukang parkir hotel, dia bikin kari semuanya brutu ayam. Saya bilang dari mana? Ini saya nggak beli, saya datang aja ke pasar, ketempat pemotongan, karena mereka nggak makan brutu orang sana. Itu katanya buat saya saja. Buat apa kamu banyak-banyak ambil? Buat herder saya, katanya. Padahal ada tamu dari Indonesia, dia nggak punya duit, saudara. Jadi brutu terus, jadi ini brutu semua. Tapi tahu nggak saudara, itu bukan yang terbaik. Ceker ayam kalau yam cah, enak gurih - tapi bukan yang terbaik. Apa yang terbaik? Bagian dada yang berwarna putih itu daging. Itu bagian yang terbaik. Itu orang barat mau makan itu. Yang lain dari itu dia nggak mau makan. 

Jadi dalam sapi ada bagian yang terbaik, dalam ayam ada bagian yang terbaik, dalam kekristenan, dalam gereja juga ada bagian yang terbaik. Nyanyi baik, tapi bukan yang terbaik; khotbah baik tapi bukan yang terbaik; main musik baik tapi bukan yang terbaik. Yang terbaik apa? Sembahyang, duduk dikaki Tuhan. Nggak kelihatan orang saudara. Saudara duduk aja dikaki Tuhan, dirumah duduk sembahyang, 5-10 menit. Kalau saya lihat sekarang orang-orang yang betul-betul dahulu itu iring kepada Tuhan itu diberkati Tuhan. Luar biasa. 

Ibu Tan Nie Sin punya anak itu satu dokter di Austria, kawin sama orang bule, dokter juga. Cucunya salah satu yang disana sudah dokter juga. Sampai setahun dua kali katanya ke Austria. Padahal dia janda membesarkan 4 anak dari kecil. Cucunya yang di Jakarta sudah jadi dokter, satu sekolah di Australia. 

Jadi nampak kepada saya, orang-orang yang iring Tuhan dengan setia ... ibu Melly itu telepon sama saya: Yo, kita kan dididik sama papa sederhana, kita orang desa, kita orang kampung, dididik dengan keras sama papa tapi inilah hasilnya, kita jadi semua. Sambil nangis itu ditelepon. Jadi kalau mereka jadi, saudara juga akan jadi. Kalau mereka diberkati, saudara juga diberkati. Karena kalau papa saya keras, saya juga keras. Maksudnya keras dalam hal yang baik. 

Sembahyang. Heg coba. Sampai zus Lelly bilang: Saya nggak lupa itu waktu kita mau masuk sekolah masih pake motor mau masuk sekolah kuliah, oom Yan teh datang, katanya: 'Ingat, sebelum pergi, minta tutup bungkus dengan darah Yesus'. Sampai sekarang udah punya anak, udah pada jadi dokter. Nggak lupa. Dia kebaktian di Katolik sekarang tapi dia nggak bisa lupa itu sembahyang: Tuhan, tutup bungkus dengan darah-Mu. Itu GPdI asli, itu pantekosta. Kita nggak bisa lupa saudara. 

Dulu gereja kita belum ini masih bapak saya, bapak saya kirim dua majelis jemaat, ibu Tan Yan Bun sama satu lagi siapa gitu, dikirim ke majelis pusat, oom Runkat dulu. Minta dana mau bangun gereja di Cianjur. Seksi repot dulu. Minta bantuan dana. Begitu sampai disuruh apa? Ibu pulang, sembahyang, nanti dana datang. Sembahyang. Sampe katanya rasa sedih, rasa sakit hati. Kok nggak dikasih uang, malah disuruh sembahyang. Padahal sembahyang mah nggeus unggal usik sembahyang. Tapi betul kejadian. Doa ... doa ... doa, gereja terbangun. 

Ini gereja dibangun karena apa? Doa orang Cianjur? Bukan. Karena doa. Orang Cianjur mah nggak ada ikan kakap, nggak ada. Ikan teri tapi teri nya teri kompak. Disuruh doa ayo, disuruh puasa ayo. Dan ketahuilah saudara bahwa kebaktian rabu kita ini paling besar di Jawa Barat. Kadang-kadang di Jawa Barat di Bandung pun kebaktian rabu hampir nggak ada orang. Tapi kita kebaktian rabu justru banyak. Sampai 100 orang lebih. Puasa lagi. Itulah yang membuat diberkatinya gereja kita, diberkatinya jemaat kita. 

Aduh, khotbah teh ngeunaheun nya. Kenapa enak? Karena saudara berdoa. Aduh, kunaon nya khotbah poe ieu mah rada kurang ngeunah? Karena saudara kurang berdoa. Gitu aja. Hayang ngeunah? Sembahyang. Pengen enak khotbah, sembahyang. 

Saya bisa keluar kota, saya bisa ada ke KKR, tapi siapa yang khotbah disini akan enak terus kalau saudara tahu berdoa. Tuhan, biar Engkau bicara pada pagi hari ini, Tuhan bicara pada sore hari ini. Siapapun yang berdiri, itu adalah hambaMu, itu adalah orator dari Engkau. Tuhan bicara kepada kami. Keperluan saya apa Tuhan, tolong. Ada yang datang dari Cipeuyeum. Jam 4 harus sudah bangun dari Cipeuyeum untuk kebaktian pagi. Nanti balik lagi. 

Tapi yang penting itu, mari ambil yang terbaik. Apa yang terbaik itu? Sembahyang! Mungkin masih di mobil ngantuk-ngantuk ... berdoa. Tuhan, tibakan saya dengan selamat di gereja. Berdoa. Mau toko berdoa, mau kemana-mana berdoa. Ini doa ini sederhana saudara. Tapi saya mau kasih tahu. 

Billy Graham melantik Presiden Kennedy. Billy Graham melantik Lindon B. Johnson, Billy Graham melantik saudaraku presiden yang berikutnya, Billy Graham melantik lagi Clinton, Billy Graham melantik lagi George Bush. Sampai sekarang Billy Graham  masih ada, masih hidup, masih khotbah. Presiden Kennedy sudah mati, Lindon Johnson mati. Sudah 4-5 presiden mati. Billy Graham nya masih hidup. Semuanya minta didoakan oleh hamba Tuhan. 

Nah, ini hamba Tuhan lebih tinggi dari presiden. Karena untuk pelantikan hamba Tuhan, nggak pernah kita panggil presiden. Tapi untuk pelantikan presiden, mereka panggil pendeta, hamba Tuhan. Yang lebih tinggi dari hamba Tuhan hanya cuma satu ... tukang cukur, dia pegang kepala hamba Tuhan. 

Maka saya ingin katakan kepada saudara, mari kembali kepada doa. Pilih yang terbaik yang sudah diambil oleh Maria. Mari kita berdiri bersama-sama.    

-- o --   

Minggu pagi, 16 Februari 2003

BERHALA

Yesaya 

48:1 Dengarlah firman ini, hai kaum keturunan Yakub, yang menyebutkan dirinya dengan nama Israel dan yang adalah keturunan Yehuda, yang bersumpah demi nama TUHAN dan mengakui Allah Israel--tetapi bukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati - 
48:2 bahkan mereka menyebutkan dirinya menurut kota kudus dan mereka bertopang kepada Allah Israel, TUHAN semesta alam nama-Nya; 
48:3 firman TUHAN: "Hal-hal yang terjadi di masa yang lampau telah Kuberitahukan dari sejak dahulu, Aku telah mengucapkannya dan telah mengabarkannya. Kemudian dengan sekonyong-konyong Aku melaksanakannya juga dan semuanya itu sudah menjadi kenyataan. 
48:4 Oleh karena Aku tahu, bahwa engkau tegar tengkuk, keras kepala dan berkepala batu, 
48:5 maka Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya. 
48:6 Engkau telah mendengar semuanya itu dan sekarang engkau harus melihatnya; tidakkah kamu sendiri mau mengakuinya? Aku mengabarkan kepadamu hal-hal yang baru dari sejak sekarang, dan hal-hal yang tersimpan yang belum kauketahui. 

Yesaya 48 ini berdiri di antara masa lalu dan masa depan dari Israel. Israel itu disebut umat pilihan Tuhan, disebut umat Allah tetapi ditegur oleh Tuhan di dalam ayat 1 bagian akhir, 'tetapi bukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati'. Menyebut dirinya Israel tapi tidak dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati. Bahkan di dalam ayat 4, Tuhan menegur lebih jauh orang Israel: 'Oleh karena Aku tahu, bahwa engkau tegar tengkuk - lehernya itu keras kaku, keras kepala dan berkepala batu'. Tuhan sampai marah begini pasti ada sebabnya. Pasti ada sebabnya. 

Enam garong ditembak mati di Bandung. SCTV meng-close up dikamar mayat, 6 garong itu. Garong itu pakai tanda salib disini, semua enam-enamnya. Berarti orang kristen. Jadi banyak orang saudara, cuman ngaku beragama, ngaku berTuhan tetapi tidak dengan sungguh -sungguh dan tidak dengan tulus hati. 

Kita diselamatkan oleh Tuhan bukan karena kita masuk keluar gereja, cin cau gereja, tidak! Tapi kalau kita melakukan Firman Tuhan. Dan sudah dikatakan dengan jelas, katanya oleh Firman Allah, sudah dari jauh. Apa sebabnya ini orang Israel, sudah punya Tuhan yang hebat, sudah punya Tuhan yang luar biasa masih lagi bikin berhala. Di dalam ayatnya yang kelima.

48:5 maka Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya. 

Tuhan wanti-wanti sudah beritahu jauh dulu-dulu, bahwa engkau itu akan diberkati oleh Aku, supaya kamu jangan nganggap ini patung berhalaku, ini patung sembahanku yang memberkati aku. Kenapa? Nah, inilah soalnya.  Banyak orang kristen mengaku kristen dimulut tapi masih punya patung. Patung itu macam-macam, berhala itu macam-macam. 

Apa yang dimaksudkan berhala? Ini adalah kita, ini Tuhan. Segala sesuatu yang berdiri antara Tuhan dengan kita, itu berhala. Apa saja yang berdiri diantara Tuhan dengan kita, itu berhala. Dia bisa patung, dia bisa uang, dia bisa rumah, dia bisa anak, dia bisa pabrik, maaf, dia bisa toko, dia bisa perusahaan - segala sesuatu yang berdiri menghalangi kita dari Tuhan, itu berhala. Atau lebih tepat lagi, segala sesuatu yang kita cinta lebih dari Tuhan, itu berhala! Jadi Tuhan sudah wanti-wanti bilang, jauh-jauh Aku pasti memberkati engkau. Tapi jangan engkau menganggap itu datang dari berhala. 

Ayat 4. Oleh karena Aku tahu, bahwa engkau tegar tengkuk. 

Saudara tahu tegar tengkuk ini begini. Kalau saya berdiri begini terus ada yang panggil, saya nengok, itu tidak tegar tengkuk. Tetapi kalau tegar tengkuk susah. Ini siapa yang panggil ... ah, itu tegar tengkuk. Baru dipasang besi di lehernya. Jadi nengok harus sama badan semua. Siapa tuh? Sukar. Kalau orang Israel bukan mau nengok, badan nggak mau nengok ... kepala juga nggak mau nengok. Tegar tengkuknya. Dikatakan keras kepala dan berkepala batu. Ini orang Yahudi sampai sekarang ini nggak mau percaya Yesus. Keras kepala. Tegar tengkuk, tidak mau dirubah, tidak mau diarahkan. Jadi sekarang saudara-saudara punya latar belakang bahwa ada umat Tuhan yang cuma ngomong saja Tuhan, Tuhan, Tuhan tetapi kelakuannya itu tidak sesuai. 

Ayat 7
48:7 Baru sekarang hal-hal itu diciptakan dan bukan dari sejak dahulu -
sekarang Tuhan bicara hal-hal yang akan datang -, dan sebelumnya engkau tidak mendengarnya, supaya jangan engkau berkata: Memang aku telah mengetahuinya! 

Tiba-tiba Tuhan berkata : 'Sekarang, hari ini, Aku mau memberitahukan apa yang akan terjadi dihadapanmu'. Tadi dia bilang dulu Aku sudah mengatakan apa yang akan terjadi hari ini. Tapi sekarang Aku akan akan memberitahukan apa yang akan terjadi nanti, supaya kamu jangan bisa ngomong memang aku sudah tahu, aku sudah tahu, geus nyaholah. Aku akan memberitahu sesuatu yang kamu belum tahu. 

Sekarang orang Jakarta semua lagi nunggu-nunggu nubuatan saya terjadi apa tidak. Antara bulan tiga, bulan empat akan ada satu kejadian yang besar terjadi di dunia, bersamaan dengan itu akan terjadi perkara juga yang menguntungkan gereja Tuhan. Sekarang orang mulai oh, oh, oh ... mungkin ini, mungkin ini ... itu perang Irak, sekarang sudah Februari. Kalau setelah lebaran haji nanti saudaraku awal Maret diserang, mungkin itu yang dimaksud oleh Tuhan. Tapi kita yang tunggu ini bukan perang Iraknya, tapi kejadian yang Tuhan akan memberkati umat Tuhan. Kejadian yang Tuhan akan mengerjakan umat Tuhan.

Ayat 8 
48:8 Engkau tidak mendengarnya ataupun mengetahuinya, juga telingamu tidak terbuka dari sejak dahulu; tetapi Aku telah mengetahui, bahwa engkau berbuat khianat sekeji-kejinya, dan bahwa orang menyebutkan engkau: pemberontak sejak dari kandungan. 
48:9. Oleh karena nama-Ku Aku menahan amarah-Ku dan oleh karena kemasyhuran-Ku Aku mengasihani engkau, sehingga Aku tidak melenyapkan engkau. 
48:10 Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan. 
48:11 Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!" 

Di sini Tuhan mengatakan Aku akan ... sederhananya 'memutihkan pengkhianatanmu'. Banyak orang tidak bayar pajak bertahun-tahun, ketahuan. Ayo bayar, pemutihan. Tidak bayar full tapi ada bayar sejumlah uang untuk memutihkan. Dikatakan disana, 'oleh karena nama-Kulah, Aku menahan marah'. 

Jangan saudara sangka Tuhan itu baik terus, baik terus, Tuhan itu baik, dan Dia tidak pernah marah. Harus bisa katanya seperti Tuhan, panjang sabar. Tidak. Tuhan itu pemarah. Dia tidak bisa lihat dosa, Dia tidak bisa lihat penyelewangan. Tapi karena Aku sayang kepadamu, kata Tuhan, Aku mengasihani engkau, karena kemasyhuran-Ku, Aku menahan amarahKu. Kalau menahan itu, marahnya belum hilang. Baru ditahan. 

48:10 Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan. 

Saya mau berhenti sebentar disini. Saya mau ketuk hati saudara yang paling dalam. Coba buang kecurigaan-kecurigaan. Tenang, pikirkan dan perhatikan kata-kata saya. Kadang-kadang kita mengalami percobaan yang menyengsarakan kita. Kadang-kadang Tuhan mengijinkan, membiarkan kita lewat api pencobaan menurut Petrus, yang kita sendiri merasa aneh, kok saya sebagai orang kristen kok begini. Mana Tuhan itu? Mana Dia itu? Apa Tuhan lupa sama saya? Apa Tuhan marah sama saya? Beribu-ribu pertanyaan. 

Dengar baik-baik. Tuhan tidak marah. Dia sudah menahan amarahNya. Tapi Tuhan mau 'memurnikan' kita. Dan Dia hanya punya satu dapur, yaitu dapur kesengsaraan. Dapur kesengsaraaan ini bukan menyengsarakan saudara, .. bukan. Kalau toko emas, dia lihat emas ini kotor, dia bakar sama api. Bukan dia tidak suka emas,  justru karena dia suka emas dia bakar sama api supaya anasir-anasir pasir, besi yang bukan emas itu keluar dan dia cuma punya emasnya. 

Taruhlah emas itu ada 3.3 gram. Tetapi waktu setelah dibakar tinggal 3 gram. Dia lebih untung dapat 3 gram yang emas semuanya daripada 3 gram dengan 3 itu yang pasir dan macam-macam. Itu tukang emas. Tukang perakpun demikian. Nah, Tuhan bilang umat-Nya: Aku mengasihani engkau. Bukan berarti kita bebas dari salah, tidak. Kita salah, kita harus dimarah. Israel itu salah. Tapi Aku menahan amarahKu karena Aku mengasihani engkau. 

Jadi kalau saudara sedang di dalam 'kesengsaraan, problem, percobaan', ingat, itu tidak terus. Tidak terus begitu di dalam sengsara, tidak terus begitu di dalam kesulitan, tidak! Hanya mungkin Dia ingin merubah perhatian kita kepada Dia. Asalnya kita hanya memperhatikan perusahaan, uang, dunia terus. Coba sekarang perhatikan Tuhan. Karena manusia kalau tidak dikasih problem, kalau tidak diijinkan mengalami itu, kita suka lupa sama Tuhan. 

Di Bekasi kemarin eks Cianjur, 150 gembala mengundang saya. Setelah selesai kita makan sama-sama lalu ada satu cucu namanya Ronaldo, dia cucu dari keluarga Nemo: 'Opa Yoyo ... opa Yoyo'. Ayo sini. Cium opa. Jadi dibanyak orang, dia malu-malu dia takut takut. Saya cium dia. Begitu saya naik mobil mau pergi, dia panggil lagi: 'Opa Yoyo ... opa Yoyo'. Ah, saya tergerak, keluarin uang 10 ribu. Dia masih kecil. Nih, buat kamu uang buat jajan. Dia pegang itu uang. Ayo dong cium opa lagi. Dia nggak jawab. Nggak terima kasih, nggak jawab, dia tinggalin saya.   

Kira-kira seperti itulah kita kadang-kadang. Kita memerlukan Tuhan. Kita panggil: Tuhan ... Tuhan, Yesus ... Yesus. Tuhan lihat kita. Dia simpati. Dia sayang, Dia kasih berkat sama kita ... 10 M. Begitu kita dapat 10 M ... Ayo dong, berterima kasih sama Aku, Aku yang kasih 10 M kepada kamu. Lupa. Orang tuanya bilang : ayo, bilang terima kasih. Dia nggak peduli. Cuma 10.000 doang. Setelah itu ... setelah dialami, 'kesengsaraan' dalam tanda kutip tadi. Tuhan memberi hari depan yang luar biasa. 

48:12 "Dengarkanlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil! Akulah yang tetap sama, Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang terkemudian! 
48:13 Tangan-Ku juga meletakkan dasar bumi, dan tangan kanan-Ku membentangkan langit. Ketika Aku menyebut namanya, semuanya bermunculan. 
48:14 Berhimpunlah kamu sekalian dan dengarlah! Siapakah di antara mereka memberitahukan semuanya ini? Dia yang dikasihi TUHAN akan melaksanakan kehendak TUHAN terhadap Babel dan menunjukkan kekuatan tangan TUHAN kepada orang Kasdim. 
48:15 Aku, Akulah yang mengatakannya dan yang memanggil dia juga, Akulah yang mendatangkan dia, dan segala usahanya akan berhasil. 
48:16. Mendekatlah kepada-Ku, dengarlah ini: Dari dahulu tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi dan pada waktu hal itu terjadi Aku ada di situ." Dan sekarang, Tuhan ALLAH mengutus aku dengan Roh-Nya. 
48:17 Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. 
48:18 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, 
48:19 maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku." 

Sekarang bahasa Tuhan itu jadi lain. Dari pahit menjadi manis, dari mahoni menjadi anggur, dari kecut menjadi madu yang manis. Apa katanya? Aku tidak berubah, dulu, sekarang bahkan sampai selama-lamanya. Ada amin, saudara-saudara? Kalau Tuhan tidak berubah, Firman-Nya pun tidak berubah, rencana-Nya pun tidak berubah, cara Dia memperlakukan umat-Nyapun tidak berubah dan cara Dia menghukum kesalahanpun tidak berubah. Ternyata Dia ini gandrung kalau dikelilingi oleh umat-Nya. 

48:14 Berhimpunlah kamu sekalian dan dengarlah!

48:16 Mendekatlah kepada-Ku, dengarlah!

Sudah dua kali: 'Berhimpun, dengar!', 'Mendekat, dengar!'. Saya tidak tahu yang paling jauh hari ini dari mana. Tapi saya lihat keluarga ko Tiong An dari Sukabumi bangun jam 4.00, 30 km kesini. Sampai sini kebaktian untuk berhimpun mendengar Firman. Kemarilah, kata Tuhan, mendekatlah kepada-Ku. Nanti kapan-kapan saudara kerumah saya, saudara saya kasih lihat foto saya foto the best tahun 2002, foto saya ditunggangi cucu saya.   

Tapi itulah Tuhan, 'Ayo mendekat kemari, mendekat kepadaKu, dengarlah!'. Dari dulu tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi. Artinya apa? Dia mau bicara terang-terangan. Dan pada waktu hal itu terjadi, Aku ada disini. Begini kataNya, isi hatiNya Tuhan bagi kita.

48:17 Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah

Dalam bahasa Inggris ... Who teaches you to profit ... Yang mengajar engkau to profit. Kalau saya dengar bisnisman di Singapur orang dagang, dengar dikuping ngomong: 'I have little profit lah'. Ini modalnya segini, saya punya untung sedikit. Jadi profit itu untung. Yang mengajar engkau untuk untung. Saya yakin satu hal. Kalau saudara setia kepada Tuhan, mengutamakan kebaktian, mengutamakan Firman, Tuhan akan mengajar to profit. Dia akan mengajar kita untuk beruntung dalam toko, usaha, mata pencaharian, pekerjaan, studi ... segala bidang, Dia akan mengajar kita to profit, untuk mendapat keuntungan. Amin, saudara?  

Yang menuntun engkau di jalan yang harus kau tempuh. Saya juga harus baca bahasa Inggris. To lead you by the way you should go. Ini salinannya agak lain. Kalau saya salin begini: Yang menuntun engkau dijalan yang seharusnyalah kau tempuh. 

Jadi sebetulnya tanpa Tuhan, kita musti pilih itu jalan. Walaupun Tuhan tidak menuntun, kita seharusnyalah memilih itu jalan. Cuman kita suka klemar-klemer, suka kakidul-kakaler. Maka Tuhan menuntun, ini lho jalan yang seharusnya engkau tempuh. Artinya apa? Kita bisa tahu jalan baik, kita tahu itu jalan baik ... tapi kita tidak mampu memiliki kekuatan untuk menjalaninya. Kita tahu sembahyang itu baik, berapa orang dari kita yang suka sembahyang? Kita tahu puasa itu baik, berapa orang dari kita suka puasa? Ada siswi yang puasa lima hari, ada siswa yang 7 hari. 

Dirumah saya ada bisnisman yang asal datang gemuk, sekarang sudah kurus, dia puasa. Dan bukanya aneh saudara. Dia buka satu loyang martabak. Habis sudah 7 hari dia puasa. Karena apa? Karena sedang mengalami kesengsaraan. Tuhan mah baik. Karena kalau Dia lagi senang terus, kaya ... boro-boro dia mau puasa. Sekarang mah dia parkir mobilnya, dia pinjam kamar dirumah, dia puasa. Celana udah merosot. Kita tahu puasa baik, tapi apa kita puasa? Kita tahu menolong orang itu baik, tapi apa kita suka menolong orang? Maka itu Tuhan menuntun kita, 'inilah jalan yang seharusnya kamu tempuh!'  

Sampe Tuhan itu sampe nyeselin, ayat 18: 'Sekiranya ...'. Nah, di dalam bahasa Inggris, ayat ini dimulai dengan kata Oh, ... tapi dalam bahasa Indonesia nggak ada. Hanya dipakai, sekiranya. Kalau saya salin saya pakai juga: Aduh, sekiranya ... karena dalam bahasa Inggris, Oh, ...

Aduh, kalau dulu itu kamu memperhatikan saja perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Perkataan 'tidak pernah kering', itu tidak ada dalam bahasa Inggris. Yang ada: engkau punya damai sejahtera akan seperti sungai. 

Nah, kalau sungai kan ngalir terus, tidak pernah kering .. namanya saja sungai. Apa artinya sungai? Sungai itu ada airnya, sungai itu mengalir, sungai itu tidak kering, itu artinya sungai. Damai sejahtera kita biar apapun terjadi, kita akan seperti sungai. Damai sejahtera kita mengalir terus!  

Dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Bahasa Inggris, kebenaranmu : 'Kebenaranmu seperti gelombang dilaut'.   

48:19 maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya. 

Ini kepada Abaraham. Tetapi 17, 18 adalah janji Tuhan yang luar biasa. Aduh, kalau saja kamu, kataNya,  memperhatikan kata-kataKu, memperhatikan FirmanKu.

Sekarang kita tes. Apa yang kita lakukan ini sekarang? Kita ngalami damai? Untuk mentes apa kita ada di dalam jalannya Tuhan atau bukan jalannya Tuhan, itu damai. Apa sekarang saya sedang ada di dalam perasaan damai itu? Saudara jangan bilang begini: 'Saya pokoknya tidak berbuat dosa'. Tapi ayat Firman Allah berkata: 'Kambing di sebelah kiri, domba di sebelah kanan.' Kambing yang disebelah kiri itu, dia tidak bebuat dosa, tapi dia tidak berbuat baik. Jadi saudara tidak cukup, saya tidak berdosa tapi tidak berbuat baik. Yakobus

4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Dosa itu bukan karena kita membunuh, kita berjinah, kita mencuri, kita ngomongin orang, tidak. Bukan itu saja! Tapi kita tidak berbuat baik juga berdosa. Saya non-aktif. Digereja saya penonton. Orang lain nyumbang natal,  saya nonton; orang lain aktif kerja buat Tuhan, saya nonton; orang lain bedstone, saya nonton; orang lain sembahyang, saya nonton; orang lain kerja, saya nonton; orang lain doa malam, saya tidur malam. Pokoknya saya cohosim, liang sim saya baik, makan cay sim, tidak kua bo orang, tidak nipu sama orang. Betul. Bagus. Tapi kita tidak berbuat baik. Sama ... dosa. Itu Firman Allah yang berkata, bukan saya.   

Kita kembali kepada Yesaya 48. Hatinya Tuhan itu sebetulnya mau memberkati kita. Cuman kitanya kayak yang nggak mau diberkati gitu. Maka obatnya ayat 20
48:20 Keluarlah dari Babel, larilah dari Kasdim! Beritahukanlah dengan suara sorak-sorai dan kabarkanlah hal ini! Siarkanlah itu sampai ke ujung bumi! Katakanlah: "TUHAN telah menebus Yakub, hamba-Nya!" 
48:21 Mereka tidak menderita haus, ketika Ia memimpin mereka melalui tempat-tempat yang tandus; Ia mengeluarkan air dari gunung batu bagi mereka; Ia membelah gunung batu, maka memancarlah air. 
48:22 "Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!" firman TUHAN.

Maka dikatakan oleh saya tadi, inilah check-up nya itu begini. Kalau saya sekarang hari ini berbuat ini, damai nggak saya. Kalau saya bertindak seperti ini, sejahtera tidak saya. Itu saja. Kalau saya tidak sejahtera, kita fasik, kita ini salah. Tapi kalau kita di dalam segala musim tandus sekalipun Tuhan menolong kita, Tuhan memelihara kita melewati tempat-tempat tandus, apa maksudnya? Ekonomi diluaran susah, saudara mah nggak, Tuhan pelihara. Orang lain aduh sudah semua susah, demonstrasi unjuk rasa aduh, susah untuk cari sesuap nasi saja susah.

Kemarin hujan-hujan ada satu bapa tua di Jakarta pakai selendang, pakai gendang. Udah tua. Saya bilang sama istri saya, kasih duit. Maksud saya kira-kira seribu lah. Dikasih cepe. Tapi coba saudara perhatikan masih ada di Indonesia ini yang katanya penduduknya 210 juta, punya ketua DPR yang nggak mau mundur-mundur, sudah ketahuan juga salah, 40 milyar uang nggak tahu kemana, nggak mau mundur nggak mau dihukum. Tetap aja. Udah nggak ada muka, mukanya udah pada tebal semua. Negara kaya seperti ini sekarang, masih banyak jutaan orang yang sedang susah, saudara tidak susah.  Bukankah itu Tuhan, bukankah itu berkat dari Tuhan pemeliharaan. 

Itu sebabnya engkau akan dikasih air dari batu. Orang lain: 'Wah, ini padang pasir, ini susah, nggak ada air'. Tuhan pukul batu, keluar air. Tukang sulap mana yang belah batu keluar air? Nggak ada!  Nggak ada tukang sulap saudaraku, biar dia David Copperfield, dia bilang batu lihat tuh dipukul, bek, keluar aqua, nggak bisa. Hanya Tuhan yang bisa bikin sesuatu pancaran air dari batu yang keras. Hanya Tuhan. Ditengah tandus ditengah susah, Dia pelihara. 

Satu-satunya ini waktu saya SMP, saya sudah belaja. Baru saya lihat itu saudaraku di daerah Mara di Mesir, didaerah Afrika, ini padang belantara. Coklat ... panas ... ada memang jalan kita naik bis. Panas saudara, bis pakai AC saja kita masih keringatan. Nggak ada apa-apa. Tapi tiba-tiba ada pohon kelapa, tiba-tiba ada hijau-hijau, oh  itu oase, itu wadi, rafidim, namanya. Ada pohon korma. Rakyat ada kumpul disana. Ada padang rumput sedikit. Ada air. Itu oase! 

Tuhan memelihara kita seperti oase. Ditengah padang gurun yang panas, saudara dijaga, dipelihara oleh Tuhan. Mari kita berdiri bersama-sama.   

-- o --   

Minggu pagi, 23 Februari 2003

IMAN YANG SEIMBANG

I Petrus 

5:5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." 
5:6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. 
5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 
5:8. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 
5:9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. 
5:10. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. 
5:11 Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin. 

Di dalam ayat ke 8 diminta 'Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya'.

Kita maju kedepan lebih dahulu, kepada surat Yakobus 4:7 'Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!' 

Digabungkan dengan ayat tadi, kembali kepada 1 Petrus 5, lawanlah ia dengan iman yang teguh. Dalam bahasa lain, lawanlah dia dengan iman yang seimbang. Mari pada pagi hari ini, kita mau belajar tentang hidup yang seimbang. Jadi kalau kita hidup tidak seimbang, iblis menyerang. 

Saya punya kenalan bapak pendeta Lie Tjun Yung dari Situbondo. Dia meninggal umur 100 tahun tapi dia cerita sama saya bahwa di Tiongkok, itu orang belajar silat itu 10 tahun pertama, itu hanya kuda-kuda. Tidak ada penyerangan tidak ada ilmu begini. Selama 10 tahun pertama, itu hanya kuda-kuda supaya dia bisa steady, supaya dia bisa mantap, supaya dia bisa seimbang ketika diserang musuh. 

Nah, banyak orang kristen ini hidup tidak seimbang. Itu sebabnya dia buka jalan kepada iblis untuk menyerang. Tuhan berkata, 'Lawanlah dia, iblis, dengan imanmu yang teguh'. Mana bisa orang teguh kuat kokoh kalau tidak seimbang. Bayangkan saja tiang ini saudara, kalau dia miring, ini bangunan hancur. Harus seimbang. Kuda-kuda. Orang bikin jembatan semuanya harus seimbang. 

Kira-kira 7-8 tahun yang lalu, mungkin 10 tahun, saya ini mau roboh saja. Kalau berdiri khotbah ini mau jatuh. Bahkan saya harus pegang mimbar kalau khotbah, itu terjadi 10 tahun lalu. Diperiksa saya, tidak ada yang sakit. Diperiksalah saya kepada dokter ahli syaraf, Prof. DR. Kaskara, seorang kristen. Dia lalu bilang sama saya: 'Bapak kan bicaranya tadi duduk sama saya itu miring begini'. Saya bilang, tidak, saya duduk tegak. Bapak boleh ngomong begitu tapi bapak tadi duduknya miring sama saya. Dan bapak ngomong tidak dari hati, bapak ngomong asal bicara saja. Wah, saya tersinggung. Dia bagaimana bisa ngomong tidak dari hati. Dia bilang bagaimana orang sakit, bisa ngomong dari hati. Bapak punya bibir ini biru, hitam. Berarti jantung bapak tidak baik. Bapak ini seperti mobil. Mobilnya tahun 90, tetapi mesinnya seperti tahun 20. Waduh, saya diketok begitu terus belum diobatin belum diperiksa, sudah ngomong begitu. 

Akhirnya dia periksa saya. Lalu dia bilang: Bapak ini hidup tidak seimbang. Bapak ini syaraf bicaranya kena. Karena bicara terus, khotbah terus, khotbah terus ... bicara. Harus seimbang, pak. Disuruhlah saya istrirahat. Bapak tidur jam berapa kalau malam? Ya, kadang-kadang jam dua, kadang-kadang jam tiga, kadang-kadang jam satu. Wah, dia bilang bapak lama-lama jadi dewa. Kenapa, saya bilang? Dewa tidak pernah tidur pak. Manusia itu perlu tidur. Bapak harus tidur. 8 jam tidak boleh kurang. Wah, saya sudah sembahyang sama Tuhan minta kesembuhan, kesehatan, saya rasa saya kerja buat Tuhan sungguh-sungguh, saya semangat maju khotbah 7 kali satu hari. Luar biasa. Saya pikir saya dipakai Tuhan. Padahal saya tidak seimbang. 

Dan ketika saya tidak seimbang, iblis menyerang di dalam penyakit. Lalu mulai diberesin satu-satu. Harus seimbang. Coba saudara makan daging terus dan jangan makan sayur. Nggak lama saudara sakit. Saudara cia cay terus makan sayur terus, jangan makan daging, nggak lama juga saudara sakit. Saudara harus seimbang antara sayur dengan daging. Saudara-saudara begadang terus tiap malam begadang terus, kurang tidur buka toko kerja, begadang lagi malamnya. Tidak lama saudara akan sakit karena saudara tidak seimbang.  

Nah, ketika kita tidak seimbang, maka akan terjadi penyakit datang, iblis menyerang karena hidup kita tidak seimbang. Kalau kita kebaktian terus, kebaktian tiap hari ke gereja terus, dagang nggak, tidak seimbang. Saudara dagang terus tiap hari dagang terus nggak kebaktian, tidak seimbang. Saudara musti tahu waktunya dagang dan waktunya kebaktian, waktunya kerja dan waktunya istirahat.       

Lawanlah dia dengan iman yang teguh .. dengan iman yang seimbang. Saudara lihat timbangan. Kalau yang berat sebelah sini, yang ini kan naik. Enteng artinya. Tidak boleh begini hidup. Harus begini. Kan Yesus juga disalib begini .. seimbang. Maka kita harus belajar hidup seimbang. Ada orang kristen begitu medit, begitu kopet, begitu skaker pelit, tidak bawa persepuluhan. Bagi gembala sidang, no problem dia tidak bawa persepuluhan nggak apa-apa, tapi bagi saudara, saudara menutup pintu Tuhan memberi berkat. Saudara tutup pintu. 

Sebaliknya, saudara terlalu berani korban pada satu orang. Dia bawa cek US$5.000, 45-50 juta, bawa sama pendetanya, kebetulan pendetanya saya tahu. Pendetanya bilang: 'Ini buat apa, 45 juta rupiah?' Oom, saya ini serahkan semua untuk Tuhan. Saya sudah berdoa semalam suntuk, saya percaya ini suruhan Tuhan, saya mau serahkan ini semua untuk Tuhan, ini semua uang saya. Apa kamu tidak perlu umpamanya 30 juta untuk modal kerja, untuk kasih sama Tuhan 10 juta saja? Tidak oom, semuanya ini untuk Tuhan. 

Didoakan sama pendeta itu, cek itu tidak diuangkan, disimpan dibuku. Sudah satu tahun, saudara, ini orang yang sama, dia datang sama pendeta, karena usahanya sedang jatuh lalu dia tidak punya uang. Dia kerja belum ada pekerjaan. Dipanggil sama pendetanya: 'Kamu apa?' Aduh oom, mau minta bantu doa. Tidak ada uang sama sekali. Karena oom gembala, saya terus terang saja, tidak ada uang. Oke, tunggu. Pendeta ambil buku itu ceknya diambil, ini cek yang kamu kasih sama saya setahun yang lalu, 45 juta. Apa kamu perlu uang ini sekarang apa tidak? Dia nangis. Dia bilang, rasanya saya perlu uang ini. Ya, kalau gitu pakai sama kamu. 

Saudara-saudara, kita harus seimbang. Saudara tidak bawa perpuluhan, saudara menutup berkat. Tetapi kalau kita korban juga kita harus seimbang kita memberi juga harus seimbang, harus ada uang di rumah, harus ada uang di perusahaan, harus ada uang untuk pekerjaan, harus ada uang untuk anak sekolah, harus ada uang untuk bayar listrik. Itu sebabnya saudaraku, persepuluhan adalah kans Tuhan memberkati saudara! Saudara tidak mau kasih, saudara menutup Tuhan punya kesempatan memberkati saudara. 

Rasul Paulus berkata dalam Filipi     
4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. - Dia seimbang -
4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 

Saya gabung dua ayat ini. Kalau kita hidup seimbang, Tuhan datang menguatkan kita; kalau kita hidup tidak seimbang, iblis yang menghancurkan kita. Saudara tinggal pilih mau hidup seimbang, mau tidak. Kita harus seimbang. Waktunya tidur, tidur, jangan ngalong. Waktunya kerja, kerja, jangan tidur. Siang itu kerja bangun pagi bagus, trengginas, kerja. 

Ada satu orang saya kenal dia masih agama budha saya telepon jam 9 mau kerumahnya, mamanya bilang: Masih tidur. Badannya gemuk 100 kg lebih. Jam 11 saya telepon lagi: 'Sudah bangun?' Masih tidur. Kalau bangun tolong telepon saya. Iya. Saya dapat telepon dari dia jam berapa? Setengah dua. Siang. Tidak seimbang. 

Nah, berkat, kesempatan kerja, bisnis - itu antara pagi sampai setengah dua ... itu bisnis. Dia bangun pada waktu bisnis turun. Keliru, kita harus hidup seimbang. Makanya di dalam badan kita itu, saudaraku, kenapa kita sakit? Karena kita ini hidup tidak seimbang. Kenapa kita selesma? Karena kita kerja di hujan-hujan, tidak seimbang. Kenapa ada payung kita nggak pake. Kenapa kita tahu itu hujan kita jalan terus. Belajar hidup seimbang.  

Nah, saudara, saya pernah baca satu artikel dan sampai saat ini saya tidak akan bisa lupa artikel itu mengenai wajah manusia. Wajah manusia itu terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian yang serius dan bagian yang santai. Jadi wajah ini, satu foto orang itu digaris, ya, dibagi dua. Digunting, dia bagi dua lurus. Yang kanan pipi kanan ini ditaruh dikaca, jadi ada bayangannya - nampaklah wajah orang yang sangat serius. Tapi pipi kiri dikasih doublenya dibikin kelipatannya taruh dikaca - nampaklah wajah orang yang sama itu sangat sangat santai. 

Jadi dalam majalah itu dikatakan bagi orang bisnisman atau orang yang sedang berhubungan dalam masyarakat, untuk menarik hati orang, banyaklah memperlihatkan wajah yang sebelah kiri, katanya, karena ini lebih santai. Dalam pembicaraan lebih santai, kasih lihat sebelah kiri. Tapi kalau waktu sedang mengajar anak-anak, bicara dengan orang untuk bicara serius, kasih lihat wajah yang sebelah kanan, biar serius. 

Setelah saya khotbah itu di Jakarta, hampir semua ibu-ibu kasih tangan sama saya miring kekiri, kasih lihat pipi kirinya, dia ingin kelihatan santai, kelihatan baik. Tetapi tidak. Kalau kita lihat wajah itu dari depan, nampaklah satu wajah yang seimbang, antara serius dengan santai. Lihat, Tuhan memberi kepada kita satu kehidupan yang baik dan seimbang! Dan ini saatnya kita mengerti kalau kita hidup seimbang, tidak mungkin darah tinggi, tidak mungkin kena jantung. Kenapa saya ada kena jantung? Nggak seimbang, kerja terlalu toh-tohan, terlalu berat. Kenapa papa saya meninggal umur 52 tahun? Tidak seimbang, kerjanya terlalu lelah, terlalu banyak kerja. Santai sedikit. 

Mulai diatas umur 40 tahun, harus ada waktu untuk duduk dirumah. Lihat ikan koki, lihat ikan lohan. Bersihkan taman, tanam bunga, dagang sudah dikurangi, tapi waktunya banyak santai. Ngobrol sama anak cucu. Sudah musti seimbang kesana, umur panjang lho saudara. Merangkai bunga, bikin kue, kirim ke kapten musa, saudara lebih santai kerja, jalan pagi, jalan sehat. Menikmati hidup, masa kita hidup cari uang terus, menikmati. Ada berkat sedikit, ayo kita keluar negeri, silahkan saudara suami istri lihat Cungkuo, Singapura, Shanghai. Katanya Shanghai ini luar biasa, Hongkong sama Singapura aja kalah sama Shanghai sekarang sedang dibangun luar biasa. Silahkan bikin santai hidup saudara. Tapi jangan santai terus jalan-jalan minggu ini ke Singapura, minggu depan ke Hongkong, minggu depan lagi ke Macau ... tu pok disana. Salah, hancur, belangsak ... pulang-pulang jadi musafir.     

Marilah kita belajar hidup dengan seimbang. Ada haleluyah? Kalau tangan kanan memberi, tangan kiri jangan tahu. Itu pelajaran keseimbangan. Berilah, maka engkau akan diberi. Keseimbangan. Orang mau meninggikan diri, dia akan direndahkan. Jalan untuk tinggi adalah kita merendahkan diri, nanti Tuhan tinggikan. Itu hukum keseimbangan. Dimana-manapun adalah hukum keseimbangan. 

Apa makanan Yohanes Pembaptis? Belalang dan madu hutan. Belalang itu pahit, madu itu manis. Seimbang. Ada pahitnya, ada manisnya. Dalam makanan juga begitu. Coba lihat obat-obat shinshe, pahit, jamu-jamu itu pahit,  karena apa? Karena dibadan kita terlalu banyak manis. Dikasihlah jamu yang pahit. Obatpun pahit. Heran saya itu, semua obat itu pahit, kenapa? Untuk menetralisir manisnya ketidak-seimbangan yang ada di dalam badan kita.

Marilah kita hidup seimbang antara kerja dengan berbakti, marilah kita hidup seimbang antara mengasihi dan dikasihi, marilah kita hidup seimbang. Jangan kita tidak seimbang terlalu berat ke jasmani, kurang di rohani.  Marilah kita hidup seimbang supaya di dalamnya ada berkat yang berkelimpahan.

Kembali lagi kepada 1 Petrus 
5:9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. 

Oke, diseluruh dunia problem sama. Ah, teu betah di Cianjur, arek pindah ka Bandung, kalau kata saya mah jangan pindah. Kalau kata saya. Di Bandung nggak akan ada Firman Tuhan seperti di Warujajar. Nggak akan ada. Orang yang pindah kemana-mana selalu kalau ketemu : 'Aduh ko Yoyo, saya teh kangen denger Firman Tuhan'. Bari ngayeumbeung cai panon. Saya ingin kangen ingin dengar khotbah denger Firman Tuhan. Saya bilang, kan kamu ke gereja? Iya, tapi beda. 

Ada satu keluarga disini, mau pindah ke Solo tapi dia putuskan tidak jadi. Kenapa? Bukan di Solo tidak ada kans, di Solo kans lebih besar. Tapi dia bilang : Belum tentu di Solo saya dapat Air Hidup seperti di Cianjur. Saudara,  kenapa? Diseluruh dunia semua problem sama! Saudara pindah dari Cianjur ke Bandung, boleh kesempatan ekonomi lebih banyak, tapi problem mah sama. Saudara mau pindah ke Jakarta, ya, wah lebih bagus, Jakarta hebat, silahkan, tapi problem mah sama. Saudara yang lebih kaya mau pindah ke Singapura, silahkan, ... problem mah sama. Pindah ke Amerika, silahkan ... problem dimana-mana sama. Kita tahu semua penderitaan menderita diseluruh dunia, sama ada penderitaan. Tetapi kita belajar hidup seimbang melawan keadaan hidup ini dengan keseimbangan.   

Dimanapun kita berada, saya yakin, berkat Tuhan akan beserta dengan kita. Saudara ingat Bethlehem kota kecil? Justru dari sana lahir Yesus. Yerusalem kota besar, justru disanalah yang menyalibkan Yesus. Jadi mari kita belajar seimbang. Belajar mengetahui, belajar kita tahu. Saudara tetap jadi orang Cianjur pun bisa disayang Tuhan, bisa diberkati Tuhan! 

Oh, sudah dari 10 tahun terakhir ini, 3x saya diminta pindah ke Jakarta, mau dibikinin gereja dengan jumlah jemaat 2-3.000 jemaat, rumah mau dibikinin, anak disekolahin diluar negeri, mobil mau dibeliin asal mau pindah aja. Asal saya ngomong, ho-oh ... ho-oh, udah aja. Pindah aja langsung senang. Saya dapat kedudukan orang Jakarta. Tapi kalau kata Tuhan bilang jangan, Tuhan bilang jangan pindah. Disini saja kamu di Cianjur. Aku bisa berkati kamu di Cianjur. Aku bisa memakai kamu di Cianjur. Jadi saya tetap di Cianjur. Karena apa? Saya ingin belajar hidup dalam keseimbangan.  

Kalau di Cianjur teh tidur saudara ya, di Cianjur kalau tidur, terbangun ini malam, jam berapa ini teh? Karak jam 2. Hees deui. Bangun lagi. Jam berapa? Jam 3. Duh, asa teh udah lama hees teh. Jam berapa ini teh? Jam 4. Ya udah, mulai bangun dah jam 5, udah mulai sembahyang baca Alkitab. Kalau di Jakarta, baru tidur rasanya, dak, udah bangun udah pagi. Baru mandi, udah jam 10. Baru ini .. sudah sore. Baru mah makan sesuap, udah malam. Baru pake piyama, udah mau tidur. Aduh ampun, Jakarta kaya itu. Makanya hidup santai, di Cianjur mah santai. Kecuali saudara-saudara ada alasan lain, silahkan.

Tapi saya ingin memberi tahu ayat 10, sebagai ayat terakhir

5:10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, - Tuh di Cianjur juga bisa dilengkapi, amin? -  meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika -  Sebentar saja - lamanya. 

Tuhan tidak hanya memberkati saudara, Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya. Yesus sudah disalib dan Dia memberikan kepada kita peninggalan tubuh dan darah-Nya.   

-- o -- 

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________