Khotbah Minggu Pagi Januari - Februari 2006

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu, 19 Februari 2006

HATI YANG MODERAT

Selamat pagi, selamat berbakti lagi dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kita akan buka Filipi

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

Kata kebaikan hatimu di dalam salinan lain disebut kelembutan hati. Tetapi di dalam bahasa Inggris dipakai kata moderation, di dalam bahasa Yunani dipakai kata etiekes. Moderation artinya moderat. Hendaklah kebaikan hatimu, hendaklah kelembutan hatimu, hendaklah moderation atau moderat hatimu itu diketahui oleh orang lain karena Tuhan sudah dekat.

Jadi jangan sampai orang tahu kita hanya orang kaya, orang tahu hanya kita orang terhormat, orang tahu kita orang berpunya, orang tahu kita orang memiliki A, memiliki B. Orang tahu kita juara ini, juara itu. Itu tidak penting. Tapi biarlah orang tahu kita ini moderat, memiliki kebaikan hati, memiliki kelembutan hati. Ada haleluyah? Di dalam Bilangan 12, kita membaca ayatnya yang ke-3.

12:3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.

Di sana dipakai kata lembut hati. Dalam bahasa Inggris, rendah hati. Musa memang dikenal sebagai pembebas. Dia yang membawa orang Israel keluar dari Mesir dengan mujizat laut menjadi dua, terbelah. Tetapi di hadapan Tuhan, dalam Kitab Bilangan, dia dikenal bukan hebatnya dia lewat laut Kolzom, bukan hebatnya dia dikenal karena dia menurunkan Taurat, membawa dua loh batu dari gunung. Tetapi dia disebut hebat karena hatinya lembut, sampai dibandingkan dengan seluruh penduduk dunia, dia memiliki hati yang moderat, hati yang lembut.

Bagaimanakah kira-kira orang mengenal kita? Bagaimanakan kira-kira masyarakat mengenal kita? Apakah kita dikenal sebagai orang yang moderat atau lembut hati? Apa artinya moderat? Moderat bukanlah berarti kita ini permisif kepada dosa. Moderat bukan berarti kita ini tidak panas, tidak dingin. Tidak. Moderat itu berarti kita ini seimbang. Moderat berarti kita ini tidak meminta terlalu tinggi. Raja Salomo saja pernah sembahyang begini sama Tuhan: Tuhan, jangan beri aku kaya supaya aku tidak sombong, jangan beri aku miskin supaya aku tidak mencuri. Tetapi biarlah setiap hari aku menikmati berkat yang Tuhan berikan. Itu moderat.

Moderat bukan berarti kita setuju dengan orang yang jatuh dalam dosa. Tidak. Moderat berarti walaupun orang itu jatuh dalam dosa, kita tetap baik sama orang itu. Kita tetap tidak memusuhi dia. Kita tahu dia jatuh dalam dosa, kita tahu dia bersalah, tapi kita tetap berbuat baik kepada dia. Bukan karena kita ini permisif kepada kejatuhannya tetapi karena kita moderat, berbaik hati.

Di dalam Kisah Rasul 10, di sana kita membaca satu ayat yang jarang orang baca. Padahal kita hanya membaca separuhnya saja.

10:37 Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,
10:38 yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa,

Nah, kita baca sampai di sana. Kita lupa ayat berikutnya: Dia yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.

Ini moderat. Dia berbuat baik. Saudara tahu bahwa Tuhan yang kita sembah itu juga moderat. Dia kasih matahari untuk orang baik, untuk orang jahat. Dia kasih hujan untuk orang baik, untuk orang tidak baik. Duren yang manis dan wangi itu untuk semua orang manis dan wangi. Pepaya manis dan lembut, kepada semua orang, baik atau jahat, dia manis dan lembut. Itu gambaran dari moderatnya Tuhan. Bukan berarti Dia setuju dengan orang yang jahat lalu orang yang jahat tidak boleh makan pepaya. Tidak. Tetapi itu lihat kebaikannya Tuhan itu kepada semua orang. Moderat.

Jadi kita ini musti seperti ikan. Ikan di laut. Air lautnya asin tapi ikan itu tidak asin. Kita musti seperti bunga teratai yang warnanya putih bersih di tengah-tengah kolam yang kotor. Dia tidak berkata, saya jijik dekat-dekat kamu. Tidak. Justru dia ada di tengah-tengahnya kolam yang kotor itu. Dia moderat. Orang tidak akan lihat, ih kolamnya kotor; orang  akan lihat, betapa putihnya teratai itu. Begitu juga saudara dan saya. 

Kita lihat bahwa Tuhan itu senantiasa setia kepada anak-anak Tuhan, kepada umat-Nya. Oleh sebab itu dia bilang, coba moderation atau moderatnya kamu itu, kebaikannya kamu itu dikenal oleh semua orang. Diketahui. Sebagai contoh, Injil Yohanes 8. Dalam Yohanes pasal 8, kita melihat bagaimana keadaannya Tuhan Yesus ini.
 

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
8:11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Saya merasa di seluruh Injil, cerita ini paling indah, paling bermakna, paling mendalam, mempunyai dampak. Coba saudara gambarkan Yesus yang suci, Dia anak Allah. Bahkan Alkitab berkata Dia Allah sendiri. Pagi-pagi Dia sudah ada di Bait Suci - sama seperti saudara, pagi-pagi sudah berangkat dari rumah untuk ada di Bait Tuhan. Itu Tuhan lihat, itu Tuhan nilai. Dan Dia mulai mengajar. Orang banyak datang untuk mendengar pelajaran Dia.

Pagi-pagi itu ada orang membawa perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Menurut hukum Taurat, hukum Musa, perempuan seperti ini harus dirajam harus mati. Sekarang menurut pendapat Yesus bagaimna? Coba saudara perhatikan bahayanya Yesus menjawab. Kalau Dia bilang, rajam - sesuai dengan Taurat, rajam - maka tuduhan akan datang kepada ibu Yesus, Maria, karena dia hamil tidak ada ayahnya. Ibu-Mu juga harus dirajam. Kalau Dia bilang jangan dirajam, berarti Kamu melawan Hukum Taurat karena seluruh Yahudi waktu itu percaya kepada nabi Musa. Sampai sekarang. Jadi kalau dijawab ini salah, dijawab ini salah.  

Nah, mari kita renungkan baik-baik. Tuhan tidak setuju, tidak mengamini, tidak permisif kepada dosa perempuan ini. Berzinah, Tuhan tidak izinkan, Tuhan larang, Tuhan marah dengan dosa. Upah dosa adalah maut. Tapi lihat ini moderationnya Tuhan Yesus, baiknya Tuhan. Dia tidak jawab. Dia tulis-tulis saja jari-Nya itu di tanah. Nah, saya bingung karena itu di Bait Allah. Apakah Bait Allah dulu itu bawahnya tanah ataukah pembicaraan ini terjadi di luar? Karena yang saya lihat Bait Allah peninggalan itu bawahnya itu adalah batu. Seperti tehel besar-besar.

Ada pendeta yang berkata bahwa Dia itu menulis-nulis dosa-dosa orang yang di sekitarnya itu Dia tulis. Tapi tidak ditulis di sini. Dia hanya menulis dengan jari saja di tanah. Seperti orang nggak ada kerjaan. Orang tetap bertanya sama Dia, orang tetap bertanya. Bagaimana pendapat-Mu, dirajam apa tidak? Rajam apa tidak, ini orang berzinah, rajam apa tidak? Rajam apa tidak? Sampai Yesus menjawab: Siapa yang tidak berdosa, hendaklah dia lempar batu lebih dulu. Artinya, Dia setuju dengan Taurat, silakan. Tapi yang lempar batu musti orang yang tidak berdosa.

Dia berbicara sampai di akar hati manusia. Siapa manusia yang tidak ada dosa? Kita semua ada dosa. Mungkin dalam ruangan gereja ini, dosa saya yang paling besar. Siapa yang tidak ada dosa, lempar batu lebih dulu. Dengan kata lain, kita orang kristen itu tidak ada hak menghakimi orang lain. Walaupun kita sudah tahu orang itu salah. Tidak ada hak kita lempar batu. Batu dulu batu betulan. Batu sekarang bisa batu omongan, bisa batu fitnah, bisa batu kemarahan. Kita tidak ada hak.

Siapa yang tidak salah, hendak dia lempar batu lebih dulu. Satu, satu, mulai dari yang tua, mundur. Karena mereka tertuduh, mereka jujur; mereka ada banyak salah juga walaupun salahnya tidak sama dengan wanita ini. Nah, pada waktu mereka mundur, berbicaralah Yesus kepada perempuan ini. Kalau saudara perhatikan, omongan Yesus itu luar biasa. Dia bilang begini: Di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Di manakah mereka? Tadi yang membawa kamu, yang menangkap kamu, yang menampar kamu, yang mendorong kamu, yang membanting kamu di sini, di mana mereka? Tidak adakah seorangpun yang menghukum engkau? Di jawab sama perempuan itu: Tidak ada.

Kata menghukum, Dia sedang berbicara tentang hukum. Kalau begitu, kata Tuhan, Akupun tidak akan menghukum engkau. Bukan berarti dia bersetuju dengan berdosa zinah. Tidak. Karena ayat berikutnya berkata, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi. Coba kita lihat dua gambaran. Mana lebih penting, mana lebih baik: Orang berdosa dirajam sampai mati, masuk neraka. Atau orang berdosa, diampuni, dan dibilang jangan berbuat dosa lagi. Saya yakin kok perempuan itu tidak akan berbuat dosa lagi. Dia dapat pengampunan. Ini yang saya maksud dengan moderation, moderat. Tuhan benci dosa. Tapi Tuhan mengasihi orang berdosa.

Saya ini banyak ditipu, banyak tertipu. Tertipunya begini. Datang jemaat: Saya mau menikah. Untuk dapat surat nikah di pemerintahan kan musti ada surat pemberkatan gereja. Saya mau menikah. Menikah dia. Sudah lima bulan nangis- nangis kembali, dia dijadikan istri ketiga. Menurut peraturan gereja, nggak boleh kita menikahkan orang yang sudah punya istri dua dengan jemaat. Nah, saya posisinya di mana? Saya tidak tahu, waktu mereka datang mau menikah, saya tidak tahu dia sudah punya istri dua. Saya tidak tahu, tidak ada informasi. Saya tidak bisa dong disalahkan: Pak Awondatu, Pak Yoyo, mengeluarkan surat kawin untuk orang yang sudah punya istri dua. TIdak bisa dong. Karena saya tidak tahu.

Sekarang ada orang sudah pernah menikah, dia cerai. Saya tidak tahu, dia menikah. Kalaupun saya tahu, kalaupun saya tahu, mereka ingin tetap menikah, apakah kita tidak mau keluarkan surat pernikahan untuk mereka menikah? Karena catatan sipil menunggu dari gereja. Kalau kita tidak keluarkan, bagaimana?

Banyak hal-hal yang seperti ini, sampai gereja kita jadi tempat orang ngadon kawin. Minta diberkati, baptis dulu. Sudah dibaptis, sudah. Diberkati, kabur. Nggak tahu kemana, kebaktian nggak ada, dia hilang. Banyak, saudara, sudah lebih dari lima, enam pasang, nggak pernah kebaktian lagi. Maka saya pikir, kalau sampai satu tahun tidak kebaktian, kita tidak anggap lagi jemaat walaupun dia punya surat kawin gereja pantekosta. Tidak anggap jemaat. Enak aja. Kawin, datang. Nanti mati minta dilayani. Kebaktian nggak pernah. Nggak ada tanggung jawabnya sama gereja.

Tapi sampai saat ini kita selalu melayani siapapun. Minta dikubur secara kristen. Ditanya, pantekosta. Dilayani. Karena kita hanya melayani karena moderation tadi, moderat tadi. Soal masuk surga apa nggak itu bukan urusan saya.

Itu sebabnya, saudara-saudara, kita kembali kepada Firman Allah. Betapa pentingnya moderation itu. Kalau saudara buka Kitab Nabi Yeremia  

52:31 Kemudian dalam tahun ketiga puluh tujuh sesudah Yoyakhin, raja Yehuda, dibuang, dalam bulan yang kedua belas, pada tanggal dua puluh lima bulan itu, maka Ewil-Merodakh, raja Babel, dalam tahun ia menjadi raja, menunjukkan belas kasihannya kepada Yoyakhin, raja Yehuda, dengan melepaskannya dari penjara.
52:32 Ewil-Merodakh berbicara baik-baik dengan dia dan memberikan kedudukan kepadanya lebih tinggi dari pada kedudukan raja-raja yang bersama-sama dengan dia di Babel.
52:33 Yoyakhin boleh mengganti pakaian penjaranya dan boleh selalu makan roti di hadapan raja selama hidupnya.
52:34 Dan tentang belanjanya, raja Babel selalu memberikannya kepadanya, sekadar yang perlu tiap-tiap hari, selama hidupnya, sampai hari matinya. 

Yoyakhin ditawan. Apakah dia ditawan oleh karena peperangan selama tiga puluh tujuh tahun, rasanya kurang jelas di sini. Hanya disebut, dalam tahun ke tiga puluh tujuh sesudah Yoyakhin. Mungkin dia tiga puluh tujuh tahun di penjara oleh raja-raja Babel sebelumnya. Babel ini musuh dari Israel. Banyak kali orang Israel puluhan tahun, ratusan tahun dijajah oleh Babel, Babilonia. Tiba-tiba seorang raja, namanya Ewil-Merodakh itu berbelas kasihan kepada Yoyakhin. Dia musuh, dia yang dijajah, dia tidak punya hak apa-apa. Sudah tiga puluh tujuh tahun di penjara. Tetapi Ewil-Merodakh menyatakan belas kasihannya. Dia suruh buka baju penjaranya, yang pakai nomor itu. Buka. Dikasih baju kerajaan, dikasih pangkat, lebih tinggi dari raja-raja kelompoknya dia, partainya dia. Bahkan boleh makan tiap hari di depan raja bersama-sama dengan raja. Uang belanja dikasih sekedarnya seumur hidup sampai dia mati. Dia tetap tawanan.

Tetapi lihat Ewil-Merodakh, orang Babel, memperlihatkan moderationnya, berbelas kasihan. Kalau kita orang kristen nggak punya belas kasihan, nggak punya itu moderation, kita kalah sama raja Babel. Raja Babel saja terkenal kejam, keji, orang dunia tapi di sini berbuat baik kepada tawanannya, yang adalah raja Israel. Bagaimana kita? Kalau kita tahu musuh kita sudah di penjara, mungkin kita berkata syukur.

Kalau sudah di penjara tiga puluh tujuh tahun belum keluar, kita mungkin bilang, kapan dihukum mati? Kenapa cuman tiga puluh tujuh tahun? Dia itu jahat sih, dia tawanan sih. Kita kalah sama Ewil-Merodakh. Saya itu asalnya mau kasih nama baptisan kepada anak laki-laki, Ewil Merodakh. Tapi takut orang salah paham. Ini raja Babel, tapi dia berbelas kasihan. Dari pada Manasye, raja Israel, yang membakar anaknya. Mending raja Babel ini. Namanya saja raja Babel, tapi hatinya hati orang Israel. Hatinya penuh belas kasihan. Tawanan, disuruh buka baju, disuruh pakai baju raja, makan sama raja tiap hari, dihargai sebagai raja, dikasih pangkat, kedudukan lebih tinggi dari raja-raja sekitarnya yang pro sama dia.

Maka ketika Petrus datang kepada Yesus, berapa kali saya harus mengampuni orang? Tujuh kali? Dalam Injil Lukas, dia bilang, kalau orang datang satu hari sama saya minta ampun tujuh kali, saya musti ampuni sama dia tujuh kali? Yesus bilang: Apa? Tujuh kali? Tujuh puluh kali tujuh kali. Kamu musti ngampuni. Nah, coba saudara perhatikan hidup saudara yang sudah lanjut atau yang masih muda. Pernahkah ada orang bersalah kepada saudara? Atau saudara mengalami disalahkan orang sampai empat ratus sembilan puluh kali? 

Saya rasa belum ada manusia yang orang berbuat tidak baik, orang ngomongin dia sampai empat ratus sembilan puluh kali. Tapi Tuhan bilang musti ngampuni empat ratus sembilan puluh kali. Berarti pengampunan harus lebih limpah dari pada pelanggaran. Ini yang saya katakan moderationnya Tuhan. Tuhan menetapkan langkah-langkah orang ... Yang hidupnya berkenan kepadanya ... Apabila ia jatuh tak sampai tergeletak ... S'bab Tuhan menopang tangannya.

Jatuh itu. Orang benar itu bisa jatuh, bisa salah. Tapi takkan sampai tergeletak, Tuhan angkat tangannya. Lihat orang Niniwe. Dia belum tahu yang mana tangan kanan, yang mana tangan kiri, kejahatannya sudah meningkat di hadapan Tuhan. Tapi begitu bertobat, Tuhan menyesal, Tuhan membatalkan Dia punya hukuman sama Niniwe. Nabi Yunus marah. Nanti bagaimana, orang anggap saya ini nabi palsu. Karena saya sudah bernubuat empat puluh hari lagi Niniwe akan diobrak-abrik. Kalau tidak terjadi bagaimana nanti saya dicap nabi palsu. Tapi Tuhan bilang, Saya sayang sama orang niniwe. Kan dia jahat Tuhan. Iya, tapi dia bertobat; Aku mengasihi dia, Aku mengampuni dia.

Itulah moderationnya Tuhan. Itulah baiknya Tuhan. Itulah kesimpulan kita pada pagi hari ini. Kata Tuhan, hendaklah kebaikan hatimu, lembut hatimu diketahui oleh semua orang.

Saudara bukannya ngomong kepada tetangga-tetangga: Ci, ko saya ini baik hati. Pak, Ibu, saya baik hati. Tidak. Tapi dalam tindakan sampai orang kenal saudara itu orang yang moderation, orang yang berbaik hati. Di Cianjur - bukan jemaat - tinggalnya di kaler. Ada satu ibu punya empat anak laki, nakalnya luar biasa itu empat anak. Tapi namanya ibu, dia selalu ngomong: si bageur, si kasep, si pinter. Ini bengal. Tetangga-tetangganya, kalau anak si aci itu aduh bangor, bengal, ribut, gelut. Tapi mamanya selalu bilang: si bageur, si kasep, si pinter. Eh, apa yang terjadi? Empat-empatnya jadi orang. Empat-empatnya jadi sarjana. Empat-empatnya berhasil. Oleh karena moderation dari seorang ibu. Walaupun anaknya ini nakal tapi dia selalu mengatakan kata-kata yang baik. Coba, bapa-ibu mulai sekarang panggillah anak saudara: si pinter, si baik, si beunghar, si berbakti, u hau, anak baik. Tanpa sadar, saudara, itu masuk gendang-gendang telinga mereka, direkam oleh komputernya di otak dan mulai dikerjakan. Itu akan mempengaruhi anak itu.

Itu sebabnya, saudara-saudara, mari pada pagi hari ini kita merenungkan. Semua eks sekolah alkitab Cianjur yang berhasil di ladang Tuhan. Sampai sekarang ada eks Cianjur sedang membangun gereja, biaya tujuh milyar, baru kelas satu. Sedang bangun gereja. Banyak yang lain sukses, berhasil. Itu karena saya lihat waktu di sekolahnya juga moderat, moderation. Orangnya baik, taat, rajin, tidak banyak bicara, tidak angkuh, tidak menonjolkan diri, luar biasa, baik. Sekarang mereka petik di ladang Tuhan. Moderation yang mereka tabur, itu mereka petik.

Itu sebabnya, saudara-saudara, kita sampai kepada ayat terakhir dalam Matius pasalnya yang ke,

5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." 

Saudara lihat moderation atau moderatnya dari terang. Pertama, saudara adalah terang dunia. Di manapun saudara ada, terang itu akan menerangi. Apa saudara di Arab, apa saudara di Hongkong, apa saudara di Amerika, kalau saudara terang dunia, saudara akan bercahaya - di mana saudara berada. Berikutnya, dia akan menerangi di dalam rumah. Dia menerangi untuk orang dalam, intern. Intern rumah tangga, intern gereja. Pokoknya orang dalam, satu rumah. Tetapi dia juga menerangi, ayat 16, Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang. Tidak disebutkan di depan orang baik. Tidak disebut di depan orang jahat. Orang baik dan orang jahat, saudara tetap musti jadi terang. Supaya mereka - mereka tidak disebut orang baik, orang jahat, orang Tionghoa, orang Amerika, orang Jawa, orang Sunda. Tidak. Supaya mereka - siapapun dia - melihat perbuatanmu yang baik.

Dikatakan, your good works, bukan perbuatan ... pekerjaanmu itu baik. Kerja di toko baik. Kerja di pabrik baik. Saudara, orang yang jujur tidak akan susah mendapat pekerjaan. Malah orang cari dia. Saya baru didatangi seorang hamba Tuhan, Bapa Victor Malino dari Magelang. Dia cerita kepada kami. Ada satu jemaat dia, biasa menjadi sopir. Lagi nganggur, nggak ada pekerjaan. Gembalanya baik, dicariin pekerjaan. Ketemu keluarga dari GKI, suami istri. Tolonglah ini terima, saya punya jemaat nggak ada kerjaan, jadi sopir. Oke. Bekerjalah dengan gaji empat ratus ribu satu bulan. Karena baik, dalam tiga bulan dinaikkan enam ratus ribu satu bulan. Karena baik kerjanya. Karena baik lagi kerjanya, dikasih pinjam uang empat juta. Ditambah lagi empat juta lagi untuk memperbaiki rumah. 

Setelah begitu, saudara-saudara, tolong dong besok setengah delapan datang, saya mau keluar kota. Sudah nggak bisa, saya harus mengerjakan sesuatu di rumah. Tolong ini dong, besok saya mau ke sana. Nggak bisa. Loh, kok begitu, saya kan sudah tolong anda, ayo dong saya mau keluar kota. Nggak bisa. Kalau perlu saya kembaliin duitnya.  Itu orang bunuh diri. Sudah dapat orang moderation. Nggak minta aja dipinjamin duit, empat juta sampai delapan juta. Dia diberhentikan bukan karena dia tidak baik tetapi karena dia yang menghentikan dirinya sendiri. Dia tidak dipecat oleh majikannya - dia dipecat oleh kelakuannya sendiri.

Demikianlah kita dengan Tuhan. Kalau Tuhan baik sama kita, kita musti tahu diri. Kita dikasih keselamatan anugerah. Nggak minta, dikasih keselamatan. Sakit disembuhkan, nggak pake bayaran. Dalam percobaan, Dia tolong. Masa kita beubeulieun? Tuhan minta A, Tuhan minta B, kita sampai bilang, nggak ada waktu. Coba perhatikanlah moderation ini. Biarlah kebaikan hatimu dikenal, diketahui oleh semua orang. Tuhan sudah dekat. Tuhan itu dekat kalau kita moderat, kalau kita moderation kepada orang lain. Tuhan sudah dekat.

Biarlah renungan firman Tuhan, kalau saudara ingin didekati Tuhan, ingin menjadi teman kesayangan Tuhan, kiranya saudara-saudara menjadi orang yang baik, yang moderat pada semua orang. Karena Tuhan mau memberkati. Kita berdiri bersama-sama.     

-- o -- 

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________