Khotbah Minggu Pagi Juli - Agustus 2007

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu, 01 Juli 2007

KEBENARAN DIRI SENDIRI

Selamat pagi, selamat berbakti dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Renungan firman Tuhan pada pagi hari ini kita dapat baca di dalam Lukas  

17:5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"
17:6 Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

Saudara, Tuhan Yesus ditanya oleh murid-murid-Nya, tambahkanlah iman kami. Kenapa murid-murid-Nya berkata, tambahkanlah iman kami? Sebab ayat sebelumnya, Tuhan Yesus berkata, ayat 3,

17:3 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
17:4 Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."

Nah, ini nggak masuk akal kepada murid-murid-Nya. Mana mungkin orang bersalah sampai tujuh kali sehari. Kalau kita ada orang bersalah sama kita satu kali, dia minta maaf, kita kasih maaf. Dua kali dia minta maaf, kita masih kasih maaf tapi udah mikir kita. Tiga kali dia sengaja berbuat salah sama kita, kita mulai berpikir, mana mungkin kita kasih maaf lagi. Ini Yesus bilang tujuh kali. Kalau orang bersalah sama kamu dan tujuh kali dia bilang aku menyesal, kamu harus mengampuni.

Lalu murid-murid bilang, wah, ini saya nggak bisa ini. Semua murid bilang, tambahkanlah iman kami.

Jadi murid-murid punya bahasa, dia minta imannya ditambah. Imannya, ukurannya ditambah. Jawab Yesus itu kebalikannya, bukan ukuran yang penting. Walaupun imanmu kecil seperti biji sesawi - kalau saudara punya ballpoint, saudara titik saja itu di kertas. Nah, sebesar itu biji sesawi. Atau kalau saudara lihat di alkitab saudara ada tanda titik, seperti itulah biji sesawi. Bukan tambahkan iman. Bukan Aku harus menambah iman dalam ukuran yang lebih banyak. Tidak! Tetapi bukan kuantitas tapi kualitas iman.

Walaupun kecil seperti biji sesawi tapi dengan yakin, kualitasnya baik - perhatikan - kamu bisa berkata kepada pohon ara ini: Bantunlah, lempar ke laut. Nah, di dalam bahasa alkitab, pohon ara adalah kepentingan atau kebenaran diri sendiri.

Kalau kita mau mengampuni orang, kita seringkali tidak mau karena kita memakai kebenaran kita sendiri. Kalau kita datang ke gereja, seringkali hati kita tidak terbuka kepada firman Allah karena kita datang dengan kebenaran kita sendiri. Kadang-kadang tanpa sadar kita menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Kebenaran diri kita sendiri.

Waktu Adam dan Hawa berdosa, mereka telanjang. Mereka mengambil pokok daun ara dan menyemat menutupi ketelanjangan. Kebenaran diri sendiri. Hai Natanael, kata Yesus, waktu kamu duduk di bawah pohon ara, Aku sudah melihat kamu. Natanael ini orang jujur, tulus, tidak ada orang yang seperti Natanael. Tetapi sayang, dia sering bersandar kepada kebenaran diri sendiri. Zakheus, turunlah dari pohon ara itu, Aku mau makan di rumahmu. Zakheus memakai kebenaran diri sendiri. Dia memanjat pohon ara, mau melihat Yesus.

Tapi Tuhan tidak bisa dikenal dengan kebenaran diri sendiri. Itu sebabnya Yesus lihat di dalam hati murid-murid-Nya, ada roh ini ... roh merasa diri benar, merasa diri lebih baik, merasa diri hebat, merasa diri lebih rohani dari orang lain, merasa diri kita lebih baik dari sesama. Padahal rasul Paulus berkata - kita lihat Filipi

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang - Saya dan saudara - menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

Ada haleluyah? Ini orang yang sudah bebas dari kebenaran diri sendiri.

Kita kembali kepada Lukas 17:6, Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini. Iman yang sebiji sesawi itu selalu Yesus hubungkan dengan pengampunan. Kenapa? Karena Dia katakan, tujuh kali sehari orang itu minta maaf kepadamu, engkau harus mengampuninya. Pohon ara yang terbantun itu kebenaran diri kita sendiri, mau-maunya kita sendiri.

Kita mau dengar kesaksian dari rasul Paulus, dalam surat Filipi lagi. Pasal 3 sekarang. Rasul Paulus, dia memberi kesaksian pribadi yang kita sangat kagumi dari rasul Paulus ini setelah Kristus. Dia datang kepada Tuhan Yesus dengan luar biasa. Ayatnya yang ke-7,

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

Maka kita datang kepada Tuhan tidak bisa dengan kebenaran diri sendiri. Karena Paulus itu merasa diri benar. Dia bunuh Stefanus. Dia kejar orang kristen karena dia merasa diri benar. Dia ahli Taurat, tidak bercacat dalam Taurat. Sepuluh hukum Taurat dia lakukan, dan lima ratus sekian lagi hukum-hukum dia kerjakan. Hari sabtu tidak masak, semua dia kerjakan. Dia tidak pernah makan daging bersama dengan susu. Dia tidak minum susu bersama dengan daging. Dia kerjakan. Tidak pernah cacat. Dan itulah dia merasa diri benar. Dia tidak perlu apa itu orang yang namanya Kristus.

Sampai ketika dia dipukul oleh Tuhan di jalan Damaskus, dia bertanya: Siapakah Engkau, Tuhan? Artinya dia belum kenal Tuhan. Ketika dikatakan jawaban: Akulah Yesus yang kamu kejar-kejar ... baru dia sadar selama ini dia menganggap dirinya benar dengan membunuhi orang kristen.

Kita lihat percakapan Paulus dengan Yesus nanti di kebaktian sore. Tapi sekarang kita melihat bahwa Paulus itu merasa diri benar. Sekarang dia sadar. Supaya aku ada di dalam Kristus bukan dengan kebenaranku sendiri tetapi dengan kebenaran yang datang karena kita beriman kepada Kristus. Ada haleluyah, saudara?

Walaupun iman kita kecil tetapi kualitasnya cukup mengangkat. Pohon ara, kebenaran diri sendiri itu ada di dalam kita, itu penyakit. Merasa diri benar, merasa diri nggak boleh tersinggung. Itu kepentingan diri sendiri. Merasa diri kita nggak salah, kok. Kalau saudara menganggap orang lain lebih utama dari kita, saudara tidak akan marah, saudara tidak akan benci. Ah, dia lebih benar dari saya. Dia lebih baik dari saya. Tapi hati saya nggak enak, brur. Ah, itu kebenaran diri sendiri. Kita musti bisa melepaskan keakuan, melepaskan diri dari keakuan kita. Kita musti bisa melepaskan diri.

Sekarang saya ingin bawa saudara kepada hal yang kedua. Dalam Markus 

11:23 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.

Di dalam Markus, Markus menulis bukan pohon ara. Berarti Yesus mengajar hal ini beberapa kali di dalam beberapa kesempatan yang berbeda.

Dia bilang, kalau kamu berkata kepada gunung ini. Di dalam Alkitab, ada empat ribu tiga ratus dua belas bukit di Israel, hanya beberapa gunung yang tinggi. Ini bicara dari problem. Jadi orang Israel zaman dulu kalau ketemu yang satu lagi susah, temannya itu sangat penuh perhatian sama dia. Dia tanya, kenapa kamu kelihatan susah? Kalau problemnya kecil, saya lagi ada bukit. Problemnya besar, saya lagi ada gunung. Problemnya besar sekali, aduh, saya lagi ada gunung yang besar. Problemnya besar biasa, saya lagi ada gunung. Kalau persoalan nggak terlalu besar masih bisa diatasi tetapi jadi persoalan, saya lagi ada bukit.

Kalau tadi kebenaran diri sendiri adalah persoalan kita di dalam, gunung adalah persoalan kita di luar. Obatnya sama: Iman. Kalau kita ada iman hanya sebesar biji sesawi saja dengan yakin, kita bisa berkata kepada gunung: Gunung, terangkatlah engkau, tercampak ke dalam laut. Pohon ara - di dalam diri kita - tercabutlah engkau, pergi ke dalam laut. Mereka akan menurut.

Apa saja yang kita katakan, kita akan dapat, kata ayat 23 ini. Jadi kalau persoalan pertama Yesus mengajar bahwa kita harus lepas dari persoalan pohon ara yang ada di dalam diri kita, kebenaran diri sendiri. Yang kedua kita harus bisa mengatasi gunung-gunung percobaan, yaitu persoalan yang di luar kita, yang mau mempersulit kita, yang stagnan, yang membuat kita tidak maju. Angin sakal, persoalan yang datang dari depan.

Tapi ingat saudara, persoalan pertama kita di dalam. Baru persoalan kedua itu dari luar.

Daud punya persoalan ada dua, yaitu Saul, di dalam. Dan Goliat, di luar. Persoalan orang kristen tidak jauh, hanya dua ini saja. Persoalan dalam, persoalan luar. Problem yang di dalam, problem yang di luar. Banyak kali saudara sanggup mengatasi problem yang di luar. Gunung, bukit, semua diatasi. Dengan nyanyian tadi Bagaikan rajawali .. melintasi gunung-gunung. Gunung-gunung yang tinggi dilintasi oleh rajawali. Bukan bukit saja, ini gunung yang tinggi.

Kita bukan generasi burung bangau. Burung bangau itu berdiri di rawa, di sawah, angkat kaki sebelah. Dia cuma makannya kodok, yang kotor-kotor. Kalau rajawali terbang tinggi, melintasi gunung-gunung. Rata-rata kita sanggup mengatasi itu gunung tapi belum sanggup mengatasi kebenaran diri sendiri. Suka merasa diri hebat, merasa diri benar, merasa diri jagoan, nggak boleh tersinggung, merasa diri cukup berharga. Itu kita musti atasi. Dengan apa? Iman yang sama. Cuma setitik iman tapi kualitasnya luar biasa.

Dua ayat yang berbeda ini selalu berhubungan dengan pengampunan. Ayat 25,

11:25 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."
11:26 (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)

Yang pertama, tujuh kali orang itu minta maaf sehari, kamu harus ampuni. Yang kedua, sebelum kamu berdoa, kalau ada orang yang kamu sakit hati, kamu harus datang sama dia dan bikin beres dulu. Karena kalau nggak, Bapamu di sorga tidak akan mengampuni dosa-dosamu. Jadi orang kristen tidak punya pilihan: Harus mengampuni!

Kalau saudara bisa mengatasi persoalan yang di dalam - pohon ara -, dan persoalan yang di luar - gunung-gunung -, apa saja yang saudara katakan, saudara akan dapat. Itu janji dari ayat 23 bagian akhir.

Tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Bahasa Inggris, tetapi percaya bahwa perkara-perkara yang dia katakan akan terjadi, ia akan mendapat apa saja yang dia katakan. Apa saja yang saudara katakan, saudara akan dapat. Mari kita berdiri, kita masuk di dalam doa.

-- o --   

Minggu, 12 Agustus 2007

JAUH DARI HADAPAN TUHAN

Selamat pagi, selamat berbakti dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Renungan firman Tuhan pagi hari ini adalah tentang Yunus yang disuruh Tuhan pergi ke kota Niniwe. Tapi dia melawan sama Tuhan, dia mau pakai jalan sendiri. Dia pergi ke selatan, dia pergi ke Yafo, satu kota pelabuhan. Dari situ dia mau pergi ke Tarsis, kota ke selatan lagi.

Kita buka saja dalam kitab nabi Yunus  

1:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:
1:2 "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."
1:3 Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.
1:4 Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.
1:5 Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.
1:6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa."
1:7 Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini." Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.
1:8 Berkatalah mereka kepadanya: "Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?"
1:9 Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan."
1:10 Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: "Apa yang telah kauperbuat?" --sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.
1:11 Bertanyalah mereka: "Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora."
1:12 Sahutnya kepada mereka: "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu."
1:13 Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.
1:14 Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki."
1:15 Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk.
1:16 Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.
1:17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.

Mari kita perhatikan. Dalam cerita yang saya baca itu, 3 kali kita mendapatkan kalimat "jauh dari hadapan Tuhan!"

Ada 1 ayat di dalam Yeremia: Apakah Aku ini Allah yang dari dekat saja? Tidak, Aku juga Allah yang dari jauh. Jadi jauh dekat, Tuhan sama. Dia lihat kita. Yeremia  

23:23 Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah yang dari jauh juga?

Saudara lihat ini. Di suruh Tuhan pergi ke Niniwe, ke atas. Dia ke Tarsis, lewat Yafo. Lalu dia membeli katanya tiket. Saudara baca tadi, dia membayar. Berarti dia punya uang. Kadang-kadang uang suka membutakan mata kita dari Tuhan. Yang penting dalam hidup mah uang, Tuhan mah lupakan saja, nggak usah kebaktian. Uang. Bawa kareup sendiri. Dia punya uang sendiri, saya pergi ke mana saya mau. Jauh dari hadapan Tuhan.

Begitu dia naik kapal, dia turun ke dalam tempat yang paling bawah. Dan dia tidur. Apa yang terjadi? Ditulis dengan jelas, Tuhan suruh angin ribut. Angin saja yang nggak ada nyawa, nggak masuk surga, angin ... nurut sama Tuhan. Saudara dan saya yang berharga di mata Tuhan, Dia mati bagi dosa-dosa kita, eh, kita melupakan Tuhan. Jauh dari hadapan Tuhan.

Lalu ketika gonjang-ganjing, itu tidur, Yunus tidur di bawah. Dibangunkan. Coba kamu bangun. Pemilik kapal ini bukan anak Tuhan. Dia nggak percaya. Coba kamu bangun. Mereka sudah berteriak-teriak kepada tuhan allahnya tapi terus saja ribut. Bangun. Dari mana kamu? Siapa kamu? Pekerjaannya apa? Bangsamu apa? Ngakulah Yunus. Saya ini orang Ibrani. Saya disuruh Tuhan pergi ke Niniwe tapi saya pergi ke sini. Jadi bagaimana ini? Akhirnya diundi. Kenalah Yunus. Yunus tahu ini Tuhan yang mengarah. Lemparkan saja saya ke laut, pasti reda anginnya. Dia sudah tahu Tuhan marah. 

Coba saudara lihat, itu pegawai-pegawai kapal nggak pernah berdoa kepada Allah, dia berdoa kepada allah, dewa-dewa mereka. Yunus bukannya berdoa minta ampun sama Tuhan, dia bilang lemparkan saja saya. Omongannya dia omongan kematian. Orang yang jauh dari Tuhan dekat dengan kematian. Orang yang jauh dari Tuhan dekat dengan penyakit. Orang yang jauh dari Tuhan dekat dengan masalah.

Akirnya sembahyanglah nakhoda ini. Pertama kali kepada elohim: Ya Tuhan, janganlah menanggungkan darah orang yang tidak bersalah ini kepada saya. Lemparkanlah Yunus ke dalam laut. Begitu dilempar, tenang laut. Dan apa yang terjadi? Belum pernah seumur-umur nakhoda kapal ini mempersembahkan korban, tiba-tiba mereka tahu mempersembahkan korban. Berterima kasih karena Tuhan luputkan mereka dari kematian.   

Saudara-saudara, orang dunia tahu mempersembahkan korban tapi kita tidak pernah atau kurang suka mempersembahkan korban. Dalam Ibrani 13, persembahan korban ada 2 macam. Yang pertama adalah buah mulut kita, mempersembahkan pujian syukur kepada Tuhan. Bersyukur kepada Tuhan. Yang kedua secara materi, kita membawa persembahan kepada Tuhan.

Di Pasir nangka dulu begitu terharu saya, jemaat itu membawa padi ke gereja, membawa singkong ke gereja, membawa kelapa ke gereja, membawa pisang ke gereja. Sebagai buah sulung dan mereka bawa yang paling baik. Saya tidak tahu sekarang. Yang paling baik. Ada yang bawa ayam. Ada satu bapa namanya bapa Yakub, sudah tua, dengan istrinya dulu tahun 57, saya ingat dia bawa ayam ke tempat ayah saya tinggal waktu ngungsi. Ini persembahan. Orang Sunda asli. Tahu mempersembahkan korban. Kita kembali kepada Yunus.       

Yunus ditelan oleh ikan dan tinggal di sana 3 hari 3 malam. Kalau saudara baca terus .. baca terus, akhirnya si ikan itu 3 hari dari selatan dia bawa ini orang ke pantai Ninewe lagi dan dia muntahkan. Di kota Yafa itu ada patung ikan paus. Ini ikan paus yang di Niniwe. Padahal bukan di situ tapi di Niniwe dia dimuntahkan.

Mari saya minta perhatian saudara dengan keterangan ini.

Saudara percaya rencana Tuhan pasti jadi? Rencana Tuhan itu nggak bisa dibatalkan oleh apapun juga dan tidak bisa dibatalkan oleh kebandelan kita, tidak bisa dibatalkan oleh kegagalan kita. Mari saudara lihat.

Ada 2 jalan mengikut Tuhan: Satu, kalau Yunus itu disuruh ke Niniwe, dia bilang ya Tuhan, dia pergi ke Niniwe, dia beritakan berita keselamatan, habis. Dia tenang, orang bertobat. Dia tidak celaka, dia tidak mengalami kesulitan. Atau seperti yang Yunus ini. Dia musti bandel dulu dari Tuhan, dia turun ke bawah tiga kali. Jauh dari Tuhan. Masuk ke bawah. Dimakan ikan. Bayangin pengalaman dia, nggak makan apa-apa di dalam perut ikan. Mau muntahnya berapa kali. Terus tiga hari kemudian dia dimuntahkan di Niniwe.

Dia khotbah, banyak orang selamat. Dia marah-marah sama Tuhan. Maunya Allah dong. Rencana Tuhan terjadi. Dia berkhotbah di Niniwe.

Tapi ada 2 jalan. Jalan yang pertama tenang, menurut sama Tuhan, jalan-Nya Tuhan. Yang kedua, jalannya sendiri. Lewat ikan paus, baru sampai ke Niniwe. Maka kata firman Allah, kembali kepada kitab Mazmur

37:5 Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadanya, Dia akan bertindak atau membawa berkat menjadi kenyataan bagi saudara.

Ayat 13, Tuhan menertawakan orang fasik itu sebab ia melihat bahwa harinya sudah dekat.

Jadi orang fasik itu nggak bisa panjang umur. Dilihat sama Tuhan, harinya sudah dekat. Umur di sini bukanlah lamanya hidup. Ada orang umur sembilan puluh tahun, nggak kenal Yesus. Tapi ada orang seperti Yesus tiga puluh tiga setengah tahun, tapi membawa makna dalam hidup orang lain; dia hidup lebih panjang dari pada orang yang hidup dalam kejahatan walaupun panjang secara umur.

Dan sebagai ayat yang terakhir, kita membaca ayat 18,

37:18 TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya;

Ada haleluyah? Kata milik pusaka dalam bahasa Inggris adalah warisan. Ikut Tuhan Yesus dapat warisan .. Ikut Tuhan Yesus dapat warisan .. Warisan, Warisan, Warisan Hidup kekal .. Warisan, Warisan, Warisan Hidup kekal.

Tuhan mengetahui hari-hari orang yang saleh. Saudara lagi sedih, saudara lagi mengalami persoalan, saudara lagi senang, Tuhan mengetahui kalau kita saleh. Dan jadinya apa? Warisannya tidak akan hilang sampai selama-lamanya. Itu hidup yang kekal tidak akan hilang. Apalagi cuma hidup di dunia ini.

Jangan takut, kita sudah dapat rejekinya dari Tuhan. Nggak usah toh-tohan kerja. Santai saja kerja. Bukan malas. Rajin tapi santai, nggak usah toh-tohan. Karena sudah ada rejeki yang dibiarkan Tuhan. Tidak akan lepas kepada orang lain untuk selama-lamanya.

Tuhan sudah ngatur berapa pembeli yang akan belanja ke toko saudara. Yang ngatur itu tentunya Tuhan. Maka kita musti deketin Tuhan sebab Dia yang ngatur toko kita, Dia yang mengatur urusan-urusan di dalam toko kita.

Kita musti dekat sama Tuhan. Supaya pada waktu kita buka toko, pada waktu kita berniaga, sudah bukan kita lagi yang berniaga. Tuhan yang mengatur. Sadarlah kita bahwa itu Tuhan yang menjadi saluran saudara. Bukan kita punya kepintaran.

Maka kita haruslah menyerahkan jalan-jalan kita kepada Tuhan. Percaya kepada-Nya bahwa Tuhanlah yang membuat cita-cita kita menjadi kenyataan. Saudara baik sama Tuhan, dekat sama Tuhan ... Tuhan yang sumber rejeki, sumber berkat, sumber kekayaan, sumber damai, sumber kesehatan, itu akan dekat sama kita.

Tapi kalau saudara menjauhkan diri dari Tuhan, saudara jauh dari sumber kekuatan, dari sumber pengetahuan, dari sumber berkat. Saudara sudah jauh. Serahkanlah hidup kita sama Tuhan pasti Tuhan akan memberkati kita. Sekian renungan firman Allah. Kita berdiri bersama-sama.

-- o --   

Minggu, 19 Agustus 2007

KEKAYAAN ROHANI

Kita buka Matius  

13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

Kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit. Bahasa Inggris, choke, mencekik firman itu, orang itu, sehingga benih itu tidak berbuah.

Kita gabungkan ayat ini dengan Yohanes 10:10, dia berbicara begini:

10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku - Yesus - datang, supaya mereka - domba-domba - mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Kalau kita baca dua ayat ini, sepertinya berlawanan. Di dalam Matius 13:22 dikatakan: Kekuatiran dan tipu daya kekayaan mencekik benih itu. Dicekik. Dia sudah tumbuh karena banyak onak duri, jadi nggak bisa bertumbuh, dicekik oleh onak duri. Sehingga bantutlah, dia nggak bisa bertumbuh. Matilah dia. Tetapi di dalam Yohanes 10:10, dengan jelas dikatakan bahwa pencuri datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan, dan Aku datang untuk memberikan kelimpahan. Kalau kita bicara tentang kelimpahan, seringkali jemaat Tuhan memikirkan, merenungkan tentang kekayaan. Kalau kita bicara tentang kelimpahan, selalu kita berpikir, anggapan itu kekayaan.

Tetapi saya ingin katakan bahwa kelimpahan yang dimaksud oleh firman Tuhan adalah kelimpahan yang penuh, yang komplit. Dan dari begitu banyak kelimpahan yang komplit, memang ada kelimpahan berkat, materi ada. Tetapi sembilan yang lain, itu kelimpahan-kelimpahan yang lain - kelimpahan sukacita, kelimpahan damai sejahtera, kelimpahan kekuatan, kelimpahan kesabaran, begitu banyak.

Kita akan melihat lebih dahulu apa yang dikatakan oleh Matius tadi bahwa tipu daya kekayaan dan kekuatiran, ini memang sejodo. Tipu daya kekayaan dan kekuatiran. Firman Tuhan mah firman Tuhan, tapi kita kuatir Tuhan itu nggak pelihara. Sehingga hari minggu juga kita buka toko.

Saya kasih ilustrasi pendek saja. Hasil saudara buka toko dalam satu minggu, Tuhan bisa ganti dalam satu jam. Benar. Nah, kita menilai Tuhan itu tidak seperti Tuhan. Kita menilai Tuhan itu seperti manusia biasa. Kita menilai Tuhan seperti yang tidak mampu memberkati kita sehingga kita kuatir. Dan lawan dari kuatir itu adalah iman.

Jadi kalau kita kuatir itu tidak ada iman. Padahal iman datang dari pendengaran, pendengaran dari firman Allah. Tapi karena kuatir, banyak orang kristen karena kekuatiran, takut tidak ada hasil, dia tinggalkan janji Tuhan. Firman yang baru dia dengar, firman yang baru dia dapatkan, tidak bertumbuh, dicekik. Oleh apa? Kekuatiran dan kekayaan duniawi.

Banyak cerita bahwa kekayaan bukan datangkan berkat. Justru kekayaan membuat anak membunuh saudaranya dengan pistol, menembak. Karena rebutan kekayaan. Kekayaan membuat satu menantu ditembak oleh anak - ini terjadi di Surabaya - orang kristen, karena rebutan warisan, kekayaan.

Banyak cerita kekayaan tidak bikin orang bahagia tetapi bikin orang menderita. Kekayaan yang membuat banyak orang masuk penjara, sekarang. Bupati, gubernur, bahkan menteri pun masuk penjara oleh karena kekayaan, oleh karena materi. Oleh karena orang mengejar kekayaan. Merusak diri. Dan  yang saya sedih, anak Tuhan yang punya firman seolah-olah Tuhan itu tidak berguna, seolah-olah Tuhan itu tidak berkuasa. Dia kejar kekayaan, dia kejar kekayaan.

Mari kita akan lihat seperti apa jahatnya kekayaan yang kita kejar kalau kita mengejarnya tanpa mempunyai iman kepada Tuhan. Kita lihat I Timotius 

6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.  Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Jangan jauh-jauh, di kota Cianjur saja. Ada orang kaya, saya nggak tahu ceritanya tapi orang kaya ini beli tanah, beli apa, beli semua tanah di Cianjur. Dia bangun ini, dia bangun ruko. Pokoknya kaya luar biasa. Saya dengar kemarin ada jemaat Tuhan dikejar-kejar, mau dijadikan istri yang ketiga. Kokonya ngomong sama saya, aduh, adik saya mau dijadikan istri ketiga. Kalau dia mau kawin, katanya, istri ketiga, mau dikasih ruko. Rukonya itu dia pegang tanggung jawab. Nafsu yang hampa. Tuh kekayaan bikin orang jadi berubah tabiatnya, berubah karakternya. Karena ingin akan uang.

Disuruh mandi satu malam sama dukun di Cipanas. Ini kesaksian orang Jakarta. Disuruh direndam, dimandikan. Karena ingin kaya. Pake bunga rampe. Dukunnya sendiri miskin. Tapi dia memandikan supaya orang kaya. Sampai dia sendiri akhirnya bertobat. Dan saya baptis dia. Dan dia cerita. Karena ingin kaya di Banten dukun bilang ambil tahi kambing dua, kocek, bikin kopi, minum. Minum. Waduh, kalau biasa-biasa minum sedikit, ambil tisu, dilap, gelas sebelum diminum, dibersihkan. Tapi begitu dia ingin kaya, tahi kambing dia minum. Ini terjadi di Banten. Karena ingin kaya.

Yang di Gunung Kawi, mau kaya, musti merangkak seratus meter. Coba, merangkak seratus meter. Kayanya mah nggak tapi kaki sudah besot, karena merangkak di batu-batu kerikil. Ingin kaya.

Sekarang saya ingin gabung dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 10, itu kelimpahan. Ternyata di dalam pasal yang sama, Tuhan juga bicara tentang kekayaan bagi orang yang iring kepada Tuhan. Mari kita baca ayat yang ke-17. Ini untuk orang dunia dulu,

6:17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini - ini orang dunia yang kaya - agar mereka jangan tinggi hati - berarti kekayaan bisa bikin orang sombong - dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

6:18 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik,

Coba kita kembali ke ayat 17, Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini - ada kekayaan di dunia - agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya.

Tuhan juga punya kekayaan. Nah, kalau Tuhan punya kekayaan, bedanya, kita nggak usah cari-cari, kita nggak usah ngejar-ngejar. Buka toko jam lima subuh, tutup jam sepuluh. Nggak. Kalau saudara ikut family camp, kita masuk perhentian di dalam perhentian Tuhan.

Bukan kita yang berbuat supaya kita kaya, tapi Tuhan. Dia bikin ku jadi kaya. Dia yang membuat kita diberkati. Dia yang membuat kita nyaman. Dia yang membuat kita sentosa. Itu kata sentosa, susah diterangkan ... ya sembuh, ya sehat, ya senang; nggak kaya, tapi semua yang kita perlu ada, cukup.

Satu bapak di Jakarta. Dia menyelundupkan empat ratus kilo emas, batangan. Dan disembunyikan di bawah tempat tidurnya. Saudara, apa yang terjadi? Dia tidak bisa tidur. Sekarang emas sudah hampir dua ratus ribu satu gram. Satu kilo dua ratus juta. Kali empat ratus kilo.

Dia bilang, pak, satu jam sekali saya bangun. Nyalain lampu. Buka. Tempat tidurnya dibawah dikeluarin. Dia hitung semua emas. Ada 400. Dua jam lagi dia bangun, nyalain lampu. Karena ingin kaya. Sampai dia bilang waktu kenal Tuhan Yesus, aduh pak, sayang bapak kenal saya ketika saya jadi kere. 400 kilo emas ke mana? Susah ngomongnya, pak. Saya judi. Nah itu. Mengejar. Sudah punya emas empat ratus kilo masih ingin lebih kaya dengan judi. Akhirnya amblas semua.

Di Manado, tanggal 31 Desember 65, orang baru jual cengkeh. Di sana bilang ton. Kalau bilang dapat uang seton itu seratus ribu. Tahun 65 itu kaya apa. Itu uang nggak kaya sekarang dihitung begini. Dulu uang dimasukkan ke karung, tarik di roda. Pulang ke rumah. Dia jual cengkeh berapa ton. Uh, besar. Karena pikirannya di kekayaan. Begitu sampai di rumah, jam sebelas malam. Jam dua belas, dia dengar warta berita, Bung Karno berkata: Sepuluh ribu jadi seribu, lima ribu jadi lima ratus. Langsung gila ... apa lagi ... apa lagi ... apa lagi. Sampai tidur jam 3 jam 4 baru bisa tidur. Jam 7 sudah bangun ... apa lagi ... apa lagi ...

Karena mengejar kekayaan. Jahat sekali ya berhala itu, kekayaan mamon itu. Banyak orang ditipu sama itu. Makanya saya bilang, Babel itu jemaat yang tertipu oleh kesombongan juga oleh kekayaan. Kita buka Ibrani

12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.

Saya mau berhenti di sini sebentar saja. Sekarang banyak anak Tuhan yang masih bermasalah dalam masalah kekudusan ini. Ke gereja mah ke gereja tapi hidupnya tidak kudus, hidupnya nggak suci. Makanya dia tidak bisa melihat Allah, dia nggak bisa lihat Yesus.

Istri Lot saja. Lot bisa lihat Tuhan. Tapi istri Lot sampai nengok ke belakang karena ingat kekayaan. Dia tidak bisa lihat Tuhan yang kaya, Tuhan yang limpah, Tuhan yang besar. Dia tidak bisa lihat. Dia anggap kekayaan Sodom Gomora jauh lebih hebat dari pada kekayaan Tuhan. Dia tidak ingat bahwa Sodom Gomora justru yang hukum, yang hancurkan adalah Tuhan. Tuhan mau ganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Maka pada pagi hari ini saya ingin berkata, tinggalkanlah Sodom Gomora saudara. Tinggalkanlah kehidupan yang tidak baik itu. Tinggalkan yang menganggap bahwa saudara bisa bikin saudara kaya. Tinggalkan. Karena Tuhan Yesus sanggup membuat saudara diberkati. Tidak berkekurangan satu apapun juga. Suaminya lihat, istrinya nggak. Tanpa kekudusan seorangpun nggak bisa lihat Tuhan.

Di kebaktian dia nggak bisa lihat Tuhan. Dia nggak bisa menikmati Firman. Dia nggak bisa menikmati Roh Kudus. Dia nggak bisa merasakan Roh Kudus ada di tengah kebaktian. Dia tidak bisa. Karena hidupnya tidak kudus.

Lain kalau orang yang menghargai kekudusan. Tuhan Yesus lewat, dia rasa. Biasanya merinding. Roh Kudus lewat, Dia beri damai di hatinya. Dia templak hati kita. Tapi kalau yang sudah tumpul, khotbah khotbah, firman Tuhan mah firman Tuhan. Istri Lot mah pikirin aja Sodom dan Gomora. 

12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.

Hak kesulungan adalah berkat dari Tuhan. Sepiring makanan adalah berkat dari dunia. Esau menukarkan hak kesulungan ... berkat dari Tuhan, dengan makanan semangkok ... berkat dari dunia. Kalau dia tidak tukarkan itu hak kesulungan, dia bisa bikin masakan itu kacang merah ratusan ribu mangkok, dia bisa bikin. Dan tidak akan habis. Karena dia punya hak kesulungan, kekayaan dari Tuhan. Tapi Esau karena lapar, karena daging, dia lihat itu kacang merah dari dunia. Dunia cuma bisa tawarin kacang merah tapi banyak anak Tuhan ketipu. Dunia bilang, ini kacang merah, tukar sama hak kesulunganmu. Banyak orang kristen dia jual hak kesulungannya.

Orang kristen itu tidak seperti Yakub. Yakub itu dia pegang Tuhan: Berkati saya. Dia sudah punya hak kesulungan tapi dia pegang Tuhan. Berkati saya. Saya tidak akan lepaskan Tuhan kalau Engkau belum berkati.

Waktu kemarin saya doa berkat, ada satu keluarga dari mulai doa sampai selesai, nangis. Sampai saya juga ikut nangis. Dan saya rasa sesuatu keluar. Sesuatu turun ke atas mereka. Saya rasa. Orang itu seperti, saya tidak akan pulang kalau belum mendapat berkat dari Tuhan.

Saudara-saudara, Iblis cuma bisa nawarin semangkuk kacang merah. Nah, karena kita lagi lemah, kita nggak sadar, kita tukar saja. Padahal ini berkat dari Tuhan, hak kesulungan, ditukarkan begitu saja. Apa yang terjadi?

12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Sekarang saya mau tanya saudara. Lebih tinggi Yohanes 10, kekayaan, berkat Tuhan, kelimpahan. Atau lebih tinggi Matius 13:22? Lebih tinggi mana? Yohanes. Karena kelimpahan kekayaan itu hanya salah satu dari begitu banyak kelimpahan dari Tuhan. Bahasa Yunaninya kata kelimpahan dipakai kata periso ... dalam jumlah nggak bisa dihitung, dalam kualitas lebih dari terbaik. Mau cari di mana lagi?

Biasakanlah kalau saudara bangun pagi dan berkata: Tuhan adalah gembalaku, aku tidak akan kekurangan.

Tiap pagi, kalau bangun: Tuhan, Engkaulah gembalaku, aku tidak akan kekurangan. Aku tidak akan ada kekurangan. Aku tidak akan ada kelemahan. Engkaulah gembalaku. Dibaringkannya aku pada tempat yang banyak rumputnya. Dihantarnya aku pada air yang tenang. Kurang apa lagi? Tapi toh masih banyak orang yang tertipu oleh kekayaan dunia dan kekuatiran sehingga firman itu tercekik. Dan saya ingin supaya saudara bukan orang-orang yang tertipu tapi orang-orang yang sadar, orang-orang yang tahu bahwa mendengar firman Allah tidak ada artinya kalau kita tidak melakukan firman Tuhan.

Berkhotbah firman Allah tidak ada artinya kalau kita tidak melakukan firman Allah. Tapi kalau kita melakukan firman Allah, apa yang terjadi? Kita tidak akan ditolak. Bukan yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan, dia yang akan diselamatkan. Tetapi orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku. Pada saat itu banyak orang berkata: Tuhan, Tuhan, aku mengusir setan dengan nama Tuhan? Aku membuat mujizat dengan nama Tuhan? Pada saat itu dengan terus terang Tuhan menjawab: Aku tidak pernah kenal kamu.

Hai, kamu yang menjual hak kesulungan dengan sepiring kacang merah. Kamu yang tahu dengar firman Allah tapi nggak pernah melakukan. Kamu yang tidak pernah membuat Aku gembalamu. Gembalamu adalah mamon. Enyahlah dari padaku, hai kamu pembuat kejahatan.

Lima gadis yang bodoh, dia juga punya pelita tapi tidak ada minyak. Ketika dia ketuk: Buka pintu ... buka pintu; mempelai itu menjawab: Aku tidak pernah mengenal kamu. Mari saudara kalau kita ngomong, saya kenal Tuhan tapi Tuhan bilang, saya nggak kenal kamu. Itu sebabnya pada pagi hari ini kenallah firman Allah. Kekayaan rohani harus lebih tinggi dari kepentingan jasmani. Kita berdiri bersama-sama.

-- o -- 

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________