Khotbah Minggu Pagi Mei - Juni 2005

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu pagi, 08 Mei 2005

NASEHAT SEORANG IBU

I Timotius 

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita,
1:2 kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.
1:3 Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain
1:4 ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman.
1:5 Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.

Kita melihat dari pasal ini, kita melihat Rasul Paulus sedang menasehati Timotius. Supaya saudara bisa mempunyai gambaran, saat itu Paulus berusia 58 tahun dan Timotius berusia 16 tahun. Paulus menasehati Timotius. Kenapa Timotius ini sampai usia masih muda sudah mengikuti Paulus? Mari kita buka sekarang II Timotius

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,
1:2 kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.
1:3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.
1:4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.
1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Sangat mengharukan karena Timotius itu masih menangis pada usia 16 tahun. Saya tidak tahu apa yang terjadi tetapi kemungkinan - kemungkinan - pada waktu Timotius diangkat mengikuti Rasul Paulus, kemungkinan besar, ibunya sudah meninggal. Kemungkinan besar.

Kalau saudara baca tadi I Timotius 1, Paulus berkata, anakku yang sah. Dalam II Timotius ini, Paulus  menyebut, anakku yang kekasih. Di dalam II Timotius ini dikatakan, aku mengingat - ayat 4 - akan air matamu yang kau curahkan. Apa sebabnya Timotius menangis, saya tidak tahu. Tetapi kemungkinan besar Timotius menangis karena hendak berpisah dari orang tuanya, dari ibunya.

Lalu Paulus berbicara dalam ayatnya yang ke-5, Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Ada dua wanita, 'dua ibu', yang sangat berperan di dalam hidupnya Timotius. Saudara yang masih punya ibu, sangat berbahagia. Saya sudah tidak ada ayah, tidak ada ibu. Tapi saudara yang masih punya ibu, senang. Kalau saudara sekarang punya anak atau cucu, mudah-mudahan saudara bisa menangkap firman Allah pada pagi hari ini.

Nampaknya, neneknya dari Timotius itu memberi nasehat kepada ibunya Timotius, begini, begini, begini, ... mengenai iman. Lalu dari ibu Timotius, dia mengajar kepada anaknya yang masih 16 tahun. Taruh kata ibunya ini meninggal, Timotius itu menangis. Diangkat oleh Paulus, jadi anakku yang sah, anakku yang kekasih. Nampaknya Paulus itu kenal ibunya dari Timotius, kenal neneknya dari Timotius.

Khotbah saya pada pagi hari ini adalah mengenai nasehat seorang ibu. Ibu saya juga seorang yang baik hati, yang baik. Dia mengajarkan kepada saya beberapa prinsip hidup. Yang pertama - yang ibu saya ajarkan, dan saya harap diajarkan oleh ibu-ibu juga kepada anak-anak anda. Dan kiranya anak-anak muda remajapun tidak curiga kepada teguran dari ibu. Karena ada prinsip-prinsip yang diajarkan oleh ibu.

Ibu saya mengajarkan prinsip yang pertama adalah mengampuni orang lain.

Beberapa kali dia cerita tentang hal-hal yang menyakitkan dia. Beberapa kali dia bercerita tentang perkara-perkara yang melukai hati dia - baik oleh tetangga ataupun oleh beberapa jemaat yang salah paham. Saya pernah melihat ibu saya dimaki-maki sama satu jemaat dalam rumah saya oleh satu ibu hanya karena salah paham. Tapi saya belajar dari ibu saya prinsip yang pertama - belajar mengampuni orang lain! Saudara tidak akan mengerti artinya pengampunan dari Tuhan sebelum kita bisa mengampuni orang lain.

Maka pada satu kali saya sedang naik motor, malam. Saya bertemu dengan jemaat, ibu dengan anak. Saya bilang, selamat malam. Kedua orang ini buang muka, tidak mau lihat muka saya. Pertama yang saya ingat nasehat ibu saya, belajar mengampuni orang lain. Jangan taruh hati, ampunilah, maafkanlah; dia pakai istilah itu, maafkan saja, biarkan saja. Dan oleh karena prinsip itulah, mereka yang buang muka itu, anak-anaknya sekarang tetap di dalam Tuhan. Mereka tetap setia sampai sekarang ini. Karena saya diajar oleh ibu saya, sudahlah, ampuni orang lain.

Prinsip yang kedua, yang ibu saya ajarkan sama saya, adalah memiliki roh seorang hamba. Dia ajarkan supaya saya rendah hati, dia mengajarkan supaya saya prinsip seorang hamba. Biarpun Yoyo sudah dapat gelar pendeta, tapi tetap kamu ini hamba. Dan itu membuat saya tetap rendah hati.

Kalau saya ada sedikit mulai sombong, saya ingat itu nasehat. Ingat, punya roh seorang hamba. Karena seorang hamba, dia akan rela kalau dia ditegur. Seorang hamba, dia tidak akan dendam kalau dia memang salah. Seorang hamba akan melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya. Dan seorang hamba akan selalu mengerjakan, mengusahakan diri untuk menyenangkan tuannya.

Dua prinsip ini saja sudah modal yang bagus. Mengampuni orang, mempunyai prinsip seorang hamba. Ajarkan anak-anak kita supaya tidak sombong, supaya belajar rendah hati. Karena alkitab katakan, siapa yang merendahkan dirinya, dia akan ditinggikan. Siapa yang meninggikan dirinya, dia akan direndahkan. Maka saya bersyukur, karena kalau ibu saya berusia seperti ayah saya. Ayah saya meninggal usia 52 tahun, sedangkan mama sampai 83 tahun. Kalau ibu saya meninggal pada usia kurang lebih 52 tahun, 55 tahun. Karena begitu saya harus menggantikan ayah saya pada tahun 72 menjadi gembala sidang. Saudara bisa bayangkan, dari sekolah alkitab saya dipanggil ke sini. Saya sedang mengajar di sekolah alkitab Beji. Saya dipanggil untuk menggantikan papa. Dan Tante Brodland bilang, kalau bisa kamu balik lagi, jangan jadi gembala; kamu balik, karena tenaga kamu diperlukan di Jawa Timur.

Tapi oom Mandey bilang, waktu itu, kamu gantikan papa. Tidak ada lagi calon hamba Tuhan, kamu gantikan. Silih berganti angin ribut, terutama dari dalam sendiri, dari pendeta-pendeta GPdI yang ingin juga ke Cianjur. Tapi saya berusaha untuk memiliki roh seorang hamba. Dan saya melihat ibu saya mengerjakan perkara-perkara untuk orang lain. Dia memasak untuk orang lain, dia bikin makanan untuk pendeta-pendeta yang datang. Ibu saya tidak sekolah alkitab tetapi pelayanannya jauh lebih hebat dari kebanyakan ibu gembala yang sekolah alkitab. Dia tidak mau mimbar, dia selalu ada di bangku, dia selalu ingin melayani orang lain.

Sampai anak sekolah minggupun dia berhenti mengajar sekolah minggu pada usia 73 tahun, dia berhenti. Karena dia pernah melihat surga dan pesan Tuhan bagi dia, kamu harus setia mengajar sekolah minggu. Bayangkan satu ibu umur 73 tahun masih ngajar sekolah minggu. Dalam hari paskah yang terakhir, dia masih mengajar bagaimana Maria Magdalena masuk ke kuburan, dan sebagainya. Itulah roh ingin melayani, roh pelayanan. Roh melayani. Luar biasa.

Yang ketiga, prinsip yang ketiga, semoga ini masuk di dalam hati kita. Memiliki hidup yang beraturan, hidup yang baik, hidup yang teratur.

Saat itu hidup saya tidak teratur. Dari umur 16 saya sudah main band, sampai umur 18. Tiga tahun saya main band. Saya anak pendeta. Saya kadang-kadang pulang kalau malam minggu itu untuk main band, pulangnya jam dua pagi atau jam tiga pagi. Padahal besok paginya saya sudah mesti sapu gereja untuk mengajar sekolah minggu juga. Saya menjadi olokan orang, kok anak pendeta kaya begitu. Jemaatnya baik, tidak banyak bicara. Tapi orang lain melihat, kok pendeta, anaknya kaya begini? Pulang subuh. Pernah saya ditinju oleh ayah saya, pecah bibir saya, tapi saya tidak mau berubah.

Sampai satu kali saya pulang subuh, jam tiga saya pulang, setengah empat. Begitu pintu terbuka, gereja, pelan-pelan, saya mendengar satu ibu menangis menyebut nama saya. Ibu saya sedang berdoa, Yesus selamatkanlah anak saya. Selamatkanlah. Saya pikir saya sudah selamat. Tapi ibu saya berdoa, selamatkan. Saya tertegun di belakang pintu. Saat itulah Tuhan merubah hidup saya.

Jadi saya bilang kalau saudara masih punya mama, hoki. Wah, saudara diberkati Tuhan. Saudara masih punya ibu apalagi ibu itu beriman mengajarkan untuk hidup beraturan. Jangan biarkan anak kita hidup tidak beraturan. Tapi belajar hidup secara baik. Belajar hidup secara teratur. Ketika saya merasa dipanggil oleh Tuhan untuk sekolah alkitab, saya sakit sendirian di rumah. Papa mama saya dengan adik saya dia bawa ke Bandung untuk mengikuti pelajaran alkitab Pdt WW Patterson, ayah dari tante Brodland itu. Saya nggak bisa berangkat, saya sakit.

Tapi pada hari kedua, saya usahakan saya berangkat ke Bandung. Di situlah saya dipanggil oleh Tuhan, beberapa saudara yang satu angkatan, dipanggil di situ,  dan saya menyerahkan diri ke sekolah alkitab. Sampai papa saya tidak percaya karena dulu saya bilang sama mama saya, cadu. Orang sunda kalau bilang cadu itu never, tidak akan saya jadi pendeta. Karena saya lihat ibu saya menderita, papa saya menderita jadi hamba Tuhan. Dia diejek, ... ah, macam-macam, saudara. Saya nggak mau, cadu, tidak akan. Tapi kalau Tuhan sudah panggil, saudara-saudara. Pada 12 Januari 1968, saya sudah di sekolah alkitab, karena pembukaannya 14 Januari.

Saya disuruh potong rambut. Ya sudah, saya potong rambut saya. Saya menghadap lagi. Potong lagi rambut. Jadi satu hari itu saya potong rambut dua kali karena kurang pendek. Saya potong rambut. Jadi itu masuk di hati saya. Maka murid-murid saya di sekolah alkitab sekarang harus potong rambut. Tidak potong rambut, tidak boleh masuk kelas. Besok senin kalau lihat gondrong tidak cukur, tidak boleh masuk kelas. Itu datang karena dari didikan dari sekolah alkitab dulu. Dan betapa indahnya ketika segalanya serba baik. Tidak ada beban di hati saya, tidak ada ketakutan, tidak ada kegelisahan. Karena segala jalan sudah benar.

Yang keempat, saudara-saudara, prinsip yang ibu saya ajarkan ini adalah mendorong atau mengangkat orang-orang lain. Bukan hanya di gereja, bukan hanya jemaat tapi orang-orang lain saja, dorong dan angkat. Saya dididik oleh mama saya tidak boleh kikir. Belajar mengangkat orang. Belajar jadi berkat bagi orang. Jangan medit, jangan pelit. Hamba-hamba Tuhan yang datang urus surat di Cianjur, kalau ketemu saya, saya selalu kasih seratus ribu satu hamba Tuhan. Selalu. Walaupun di dompet saya pas-pasan tapi saya selalu kasih. Karena mereka harus jalan, harus ongkos mobil, dan sebagainya. Dan saya mau bersaksi. Dengan saya berbuat hal itu, nggak pernah saya kekurangan. Selalu Tuhan memberikan kelimpahan, lebih dari cukup.

Tapi ini nasehat dari ibu saya, prinsip-prinsipnya. Mengangkat orang, menolong orang, khususnya mereka yang jatuh, mereka yang bersalah, mereka yang ada salah, mereka yang jatuh. Kamu jangan injak, kamu angkat. Maka ada dua, tiga orang pendeta yang ada salah, pernah ngomong sama saya, brurlah pendeta pertama yang mau ngomong sama saya. Jadi bapa-bapa pendeta yang lain tidak ada satupun yang mau ngomong sama saya. Lihat muka saya saja sudah muak. Itu pendeta sudah piara kumis dan merokok, GPdI. Dia ada salah. Tidak ada yang mengangkat supaya dia tidak putus asa. Waktu dia meninggal, dia meninggal sebagai pendeta GPdI, dia kembali. Sekarang anaknya dan anak menantunya meneruskan pekerjaan Tuhan.

Belajar mengangkat orang, belajar menolong orang. Siapa sih kita yang tidak ada salah? Semua kita. Mungkin hari ini orang itu yang salah. Besok-besok kita yang salah. Betapa senangnya ketika kita ada salah, ada orang yang mengangkat kita. Betapa senangnya itu orang yang dipukul oleh penyamun yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, dipukul, babak belur. Orang Lewi tidak mau menolong. Imam tidak mau menolong. Tapi orang Samaria yang baik hati menolong.

Sampai Yesus bilang, ayo dari tiga orang ini, siapa yang menjadi sesama manusia? Apakah orang Lewi, yang tahu agama? Apakah imam yang tahu kitab-kitab Musa? Atau oramg Samaria yang mau menolong? Orang bilang, orang Samaria. Jadilah kamu seperti dia, menolong orang.

Menolong orang tidak usah kelihatan orang. Saudara diam-diam, di belakang ... saudara bisa menolong orang. Saudara bisa mendorong seseorang, mengangkat seseorang yang kecewa, yang sedang ada di dalam kedukaan. Saudara, kalau kita berbuat baik pada orang, orang lain akan berbuat baik pada kita. Kalau kita tabur kebaikan dengan tidak lelah, Galatia 6 berkata, engkau akan menuai pada waktunya jikalau engkau tidak lelah berbuat baik. Mengangkat orang. Kalau ada yang susah, hiburkan dia. Kalau ada yang malu-malu, dorong dia. Angkat. Tuhan baik kepada orang ... Apalagi kalau saudara berbuat baik kepada ibu saudara sendiri, kepada mama saudara sendiri saudara berbuat baik, itu ada jaminan panjang umur, katanya firman Allah.

Yang kelima, saudara-saudaraku, prinsipnya ibu saya, mengajarkan, yaitu kalau mengasihi harus tulus. Kamu mengasihi harus tulus. Jangan mengasihi jemaat karena ada maunya. Mengasihi dengan tulus. Kamu tidak boleh pilih kasih. Kamu harus perlakukan jemaat sama. Tanpa kondisi apapun. Kalau bezuk, dulu saya pakai sepeda. Bezuk Tante Sip dulu. Tante Sip adalah jemaat yang paling miskin. Tante Sip, ibu Emi sana bezuk. Sebelahnya, tante Siang Gie bezuk, sebelahnya Acan Soh, bezuk. Terus jalan ke sini, terus sampai di kulon.

Tapi yang selalu diingat itu tante Sip, bezuk dulu dia. Selalu dia. Zus Enok yang di Bojong Meron. Semua. Lihat yang susah-susah, bezuk dan harus tulus, tidak boleh ada maunya. Kalau tengok orang harus tulus. Dan ketulusan itu saya lihat dari ibu saya. Belajar mengasihi. Mengasihi.  Menolong dengan mengasihi, dengan penuh ketulusan.

Ada satu ibu di Jakarta, jemaat kami. Hampir setiap minggu, dia siapkan 400 nasi bungkus, tiap minggu. Dia bawa ke gereja. Dia kasih makan semua orang-orang. Tanpa kondisi harus kristen, nggak. Islam, kristen, penjahat, tukang garong, pencopet, silakan makan. Itu kasih tanpa kondisi.

Saya baru mengajarkan kasih, sedikit saja, di murid kelas dua. Bahwa kasih itu bukan hanya lima, bukan hanya lima macam kasih - kasih Allah, kasih persaudaraan, hawa nafsu, mencintai diri sendiri, dan kasih di antara kaum keluarga. Ada kasih yang kita tidak mengerti. Kasihnya Daud kepada Yonatan, bukan homoseks. Tapi Daud mengasihi Yonatan. Sampai di katakan dalam alkitab, Daud mengasihi Yonatan lebih dari kasih seorang wanita. Kasih apa ini? Tidak tahu. Waktu Maria kedapatan hamil oleh Roh Kudus, Yusuf tetap mau menikahi dia. Kasih apa itu? Kasih Kristus? Yesus belum lahir. Kita tidak mengerti.

Ada dua macam kasih yang lain lagi. Saya tidak bisa cerita di sini. Tapi kasih itu dasarnya murni tanpa kondisi, tanpa kondisi. Ini wawancara televisi, saudaraku, dengan bantuan dari Amerika dan Australia. Apa kondisinya kami dapat bantuan? Tidak ada kondisi, silakan saja terima bantuan kami. Tanpa kondisi. Umpamanya saudara pinjam uang ke bank. Kondisinya apa ini kembalikan? Kembalikan saja. Pakai bunga nggak? Nggak, nggak usah pakai bunga. Kapan saya kembalikan? Kapan saja. Bukankah kita semua pada pinjam uang, karena nggak ada kondisinya. Bayar kapan saja, tanpa bunga, seenaknya. Ini yang dikatakan tanpa kondisi.

Lihat Yesus. Dikhianati sama Yudas. Dia bilang, sahabat-Ku. Diludahin sama pelacur, ditarik jenggotnya, dipasangkan duri, mahkota duri - Dia tetap mengasihi kita! Itu yang disebut mengasihi tanpa kondisi.

Dan yang terakhir, yang keenam, nasehat ibu saya adalah tidak boleh putus asa. Jangan putus asa. Peribahasa bilang, putus asa adalah dosa. Tidak ada ayatnya, tetapi jangan putus asa. Tetap, terus maju, jangan putus asa. Thomas Alpha Edison, penemu radio, dia gagal sepuluh ribu kali. Sepuluh ribu kali dia gagal dalam percobaannya. Tapi setelah itu dia berhasil. Coba kalau waktu dia seratus kali dia coba, dia putus asa - tidak ada radio sekarang. Tetapi dia terus persistent, terus, tidak ada putus asanya. Dia berusaha terus.

Saya baru tanda tangan satu prasasti gereja yang digembalakan oleh eks Cianjur angkatan pertama, baru kelas satu. Dia bilang, oom, ini gereja, ketiga kali saya baru berhasil. Yang pertama kali diunjuk rasa oleh rakyat. Pindah tempat, bikin lagi, unjuk rasa lagi, tidak boleh. Tapi ini yang ketiga, berhasil. Coba kalau dia putus asa. Baru pertama kali dia sudah putus asa, tidak akan dia punya gereja. Tapi dia terus, terus, terus.

Saya mau tutup dengan satu ilustrasi. Waktu Napoleon Bonaparte dikurung oleh tentara Inggris di Waterloo. Peperangan besar. Dia sedang di gua. Dia mau mencoba bunuh diri karena dia sudah putus asa. Tentaranya banyak mati, dikurung oleh Inggris.

Waktu dia ngelamun pagi-pagi, belum makan, belum apa. Cahaya matahari masuk ke gua, dia lihat ada laba-laba. Laba-laba mau bikin jaring. Laba-laba itu lompat ke satu batu, tidak sampai. Berayun-ayun lagi, hampir sampai, tapi belum sampai. Berayun-ayun lagi. Akhirnya berhasil.

Napoleon saat itu sudah dua kali mau putuskan barikadenya tentara Inggris. Gagal. Dua kali. Dia mau bunuh diri. Serang di tempat yang sama. Inggris tidak menyangka karena mereka tahu Napoleon sudah kalah, dua kali berturut-turut. Nggak mungkin nyerang lagi. Dia bisa nembus barikade.

Saudara-saudara, jangan putus asa. Apa yang sedang saudara hadapi, jangan saudara kecil hati. Tuhan bersama dengan saudara. Mari kita berdiri bersama-sama.

-- o --

Minggu pagi, 05 Juni 2005

KEMBALI KE JALAN TUHAN

Di dalam sejarah Alkitab, ada yang mengiring Tuhan sampai harus menderita dengan berbagai-bagai aniaya, ada yang mengiring Tuhan harus mati oleh karena imannya kepada Tuhan. Kalau kita baca dalam Ibrani 11, di sana kita membaca banyak hal yang telah terjadi kepada orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Ibrani

11:35 Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik.
11:36 Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan.
11:37 Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan.
11:38 Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung.
11:39 Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.
11:40 Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.

Kalau kita membaca ini, sangatlah mengerikan bagaimana orang-orang kristen zaman dulu mempertahankan iman mereka. Ada satu hal yang saya tidak bisa temukan, yaitu yang digergaji. Itu saya belum temukan di mana orang yang digergaji itu. Tapi pernah terjadi orang kristen itu sampai digergaji hidup-hidup oleh karena imannya kepada Tuhan. Di dalam ayatnya yang ke-23 

11:23 Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja.
11:24 Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun,
11:25 karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.
11:26 Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.
11:27 Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.

Kalau saudara perhatikan ayat yang ke-25,

11:25 karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.

Bahasa Inggris, dari pada menikmati kesukaan kesenangan dari dosa yang akan lenyap. Itu yang tadi saya katakan orang-orang kristen yang bertahan yang setia dengan menolak dunia, dengan menolak kesenangan dosa yang akan lewat. Jadi semua kesenangan dosa itu akan lewat. Tentu kita bertanya, yang dimaksud dengan kesenangan dosa itu apa? Alkitab menulis ada 3 hal. Kita buka I Yohanes 2, kita membaca ada 3 kesenangan dari daging, kesenangan dari dunia, kesenangan dari dosa. 1 Yohanes

2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Bayangkan, nabi Musa dan tokoh-tokoh Alkitab semua meninggalkan 3 hal ini. Keinginan daging. Bahasa Inggris bukan kata keinginan, nafsu - the lust of the flesh, nafsu daging.

Tidak bisa disangkal berapa banyak jemaat kita di Cianjur ini tidak lagi kebaktian, ... jatuh dalam keinginan atau hawa nafsu daging. Ada kaum muda yang sudah pimpin pujian. Orangnya baik, saya senang sekali sama dia, satu pemuda ini. Sekarang tidak lagi kebaktian, sudah menikah dengan orang islam. Orangnya baik, dia kapasitas untuk maju, punya keinginan untuk maju tapi jatuhnya di sini, dari keinginan daging. Apa nggak ada kaum pemudi kristen yang bisa menjadi pasangan hidup? Saya yakin ada. Saya yakin banyak.     

Karena keinginan daging ini, keinginan dunia, keinginan sombong hidup - Yesus itu ditinggalkan. Sudah penuh Roh Kudus lagi, sudah dibaptis penuh Roh Kudus, masih jatuh oleh keinginan daging. Maka pada kebaktian hari rabu saya kasih pelajaran alkitab bahwa kejatuhan di akhir zaman adalah kejatuhan karena seks. Orang-orang kristen tidak lagi berjalan dengan Tuhan karena jatuh dalam soal seks. Karena naga dalam kitab Wahyu 12 itu, ekornya menarik 1/3 bintang di langit. Dan kelamin naga itu ada pada bagian ekornya.

Jadi kejatuhan di akhir zaman adalah kejatuhan karena seks. Tiga orang kristen, satu kebawa. Tiga pendeta, satu kebawa. Tiga ribu jemaat, seribu gugur. Bayangkan ini.

Nah, kalau kita punya jemaat cuma tiga orang, jadilah yang dua, jangan yang satu, yang terseret ini. Banyak yang jatuh dari soal seks karena ada yang memang belum tahu. Tapi ini sudah tahu sudah penuh dengan Roh Kudus, sudah bisa bawa persepuluhan. Nggak A, nggak B, nggak tahu, nggak ada permisinya, tahu-tahu hilang saja, kemana? Sudah menikah. Dengan siapa? Islam.

Ada satu bapa kalau doa malam sampai nangis-nangis mendoain anaknya supaya kembali ke kebaktian. Sampai saya nasehati. Karena dia tahu anaknya itu kalau terus begitu, nggak akan selamat, akan masuk neraka. Inilah yang disebut the lust of the flesh, keinginan atau hawa nafsu daging.

Ada yang bangga jadi istri kedua. Padahal dia bisa menikah baik-baik dengan seorang kristen yang baik, punya nama baik, terhormat. Tapi dia menjadi lebih senang jadi istri kedua. Dan sekarang saudara, godaan sekarang kalau saudara lihat di televisi banyak dukun cabul, dukunnya kumisnya nggak ada, giginya tinggal tiga, matanya melotot ... sebelah picek, rambutnya gondrong ... di belakangnya botak - sekarang nggak gitu. Ganteng-ganteng loh sekarang. Pria-pria sekarang ganteng-ganteng.

Di Manado ada gereja GEMIM, Gereja Masehi Injil Minahasa. Tapi dipelesetkan itu oleh agama lain ... gerakan menghamili atau dihamili. Dia muslim laki-laki, menghamili orang kristen yang perempuan. Perempuannya muslim dihamili, serahkan dirinya untuk laki-laki supaya iman kristen itu gugur. Betapa bahayanya ini.

Kita akan bicara di sini saja untuk melihat seperti apa akibatnya. Tuhan itu Mahakasih dan Dia juga Mahabenar, Mahasuci. Kalau sampai sekarang Dia belum berbuat apa-apa, itu adalah kemurahan Tuhan. Dan lekas kembali kepada jalan Tuhan supaya jangan saudara kena kepada hal yang lebih berat lagi. II Petrus

2:18 Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak - Ini keangkuhan hidup - dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul - Dan inilah yang disebutkan hawa nafsu daging - untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan.

Jadi jiwa-jiwa baru, orang yang baru lepas, kaum muda, kaum remaja, baru kenal kebenaran, baru berjalan 5 tahun 10 tahun ikut Yesus - ini yang dicari oleh dunia. Melalui ilmu hukum cabul ini. Dijuallah VCD porno di pinggir jalan harganya 4.000. VCDnya pak Awondatu mah mahal, 50 ribu satu, ini mah VCD porno 4.000. Dibeli orang, ditonton anak-anak. Hancurlah satu generasi.   

Satu ahli sosio-ekonomi dari Jakarta bilang, genarasi Indonesia hilang, satu generasi itu lenyap tidak ada artinya oleh karena narkoba dan kerusakan moral. II Petrus  

2:19 Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu.

Kalau kita dikalahkan Amerika, kita ini hamba Amerika. Kita ini hamba Amerika - orang lebih kenal dolar dari pada rupiah. Uang kita itu bagaimana dolar. Berapa kurs dolar sekarang? Kita ini dijajah Amerika. Kita dijajah Jepang karena mobil kita nggak ada mobil merk Udin, merk Abas, merk Samsudin - nggak ada! Semua Toyota, Honda, Suzuki, Kawasaki. Kita ini dijajah Jepang, saudara. Dari televisi buatan Jepang, sandalpun sandal Jepang.

Coba saudara, kenapa kita nggak pakai bakiak? Padahal bakiak ini adalah saudaraku, pakaian nasional. Coba saudara jalan-jalan pakai bakiak. Pasti diketawaian, dianggap orang gila. Kalau saudara pakai bakiak di Jepang, itu dihormat karena orang Jepang pakai bakiak. Jalan itu pakai bakiak. Kalau sekarang di sini, kita niru-niru Barat, pusar dikasih lihat. Kita dijajah. Budayanya dijajah, ekonominya dijajah. Makanannyapun dijajah. Musti pakai Ajinomoto. Dulu mah nggak ada Ajinomoto, saudara.  

Nah, kalau kita berzinah, itu dijajah oleh roh zinah. Kalau kita dikuasai oleh seks, kita dijajah oleh keinginan sama seks. Kalau kita senang minuman keras, kita dijajah oleh minuman keras. Kalau kita senang dengan hidup mewah, kita dijajah saudaraku oleh kemewahan, oleh dunia ini. II Petrus

2:20 Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, - Surat Petrus ini bukan untuk orang dunia - untuk orang kristen! - Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.
2:21 Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.
2:22 Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."         

Orang yang sudah kenal kebenaran lalu kembali kepada dosa, sama dengan anjing kembali menjilat muntahnya. Kalau kita lihat anjing menjilat muntah kita nggak jijik tapi kalau saya cerita tadi orang yang makan muntahnya sendiri lagi, hiii ... padahal itu dari dalam perut kita sendiri. Seperti itulah orang kristen yang sudah tahu kebenaran tapi kembali kepada kejahatannya. 

Dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.           

Di Inggris ada seorang pelatih sirkus melatih babi dari kecil. Babi ini babi betina, dia dilatih dari kecil. Disikat dibersihkan pakai minyak wangi sampai dilatih babi ini bisa berdiri, saudara. Dan waktu babi ini berdiri, dia bisa dengan dua kaki depannya, ditaruh baki dia jalan. Setelah satu bulan dilatih, dia dilatih setelah pegang baki di atasnya, ditaruh dua tiga cangkir kopi. Dia bisa jalan dengan keseimbangan sampai dia disayang sekali sama tuannya.

Satu kali ada pesta ulang tahun tuannya, dia undang tetangga-tetangga, kenalan-kenalannya termasuk pejabat pemerintah. Setelah makan malam, sudah mau minum kopi: Saya mau show kepada bapa ibu, saya punya babi kecil betina yang bisa berjalan. Coba keluarkan. Orang ketawa karena babi itu dikasih pita, dikasih rok. Dia jalan saudaraku dengan tiga mangkok air kopi. Orang tepuk tangan. Tapi karena ini pesta taman, di dekat taman itu ada sungai kecil. Babi itu begitu lihat sungai kecil ini, dia lempar itu semua, dia langsung ke sungai ini dan dia berguling-guling.

Banyak orang kristen belum jadi orang kristen yang sebenarnya - dia sudah ke gereja, dia udah dibaptis, dia sudah penuh Roh Kudus tapi dia belum jadi orang kristen yang sebenarnya. Dia baru dilatih jadi orang kristen. Saya pakai contoh sekolah alkitab. Orang yang sekolah alkitab belum jadi hamba Tuhan yang sebetulnya; mereka baru dilatih sebagai hamba Tuhan. Bahkan menjadi hamba Tuhan sebetulnya harus dari dalam ke luar.

Babi bisa dilatih sebagai manusia tapi dia tetap babi. Dia dikasih pita, dia dikasih rok, untuk jalan sebagai manusia tapi dia tetap babi. Kita pakai baju gambarnya babi, kita tetap manusia. Kita makan daging babi, kita tetap manusia. Kita marah orang, kita pakai istilah ... bapao lu, tetap kita manusia. Lain babi bergerak sebagai manusia, dia tetap babi.

Kalau orang kristen dibabi-babi juga tetap dia kristen. Dia di tempat lumpur, dia tetap kristen. Kalau orang babi, itu biar dia ke gereja juga, keluar dari gereja, dia ke lumpur lagi.

Apa beda babi dengan domba? Kalau babi kena lumpur, dia berguling-guling di lumpur ... senang. Kalau domba kena lumpur dia mengembik, dia cari air, dia cuci badannya sampai bersih.

Ada dua macam kristen, kristen domba dan kristen babi. Kalau kristen babi kena salah sedikit, dia menyesal, datang kepada Tuhan minta ampun, minta cuci dengan darah Yesus. Minta ampun, nangis menyesal. Menyesalnya seperti kiamat. Aduh Tuhan, saya sudah berdosa. Tapi kalau sudah mental babi, dia berdosa berkali-kali berguling-guling dalam dosa, dia tidak kapok-kapok karena memang mentalnya sudah jadi babi.

Maka benar peribahasa ini, orang kristen yang sudah tahu kebenaran tapi kembali lagi kepada jalan yang lama, dia seperti peribahasa, anjing kembali lagi ke muntahnya dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangan.

Ada satu ayat terpendek kedua di Alkitab. Ingat nggak istri Lot? Badannya sudah keluar dari Sodom Gomora, dia malah nengok lagi ke belakang. Itu salah satu syaratnya, kamu jangan nengok lagi ke belakang, terus ke depan, lihat saja itu gunung Zoar - ke sanalah kamu berlari. Suaminya sudah, dua anak perempuannya sudah. Dia perempuan ini, ibu, dia nengok ke belakang. Waktu dia nengok ke belakang, dia jadi tiang garam.

Memang sekarang belum ada orang kristen yang nengok ke belakang, jadi orang dunia lagi jadi tiang garam. Tapi jadi tiang terasi. Bau. Perbuatannya tercium di seluruh kota. Seluruh kota tahu. Orang ngomongin.

Apa kata Tuhan Yesus? Kalau kebenaran kita tidak lebih dari kebenaran orang Parisi, kita belum bisa benar. Karena orang Parisi itu dia hidup benar. Puasa 2 kali satu minggu. Alkitab dibawa-bawa. Kalau berdoa bisa goyang-goyang.

Lebih baik saudara jadi jemaat biasa, sederhana, tapi jaga kesucian, hidup benar dari pada menonjol tapi bobol terus saudara punya gawang.

Coba saudara perhatikan di televisi. Kabar Kabari, Kasak Kusuk, Cek & Ricek. Semuanya cerita apa? Perselingkuhan, perceraian. Banyak tokoh-tokoh kristen, gadis-gadis cantik kristen, masuk jadi islam muslim, karena apa? Untuk ketenaran.         

Satu kali saya ke Israel. Ada haji ikut. Kan kerok saudara, 20 lebih kristen ikut saya, ini haji suami istri. Cemberut saja. Sampai di Abu Dhabi cemberut. Tapi di Israel cemberut dia agak lain cemberutnya. Tapi karena saya pemimpin tour, saya cerita lucu-lucu. Istrinya orang Manado, kristen masuk islam. Saya cerita-cerita lucu, itu pak Haji, Haji Z., dia punya hotel C., dia ketawa. Terus selama 10 hari itu ketawa terus. Sampai kalau sudah naik bus, dia pak Haji sudah nengok sama saya, pak Awondatu coba cerita lagi yang lucu-lucu.

Istrinya ngomong: Pak, suami saya sudah 1 tahun nggak bisa ketawa. Akhirnya baru saya tahu, dia menyelundupkan senjata-senjata dari Khmer Merah untuk pemberontak. Dia bilang, saya ini ..., pak pendeta, nanti pak pendeta kalau mau ke hotel ... itu saya punya. Tidur di situ pak, bapak tidak usah bayar. Berapa lamapun tidak usah bayar. Makan saya tanggung. Tapi cuma bapak; kalau bapak bawa teman, teman bapak musti bayar.

Maka waktu Tsunami, saya kirim sms, saya kirim teman saya, tanya: Coba tolong cari itu hotel, cari ini haji, ... nggak ada saudara. Nggak ada. Sampai sekarang saya tidak ketemu. Tapi ketika sampai Bethlehem, suami istri ini: Pak, kami orang muslim boleh nggak lihat gereja Bethlehem? Oh, boleh silahkan kalau mau masuk. Begitu masuk, lihat tempat Yesus lahir, keluar, suami istri itu menangis. Istrinya saya yakin terpukul oleh Roh Kudus. Dia menangis. Dia baru lihat kebesaran agama kristen itu di situ.

Suaminya Haji, nangis juga di situ. Kita nggak suruh nangis, dia nangis sendiri. Saudara, kalau seorang Haji menangis melihat tempat Juru Selamat kita dilahirkan, masa kita yang sudah kristen mundur mengikuti mereka, seagama sama mereka.

Tuhan kita sama Tuhan mereka itu beda. Untuk supaya saudara tahu, Tuhan kita sama Tuhan mereka itu beda. Kalau Tuhannya sama, masa mereka benci sama kita, Tuhannya sama, kok. Kenapa musti benci, kenapa gereja musti dibakar kalau Tuhannya sama? Kalau Tuhannya sama, saudara, kenapa orang kristen disebut kafir, kalau Tuhannya sama kenapa 700 gereja di Indonesia dibakar, kalau Tuhannya sama kenapa mereka benci kita, kenapa mereka membunuhi orang-orang kristen? Kalau Tuhannya sama.

Sorry, Tuhan kita beda. Tuhan kita penuh kasih. Bukan hanya dalam teori tapi dalam praktek. Bedanya apa agama kristen sama agama mereka? Mereka itu ngajarin gini, bapa-bapa mereka mengajarin anak-anaknya bagaimana membunuh orang kristen dengan taruh bom di badannya. Kalau kalau mati - umur 14 tahun, 15 tahun, perempuan. Membawa bom, diledakkan. Kalau kamu bisa bunuh orang kristen dan orang Yahudi, kamu masuk surga. Si anak-anaknya dididik untuk mati demi allah.

Kalau kita lain. Allah mengirimkan Yesus Anak-Nya, untuk mati bagi kita! Mana saudara mau pilih? Anak kita mati demi tuhan atau Anak Tuhan mati bagi kita? Terserah saudara mau pilih yang mana. Kalau saya pilih Tuhan kirim Anak-Nya yang tunggal, Dia mati bagi saya supaya saya yang berdosa diampuni. Kerjakanlah keselamatan itu.

Kalau ada di antara saudara sekarang sedang ada pada tempat yang salah di waktu yang salah dengan cara yang salah dan cara berpikir yang salah, lekas kembali, ya. Ini saya sudah khotbah sekarang dan saya tidak akan khotbah lagi, lekas kembali sama Tuhan, lekas minta ampun sama Tuhan, tinggalkan orang-orang itu. Kalau saudara dipelihara jadi istri kedua, tinggalkan, tinggalkan, kembali sama Tuhan di dalam Tuhan masih ada. Kalau saudara punya kekasih gelap, juga tinggalkan putuskan. Kembali pada Tuhan dan tangan Tuhan terbuka, Dia mau mengampuni. Kalau tidak, saudara tanggung sendiri.

Karena saya sudah melepaskan firman Tuhan ini, tanggung jawab bukan sama saya lagi tapi bagi orang yang mendengar. Tapi bagaimanakah bagi kita yang tidak berbuat demikian? Matius        

24:12 Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.
24:13 Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Kalau saudara tahan dalam masa kedurhakaan - orang lain durhaka kepada orang tua, saudara tidak. Orang lain tidak tunduk sama suami, saudara tunduk. Orang lain kasar sama istri, saudara tidak. Orang lain berzinah, saudara tidak. Orang lain narkoba, saudara tidak. Orang lain judi, saudara tidak. Nanti, aduh saudara, kita nggak bisa bayangkan itu berkat pahalanya Tuhan bagi yang setia itu. Kita nggak bisa bayangkan dari pada kenikmatan dosa yang akan lewat, kenikmatan 5 menit-10 menit yang akan lewat yang memalukan. Masyarakat saja mengutuk apalagi Tuhan, masa kita mau begitu? Sudah, lepaskan, tinggalkan. Kembali kepada tangan-Nya Tuhan yang penuh kasih sayang.  

Saya mau tutup dengan satu kesaksian.

Dulu ada satu ibu punya anak gadis. Anak gadis ini ambisinya keras, ingin keangkuhan hidup, hidup dengan jemawa. Bayangkan ini kejadian 20 tahun lalu, sekitar tahun 85. Gadis ini ingin kerja yang cepat menghasilkan uang. Akhirnya dia bekerja yang gaji satu malam itu 150.000.

Rp 150.000 ... dua puluh tahun yang lalu berapa besar. Ibunya tidak tahu. Sampai karena ibunya suka berdoa dia mulai tahu bahwa anaknya ini kerjanya aneh. Pagi dia diam di rumah terima-terima telepon. Sore dia mulai dandan, malam dia keluar. Pulang jam 10 jam 12, bawa uang 150.000 buat mama. Nah, 150.000 satu hari gaji sekarang di mana saudara. Jadi satu bulan 4.500.000 - 20 tahun yang lalu.

Akhirnya ketahuanlah dia bahwa dia menjadi seorang gadis panggilan. Beberapa hari kemudian dia hilang tidak ada berita, dia tidak kembali ke rumah. Panggillah mamanya ini pendetanya, kebetulan pendetanya pendeta GPdI, saya kenal dari daerah Banten. Pendeta ini bikin bedston di rumahnya. Kira-kira ada 50 orang jemaat ikut bedston, khusus mendoakan anak ini.

Waktu anak ini didoakan, yang paling hancur hati adalah ibunya karena sudah berapa minggu nggak pulang-pulang. Tuhan di mana anak saya ini. Tolong, selamatkan dia, Tuhan. Kalau dia mati, Tuhan tolong kasih lihat mayatnya. Kalau dia masih hidup, Tuhan tolong. Gembala semua jemaat berdoa.

Satu jam berdoa, terjadi di satu hotel di Ancol, katanya. Ini gadis lagi dandan. Sementara dia dandan, dari depan kaca itu ada suara: Pulang. Dia kaget, lihat kiri kanan tidak ada orang. Dia dandan terus dan dia turun naik lift. Di dalam lift dia dengar suara itu lebih keras kedua kalinya: Pulang. Kaget, merinding. Kok, dua kali disuruh pulang. Tapi ketika turun, taksi yang menjemputnya sudah disiapkan, dia duduk bagian belakang. Ketika dia masuk ke taksi itu mau duduk, di taksi itu suara itu lebih keras lagi: PULANG! Supir taksi tidak dengar. Dia tidak tahan lagi, dia menangis. Taksi, ke alamat ini, jalan ini. Aduh, nona sudah ditunggu di sana, saya disuruh jemput. Tidak, belok.

Udah sampai ke rumahnya, dia pukul-pukul itu pintu: Mama, mama ... berpeluklah anak dan ibu. Menangis. Mama, saya sudah berdosa sama mama, ... ampunilah dosa-dosa saya. Semua jemaat ikut menangis. Karena keadaan itu tampaknya keadaan yang sangat kudus, yang sangat suci - anak kembali sama ibu.

Saya mewakili suara yang ada di kaca, yang ada di lift, yang ada di taksi, kepada saudara: Pulanglah ... Pulanglah ... Bapa menunggu. Tuhan masih buka tangan ... Tunggu kau Pulang.

Kita berdiri bersama-sama.    

-- o --

Minggu pagi, 26 Juni 2005

JADILAH SEPERTI BINTANG DI LANGIT

Selamat pagi, selamat bertemu berbakti lagi dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Matius

25:1 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
25:7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Pada cerita ini, saudara-saudara, ini adalah ungkapan Yesus untuk menerangkan seperti apa Kerajaan Surga itu. Dia umpamakan dengan lima gadis yang bodoh dan lima gadis yang bijak. Perhatikanlah kata bodoh dan bijak. Sepuluh-sepuluh ini bukanlah mempelai, tapi pengiring mempelai. Mempelainya itu gereja Tuhan. Tapi sepuluh ini adalah pengiring mempelai. Yang lima ini bodoh, yang lima bijak. Sepuluh-sepuluhnya bawa pelita.

Jadi kalau saudara lihat dari luar, seragamnya sama, bajunya putih, memegang semua sepuluh pelita. Sama bagian luarnya. Pada waktu malam - ini juga aneh. Saya ulangi, pada waktu malam, anehnya ini, pengantinnya ini datang jam dua belas malam, tengah malam. Ini ketiduran, sepuluh-sepuluhnya ini ketiduran.

Jadi nggak pandai, nggak bijak, nggak bodoh, tidur semua. Lalu ada yang berteriak; dia katakan, mempelai datang, songsonglah dia. Tadi malam saya nonton satu film televisi, bagaimana di Tiongkok sekarang dicarilah orang-orang tua ke desa-desa, mencari orang yang zaman dulu, waktu dulu, dia suka menjajakan makanan, menjajakan dagangan dengan berteriak. Kalau dia mau jual bakpao: Bakpao! Termasuk ronda malam. Ronda malam kalau sudah jam dua belas, dia pukul kentongannya: Jam dua belas malam. Itu di Beijing. Sekarang sedang dibikin kejuaraannya. Orang yang jual, gadis-gadis yang jual bakpao, yang jual makanan, siomay, semuanya berteriak. Karena zaman dulu belum ada loudspeaker. Jadi mereka berteriak. Siapa yang paling antik, yang paling klasik, itu juara.

Jadi saudara ingat, ini cerita 2.000 tahun yang lalu. Belum ada loudspeaker. Jadi orang ini cukup keras dia berkata, mempelai datang, songsonglah dia. Jadi ini saatnya bukan Tuhan datang sama kita tapi kita datang sama Tuhan. Kita yang menyongsong Tuhan. Lalu saudara-saudara, nggak bodoh, nggak bijak, bangun semuanya. Begitu bangun, nah di sinilah baru kelihatan, yang  bijak dan yang bodoh.

Itu yang bijak, begitu nyalakan pelita, nyala semua. Karena ada minyak. Minyak itu ditaruh pada buli-buli. Yang bodoh, dia nyalakan pelita, dia tidak nyala. Kenapa? Kosong. Perhatikan. Jadi, orang kristen itu tidak dilihat dari luar. Kalau dilihat dari luar, semua pakai salib, pakai kalung salib. Dilihat dari luar, pakai anting salib. Bawa alkitab ke gereja, nyanyinya sama, gerejanya sama. Tapi Tuhan nggak lihat itu. Tuhan lihat di dalam kita ada isinya apa tidak.

Kebodohan itu, saudaraku, adalah satu dosa. Kalau kita baca Markus pasal 7, termasuk salah satu dosa itu kalau bodoh. Dikasih tahu satu kali, dia lupa ... masih manusiawi. Dikasih  tahu dua kali, lupa lagi, masih manusiawi. Tapi kalau sudah dikasih tahu berkali-kali, masih lupa, nah itu mah bodoh.

Jadi kalau kita lihat, saudara-saudara, dalam cerita tadi, yang banyak omong itu justru yang bodoh. Kita baca ayatnya yang ke 8. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana. Dia banyak omong. Kalau saudara baca ayatnya yang ke 11, Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Dia juga bicara, banyak bicara. Tapi orang Manado bilang, nyanda ada isi, kosong. Peribahasa Indonesia bilang, tong kosong berbunyi nyaring. Sampai bahasa Amerika bilang, truk yang kosong itu ribut, karena tidak ada isi.

Biasanya orang kristen yang banyak teori, banyak omong, banyak cerita, banyak ngalor ngidul, banyak cerita, itu kosong. Biasanya yang diam-diam, yang diam tapi setia, nggak banyak bicara, itu ada isinya. Peribahasa yang saya baru baca, peribahasa Latin berkata, air yang jalannya rata ... itu dalam tapi sungai yang beriak-riak itu cetek. Jadi kalau air yang jalannya rata, tenang, itu dalam. Tapi seperti saya katakan tadi, perhatikanlah yang bodoh dan yang bijak. Di dalam Matius pasalnya yang ke 7, di sana kita lihat lagi ada yang bodoh dan yang bijak. Matius

7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Di sini kita perhatikan lagi dua kata, bodoh dan bijak. Kalau dalam Matius 25, yang disebut dulu orang bodoh. Tapi di sini yang bijak. Orang bijak itu kalau dengar firman Tuhan, dia melakukannya. Itu yang bijak. Bukan cuma dengar, bukan cuma catat tapi melakukan. Sudah banyak orang kristen, dengar firman Tuhan, catat firman Tuhan, tapi dia nggak pernah lakukan. Itu orang bodoh. Bukan saya yang bilang - Yesus. Seperti apa? Dia seperti orang yang membangun rumah di atas batu. Bahasa Inggris rock, batu karang yang kuat, yang kokoh. 

Mari saya kasih ilustrasi bahwa dua orang ini sahabat karib. Dari kecil dia sama-sama. Ayo, kita bangun rumah, kita bikin rumah sama ya. Oke, sama. Aku di daerah sana, kamu di daerah mana pokoknya kita sama bikin. Tapi yang satu nggak mau pakai fondasi terlalu mahal.  

Kalau ini atap rumah, hujan itu menghantam atap. Angin bertiup, dia menghantam dinding. Dua-dua masih kuat untuk berdiri. Air menghantam atap, itu percobaan kepada tubuh, kepada kita. Angin menghantam dinding, itu percobaan menghantam jiwa kita. Tapi banjir melanda saudara, ketika banjir melanda, yang bijak punya rumah tetap berdiri. Tidak pernah roboh. Tapi yang bodoh punya rumah, roboh. Sangat besar kerusakannya.

Bijak dan bodoh. Yang bodoh, fondasi mah fondasi, nggak pakai batu. Fondasi ini cukup penting. Yang bodoh ini nggak ada fondasi. Fondasinya ada tapi kosong. Maka kita mulai dari yang bodoh. Pasir, saudara-saudara, saya selalu ingat apa kata Tuhan kepada Abraham: Hai Abraham, keturunanmu akan seperti bintang di langit dan pasir di pinggir pantai. Bintang di langit nggak bisa dihitung, pasir di pantai nggak bisa dihitung. Tapi tempatnya beda. Satu di langit, satu di bumi.

Saya tidak mau jadi pasir di pinggir pantai. Begini, Yahudi, Israel, itu turunan Abraham. Tapi Arab juga turunan Abraham. Agama Yahudi turunan Abraham. Agama kristen menganggap Abraham, bapa segala orang beriman. Tapi orang islam juga turunan Abraham. Tapi beda. Satu di langit, satu di lautan.

Gereja juga ada dua macam. Jemaat juga, jemaat yang kaum bintang, jemaat yang kaum pasir. Kena angin sedikit letoy, kena banjir sedikit letoy, kena banjir sedikit rusak. Tersinggung sedikit mundur. Ini yang berlandaskan pasir. Tapi yang berlandaskan batu karang, dia kokoh, dia kuat, dia tidak goyah. Kita lihat ya, yang bijak ini seperti apa. Di dalam Kitab Daniel 

12:2 Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah - maksudnya mati -, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal - bintang -, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal - pasir -.
12:3 Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala - langit -, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

Bisa bilang amin? Dia tetap untuk selama-lamanya. Orang yang bijak seperti bintang-bintang. Orang yang membawa orang kepada Tuhan. Berapa jiwa saudara sudah bawa kepada Kristus? Berapa orang saudara sudah ajak kepada Kristus? Kalau saudara nggak pernah memikir sedikitpun ingin ngajak teman, ingin ngajak orang yang belum kenal sama Tuhan kepada Kristus, kita bukan kaum bintang-bintang.

Orang yang kaum bintang selalu ingin mengajak orang lain datang kepada Tuhan, ingin membawa seseorang datang kepada Tuhan, ingin membawa seseorang kenal kepada kebenaran. Itulah yang bercahaya seperti cakrawala. Itulah yang akan menjadi seperti bintang-bintang. Haleluyah. Dalam Filipi 

2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

Tahu nggak saudara, saudara itu lebih hebat dari bintang film. Saudara lebih hebat dari bintang-bintang film Hollywood. Dia mah cuma bintang di film, saudara mah bintang di dunia, bintang di atas cakrawala. Asal kita mau mengajak seseorang datang kepada Tuhan.

Ada keuntungan yang besar kalau kita ada di dalam Tuhan. Tidak maukah saudara-saudaraku berbagi kepada orang lain. Aduh, untungnya di dalam Tuhan. Saya ingin menolong orang banyak, tapi yang mau ditolongnya malas kebaktian, kebaktiannya malas, tidak suka bedston, bagaimana saya mau tolong?

Demikian juga dengan Tuhan. Tuhan itu mau nolong sama kita. Tapi Dia lihat kita, minyak saja kita nggak sedia. Bawa buli-buli, tapi nggak ada minyak. Bikin rumah tapi nggak ada fondasi. Bagaimana kamu bisa kuat kalau percobaan datang? Orang bijak seperti bintang. Nah, kita mau lihat dengan orang bodohnya. Lukas pasal 12, kita lihat ada orang bodoh yang disebut oleh Tuhan. Dan kalau kita disebut oleh Tuhan bodoh, bukan Tuhan marah. Tetapi Dia katakan ayat ini. Lukas

12:13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku."
12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?"
12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

Saya ngeri lihat orang kristen yang kalau cari uang sudah nggak ingat waktu. Tapi kalau cari Tuhan nggak ada waktu. Saya ngeri. Bodoh. Kalau cari duit, nggak ingat waktu. Kalau cari Tuhan, nggak ada waktu. 

Tapi pada pagi hari ini, saya harap saudara adalah ada isi, ada fondasi, ada minyak, ada di cakrawala. Orang yang bisa memimpin orang Majus ketemu Yesus. Bintang itu kan memimpin orang Majus ketemu Yesus. Kita adalah bintang-bintang, bisa memimpin orang lain. Kita akan masuk perjamuan kudus. Para pelayan maju ke depan.

-- o --   

_________________________ 

 (Kembali ke Halaman Utama)

  _________________________