Khotbah Minggu Pagi Januari - Februari 2004

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu pagi, 04 Januari 2004

MERASA BERHUTANG

Roma 

1:14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. 
1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. 

Ayat 14, rasul Paulus berbicara tentang dia merasa ia berhutang. Ayat 15, dia berbicara dia membayar hutang. Kehidupan manusia adalah kehidupan antara merasa berhutang atau merasa dihutangi atau tidak. Apakah saudara merasa hidup berhutang kepada Tuhan atau sebaliknya saudara merasa Tuhan berhutang kepada saudara? 

Dalam minggu yang pertama tahun baru ini, mari kita segarkan pikiran kita dan mulai merenungkan di dalam diri kita, apakah kita begitu penting sehingga kita merasa Tuhan berhutang kepada kita? Ataukah kita sebaliknya merasa Tuhan yang begitu penting sehingga kita merasa kita yang berhutang kepada Dia?

Saya akan bagi khotbah ini dalam 2 bagian, yaitu bagian yang pertama adalah orang yang merasa Tuhan berhutang kepada dia. Dan yang kedua, seperti yang kita baca tadi orang yang merasa berhutang, bukan hanya kepada Tuhan tetapi juga kepada sesama.

Kita lihat yang pertama, yaitu di dalam kitab nabi Yunus. Dalam kitab nabi Yunus di dalam perjanjian lama pasalnya yang pertama. Kita melihat bahwa Yunus disuruh pergi ke Niniwe. Yunus 

1:2 "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." - Ini yang menyuruh Tuhan bukan raja.
1:3 Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. 
1:4. Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. 
1:5 Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. 
1:6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa." 
1:7 Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini." Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi. 
1:8 Berkatalah mereka kepadanya: "Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?" 
1:9 Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan." 
1:10 Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: "Apa yang telah kauperbuat?" --sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka. 
1:11. Bertanyalah mereka: "Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora." 
1:12 Sahutnya kepada mereka: "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu." 

Saya berhenti dulu disini. Cerita ini cerita yang sangat klasik, yaitu Yunus tidak menurut perintah Tuhan. Laut selalu bicara tentang hidup di dalam dunia ini. Lambang oikumene adalah perahu dengan salib sedang berlayar di lautan. Jadi kalau saudara baca dengar laut di dalam firman Tuhan, itu gambaran yang sangat tepat, yang sangat dekat tentang dunia. Ada lagi satu di dalam Yesaya dikatakan orang fasik seperti laut yang bergelora. Jadi memang laut dibicarakan dengan kefasikan keadaan dunia ini. 

Siapa pada pagi hari ini yang tidak akan mengakui bahwa keadaan dunia di sekitar kita ini seperti laut yang bergelora, seperti laut yang tidak bisa tenang. Sehingga orang mulai bertanya-tanya Indonesia ini kapan tenggelamnya? Bukan kapan bangkitnya tetapi kapan tenggelamnya. Karena orang naik haji ratusan ribu tiap tahun, yang korupsi tambah banyak. Ya, yang ke Israel ribuan tiap tahun tapi yang korupsi tambah banyak, yang hidup selingkuh yang nggak jujur tambah banyak. 

Bukankah hidup ini adalah hidup di dalam dunia yang sangat rapuh, dunia yang sedang bergelora. Nah, datanglah firman Tuhan kepada Yunus. Ini Tuhan yang bicara: Yunus pergi ke Niniwe. Niniwe ini adalah satu kota di Israel Utara yang sangat-sangat jahat kelakuannya. Dari raja sampai rakyat semua berkelakuan jahat. Sudahlah saya tidak usah terangkan, jahat pokoknya. 

Tetapi datang firman Tuhan melalui Yunus. Dan firman Tuhan ini adalah firman Tuhan seolah-olah saudara-saudaraku adalah penghukuman tetapi adalah sebetulnya keselamatan. Kasih tahu sama orang Niniwe kalau mereka tidak bertobat empat puluh hari lagi Niniwe akan di bongkar-balikkan, itu beritanya. Tapi kalau bertobat kan jadi cerita lain. Tapi karena Yunus ini merasa Tuhan berhutang sama dia, dia langsung menolak. 

Ayat ke-3, Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis. Kalau dalam peta saudara-saudara memang saya pelajaran pertama yang saya ajar di Sekolah Alkitab adalah pelajaran peta zaman. Saya tidak sadar bahwa ternyata dengan peta zaman saya banyak menguasai pengetahuan Alkitab. Di sebelah Utara itulah Niniwe, Israel Utara. Memang Yunus ini nabi untuk Israel Utara, Niniwe. Disuruh ke Utara. Tarsis itu di Selatan, seratus delapan puluh derajat kebalikannya. 

Baru pasal satu, udah pergi seratus delapan puluh derajat kebalikan dari suara Tuhan. Jangan sampai baru tanggal satu baru minggu pertama, baru bulan yang pertama, baru masuk tahun baru - kita sudah jalan berbalik dengan kehendak Tuhan. Mungkin kita belum berjalan tapi pikiran kita sudah seratus delapan puluh derajat berlawanan dengan pikiran Tuhan - pergi ke Tarsis ... ke Selatan. 

Ayat 3b, Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.  

Ini pelajaran sangat besar bagi saya pribadi dan hamba-hamba Tuhan bahwa seorang nabi bisa hidup jauh dari Tuhan dan berlayar menikmati satu pelayaran di atas laut dunia ini. Bisa menikmati satu pelayaran kapal jauh dari Tuhan. 

Ayat ke-3 mulai dengan kata melarikan diri, disambung dengan kata jauh dari hadapan Tuhan, disambung dengan kata berangkat, disambung dengan kata berlayar, disambung dengan ayat terakhir dari ayat 3, jauh dari hadapan Tuhan. 

Sudah dua kali kata 'jauh' dari hadapan Tuhan. Saya suka pikir begini saudara. Kalau Tuhan itu nggak acuh, dia acuhkan saja Yunus ... mampus Yunus, mati dia. Jauh dari hadapan Tuhan, dibiarkan saja. Ada satu pendeta khotbah begini, ada jemaatnya tanya: Apa perbuatan apa yang menyebabkan kami masuk neraka? Pak pendeta, perbuatan apa yang menyebabkan kami masuk neraka? Pendeta itu bilang, nggak usah berbuat apa-apa, kamu masuk neraka. 

Tanpa Yesus kita masuk neraka, amin? Tanpa Kristus, ini Yunus ini hamba Tuhan tapi tanpa Tuhan. Dia tinggalkan Tuhan. Jauh dari hadapan Tuhan. Namanya masih hamba Tuhan, nabi Yunus tapi hidupnya sudah jauh dari hadapan Tuhan. Wai bagi kita, kalau kita masih ke gereja, masih jemaat GPdI tapi hati kita sudah jauh dari hadapan Tuhan. Kebaktian sudah tidak hangat lagi bagi kita. Doa sudah tidak menarik hati lagi. Membaca Alkitab sudah tidak ada lagi kerinduan di dalam hati kita. Nyanyi seperti sudah cemplang bagi kita - hati-hati dalam kondisi itu! Karena kita sudah jauh dari hadapan Tuhan. Kebaktian sudah tidak rasa lagi kontak dengan Tuhan. Nyanyi tidak ada rasa lagi kontak dengan Tuhan, sembahyang boro-boro ada kerinduan tapi toh masih menganggap Tuhan berhutang kepada kita. 

Orang Sunda bilang beubeulieun, pergi meninggalkanNya. Tapi dalam ayat 4, Tuhan itu penuh sayang. 

1:4 Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.  

Ada angin ribut karena alam. Ada tiga macam angin ribut saudara: Satu, ada angin ribut karena alam, memang alam. Kadang-kadang angin topan, angin ribut. Ada yang kedua, ada angin ribut karena iblis, karena setan. Ingat Yesus diatas perahu lagi tidur, angin ribut mau menenggelamkan perahu - itu dari iblis. Masa angin Dia yang ciptakan, alam sendiri mau tenggelamkan Dia, nggak mungkin. Tapi, yang ketiga, ada angin ribut yang Tuhan bisa bikin. 

Semua kita punya percobaan, semua kita ada problem tapi problem itu dari mana? Apa datang dari salah kita, apa datang dari iblis, apa memang disengaja oleh Tuhan? Semua kita ada problem. Siapa hidup orang, manusia nggak ada problem? Ada problem, semua ada persoalan. Tapi pikir coba, apa datang dari Tuhan, apa datang dari iblis, apa dari salah kita sendiri? 

1:4 ..., sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. 

Saya tidak usah baca lagi, pokoknya kapal ini digoyang sampai barang-barang mulai dibuang, saudara-saudara. Itu barang-barang, harta semua itu mau dibawa dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain, dari Yafo ke Tarsis untuk dibawa dalam perdagangan. Kalau Tuhan udah mulai marah, apa yang kita punya bisa hilang dalam satu hari. Dibuang, sudah ... karena nyawa lebih berharga dari harta. 

Kebakaran di Jakarta. Satu keluarga baik-baik. Dari tidak ada sampai ada, dari ada sampai punya motor, dari punya motor punya mobil, punya mobil punya rumah. Dalam satu hari habis kebakar. Tinggal suami hidup sendiri. Semua anak istri terbakar dengan mobil dengan harta. Itu sebabnya kita nggak boleh sandar sama harta, saudara-saudara, nggak boleh sandar sama uang, nggak boleh sandar nggak boleh percaya kepada kekayaan, itu bisa habis. 

Tapi peganglah, kita milikilah harta iman karena iman bisa memelihara kita di dalam segala situasi kehidupan. Dan ini seorang yang bernama Yunus, dia menyalahkan Tuhan berhutang kepada dia. Lalu dia masuk ke kapal itu tidur nyenyak, ya nakhoda. Eh, orang yang tidur nyenyak belum tentu dia ada shalom, belum tentu dia ada damai, belum tentu dia ada airene, belum tentu dia ini tenang, ya. 

Ada pendeta di Tondano dulu, oom almarhum Tito Alu. Itulah yang menubuatkan saya akan jadi penginjil dulu tahun tujuh puluh empat, ya. Dia datang sama satu orang: Brur ayo kebaktian. Kebaktian ... kebaktian, nantilah gampang. Banyak doa. Dulu oom kok gemuk? Iya, saya banyak percobaan makan percobaan, saya banyak doa juga. Oh, saya juga gemuk, katanya orang ini, saya tidak ke gereja tidak suka doa, saya juga gemuk tuh. Memang lebih gemuk itu orang. Lalu pendeta ini bilang, saya juga di rumah ada yang lebih gemuk dari brur, tidak pernah sembahyang dari lahir sampai mati. Siapa? Babi! Babi tidak pernah sembahyang ... gemuk juga. 

Saudara-saudara, orang tidur nyenyak belum tentu dia punya shalom. Orang bisa tidur, belum tentu dia punya damai. Daniel tidak bisa tidur memikirkan Israel. Yeremia menangis bermalam-malam memikirkan Israel. Banyak hamba-hamba Tuhan tidak bisa tidur malam mendoakan jemaat, mendoakan persoalan di dalam jemaat. Ada orang yang bisa tidur belum tentu dia ada shalom, belum tentu dia ada damai. 

Nah, apa yang terjadi? 

1:6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa." 
1:7 Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi ...

Setelah diundi, Yunus yang kena. Nah, setelah Yunus kena, ditanya, siapa kamu? Yunus ini bersaksi. 

1:9 Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; - Ngomongnya itu manis sekali - aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan." 
Waduh, dia bersaksi luar biasa ... aku takut akan Tuhan. Tapi ayat dua tadi, ayat 3 dia sudah lari dari hadirat Tuhan, dia tidak takut sama Tuhan. 

Kalau orang takut sama Tuhan, dia merasa berhutang sama Tuhan, dia merasa berhutang. Aku takut akan Tuhan ... lips service. Sekarang ini musimnya lips service. Takut akan Tuhan yang empunya langit. Tahu pengetahuan tentang Tuhan, hapal ... nyaho ... ce tao - tapi tidak pernah menurut sama Tuhan. Tahu tentang Tuhan, takut akan Tuhan. Siapa yang tidak takut sama Tuhan? Tapi hidup sehari-hari jauh dari hadapan Tuhan! 

Lemparkan saja saya ke laut, pasti laut ini reda. Angkatlah, campakkan aku, ayat 12, ke dalam laut. Tetapi ayat 13 mereka tidak mau.

1:13 Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka. 
1:14 Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki." 
1:15 Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk.  
1:16 Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar. 
1:17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. 

Lalu di dalam pasal 3, Yunus bertobat nurut sama Tuhan minta ampun minta keluar. Lalu di dalam pasal 4, kita lihat lompat kepada pasal 4, Yunus ya. Pasal 3 dulu, ayatnya yang ke-8, 

3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 
3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa." 
3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.
 
Saudara ada pelajaran besar di sini. Ketika Yunus berkhotbah di Niniwe tiga hari tiga malam dia khotbah berjalan non stop empat puluh hari empat puluh malam maaf, dia jalan berkhotbah, bertobat. Ini tiga hari tiga malam perjalanan, bertobat, satu hari perjalanan. Bertobat orang Niniwe ini saudara-saudara. Dia bertobat percaya. Setelah bertobat dari raja sampai binatang puasa. Pakai baju karung. Tidak boleh makan, kata raja. Kita ini mau dihukum. Menyesal sekarang atas perbuatannya.

Mari saudara, saya anggap ini Indonesia. Jahat. Mau dihukum sama Tuhan. Beberapa waktu yang lalu seorang haji datang di rumah saya dan kami ngobrol 2 jam. Saya bilang sama pa haji: Pa haji, tahu nggak itu nama Allah, huruf Allah yang ada diatas mesjid itu, kalau dibalik itu jadi Yehowa, dalam bahasa Ibrani? Dia kaget: Oh ya? Iya. Jadi huruf Auloh (Allah) dalam bahasa Arab, kalau dibalik, itu jadi Yehowa dalam bahasa Ibrani. Tapi itu kakak beradik itu ribut terus itu Israel sama Palestina, padahal Tuhannya sama. Cuman yang satu main pedang seperti Esau, yang satu seperti Yakub pakai otak. 

Dan apa yang terjadi saudara? Dia bilang begini, sekarang ini Indonesia lagi dihukum Tuhan. Kenapa, pak? Jaman dulu jaman Arab, katanya, itu perempuan dikubur hidup-hidup dipadang pasir sama lalaki-lalaki Arab. Dipancung kepalanya diperkosa dikubur hidup-hidup. Baru lahir, dibuang itu bayi. Nggak ada rasa salah, nggak ada rasa takut. Ketangkap diadili ditanya nggak ada rasa salah. Maka ini sekarang Indonesia lagi dihukum Tuhan. Tapi kita pikir, kok dihukumnya kok lama amat?

Niniwe bertobat 3 hari berdoa puasa, langsung Tuhan ampuni. Maka saya beri nama khotbah-khotbah saya selama bulan Januari ini minggu pagi minggu sore adalah tahun keberhasilan. Nanti kita akan lihat bagaimana satu negara yang menghadapi hukuman Tuhan, itu berhasil mendapat pengampunan dari Tuhan. Kenapa? Karena mereka tahu mereka berhutang sama Tuhan. Aduh, saya ini hutang saya punya kelakuan terlalu jahat, ... ayo kita puasa semua. Dari raja sampai binatang mereka merasa berhutang. Berpuasa.

Eh, satu orang Yunus diluar lagi tunggu-tunggu 40 hari 40 malam kapan Niniwe ini dibongkar?     

4:1 Tetapi hal itu - hal pengampunan - sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. 
4:2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. 
4:3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." 

Seorang hamba Tuhan, Yunus, marah sama Tuhan: Tuhan, tahu nggak kenapa saya ini marah sama Engkau? Karena saya sudah tahu dari dulu kenapa saya nolak pergi ke Niniwe? Karena saya tahu Engkau itu baik, Engkau itu  suka ngampuni dosa, Engkau itu suka menolong orang yang menyesal. Engkau tidak melakukan penghukuman kepada orang yang minta ampun. Makanya saya ini marah sekarang. Orang Niniwe merasa berhutang sama Tuhan, kok Yunus merasa Tuhan berhutang sama dia. Sampai musti marah segala. Minta dicabut nyawanya. Hak prerogatif Tuhan itu. Soal mati itu soal hak Tuhan. Cabutlah nyawaku. Lho. Kenapa maksa-maksa. Sebetulnya kita nggak perlu bunuh orang, nggak dibunuh juga mati sendiri orang. Nggak usah sampe pake pisau pake golok nusuk bunuh orang - nggak usah. Ditembak segala - nggak usah. 

Kita tunggu aja mati manusia. Tetapi inilah manusia, seringkali mengambil haknya Tuhan. Tuhan nggak boleh mengampuni. Ingat Petrus. Dia angkat tangan: Yesus jangan ke salib! Dijauhkan kiranya Tuhan. Siapa Petrus? Orang Tuhan mau mengampuni orang yang berdosa, jangan ke salib. Artinya jangan ada yang diampuni. Seringkali kita keliru menempatkan diri kita. 

4:4 Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah?" - Apakah kamu itu betul kamu marah? Apakah dengan marah itu kamu betul? 
4:5. Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu. 
4:6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak

Bahasa Indonesia memakai pohon jarak. Bahasa Inggris tidak pakai nama jarak. Hanya disebut satu tanaman. Bahasa Indonesia lama, allah haraini ... satu kehidupan.  Ceeppp ... ada, dari tidak ada. Orang Arab bilang kun fayakun - dari tidak ada jadi ada. Menudungi Yunus kepanasan. Yunus kepalanya kepanasan. Bersukacitalah, terhibur dari kekesalan hatinya. Ayat 6

4:6 ... melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 
4:7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. 

Tuhan yang bikin pohon, Tuhan yang bikin ulat. Mau-maunya Tuhan. Hari ini Dia kasih pohon sama Yunus. Dia teduh dia sukacita. Besok Dia kirim ulat, bikin gundul itu pohon. Marah Yunus. 

4:8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup."  
4:9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati." 
4:10 Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. 
4:11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"

Disini saya belajar satu hal. Tuhan sangat sayang kepada manusia. Betapa pun manusia itu jahat berdosa, Dia memberi jalan keluar. Tetapi jalan keluar keselamatan itu hanya bisa didapat oleh manusia kalau dia merasa berhutang kepada Tuhan. Isa Hu yang ajaib ... Ku berhutanglah ... Ku berhutang jiwa ... Lagi s'lamat Hu. Saya yakin mereka yang merasa berhutang kepada Tuhan, dia tidak berat untuk bersaksi. Saya bisa sampe di tahun 2004 ini karena Tuhan. Saya hampir mati tahun 2003 tapi saya sampe-sampe 2004 in karena Tuhan. Betapa saya berhutang kepada Tuhan. Saya tidak punya apa-apa dulu tapi sekarang saya bisa punya rumah saya bisa dipelihara oleh Tuhan, sungguh saya sangat berhutang kepada Tuhan. 

Saudara, apakah kita merasa berhutang kepada Dia? Bagian yang kedua, apakah hutang itu saudara mau bayar? Hutang kepada Tuhan tidak bisa dibayar tetapi Paulus berkata aku terhutang kepada orang Yahudi dan Yunani - kepada orang yang belum kenal kepada Tuhan dia berhutang. 

Mungkin Firman Tuhan ini tidak ada harganya untuk saudara, tetapi buat saya sangat berharga. Karena saya merasa sangat berhutang kepada Tuhan. Untuk saudara yang merasa tidak berdosa, saudara tidak merasa hutang apa-apa. Dia yang merasa tidak bersalah, saudara rasa tidak ada dosa di hadapan Tuhan. Saudara tidak akan ngerti apa artinya itu hutang kepada Tuhan. Tapi bagi kita yang merasa orang berdosa, yang sudah mendapatkan pengampunan Tuhan, mendapatkan kebaikan Tuhan, saudara akan mengerti betapa besarnya kasih sayang Tuhan kepada kita sehingga Dia mengorbankan diri-Nya diatas bukit Golgota untuk membayar segala hutang kita. 

Ketika Dia mati diatas Golgota dan berkata: Sudahlah genap! - artinya Dia sudah membayar semua hutang kita. Dalam surat Korintus, Paulus berkata kepada jemaat Korintus, kamu sudah dibayar dengan harga yang tunai, kontan ... bukan kredit. Lunas sudah dibayar dengan darah Anak Domba. Itu sebabnya kita saudaraku, di hadapan Tuhan sekarang menjadi orang-orang yang bebas. Oleh karena itu kita harus merasa berhutang budi, berhutang kebaikan Tuhan dan kepada sesama. Jangan terbalik. Kalau saudara merasa Tuhan berhutang, saudara menuntut Tuhan berbuat ini berbuat ini kepada saudara. Saya mau simpan ingatkan saudara dengan kata-kata Presiden Kennedy almarhum; dia berpidato: Jangan kamu berpikir apa yang Amerika bisa bikin kepada kamu tapi pikirkanlah apa yang kamu bisa bikin untuk Amerika. Kepada rakyatnya.

Saya mau pinjam kata-katanya. Jangan saudara pikir tahun 2004 apa yang Tuhan bisa kasih kepada saudara tapi cobalah renungkan mulai hari ini  apa yang kita bisa beri kepada Tuhan. Kita berdiri bersama-sama.

-- o --   

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________