Khotbah Minggu Pagi November - Desember 2006

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu pagi, 12 November 2006

PERAHU

Matius  

8:23 Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya.
8:24 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.
8:25 Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa."
8:26 Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.
8:27 Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Danau yang dimaksud adalah danau Tiberias yang berukuran 28x11 kilometer. Waktu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya, itu didalam Injil Markus disebutkan Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk pergi ke seberang. Marilah kita bertolak ke seberang. Injil Matius hanya menulis inti dari cerita. Yang kita sedang baca adalah inti dari cerita Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikutinya.

Di dalam gereja kita, kita percaya bahwa perahu adalah lambang dari gereja. Kita mempunyai lagu  Berlayar ke sorga ... Mari naik kapal ... Tuhan Jurumudi. Ada lagi  Naik perahu bersama Yesus ... Menuju ke seb'rang ... Walau banyak rintangan ... Hatiku tenang.

Perahu digambarkan sebagai satu gereja. Waktu Yesus naik ke dalam perahu, itu gambaran Yesus naik ... masuk di dalam hati dan hidup kita. Dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. Di mana Yesus pergi, murid-murid-Nya harus mengikut. Di mana Yesus berjalan, kita sebagai umat-Nya harus mengikuti-Nya. Yesus ke Taman Getsemani, seorang murid Tuhan harus mengikuti-Nya.

Saudara, ada seorang hamba Tuhan sedang berdoa dan dia melihat penglihatan Yesus masuk Taman Getsemani. Dia tidak berbicara, Dia hanya menggerakkan tangannya seolah-olah mengajak hamba Tuhan ini mengikuti Dia. Seorang pemimpin dalam peperangan, saya mendapat kesaksian dari seorang tentara Israel. Dua puluh tiga tahun dia menjadi tentara. Dia mempunyai seorang komandan. Dan dia selalu berkata, komandan itu, kepada anak buahnya: Get behind me, ada di belakang saya. Aku akan berjalan, aku duluan. Kamu semua anak buah di belakang saya. Tidak seperti di Indonesia, jenderalnya di belakang, prajuritnya yang perang. 

Tetapi seorang pemimpin, dia ada di depan. Sama dengan Yesus. Yesus masuk dulu ke dalam perahu lalu murid-murid-Nya pun mengikuti Dia. Dalam Injil Markus 4, ada catatan bahwa ada perahu-perahu kecil yang mengikuti Yesus, yang mengikuti perahu utama. Lalu dalam ayat ke- 24, sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.

Kata sekonyong-konyong adalah kata-kata emas, bagaimana kita harus perhatikan. Karena percobaan, problem selalu datang tiba-tiba. Dia tidak pernah memberitahu, dia tidak pernah memberikan telegram, dia tidak pernah mengirimkan surat kilat dan berkata: Minggu depan aku akan datang mencobai kamu. Dia tidak pernah mengetuk pintu. Dia tidak pernah punten kulan. Dia tidak pernah datang memberitahu dulu. Dia datang sekonyong-konyong, sama dengan tsunami. Tsunami datang sekonyong-konyong, dua ratus empat puluh ribu orang meninggal. Problem selalu datang tiba-tiba.

Di sini kita melihat satu hal, murid-murid-Nya tidak siap menghadapi angin ribut itu. Mungkin mereka berkata, Yesus bersama dengan saya. Yesus ada di perahu saya. Saya mengikuti Yesus dalam perahu saya. Saya tidak akan dapat percobaan. Tidak demikian! Jangan sampai kita mempunyai mental begitu. Karena saya sudah jadi kristen, problem tidak ada. Karena saya sudah ikut Tuhan Yesus, persoalan tidak ada. Karena saya sudah setia kepada Yesus, karena saya sudah dibaptis, karena saya sudah penuh dengan Roh Kudus, karena saya sudah bawa perpuluhan, persoalan tidak ada pada hidup saya. Tidak demikian.

Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu. Kata mengamuk menerangkan betapa besarnya angin. Angin itu diperlukan di dalam pelayaran. Kalau tidak ada angin, perahu tidak maju pelayaran. Tetapi kalau angin itu mengamuk, mengamuk seperti tidak bisa dijinakkan. Sehingga angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang ... tetap Yesus tidur. Angin itu mengamuk, gelombang persoalan mulai besar. Di sini bedanya antara Yesus dan murid-murid-Nya. Tetapi Yesus tidur.

Malam Kudus itu bukan hanya di Betlehem. Malam Kudus itu harus menjadi pengalaman kita seumur hidup. Kalau kita menyanyi Malam Kudus ... Sunyi senyap ... Siapa yang b'lum lelap. Kita gambarkan Yesus tidur dengan tenang waktu malam kudus. Bayi Yesus didatangi oleh gembala, didatangi oleh orang-orang Majus, Dia tidur dengan tenang. Kita lupa bahwa Yesus yang tidur dengan tenang ini diancam oleh Herodes yang mau membunuh Yesus.

Sekarang saya balik. Malam Kudus tidak hanya di Betlehem. Di tengah angin ribut, Yesus tetap tenang. Amin, saudara? Di tengah persoalan, Yesus tetap tidur.

Kata tidur di sana adalah berarti rileks, berarti tenang. Ketika Tuhan mau memberi istri kepada Adam, Dia bikin Adam tidur, rileks. Dalam Mazmur 127:2 dan 3, Dia memberikan berkat kepada kekasihnya pada waktu kekasihnya tidur, rileks. Kalau kita mau mendapat berkat, kita harus hidup tenang, harus hidup rileks, harus tidak kagetan. Tetapi dibanding dengan murid-Nya, Yesus tenang.

Ayat-25, datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa."

Tuhan, tolonglah kita binasa. Dalam bahasa Inggris: Tuhan, tolonglah kita sedang binasa. Tadi kita baru baca Yesus tidur tenang. Tidur. Bukannya di Betlehem. Banyak orang kristen awal percaya kepada Yesus karena tertarik Yesus, Malam kudus Sunyi senyap, Anak kasihan Anak kudus. Kita terharu, kita menangis mengingat Yesus waktu bayi. Tapi Yesus tidak hanya di Betlehem, Dia tenang juga di dalam percobaan. Dia hidup tenang dalam problem. Waktu angin ribut Dia hidup tenang.

Tetapi murid-murid-Nya berlari dan berkata: Tuhan tolonglah, kami sedang binasa. Kehadiran Yesus di perahu itu tidak ada harganya bagi murid-murid-Nya. Kehadiran Yesus di sana dianggap manusia biasa. Karena dia berkata, kami sedang binasa. Seringkali Yesus beserta kita. Tuhan ada dalam rumah tangga kita. Dia ada di dalam bisnis kita. Dia ada di dalam usaha mata pencaharian kita. Tetapi bahasa kita adalah bahasa orang yang binasa. Bahasa kita adalah bahasa orang yang akan masuk di dalam kebinasaan. Tolong Tuhan, kami sedang binasa.

Minta tolong sama Tuhan tapi negatif. Kami nggak ada harapan lagi. Tuhan tolong saya, kami sedang celaka. Tuhan tolong saya, usaha kami sedang bangkrut. Tuhan tolong saya, kami sedang binasa. Lalu kita perhatikan kata-kata Yesus. Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Dalam bahasa Inggris: but He said to them,"why are you so fearful or ye little faith?" Mengapa kamu begitu penuh ketakutan? Kamu yang punya iman kecil, little faith. Di mana ketakutan penuh, iman kita menjadi kecil.

Di dalam Injil Markus dikatakan, you have no faith, kamu tidak punya iman. Ketika kamu punya ketakutan penuh, iman kita kosong. Ketika ketakutan kita penuh, iman kita kecil. Begitu takut kita naik, iman kita turun. Why you are so fearful, kenapa engkau penuh ketakutan? Jadi tabung ketakutan sudah penuh. Kalau kita punya dua tabung, satu tabung ketakutan, satu tabung iman. Ketika ketakutan kita naik, iman kita turun. Ketika iman kita naik, kekuatiran tidak ada.

Saudara tinggal pilih. Yesus ada dalam perahu tapi tidak ada gunanya. Karena ketakutan ini naik sehingga iman kita turun. Ongkoh ke gereja mah ke gereja, kebaktian mah kebaktian, sembahyang mah sembahyang, tapi ketakutan tetap ada. Yesus ada beserta kita tapi ketakutan terus muncul. Seringkali kita mengingat di mana ada Yesus, ketakutan tidak ada. Ini Yesus ada kok. Yesus ada sama-sama dengan mereka dalam perahu. Tapi mereka begitu takut melihat persoalan. Kemana mata saudara memandang?

Kalau mata saudara memandang kepada angin ribut, telinga saudara mendengar itu keributan, iman kita akan menjadi turun, iman kita akan menjadi lemah. Kita akan menjadi putus asa.

Di dalam salinan lain, dalam salinan bahasa Ibrani, kata fearful, penuh ketakutan itu dipakai kata panik. Mengapa kamu begitu panik? Kita seringkali panik walaupun Yesus ada di dalam hidup kita. Oleh karena kepanikan, seseorang bisa berbuat salah. Oleh karena kepanikan, seseorang bisa berbuat keliru. Oleh karena kepanikan - di dalam nudub Yeremia, Ratapan -, satu ibu memasak anaknya karena ada kelaparan. Sampai satu ibu memasak anak-anaknya. Dua, lebih dari satu. Ibu sendiri rela memasak anaknya karena lapar.

Oleh karena kepanikan banyak wanita muda sekarang 16, 17, 18 tahun di Jakarta menjadi pelacur. Saya baru pulang dari Israel melewati Abu Dhabi. Dari Abu Dhabi ke Jakarta kami pergi bersama TKI-TKI kami pulang. Saya lihat ada TKW yang masih muda wanita, masih muda. Di sampingnya ada orang Arab yang sudah tua. Sepanjang antri mereka berciuman, berpelukan. Karena panik, seorang yang muda, paling 16 tahun, 17 tahun, itu dijadikan piaraan oleh orang Arab ini. Yang sudah tua ... di atas 60 tahun. Waktu di pesawatpun orang Arab ini di business class tapi itu TKI di ekonomy class, dibikin beda. Kalau mereka memang menikah, kenapa nggak suami istri ini di business class atau suami istri itu ada di economy class? Banyak problem.

Oleh karena kepanikan, banyak orang tidak mau jadi hamba Tuhan lagi. Seluruh sekolah alkitab di Indonesia gereja kita tahun ini menurun semua pesertanya. Panik dengan Peraturan Bersama. Kalau jemaat cuma sepuluh orang, lima belas orang tidak boleh bangun gereja. Panik mereka. Karena panik, karena bukan panggilan juga, mereka tidak sekolah alkitab. Karena panik, orang bisa salah. Karena panik kita bisa menuduh Tuhan: Tuhan tidak peduli kita ini binasa! Kalau dalam bahasa Matius, dia berkata, Tuhan tolonglah, kita binasa. Kalau dalam bahasa Markus: Tuhan, tidakkah Engkau peduli kami binasa? Disalahkan Tuhan. Sepertinya Tuhan nggak peduli. Tapi itu karena panik.

Dulu di Cianjur waktu saya masih SMP, ada satu ibu kebakaran rumahnya. Dia menjerit-jerit, dia berlari membawa bayinya keluar. Ketika sudah keluar sadarlah dia itu bukan bayi hanya guling kecil. Bayinya terbakar di dalam rumah. Karena panik orang berbuat salah.

Orang kristen kalau panik sama seperti apa yang baru kita baca. Dia berkata kepada mereka, mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

Yang pertama, murid ini tidak siap menghadapi problem. Murid ini tidak siap menghadapi percobaan. Bahaya kalau kita jadi orang kristen nggak siap menghadapi problem. Bahaya kalau kita jadi jemaat Tuhan, nggak siap menghadapi hidup, menghadapi tantangan.

Sekarang tantangan di mana-mana luar biasa. Teknologi begitu besar, begitu meningkat luar biasa. Kita harus sudah siap. Jauh-jauh hari Tuhan Yesus sudah berkata, siap, engkau akan menghadapi banyak urusan, banyak problem. Tapi jangan takut, Aku beserta dengan kamu sampai kesudahan alam. Kita harus siap.

Yang kedua, murid ini belum kenal siapa Yesus.

Kita membaca dalam ayat 27, Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Dia tidak kenal, belum kenal. Satu perahu tapi nggak kenal. Nggak kenal siapa Yesus. Kadang-kadang di kampung kita satu RT, satu RW, kita nggak kenal tetangga kita. Kita nggak kenal siapa. Kadang-kadang Yesus ada di dalam hidup kita, kita ngomong nama-Nya Yesus, tapi kita tidak kenal siapa Dia. Maka Filipi 3:10 kerinduan rasul Paulus berkata, aku ingin, merindukan, mengenal Dia. Bukankah di dalam Matius 7, Tuhan Yesus sudah berkata wanti-wanti, bukannya yang berseru kepada-Ku Tuhan, Tuhan, akan diselamatkan melainkan yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Waktu itu pendeta-pendeta ada yang protes, bukankah dengan nama Tuhan saya mengajar, dengan nama Tuhan saya bernubuat, dengan nama Tuhan saya mengusir setan. Pada saat itu Yesus berkata: Aku akan menjawab dia dengan terus terang, Aku tidak mengenal kamu.

Satu perahu tapi tidak kenal, siapa Yesus itu. Maka dalam hari ini ke depan, saudara harus meningkatkan pengenalan saudara tentang Yesus, pengetahuan saudara. Pengenalan lebih penting dari pengetahuan. Pengenalan kita kepada Tuhan.

Kita mengenal Dia. Kita mengenal kuasa kebangkitan-Nya menjadi satu dengan mati-Nya. Kita mengenal Dia lebih dalam. Pagi hari ini tingkatkan pengenalan saudara kepada Yesus. Mau saudara? Mari kita berdiri bersama-sama.

-- o -- 

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________