Khotbah Minggu Pagi November - Desember 2007

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jl. K.H. Hasyim Asyari no. 75 Cianjur 43214. Telp. (62-263) 261161 - Indonesia.

Minggu pagi, 11 November 2007

Tuhan di Gunung, Tuhan di Lembah

 

Ulangan 1:23-27,

1:23 Hal itu kupandang baik. Jadi aku memilih dari padamu dua belas orang, dari tiap-tiap suku seorang.
1:24 Mereka pergi dan berjalan ke arah pegunungan, lalu sampai ke lembah Eskol, kemudian menyelidiki negeri itu.
1:25 Maka mereka mengambil buah-buahan negeri itu dan membawanya kepada kita. Pula mereka membawa kabar kepada kita, demikian: Negeri yang diberikan TUHAN, Allah kita, kepada kita itu baik.
1:26 Tetapi kamu tidak mau berjalan ke sana, kamu menentang titah TUHAN, Allahmu.
1:27 Kamu menggerutu di dalam kemahmu serta berkata: Karena TUHAN membenci kita, maka Ia membawa kita keluar dari tanah Mesir untuk menyerahkan kita ke dalam tangan orang Amori, supaya dimusnahkan. - Kita sambung , maju ke depan ayatnya yang ke 7 dan 8 -

1:7 Majulah, berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan, dan ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu.
1:8 Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya."

Saya bandingkan dua bagian ayat ini. Yang pertama tadi kita baca, pengintai-pengintai itu membawa buah anggur, tandan dari lembah Eskol. Di dalam ayat yang ke dua kita baca tadi, Tuhan janji akan memberikan gunung. Kalau kita baca, dan dipegunungan di daerah bukit, ayat 7. Ayat 8, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu. Jadi yang Tuhan janji adalah dua bagian, lembah dan gunung. Apa? Lembah dan gunung. Lembah dan gunung, lembah dan gunung, lembah dan gunung. Masukkan di pikiran saudara, lembah dan gunung. Saya balik, ayat 7 dan 8, gunung dan lembah. Ayat 23, gunung yang tinggi dan lembah. Kebanyakan dari kita ingin ada di atas gunung. Di dalam Matius 17:1-4,

17:1. Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
17:4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."

Saudara bisa bayangkan ketika di atas bukit kemuliaan, di atas gunung kemuliaan, Petrus sampai kelepasan ngomong, saya ingin membuat rumah tiga. Satu untuk Yesus, satu untuk Musa, satu untuk Elia di atas gunung. Jadi, orang itu senang di atas gunung. Di atas gunung kemuliaan, di atas gunung keberhasilan, di atas gunung kesuksesan, di atas gunung yang bagus-bagus. Seorang pedagang juga ingin dia untung. Saya ingin punya keuntungan seperti gunung. Saya ingin punya harta seperti gunung.

Gunung menjadi sesuatu yang kita cita-citakan. Dan Tuhan memberikan bukan hanya satu gunung. Dia akan memberikan pegunungan. Pegunungan itu terdiri dari gunung-gunung, terdiri dari bukit-bukit. Tetapi di sinilah kita harus belajar. Kita tertipu dengan hebatnya gunung. Gereja yang besar - gunung ini -, sukses yang besar, keberhasilan yang besar, jadi pendeta besar, jadi pengusaha besar, jadi sesuatu yang besar, jadi gunung yang besar, semua yang besar. Kita tertipu mata. Tetapi Tuhan tidak pernah menghasilkan anggur di atas gunung.

Kalau saudara baca Ulangan 1:23 tadi, anggur itu adanya di lembah Eskol. Waktu Engkau Gembira - itu di atas gunung - Atau Waktu Susah - itu di lembah. Yesus ada di gunung, Yesus ada di lembah. Tapi kalau saudara mau buah anggur, mau menikmati manisnya hidup dengan Tuhan. Itu bukan di atas gunung. Dimana? Di lembah. Kalau saudara mengerti ini, saudara tidak akan marah-marah waktu saudara dapat percobaan. Kalau saudara dapat tekanan, dapat persoalan, dapat problem, dapat masalah, saudara nggak akan nyalahkan orang.

Saudara nggak akan nyalahkan anak tetangga. Saudara tidak akan nyalahkan tetangga, saudara tidak akan nyalahkan siapa-siapa. Saudara-saudara akan bersyukur. Karena dibalik kesulitan itu, di lembah itu justru ada anggur. Kita buka Mazmur 23:4,

23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman - Dia tidak bilang: sekalipun aku berjalan dalam gunung. Karena domba tidak pernah di bawa ke gunung. Rumput itu justru ada di lembah. Rumput tidak ada di gunung, rumput ada di lembah -, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku - Saudara bisa aminkan Yesus selalu ada di lembah? Bahkan dikatakan, Dia beserta kita; - gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Justru di lembah saudara bisa mengerti penghiburan. Justru di lembah saudara mengerti pimpinan dari tongkatnya Tuhan. Justru di lembah saudara akan mengerti kedisiplinan. Saya mau katakan bahwa Tuhan bertindak kepada kita itu penuh disiplin. Dia lihat karakter kita. Karakter kita belum displin, kita kembali lagi ke kelas satu. Kelas dua, kelas tiga, kelas empat sudah naik, tapi nggak disiplin, jatuh lagi kelas satu, belajar lagi. Dua, tiga, empat, lima, nggak disiplin, jatuh lagi.

Maka dalam Kitab Wahyu 2, pada jemaat di Efesus, Yesus berkata ingatlah darimana engkau jatuh. Kamu itu sudah kelas lima, kenapa engkau jatuh lagi ke kelas satu? Kenapa engkau meninggalkan kasih yang mula-mula? Karena orang maunya di gunung terus, tidak mau di lembah. Tuhan mengajar kita itu di lembah.Tuhan tidak pernah mengajar kita di gunung. Ada kalanya Tuhan mengajar nabi-nabinya di lembah. Di lembah kekelaman, di lembah ketakutan, di lembah kengerian, di lembah kesulitan hidup.

Saya mendapat berita kemarin. Seorang eks Cianjur diuji dari nol, dari tidak ada jemaat. Karena rajin sampai ada satu keluarga haji, tetangga, tiap hari kirim makanan. Dia tidak minta, dia tidak kenal. Tetapi ibu haji itu, dia ini tergerak sama bapa pendeta ingin kasih makanan, tiap hari. Jadi di lembah Tuhan itu ada. Tuhan bisa pakai siapa saja. Tuhan bisa pakai siapapun yang saudara tidak sangka Tuhan pakai. Tuhan bisa pakai. Karakter kita nggak dibentuk di gunung. Karakter kita itu di lembah.

Kopasus sebelum dia jadi kopasus. Tes yang terakhir, tiga hari masuk ke hutan hanya dikasih beras segenggam. Beras saja segenggam, air minum sebotol. Tiga hari masuk hutan, musti hidup. Tiga hari atau satu minggu. Mereka mulai belajar menangkap ular, bunuh, daging ular dimakan. Mereka belajar menangkap kelinci di hutan. Mereka belajar menangkap monyet. Mereka belajar menangkap babi. Tidak pakai tembakan hanya pakai pisau. Makan, biar haram tapi mereka harus makan. Mereka belajar memotong kayu, ada tetesan air. Menderita.

Setelah itu mereka harus jalan. Jalan sampai di Cilacap. Dan ketika sampai di Cilacap baru mereka memakai badge. Kopasus. Banyak diantara mereka yang mendapat badge itu menangis karena mereka lulus. Tapi banyak juga yang tidak lulus karena baru masuk hutan satu kali sudah tidak tahan. Saya jadi tentara biasa saja. Banyak orang kristen mau jadi jemaat biasa saja, tidak mau jadi kopasus. Tidak mau jadi pasukan khusus, pasukan Kristus. Saudara mau jadi pasukan Kristus, karakter saudara harus dibina.

Karakter kita yang biasa marah, yang biasa berontak waktu dalam percobaan, itu harus ditekan, harus menerima apa adanya dari Tuhan. Karena disitu Tuhan membentuk karakter. Saudara tahu Musa itu dibentuk karakternya empat puluh tahun. Waktu dia berusia empat puluh tahun pertama, dia ada di Mesir. Dari kecil sampai empat puluh tahun dia di Mesir. Dia dapat didikan mesir. Dia bisa bahasa Mesir. Dia tahu kebudayaan Mesir. Tetapi dia ingin melepaskan orang Israel dengan kekuatannya. Dia bunuh orang Mesir. Justru dia ketakutan. Dia lari. Lari kemana? Lari ke padang gurun. Lari ke lembah.

Disana disendirikan oleh Tuhan empat puluh tahun. Kamu sudah empat puluh tahun senang, sekarang Aku didik kamu empat puluh tahun menderita. Di sana dia harus menggembalakan domba. Dia harus menerima panas, terik matahari, malam kedinginan. empat puluh tahun. Baru setelah itu dia dipanggil sebagai juru pelepas dari Israel. Berapa lama dia pimpin Israel? Empat puluh tahun. Maka ketika saya baca di alkitab, satu kali Tuhan marah sama orang Israel.

Dia bilang begini: Sekarang kamu pergi sama orang Israel, pergi ke Tanah Perjanjian. Tetapi Aku tidak akan menemanimu. Aku tidak mau menemanimu. Aku tidak akan beserta denganmu. Silakan pergi. Pergi. AKu tidak mau beserta. Karena bangsa ini keras tengkuk, bandel. Karakternya lebih dibentuk karakter Israel. Saudara ingat, tidak ada dari generasi ini yang masuk dalam Tanah Perjanjian hanya Yosua dan Kaleb. Dari dua belas pengintai hanya dua yang lulus karakternya. Dialah yang membawa anggur dari Eskol.

Hanya orang kristen yang karakternya dibentuk oleh Tuhan dan tetap sabar dan yakin kepada Tuhan. Tuhan tidak pernah tinggalkan. Yesus selalu ada, Yesus selalu beserta dalam susah atau senang, di gunung atau di lembah. Hanya mereka yang bisa menikmati buah anggur kegirangan, sukacita dari Tuhan. Sampai sekarang buah anggur Eskol menjadi lambang dari turis Israel. Dua orang saja ditengahnya anggur, itu menjadi lambang turis di Israel. Kabar baik. Maka di sekolah alkitab yang penting itu bukan pengetahuan. Pengetahuan gampang. Karakter. Karakternya harus dibentuk.

Sama dengan orang kristen, sama dengan jemaat. Bagi jemaat yang penting bukan kebaktian, bukan nyanyinya, bukan. Karakter. Saya mau lihat apa yang dikatakan Rasul Paulus dalam Roma 5. Ketika Tuhan harus membentuk karakter. Roma 5:1-5,

5:1. Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. - Kalau saudara baca ayat 1 saja, dibenarkan, kita terima damai sejahtera. Ayat 2, -
5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. - Semuanya menerima. Jalan masuk, kasih karunia, pengharapan, kemuliaan. Mulai ayat ke 3, dia bicara tentang karakter -
5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, _ enak tidak mendengar kata sengsara? Aduh, hidup saya mah sengsara, susah. Aduh oom, hidup saya sengsara. Aduh, saya sengsara ini. Jadi ngarasullah kita. Kita tidak mau terima didikan Tuhan. Justru dalam sengsara, kita terima sesuatu yang keluar dari kita sebagai hasil dari sekolahnya Tuhan di lembah. Ketekunan menjadi tiang anggur yang baik. Ayat 4, -
5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. - Mulai ada buah yang keluar. Tahan uji. Sudah tekun, bukan cuma satu bauhnya, keluar tahan uji. Dari tahan uji keluar lagi pengharapan. Dan ayat ke 5 itu saya paling suka. -
5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Lihat, pengharapan tidak pernah mengecewakan. Makanya orang yang nyanyi Tak Pernah Kecewa Mengiring Tuhan. Itu harus sudah keluar dari sekolah kekecewaan. Kita banyak kecewa ikut Tuhan. Kita minta diberkati, kok kita susah. Kecewa. Kita mengharapkan pendeta. Pendeta juga manusia. Pendeta bisa bikin kita kecewa. Kita harapkan gereja, gereja bisa bikin kecewa. Kalau kita mundur karena kita kecewa, dari kelas lima kita jatuh ke kelas satu. Nggak maju-maju. Dari gunung ke gunung ini harus lewat lembah. Amin? Sudah dari lembah naik lagi ke gunung.

Dari kemenangan sampai kemenangan, kita harus mengalami dulu kekecewaan. Dari iman kepada iman, kita harus mengalami dulu kekuatiran. Dari kemuliaan sampai kemuliaan harus mengalami dulu kesukaran, kesulitan. Coba saudara lihat gerakan ini: Yesus datang di sorga turun ke dalam dunia dan mati disalib. Lalu dibangkitkan pada hari ketiga. Lalu Dia naik ke sorga. Dia dari sorga turun ke lembah dunia yang penuh dosa. Akhirnya dimuliakan lagi memiliki nama di atas segala nama.

Huruf apa yang yang bentuknya begini? Victory, kemenangan. Kalau menang kan selalu V. Orang kristen yang mau menang, dia harus turun dari keakuannya kepada lembah. Tapi dia itu rasa, Aduh, saya nggak dihargain sama Tuhan. Kaya nggak ada harga saya. Di situ orang cepat tersinggung. Di sini, di lembah ini orang cepat tersinggung. Saya kecewa terhadap sesama kristen. Kecewa kepada sesama jemaat. Kecewa kepada pendeta. Kenapa? Karena Tuhan lagi sekolahin, saudara tidak lulus.

Di sekolah kan saya suka coba murid. Saya suka mencoba murid. Saya lihat ini murid menonjol, saya coba. Saya singgung perasaannya. Tersinggung apa nggak? Saya kalau marah, lima menit habis. Dia lima bulan belum habis. Saya lima menit sudah nggak ingat. Saya cuek saja. Orang itu mau dendam sama saya, saya cuek saja. Ada staf saya. Sudah lebih sepuluh tahun jadi staf. Datang sama saya. Laki-laki. Oom, saya mau mengaku sama oom. Saya nggak suka sama oom. Terus? Iya, sekarang saya sadar, saya salah. Terus? Saya mau minta maaf. Oh kamu sudah diampuni sepuluh tahun yang lalu.

Waktu saya marah kamu, lima menit saya sudah hilang. Kamu taruh sepuluh tahun. Kamu yang rugi. Saya salah, oom. Iya. Dia tidak lulus sepuluh tahun. Saya sekarang sadar, oom, saya salah. Doakan saya supaya sukses. Nggak, kalau kamu sudah lulus di situ, kamu pasti sukses. Silakan berangkat, silakan pergi. Saya mau pergi, doain yah oom. Saya nggak doain juga kalau kamu sudah lulus di sekolah, di lembah itu, sudah kamu lulus. lembah apa kata Daud? Kekelaman. Lembah bayang-bayang maut.

Waktu Malam Yang Gelap Atau Dipinggir Maut, Bayang-bayang maut. Yesus Selalu Ada, Yesus Selalu Serta. Gada dan tongkat-Mu yang menghibur aku. Waktu Engkau Gembira - di gunung - Serta Waktu Susah - di lembah - Karena Yesus Sudah Janji, Immanuel. Ini tema lagu untuk natal baik di Jakarta, baik di Karawang, baik di Cianjur. Ini tema lagunya. Saya selalu minta lagu dari Tuhan. Biasanya itu Tuhan kasih dalam kebaktian-kebaktian. Dan itu akan jadi pegangan bagi murid, pegangan bagi jemaat. Saya akan ungkapkan tahun 2008 seperti apa pada waktu kebaktian natal.

Tuhan selalu serta. Saudara mau pemandangan atau mau buah anggur? Saya mau dua-duanya. Saya mau pemandangan janji Tuhan. Saya ma pemandangan ke timur, barat, utara dan selatan seperti Abraham. Sepanjang mata memandang, Aku akan berikan kepadamu. Ini di gunung. Hai Abraham, engkau lihat sekelilingmu. Sekelilingmu. Amin? Aku berikan kepadamu. Abraham bilang terima ksih. Tapi Abraham harus apa? Turun dari gunung untuk menikmati berkat itu. Jalani, kata Tuhan. Nikmati semua. Itu berkat yang Aku janjikan.

Jadi baik di gunung atau di lembah Yesus selalu ada, Yesus selalu serta. Haleluyah? Jangan takut dan jangan bimbang, jangan gelisah hatimu, jangan ragu kepada janji Tuhan Yesus. Karena Yesus sudah janji, Dia beserta saudara, Dia menemani saudara. Dia menjadi immanuel yang artinya Allah beserta kita. Haleluyah? Sudah cukup khotbah sampai disitu. Jalankan kolekte sekarang juga. Tapi belum selesai. Kita mau teruskan. Kembali lagi kepada Ulangan 1 tadi. Dalam Ulangan 1, kita akan membaca ayat 16,

1:16 Dan pada waktu itu aku memerintahkan kepada para hakimmu, demikian: Berilah perhatian kepada perkara-perkara di antara saudara-saudaramu dan berilah keputusan yang adil di dalam perkara-perkara antara seseorang dengan saudaranya atau dengan orang asing yang ada padanya.
1:17 Dalam mengadili jangan pandang bulu. Baik perkara orang kecil maupun perkara orang besar harus kamu dengarkan. Jangan gentar terhadap siapapun, sebab pengadilan adalah kepunyaan Allah. Tetapi perkara yang terlalu sukar bagimu, harus kamu hadapkan kepadaku, supaya aku mendengarnya.
1:18 Demikianlah aku pada waktu itu memerintahkan kepadamu segala hal yang harus kamu lakukan."

Sekarang hubungan sesama. Dia bilang kepada hakim-hakim. Saudara juga disebut hakim. Daniel itu artinya hakimnya Allah. Kamu harus menghakimi dengan adil. Nggak boleh lihat dia ini kaya, kamu perhatikan. Dia ini miskin, kamu cuekin. Cuek, cuekin yang kaya, cuekin yang miskin. Adil, adlin yang kaya, adilin yang miskin. Sayang, sayang yang kaya, sayang yang miskin, sayang semua. Itu baru adil. Baru dua bulan saya jadi ketua Majelis Daerah, persoalan begitu banyak. Dari pihak teman-teman Majelis Daerah, hukum orang itu yang keras. Skors.

Dari pihak yang mau dihukum, belalah saya. Itu beratnya jadi ketua MD. Hukum. Ampuni. Hukum. Ampuni. Saya yakin biar digoyang, saya nggak akan jatuh. Tapi saya ambil pelajaran dari ayat ini, terlalu berat kata Tuhan, bawa kepada-Ku. Adakah masalah diantara saudara? Tuhan, saya nggak tahu percobaan ini begitu berat, kepada siapa lagi aku mengadu, Tuhan? Bawa kepada Tuhan. Dia hakim yang adil. Ada kasus keluarga, rumah tangga, nggak bisa diatasi oleh kita. Langsung saja datang kepada Yesus.

Ada pengusaha dari Sukabumi. Besar sekali perusahaannya. Dia punya berapa ratus ekor ayam, peternakan ayam. Dia usaha luar biasa. Naik saja ayam seribu, wah sudah jadi milyarder dia. Tetapi dia datang kepada saya. Dia bilang: Pa Awondatu, ada masalah yang nggak bisa diatasi dengan uang, nggak bisa kita sogok. Kalau bebanmu terlalu berat, Tak seorangpun mau tolong, Datang saja kepada Yesus, Pasti kau ditolong, Kalau bebanmu terlalu berat, Tak seorangpun mau tolong. Tuhan kasih jalan keluar. Bawalah saja kepada Yesus, Pasti kau ditolong.

Saudara yakin saudara ditolong Tuhan? Pada pagi hari ini, jemaat adakah problem yang berat? Saudara jangan curiga kepada Tuhan kalau saudara sedang dalam persoalan, saudara dalam masalah, saudara sedang ada di dalam lembah karena disitu banyak anggur. Tuhan bawa saudara ke gunung melihat visi. Tuhan bawa saudara ke lembah untuk menikmati visi itu. Dan kalau ada beban saudara dengan sesama, saudara dengan siapa-siapa, belajar adil. Belajar tidak membeda-bedakan orang dari status, uang. Dari status apa yang dia punya, apa yang dia tidak punya. Belajar adil, sayang sama semua. Bawa semua permasalahan kepada Tuhan. Mari kita berdiri bersama-sama.
 

 

-- o -- 

-- <>< --

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________