Khotbah Minggu Pagi Oktober - November 2001

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu, 28 Oktober 2001

Hendaklah Hidupmu Berpadanan dengan Injil

Selamat pagi, selamat bertemu dalam nama Yesus Kristus. Pada pagi hari ini, kita akan masuk dalam Perjamuan Kudus tapi sebelum itu kita akan membaca satu ayat di dalam Filipi

1:27 Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, 

Ayat ini adalah ayat yang sangat indah sekaligus ayat yang luar biasa. Paulus berkata kepada jemaat Filipi: Hendaklah hidupmu berpadanan, disesuaikan dengan Injil Kristus. Jangan dibalik, Injil disesuaikan dengan kelakuan kita, tetapi hidupmu, your conversation, kehidupan, perjalanan hidupmu disesuaikan, berpadanan dengan Injil Kristus. Bahasa Inggris memakai kata become, menjadi sama dengan Injil Kristus. Hanya hendaklah hidupmu bersama, hidupmu sesuai, berpadanan dengan Injil Kristus. Kalau dia jemaat Tuhan dia sesuaikan dengan iman kristiani. Kalau dia hamba Tuhan, sesuaikan dengan yang proporsional sebagai hamba Tuhan. Kalau dia sebagai calon hamba Tuhan, coba tingkah lakunya itu diperiksa, disepadankan dengan Injil Kristus, disesuaikan. Jangan sampai kelakuan kita ini nggak ada beda dengan orang kafir, tidak ada beda dengan tingkah laku orang kafir, apa yang orang kafir kerjakan ini orang kristen kerjakan. Saya ingin berbicara beberapa saat dalam kata berpadan dengan Injil Kristus. 

Sekarang saya baru mengerti kenapa Kristus bilang: Bukannya yang berseru kepadaku Tuhan, Tuhan akan diselamatkan tetapi yang melakukan kehendak Bapaku yang di Surga. Ada yang protes, Tuhan bukankah dengan nama Tuhan, kami bernubuat, bukankah dengan nama Tuhan kami mengadakan mujijat, bukankah dengan nama Tuhan kami mengajar? Tuhan tidak tanya soal mengajar, soal bernubuat, tapi hidup, hidupnya tidak berpadanan dengan kehendak Tuhan. Jadi bisa saja seorang pendeta dia bernubuat, bisa saja dia usir setan, bisa saja dia bikin mujijat, tapi hidupnya tidak berpadanan. 

Apa artinya berpadanan? Sendok berpadanan itu dengan garpu, kemeja berpadanan dengan dasi, ada padanannya. Maka ini dipakai kata become, menjadi sama. Suami berpadanan dengan istri, itu berpadanan, sesuai. Sebagai seorang mahasiswa, bagaimana itu padanannya? Masa mahasiswa bikin film porno? Nah itu kan engga sesuai, apalagi mahasiswa kristen, apalagi calon hamba Tuhan. Wah, itu harus tingkah lakunya ini harus berbisa, kata orang Malaysia, harus berbeda dengan tingkah laku orang-orang yang belum kenal kebenaran. Maka kata pasal pertama saja dari surat Filipi, Paulus sudah berkata mengenai berpadanan dengan Injil. Hidup tuh disesuaikan, yang tidak sesuai tuh ditanggalkan semua yang tidak cocok. Bukannya tambah kesini tambah ngaco, tambah kesini tambahnya kenal Firman Allah, kok tambah engga beres. Jadi ada salah apa ini? 

Jadi siswa-siswi saya mau cerita, ya, keadaan di asrama jangan sampai saudara sangka saya tidak tahu. Saudara jongkok berdiri saya tahu. Jadi  sekarang ini, saya kemarin mengikuti wisuda dari anak saya. Anak saya sudah sarjana sekarang, puji Tuhan. Tapi dari wisuda yang ada 26 yang cum laude itu, yang lulusnya tuh luar biasa, cum laude. Dari 26 itu 22 itu perempuan, saudara. Jadi sekarang ini perempuan ini, waduh  luar biasa, cum laude, kalah, dari 26 itu yang paling bagus itu lulusnya 22 itu perempuan. Ya dokter, ya insinyur, sarjana ekonomi, sarjana hukum, nah itu perempuan. Kalah. Laki-laki atau perempuan sekarang hebat. Nah, tapi yang ngaconya juga begitu, perempuan tuh lebih hebat sekarang-sekarang ini. 

Saya tuh punya dua staf, satu guru, single, saudara Meidi, staf, sarjana Teologi dia, disini di Cianjur. Yang satu staff masuk kelas dua, pengerja saya, saudara Samuel, dia ini ganteng anaknya. Dua-dua ini sudah punya calon, sudah punya calon istri dari Manado, ada di Jakarta. Kok bisa-bisanya, saudara-saudara, itu calon mereka, coba saudara bisa renungkan, calon mereka, calon dua pemuda ini, terima telepon dari sekolah Alkitab, dari satu dua siswi perempuan, pengerja perempuan, staff perempuan, saya tidak tahu. Tapi sebetulnya saya sudah tahu. Mengatakan bahwa mereka itu katanya  di sekolah sudah punya pacar baru. Rusak dong yang disana, perasaannya bagaimana? Nah, ini kelakuan seperti ini, itu bukan kelakuan hamba Tuhan. Orang kafir saja tidak akan berbuat begitu dah, kalau yang bener, apalagi ini calon hamba Tuhan. Saya sudah tahu, gerak-geriknya saya sudah tahu. Maka saya mau kasih warning  dari mimbar ini untuk staf-staf di sana pengerja - jangan sampai saya keluarkan. Jangan sampai kasus seperti ... terjadi lagi. Saya itu nggak suka, genit-genit itu saya nggak suka loh. Saya nggak suka genit-genit itu. Kalau mau kerja, kerja yang betul. Kerja buat Tuhan, kerja buat Tuhan. Tugasnya apa masak, masak. Kerja-kerja. Jangan pikir-pikir yang lain.

Jadi ternyata wanita ini bukan hanya cum laude dari hal yang baik, cum laude juga dalam hal yang tidak baik. Pantas ini Firman Tuhan: Hei, orang-orang Pilipi, sesuaikan tindak tandukmu, tingkah lakumu sesuai dengan Injil. Nah, kita mau jadi pemberita Injil, membawa FA, mau jadi hamba Tuhan tapi kelakuan saja belum keluar dari dari Sekolah Alkitab sudah seperti begini, seperti orang kafir. Bagaimana kita bisa jadi berkat, bagaimana saudaraku bisa jadi berkat di ladang Tuhan. Tidak akan bisa! Tidak. Saudara tidak akan bisa akan menjadi berkat tidak mungkin kalau tingkah laku seperti ini  tidak diperbaiki sejak sekarang.  

Di gereja bukannya duduk baik-baik, cengengesan. Jemaat itu kan musti lihat contoh, jemaat lihatnya sama wah ini calon-calon hamba Tuhan. Calon-calon hamba Tuhan kaya begitu jemaatnya nanti bagaimana. Jadi kembali kepada FA. Harus berpadan. Become. Menjadi sama, sesuai dengan Injil Tuhan. Jadi Injil Tuhan ini seperti tadi saya bilang sendoknya apa, ada garpu. Kemeja apa, ada dasi. Kalau Injil, ada kita yang  pemberita Injil. Itu musti sesuai. Loh kalau ini Injil pemberitanya ini tidak sesuai sama Injilnya bagaimana ? 

Jadi sesuaikan tingkah laku kita dengan Injil Kristus supaya apabila aku datang ke SAC aku melihat dan apabila aku tidak datang ke SAC aku mendengar. Mungkin saya ini sibuk ya memang bulan-bulan ini saya sibuk menginjil. Manado pulang hari Jumat sampai sini setengah 12, jam setengah 6 sudah bangun setengah 7  berangkat ke Bandung terlambat di jalan sampai disini setengah 6 sore kemarin. Maka sebentar pagi ini sebetulnya saya musti ke Jakarta tapi badan sudah tidak kuat sudah tidak tahan sudahlah. Masih ada waktu saya di sana tiga. Saya disini saja. Ingin sih melayani terus tugas-tugasnya. Nanti Senin harus balik lagi KKR ke Bandung. Besok ada KKR di Gereja Tabernakel. Saya lihat selebarannya sampai di Universitas Kristen Maranatha. Sampai di WC-WC saya lihat ada selebaran. Luar biasa. Jadi saudara ini besar-besaran. Di Muara Gereja Tabernakel, Bandung.       

Nah, jadi ketaatan bahasa Inggris dia memakai hidup itu dipakai kata conversation hidup politeiuo. Hidupmu politeiuo bahasa Yunaninya. Artinya begini politeiuo itu: Kalau kita orang Indonesia, warga negara Indonesia, coba dong sesuaikan dengan  negara Indonesia. Kalau kita ini warga negara Singapura, sesuaikanlah dengan UU Singapura. Itu artinya politeiuo. Sebagai citizen, sebagai satu orang penduduk. Kalau kamu pindah ke Amerika sesuaikanlah tindak tanduk kita,  tingkah laku kita dengan UU di Amerika. Saya mau pakai contoh orang Tionghoa masuk ke Amerika ya. Orang Tionghoa punya cara makan dengan sumpit makan bakmie. Kalau makan dia cepat sekali. Dia bukan  makan bakmie saudara tapi dia minum bakmie karena seperti tidak digigit lagi. Itu caranya. Tetapi saudara makan begitu di Amerika, orang Amerika tidak bisa makan. Seperti nggak sopan sekali. Orang Amerika musti pakai dasi. Saya juga nggak biasa. Daging potong pakai pisau potong tusuk pakai kiri pindahkan ke kanan baru masuk.

Nah, kita seringkali tidak usah dipotong nggak usah ditusuk bari ditusuk langsung ke mulut sini, nggak dipotong kecil-kecil. Itulah Indonesia merdeka-merdeka. Tapi di Amerika tidak bisa saudara, saudara musti potong pelan pelan. Nah, sekarang orang Amerika makan disini. Saudara nemenin dia. Kita udah habis kapan kapan dia belum habis habis. Saya pernah bawa pendeta Canada  di Airmadidi. Jam 5 pagi kebaktian - dulu waktu tahun 74. Dia bingung dia baru potong roti, ini gembala sama istri dan anaknya sudah makan roti yang ke 3. Jadi dia dalam bahasa Inggris tanya sama saya: John, - dia panggil saya John kalau di Canada Amerika saya ini John saudara. John, ini makan pagi atau makan siang. Saya tanya sama gembala ini makan pagi apa makan siang tamunya. Ketawa gembalanya. Mana mana Yo, katanya. Makan pagi boleh mau dianggap tidak makan juga nggak apa-apa. Karena setelah kebaktian masih ada makan pagi. Jadi kalau tadi smokol nanti ada makan pagi. Jadi smokol dengan makan pagi lain. Sampai tiga kali makan pagi di Manado. Maka orang Manado itu saudara besar-besar perutnya. 

Politeiuo itu menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru. Begitu kita masuk terima Yesus, waduh, dulu saya tupok, dulu saya judi - sekarang tak bisa. Coba sesuaikan, ada judi nggak di Kerajaan Surga ini ? Tidak ada. Judi nama orang ada Judi Judi Judi .... Judi itu ada. Tapi judi itu judi nggak ada.  Sesuaikan diri kita. Dulu saya maen cewe, maen perempuan tukar-tukar perempuan maen pelacur-pelacur setelah kenal Yesus apa bisa? Tidak ada. Disesuaikan hidup kita hidup kudus sekarang. Dulu saya penuh dengan rokok kudus bagaimana sekarang? Oh, sekarang tidak. Buang rokok kudus sekarang hidup dengan Roh Kudus. Dulu saya suka tidak mau kalah berantem dsb, fitnah orang bikin telpon gelap, bikin fitnah, ganggu pacar orang - dulu itu. Sekarang bagaimana setelah dalam Yesus? Sekarang jujur, hidup benar.

Jadi mereka yang masih suka telepon-telepon gelap itu, mengganggu orang, fitnah, orang-orang punya pacar diganggu -  itu dia belum dalam Tuhan. Belum saudara. Orang dunia saja tidak lakukan itu. Maka itu saya kembali kepada Firman: Dulu gelap sekarang terang. Kita harus berubah. Maka di dalam ayat itu selanjutnya: Bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil. 

Nggak bisa kita teguh berdiri sendirian, kita harus teguh berdiri bersama-sama. Nggak bisa kita teguh berdiri blok-blokan. Ah, saya ini blok sini, saya ini blok sini. Maka saya kasih warning: Hati-hati dengan blok-blokan. Blok Manado, blok Ambon, blok Chinese, blok Jawa - Hati-hati itu! Kita harus berdiri teguh di dalam satu Roh. Tidak ada lagi Chinese, tidak ada lagi Jawa, tidak ada lagi Sunda, tidak ada lagi Cungkuoren, tidak ada lagi Meikuoren. Kita semua adalah saudara-saudaraku satu di dalam Tuhan. Ada haleluyah, saudara?   

Satu di dalam Roh, baru kita bisa teguh berdiri, baru kita bisa membangun karena sudah teguh berdiri. Boro-boro bisa ikut doa malam, suruh bersatu aja nggak mau. Dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil. Saya mau balik, saya mau terangkan dari bawah. Saya mau terangkan dari iman yang timbul dari berita Injil. 

Jadi saya memuji kepada Tuhan saudara karena Tuhan menyertai penginjilan saya dengan luar biasa dan hal-hal yang unik yang aneh. KKR di stadion Klabat 2 hari - umumnya KKR itu diminta katanya untuk intern gereja tapi karena di stadion Klabat, orang-orang lewat dengar semua. Habis KKR malam ke dua setengah 11 saya pulang ke hotel, sudah ada 8 orang tunggu saya di hotel. Yang lainnya itu sudah anak Tuhan dari Tondano. Ada apa ini malam-malam, saya sudah mau tidur? 

Saya suka ketus kalau bicara karena memang hak saya untuk tidur. Masa saya nggak boleh istirahat. Saya mau tidur. Brur Yoyo jangan marah, ini ada satu ibu ini dia orang Islam mau terima Yesus. Oke, bawa di kamar saya tapi saya nggak mau 8 orang masuk, 4 orang saja masuk dengan ibu ini. Dia selalu ngomong sedikit-sedikit apa bedanya Injil dengan Alquran. Saya bilang kalau ibu nanya tentang Alquran saya nggak tahu Alquran. Pegang aja belum pernah. Tapi kalau ibu mau kenal Yesus, saya bisa bimbing sekarang. Ya,  saya mau tahu itu apa bedanya Injil dengan Alquran. Saya bilang kalau ngomong tentang Alquran saya nggak mau dah. Nggak mau. Saya mau cerita Injil saja. Akhirnya dia mau. Jadi Yesus itu gini gini gini nggak lama saudara cuma 5 menit, mau terima Yesus nggak? Mau !

Dia duduk di tempat tidur saudara, saudara jemaat yang lain duduk di kursi. Mau. Ayo doa. Saya doa pimpin terima Yesus. Tuhan Yesus. Masuklah dalam hati. Saya saya minta ampun dosa. Sucikan. Amin. Raut mukanya sudah merah. Air mata sudah menetes. Ini ibu istri Jendral, saudara. Jendralnya di Jakarta Jendral polisi. Ibu. Aduh saya  sukacita sekali pak. Ada satu lagi pemberian Tuhan. Ada Roh Kudus, bu. Mau nggak dipenuhkan Roh Kudus ? Walaupun saya belum ngerti saya mau dipenuhkan Roh Kudus. Doa, penuh Roh Kudus saudara. Penuh Roh Kudus di depan saya. Ini setengah 11 malam. Jadi dia penuh Roh Kudus. Dia menjerit. Penuh Roh Kudus saudara tahu kan Pantekosta kan selalu ribut. Kamar sebelah telepon. Krang kring krang kring ini ada apa ini ada apa. Nggak ada apa-apa, ini orang lagi latihan nyanyi soprano. Nggak ada apa-apa.

Saudara, saya baru liat pertama kali orang Islam terima Yesus langsung dipenuhkan Roh Kudus di depan mata saya. Maka malam itu saya nggak tahan lagi, saya kirim SMS ke seluruh Indonesia. Puji Tuhan. Malaysia, Singapura, dan Australia. Terima kasih loh saudara-saudara ini saya lihat ada satu ibu terima Yesus penuh Roh Kudus di depan mata saya. Itu suka cita nggak berhenti di sana saudara. Pulang sampai Jakarta jam 5 sore. Dari Jakarta sampai lapangan terbang jembatan Semanggi itu 2 jam. Dari sana sampai Cianjur setengah 12 malam macet. Aduh, badan lelah tapi saya dengar berita disini pendeta dari Kebumen telepon selain berterima kasih untuk KKR dia bilang ada 4 orang Muslim terima Yesus. Wah, hati saya itu kelelahan hilang saudara-saudara. Iman yang timbul dari berita Injil.

Nah, itu sebabnya saudara-saudaraku jangan dicampur ini Injil dengan Alquran mau banding-bandingkan. Kalau ibu mau cerita-cerita Alquran saya bukan orangnya. Katanya ada persamaan. Saya bilang saya nggak mau tahu. Katanya ... Saya nggak mau katanya. Saya udah mau tahu nih bu. Kalau mau terima Yesus saya doa. Kalau ibu mau menerima. Dia bilang ya saya tadi dengar Firman Tuhan mau dah. 

Jadi saudara, kembali kepada Firman. Kita memiliki iman yang timbul dari berita Injil. Nanti hari Senin ini kita akan ada lagi KKR di Bandung dan kita harapkan juga di Bandung Tuhan bekerja saudara walaupun intern juga untuk Gereja Bethel Tabernakel tapi undangan sampai seluruh Bandung sampai di pelosok-pelosok dan kita harapkan Tuhan akan memberkati ini. Satu hal saja saya minta aduh, Tuhan jangan sampai saya merampas kemuliaan Tuhan, jangan sampai saya duduk di singgasana Tuhan. Tuhan ingatkan saya. Jangan sampai kemuliaan yang milik Tuhan itu saya tanpa sadar saya rampas. Segala kemuliaan segala puji hanya untuk Tuhan Yesus saja. Nah, kita kembali kepada Firman Tuhan kita akan lihat sehati sejiwa berjuang. Sehati lain dengan sejiwa.  Sehati - kita lihat dulu Pilipi 2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. 

Sehati sejiwa. Nah, ini banyak orang Kristen masuk dalam pernikahan  tidak sehati tidak sejiwa. Tidak sehati tidak sejiwa. Orang menikah orang kristen yang dipikirannya hanya setubuh kawin tapi tidak pernah memikir sehati sejiwa yang sangat penting ini. Dan ini nampak dari kehidupan Adam dan Hawa. Waktu Hawa makan buah saudara-saudaraku, nampaknya Adam tidak bersama dengan dia. Itu menjadi satu bukti bahwa mereka ini diserang oleh Iblis pada waktu mereka tidak sehati sejiwa. Ayub dan istri Ayub. Istri Ayub suruh mengutuk sama Tuhan. Itu satu bukti bahwa istri Ayub tidak sehati sejiwa dengan Ayub ini. Waktu dia kaya waktu dia punya uang satu tujuan tapi begitu dalam penderitaan tidak lagi sehati tidak lagi sejiwa. 

Dulu ada suami jemaat ngadu sama saya penganten baru padahal. Istrinya minta cerai hanya karena income kurang besar maksudnya. Belum lama menikah loh baru 5 bulan udah minta cerai. Padahal waktu diberkati itu sudah bilang dalam susah atau senang dalam kekurangan atau berkelimpahan dalam sehat atau sakit ini suami waktu itu dagang belum maju. Penting sekali ini sehati sejiwa - itu dipakai oleh Rasul Paulus dalam ayat ke 27 tadi  pasal 1 dalam perjuangan. Kalau perjuangan hanya sekantong gampang. Segereja gampang tapi sehati sejiwa jangan saudara suruh pendeta nurut sama saudara. Nggak boleh. Jemaat mesti sehati sama saya. Jemaat mesti sejiwa sama saya. Nggak bisa saudara paksa saya mesti sehati sama saya. Nggak mungkin. Visinya gereja itu jemaat turut gembala. Bukan gembala nurut sama jemaat. Tidak ada gembala yang dombanya di depan gembala di belakang jalan. Itu bebek. Gembala yang betul itu dia di depan. Kalau ada harimau kalau ada srigala dia di depan. Beruang ada srigala ada macan dia di depan. Domba di belakang ikut di belakang. Begitu.

Jadi musti sehati sejiwa. Sepikiran. Wah ini apa nih. Saya punya gembala punya jiwa punya semangatnya apa ni ? Kita mau ikut dalam arusnya. Apa ini ? Untuk soal waktu GPdI Cianjur no. 1 di Indonesia. Gereja Ketapang aja kalah. Betul loh soal waktu. Dulu kita punya kebaktian itu jam 5 saudara. Jam 5 sore, jaman papa saya. Saya baru keluar Sekolah Alkitab nemenin papa main gitar. Gitarnya gitar kenceng kendor. Gitar biasa. Papa saya lihat ke jam. Jam  5 belum ada orang. Stem-stem gitar. Lihat 5.15 baru ada 2 orang. Lewat 20 baru ada 5-10 orang baru mulai. Papa saya meninggal saya diminta ganti jam 5 saya mulai. Istri saya bilang nggak ada orang. Nggak apa-apa. Pakai accordion. Haleluyah. 5.30 khotbah. Ada yang baru datang. Jam 6.00 selesai. Kolekte. Kolekte jalan selesai doa itu saya masih ingat Sdr Kwek Kong baru datang. Waktu datang saudaraku dia tanya sama mama saya: Tante, ini doa FT? Bukan, ini doa setelah FT. Dia pake bahasa Ibrani: Kok gancang-gancang teuing. Kenapa cepet-cepet? Nggak tahu ini Yoyo maunya begini.

Saudara-saudara, setelah itu  jam 5 tepat sudah penuh. Karena si jemaat sudah tahu jiwanya saya semangatnya ini  jam 5 kurang seperempat dia sudah ada. Loh, kalau saya sebagai gembala jam 5 kurang seperempat sudah banyak orang masa musti tunggu jam 5 ? Mulai saja jam 5 kurang seperempat. Jadi mundur jam 5 kurang seperempat. Karena mereka sudah lihat saya jam 5 kurang seperempat mundur lagi mereka datang sebelum jam 5 kurang seperempat. Mundur lagi saya. Setengah lima saya bikin kebaktian. Tapi lama-lama mereka mundur lagi nah ini baru satu tahun ini ya sudah 4.15 ya kita mulai. Karena saya ingat yang dari Sukabumi juga. Jangan terlalu malam, pulang mereka. Dari Sukabumi itu saya bilang aduh ci engko di Sukabumi itu gereja banyak bejibun. Udah di sana. Nggak, kita pengen jadi jemaatnya ko Yoyo. Jadi nggak apa-apa. Mereka jam 3 berangkat dari sana jemput sana jemput sini.   

-- o -- 

Minggu, 04 November 2001

Bekerjasama untuk Mendatangkan Kebaikan

Selamat bertemu di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Renungan pagi hari ini, kita dapat baca dalam suratan Roma 8.

Kita akan membaca satu ayat yang terkenal, ayat 28. Roma 8:28 demikian bunyinya:

8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 

Pembacaan ini agak kurang enak kalau kita tidak dengar pembacaan dari bahasa Indonesia salinan lama. Ia berbunyi demikian: Tetapi kita mengetahui bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan bagi orang yang mengasihi Allah, yaitu bagi orang yang dipanggil menurut kehendak Allah. Jadi ayat ini sebetulnya berbunyi demikian: Segala sesuatu yang terjadi itu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan. Kalau bahasa Indonesia salinan baru, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebajikan. Kalau bahasa Indonesia lama dikatakan: Segala sesuatu bekerja bersama-sama jadi bukan Allah yang bekerja tapi all things segala sesuatu, mendatangkan kebajikan bagi orang yang mengasihi Allah. Jadi salinannya saja sudah berbeda, tetapi kita mau lihat apa yang dikatakan di dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris dikatakan lebih jelas, and we now that all things work together,  ini yang tepat. Segala sesuatu bekerja bersama-sama, jadi bukan Allah yang bekerja tetapi all things, segala sesuatu, work together for good, bekerja bersama-sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah. Segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan bagi semua orang yang mengasihi Allah.

Jadi saya mau masukkan ini di dalam pikiran dan hati nurani kita. Segala sesuatu kejadian yang terjadi itu bekerja bersama-sama, works together for good, untuk kebaikan. Segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan. Posisi kita sekarang, kita mengasihi Tuhan apa tidak? Kalau kita tidak mengasihi Tuhan, maka segala sesuatu yang terjadi itu jadi disaster, jadi malapetaka bagi kita. Tapi bagi kita yang mengasihi Tuhan, segala sesuatu yang terjadi itu mendatangkan kebajikan. Saya kasih contoh, satu pengungsi dari Ambon habis segala sesuatu, rumah, harta kekayaan, uang yang dia kerja bertahun-tahun dia tidak simpan di bank, dia simpan berupa emas, berupa uang taruh di laci, itu habis. Dia tinggal bawa baju saja di badan. Dia menjadi pengungsi di daerah Sulawesi Utara. Tetapi justru setelah dia jadi pengungsi maka dia bertemu dengan Yesus, bertemu dengan kebenaran Firman Tuhan. Lalu dia bandingkan sekarang, kalau dia tidak mengalami itu di Ambon, dia tidak kenal Yesus. Sekarang dia kenal Yesus gara-gara dia diusir terpaksa dari Ambon, maka dia bilang Tuhan terima kasih, justru karena saya jadi pengungsi saya bisa kenal Yesus. 

Apa artinya harta benda dibanding dengan keselamatan? Apa artinya kekayaan yang dicari yang bisa habis dibanding keselamatan di dalam Yesus? Maka dia katakan, terima kasih Tuhan sekarang saya sudah kenal Yesus, untung saya menjadi seorang pengungsi, karena di pengungsian saya bisa dengar Firman Tuhan lebih banyak. Dulu saya ke gereja asal-asalan, saya hanya punya agama kristen KTP, tapi tidak kenal Yesus. Nah, jangan sampai saudara sekarang jadi jemaat GPdI hanya KTP,  jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia cuma KTP. Puas dengan seminggu sekali kita datang di gereja, cukup rasanya. Kita ngatur Tuhan, Tuhan buat saya cukup saya kenal Tuhan seminggu sekali saja saya kebaktian. Jangan! Tetapi mari kita mengasihi Tuhan. Kalau orang mengasihi Tuhan, saudara-saudaraku, dia akan merasa tidak cukup memberi kepada Tuhan, dia tidak cukup berbakti, dia tidak cukup berdoa, dia ingin lebih, karena dia mengasihi Tuhan. 

Nah, bagi orang yang mengasihi Tuhan inilah segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan. Ada satu ibu, saudara- saudara, di satu kota, ibu ini disebut ibu Roma 8 ayat 28, dia jemaat satu gereja. Kalau ada ibu yang muda, bentrok, ribut dengan suaminya, minta nasehat sama dia, dia bilang, ingat Roma 8:28, segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebajikan. Dia tidak punya nasehat yang lain. Kalau ada bapa-bapa minta nasehat sama dia, dia cuma ngomong, ingat pak Roma 8:28, segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan. Aduh rasanya kita engga ngerti sekarang, tapi nanti kita ngerti. Terus begitu, sampai ini ibu dikasih nama Ibu Roma 8:28. Percuma katanya tanya sama itu ibu, semua persoalan tanya sama dia, jawabanya sama: Segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan.

Satu kali ini ibu nginap di satu hotel. Dia nginap di satu hotel, karena beli roti di hotel itu mahal, disebelah hotel itu ada toko roti, maka dia turun dan dia beli roti. Dia beli roti, saudara-saudaraku, roti yang disebelah hotel itu tentu saja tidak tertutup plastik, roti itu biasa saja. Jadi dia pegang di kantong itu, dia pegang separuh roti, pegang di kantong. Dia masuk ke hotel itu. Sebelum dia masuk ke hotel, saudara-saudara, anjing curi dia punya roti, anjing gigit roti itu dan dia bawa lari, banyak dua, tiga roti. Aduh, dia mau kejar, dia pakai kain mana bisa dia kejar, anjingnya sudah lari. Dia ingat itu ayat, Roma 8:28, segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan, dia masuk lagi di hotel dan dia mau ke lift. Begitu masuk di lift, lift itu pas tertutup. Pas tertutup. Dia  minta-minta tolong, tapi lift sudah tertutup. Orang-orang di lift itu kelihatannya tidak memberi jalan kepada dia, yah sudah lift itu berangkat. Tidak lama tidak sampai satu menit kedengaran suara yang keras sekali, justru lift itu putus. Lift yang dia mau masuk itu putus dan ada kecelakaan gawat sekali. Apa artinya roti yang dimakan oleh anjing dengan keselamatan dia dari lift itu. Itu sebabnya segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan.  

Saudara-saudaraku, ada satu ibu di Surabaya punya keluarga yang berkekuranganlah, dia punya satu anak pake sepeda butut saja. Itu anak pulang sekolah, makan sederhana saja, dia bingung ini ibu, besok bagaimana mau masak apa. Dia bilang sama itu anak, jangan naik sepedalah kamu pulang sekolah, nanti pusing nanti jatuhlah, tapi ini anak malah ingin naik sepeda. Naik sepeda dia, naik sepeda. Betul saja, saudaraku, di bawah pohon jambu dia jatuh, dia jatuh, biasa jatuh dari sepeda. Tapi begitu jatuh, dia lihat ada uang lima ribu, dia menemukan uang lima ribu, ah dia ambil, dia balik. Mamanya bilang, kenapa itu lututmu berdarah? Jatuh. Bukan mama sudah bilang, kamu jangan naik sepeda. Iya, bu. Tapi waktu jatuh saya menemukan uang lima ribu. Mamanya tersenyum, untung kamu jatuh, untung kamu naik sepeda.

Segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan. Di Jakarta saya kenal satu ibu, kerjanya bikin lotek, bikin gado-gado. Kalau saya khotbah, dia yang suka nyumbang nyanyi. Kadang-kadang saya  bilang, suka over-acting ini tante ini. Asal saya bagian khotbah, dia nyanyi, orangnya gemuk, orang Jawa. Sekarang sudah pindah di Amerika, saudara, pindah ke Amerika dengan lotek itu.

Ceritanya begini, satu kali dia habis modal. Habis modal, dia naik di jembatan Tomang, saudaraku, jembatan penyeberangan Tomang dia bilang, Tuhan, saya habis modal, tidak ada uang sama sekali. Jam sembilan pagi, waktu dia jalan, dia lihat ada uang di jembatan itu, uang jatuh di bawah, dia lekas injak, dia tunggu cukup lama, sampai ada bapa-bapa, jangan di tengah jalan dong bu kalau ngelamun, pinggir jalan sedikit, oh iya pa, iya. Dia tunggu, engga ada yang kehilangan uang, engga ada sampai lima belas menit baru dia jongkok, dia ambil, dua puluh lima ribu rupiah digulung-gulung, ter gulung. Dengan itu dia beli bahan-bahan ke pasar, dia bikin gado-gado, sorenya dia sudah jual. Terus dia puter, puter, sampai dia bisa sekolahkan anaknya ke Amerika, sampai dia pindah ke Amerika. Sekarang dia engga bikin lagi gado-gado, dia ikut anaknya. Untung engga punya duit waktu itu, sampai dia harus jalan ngelamun, lalu ketemu dengan uang.

Tapi sekarang saudara mulai berkata, ah kalau begitu kita jadi ikut Tuhan yang kebetulan. No, no, no! Kalau kita mencintai Tuhan, Tuhan punya 1001 macam cara, 1001 macam jalan untuk, saudara-saudaraku, kebajikan bagi kita orang yang mengasihi Dia, bagi kita orang yang mencintai Dia, bagi kita yang mengasihi Tuhan. Itu menjadi satu kebajikan, menjadi satu hal yang berguna. Jadi berbalik dari malapetaka menjadi berkat. Dari laknat menjadi berkat, dari celaka menjadi penghiburan, dari asalnya ... 

Saudara tahu bahwa ini terjadi dalam satu kejadian di Israel pada waktu Bileam menjadi nabi. Bileam ini nabi Tuhan, yah, dan saya harus taruh pada proporsi yang sebenarnya. Dia nabi Tuhan yang sebetulnya disayang Tuhan. Dia punya nubuat selalu terjadi. Nah, ini nubuatan Bileam ini terdengar kepada Raja Balak. Raja ini bilang, wah ini Israel kita engga bisa kalahkan, karena disana ada satu nabi, dia punya doa, dia punya nubuat luar biasa, terjadi terus. Asal dia bernubuat, kiranya diberkati Tuhan, kiranya diberkati Tuhan ini umat Israel, jadi kita melawan satu bangsa yang diberkati. Jadi bagaimana kalau kita culik ini nabi, atau diam-diam pelan-pelan lalu kita sogok dia dengan emas perak supaya dia mengutuk rakyat Israel, supaya setelahi dikutuk itu baru kita bisa hancurkan Israel. Negosiasi, negosiasi, diolo, bagaimana nabi, ini ada uang, ada emas perak, coba tolong kutuk saja orang Israel ini. Sebagai manusia, nabi ini lemah, dia lihat emas perak, dia lihat kekayaan, waduh! Dia jadi nabi Tuhan hidupnya juga pas-pasan mungkin. Sekarang raja kasih emas perak. Dia cuma ngutuk saja untuk orang Israel. Iya deh kalau begitu boleh. Tuhan sudah kasih tanda, jangan kamu kesana, jangan kamu kesana, sampai satu keledai ngomong, keledai yang dia tunggangi ini tidak mau maju, dia kukuh, dia kukuh, dia kukuh, dia kukuh, tiba-tiba ngomong, karena keledai ini lihat malaikat di depan dengan pedang terhunus. Nabi tidak lihat, binatang keledai lihat.

Berarti kalau seorang hamba Tuhan sudah melanggar kehendak Tuhan, dia lebih bodoh dari keledai, karena keledai bisa lihat malaikat Tuhan, tapi nabi ini dia tidak bisa lihat. Dia marah sama ini keledai dan dia bicara, dia pukul, kurang ajar kamu. Hei, keledai ini ngomong: Kenapa tuan memukuli saya? Kalau kita yang punya keledai kan kita bingung, ini keledai kok bisa ngomong? Kita akan berhenti, mungkin kita kena serangan jantung, atau mungkin kita mendadak menjadi bingung, kita mungkin lari. Ini dasar nabi sudah salah, dia jawab, itu keledai bilang, kenapa tuan memukuli saya? Karena kamu tidak mau maju-maju, aku harus ketemu raja, kenapa kamu tidak maju-maju? Baru dibuka sama Tuhan matanya, ada malaikat besar. Jangan pergi. Akhirnya tidak pergi.

Tapi di lain kesempatan, dia datang juga. Jadi si raja enggak mau rugi, kamu nubuat dulu, kalau nubuatnya kamu mengutuk, baru aku kasih duit ini. Bernubuatlah dia, saudara. Di atas gunung dia lihat itu umat Israel di bawah, dan dia mulai bernubuat. Heran, dia pikirannya nubuatnya jelek, terkutuk gitu, tapi begitu keluar, diberkatilah hai umat Israel, diberkatilah anak-anakmu, diberkatilah tanahmu. Jadi marah lagi raja, saya bilang kutuk, kok kamu berkat lagi. Saya sendiri mau mengutuk, tapi yang keluar ini berkat.

Saudara, kalau saudara ada yang mau mengutuk, jangan takut. Ada ayatnya di dalam Amsal, kutukan itu dirubah menjadi berkat. Jadi saudara-saudara harus jangan takut, segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan. 

Cerita yang lain, cerita tentang Yusuf. Sejak umur 17 tahun, Yusuf ini, saudaraku, dienye (diejek), dirobek-robek pakaiannya oleh saudara-saudaranya sendiri, ditempeleng, dipukul, dimasukkan di dalam sumur kosong, pakaiannya diambil yang bagus itu, dirobek, masukan di darah domba, pura-pura bawa sama bapanya. Saya ketemu baju ini, baju siapa? Waduh Yakub bingung, ini baju Yusuf, pasti dia sudah diterkam binatang buas. Padahal itu sandiwara. Pasti binatang buas sudah terkam dia, nangis. Yakub sangka, Yusuf sudah mati. Yusuf dimasukkan di sumur kosong. Dasar Yahudi, ah kalau ditaruh di sumur kosong tidak jadi duit. Lihat ada orang Ismail lewat, orang Arab. Kita jual saja sama Arab.

Arab mah, saudaraku, segala sesuatu yang Yahudi jual, dia beli. Jadi saudaraku dia jual. Dia jual ke Mesir. Mesir dia jual ke Potifar. Di Potifar dia kerja, dia kerja, dia kerja sebagi pembantu rumah tangga. Disana juga dia difitnah. Difitnah saudaraku dia masuk penjara. Dipenjara, penjara, penjara akhirnya dia ketemu sama Firaun. Di Firaun dia ungkap itu mimpi. Saudara-saudaraku, 13 tahun dia menghadapi ini segala macam saudaraku keributan, kesusahan, tekanan, aniaya lalu dia jadi Perdana Mentri.  

Waktu dia menjadi Perdana Menteri, dia punya visi. Ada 7 tahun kelimpahan, ada 7 tahun kekurangan. Saya sudah dikasih tahu sama Tuhan. Indonesia ngaconya ini Indonesia sampai 2004. Tuhan sudah kasih tahu. Saya sudah khotbah di Jakarta.  Jadi sekarang biar siapa Presiden, biar siapa menterinya akan ribut terus. Sampai 2004. Nanti tahun 2004 baru .. Tuhan sudah kasih tahu. Nah, Yusuf dikasih tahu juga. Yusuf bilang ada 7 tahun kelimpahan. Setelah 7 tahun kelimpahan ada kekurangan. Apa yang terjadi ? Betul kejadian. Beli semua gandum, Mesir beli gandum. Akhirnya 7 tahun kekurangan. Kering,  dimana-mana tidak ada hujan. Termasuk saudara-saudaranya yang mukulin dia, balik sama dia cari-cari gandum. Cari gandum ke Mesir. Dia tidak tahu ini Yusuf sudah jadi Perdana Mentri. Yusuf bikin rekayasa, rekayasa satu gelasnya seolah-olah dicuri sama Benyamin punya karung dsb, dsb. Akhirnya mau dihukum. Minta-minta ampun saudara-saudaranya berlutut sama Yusuf, jadi nggak tahu itu Yusuf. Tapi Yusuf buka, dia nangis.  Ini aku ini Yusuf, saudaramu yang kamu jual. Takut saudara. Kakak-kakaknya ini takut. Wah, saya di balas dendam. Pasti saya dihancurkan. Kita pasti dipenjara. Tapi apa Yusuf bilang? Apa yang kamu kerjakan pada saya sudah dirubah Tuhan. Justru untuk menyelamatkan saya, menyelamatkan bangsa.

Kalau saudara baca ini ceritanya indah sekali kata-kata Yusuf yang terakhir. Kita mau lihat dalam kitab Kejadian    

45:2 Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun. 
45:3 Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. 
45:4 Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat." Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. 
45:5 Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. 

Saudara lihat ini kata-kata seorang bijak. Dia tidak anggap dia dijual. Dia anggap ini Tuhan punya rekayasa: Tuhan mengutus aku mendahului kamu.

45:6 Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. 
45:7 Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. - ayat 8 perhatikan - 

45:8 Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. 
45:9 Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu. 

Jadi saudara-saudara, saya kalau sudah mau bicara ini suka mau nangis. Ayatnya yang ke-11. 
45:11 Di sanalah aku memelihara engkau--sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi--supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau. 
45:12 Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu. 
45:13 Sebab itu ceritakanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralah bawa bapa ke mari." 
45:14 Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pulalah Benyamin pada bahu Yusuf.

Orang yang nggak ngerti gara-gara Yusuf dijual ke Mesir. Yusuf dimasukkan di sumur kosong. Kejam. Tapi Yusuf lihat lain. Itu rekayasa Tuhan. Segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan bagi orang yang mengasihi dia. Saya punya keyakinan satu: Selama kita mengasihi Tuhan, selama kita benar-benar murni hati kita, mengasihi Tuhan tidak ada maksud lain, hanya mengasihi Tuhan, segala sesuatu yang terjadi disekitar kita, yang menurut  penilaian orang itu malapetaka, kesukaran, kesusahan, Tuhan rubah Tuhan bisa sanggup rubah menjadi kebajikan bagi kita orang yang mengasihi Dia. Ada haleluyah ?

Jadi, pokoknya itu kasih. Kalau kita mengasihi Tuhan, saudara Dia yang memutarbalik ini problem. Kalau kita mengasihi Tuhan, problem ini Dia putar balik, dari laknat menjadi berkat. Dari kacau menjadi beraturan, dari rugi menjadi untung, dari celaka, saudaraku menjadi berkat yang besar. Itu kalau kita mengasihi Tuhan. Jadi kasih kita kepada Tuhanlah yan merubah ini. Jadi saya tadi sampai 3 salinan saya baca supaya saya mendapatkan salinan yang tepat. Bahasa Indonesia yang baru: Allah turut bekerja bersama-sama. Bahasa Indonesia lama: Segala sesuatu bekerja bersama-sama. Bahasa Inggris: All things work together for good. Segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikan. Bagi siapa? Bagi orang yang mengasihi Dia. 

Jadi begini saudara. Kita ini bodoh. Kita ini, maaf, saya pakai kita ini nggak ngerti apa-apa. Kita ini bodoh. Kita ini tahunya cuma cinta Tuhan saja. Orang bikin rekayasa mau celakakan kita. Kita mah nggak ngerti, nggak tahu apa-apa. Itu rekayasa Tuhan rubah menjadi berkat asal kita tetap mengasihi Dia. Persoalannya di dalam mengasihi Tuhan ini. Dalam 1 Korintus pasal terakhir, pasal 16

16:19 Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priskila dan Jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu. 
16:20 Salam kepadamu dari saudara-saudara semuanya. Sampaikanlah salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus. 
16:21 Dengan tanganku sendiri aku menulis ini: Salam dari Paulus. 
16:22 Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranatha!

Jadi saudaraku, kutuk itu datang bukan orang lain yang bikin. Bukan. Sekarang orang Ambon banyak sadar. Kenapa Ambon sampai terjadi kerusuhan begitu? Mereka mulai sadar karena kita tidak mengasihi Tuhan. Kita ke gereja jadi Kristen turunan. Sebulan sebelum kerusuhan, saya masih KKR di Ambon, didepan kantor gubernuran ada lapangan. Itu KKR pertama di lapangan dan terakhir. Orang masih banyak ingat khotbah saya, saya sendiri lupa. Mereka bilang: Pak Awondatu khotbah Ambon ada di persimpangan jalan. Tanpa sadar saya sudah bernubuat. Itu terngiang-ngiang dihati mereka. Tidak lupa itu kata-katanya. Ambon ada dipersimpangan jalan. Satu bulan kemudian rusuh. Setelah saya pulang ke Jakarta, ada banyak pendeta di Jakarta dengar Ambon terbuka KKR, mereka mau KKR. Sampai di sana ditolak: Kami sudah Kristen sejak masih di perut ibu! Kami tidak perlu KKR. 

Kita tidak mengasihi Tuhan, terkutuk. Bukan Tuhan yang mengutuk, bukan. Kita sendiri yang taruh kutukan itu, karena kita tidak mengasihi Tuhan. Maka dengan saya lihat saudara pagi-pagi saudara bangun sudah datang di kebaktian itu sudah satu bukti saudara mengasihi Tuhan. Maka saya jamin, saudara nggak usah takut problem. Problem, Tuhan bisa robah menjadi berkat. Mari kita berdiri bersama-sama.  

-- o -- 

Minggu, 11 November 2001

KESETIAAN

Selamat bertemu di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kita akan melihat dari Lukas 15, adalah injil penemuan. Ada 3 cerita yang diceritakan oleh injil Lukas 15 ini, yaitu domba yang hilang ditemukan kembali. Yang ke dua dirham yang hilang yang ditemukan kembali. Dan yang ke tiga anak yang hilang tetapi tidak ditemukan kembali - dia kembali sendiri. Tiga cerita ini mengandung arti yang sangat indah tetapi pagi hari ini kita akan melihat cerita yang ke dua - seorang perempuan dengan dirham yang hilang - ayat ke 8 sampai 10. Tuhan Yesus berkata demikian:

15:8 "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? 
15:9 Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. 
15:10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." 

Tidak ada seorangpun yang bilang haleluyah? Saudara tidak punya hatinya Tuhan. Orang yang punya hatinya Tuhan itu senang dengar ada orang bertobat. Nah, selalu bicara Yesus tentang perempuan di dalam Alkitab, itu selalu Dia bicara tentang saudara dan saya, tentang jemaat, tentang gereja. Ada lima perawan yang bodoh, lima perawan yang pandai. Ada perempuan, dua wanita sedang mengisar jagung, satu diangkat satu ditinggalkan. Dua wanita bekerja di ladang, satu diangkat satu ditinggalkan. Jadi wanita yang menggiling tepung lalu mengkhamirkan dengan ragi. Cerita-cerita dalam Perjanjian Baru yang diumpamakan oleh Tuhan Yesus dengan perempuan itu bicara banyak tentang saudara dan saya, yaitu jemaat yah. Nah, ini mulai dengan cerita yang sebenarnya, Dia ceritakan karena ini adalah satu perumpamaan, maka ini adalah cerita. Namanya saja perumpamaan hanya untuk memperjelas arti yang Dia sedang ceritakan. 

Ada perempuan yang mempunyai sepuluh dirham. Kita mau tahu dulu dirham ini apa? Dirham ini mata uang, saudara. Tapi ada dua macam mata uang. Dirham dari Persia dan dirham dari Yunani. Dirham dari Persia itu berbentuk emas beratnya 20 gram, yang saya rasa tidak mungkin ini yang dimaksud karena Persia tidak ada hubungan dengan orang-orang Israel waktu itu, yah. Tidak ada. Nggak ada urusan dengan orang-orang Yahudi. Lebih ada hubungan dengan Yunani. Jadi dirham disini adalah dirham Yunani yang berbentuk dari perak. Perak yah, dan itu menjadi mata uang. Tetapi perak ini, dirham ini juga menjadi hiasan. Menjadi hiasan yang biasa digantungkan pada dada dari wanita. Menjadi satu kalung, hiasan. Biasa ini adalah pemberian dari tunangan, pemberian dari calon suami untuk pernikahan nanti. Jadi dia memberikan dirham untuk dipasang di kalung. Saudara-saudara, ini terjadi di Amerika, ini terjadi di Eropa, ini terjadi di Bangkok, ini terjadi di Perancis - dimana mata-mata uang, coin yang sudah tidak terpakai dibikin hiasan untuk jadi kalung dan sebagainya. Jika ia kehilangan satu diantaranya, mungkin buat kita, saudara-saudara, sepuluh dirham hilang satu tidak ada urusanlah. Dari sepuluh hilang satu masih ada sembilan. Tapi ceritanya bukan itu. 

Ceritanya ini bagaimana perasaan tunangannya kalau dia tahu bahwa kalung pemberiannya itu hilang satu mata; karena sepuluh dirham itu bicara juga tentang kesetiaan. Saya bisa bicara tentang 10 hukum Taurat. Kita bisa bicara tentang 10 macam hukum PB. Tapi pada pagi hari ini kita mau bicara tentang kesetiaan. Dalam kesetiaan ini saudara-saudaraku satu saja ini hilang ... Perempuan ini luar biasa. Dia tidak mau kehilangan yang satu, kenapa? Karena dia tidak mau kehilangan tunangannya - tuan ini, yang sudah bertunangan dengan dia, yang memberi dirham ini. Terbuka saudara punya muka wajah kepada Matius 25 ketika satu dinar diberikan. Ada yang diberikan 5 dinar. Ada yang diberi 5 talenta dapat untung 5 talenta. Oleh tuan itu. Ada yang diberikan 2 talenta dapat untung 2 talenta. Tapi ada yang diberikan satu talenta, itu satu talenta dia kubur. 

Tapi ini perempuan lain. Hilang - dia cari. Bukan karena barangnya - bukan. Saya katakan tadi barangnya dari perak. Jauh lebih mahal dirham dari Persia itu yang 20 gram emas, yang nggak mungkin ditaruh disini. Bukan barangnya, bukan harganya, tetapi itu artinya arti dari kesetiaan itu. Aduh, yang memberi ini memberikan ini kepada saya sebagai tanda pertunangan sebagai tanda engagement, pertunangan. Maka Salomo berkata: Orang yang pandai itu banyak tapi orang yang setia itu siapa boleh mendapatkannya. Itu sebabnya saudaraku jikalau dia sampai hilang satu ini - saya ulang-ulang lagi - bukan soal dirhamnya yang dari perak itu tapi soal yang memberinya bagaimana penilaian yang memberinya kok cuma soal perak aja kamu nggak bisa jaga. Gimana nanti aku memberi kekayaan yang lebih besar? Coba kita buka dulu Lukas 16, persis satu lembar.

Saudara-saudara kita mulai baca Lukas  

16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.-Ada haleluyah?- Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. 

Saya mau baca lain ini ayat 10, dengar, baca pakai salinan Awondatu : Barangsiapa setia dalam perkara-perkara dirham yang murah, ia setia juga dalam perkara-perkara kekayaan emas yang berlimpah. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara dirham yang kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara emas dan kekayaan yang melimpah. 

Disitu persoalannya. Persoalan kesetiaan. Kalau orang tidak mau ditawarin cewek, ditawarin perempuan supaya nyeleweng, dia nggak mau! Dia tidak mau. Dipaksa. Ditawarin. Dia tidak mau. Tapi kalau memang dia sudah niat, memang mau jatuh. Dilarangpun dia cari. Tadi Pak Husni bilang, ini saya punya microphone ini busanya hilang, tutup, disini. Jatuh, tapi mungkin pengerja tidak tahu itu. Mungkin tersapu jatuh. Busa itu kecil tapi dia berarti. Dia bisa menyerap suara, suara desing-desing di luar itu dia serap, jadi yang masuk itu yang enak. Bisa setia dengan yang kecil, kalau yang kecil saja hilang yang besarpun hilang. Setia dengan perkara yang kecil, akan dikasih kepercayaan yang besar. Kalau saudara dikasih warung yang kecil, saudara tidak marah-marah, tidak ngamuk-ngamuk, tidak ngarasulah. Ah, sudah saja terima kasih sama Tuhan.

Saya punya warung yang kecil, puji Tuhan, haleluyah. Terima kasih sama Tuhan, haleluyah. Tuhan lihat. Dikasih kecil dia baik. Dikasih rumah kecil, dikasih warung kecil, dia puji Tuhan, haleluyah, dia terus setia sama Tuhan. Tuhan bilang: Aku tambah! Ditambah, haleluyah, puji Tuhan. Tidak sombong. Tambah kaya, tidak sombong. Tetap aja rendah hati. Ditambah lagi sama Tuhan, eh nggak sombong. Tambah kaya tambah rendah hati. Ditambah lagi. Karena ada ayatnya: Dia yang membuat miskin, Dia yang membuat kaya. Jadi problemnya dimana saudara-saudaraku, perempuan ini? Kenapa sampai soal dirham aja dicari-cari? Bukan soal dirhamnya, itu soal kepercayaannya. Nah, kita mau lihat bagaimana perempuan ini mencari sampai itu dirham ketemu. Menarik sekali. Kita buka kembali Lukas

15:8 "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita

Ini yang saya senang. Dia mulai menyalakan pelita. Berarti saudara-saudaraku, untuk mencari sesuatu yang hilang, pelita itu harus menyala. Firman Allah katakan bahwa, Firman Tuhan adalah obor pada jalanku dan pelita pada kakiku. Pelita tidak lain adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan harus dinyalakan dalam hidup kita. Dari urusan kecil, dirham, sampai kepada urusan jual beli sapi, saudaraku, ini pelita harus dinyalakan. Dari saudara-saudaraku, kita menjodohkan kambing, menjodohkan burung, sampai menjodohkan anak, ini pelita harus hidup, harus dinyalakan. Saya senang, saudara-saudaraku, dengan wanita ini - dia menyalakan pelita. Berarti selama ini pelita itu tidak pernah dinyalakan. Dia nyalakan ini pelita. Kembali coba kita lompat lebih dahulu kepada Matius pasal 5. Di dalam Matius pasalnya yang ke-5, haleluyah, di sana kita lihat ayatnya yang ke 15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 

Jadi saudara-saudaraku, pelita dinyalakan lalu ditaruh di atas kaki dian. Ditempat lilin, di tempat kaki dian itu ditaruh. Orang Yahudi punya, kalau kita sedang belajar Tabernakel itu tujuh kaki dian. Kaki dian yang mempunyai tujuh pelita. Tetapi orang Yahudi punya sembilan, sembilan pelita. Oke, kita bilang saja, dia nyalakan itu sembilan-sembilannya. Terang. Mulai dapat terang. Karena apa? Dia mau mencari yang hilang. Sukar ini kalau orang sudah tidak percaya sama kita. Untuk mengembalikan kepercayaan ini sukar. Jadi pertama dia nyalakan ini pelita. Jadi kalau ada siswa, dia bohong sama saya, saya nggak percaya lagi. Walaupun kedua kali, ketiga kali dia nggak bohong lagi sama saya tapi saya sudah hilang kepercayaan saya. Hilang saya punya hormat sama dia. Hilang. Oke kita bikin grup baru nyanyi, walaupun dia anggota grup nyanyi, saya tidak akan ajak lagi nyanyi. Saya ajak orang lain. Memangnya cuma dia yang bisa nyanyi? Orang lain juga bisa nyanyi. Yang saya cari bukan suara, yang saya cari justru setia. Terang rumah. Saudara kalau gelap di rumah kita terus, kita cari batre saja kita udah senang dapet. Ini terang. 

Tahukah saudara bahwa terang itu dipasang itu karena gelap? Kalau saat itu rumah itu terang, dia nggak usah pasang pelita. Oh, dirham sudah hilang, kenapa? Karena gelap. Tidak tahu jatuhnya dimana. Kenapa banyak perkara-perkara rohani yang hilang dari hati kita? Karena hati kita gelap. Anak sekolah minggu nyanyi dulu. Dari Amerika dia nyanyi di Beiji Hatiku gelap berdosa .. Sampai Yesuspun datang .. Darah-Nya yang termulia .. Sucikan seg'nap dosa .. Firman Allahpun t'lah berkata .. Jalan surga dari mas rata .. Ku mau tetap dalam dia .. Baca Firman berdoa.

Kenapa banyak yang hilang dari hati kita? Itu karena kita gelap. Tapi begitu dinyalakan lampu itu - terang! Gelap tidak bisa lagi. When the light comes from the front door it will scare the shadow away. Ketika terang masuk dari pintu depan dia akan mengusir kegelapan hilang. Tidak ada kegelapan ketika terang ada. Apa artinya gelap? Itu adalah absennya terang. Ketika terang absen maka gelap. Tapi ketika terang ada, gelap tidak ada.

Apa yang terjadi saudara? Diambilnya sapu. Bukan hanya dia pasang lampu tapi diambilnya sapu. Dan menyapu rumah. Kenapa? Karena rumah itu kotor. Kalau rumah itu tidak kotor, kenapa dia musti pakai sapu. Justru karena rumah itu kotor dia bilang, itu dinar mungkin seperti kertas putih itu, seperti benda ini, aduh, saya kok ambil sapu. Saya mau bersihkan ini rumah. Dia tunggu, saudara-saudaraku, sampai waktu dia sapu itu dia dengar bunyi gemerincing. Kalau koin disapu bunyikan? Krincing, krincing, bunyi. Dia tunggu itu. Dia sapu terus. Belum bunyi, dia sapu, cari terus. Seluruh rumah dia sapu, kolong-kolong yang gelap pakai pelita, dia korek. Tadi saya lihat pengerja wanita jam 04.15 sudah menyapu. Menyapunya hanya di load speaker saya, dia hanya sapu dikelilingnya saja. Tidak diangkat itu peti, tidak disapu. Kalau dinar itu terselip dibawah load speaker itu tidak ketemu. Kalau sapu itu, kalau disitu ada pot kembang, angkat dulu pot kembang, sapu. Disitu ada lukisan, lukisannya diangkat. Itu sapu betul. 

Yang ketiga, dia mencarinya dengan cermat. Banyak orang mencarinya asal-asalan saja. Ini terjadi dengan pengerja saya. Coba kamu cari burung nomor 117 dan nomor 118. Lari, balik lagi. Engga ada, Oom. Nggak ada? Engga ada, oom. Kalau begitu terbang, saya bilang. Engga ada yang terbang, Oom. Kalau gitu hilang. Engga ada yang hilang. Kalau gitu, ada itu burung, saya kok yang kasih nama kemaren besar-besar di kertas merah 1117 dan 1118. Cari! Lari lagi. Balik lagi. Engga ada, Oom. Habis carinya pakai dengkul, saudara-saudaraku, dia tidak bisa ketemu. Setelah tiga hari saya jalan. Begitu saya jalan tiga langkah, dapatlah itu yang saya cari. Saya panggil, lihat. 117. Yang ini? 118. Kamu bilang nggak ada? Kemaren nggak ada, Oom. Kok sekarang ada? Saya juga aneh. Mencari tapi tidak dengan cermat. Apa kata Firman Allah? Siapa mencari, dia mendapat. Yang dimaksud, siapa yang mencari dengan cermat. Karena Matius 7:7 berkata, bahasanya Amplified New testament: Barangsiapa mencari dan tetap mencari, dan tetap mencari - ia akan mendapat. Barangsiapa yang mengetuk pintu dan tetap mengetuk, dan tetap mengetuk, dan terus mengetuk - baru pintu dibukakan. Barangsiapa siapa yang meminta, dan tetap meminta, dan terus meminta - ia akan diberi. Jadi bukan hanya: Tuhan saya minta tolong. Nggak! Tuhan saya minta tolong. Nggak! Nggak. Meminta terus, meminta terus. Mengetuk terus tidak putus asa. Mencari terus dengan cermat, ia mendapat. Ini yang ditemukan saudara-saudara. 

Dan ketika, ayat 9, dan kalau sampai ia menemukannya, dan kalau ia telah menemukannya.

Ada dua kali kata menemukan: menemukannya, menemukannya. Dua kali. Saudara-saudaraku, ketika dia menemukannya. Coba saudara renungkan, yang saya bilang, bukan dinarnya yang dia cari. Yang dia sedang cari ini, kepercayaan dari tuannya itu. Masa soal satu dinar saja saya musti hilang? Masa cuma ini soal yang kecil ini, saya hilang? Ini tunangan saya nanti bilang bagaimana? Bagaimana saya mau menikah? Rumah tangga yang berat, rumah tangga yang besar. Dinar saja bisa hilang. Dia cari. Jadi ketika dia menemukan. Ada dua kalimat, menemukan. Ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku. Sebab dirhamku yang hilang ini telah kutemukan. Aku berkata kepadamu, demikian juga akan ada sukacita pada malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat. Ia memanggil, saudaraku, yang pertama sahabat, yang kedua tetangga. Pertama tuh orang dekat, sahabat. Yang kedua tetangga, tidak terlalu dekat, tetapi kenal. 

Saudara-saudara tahu kita sudah menemukan apa saja. Kita menemukan Tuhan. Kita menemukan keselamatan. Kita menemukan sukacita. Kita menemukan damai sejahtera. Ceritakan. Pertama kepada sahabat. Dimana? Gereja, kita bersaksi. Kalau di gereja bersaksi, kita sedang bercerita kepada sahabat. Mungkin sore ini atau mungkin minggu depan, saudara Erik akan bersaksi di sini, suami istri. Kesaksiannya, dia sudah mati, dia sudah tinggalkan badannya. Tetapi, saudaraku, dia bisa balik lagi. Bisa bangkit lagi dan dia akan bersaksi. Nah, minggu ini, sore ini atau minggu depan. Tapi saya bilang jangan dulu keluar, antara sahabat dulu. Bersaksi dulu diantara saudara-saudara yang dekat. Bersaksi. Banyak pendeta-pendeta yang sudah jadi eks Cianjur, datang ke sini cuma mau minta duit. Datang cuma minta duit, minta dana buat pembangunan gereja. Saya bilang, apa kamu tidak mau bersaksi? Ada satu orang, dia tidak bersaksi. Yah karena tidak mau bersaksi, saya mau kasih besar, saya kasih kecil saja. Dia tidak bersaksi. Kasih sape ceng aja cukup. Tapi kalau dia bersaksi, saya bisa kasih satu juta. Karena dananya memang sudah lebih gede. Brur, kalau dia bersaksi kasih satu juta. Kalau dia tidak bersaksi, kasih tiga ratus ribu saja. Jadi memang ada berkatnya untuk yang bersaksi. 

Jadi kalau jemaat, kok jemaat tidak dapat? Kan yang kasih Tuhan langsung. Kalau jemaat bersaksi, bukan saya yang kasih, Tuhan yang kasih langsung, saudara-saudara, yah. Bukan sape ceng, saudaraku, lebih besar. Kalau bersaksi, saudaraku, besar. Itu sebabnya mulai bersaksi. Saya senang kalau kebaktian pagi juga ada yang bersaksi. Siswa-siswi juga bersaksi. Bukan untuk pamer. Bersaksi bukan untuk cerita hasil dia punya, bukan. Bersaksi itu kasih tahu, ada yang hilang tapi aku sudah temukan. Sesuatu yang lenyap, aku sudah bertemu lagi. Apa yang terjadi saudara-saudara? Dia adakan pesta luar biasa. Masa soal dinar yang cuman dari perak saja musti pesta? Bersuka cita dengan saudara-saudara, sahabat-sahabat? Tidak. Bukan itunya. Tapi karena itu, calon suaminya itu. Bukankah Firman Allah katakan Tuhan Yesus adalah calon suami kita? Tuhan Yesus adalah tunangan kita? Kita sudah ditunangkan, kata Rasul Paulus, dengan seorang laki-laki, sebagai perawan yang suci. Jangan sampai kepercayaan ini, tunangan ini hilang, saudara- saudara. Saya mau tutup dengan satu kesaksian yang pernah saya dengar dari Finlandia. 

Ini kejadian benar di Finlandia. Ada satu pemuda mempunyai seorang kekasih. Mereka lulus SMA mulai bekerja. Mereka mau membangun rumah tangga. Tetapi keuangan tidak cukup. Karena mumpung masih muda, sang pemuda dia berkata: Aku akan ke Amerika. Aku akan bekerja dan gajiku dari Amerika aku akan kirim kepadamu. Maka berlayar dia ke Amerika. Di Helsinki, pacarnya kasih bye-bye dengan air mata berlinang-linang. Setiap bulan surat datang terus dikirim juga uang, dikirim kepada pacarnya. Suruh kumpul untuk perkawinan. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, satu tahun, dua tahun sampai tahun yang ketiga. Pada tahun yang ketiga, dia sudah cukup uang yang dikumpul, dibawa. Dan dia juga rasa pacarnya sudah cukup uang, dan dia bilang, tanggal sekian bulan sekian saya akan kembali. Temui saya di pelabuhan. Dalam hati berbunga, dia kembali dengan naik kapal laut. Sampai di pelabuhan Helsinki, tidak ada pacarnya. Yang ada kedua orang tuanya menyambut dia dengan air mata. Mana kekasih saya? Kita pulang dulu, nanti kita cerita. Sepanjang jalan menangis sang ibu. Mana kekasih saya? Nanti kita pulang dulu, kita cerita. Setelah sampai di rumah, cerita. Kekasihmu, waktu kamu di Amerika, dia tergoda. Dia tergoda dengan satu laki-laki lain. Hanya beberapa bulan sebelum tunangannya ini pulang. Tiga bulan sebelum tunangannya pulang dia tergoda. Jadi dia tidak bicara kepadamu, kami juga tidak tega, dia sudah menikah dengan laki-laki lain. 

Jangan sampai Tuhan Yesus waktu pulang, turun dari surga, Dia nampak kita tergoda dengan laki-laki lain, yaitu dunia. Dengan laki-laki lain, yaitu kesenangan duniawi. Kita tidak setia lagi kepada Tuhan. Kita tidak lagi setia kepada panggilan kita. Kita lupa waktu kita menangis tersedu-sedu di kaki Tuhan dan berkata: Tuhan, aku mengasihi Engkau. Kita lupa pada waktu kita bernazar kepada Tuhan, berlutut di altar gereja dan menangis, Tuhan, satu kali aku ikut Yesus aku sampai mati akan tetap ikut Yesus. Kita lupa kita berjanji mau setia, nyatanya kita masih punya simpanan. Kita masih punya serep. Kita punya cinta terbagi, bercabang dua. Dan kalau cinta kita bercabang, antara Yesus dan dunia, kok kelihatannya yang menang itu selalu dunia. Maka sebagai ayat terakhir, saya bacakan kembali Lukas 16, hanya saya bacakan, saya tidak akan terangkan. Lukas 16, apa kata Yesus? Dia katakan, ayatnya yang ke-9: Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."

-- o --   

Minggu, 25 November 2001

Belajar Memikirkan Kehendak Tuhan

Selamat pagi di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Renungan Firman Allah kita bisa baca dari Matius 

21:12 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati 
21:13 dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." 
21:14 Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. 
21:15 Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud!" hati mereka sangat jengkel, 
21:16 lalu mereka berkata kepada-Nya: "Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?" 
21:17 Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ. 

Dalam perikop ini kita akan belajar 4 hal. 

Yang pertama Yesus menyucikan Bait Allah, yang kedua Dia berbuat mujijat, yang ketiga melihat adanya kontroversi, dan yang keempat Dia meninggalkan hal itu. 

Kita lihat yang pertama bahwa Yesus membersihkan Bait Allah. Yesus membersihkan Bait Allah itu terjadi 2 kali. Yang pertama dalam Yohanes 2, yang kedua dalam Matius 21 ini. Di dalam Matius 21 ini saudara melihat bahwa Yesus mengusir semua orang yang berjual-beli dihalaman BA. Orang-orang ini datang di BA bukan untuk beribadah tapi untuk bisnis. Ada yang dijual, ada yang dibeli. Untuk saudara bisnis di BA bukan untuk dengar FA bukan datang untuk mendengar Sabda Tuhan tapi untuk bisnis. Mereka datang untuk berjual-beli di halaman BA. Kalau saya gambarkan dari mimbar ini saudara yang gambar seperti ini. Maka ini halaman BA, ini ruang suci, ini ruang mahasuci - jadi saudara lihat tingkatannya. Halamannya jauh lebih besar daripada ruang suci BA atau ruang maha suci - halaman jauh lebih besar. Demikian juga sekarang ini orang-orang kristen halaman itu jauh lebih banyak dari orang kristen yang senang dengan Bait Allah yang senang dengan bait suci ini. 

Daud berkata : Satu hal telah kuminta itulah yang kuingini diam di dalam rumahMu dan menikmati BaitMu. Ini yang dia nikmati bukan ini. Tetapi orang-orang ini tinggal disini dan disinilah  mereka mengadakan jual beli, tukar menukar uang, jual-beli domba merpati disini. Disini mereka jual-beli. Jadi perhatian mereka tidak ada kesini. Perhatian mereka disini. Jadi saudara lihat di sini Tuhan, di sini shekinah glori, di sini adanya Tuhan, di sini adanya kaki dian dari emas, di sini adanya meja roti pertunjukkan, di sini adanya mezbah dupa, di sini adanya tabut - tapi mereka punya perhatian di sini.

Mereka hanya punya perhatian saudara dengan dagang bisnis bagaimana untung. Bahaya kalau kita datang di gereja hanya untuk dapat berkat. Saya datang ke gereja supaya toko saya diberkati, pabrik saya diberkati, sakit saya disembuhkan supaya saya punya anak cucu sehat - itu halaman semua. Saudara tidak akan bisa maju kalau saudara tetap dihalaman terus dihalaman terus. 

Kita lihat sekarang di dalam Ibrani 

6:1 Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, 
6:2 yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. 
6:3 Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya. 
6:4 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, 
6:5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, 
6:6 namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. 
6:7 Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; 
6:8 tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran. 

Kalau saudara baca ayat 2 ayat 3 berhenti dihalaman, katanya. Janganlah dihalaman terus, hentikan itu. 

6:1 Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus - itu halaman - dan beralih kepada perkembangannya yang penuh - kepenuhannya itu disini di ruang maha suci. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan - itu kolam basuhan - dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, - mezbah korban. 

Disini halaman semua. 
6:2 yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, - itu kolam basuhan -  penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati  dan hukuman kekal - mezbah korban -.

Jadi inilah yang seringkali di gereja dan di gereja pantekosta pada umumnya diberitakan. Pemberitaanya hanya awas jangan berdosa nanti dihukum kalau sudah terima Yesus dibaptis, kalau dibaptis kamu selamat. Terus kebaktian lagi kalau salah bertobat lagi kalau bertobat dibaptis lagi kalau kebaktian lagi nanti hukuman hati-hati jangan berdosa nanti dihukum - itu saja. Kalau sembahyang ya itu jual merpati tadi jual domba tadi minta berkat minta ini, minta ini - semua dihalaman. Naik dong kesini. Naik ke BA naik ke ruang maha suci. Kapan kita naik kelasnya kalau kita terus-terus di halaman. Kalau terus-terus kita datang di kebaktian hanya minta berkat, minta sehat, minta uang, minta kang tauw, minta ini, hanya itu saja - kita tidak akan naik-naik.

Dalam 1 Yohanes 5 dibelakang.   

5:21 Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.

Ayat 20 baru berkata 

5:20 Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal. 
5:21 Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.

Masa iya kita sudah percaya Tuhan masih harus waspada terhadap berhala? Masa kita sudah jadi kristen sudah jadi anak Tuhan masih harus hati-hati terhadap berhala. Maksudnya begini : Jangan kita datang sama Tuhan sama seperti kepada berhala. Ayo, kita lihat yang berhala. Orang datang ke Gunung Kawi, cari apa? Cari kaya, cari jodoh, cari sehat, cari uang, cari untung. Orang datang nyembah muja dari Banten sampai Gunung Jati tapa dimandiin sama dukun nyembah pegang jimat, supaya apa? Supaya dagangan lancar, supaya laku warung. Nah, itu berhala. Sekarang kita datang sama Tuhan. Kita datang sama Tuhan Yesus mintanya nggak berubah tetap aja itu minta sehat minta uang minta kang tauw - kita menyamakan Tuhan dengan berhala. Itu yang harus kita waspada. 

Di Bait Allah masih tapi ini mah halaman. Dibelakangin Tuhan mah dagang we terus, jual merpati. Maka Tuhan Yesus marah, Dia balikkan kursi meja. Marah betul. Maka di dalam yang pertama Dia bikin cemeti. Yang kedua Dia tidak, Dia berbalik saja. Kita belajar disini ternyata manusia itu bandel, sudah marah sekali Tuhan masih berbuat lagi. Jadi kudu kumaha atuh urang teh ka gereja? Kita ke gereja kan namanya saja menyembah Tuhan. Namanya saja sembahyang. Sembahyang itu datang dari bahasa Sansekerta: Sembah Hyang - Hyang Widi, yang berkuasa. Menyembah Hyang, menyembah Dia. Bukan show. Saya bisa rasa kalau orang pimpin pujian show atau menyembah. Jadi saudara kita datang sama Tuhan itu harus menyembah, menyembah Hyang, menyembah Sang Hyang Widi, Tuhan - dalam hal ini Yesus.

Nah, urusan ekonomi berkat, uang, toko, warung - itu pasti Tuhan berkati. Amin saudara? Tapi kita datang sama Tuhan itu nggak usah minta itu. Sembah Hyang. Nah, ini membawa kita kepada Injil Matius 6 kita harus kembali kepada jalan yang lurus jalan yang benar. Matius 
6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 
6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 

Jadi kalau kita semua datang sama Tuhan hanya apa yang kita makan Tuhan, apa yang kita minum Tuhan, apa yang kita pakai Tuhan - aduh Tuhan bilang : Aku tahu. Kamu perlu itu aku tahu. Itu dicari oleh bangsa kafir dengan berhalanya itu. Kalau datang ke gunung ini, kalau datang ke patung ini minta apa yang saya makan apa yang saya minum apa yang saya pakai. Tapi kita punya Tuhan. Nggak usah minta itu apa yang harus kita lakukan? Ayat 
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 

Jadi kita punya tugas mencari KA. Sembah Hyang itu. Sekarang banyak orang anak Tuhan lebih punya waktu untuk jalan pagi dari pada doa pagi. Ayo, kesehatan tubuh yang bakal mati ini lebih diurus daripada kesehatan rohani yang kekal. Jalan pagi lebih bisa lebih senang lebih ada waktu lebih dari 1 jam. Kalau sembahyang pagi nggak ada waktu. Mau kemana kita? Maka itu Tuhan Yesus marah. Dia putar balikkan meja. Kenapa? Karena orang-orang Israel ini cuma disini saja. Ini mah Tuhan disini nggak diperdulikan ini aja pokok nya jual beli merpati jual  beli dagang ini apa - maka Tuhan marah. Tuhan marah bukan berarti Dia benci - ini salah. Tuhan marah itu justru Dia kasihan. Kalau Dia nggak marah kita terus-terus begitu kita nggak masuk Surga. Tuhan marah itu karena Dia mengasihi kita. 

Apa yang terjadi? Mujizat yang kedua tetap terjadi dalam Matius 21 tadi. Setelah Dia membersihkan Bait Allah ada mujizat. Orang sakit datang sama Dia tetap disembuhkan, tetap disembuhkan. Jadi yang pertama, perbaiki dulu ini, baru tetap mujizat itu ada. Yang ketiga ada kontroversi. Kontroversi itu apa? Disatu pihak ada anak-anak memuji Tuhan: Hosana, mubaraklah Dia yang datang dengan nama Tuhan. Disatu sisi orang Farisi marah karena baru ditegur karena baru dimarah karena itu bisnis-bisnis money changer itu orang Farisi punya. Jual beli domba itu merpati itu orang Farisi punya. Dia jengkel. Tapi anak-anak memuji Tuhan di dalam Bait Allah, di dalam Bait Suci, di dalam Rumah Allah. Kembali kita lihat Matius 21. Yang ketiga 

21:14 Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. 

Dimana disembuhkan saudara, di mana? Di Bait Allah, bukan di halaman. Bukan disini disembuhkan oleh Tuhan. Di sini. Jadi ketika mereka masuk dalam Bait Allah masuk disini, disinilah Tuhan tolong. Di sini ada Bait Allah. Di sini mulai Tuhan tolong bikin mujizat. Jadi kalau kekristenan kita hanya disini Tuhan apa yang saya makan, apa yang saya minum, apa yang saya pakai - anggap Tuhan kaya berhala hanya datang ke gereja supaya saya dapat jodoh supaya saya dapat uang, supaya saya dapat kang taw - saudara tidak akan lihat mujizat. Mujizat itu disini. Begitu mereka masuk di Bait Allah yang timpang berjalan, yang buta melihat - Tuhan bikin mujizat. Jadi mujizat itu tidak sembarangan dikasih; Dia beri mujizat kalau saudara ada kerinduan naik tingkat naik kelas.

Saya punya anak itu guru drum. Dia ngajar drum di Bandung tetapi kebanyakan dia juga ngajar anak-anak pendeta main drum tanpa bayar. Dia paling kesal kalau anak pendeta belajar buku drum nya yang dia kasih yang dia suruh foto copy hilang. Ah, dia marah. Berarti itu murid tidak ada perhatian. Maka ilmunya dia tidak turunkan semua. Dia tidak beri semua. Sama kaya saya. Saya tidak akan panggil satu orang disini saya ajarin main gitar nih kalau main gitar. Nggak. Orang itu musti datang sama saya. Oom, ajarin dong saya main gitar, saya pengen tahu ini gitar itu gimana mainnya. Saya ajar. Saya tidak akan datang sama orang ayo sini sini saya ajarin main gitar. Nggak. Sudah di foto copy katanya pelajaran drumnya hilang. Jadi mau belajar drum tapi hilang. Udah nggak bayar hilang. Mending kalau bayar. Coba lihat Tuhan bagaimana? Mau mujijat disini tapi disini dagang. Disini kata Tuhan mujijat, aku mau disini. 

Lalu yang ke tiga kontroversi ayat 21:15 Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud!" hati mereka sangat jengkel, 

Di mana anak-anak itu menyebut hosana? Di BA. Nah, orang Farisi lihat itu jengkel karena bisnis nya habis, turun. Ini membawa kita kepada perkara yang ke empat. Dalam hal yang ke empat ayat 17 

21:17 Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ. 

Saya kalau ada murid nyeleneh aneh saya nggak mau masuk kelas. Sampai mereka mikir dulu kenapa? Kenapa saya nggak masuk kelas biar mereka mikir. Saya tidak akan masuk kelas 2 ngajar - nggak. Saya nanti besok mungkin tidak masuk dulu kelas. Baru Selasa mungkin saya masuk. Tapi saya akan masuk kelas 1. Kelas 2 mah cukup menyalin saja catatan dari yang sudah punya. Cukup. Salin saja dari siswa angkatan yang lalu nggak usah dapat pelajaran dari saya. Salin we deui di foto copy. Beres. 

Kenapa Tuhan meninggalkan mereka? Bukankah Yesus suka berkata: Marilah datang kepadaKu hei, kamu yang bertanggungan berat. Kenapa sekarang Dia tinggalkan? Biar mereka belajar mikir. Maka John Sung dengan nangis berlinang-linang air mata tahun 35 dia menyanyi begini: Bila Tuhan tinggalkanku ... Ku tak bisa buat apa ... Dibuangnya jadi kering ... Tentu masuk dapur api.

Kalau Yesus tinggalkan kita, kita tidak bisa bikin apa-apa. Maka kita jangan nyeleneh, jangan lebih pintar dari Tuhan. Tuhan mau ke Salib, Petrus bilang jangan, Yesus jangan disalib, dijauhkanlah dirimu dari Salib. Jangan. Apa kata Yesus? Pergi kesampingKu, hei Iblis. Kamu hanya memikirkan dunia saja, hal-hal duniawi. Aku memikirkan kehendak Tuhan. Datang saudara Yesus dalam Yohanes 7: Kamu jangan sembunyi begini dong kalau sudah bikin mujijat. Nyatakan dirimu sama dunia supaya kamu dikenal. Yesus malah menyendiri, tinggal ketempat yang sepi, Dia tidak mau menonjkolkan diri. Maksudnya apa? Saudaranya cuma mikir dunia saja. Tenar, tenar, tenar. Yesus memikirkan kehendak Tuhan. Supaya gol masuk di Salib. Sekarang tinggallah kita. Mau nggak ditinggalkan Tuhan. Kalau tidak mau ditinggalkan Tuhan, saudara bilang ah pak Awondatu ko Yoyo saya tidak mau ditinggalkan Tuhan. Kalau begitu jangan main disini. Jangan main dihalaman. Ayo kita sama-sama, saya dengan saudara biar ngeureuyeuh lalaunan jalan masuk di BA. Masuk di BA dan belajar di sini. Di sini mujijat, naik dong ya. Ada yang belum pernah ikut bedston ayo mulai sekarang, naik ikut bedston. Jangan dari dulu ikut Tuhan udah puluhan tahun nggak pernah ikut bedston, nggak pernah puasa, nggak pernah sembahyang, nggak pernah perpuluhan, nggak pernah ... nggak mau naik-naik pangkat. Nggak mau naik-naik. Disini aja. Tapi sekarang naik - belajar naik. 

Wahyu 4 yang terakhir. Kita akan membaca satu ayat disana. Kalau siswi kelas 2 sudah tahu semua Wahyu 4 sampai Wahyu 21. Mereka sudah komplit pengetahuan. Wahyu 4 kita membaca ayat 1.  

4:1 Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini. 

Apa Tuhan nggak sanggup kasih lihat sama Yohanes nggak usah naik-naikan? Bisa, tapi Tuhan mau juga Yohanes naik jangan di TK terus. Naik dong, naik ke sini naik kemari.  Saya ingat satu ilustrasi yang saya dengar tahun 71. Ini ada tembok tinggi. Tembok panjang tinggi. Disebelah sana jalan raya ada drum band jalan. Saudara tahu tahun 64-65-66 drum band itu bisa dihitung jari. Datang Universitas Parahyangan dari Bandung ke Cianjur waduh main drum band dia pengen nonton drum band tapi anaknya masih kecil pendek saudaraku nggak bisa. Naik tangga nggak bisa tapi pengen lihat. Orang ribut orang sorak sorai. Tapi dia lihat di sekitar situ banyak peti bekas kas sabun. Ah, dia susun itu peti, dia susun-susun terus susun-susun-susun sampai di atas, dia naik itu peti sampai kepalanya ditembok. Nah, dia bisa lihat itu. Sekarang Tuhan mau kasih berkat sama saudara. Saudara nggak mau naik, saudara nggak bisa lihat, saudara nggak bisa nikmati. Saudara musti naik ini halaman. Inilah Bait Allah, inilah Ruang Maha Suci.

Saudara pelayan perjamuan maju ke depan. 

-- o -- 

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________