Khotbah Minggu Pagi September - Oktober 2004

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu pagi, 12 September 2004

SAKSI YANG SETIA

Wahyu

1:5 dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya -- 

Kalau saudara perhatikan batu di mana gereja ini ditandatangani, ini saya tulis Wahyu 1:5 di bawah. Dari ayat ini saya ambil batu prasasti gereja kita waktu diresmikan. Kenapa? Karena ada satu perkataan di sana, yaitu saksi yang setia.

Saksi dalam bahasa Yunaninya itu martur. Kesaksian, marturia; saksi itu sendiri, marturio; kesaksiannya, marturion. Martus itu punya satu konotasi mati sahid. Dalam Kisah Rasul ditulis 

1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi - menjadi martus , menjadi sahid ... bagi-Ku

Martus atau sahid berarti orang yang berani mati untuk keyakinan. Saya tidak setuju dengan orang yang membom bunuh diri itu, saya tidak setuju. Saya kita semua mengutuk perbuatan yang biadab itu. Tapi perhatikan kok ada orang yang mau mati, rela mati bawa bom. Dan ini sudah antri, katanya, orang yang mau mati ini antri, berani mati. Karena keyakinan yang keliru tetapi mereka berani mati. 

Nah, di dalam ayat ini, Yesus disebut Saksi yang setia. Dia bukan hanya berani mati di atas Bukit Golgota, tetapi Dia juga setia. Faithful. Saudara, kita seringkali lupa bahwa kita ini orang kristen dituntut oleh Firman Allah menjadi Saksi Kristus. Banyak pendeta lebih senang khotbah dari pada bersaksi. Maka ketika ruangan kesaksian dibuka, jarang ada pendeta mau bersaksi; mereka senang berkhotbah tapi bersaksi mereka tidak suka. Padahal sebelum Yesus menjadi Firman, Dia disebut Saksi yang setia. Sebelum Dia mengasihi kita, Dia disebut Saksi yang setia. Maka saya yakin orang kristen kalau belum menjadi saksi, dia sebetulnya belum menjadi kristen. Yang saya katakan saksi, itu bukan untuk maju ke depan bersaksi, itu nomor 17. Tapi saudara dalam hidup sehari-hari menjadi saksi, menjadi seorang yang menyaksikan.

Nah, di dalam satu pengadilan, ada terdakwa, ada pembela, ada penuntut umum, ada hakim tapi ada saksi. Ada saksi yang memberatkan ada saksi yang meringankan. Berbahagialah kalau kita bisa menjadi saksi yang baik, saksi yang bisa menyatakan satu kebenaran.

Di dalam Matius     

10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
10:33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Kemarin ada beberapa jemaat dari Gereja Ketapang datang mengunjungi kami, tapi sebelumnya mereka berhenti di tempat buah-buahan, katanya. Jalan Bandung. Lalu mereka bertanya: Ci, di Cianjur ada berapa gereja? Oh, banyak: Ada Katolik, ada GBI, ada Pentakosta, ada GKI, ada Advent. Yang paling maju gereja apa? Oh, GPdI itu, Pentakosta. Awondatu. Enci sendiri? Saya Katolik.

Itu sudah jadi satu tanda dia bersaksi. Kalau dia tidak jujur, dia akan bicara gerejanya yang paling maju. Tapi dia bersaksi apa yang benar, apa yang dia tahu. Dan ini yang saya ngeri, yang saya takut karena banyak orang kristen GPdI ini nggak bersaksi.

Contoh. Kita punya sekolah besar. Orang lain belum bangun, kita sudah bangun dari tahun 85 kita sudah punya. Tapi seolah-olah kita nggak pernah buka mulut sama orang bahwa kita ini ada sekolah, kita punya sekolah umum yang baik, yang menjadi kebanggaan kita. Nggak pernah kita. Seolah-olah kita nggak punya sekolah. Gedung Yayasan Kabar Baik ini Bupati saja membanggakan, jaksa saja membanggakan, kata mereka ... ini belum ada di Cianjur. Tapi jemaat sendiri tidak membanggakan.

Yang saya takut begini: Tuhan kasih kepercayaan tapi kita tidak lihat, Tuhan kasih kebaikan tapi kita tidak lihat. Bahkan kita menyaksikan sekolah yang lain yang lebih bagus dari sekolah kita. Kita tidak menjadi saksi. Boro-boro mati untuk satu keyakinan, boro-boro kita berani mati untuk Kristus. Bersaksi, menyatakan ini berkat Tuhan bagi saya, ini berkat Tuhan bagi jemaat, ini sekolah kami, ini kebanggaan kami ... nggak ada!

Kalau jadi, tahun depan ini akan diadakan satu malam apresiasi lagu-lagu pentakosta ciptaan pendeta Awondatu yang akan diadakan di Hotel Borobudur. Kalau jadi. Tahun depan bulan Februari. Yang adakan Pelprup dari Ketapang. Mereka bersaksi sekarang, ada di gereja kita ini pencipta lagu, yang kita nggak pernah apresiasi. Sekarang kita mau apresiasi, kita mau hargai. Memang tidak semua lagu karena 60 lagu tidak mungkin dinyanyikan dalam satu pertemuan, malam dana. Dan dana yang terkumpul akan dikirimkan untuk gereja-gereja yang memerlukan, untuk hamba Tuhan yang membangun gereja-gereja di desa-desa untuk sekolah-sekolah alkitab, dan sebagainya. Tapi nanti tahun depan. Asalnya november ini tapi nanti bulan februari.

Bersaksi itu banyak. Cara bersaksi. Saudara bawa alkitab ke gereja saja sudah bersaksi ... bahwa saya ini kristen. Pakai kalung salib saja sudah bersaksi. Tetapi yang dimaksud saksi yang sebenarnya ini melalui mulut, melalui kata-kata bahwa saya ini murid Yesus. Ini kekeliruan dari Petrus, dia menyaksikan bahwa dia tidak kenal Yesus, dia bersaksi bahwa dia - sampai tiga kali - dia tidak kenal Yesus. Jadi memang berat untuk bersaksi. Bukankah kamu salah satu murid Yesus? Untung dia ralat di akhir hidupnya, dia ralat - dia kembali kepada Tuhan.

Nah, kita seringkali lupa bersaksi, lupa menyatakan hal ini. Kita akan lihat beberapa saksi yang luar biasa yang Tuhan pakai, justru dengan hal yang luar biasa. Yohanes 4. Saudara yang pertama Tuhan pakai seorang menjadi saksi itu justru seorang perempuan Samaria yang kelakuannya tidak baik tapi Tuhan merubahnya perlahan-lahan. Yohanes   

4:28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ:
4:29 "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?"
4:30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. 
4:42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."

Satu kota, kalau saudara perhatikan, perempuan ini pergi ke kota dan di sana dia berkata kepada orang-orang. Di dalam bahasa Indonesia dikatakan orang-orang tapi dalam bahasa Inggris, kepada laki-laki yang ada di sana. Dia punya kejatuhan karena laki-laki, tapi justru dia bersaksi di mana tempat dia jatuh dia bersaksi; dia membuktikan dirinya dia sudah ketemu dengan Yesus.

Kalau saudara bersaksi, jangan bersaksi tentang gereja, jangan bersaksi tentang pendeta - bersaksilah tentang nama Yesus. Katakan bahwa saudara sudah berubah oleh Nama Yesus. Bersaksi bahwa Tuhan Yesus itu baik bagi saudara, bersaksilah bahwa saudara sembuh oleh Yesus, bersaksilah bahwa rumah tangga saudara di up-grade oleh Tuhan Yesus, bersaksilah bahwa iman saudara dikuatkan oleh Yesus. Karena ketika saudara meninggikan Tuhan Yesus, Yesus nanti menarik hati orang kepada diri-Nya sendiri. Kalau kita bersaksi dari gereja, tidak tahan lama; kalau saudara bersaksi tentang pendeta saudara, tidak tahan lama. Tapi bersaksi tentang raja segala raja, tentang Tuhan di atas sekalian tuan. Bersaksi seperti perempuan ini; dia perempuan berdosa kawin sampai 5 kali, yang keenam kali masih kumpul kebo. Tapi Tuhan Yesus merubah dia perlahan-lahan.

Hari yang sama, nggak tunggu kebaktian ke gereja dulu, hari yang sama ketika ketemu Yesus, dia bersaksi, dia membuka dirinya kepada Kristus dan dia bersaksi kepada laki-laki di satu kota, Sikhar. Dan satu kota Sikhar percaya bukan hanya kata-kata kamu, tapi kamu sudah mrmbuktikan sendiri. Berarti kata-kata perempuan ini dipercaya.

Saudara, saya yakin ketika dia bersaksi, Tuhan beserta dengan kesaksian dia. Tidak mungkin gampang seorang perempuan yang tidak baik bisa meyakinkan satu kota - tidak gampang! Tapi saya yakin kata-kata dari perempuan ini dibantu oleh kuasa Tuhan. Kalau saudara bersaksi saudara lihat diri saudara sendiri minder, kita nggak bisa ngomng, percaya apa nggak dia, bisa nggak dia dibawa kepada Kristus ... jangan pikir itu. Begitu saudara bersaksi, Tuhan beserta atas kata-kata saudara. Dan saudara akan bisa membawa jiwa demi jiwa, jemaat demi jemaat kepada Tuhan, kepada Kristus Yesus.

Jadi Tuhan tidak akan kasih tanah di belakang kalau jemaat kita tidak berubah. Kita bikin kebaktian pagi ini karena yang sore sudah bludak. Tapi Tuhan tidak akan kasih tanah di belakang kalau jemaatnya santai-santai begini saudara. Datang, duduk, dengar, duit kolekte, pulang ... geus cukup. Geus jadi kristen. Sudah cukup. Tuhan tidak akan kasih. Tapi kalau kita militan, nggak usah dah kita berani bunuh diri - nggak usah, walaupun arti dari saksi itu adalah martus, seorang yang berani mati bagi satu keyakinan tetapi saudara marilah kita belajar untuk bersaksi membawa orang kepada Tuhan, membawa jemaat kepada Tuhan. Saudara mau bersaksi bagi Kristus.

Kita buka injil Matius. Dalam injil Matius      

12:15 ... Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.
12:16 Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia,
12:17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
12:18 "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.
12:19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.
12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.

Bahasa Inggris, sampai Dia mengirimkan keadilan kepada kemenangan. Saudara, ini adalah Yesus sendiri, saya baca ini supaya saudara bisa tahu banyak bahan kesaksian kita. Begitu yang pertama saja, kita sudah baca 

12:16 Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

Itu pertama, karena Yesus belum menjadikan diri-Nya nyata sebagai Mesias tapi kita sudah belajar kepada Dia bahwa dalam perbuatan baik, Dia tidak ingin menonjol dan itu menjadi bahan kesaksian kita. Yang kedua dalam ayat 18: Lihatlah. Yesus itu bisa dipandang Yesus itu bisa dilihat. Ibrani berkata: Sambil memandang kepada Yesus yang mengadakan dan menyempurnakan iman.

Sekarang banyak orang tidak memandang lagi Yesus. Saya ingat ketua I, bapak Max Wakkary, di dalam pembukaan sekolah tinggi kemarin, dia bicara tapi dalam obrolan juga dengan saya dia bicara, dia sedih dengan kebanyakan pendeta GPdI sekarang. Visinya cuma bangun gereja, punya mobil Kijang, sudah ... dia udah rasa senang. Sudah rasa sudah tiba di tempat keberhasilan. Kalau sudah punya jemaat bangun gereja, lalu punya mobil Kijang satu, sudah stop.    

Lihat Yesus, Dia tidak berhenti sampai keadilan menjadi kemenangan. Sampai sekarang Yesus nggak berhenti belum berhenti pekerjaannya. Kita belajar dalam kesaksian kita, kita tidak boleh berhenti bersaksi, kita tidak boleh berhenti memandang Tuhan: Dalam percobaan, dalam segala urusan keluarga, dalam keperluan materi, dalam keperluan apapun juga - kita tidak boleh berhenti memandang kepada Tuhan! Kalau tidak memandang sama Dia, uh sudah lama saya tidak jadi pendeta. Sudah lama. Tahun 73 saja saya sudah nggak mau. Kalau tidak memandang kepada Dia, nggak tahan kita kalau tidak memandang Tuhan. Sudah dua sampai tiga kali hampir saya berhenti menjadi pendeta. Sudah tidak mau lagi. Banyak kalau kita mau bilang kecewa. Manusia sumber kecewa. Saya bisa kecewa sama atasan, saya bisa kecewa sama siapa saja. Tapi mari kita belajar pandang Yesus. Yesus tidak pernah mengecewakan kita, Yesus tidak pernah membuat kita kecewa.

12:18 "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.

Saudara, lihat Yesus sebagai acuan kita, sampai Tuhan senang Bapa Allah senang kepada Dia, hati-Nya bisa senang ... Aku berkenan Aku mengasihi kepada-Nya. Jiwa-Ku berkenan. Aduh saudara, kalau kita bisa berkenan kita bisa menyenangkan Tuhan.

Hari Jumat saya ketemu dokter, dokternya orang kristen, dr Bambang. Saya bilang, ini saya mau jatuh saja ini badan. Gimana ini keseimbangan saya, jalan saja nggak berani kaya orang sakit. Jalan nggak berani cepat. Diperiksa sama dia. Terlalu tegang, terlalu banyak kerja. Dia panggil saya oom karena dia masih muda. Nggak bisa oom ambil istirahat? Jangan di Indonesia. Keluar negeri atau ke satu pulau, jangan pegang handphone supaya nggak ditelepon. Satu minggu saja cukup, jangan khotbah. Dia suntik saya di sini. Punggung saya dua ... Jadi saya rasa agak enak kepala saya semua. Agak tegang, katanya. Karena dokternya orang kristen penuh dengan Roh Kudus, jadi dia berdoa dulu sebelum suntik; dia bahasa roh dulu. Jadi saya itu ketawa, saya tersenyum, aduh luar biasa ini. Ini dokter berbahasa roh dulu dia doakan saya dulu, tolong dulu rapi ini obat supaya tolong Tuhan hambamu ini masih banyak pekerjaan ...

12:19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.

Paling sukar kita untuk tidak membantah. Karena kita seringkali punya persepsi sendiri, punya penilaian sendiri, punya pendapat kita sendiri. Kita menilai orang. Memang Gunung Gede kalau dilihat dari sini lebar dia tapi kalau saudara lihat dari Puncak, nggak kelihatan itu. Tapi saudara lihat dari Ciloto, dia memanjang. Tapi dia tetap Gunung Gede. Seringkali kita memakai penilaian yang berbeda dengan penilaian Tuhan atas sesuatu hal. Contoh. Yesus berkata sama perempuan Samaria: Panggillah suamimu. Perempuan Samaria langsung bicara: Aku tidak bersuami. Dan Yesus bilang: Betul jawabanmu. Berarti perempuan itu tidak berdusta. Karena lima sudah jadi suamimu sudah jadi mantan, yang keenam memang belum jadi suamimu. Memang betul. Tapi yang Aku maksudkan, ini aku tahu kamu itu pernah kawin 5 kali. Dia mau membantah tapi akhirnya dia bilang: Aku rasa Engkau seorang nabi. Baru akhirnya dia bilang, Dia Mesias; Yesus adalah Mesias. Maunya membantah ... maunya membantah. Tidak bisa kita bantah kebenaran Tuhan.     

12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.

Buluh ini lambang kita. Bambu yang kecil, yang kalau orang Sunda bilang Tamiang, itu buluh. Kenapa saya katakan itu  manusia? Karena Dia juga memberi gelar kepada Yohanes Pembaptis itu ... kamu lihat Yohanes Pembaptis itu seperti buluh yang ditiup angin. Ditiup angin dari kidul ke kaler, ditiup kaler ke kidul; dari kulon ke wetan, dari wetan ke kulon. Buluh. Tapi ini nggak apa-apa kalau nggak apa-apa. Eh, patah juga. Terkulai. Tuhan nggak akan patahkan, Dia akan bangkitkan. Jadi belajar lagi kita bersaksi bahwa kita tidak bisa putus asa: Wah, saya dulu mau putus asa tapi untung saya kenal Yesus. Saya sudah seperti buluh terkulai, usaha saya sudah mau ambruk, sakit saya sudah mau ancur-ancuran tapi puji Tuhan, Tuhan Yesus tolong. Saya diangkat lagi sama Tuhan. Jadi kesaksian bagi saudara-saudara yang lain. 

12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.

Kamu terang dunia, katanya. Jadi ini sumbu terang, kita ini lampu terang dunia. Sudah berasap ini, lep ... lep ... - Tuhan nggak akan padamkan. Pengharapan kita sudah seperti mau mati, Tuhan mau nyalakan kembali. Ini kita bisa bersaksi.

Saudara ini kekeliruan kita yang berikut adalah kita hidup di dunia ini untuk cari uang, ini yang salah. Jadi kita bangun pagi tidur jauh malam ... uang terus. Cari uang ... cari uang ... terus cari uang, bisnis diperbesar, bangun rumah ... bangun rumah, bangun pabrik ... bangun ini ... bangun ini. Coba renungkan kita mau berapa tahun menikmatinya? Apa hanya untuk itu kita hidup? Tidak ada waktu untuk keselamatan jiwa kita? Diperbudak oleh uang, diperbudak oleh harta, diperbudak oleh kesibukan dunia. Kita mustinya musti tidur kita musti bangun musti buka toko. Uang .. uang ... uang ...

Kita ini seperti ikan saudara. Ikan kalau tidak ada air, mati. Tapi kalau kebanyakan air, juga mati. Kita kalau tidak ada uang susah, tapi kalau kebanyakan uang juga susah. Satu orang beli satu lotere di Amerika. Dia dapat hadiah pertama 30 juta dolar. Dia tukang bikin betul listrik, pegawai. Dia beli lotre nggak sengaja sekali saja, bukannya tiap hari. Kena 30 juta dolar. Bingung dia stress masuk rumah sakit. Bingung. Jantungnya berdebar. Kenapa? Telpon berdering terus di rumah. Nanti telpon berdering lagi. Wartawan datang, ada yang minta sumbangan, family dari sini minta ... dari sana minta. Terus. Duitnya belum diambil, dia udah stress. Baru satu tahun kemudian uangnya diambil. Itupun setelah dia aduh, saya bingung ...

Banyak orang dengan tidak ada uang bisa bikin kejutan. Contoh. Albert Einstein itu ahli atom. Dia nggak punya uang, dia bukan orang kaya tapi seluruh dunia berubah karena penemuan dia. Ibu Teresa dia tidak punya uang tapi seluruh dunia seperti bersatu ketika dia meninggal, kenapa? Karena ibu Teresa ini ngumpulin orang susah, ngumpulin orang miskin yang mati di India dikubur. Kerjaannya gitu, pagi-pagi dia lihat ada orang yang mati. Di India itu jutaan orang banyak yang mati, nggak lihat agama apa, dia ambil dikuburin dimandiin ... itu aja pelayanannya. Sampai dunia mengenal dia.

Kemarin saya baca perkawinan anak Raja Brunei Darussalam pakai mobil terbuka mobil Rolls Royce dari emas. Kita mah mau ganti gigi emas juga sudah susah. Itu keran tempat mandinya dari emas juga kerannya; kerannya emas asli murni. Saya tidak tahu apa waktu dibuka itu keluar susu sama kopi untuk mandi. Tapi apa itu bisa memuaskan? Tidak! Salah satu anaknya ditangkap karena korupsi, dilelang barang-barangnya. Berarti mereka tidak dipuaskan dengan apa yang mereka punya.

Bersaksilah tentang Yesus. Hanya Yesus yang bisa memberi kepuasan kepada kita. Hanya Yesus yang bisa memberi kedamaian kepada kita. Kalau saya bilang hanya Yesus, itu betul-betul hanya Yesus. Saudara mau beli rumah. Sudah punya rumah, nggak puas. Buktinya? Saudara pengen beli rumah lagi. Saudara sudah punya mobil, nggak puas, buktinya ingin beli mobil lagi. Punya baju nggak puas, buktinya ingin beli baju lagi. Terus begitu manusia. Kaya minum air laut ... haus terus, haus terus.

Hanya Yesus yang bisa membuat kita: Aduh, aku puas. Sesudah puas, tapi malas ke gereja, ngebohong itu saudara. Kalau kita puas, itu pasti kita akan rajin ke gereja. Kebaktian. Aku yang memuaskan Aku Yesus kok! Kalau bukan Yesus, tidak ada langganan-langganan datang; kalau bukan Yesus, siapa yang kasih rumah ini, siapa yang kasih toko ini, siapa yang kasih umur panjang, siapa yang kasih hidup ini? Yesus!

Nah, saya tidak panjangkan Firman Allah tetapi sekali lagi Yesus disebut Saksi yang setia. Kalau kita bersaksi maka Dia akan bersaksi bagi kita. Kita berdiri bersama-sama.  

-- o --   

Minggu pagi, 03 Oktober 2004

HATI

Selamat pagi selamat berbakti di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Amsal

4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Dalam bahasa Inggris: Jagalah hatimu dengan segala kerajinan, karena dari situlah timbul urusan-urusan hidup. Jadi Firman Tuhan berkata, kita diminta untuk menjaga hati karena dari hati timbul urusan-urusan hidup.

Nah, kehidupan itu ada 2 macam: positif dan negatif. Ada orang yang minum 1 gelas kopi dia bilang ini terlalu manis tapi orang yang lain berkata kurang manis. Ada orang yang menganggap bahwa hawa ini terlalu dingin tapi ada yang bilang hawa ini kurang dingin. Ada orang yang berkata lukisan itu bagus tapi ada orang yang berkata lukisan itu tidak bagus. Ada orang yang berkata hari ini cuaca baik tapi orang yang lain berkata tentang hari yang sama, hari ini cuacanya tidak baik.  

Apa yang membedakan penilaian orang itu? Tidak lain adalah hatinya. Kita akan mulai dari hati yang negatif. Kita buka Yeremia 

17:5. Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
17:9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? 
17:10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."

Dari pasal 17 Yeremia, kita melihat 3 kondisi hati yang negatif. Yang pertama, hati yang jauh dari Tuhan. Yang kedua adalah hati yang licik, lebih licik dari pada semua penipu di dunia ini maka hati manusia yang belum dilahirkan kembali adalah penipu nomor 1 di dunia. Yang ketiga, dikatakan, hati yang sudah membatu.

Kita mulai dari yang pertama bahwa hati yang menjauh dari Tuhan. Saudara musti ingat Adam dan Hawa itu jatuh bukan di luar Taman Eden tapi di dalam Taman Eden. Badannya di dalam Taman Eden tapi hatinya jauh dari Tuhan. Segala sesautu yang menjauh dari Tuhan, kita cuma tinggal tunggu waktu saja lihat akhirnya, lambat atau cepat akan hancur. Ikan yang keluar dari kolam, dia mengelepar-gelepar masih hidup. Tapi coba tetap jauh dari kolam, jauh dari air, kita tinggal tunggu waktunya. Mula-mula menggelepar, lama-lama diam ngap-ngap ... lama-lama mati.

Demikian dengan manusia yang hatinya jauh dari Tuhan, dia tidak akan tenang dalam kehidupannya. Jauh dari kehendak Allah sama seperti nabi Yunus, disuruh ke utara dia pergi ke selatan, disuruh ke Niniwe dia pergi ke Yafo. Hidupnya tidak sejahtera, mulai dengan gelombang ribut besar di lautan. Inilah kondisi yang pertama, hati kalau sudah jauh dari Tuhan. Tinggal tunggu waktu saja. Nggak ada pendeta bisa tolong, nggak ada nabi bisa tolong. Tuhanpun tidak bisa tolong kalau orang ini sudah menjauh dari Tuhan, hatinya sudah jauh dari Tuhan. Tinggal tunggu waktu saja. Menggelepar-menggelepar, ngap-ngap ...

Kondisi yang kedua, hati yang licik. Penipu itu bukan di luar saudara, penipu itu di dalam kita ... kalau hati kita belum dijamah oleh Tuhan. Penipu ini disebutkan lebih licik dari segala yang licik di dunia. Orang Yahudi licik, ini hati lebih licik. Ada orang yang suka menipu, ini hati lebih menipu. Jadi hati kalau tidak dijamah oleh Tuhan maka dia akan menipu pemiliknya sendiri. Seolah-olah tingkah lakunya benar, seolah-olah keputusannya benar, padahal dia sudah ditipu oleh hatinya.

Yang ketiga mari kita baca, hati sudah membatu. Saudara baca dalam kitab Yehezkiel, Aku akan memberikan kepadamu hati daging, itu yang lembut, bukan hati yang keras. Kalau hati sudah membatu, tidak ada tenaga langit dan dunia bisa merubah kalau hati orang itu sudah keras. Hati membatu, sudah tidak bisa dinasehati lagi, sudah tidak bisa lagi diberi pandangan karena hatinya sudah membatu. Ini kondisi hati yang belum dijamah oleh Kristus atau hati yang belum diregenerasi oleh Tuhan.

Kalau kita baca Markus 7, masih dalam hal yang negatif      

7:19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.
7:20 Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,
7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Sudah, kita tidak usah bicara tentang perzinahan, pembunuhan - nggak usah, kita udah tahu itu. Tapi coba perhatikan bahasa yang terakhir, kebebalan. Bahasa Inggris bilang, foolishness, bodoh. Dulu saya kira kebodohan itu karena orang kurang pendidikan - tidak! Banyak mahasiswa yang bergelar sarjana, bodohnya luar biasa ... dalam penilaian Tuhan. Kalau kita baca surat Korintus, kepandaian manusia dianggap jauh lebih rendah ... kalau Tuhan itu ada bodohnya, maka kebodohan Tuhan lebih tinggi dari kepandaian manusia. Apalagi di sini dikatakan foolishness, bebal, susah dikasih tahu, nggak bisa dikasih nasehat, nggak bisa dikasih terang. Ini hati yang tidak baik.  

Sekarang kita mau lihat yang positif, hati yang sudah dijamah oleh Tuhan, hati yang sudah diperbaharui oleh Tuhan. II Korintus, di sana kita melihat satu kondisi hati yang sudah dirubah oleh Tuhan.  

5:14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.

For the love of Christ compels us, karena kasih Kristus yang menggerakkan hati kami; bahasa Inggris berkata, kasih Kristus yang menggerakkan hidup kami. Hati kita itu seperti mesin saudara, harus dinyalakan. Nah, di sana dikatakan kasih Kristus yang sudah menyalakan hati kami, menguasai kami. Saya mau baca dari bahasa Indonesia salinan lama, karena kasih Kristus itu menggerakkan hati kami. Sebab kami yakin bahwa seorang telah mati karena orang sekalian. Itulah sebabnya sekaliannya telah mati.

Yang nulis ini pernah membunuh pendeta. Saulus itu dulu hatinya belum dilahirkan kembali. Orang kristen nggak ada salah dikejar-kejar dipenjarakan. Stefanus tidak ada salah hanya gara-gara percaya sama injil, dilemparin batu sampai mati. Begitu kondisi hati orang yang belum ada Kristus, orang kristen dikejar-kejar, gerejalah dibakar, pendetalah ditembak. Sama seperti Paulus dulu, pendeta yang nggak ada salah dirajam sampai mati. Tapi setelah dia kenal Kristus, dia tulis ini suratnya, kasih Kristus menggerakkan hatinya. Dari sana saudara kita belajar, saya musti khotbah berdasarkan kasih Kristus. Saya musti bekerja berdasarkan kasih Kristus. Kalau saya khotbah untuk saudara bukan berdasarkan kasih Kristus, saya tidak ada harga satu sen di depan Tuhan. Kalau setiap pengerja-pengerja saya, dia bekerja tidak berdasarkan kasih Kristus, dia tidak ada harga di hadapan Tuhan.

Apa katanya? Kebenaran manusia seperti lap yang kotor, kata nabi Yesaya. Segala usaha manusia itu sia-sia. Tetapi kalau lahir dari kasih Kristus, datang nyanyian yang dulu kita suka nyanyi Bila kuingat cinta Tuhanku ... Ku tidak mau mundur lagi. Dua kali saya ngalami pisau di leher tetapi karena kasih Kristus, kita tidak mau mundur.  Kasih Kristus itu dia adalah mobilisator, dia dinamisator, dia navigator, dia yang menggerakkan segala gerak hidup kita. Kalau saya melihat hari Sabtu orang datang kebaktian doa, berlutut satu jam ... itu kalau bukan kasih Kristus, nggak gampang, nggak gampang suruh orang datang berdoa satu jam berlutut di gereja ... nggak mudah nggak gampang. Kalau berdoa sambil duduk, berdoa sambil berdiri gampang. 1 jam.

Kalau saya mau lihat orang-orang datang hari rabu doa dan puasa ... tidak gampang. Tetapi itu datang karena kasih Kristus yang mengerakkan. 

Seperti Yesus bilang, siapa yang kehilangan nyawa mendapat nyawa, dia mendapat kehidupan yang kekal. Orang mah memberi maut saudara, kita mah korban perasaan. Artinya sudah tidak rela, tersinggung sedikit saja sudah tidak rela, persoalan sedikit saja sudah tidak rela. Kuping kita terlalu tipis, semangat kita semangat coca cola. Awalnya ssstttt ... akhirnya kempes. Semangat kita seperti krupuk. Kalau tidak cepat dipakai dia peot. Lain kalau kasih Kristus yang menggerakkan hati kita, dia seperti api yang abadi, dia tetap menghangatkan dia tetap memberikan bara.  Ini kondisi hati yang sudah dilahirkan kembali oleh Kristus.

Jadi segala gerak hidup kita itu digerakkan oleh kasih Kristus. Tidak memikirkan untung ruginya bagi pribadi, hanya digerakkan oleh kasih Kristus .. kasih Kristus ... kasih Kristus.  I Korintus  

15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

Tadi saya katakan ada orang bilang ini kopi kurang manis tapi ada yang bilang, ini kopi terlalu manis. Ada orang kerja keras, kerja keras, kerja keras tapi bukan datang dari kasih - datangnya dari diri sendiri. Itu sebabnya orang yang sedemikian ini kebentur tembok sedikit, dia akan mundur. Di satu tempat dia gagal, di seluruh tempat dia akan gagal. Karena bukan kasih Kristus yang menggerakkan dia tapi kekuatan dirinya sendiri. Mau bukti? Kita lihat jemaat Efesus dalam Wahyu, yang rajin tapi bukan karena kasih.  

2:1 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2:2 Aku tahu segala pekerjaanmu: - Jadi gereja ini bukan gereja malas, dia bekerja ... baik jerih payahmu - Luar biasa ini kerja berat - maupun ketekunanmu - Kerjanya ini luar biasa tekun - . Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
2:3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. - Aduh, ini kerjanya rajin benar.
2:4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
2:5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Rajin, bekerja, jerih payah lelah, tekun ... tapi bukan dari kasih Kristus, apa kata Tuhan? Tidak ada harganya kamu punya pekerjaan. Harus lahir dari kasih.

Memang Tuhan Yesus tahu kondisi hati: Berjagalah dan berdoalah supaya kamu nggak kena pencobaan. Hati berkehendak tapi tubuh daging ini lemah. Ada orang ingin berbuat baik tapi dagingnya lemah, dia tidak sampai berbuat baik. Kita mau lihat beberapa kondisi hati yang positif. Di dalam Amsal  

14:10 Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya.

Kalau lagi susah, orang lain tidak bisa ngerti hati kita yang susah. Tapi sebaliknya, pada waktu bersuka cita, orang lain juga tidak bisa mengerti sampai di mana keadaan hati kita yang bersukacita itu.
 

14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

Hati yang tenang mempunyai tanda dalam kesegaran tubuh, menyegarkan tubuh tapi iri hati membusukkan tulang. Kalau saudara baca Amsal 15 lebih banyak lagi ayatnya.

15:13 Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.
15:14 Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan.
15:15 Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.

Itu sebabnya tadi saya bilang, orang lain bilang kopi ini kurang gula, orang lain bilang kopi yang sama terlalu manis. Bagaimana kita saja, bagaimana hati kita menilainya. Amsal

15:28 Hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat.

Jadi saudara, saudara pernah dengar tentu Pondok Nabi di Bandung yang sesat itu. Pendetanya Mangapin Sibuea. Supaya saudara tahu, sekolah dia sama sama sekolah saya, di Beji. Dia angkatan 12, saya angkatan 14. Dia senior kita. Kenapa dia sampai sesat, kok saya tidak sesat? Lalu saya tahu dari oom Mandey, dari sekolah mula sudah kelihatan sombong rohani. Kerja mau dipuji, sombong rohani. Dan nampak terus sampai di ladang Tuhan. Waktu dia jadi nabinya Pondok Nabi, istrinya tiga, pengikutnya 400 nggak boleh mandi ... cuma pakai air 2 gayung satu hari. Jadi Nathan Sore, keponakan saya waktu mendoakan, udah baunya luar biasa. Kok bisa sesat sampai begitu. Kebaktian jam 12 malam di mana? Di tengah sawah. Atuh dikepung sama hansip.

Kenapa bisa sesat begitu? Hati! Jagalah hatimu terlebih dari semua yang patut dijaga karena dari sini timbul urusan-urusan hidup.

Kalau hati saudara miskin, saudara miskin; kalau hati saudara kaya, saudara kaya. Contoh. Bila hati saudara ini kaya, omongan saudara akan memuji Tuhan. Tidak akan ada keluhan, tidak akan ada sungutan gerutu. Saudara akan berkata: Terima kasih Tuhan, Engkau memberkati saya. Berkat-Nya cukup bagi saya. Hari bagaimana harga bensin akan naik, siapapun presidennya, Tuhanku Rajaku selalu akan memeliharaku - itu hati orang kaya. Kalau hati orang miskin, dia tidak akan rasa cukup, dia akan ngarasula terus, dia akan ngomong terus, dia akan ngomel terus. Luh leh, ini kurang itu kurang, sini kurang itu kurang, dia tidak akan dapat kepuasan. Miskin itu hati, kenapa? Karena itulah sebabnya jaga hati kita - supaya keluar dari hati kita ini sesuatu yang keberkatan, sesuatu yang memuliakan nama Tuhan. Bukan omelan. Karena semuanya itu seperti bumerang. Kita ngomong positif, begitu balik lagi sama kita; bumerangnya alat berburunya orang Australia orang Aborigin, dia kalau di lempar, itu bumerang kalau nggak kena sasaran dia balik lagi.

Demikian juga dengan kita. Kita ngomong positif, berkat, dia kaya bumerang balik lagi berkat. Kalau kita ngomel, rasa tidak puas, dia akan balik lagi, banyak hal yang tidak baik akan terjadi. Jaga hati ini terlebih dari segala yang patut di jaga maka dari dalamnya terpancar urusan-urusan kehidupan. Kita berdiri bersama-sama.      

-- o --   

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________