Khotbah Minggu Sore Juli - Agustus 2003

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu, 06 Juli 2003

BUNGA

Saya ingin berbicara mengenai bunga. Hari-hari ini kita melihat banyak bunga. Katakanlah dengan bahasa bunga. Memberi ucapan selamat ulang tahun kita kirim bunga. Ada anak baru dilahirkan, kita beri ucapan selamat ... kita kirim bunga, kembang. Pembukaan gereja kita kirim bunga, dekorasi gereja walaupun palsu ini bunga. Orang Batak kalau kasih nama anak pas lahir anaknya perempuan, dia pas lihat bunga, akan dikasih nama bunga: Bunga Sitorus, dan sebagainya. Sampai waktu kita mati juga ... bunga. 

Hanya pernah terdengar cerita satu pembantu rumah tangga waktu jaman Belanda nyanyi dia: tabe noni-noni .. babu mau pigi .. pigi negri Belanda .. oh, noni jangan susah, kalau babu mati .. jangan kirim kembang .. kirim air mata .. sedikit terima kasih ... tek-tuk tek-tuk tek-tuk tralala, terus. Lelaki mau mengirimkan cinta kasih sayangnya membawa bunga mawar kepada pacarnya, kasih lihat bahwa dia cinta. Walaupun perempuan sekarang tidak terlalu tertarik dengan bunga mawar,  mereka lebih tertarik dengan bunga deposito. Tetapi saya ingin bicara tentang bunga pada sore hari ini. Yesaya 

35:1 Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; 
35:2 seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita. 

Ada haleluyah, saudara? Firman Allah berkata tentang datangnya bunga. Justru bunga ini keluar dari waktu padang gurun; nggak ada ceritanya padang gurun ngeluarin bunga. Saya selalu ingat ceritera itu bagaimana negara-negara di dunia mengadakan saudara-saudara kompetisi tentang hasilnya dari bunga negara masing-masing. Peserta pertama dari Jepang .. dari negara Nagasaki, keluarlah satu gadis Jepang membawa bunga sakura, kecil-kecil indah; Jepang terkenal dengan bunga sakura. Lalu saudara-saudara dari Thailand membawa bunga anggrek. Thailand terkenal. Dari Belanda dipanggil, keluarlah noni Belanda membawa bunga tulip. 

Besok saya dapat tamu dari Belanda sepuluh orang, akan tidur disini dua hari, saya suruh datang hari ini supaya khotbah tapi ini tidak datang. Ada satu lagi pendeta dari Belanda yang terima saya di rumahnya, itu ada di Jakarta sekarang. Indonesia tidak kalah, dipanggil Indonesia dengan lagu-lagu putih putih simelati, datanglah gadis-gadis dengan kebaya membawa melati bunga Indonesia. Waktu di panggil dari Saudi Arabia, lama keluarnya, nggak keluar-keluar. Orang juga bingung ini Saudi Arabia mau keluarin bunga apa? Nggak tahunya utusan dari Saudi Arabia membawa kaktus yang berduri. Memang hanya dipadang gurun itu hanya kaktus yang berduri yang ada, tidak pernah ada bunga keluar dari gurun pasir. 

Tetapi kitab nabi Yesaya berkata: "padang gurun dan padang kering akan bergirang dan belantara akan besukacita dan berbunga seperti bunga mawar, ia akan berbunga lebat akan bersorak-sorak, ia bersorak-sorak dan bersorak-sorai." 

Dalam bahasa Inggris tidak dikatakan bunga mawar, hanya disebut seperti bunga yang akan berkembang. Saya ingin berbicara tentang bunga saudara! Saya pernah lihat penglihatan terakhir tentang bunga, waktu saya mimpi anak saya. Berhari-hari saya sedih karena anak saya meninggal tahun 1974, meninggal. Saya minta sama Tuhan, saya ingin lihat anak saya di mana? Tuhan itu baik! Tuhan kasih mimpi saudara, dia ada di taman bunga. Itu saja terakhir. Dia ada di taman bunga dan dia memakai masih itu waktu penglihatan itu dia kecil tapi dia memakai tutup, topi bayi, lucu ada yang tuntun saya nggak tahu tapi saya tahu itu anak saya Melvin, dia ada di taman bunga. Sejak itu saya tidak mimpi lagi dia. 

Pernah sekali mimpi cuman lihat muka dia saja. Saya ingin bicara tentang bunga. Dari lahir sampai kematian, kita tidak bisa lepas dari bunga. Film-film memutar tentang bunga, lagu-lagu kita menyanyi tentang Yesus "Kembang Mawar Saron," Engkau jantung hatiku. Seperti bunga. Bagai mawar indah dari Saron, itulah Yesus dan sebagainya. Dia jadi seperti kembang bagi kita. Waktu anak Ayub diratapi, Ayub berkata: mereka itu seperti bunga yang belum berkembang, kok sudah di petik katanya. 

Saya akan berbicara bunga ditengah padang gurun. Boleh saya katakan bahwa padang gurun adalah bicara dari kegagalan saudara, kegagalan kita. Padang gurun adalah sesuatu yang kita tidak suka, padang gurun adalah sesuatu yang kita tidak mau ada disana karena panas, malam dingin, tidak ada rumput, tidak ada mata air, perjalanan sangat melelahkan - itulah padang gurun, padang pasir! Saudara tahu kalau padang pasir itu sebentar dia berbentuk gunung begini, sebentar dia membesar, sebentar dia rata, karena apa? Karena pasir berpindah-pindah oleh angin. 

Kadang-kadang saudara lihat pasir itu seperti gunung, kadang-kadang saudara lihat pasir itu gunungnya besar sekali, kadang-kadang saudara lihat bergelombang - bagaimana angin! Demikianlah hidup di dunia. Kadang-kadang saudara lihat problem, percobaan seperti gunung yang besar, kadang-kadang saudara lihat problem seperti gelombang, kadang-kadang saudara lihat problem seperti satu jalan yang menurun, kadang-kadang saudara melihat indah sekali itu padang pasir tetapi indah itu hanya untuk di pandang kalau kita hidup, kalau kita jalanin memang tidak enak, panas, gersang. 

Dan bagi kita yang sudah hidup beberapa tahun di dunia ini kita mulai mengerti sekarang, dunia ini bukan Firdaus, dunia ini seperti padang gurun, dunia ini keji, dunia ini kejam, dunia ini tidak adil, dunia ini tidak fair, dunia ini menyakitkan, dunia ini seperti asap yang menyakitkan mata, dunia ini seperti orang membuka lapisan bawang merah. Ada apa ini di dalam bawang merah, dia buka lapisan demi lapisan ya, isinya kosong tapi mata sudah keluar air mata karena pedas. 

Dari tahun ke tahun kita hidup berulang tahun tambah hari tambah tua, yang kita dapat apa dari dunia? Hanya air mata, padang gurun. Saya melihat saudara di sekitar saya mayoritas muka asam, nggak ada muka sukacita, mayoritas muka asam, muka sial disekeliling kita muka yang tidak ada semangat, muka yang kecewa, muka yang takut, muka yang bimbang, muka yang khawatir, muka yang negatif, muka yang pasif, muka yang tidak mempunyai harapan dan yang lebih sedih lagi orang Kristen yang punya Yesus, mukanya bukan muka kemenangan mukanya padang pasir, muka kerut, muka yang tidak ada sukacita, muka yang tidak ada kemenangan. Ini padang gurun. 

Saudara tahu bahwa Yesaya 35 adalah nubuatan tentang gereja yang sempurna, nubuatan tentang gereja di akhir jaman yang akan Tuhan robah dari padang gurun menjadi bunga, menjadi bunga yang berbunga, yang berkembang, haleluyah! Mungkin cerita berikut ini bisa menolong perhatian saudara. Ini terjadi di dalam sejarah, di filmkan. Ada seorang pesakitan karena dia membunuh, dia divonis ganjaran hukuman seumur hidup. Ini terjadi di Inggris, berapa kali dia appeal, naik banding minta dirobah supaya hukumannya bisa di kurangi, tidak! Karena dia kejam membunuh orang, dia menjadi pesakitan hukuman seumur hidup. Dia jadi tua dipenjara dan ketika sudah dia jadi tua di penjara, dia punya teman-teman yang lain, pesakitan-pesakitan yang lain yang lebih muda menjadikan dia sebagai ketua karena dia sudah tua, enam puluh lima tahun. Asal ngobrol di mana-mana, ngobrolnya tentang apa kamu sudah naik banding dilepaskan apa belum? Saya sudah naik banding tapi nampaknya tidak ada pengampunan. Pernah minta sama Ratu minta ampun, Ratu tolak, ya. Jadi dia ada di penjara. 

Coba dudukkan saudara pada kedudukan dia, dia dipenjara hukuman seumur hidup. Nah, karena penjaranya di Inggris ini di kasih satu lapangan yang luas, dipakai olah raga oleh buronan-buronan, pesakitan narapidana yang lain, main bola main bola, tiap hari main bola. Tapi saudara-saudara, dia membaca satu buku mengenai taman, mengenai menanam benih bunga kembang. Lalu dia minta supaya dikasih bunga violet yang warnanya biru tua itu, benihnya. Dia mau tanam, diketawain sama orang. Akhirnya kepala penjara kasih. Dia ambil satu spot, tempat disudut, dimana ada bekas mobil mogok disitu dia ambil spot dia gali sendiri dan dia tabur itu benih. Yang lain main bola, senang. 

Dalam beberapa bulan tumbuh keluar bunga, bunga yang langka warnanya biru violet tetapi wanginya luar biasa. Dia punya satu teman yang tidak seumur hidup dihukum, dia hanya dihukum tiga tahun dan di ajak temannya yang masih muda ini, aku ini lupa dimana aku tanam itu. Akhirnya orang itu ketemu ini disini dia tanam bunga. Lagi nanam bunga, aduh, bagus sekali ini bunga dilihat dia berlutut. Yang main bola itu tendang bola nggak sengaja, bola itu kena bunga ini, dia mati, hancur. Datang, marah ini bapa yang tua. Aku sudah cape-cape bikin begini, kenapa kamu kenain bolanya ke sini? Kecewa, habis hancur. Saudara bukannya minta maaf malah di injak itu bunga sampai di lumatin habis. Ya, umur enam puluh lima tahun nggak bisa ngelawan orang yang gede badannya, di pukulin ini orang tua. Tapi hal ini terdengar sama kepala penjara. 

Untuk menghibur bapa tua ini, dia bilang mulai hari ini lapangan sepak bola kita robah harus jadi taman. George Bernard Shaw berkata, belajarlah membuat taman karena engkau akan bertemu dengan Tuhan, sebab Tuhan pertama Dia bikin taman. Saya nggak pernah tertarik tapi setelah saya dengar kata-kata itu saya pikir betul juga,  ya. Orang kalau bikin taman saudara pikirnya tenang. Orang kalau bertani bikin taman hidupnya segar, hidupnya tenang. Kalau rumah saudara agak sumpek, coba tanamin tanaman. Saya selalu ingat rumahnya tante Idup dulu di Cikidang, rumah itu sangat sederhana, kecil, kecil sekali tapi dipenuhi dengan tanaman. Di depan pohon jambu, kiri-kanan pokoknya pot tanaman, tanaman, sampai di belakang tanaman sampai teduh rasanya. Rumahnya kecil tapi betah ada di sana. Karena Tuhan berbicara kepada Adam di taman. 

Pendek ceritera saudara-saudara, semua ini berkarya, semua tidak main sepak bola lagi bikin tanaman taman bunga sampai tidak jadi juara tetapi orang-orang ini diundang sama ratu Elizabeth ketemu di istana Buckingham. Dikasih pujian, dikasih kehormatan, tiga orang. Orang tuanya udah mati. Sampai ada di istana. Pulang dari Buckingham, orang-orang ini, pesakitan ini, dia datangin patungnya orang tua ini di taman itu. Patungnya ada, di bikinin patung, kita ini nggak bisa apa-apa, nggak bisa nginjak istana kalau bukan karena kamu. 

Apa yang saya sedang mau ceritera. Kita bisa saja divonis saudara seumur hidup dan saya yakin tidak ada di sini yang di vonis hukuman tapi mungkin kita divonis oleh pandangan orang lain, divonis oleh penilaian orang lain, divonis bahwa kita ini orang nggak baik, divonis kita ini orang nggak bisa di percaya, divonis kita ini orang yang nggak jujur, divonis kita ini brengsek dah! Latar belakang tidak baik. Tetapi maukah saudara-saudara belajar, ketika kita di tekan, ketika kita ada didalam kondisi yang paling buruk, paling rendah, kita tidak menyerah tetapi kita mau berbuat baik, kita mau "menanam bunga", sesuatu yang menyegarkan, sesuatu yang menarik pandangan mata, sesuatu yang menarik penciuman hidung, sesuatu yang menyegarkan saudara-saudara imajinasi kita, yaitu kita tanam bunga. 

Mungkin saudara bukan menanam bunga ros, bukan menanam bunga violet tetapi saudara bisa menanam bunga kebaikan, saudara bisa menanam bunga keramah-tamahan, saudara bisa menanam bunga kejujuran, saudara bisa menanam bunga setia, saudara bisa menanam bunga sukacita, saudara bisa menanam bunga damai. Dan saya yakin yang saudara tanam adalah hanya benih bunga tetapi nanti Raja segala raja akan memberikan satu lahan di mana kita bisa bikin taman bunga, amin saudara-saudara? Itu sebabnya kita harus mempunyai imajinasi, kita harus punya wawasan yang besar, jangan kita dipermainkan oleh situasi tapi ciptakanlah situasi. 

Lihat rasul Paulus, dia ditolak karena dia membunuh orang Kristen. Dia ditolak, dia sudah jadi rasul dipilih oleh Yesus, sudah bertobat datang sama orang Kristen, ditolak! Karena mereka tahu ini pembunuh. Orang Kristen pembunuh Stephanus, semua orang tahu. Tetapi Barnabas menanam kebaikan. Dia bawa Paulus, ketemu dengan saudara-saudara seiman: "ini memang dulu kejar-kejar orang Kristen tapi sekarang dia sudah berobah." Dan saudara tahu, perjanjian baru delapan puluh persen tulisan Paulus, bekas pembunuh, bekas pembakar gereja-gereja, yang membunuh Stephanus, menangkapin orang Kristen, akhirnya apa? Dia jadi penulis Alkitab.

Bunga yang besar, menanam kebaikan menanam kemuliaan. Lihat Petrus, Petrus sudah pernah gagal, sumpah-sumpah, aku nggak kenal Yesus. Padahal sebelumnya dia mau berani-berani berkata dimana Yesus mati aku mau mati di sana. Yesus bilang kamu akan meninggalkan Aku, kamu akan syak. Oh, ... tidak! Yang lain meninggalkan Engkau tapi aku Petrus bin Petbun, aku tidak akan meninggalkan Engkau. Yang terjadi tiga kali dia sumpah: aku tidak kenal Yesus. Anak kecil bilang ini om Petrus, ya? Suka ke jalan Hasyim Ashari, suka haleluyah! haleluyah! Saya juga tahu nomor becaknya saya udah tahu, angkutan kotanya nomor berapa saya tahu, haleluyah, haleluyah. Eh, bukan! Serupa tapi tak sama. Ibu-ibu bilang, bukankah engkau salah satu dari mereka? Bukan, wo pu ce tau. Tiga kali ...  kukuruyuk! Ayam berkokok. Ayam lebih setia dari Petrus karena ayam berkokok tiap pagi, setia, tiap pagi dia berkokok. 

Jadi kalau penilaian kita, penilaian gereja, penilaian manusia pada umumnya Petrus sudah nggak ada harapan lagi, Petrus sudah out; dia sudah di coret udah hitam garisnya mati, jelek dia mengkhianati Yesus. Tapi nggak! Dia menanam bunga, dia menanam bunga. Satu kali petik, tiga ribu jiwa bertobat, luar biasa. Satu kali khotbah tiga ribu orang bertobat. Gereja pertama. Yesus masih pakai. Dari padang belantara, dari padang gurun ... dijadikan bunga yang berbunga. Saudara termasuk malam hari ini. Mungkin saudara berkata latar belakang saya adalah padang gurun, latar belakang saya tidak baik, saya gagal berkali-kali. Saya mau kasih tahu, Thomas Alfa Edison gagal sepuluh ribu kali tapi akhirnya dia berhasil menemukan radio. Jangan berhenti jangan putus asa, jangan berhenti jangan putus asa, jangan berhenti jangan putus asa, jangan berhenti jangan putus asa, Tuhan bisa bikin pasir menjadi bunga. Tuhan bisa bikin padang gurun yang panas menjadi taman yang luar biasa. Saya ingin ajak saudara membaca taman ini seperti apa! Ayat 3-7

35:3 Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. 
35:4 Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!" 
35:5. Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. 
35:6 Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; 
35:7 tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. 

Ayat 5. Pada waktu itu orang buta akan dicelikkan. Kalau saya bilang orang buta akan dicelikkan jangan cuman ingat Bartomeus yang buta. Banyak orang Kristen masih buta, dibilang persepuluhan mendatangkan berkat nggak percaya dia ... nggak bisa lihat, butakan? Dibilang kesetiaan membawa berkat nggak percaya dia, nggak lihat. Dibilang kasih Yesus akan memelihara ditengah-tengah kesulitan, dia nggak percaya, dia tidak bisa melihat kebaikan Tuhan. Contohnya jangan jauh-jauh: orang Israel. Orang Israel dikatakan bangsa pilihan Allah, biji mata Tuhan, didukung diatas sayap burung nazar, disebut kekasihnya Tuhan. Ini orang Israel sekarang tapi nggak percaya Yesus. Rasul Paulus berkata: mereka masih buta. Pada waktu nabi Yunus di suruh ke Niniwe, Tuhan bilang sama Yunus: kamu sayang sama pohon alhairani ini, betapa lagi Aku sayang orang Niniwe yang nggak bisa membedakan mana tangan kanan dan mana tangan kiri! Buta. Petrus juga berbicara. II Petrus 

1:5 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, 
1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, 
1:7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. 
1:8 Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. 
1:9 Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. 
1:10 Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. 

Orang Kristen bisa buta kalau dia mandek, tidak mau menambah imannya dengan kebajikan, kebajikan dengan kebaikan, kebaikan kepada saudara, kebaikan kepada semua orang, dengan ketulusan, dengan ikhlas. Dia tidak mau tambah terus aja monoton tiap minggu begitu, nggak mau ada kemajuan, puas dengan keadaan menjadi kristen tahunan, kristen dua tahunan, kristen triwulan - engkau akan jadi buta. Ini Petrus bilang dan surat Petrus bukan untuk orang dunia ... untuk orang Kristen!

Markus 

4:10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. 
4:11 Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, 
4:12 supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." 

Ini Tuhan karena jengkelnya sama orang Yahudi yang nggak mau percaya "biar dia melihat tapi nggak akan menanggapi". Kita melihat keindahan pemandangan, kita nggak ada tanggapan: luar biasa ya Tuhan, nggak ada! Kita lihat firman Allah yang luar biasa, kita nggak ada tanggapan. Tuhan memanggil: Mari datang kepada-Ku hai kamu yang bertanggungan berat, kita nggak menanggapi. Yesus bilang, mari dekat kepada-Ku, Aku akan memberikan pause, Aku akan memberikan sentosa, kita nggak mau - nggak ada tanggapan. Tengok berkali-kali, Aku mau mengumpulkan kamu seperti induk ayam mau mengumpulkan anak-anaknya - tapi kamu tidak mau. Itu orang Yahudi. Maka sampai sekarang orang Yahudi nggak lihat Yesus itu Juruslamat, Mesias. Dianggap Yesus itu nabi biasa. Berbahagia kalau kita bisa percaya "Yesus itu adalah Tuhan". Kita bisa melihat kebaikan-Nya Tuhan, sementara orang-orang tidak mau percaya, kok, kita bisa percaya. Ini anugerah Tuhan!

Yesaya 35 : 5b, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Kalau saya baca lagi Markus 4 : 12, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. 

Tuli itu ada dua macam saudara. Orang Manado punya istilah pongo. Pongo itu bukan budek, bukan torek. Orang Sunda kan bisa tahu. Torek itu tuli, ya, apa...!!!...apa...!!! Dulu saya punya pembantu rumah tangga, namanya Umi. Dia nggak terlalu torek tapi rada torek. Dulu kalau tukang minyak kelapa itu keliling di gang-gang kecil li .. sa .. kalapa masuk kebelakang itu. Dulu kita itu tinggal di sini. Li .. sa kalapa, dibelakang dapur li .. sa kalapa. Ini Umi, bibi, dia ngomong dari dalam dapur: embung teuing jengkol kolot. Dari lisa kalapa ka jengkol kolot jauh amat, saudara-saudara. Dia dengar, dia tidak torek tapi dia salah menanggap. 

Saya pulang waktu SMA, ini ada teman saya SMA, pulang waktu SMA cape karena jalan dari dulu sekolah jalan, sepeda sudah di jual sama papa jadi kita jalan kaki. Pulang hareudang, nangkarak di gereja. Cape. Makanan belum ada. Gitar di petik sama saya, gitar biasa tong .. Umi jawab dari dapur, aduh geus jam hiji deui. Umi, ambil garpu. Bawa garam. Dari garpu ke garam gimana sih saya bingung, namanya saja kurang dengar. 

Tapi yang ke dua bukan torek .. norek. Nah, ini istilah norek orang Manado bilang pongo, bandel, norek. Sudah dibilang jangan terus saja. Iya tapi terus saja, nggak berobah .. ini norek, ini pongo. Tapi puji Tuhan, di taman itu orang tuli akan mendengar, ada haleluyah saudara? Tidak ada yang mau norek lagi, tidak ada yang tuli lagi kalau dengar suara Tuhan Dengar suara Tuhan panggil datanglah, ini lagu-lagu lama tiba-tiba muncul terus Dengar suara Tuhan panggil datanglah .. Dengar suara Tuhan panggil datanglah .. Mari berlutut sembahyang. 

Aduh, lagu baheula pondok-pondok tapi mantap. Dengar suara Tuhan panggil datanglah. Makanya nggak pakai over head karena pendek-pendek. Dengar suara Tuhan panggil datanglah, dengar suara Tuhan panggil datanglah, mari berlutut sembahyang. Mengenai Sodom -Gomora "Api Tuhan bakar Sodom Gomora." Peggy masih kecil, dia pulang ke rumahnya dia nyanyi, nggak tahu itu lagu: Api Tuhan bakar kadongdong ngora. 

Ayah angkat saya pendeta Titus Yuwono itu suka ngarang lagu. Karang lagu bagaimana murid Yesus menyeberang dengan perahu, dengan bahtera lalu akhirnya lagu itu angin bertiup: wud-wud-wud .. gitu. Yang nyanyi satu gereja saudara, orang asrama polisi nanya: Eta teh lagu naon Yo? Dari jauh kedengarannya dut .. dut .. dut. Turunkanlah berkatHu jam ini. Karena cepat teuing, kedengarannya turunkanlah berkat hujan ini. Minta hujan katanya lagu ini! Api Kristus sudah menyala, api Kristus sudah menyala, api-api api-api-api, banyak orang Kristen api-api (pura-pura). 

Kembali lagi kepada firman Tuhan, jangan sampai kita norek, punya telinga tapi nggak bisa dengar. Saya juga bingung, kenapa ya, orang yang disebut hoki itu orang yang telinganya gede. Kalau orang telinga gede wah hoki dia, panjang umur. Kasihan yang telinganya kecil. Dianggapnya pendek umur. Nggak saudara! Yang hoki itu biar telinga besar atau kecil .. tapi yang dengar-dengaran kepada Tuhan, yang menurut kepada sabda Tuhan, itu yang hoki, ya! Kalau nggak nurut biar kuping besar tapi nggak nurut - itu hokian. 

Tapi saudara-saudara, kalau saudara nurut kepada firman Tuhan, ukuran kuping bukan urusan berkat tetapi hati dan telinga yang mau mendengar! Ketika Salomo ditanya sama Tuhan malam-malam waktu dia jadi raja, hei Salomo, bangun, apa yang engkau mau Aku perbuat? Minta apa, Aku akan kasih sekarang. Salomo itu minta begini: Tuhan, berikanlah aku hati yang berbudi! Tapi dalam salinan asli, berikanlah aku hati yang mendengar, yang nurut! Coba kalau kita sembahyang begitu, Tuhan, berikanlah kepada saya hati yang berbudi, hati yang mendengar, telinga yang mendengar. 

Kembali lagi kepada Yesaya 35:6a
35:6 Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa.  

Orang lumpuh itu di gotong-gotong; jaman dulu kan belum ada kursi roda saudara, di gotong-gotong. Mau pergi ke mana di gotong, namanya juga lumpuh. Nah, orang yang lumpuh rohaninya selalu di gotong-gotong: harus dijemput, kudu di sampeur ka gereja teh. Ayo kumaha kudu dibesuk, teu ka gereja saminggu kudu dibesuk. How are you? Ayo ka gereja. Di gotong-gotong. 

Ada kristen namanya kristen pedati. Kristen pedati itu kaya orang lumpuh, didorong-dorong pedati itu, di dorong, mogok di dorong deui, dorong yu! Ada kristen merpati musti pakai jagung rur...rrrrrr nyamber, datang. Kalau di Belanda kita beli jagung dari pinggir jalan, banyak itu merpati di pinggir jalan. Ada orang kristen, kristen merpati. Musti ada jagung dulu, musti ada pembukaan, pembagian. Dulu gereja Advent maju pesat karena pembagian minyak. Wih, dari BRI, situkan BRI saudara, Bangkong Reang indah, itu banyak yang pindah ke Advent kebaktian karena dapat minyak tuh, uh penuh. Nah, Amerika sudah cape nyumbang terus, berhenti. Begitu berhenti itu minyak, kosong lagi gerejanya. 

Gereja Pantekosta dapat juga bantuan kain. Wah, begitu di bagi, waduh, itu jemaat nggak tahu dari mana, penuh ... ibu-ibu kebanyakan. Kebaktian tepuk tangan ti balik-balik nggak apa-apa, pokoknya asal dapat pembagian. Begitu kainnya habis saudaraku, semangat pun habis; begitu coca-cola dibuka, gasnya habis .. habis juga semangatnya. Hmm, lumpuh harus di gotong-gotong. Rusa, kijang jaman dulu, itu ada binatang yang lincahnya luar biasa. Kalau saudara baca satu ayat dalam perjanjian lama, dijadikannya kakiku seperti kaki kijang. Kijang itu dia bisa lompat pada tempat yang berbatu dia bisa lari seperti orang menari. Anak-anak Tuhan yang seperti rusa,  itu mereka yang bisa menari-nari di atas problem, di atas percobaan. Dia lincah bisa mengatasi segala sesuatu, kerikil apapun juga dia bisa atasi, ada haleluyah saudara-saudara? Dia bukan jadi beban buat orang lain tapi dengan kekuatan roh kudus dia bisa menari-nari seperti kaki rusa, seperti kaki kijang. Dia menang, dia tidak takut dengan problem, usaha mata pencaharian, pekerjaan sakit penyakit, fitnah apapun juga dia nggak takut. Dia seperti kijang, nggak lagi di gotong-gotong. Itu orang yang dijadikan taman, dijadikan bunga oleh Tuhan. 

Berikutnya pasal 35:6b .. dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai.

Mulut orang bisu saya katakan, ini orang kristen yang nggak bisa bersaksi. Kalau ngerumpi waduh. Bersaksi? Siapa yang mau bersaksi? Setahun sekali tanggal 31 Desember?Bisu nggak bisa bersaksi, nggak bisa. Bersaksi teh gampang sebetulnya saudara. Ceritakan pertolongan Tuhan kepada kita, udah! Kalau saudara sakit disembuhkan, sudah! Tabrakan nggak celaka disembuhkan, sudah! Memang dulu ada satu bapa kalau bersaksi itu kayak ceritera. Saudara-saudara, pada kemarin jam empat sore, saya keluar dari rumah saya, melihat ke kiri dan ke kanan, dan ketika itu lewatlah sebuah mobil. Lalu saya bilang: cianjur-cianjur! Dia bilang okey, saya naik ke mobil itu. Perjalanan kira-kira ke kilometer empat belas setengah saudara, tabrakan, tabrakan, kepala saya tijedug, ada satu ibu kejedug juga, anak kecil kejedug juga, semua pada seperti ikan lohan semuanya. Lalu saya berkata: Tuhan Yesus tolong! Maksudnya, dia tabrakan nggak apa-apa, udah gitu. Tapi cerita sampai detail. Waktu saya lihat jam saya saudara, persis jam empat lima belas menit, nggak usah yang begitu mah. Waktu itu saya keluarkan uang saya bayar seribu, dia kembalikan tujuh ratus lima puluh. 

Dulu ada satu ibu bersaksi: oh, saudara-saudara, saya lari kepada dokter, dokter! dokter! Saya minta lontong. Maksudnya minta tolong, saudara-saudara. Puji Tuhan kalau saudara dijadikan bunga, taman bunga, saudara akan berani bersaksi. Saya kesal juga ada saudara, ini pemimpin pujian: ada yang bersaksi? Ada yang bersaksi? Apalagi di Jakarta, siapa yang mau bersaksi? Ya, yang bersaksi ada? Adakah yang bersaksi? Saya bilang kalau nggak ada mah nyanyi aja terus,  memangnya Tuhan gimana sih? Kaya siapa? Kaya lelang. Ada yang bersaksi, ada yang bersaksi? Mau sakit dulu barangkali. Saudara, kesaksian itu banyak, tapi mari kita pakai mulut kita bukan hanya ngerumpi-ngerumpi. Stop ngerumpi. Tapi pakai untuk bersaksi. Ada amin, saudara-saudara? Berikutnya, mungkin yang terakhir. 

Yesaya 35:6b, sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara. 

Ini nggak mungkin. Kalau ada gunung baru ada sungai karena mata air itu dari gunung; mata air dari gunung baru ada sungai. Ini di padang gurun, flat. Bagaimana ada mata air, bagaimana bisa jadi ada sungai. 

Saudara, apa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan. Apa yang tidak mungkin kata Alkitab, itu bisa terjadi bagi Tuhan. Saya kembali dari Samarinda. Di Samarinda ada satu jemaatnya pendeta Ekel Tumondo, dia orang Dayak. Sekolah SD pun nggak lulus. Tapi sekarang dia minta doa: pak Awondatu doakan saya sebab dia mau kerjasama dengan pertambangan batu-bara. Dia jemput dengan mobilnya pribadi. Dia bilang: pak pendeta, saya ini menjadi supirnya dari gembala saya sebelas tahun. Dia direktur perusahaan tapi menjadi supir dari pendetanya, dari saudara Ekel. Ekel dulu pengerja saya di sini. Sekarang ketua MD dia. Saya ini jadi supirnya dia. Dia direktur, dia jemaat tapi kalau gembala saya bilang aduh, tolong antar kesana, saya stop urusan perusahaan, saya jadi supirnya dia. Sebelas tahun saya jadi supirnya pendeta Ekel. Bukannya menurun ditambah sama Tuhan berkat, tambah Tuhan berkat, tambah Tuhan berkat, orangnya gendut besar. Dia mau kirim satu siswa ke sini ke Cianjur. 

Saudara-saudara, yang mustahil bagi orang, SD aja nggak lulus tapi sekarang memegang pertambangan batu-bara. Ada haleluyah, saudara-saudara? Handphone nggak berhenti-henti selama jalan, nggak berhenti-berhenti. Istrinya ada tumor minta didoakan, saya yakin tumor saya hilang, nggak mau sama obat, nggak mau sama dokter. Luar biasa ini orang Dayak. Orang yang saya kira orang Batak padahal orang Dayak. Yang mustahil, nggak mustahil bagi Tuhan, yang nggak bisa - nggak mungkin dah ... bisa mungkin bagi Tuhan. 

Di Cianjur saudara-saudara orang bilang nggak maju kalau di Cianjur terus mah! Siapa bilang? Tuhan yang di Cianjur sama kok dengan Tuhan yang di Jakarta. Tuhan yang di Cianjur sama dengan Tuhan yang di Yerusalem. Tuhan yang di Cianjur sama dengan Tuhan yang di Amerika. Di mana kita berada asal kita yakin, asal kita percaya, padang gurun bisa ada sungai. Saudara, mungkin orang lain Cianjur mah nggak bisa maju, Cianjur mah padang gurun. Okey, tapi Tuhan bisa bikin air sungai, Tuhan bisa bikin mujizat di kota Cianjur.

Ada yang mau pindah, saya ingat itu kesaksian, ada yang mau pindah ke Jawa tengah, berat, nggak jadi pindahnya. Karena mungkin di Jawa Tengah nggak ada katanya air hidup seperti yang di Cianjur, nggak jadi pindah. Saudara-saudara, padang gurun berbunga, padang gurun ada sungai. Jangan putus asa, jangan saudara diinjak-injak sama keadaan, diinjak sama orang nama saudara busuk, tanam aja bunga. Nanti satu lapangan sepak bola Tuhan ijinkan di bikin taman oleh saudara; pakai tanganmu tanam bunga: bunga kebaikan, bunga kesetiaan, bunga kasih sayang, bunga kebenaran, bunga kesucian, bunga sabar, bunga panjang hati, bunga kemenangan, bunga pekerjaan, bunga rajin. 

Tadi pagi saya agak kesal sedikit sama pengerja, strum nggak ada pet ... mati. Saya lihat pak Onesimus di sini sedang sound sistim dia turun. Di sini para staff, pengerja laki-laki duduk semua pakai dasi. Nggak ada satu pun yang ingat turun, turun, nyanyi aja. Saya udah gini-gini, nggak tahu itu kode saya. Kalau saya udah gini itu udah marah. Apa nggak ada itu yang satu pengerja juga turun, nggak ada, nyanyi aja. Dia kira dibawah ada orang kali sebab diesel bukan urusan saya, padam lampu bukan urusan saya ... itu urusan PLN. Dasi berkibar, berkibarlah dasiku, ya nanti dia tabur. 

Tapi kalau saudara tabur rajin, tabur benar, tabur sukacita. Mula-mula satu pot kembang kecil. Ah, coba tabur kembang. Nanti satu taman, nanti satu lapangan sepak bola, nanti diundang oleh Raja segala Raja. 

Saya tidak panjangkan firman Allah. Katakan dengan bahasa bunga, dari lahir sampai mati kita tidak kehilangan bunga.

-- o --   

Minggu sore, 13 Juli 2003

JANGAN PUTUS ASA

Haleluyah! II Raja-raja

8:1 Elisa telah berbicara kepada perempuan yang anaknya dihidupkannya kembali, katanya: "Berkemaslah dan pergilah bersama-sama dengan keluargamu, dan tinggallah di mana saja engkau dapat menetap sebagai pendatang, sebab TUHAN telah mendatangkan kelaparan, yang pasti menimpa negeri ini tujuh tahun lamanya." 
8:2 Lalu berkemaslah perempuan itu dan dilakukannyalah seperti perkataan abdi Allah itu. Ia pergi bersama-sama dengan keluarganya, lalu tinggal menetap sebagai pendatang di negeri orang Filistin tujuh tahun lamanya. 
8:3 Dan setelah lewat ketujuh tahun itu, pulanglah perempuan itu dari negeri orang Filistin. Kemudian ia pergi mengadukan perihal rumahnya dan ladangnya kepada raja. 
8:4 Raja sedang berbicara kepada Gehazi, bujang abdi Allah itu, katanya: "Cobalah ceritakan kepadaku tentang segala perbuatan besar yang dilakukan Elisa." 

Raja sedang berbicara kepada Gehazi. Dalam bahasa Inggris: "Lalu raja berbicara kepada Gehazi." Terus terang saya baca ayat ini sangat terharu. Ada sesuatu di dasar hati saya  yang dibangkitkan oleh Tuhan ketika saya baca lima kata ini. II Raja-raja 

5:25 Baru saja Gehazi masuk dan tampil ke depan tuannya, berkatalah Elisa kepadanya: "Dari mana, Gehazi?" Jawabnya: "Hambamu ini tidak pergi ke mana-mana!" 
5:26 Tetapi kata Elisa kepadanya: "Bukankah hatiku ikut pergi, ketika orang itu turun dari atas keretanya mendapatkan engkau? Maka sekarang, engkau telah menerima perak dan dengan itu dapat memperoleh kebun-kebun, kebun zaitun, kebun anggur, kambing domba, lembu sapi, budak laki-laki dan budak perempuan, 
5:27 tetapi penyakit kusta Naaman akan melekat kepadamu dan kepada anak cucumu untuk selama-lamanya." Maka keluarlah Gehazi dari depannya dengan kena kusta, putih seperti salju.

Tiga pasal sebelumnya Gehazi di kutuk oleh Elisa, kamu kena kusta. Kenapa, supaya saudara tahu. Naaman baru sembuh, dicelupkan tujuh kali di sungai Yordan, orang kusta ini sembuh, sampai Alkitab bilang kulitnya seperti kulit bayi. Dia ingin kasih emas, dia ingin kasih perak sama Elisa, Elisa bilang jangan saya nggak mau, yang nyembuhkan Tuhan bukan saya, saya nggak perlu itu. Mau kasih pakaian, nggak! Saya nggak perlu, sudah, pulang saja dengan sejahtera. 

Tapi Gehazi dengar, pengerjanya. Ini Gehazi lari ditengah jalan dia bilang: Tuanku baginda Naaman! Ada apa? Tuan saya ini, Elisa ini mau. Tadi itu dia bilang tidak itu tapi sekarang mau, mau perak mau emas mau kain-kainnya. Oh, ya! Kalau Naaman bilang nggak apa-apa, saya kasih. Dikasihlah. Lalu pulang Gehazi. Nah, ditanyalah ayat 25, dari mana kamu Gehazi? Elisa udah tahu. Saya nggak dari mana-mana. Bukankah hati saya ini ikut jalan sama kamu waktu lihat Naaman turun dari kudanya kasih sama kamu perak, emas? Maka dengan perak itu kamu bisa beli kebun-kebun, beli zaitun, beli rumah dan sebagainya. Tapi kustanya Naaman mulai saat ini pindah kepada kamu. Dan dikatakan tadi dalam ayat yang terakhir Gehazi ini kena kusta seperti salju kulitnya itu putih, jijik, menjijikkan. 

Tapi dalam 2 Raja Raja 8 tadi, kok raja bicara sama Gehazi, kenapa? Karena orang kusta nggak boleh ada di masyarakat. Orang kusta mesti dibawa jauh-jauh ke satu tempat, jauh-jauh nggak boleh dekat. Kalau keluarganya mau kirim makanan, musti ada jarak lima puluh meter. Sebab orang kusta itu akan berkata Najis! Najis! Jangan dekat-dekat sini. Najis! Orang tahu ada orang kusta, dan mereka takut ketepaan, mereka kasih makanan jauh-jauh saja, ganti pakaian jauh-jauh dan mereka pulang. Tapi Gehazi ini kok ngomong sama raja? Itu yang bikin saya terharu tadi. 

Ada apa dengan Gehazi ini yang sudah kena kusta kok nggak dibuang? Kok nggak terbuang, kok nggak terkutuk? Tapi raja kok ngobrol sama Gehazi? Dikatakan itu bujangnya hamba Tuhan jadi pengerja, berarti Elisa juga tidak pecat dia, tidak usir. Nah, saudara-saudaraku tiga pasal ini pasti ada yang terjadi dari pasal lima sampai pasal delapan ini ada yang terjadi dengan Gehazi. Ada sesuatu yang "terjadi", saya pakai tanda kutip terjadi dengan Gehazi. Apakah dia di sembuhkan? Saya belum baca dan tidak baca, kok bisa-bisanya raja ini ngomong sama Gehazi, Gehazi ini kan kusta? Boro-boro bisa masuk istana, rumah sendiri aja nggak boleh! Musti dibuang jauh-jauh bilang najis, najis. Tapi kenapa sekarang raja ngomong baik-baik sama Gehazi, disuruh dongeng, di suruh cerita lagi. 

Nah, saudara-saudara saya ingin saudara mengatakan bersama dengan saya tiga kata, saya ingin saudara tidak ada yang nggak ngomong semuanya musti ikut ngomong kata-katanya itu “jangan putus asa.”  Kalau saudara pernah salah, saudara pernah keliru, pernikahan gagal, sampai terjadi perceraian, kita nggak mau bercerai tapi terjadi. Jangan saudara anggap itu sudah kiamat, jangan saudara anggap wah, sudah nggak ada harapan lagi, kita nggak bisa hidup bahagia no...no...no. Tidak boleh putus asa! Lihat Gehazi. Hanya tiga pasal saja. Asalnya kena kusta kok sekarang sudah ngomong sama raja. Semangat apa yang ada sama Gehazi? Itu semangat bangun kembali dari kejatuhan, semangat menyadari kesalahan, semangat memperbaiki kekeliruan. 

Apa kalau mobil kita ngusruk lalu tabrak pohon, kita nangisi mobil itu terus? Tabrakan aduh, padahal mobil teh anyar ... tabrakan! Aduh ... mobil teh anyarnya? Aduh, tabrakan ya? Salah nginjak. Apa saudara mau ngomong begitu terus setahun, dua tahun ngomong mobil, mobilnya penyok lagi terus? Nggak kan. Saudara akan derek itu mobil dibawa ke bengkel, perbaiki. Yang sudah, sudah. Perbaikilah mobil itu. Kalau sudah dicat saudara pakai, kalau mau jual, jual ... tapi perbaiki dulu. Asalnya bentuknya seperti apa dikembalikan dulu sama ahli ketok, tukang ketok ngembalikan, di cat lagi disemprot cet duco, ya, kembali ke rumah bayar sudah, memang mesti bayar harganya.

Nah, bagi saudara-saudara yang gagal, salah, keliru, salah jalan, ngusruk, titajong dinurata, tidagor nu caang, keliru, kacau - sampai saudara nggak mau memperlihatkan cacat saudara. Gehazi mah kelihatan, sampai putih kustanya. Tapi hanya tiga pasal, dia udah ngobrol sama raja; dia bukan penjilat, dia pengerja. Coba kita dengar apa raja ngomong sama dia. Ayat 4,

8:4 Raja sedang berbicara kepada Gehazi, bujang abdi Allah itu, katanya: "Cobalah ceritakan kepadaku tentang segala perbuatan besar yang dilakukan Elisa." 

Dia disuruh bersaksi, dia disuruh menceriterakan apa yang diperbuat oleh Elisa. Saudara, perjanjian lama adalah ayang-ayang, bayang-bayang dari perjanjian baru. Elia, Elia itu lambang YESUS. Elisa itu gambaran ROH KUDUS, kenapa? Karena waktu Elia mau naik kesorga hidup-hidup, Elisa minta dua bagian Roh, dua bagian Roh. Lalu Elia lempar selimutnya, jubahnya. Dengan jubah itulah Elisa pukul sungai Yordan, sungai Yordan terbuka. Nah, Yesus naik ke sorga, Elia kita, Yesus naik ke sorga .. Elisa penggantinya diberikan kuasa dua kali ganda. 

Selimut bicara dari kuasa, kuasa Yesus dipakai oleh Roh Kudus sekarang. Jadi, ini bujang Allah ini Gehazi ditanya: coba apa yang di kerjakan oleh nabi, oleh Elisa itu? Dia ceritera. Sedang ia menceriterakan kepada raja tentang Elisa menghidupkan anak yang sudah mati itu, tampaklah perempuan yang anaknya dihidupkan itu datang mengadukan perihal rumahnya dan ladangnya kepada raja. Lalu berkatalah Gehazi ya tuanku raja “inilah perempuan itu dan inilah anaknya yang dihidupkan Elisa.” Lalu raja bertanya dan perempuan itu menceriterakan semuanya kepada-nya kemudian raja menugaskan seorang pegawai istana menyertai perempuan itu dengan pesan pulangkan segala miliknya dan segala hasil ladang itu sejak ia meninggalkan negeri itu sampai sekarang. 

Ceriteranya kita baca dari ayat 1, Elisa suruh perempuan dan anak itu dan ngungsi ke Filistin karena akan ada kelaparan. Begitu ngungsi, bawa badan aja sama anak, bawa aja. Udah tujuh tahun di suruh balik lagi. Lalu dia mengadukan kepada raja. Ini janda. Dia ngadu sama raja tentang rumahnya dan tentang ladangnya. 

Dua hal ini, rumah menjadi lambang keluarga kita, rumah tangga kita. Ladang bicara ekonomi kita, toko kita, usaha kita, mata pencaharian kita, bibilintik kita, banting tulang kita - ladang. Ini janda, dia mengadu sama raja, dia ceriterakan rumahnya dan ladangnya. Kita mulai dari Gehazi, tidak putus asa bukan? Sekarang ini perempuan juga tidak putus asa. Dia datang dengan tangan hampa, dia pulang tidak ada harapan. Udah tujuh tahun rumahnya kemana, tanahnya kemana. Cuman dia ngadu, dia ngadu sama raja tentang rumahnya, tentang ladangnya, ladangnya. 

Saudara-saudara, malam hari ini, Raja segala raja, Yesus, ada di tengah-tengah kita. Maukah saudara mengadukan kepada dia mengenai rumah saudara, ladang saudara? Rumah saudara semrawut, cerita sama Raja segala raja, cerita sama Yesus. Ladang kita kurang bagus, kurang subur, usaha kita kurang maju cerita sama raja, kenapa?

Dalam ayat 6, lalu raja bertanya-tanya, dan perempuan itu menceriterakan semuanya. Jangan saudara simpan-simpan cerita dari Tuhan Yesus, ceriterakan semua. Boleh saudara sama saya merahasiakan nggak apa-apa. Tapi sama Tuhan Yesus cerita semua. Nah, raja ini suka bertanya. Tahukah saudara Tuhan kita ini suka bertanya? Raja kita ini suka bertanya? Pertama dia tanya sama raja Salomo waktu masih muda, Tuhan ini: "Hai Salomo, apa yang engkau minta, permintaanmu apa? Aku mau kasih sama kamu, apa aja ngomong." Salomo minta: "Tuhan, saya minta hati yang berbudi, hati yang bijaksana." "Okey," Tuhan bilang, "Aku kasih, ya. Walaupun kamu nggak minta kekayaan tapi Aku pun akan kasih kekayaan bagimu." Kalau Salomo minta kekayaan pasti dikasih, belum tentu dikasih kebijaksanaan. Tapi karena dia minta kebijaksanaan, Tuhan kasih Dia tanya dulu walaupun nggak minta kekayaan, dikasih kekayaan. Raja ini suka bertanya.

Yang kedua, Dia tanya sama Bartimeus, yang buta. Mungkin saudara bilang ah, eta mah nanya ka Salomo atuh raja eta mah ko Yoyo? Eh, Bartimeus mah orang buta, tukang minta-minta, duduk di pinggir jalan, buta. Dipanggil sama Yesus “apa yang engkau mau Aku perbuat padamu?” Bartimeus bilang: “Saya ingin melihat.” Nggak banyak-banyak, saya ingin melihat; saya orang buta saya ingin melihat. Imanmu sudah menyembuhkan engkau, sembuh!

Nah, sekarang Raja kita yang sama juga bertanya sama saudara, apa yang saudara mau? Apa yang saudara rindukan, apa yang saudara inginkan? Jangan cerita separoh-separoh, semuanya sama Tuhan Yesus, Dia punya telinga cukup menampung, dia punya hati cukup menampung persoalan kita, problem kita. Apakah persoalan rumah, rumah tangga? Tangga rumah ? Apa persoalan ladang? Bisnis? Cien, uang, gaji ? Kurang aja ini, ngomong sama Tuhan, ngomong.

Saya kasih dua ayat dulu saudara nanti sebelum kita kembali, saudara pegang dulu 2 Raja-raja 8 dengan tali Alkitab. Yohanes
14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." 

Jika kamu meminta segala sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya. Jadi kalau sembahyang teh mesti ngomong begini: “Tuhan Yesus saya sudah minta ini, Tuhan tolong ini, ini." Udah sembahyang udah ngadu semua Tuhan tolong ini, Tuhan tolong ini, usaha saya, pekerjaan saya, udah selesai saudara mau amin ini,  terima kasih Tuhan, saya alaskan doa saya di dalam nama, namanya Dia, Tuhan Yesus Kristus, baru amin. Pasti dibikin sama Dia. Yang kedua, Yohanes

16:23 Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. 
16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Ada haleluyah, saudara-saudara? Raja kita nggak mau saudara susah, Raja kita ingin supaya kita bersukacita dan sukacitanya Dia ingin supaya kita sukacitanya itu penuh. Full tidak setengah-setengah, tidak enam puluh persen, tidak tujuh puluh persen - full seratus persen. Cuma Dia aneh, sampai sekarang ongkoh kamu bilang Aku Tuhan, tapi kamu nggak pernah minta apa-apa! Aku sudah janji Yohanes pasal 14 ayat 14, minta apa saja Aku kasih. Tapi Yohanes 16:24 belum pernah kamu minta. Minta, kata-Nya, Aku akan beri dalam nama-Ku. Aku akan beri supaya sukacitamu itu penuh. Nah, kita kembali kepada II Raja-raja

8:6 Lalu raja bertanya-tanya, dan perempuan itu menceritakan semuanya kepadanya. Kemudian raja menugaskan seorang pegawai istana menyertai perempuan itu dengan pesan: "Pulangkanlah segala miliknya dan segala hasil ladang itu sejak ia meninggalkan negeri ini sampai sekarang." 

Tadi dia nggak panggil menteri, ya. Soal banyak kelaparan dia nggak ngomong sama bulog, dia nggak ngomong sama menteri sosial, dia nggak panggil menteri dalam negeri, dia nggak panggil menteri sekretariat negara, kok dia panggil hamba Tuhan. Ada haleluyah? Eh, saudara, kan saudara mah jenderal dulu, ia kan? Jenderal dulu. Kalau saudara kenal jenderal, kenal pejabat, senangkan? Nggak pernah ngomong sama pendeta mah, nggak pernah. Nanti kalau tidagor, salah jalan .. baru ngadu sama om Yoyo: om, saya teh dapat problem. Ini baru ada suami istri dari Jakarta. Kalau saudara lihat di Yayasan Kabar Baik, NN satu juta, NN satu juta itu dia. NN satu juta, NN satu juta. Suami istri nggak pernah banyak ngomong, NN satu juta. Tiap bulan udah nggak berapa tahun, NN satu juta Jakarta untuk Yayasan Kabar Baik. Itu dia. 

Baru-baru ini istrinya kirim SMS: om, mohon bantu doa kami salah jalan, kami sudah bisnis yang salah. Kami sudah minta ampun sama Tuhan tapi tolong oom bantu doa. Iya kan? Lagi bisnisnya kan nggak di tanya pendeta mah, nanti udah salah jalan baru oom tolong bantu doa. Udah tidagor, kepala udah kaya ikan lohan bledag blenong karak nanya ko Yoyo. Ieu teh kumaha benjut siga lohan. Ehm, baru ngomong. Raja ini mah udah tahu. Dia nggak ngomong sama menteri, dia nggak ngomong sama pejabat, dia ngomong sama hamba Tuhan. Dulunya Gehazi ini kusta tapi mungkin sudah sembuh, mungkin dia sudah bertobat ... raja sampai ngomong. 

Maka saya kasih tahu rahasia. Kalau mau sukses kalau mau ada apa-apa kang tau, bisnis apa, minta hamba Tuhan dulu sembahyang. Da ieu mah da sieun kanyahoan. Tonglah, tong panggil ko Yoyo. Geus we urang-urang we. Ke tidagor kakarak. Amin? Ngaku da bener. Saudara, hamba Tuhan teh nya seringkali dianggap remeh. Kalau kita kenal jenderal, kita kenal pejabat, yang diajak makan teh pejabat, yang dibeliin mobil pejabat, dibeliin raket tenis pejabat, wah. Dikasih servis sebab di cari  tanda tangannya. Dia nggak tahu bisnis teh yang bikin sukses teh doa hamba Tuhan. 

Saya yakin ini kalau saya ke mana-mana, kemarin hari jumat saya di Karawang, hari sabtu saya di Bekasi, hari minggu pagi tadi jam tujuh saya di Karawang lagi, jam setengah sepuluh saya di Jakarta, sore saya disini ... kok nggak cape-cape? Saya yakin ada dukungan doa dari yang sembahyang semalam suntuk, saya rasa kok. Kok rasa saya kuat, kok rasa saya ini tabah gitu, saya yakin itu ada bantuan. 

Nah, jangan saudara main-main, wah, bisnis teh diam, diam. Ke geus cilaka, geus kaditu kadieu geus tutup lobang gali lobang, tungtungna mah teu bisa ditutup lobangna, kalahka urang asup kana liang eta. Jeung tutup-tutupna abus. Kalau masih pertama mah bisnisnya, om saya mau bisnis ini, jangan! Ini ada satu anak muda dua puluh delapan tahun, dia pegang uang ratusan miliar saudara, dia telepon saya: om, saya di tawarin Gubernur Jakarta nih buka judi di kepulauan Seribu, income satu hari pemasukan untung, satu milliar satu hari. Mau bisnis apalagi oom? Satu hari satu miliar, sebulan tiga puluh miliar, itu semuanya yang sudah nyogok sana, nyogok sini udah beres. Pokoknya tiap hari kita kantongin satu miliar. Saya bilang jangan! Kalau kamu mau nurut sama saya, jangan! 

Sekarang dia terima kasih, terima kasih, om. Yang dapat jadi urusan, jadi urusan sekarang. Boro-boro satu miliar, dipanggil kesana dipanggil kesini, urusan yang ini urusan dengan rakyat. Jadi saudara-saudara, dengar hamba Tuhan. Ingat Paulus naik kapal. Dia bilang sama nakhoda kapal teh: jangan berlayar, jangan berlayar, jangan. Saya hamba Tuhan jangan berlayar ... kurang aman. Eh, kamu tahu apa? Nenek moyangku angkatan laut di bere bacang tetap cemberut. Berangkat juga, apa yang terjadi saudara-saudara? Betul mau tenggelam. Paulus nyindir: Coba kalau engkau dengar apa yang saya bicara, kita tidak akan kehilangan banyak barang seperti ini ... didalam Kisah Rasul 26,27,28. Tetapi tadi malam malaikat berdiri di sisiku dan berkata: “Nggak ada yang mati kita hanya barang-barang bisa hilang.” Betul saudara terjadi. Barang-barang dibuang karena kapal kalau sudah lagi mau di bawa ombak musti barang-barang di buang, kekayaan semua di buang, nggak ada artinya. Hidup yang penting. Akhirnya selamat. Empat belas hari nggak makan. Digoyang-goyang, goyang hampir mau putus asa tapi janji Tuhan terjadi ... selamat. Akhirnya bukan nakhoda yang benar ... hamba Tuhan yang benar. Baru dipanggil sama pegawai istana. II Raja-raja   

8:6b ... Kemudian raja menugaskan seorang pegawai istana menyertai perempuan itu dengan pesan: "Pulangkanlah segala miliknya dan segala hasil ladang itu sejak ia meninggalkan negeri ini sampai sekarang." 

Saya mau kasih tahu saudara, Tuhan memperhitungkan apa yang saudara hilang. Tuh nggak ada yang bilang amin? Nggak ada yang bilang haleluyah? Hayang leungiteun kabeh? Tuhan memperhitungkan yang saudara hilang. Dia kembalikan tujuh tahun dari mulai dia berangkat, katanya, sampai kembali padahal itu jaman kelaparan. Jaman kelaparan nggak ada tanaman, nggak ada gandum. Tapi waktu diganti tujuh tahun jaman kelaparan itu diganti dengan tujuh tahun yang lagi ada gandum. Ayo! Ganti. Rumahnya diganti, semua hasil tanahnya di ganti. 

Janda itu bicara tentang gereja, janda itu bicara tentang saudara dan saya, anak bicara dari pengharapan, ya. Kita orang-orang tua sekolahin anak dengan pengharapan anak bisa balas budi nanti setelah dewasa. Nggak balas budi juga jangan cemberutin kita deh, ya. Tapi kebanyakan balas budi anak-anak. Nanti kita sudah tua, orang-orang tua, ah, sudah papa mau ke mana? Papa mau ke Cungkuo? Papa mau ke Taiwan? Senang saudara kalau sudah punya anak udah begitu. Anak yang satu bilang mau ke Singapore pah, mau ke Singaparna? Mau ke Cikalong, mau ke Chicago mau ke Amerika? Ayo, mau ke mana? Senang kita. Aduh, anak teh udah pada jadi. 

Ibu yang dibaptis itu disaksikan sama anak-anaknya, wah bahagia, senang. Ya, cuman saya nggak keburu bawa mama saya ke luar negeri, nggak bisa, keburu sakit. Dia paling jauh naik pesawat terbang ke Bali. Bahkan papa saya mah baru rencana mau naik pesawat terbang nanti bulan depan kita mau pergi ke Sumatera sama Hendrik Mandagi, malahan pergi terbang ke surga. Saudara, papa saya nggak pernah naik pesawat. Pengen saya teh balas budi gitu. Tinggal yang ada mami mertua aja, ya, sudah mami mertua yang hoki, sudah dua kali di ajak ke Amerika. Dia yang hoki, yang lainnya mah hokian semua. 

Jadi kembali lagi kepada firman Allah saudara kalau Tuhan kembalikan, Dia kembalikan semuanya ... semuanya. Dengan pesan, kembalikan ya dia punya uang harta. Malam hari ini, ada yang gagal dalam rumah tangga, ada yang gagal dalam bisnis ceritakan sama raja, ceritakan sama Tuhan. Tuhan mah da punya seribu satu macam cara untuk memberkati kita. Hoki kita di dunia, eh, siapa bilang? Tuhan mah nggak bisa di bendung. Satu jalan ditutup,  sepuluh jalan Tuhan buka. Jangan saudara bilang hidup saya sudah nggak bisa bahagia, wah rumah tangga saya sudah gagal - jangan! 

Tuhan bisa bikin Gehazi yang kusta sampai dia bicara lagi didepan raja. Berarti dia tidak putus asa. Dia memperbaiki diri, dia memperbaiki performance, dia memperbaiki penampilan, dia kembali kepada Tuhan. Orang yang tidak pernah salah orang besar, orang yang pernah bersalah dan sadar akan kesalahannya dia orang lebih besar, tapi orang yang salah lalu dia sadar dia salah kemudian dia memperbaiki kesalahannya sampai dia berhasil kembali - itu orang paling besar. 

Saudara-saudara, Simson justru waktu matinya dia membunuh musuh lebih banyak daripada waktu dia hidup. Waktu dia buta dia dipakai lebih hebat. Jadi jangan putus asa. Gagal dalam bisnis .. bangun lagi, gagal jualan ini .. bangun lagi. Bangun lagi, coba lagi, coba lagi, coba lagi terus. Puji Tuhan! Coba lagi, coba lagi. Saudara tahu sampai kebulan itu karena ratusan kali percobaan, ratusan kali gagal, ratusan kali pesawat meledak. Tapi dicoba lagi, dicoba lagi, dicoba lagi ... sampai orang bisa ke bulan. 

Maka saudara-saudara, jangan patah semangat. Jangan kalau gagal itu saudara anggap sudah kiamat, ayo kembali kepada Tuhan. Raja itu mau bertanya-tanya malam hari ini kepada saudara: Apa yang engkau mau Aku perbuat bagimu, apa yang engkau rindu Aku perbuat bagimu, apa yang engkau mau? Sampai sekarang engkau belum minta apa-apa. Jangan ke gereja teh diam aja. Mau apa? Ah, geus euweuh kamau ieu mah. Itu mah nungguan game atuh saudara. Hidup sudah tidak ada kemauan saudara nungguan game. 

Mari bangun, mari bangkit. Ayo kerja lagi, puji Tuhan. Saya yakin tugas saya belum selesai. Masih ada yang harus saya kerjakan. Nanti kalau udah selesai saudara-saudara aduh. Saya tahu laki-laki mah meninggal dulu.  Saya udah ngomong, saya udah khotbah di Jakarta tadi. Laki-laki meninggal dulu. Saya udah ngomong sama ci Yang Yang: Ingat ya, gua mati duluan lho, ingat siap mental terusin pekerjaan Tuhan. Ah, Yang Yang mah nggak bisa, nggak mampu. Nggak bisa teh aya keneh salaki. Ke lamun salaki geus euweuh sok bisa sarangan. Tapi awas tong kawin deui. Mun kawin deui heg ... bangkit dari kuburan. Haleluyah.

Saudara mau ceritera kepada Raja segala Raja? Apa persoalan saudara - rumah, rumah tangga, keluarga? Apa kasus saudara - bisnis, uang, keuangan? Raja ini gudangnya banyak, banyak berkat ... Dia akan siap memberkati saudara. Mari kita berdiri bersama-sama. 

-- o --   

Minggu sore, 20 Juli 2003  

KEBIJAKSANAAN

Haleluyah? Minggu ini GPdI Cianjur sedang berduka karena dua jemaat telah dipanggil pulang, ya: satu ibu dan satu bapak, bapak Matius Oey, tadi setengah delapan pagi sudah pulang ke sorga. Jemaat kami di Jakarta pun kehilangan satu ibu juga pagi tadi setengah delapan meninggal di Bandung. Jadi ada dukacita secara jasmani tetapi secara rohani kita tahu bahwa beliau-beliau itu mereka sudah siap dan saya yakin mereka senang di tangan Tuhan. Haleluyah! Kita doakan supaya keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, pengertian dan sebagainya. 

Amsal 19:11 Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran. 

Saya ingin baca dalam salinan bahasa Inggris; kebijaksanaan seorang manusia membuat dirinya lambat untuk marah, dan kemuliaannya adalah tidak mencari-cari kesalahan atau memaafkan overlook a trangression, melewati kesalahan. Kata kebijaksanaan di dalam bahasa Inggris sebetulnya di pakai kata wise dan kata wise ini dipakai kebijaksanaan antara kita dengan sesama kita. Tetapi disini kata kebijaksanaan atau akal budi dipakai kata discretion artinya kebijaksanaan untuk dan ada di dalam diri kita sendiri. 

Jadi kebijaksanaan kita yang membuat kita lambat untuk marah. Bahasa Indonesia memakai kata panjang sabar. Bahasa Inggris memakai bahasa slow to anger, lambat murka. Tidak dilarang marah, ya, karena kita masih manusia bukan dodol tetapi kita lambat untuk marah. Kenapa? Karena dia discretion, mempunyai kebijaksanaan. And his glory ... dan kemuliaan orang itu adalah to overlook a transgression. Overlook ... tidak menganggap satu pelanggaran. 

Jadi orang yang melanggar kepada kita, itu kita tidak anggap kita lupakan, kita lewati saja, kita overlook. Overlook sama seperti saudara baca buku, ya, ini ada buku halamannya kotor, saudara lewat saja. Saudara sedang membaca buku, kok, ada halaman yang kotor ... saudara lewat saja. Itu overlook. Lewatkan saja yang tidak enak di baca, lewatkan saja yang berat itu.

Nah, pada malam hari ini saya ingin berbicara tentang kebijaksanaan ini. Dalam Amsal 2, juga disana dikatakan saudara-saudara, 

2:11 kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau 

Disini disalin dengan tepat discretion juga bahasa inggris, discretion ... kebijaksanaan akan memelihara engkau. Kata memelihara dipakai dari kata preserve atau mengawetkan. Saudara ada yang kirim masakan sekarang gampang sekali tidak usah takut biar santan biar apa nggak habis, masih banyak bisa diawetkan taroh di refrigerator, taroh di lemari es, taroh ditempat pembekuan. Dia tidak akan basi, dia tidak akan bau karena dia jadi awet. Orang simpan daging sekarang mentah pun bisa diawetkan. Dari kata awet itu, preserve itu, datanglah kata memelihara. 

Jadi kebijaksanaan discretion, masih di dalam diri kita, kebijaksanaan yang ada di dalam kita. Atau saya pakai kalau kita punya memiliki kebijaksanaan itu, maka kebijaksanaan itu akan mengawetkan kita. Perkawinan awet, nggak ada yang bilang amin ge sebodo saya mah, hokinya awet, toko diberkati awet, ya, bukan awet rajet. Awet, awetnya baik tidak busuk, tidak rusak, perasaan itu awet. 

Bahkan dalam Amsal  4:23 'Peliharalah hatimu terlebih dari segala apa yang patut di pelihara.' Salinan lain hampir sama awetkan hatimu jangan sampai dia basi, jangan sampai dia bau, jangan sampai dia busuk, jangan sampai dia pahit, jaga hatimu. Dikatakan dalam ayat 11, kebijaksanaan, discretion, kebijaksanaan ... akan memelihara akan mengawetkan engkau. Understanding, pengertian akan memelihara, menjaga engkau. 

Yang pertama mengawetkan, yang kedua memelihara. Dijaga dipelihara, awet tetapi juga terpelihara. Kurang air ada airnya, kurang feeding ada feedingnya, kurang makan ada makannya, kurang vitamin ada vitaminnya, semua yang diperlukan oleh kita disediakan. Kalau kita punya kebijaksanaan dan pengertian. Haleluyah, puji Tuhan! Betapa untungnya kita kalau kita mempunyai kebijaksanaan. Tadi saya di panggil disebut ayah di sebut juga guru, memang dua anak ini kalau kirim SMS selalu manggil saya ayah, padahal saya sudah jadi opa, ya. Oke, nggak apa-apa. Tetapi kita lihat saudara saya punya guru, gurunya kecil sekali. Amsal 

6:6. Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: - Kata bijak disini dipakai kata wise, yaitu kebijaksanaan antar kita dengan manusia yang lain 

Hai pemalas, dua kali di sebut hai pemalas. Tadi pagi saya khotbah, apa saja yang di sebut dua kali oleh Tuhan itu super penting: Adam, Adam di manakah engkau?  -dua kali! Musa, Musa ... tanggalkanlah kasutmu karena tanah yang engkau berdiri itu kudus - dua kali! Marta, Marta engkau khawatir dari hal banyak - dua kali! Sampai di Matius 23, Yerusalem, Yerusalem kamu yang membunuh nabi-nabi - dua kali Yesus bilang. Apa yang disebut dua kali ini super penting. Saudara bisa sembahyang nonggeng kepala di bawah kaki di atas berjam-jam tapi kalau saudara malas, kedul saudara tidak akan ada berkat.

Belajarlah dari semut, belajar dari binatang yang kecil, belajarlah tingkah lakunya, perhatikanlah lakunya, ya. Semut ini dipakai kata ganti wanita. Perhatikanlah tingkah lakunya, ya, dan jadilah bijak. Sayang kita cuman tahu semut, cuma bisa nyanyi: Si semut yang kecil bekerja dengan rajin ... Waktu musim panas kumpul rejeki ... Walau badanku lemah Allah selalu pelihara ... Orang yang percaya takut matikah

Orang yang percaya tidak akan takut mati kalau dia jadi seperti semut. Kumpul rejeki pada waktu musim panas. Saya mau bicara dulu pelan-pelan, masih di sini kita. Musim panas itu adalah musim kesempatan. Ada satu hal yang menonjol dari Almarhum Matius Oey, meninggal pada usia 86 tahun. Walaupun dia sudah sangat lanjut usia, dia masih sempat-sempatnya untuk doa malam, semalam suntuk dengan diikat kepalanya karena dia tidak tahan AC. Kalau dia duduk di gereja dia persis duduk di bawah AC supaya tidak kena. Sangat setia tidak pernah mengeluh, tidak pernah ngomel tidak pernah cerita busuk dari pendeta, tidak pernah seingat saya, tidak pernah kritik dia selalu saja, hanya swing along, ya, jalan saja bersama dengan gembala. Dan patut dia menjadi contoh teladan bagi kita, sangat kehilangan kita. 

Imannya luar biasa dan satu dia punya prinsip dia tidak mau bikin susah orang lain, dia tidak mau bikin susah siapa saja. Kalau bisa dia sendiri kerjakan. Tapi kembali lagi kepada renungan, musim panas musim kesempatan, masih sempat masih bisa ke gereja, sehat ke gereja ... karena ada waktunya kita sakit-sakitan kita tidak bisa ke gereja. Masih sempat cari uang kerja yang rajin, kerja serajin-rajinnya, kumpul uang sebanyak-banyaknya masih sempat masih sehat ... karena ada waktunya kita tidak bisa lagi cari uang. Masih muda buta tulang buta daging bisa kerja hujan-hujanan nggak sakit silahkan kerja ... karena kita ada waktunya kita tidak bisa kerja lagi. 

Maka saya ini saudara, kaki saya dua-duanya udah kayak balok kalau saya mau jujur sama saudara cuma sebetulnya saya nggak mau ngomong, dua-duanya betisnya sudah kaya balok. Cuman selama saya masih bisa jalan, masih mampu ... saya tetap mau memberitakan firman Allah karena anak saya sudah lebih dari seribu. Dari seribu dua ratus anak, tujuh ratus lima puluh sudah jadi gembala sidang. Tinggal dua ratus lima puluh lagi saya puas kalau saya mati.

Perhatikanlah tingkah lakunya semut. Saudara, semut hitam dia akan bergaul sama semut hitam nggak akan sama semut rarangge. Semut merah dia bergaul sama semut merah, semut gula dia bergaulnya sama semut gula. Orang kristen bergaulnya mesti sama orang kristen, bukan sama tukang judi. 

Di Jakarta ada orang bertobat, dibaptis lalu dia ceritera saya dulu GPIB pak ... Gereja Protestan Indonesia Barat. Orang terkenal kedudukannya saudaraku di kapal layar, dia punya kedudukan di Departemen Perhubungan. Kami dulu suka main kartu, judi. Anak Tuhan orang kristen main kartu, sembari judi nyanyi “Dalam Yesus kita bersaudara." Mmm, sampai Tuhan panggil dia bertobat. 

Nah, saya bisa bayangkan kalau ada orang kristen pantekosta lagi banting kartu, domino "Dalam nama Yesus." Jangan ketawa saudara karena ada terjadi, jangan ketawa, saya nggak ngelucon di sini, karena ada terjadi. Maka saya katakan kalau orang kristen bisa betah, kongkow, berjam-jam bahkan berjudi dengan orang non-kristen saya mau tanya: dimana iman saudara? Apa itu bijaksana? Sampai-sampai di telinga saya, itu jemaat om Yoyo bukan? Saya kaget. Udah dibaptis, main kartu, judi, pakai dalam nama Yesus banting kartu. Aduh, tersinggung sekali saya saudara. Orang dunia tidak akan begitu ngenyenya. Ini orang kristen sendiri, pantekosta. 

Perhatikan tingkah laku semut, semut hitam dengan semut hitam. Kalau dia ketemu remeh, dia panggil semut hitam yang lain, dia panggil, gotong remeh ini. Satu dorong, satu tarik satu dari samping ... gotong royong. Perhatikan, mumpung masih kita kuat, ya, mumpung kita masih kuat. Silahkan saudara mau jalan kaki, jalan sehat sama orang, silahkan! Tapi jangan terbawa kelakuan mereka. Lebih baik kalau saudara bisa bawa mereka kepada Tuhan, jempol! Tapi kalau saudara terbawa mereka, ngomong, kelakuan terbawa orang dunia, bukan jempol saudara-saudara, terbalik. Maka kata bijaksana ini dipelajari dari semut, guru  yang paling kecil tapi bijaksana. 

6:7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, 
6:8 ia menyediakan rotinya di musim panas 

Coba saudara! Boleh saya katakan semut ini hideng lain hideungnya! Hideng membawa diri, bisa dia membawa diri, sadar, ya. Bahwa kalau WC itu di embernya itu tidak air, dia isi air, hideng dia. Bahwa kalau tidak ada air, ini orang buang air kecil ini pasti bau, hideng dia, tidak ada yang suruh dia sudah sadar sendiri. Kalau hujan ada payung, dia bawa payung hijau ... pulangnya payung hijau yang dia bawa. Jangan bawa payung butut pulangnya bawa payung yang bagus. Itu bukan hideng, itu buang yang lama ambil bawa yang baru. Tidak ada pemimpin, tidak ada yang hoya-hoya tapi maju. 

Satu pelayan toko kaca mata di Jakarta oom, family camp - dia belum menikah-  family camp kapan? Agustus. Saya sudah mau kumpul uang satu bulan seratus ribu saya mau kumpul. Coba! Hideng, dari gaji dia sisihkan seratus ribu, ya. Jadi kalau satu tahun satu koma dua. Selain dia ikut family camp dia masih punya bekal utuk jajan-jajan kalau apa, keperluan-keperluan mendadak. Hideng udah ngerti, ya, nggak norek, hideng. Jadi saudara inilah, bisa membawa diri bisa menempatkan diri, dia tahu, dia tahu menempatkan dirinya.

6:8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. 

Saudara-saudara, pada waktu panen dia kumpulkan, nggak di makan, dia kumpulkan waktu panen. Dia ajar kita menabung. Alkitab mengajar kita menabung. Dari Kejadian sampai Wahyu mengajar kita menabung. Janganlah jemu berbuat baik karena nanti kita akan menuai kalau kita tidak jemu berbuat baik. Kita akan menuai pada waktunya. Saudara menabur kebaikan nanti saudara akan tuai kebaikan, saudara menabur menolong orang lain nanti saudara di tolong orang. Dan biasanya tuaian lebih banyak daripada taburan. Saudara nabur senyum nanti orang senyum, saudara nabur kebaikan tadi overlook a transgression, mengampuni pelanggaran ... saudara nanti kalau ada salahpun orang nanti ovellook juga, ah sudahlah, kita udah ngerti udah nggak apa-apa, sudahlah yang sudah-sudah. Tapi kalau kita mau jadi jaksa jadi penuntut umum, nanti kitapun akan ketemu orang yang seperti jaksa penuntut umum. Mari kita bijaksana seperti apa dikatakan oleh firman Allah ini. Coba ke depan kepada Mazmur  

90:10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. 
90:11 Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu? 
90:12. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Sekarang Musa yang mengajar kita. Dia bilang, coba ingat umur kita itu peaknya, topnya, peaknya, puncaknya udah paling topnya deh, tujuh puluh tahun. Kalau masih ada kebaikan, sehat, pelihara kesehatan makanan di jaga bisa delapan puluh tahun. Lewat dari itu cuman susah, cuman payah. Apalagi kalau sudah pelupa, waduh. 

Ada satu hamba Tuhan di Bandung saudaraku, nggak sampai tujuh puluh nggak, belum tujuh puluh tapi udah pelupa atau sudah jadi pikun. Waktu doa berkat, ini doa berkat, doa berkat ini, dia nggak khotbah, dia cuman doa berkat “Pulanglah sidang jemaat didalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, haleluyah, amin! Mari kita jalankan korban." Tuh! Ini kejadian betul, saudara. Dikasih tahu sama anaknya: "Papi, sudah tadi korban." "Oh, sudah, oh, sudah. Maaf, saudara, sudah tadi. Mari kita berdiri kita doa berkat." Padahal tadi dia doa berkat. Ini kalau sudah pikun, belum tujuh puluh. 

Ada orang tua tidak mau pakai gigi palsu, ada. Aduh, pakai gigi palsu yang longgar. Ada pendeta itu di Batu, Malang, saya pernah dengar. Saudara-saudara ... pletak-plotok-pletak-pletok - da gigi palsunya longgar. Apa sih kebanggaannya? Cuman sudah tua, sakit-sakitan. Maka kata ayat 12 tadi, Tuhan berilah kepada kami kemauan untuk menghitung hari-hari “Hari-hari ku lalui.” 

Jadi saya belajarnya gini saudara. Hari Sabtu kemarin: Tuhan biarlah hari ini hidup saya berkenan kepada Engkau. Sudah selesai hari sabtu: Terima kasih Tuhan, saya hidup di jaga oleh Engkau, terima kasih. Hari minggu: Tuhan, jaga hidup saya supaya selama dari jam enam pagi sampai jam enam sore, hidup saya berkenan kepada-Mu Tuhan. Nanti jam enam sore: Tuhan, dari jam enam sore sampai jam enam pagi, Tuhan jaga, saya mau istirahat. Tuhan jaga. Hari-hari kita. Karena kita ganti sama minggu “Minggu-minggu ku lalui,” nggak enak rasanya. “Bulan-bulan kulalui,” aduh, nggak enak. “Tahun-tahun ku lalui,” nggak enak.

“Hari-hari ku lalui.” Hitung! Sekarang teh sudah umur berapa kita itu? Saudara-saudara, saya udah umur lima puluh lima udah musti ngerti, udah mesti ngerti ... jangan ngajak balap lari sama anak tujuh belas tahun ayo balap lari seratus meter, he .. he .. rek tarohan ge eleh. Jangan kita mau belajar ngadu tinju sama Mike Tyson mmm, dia batuk aja kita kelenger. 

Jadi saudara-saudaraku, kita nggak bisa, kita mesti tahu kita udah umur berapa? Kalau kita masih gagah, saudara, mau masuk tentara umur delapan belas tahun sembilan belas tahun wah diterima apalagi tinggi, gagah, oh di terima. Mau masuk tentara umur lima puluh lima bagian administrasi, saudara-saudara. 

Jadi saudara, saya ingin kasih tahu kepada saudara kita sudah umur berapa? Nah, ke tujuh puluh itu saya ini tinggal lima belas tahun. Berlalunya buru-buru katanya, cepat sekali; ke delapan puluh kalau panjang umur saya dua puluh lima tahun. Dua puluh lima tahun itu cepat. Sekolah Alkitab saja udah lima belas tahun itu cepat baru ini angkatan pertama saja rasanya baru kemarin, sekarang sudah gembala sidang, sudah punya dua anak, rasanya baru kemarin. Kenapa? Karena dengan menghitung hari-hari kita, kita bisa punya hati bijaksana. Amsal 

23:15 Hai anakku, jika hatimu bijak, hatiku juga bersukacita. 
23:16 Jiwaku bersukaria, kalau bibirmu mengatakan yang jujur. 
23:17. Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. 
23:18 Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. 
23:19. Hai anakku, dengarkanlah, dan jadilah bijak, tujukanlah hatimu ke jalan yang benar. 
23:20 Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging. 
23:21 Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping.  

Bolehkah saudara-saudaraku, kita menjadi anak-anak yang baik. Dikatakan, hai anakku ... oleh sang papa ini, jika hatimu bijak, hatiku juga bersukacita. Jadi caranya menyenangkan hati Tuhan bukan nyanyi “Menyenangkan-Mu, senangkan-Mu.” Saya ini kalau lihat orang nyanyi suka macam-macam saudara karena saya di undang KKR dimacam-macam gereja, udah macam-macam. 

Di Belanda ini kemarin ada yang nyanyi satu pemuda nyanyi di depan. Haleluyah. Orang lain tepuk tangan dia mah begini, saya pikir apa dia supir karena supir suka lihat wiper, saudara-saudaraku, wiper kalau hujan dia tek-tok-tek-tok. Saya tanya dalam khotbah anak orang itu dia ketawa terpingkal-pingkal. Bukan, saya bukan sopir katanya. Tapi kenapa? Ah, pokoknya enak aja kalau nyanyi begini, orang lain kenapa tepuk tangan tapi dia mah begini. 

Dulu ada tukung tupok, penjudi saudara-saudara dekat dari gereja ini bertobat. Waktu tepuk tangan, aduh haleluyah haleluyah haleluyah haleluyah. Untung nggak gini puji Tuhan. Celakalah ada saingannya nanti, puji Tuhan. Saudara-saudaraku, tetapi saya ingin katakan kepada saudara. Anak bapa apa sekarang? Oh, sudah sarjana, anak saya sarjana hukum. Bangga sang papa, ngomongnya juga bangga. Ibu-ibu nanya: Ci, kalau anak enci yang perempuan dimana? Aduh, dia lagi itu satu tahun lagi kedokteran. Dia lagi di Amerika memperdalam, dia sarjana sekarang. Udah, udah selesai. Aduh sukses ya? Sukses, malah dia mah lewat kelas, orang lain mah belum selesai dia mah saking pintarnya dia jadi selesai, aduh pintar. 

Tapi kalau ditanya, anak bapa dimana? Ya. Dimana? Ada disitu rehabilitasi narkoba. Mmm, nangis itu bapa. Saudara ketawa tapi yang punya anak nangis. Karena untuk bikin supaya dia terlepas dari narkoba itu seratus juta. Setelah dia terlepas dengan seratus juta, tidak ada jaminan dia tidak akan kena lagi, nangis orang tua. Saya ketemu teman saya punya motor ... delapan motornya, mobil Mercy ada enam belas, da beunghar punya pabrik tekstil di Bandung. Tapi kenapa ketemunya di Jakarta? Kenapa ada disini dikebaktian saya? Saya lagi ini, lagi rehabilitasi ko Yoyo! Rehabilitasi apa? Narkoba. Suami-istri, sehidup semati ... ikut narkoba. Kalau suaminya nar istrinya koba, kalau istrinya nar suaminya koba. Untung masih tertolong, saudaraku. Bisa begitu, heran. 

Bapa cuman gosok-gosok badan saja hati luka hancur. Maka banyak yang am siong umur pendek karena anak-anak tidak jadi penghiburan tapi jadi jalan ke kuburan. Kenapa? Karena tidak bijak. Maka saya katakan, firman Allah katakan, Paulus katakan: kelakuan yang baik bisa rusak oleh pergaulan yang salah. Biar saudara ke gereja, ke gereja cuma seminggu sekali seminggu dua kali. Ada yang seminggu dua kali sekarang sudah seminggu sekali lagi. Dua jam. Nah, di dunia ketemu ini ketemu sana ketemu sini, ngomongnya udah yang macam-macam, kuat nggak? Maka kita harus bijak. Haleluyah. Amsal 

29:18 Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum. 

Bahasa Inggris, ketika tidak ada visi, ketika tidak ada wahyu maka masyarakat atau rakyat terbuang kesana kemari. Di dalam ayat 11

29:11 Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.

Saudara, sekarang orang kristen pemadam kebakaran itu sangat sedikit ya, orang kristen pemadam api itu sedikit. Ada orang ngambek semprot, ssstt pareum. Nah, pemadam api kita juga ada di bawah gereja, belakang juga ada di sumbang sama saudara Herman. Kalau ada kebakaran di belakang ada tuh, ngegantung aja di tembok, kalau ada api ambil, ssttt semprot. 

Nah, orang kristen pemadam api sekarang ini kurang, jarang kelihatan, yang ada tukang ngompor, tukang ngageber, tukang panggang jagung ... paling loba. Aduh, saya teh panas, nih ada satu ibu marah, saya teh panas, aduh kesal kamaneh na teh kesal. Oh, kitu nya? He-euh, memang manehna kitu. Tukang kompor, ngageubeur. 

Mustinya kita jadi tukang pemadam kebakaran. Begitu ada orang ngomong, aduh urang mah kesal ... ssst tong kesal-kesal tenang, geus tong kesal-kesal. Nggak ada sekarang yang gitu. Jarang, bukan nggak ada. Kebanyakan apa? Kesal mah, teruskan atuh teruskan lah. Soklah-soklah ... manehna make pengacara, urang ge make pengacara we. Mestinyakan kan di kalemin ... udah.

Saudara, saya ingin jemaat kita di Cianjur jadi pemadam kebakaran. Kalau ada yang marah kalau ada yang ngamuk bikin tenang, kalau ada api siram sama air jangan sama bensin. Siram sama air. Nanti kalau kita kapan-kapan sedang marah ada orang juga siram dengan air, ada orang bikin tenang kita ya. Apalagi hidup suami-istri aduh...hati-hati saudara, hati-hati kita harus memakai kebijaksanaan. I Petrus

3:7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.

Kalau ada pemuda-pemuda di sini bilang ah ini firman bukan untuk saya, saya belum kawin - kan nanti mau kawin. Apa memang kamu nggak mau kawin, mau jadi rasul Paulus. Kalau kamu mau kawin, dengar ini firman Tuhan “Hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu.” Memang ada istri yang rambutnya panjang tapi pikirannya pendek; dia lihat cuman yang di depan mata, ngomong nggak dipikir. Ada yang begini. Ada istri yang suka bikin sebal sama suami ... ada, ada istri yang memang aduh, tahi lalat nya sampai tujuh di bibir ... ada, tapi itu tidak jangan sampai membuat kita suami-suami membuat kita kasar sama istri, kasar. Jangan. 

Kalau saudara marah tidak tertahan lebih baik tinggalin dulu rumah, sampai tenang sampai adem makan cing cau hitam - adem terus ceceuh di pancoran kepala saudara-saudara ya, sampai tenang sampai sudah teurab, baru kembali lagi ke kamar ke rumah ... kalau sudah tidak tahan, ya. Memang istri kadang-kadang saudara-saudara suka mawa kareup sendiri. Nggak semua, tetapi hati-hati, sekali kita kasar sama istri doa kita mentok saudara, sampai genteng dia balik lagi. Haleluyah ... mentok balik lagi, karena kita kasar sama istri. 

Kita selingkuh, kalau suami selingkuh sama istri, sembahyang bagaimana mau nonggeng sampai menyan-menyon biar kepala kita di jeduk-jedukin sampai kaya ikan lohan: Tuhan tolong saya, Tuhan tolong saya. Kalau kita tidak setia sama istri, kalau kita tidak baik-baik sama istri. Habis saya khotbah ini jangan istri pulang: Dengar nggak? Disitu dengar nggak? 

Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana. Kalau saya suami ini bijaksana, kebanyakan suami bijak sini, kumaha urang. Bijaksini itu. Mesti bijaksana. Ingat saudara, kalau kita bijaksana ya, begini. Laki-laki itu meninggal duluan. Kenapa meninggal duluan, memang Alkitab sudah bilang. Alkitab ada ayat, doakanlah janda-janda. Saudara boleh cari, nggak ada ayat: doakanlah duda-duda - nggak ada. Walaupun ada duda yang istrinya meninggal dulu ada tapi tidak ada ayatnya, ingatlah duda-duda, tidak ada. Ingatlah janda-janda. Kenapa? Sistimnya suami itu meninggal lebih dulu. 

Nah, supaya suami ini tidak terlalu pendek umurnya, ada dua cara. Satu, suami hidup bijaksana, tidak mengasari istri, sayang sama istri. Karena dia sayang sama istri, istrinya kan akan sembahyang: Tuhan, betapa suamiku ini mengasihi saya, sayang kepada saya. Saya tidak bisa bayangkan kalau saya tidur malam tidak ada dia, Tuhan berilah panjang umur kepadanya. Saya sudah ngomong pada istri saya, ingat, aku berangkat duluan lho, hati-hati berangkat duluan nih, siap untuk menggantikan saya di Cianjur. Kalau MD tentukan ibu Awondatu meneruskan pengembalaan, kamu siap. Saya nggak siap, saya nggak siap. Memang kalau masih ada suami nggak siap, kalau suaminya sudah meninggal biasanya suka siap. Kembali kepada firman.

Kita harus bijaksana dan ada doa dari istri. Kalau kita sayang sama istri, baik sama istri, dia bisa lihat dia punya kesalahan, ya sudah. Kalau dia tidak punya bisa lihat dia punya kesalahan, kita tunggu dulu sampai nanti dia bisa lihat kekeliruannya, dia bisa tenang, bisa tahu ... nanti berdoa: Tuhan, walaupun di dalam Alkitab laki-laki meninggal lebih dulu, Tuhan panjangkanlah umur suami saya, supaya bedanya nggak terlalu jauh. 

Coba, papa saya umur lima puluh dua tahun meninggal, ibu saya delapan puluh tiga, jauh benar. Tiga puluh satu tahun baru meninggal. Bapak Matius Oey meninggal dulu delapan puluh enam, Yusuf Maria Yusuf meninggal dulu. Jangan-jangan nanti pulang ibu-ibu bilang, tah nya tong kaluar peuting wae, inget tah khotbah si ko Yoyo tah, ni teh pondok umurna, kade. Doakan supaya panjang, amin saudara-saudara? Jaga makanan, kalau makan sate jangan sama tusukannya, saudaraku, supaya kita panjang umur kita. Pasti Tuhan akan dengar. Saudara belajar bijaksana? Saudara mau belajar bijaksana? Kalau saudara-saudara mau belajar bijaksana semua firman Tuhan ini akan menjadi bagian saudara. Orang yang bijaksana, kemuliaannya mengampuni pelanggaran. Kita berdiri bersama-sama. 

-- o --   

Minggu sore, 27 Juli 2003

HATI

Amsal 

4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Saya salin dalam bahasa Inggris: Jagalah, peliharalah hatimu dengan segala kerajinan karena dari situlah terpancar urusan-urusan kehidupan - issues of life, urusan-urusan kehidupan. 

Kita sering jaga darah tinggi kita, kita kontrol gula darah kita, kita jaga tekanan darah, kita jaga denyut jantung kita, kita jaga makanan kita, kita jaga minuman kita supaya kita panjang umur, bahkan kita jaga rumah kita, kita bangun tembok yang tinggi di atasnya kita taruh pagar berduri kawat berduri, ada yang lebih kaya lagi memakai sensor, memakai close circuit TV, menjaga rumah. Kita jaga kekayaan, kita taruh uang di bank. Kita tidak percaya bank kita taruh uang di berbagai bank, kita jaga kekayaan, kita jaga anak kita, kita jaga harta milik kita, kita jaga rumah kita, kita jaga kesehatan tubuh tapi sayang kita tidak jaga hati kita. 

Firman Allah katakan: Jaga! Firman Allah katakan, pelihara! Peliharalah hatimu dengan segala kewaspadaan. Bahasa Indonesia lama, jagalah hatimu terlebih dari segala apa yang patut di jaga. Dalam Amsal 4 tadi ayat 23, peliharakanlah hatimu terlebih daripada segala yang patut dipeliharakan karena dari dalamnya terpancarlah segala macam mata air hidup. Bahasa Inggis, terpancarlah urusan-urusan kehidupan. 

Ternyata urusan kekayaan ... dari hati, urusan kasih sayang ... dari hati, urusan kekeluargaan ... itu dari hati, urusan bisnis ... itu dari hati, urusan pergaulan ... itu dari hati. Minggu yang lalu saya ceritera ada orang kristen di Jakarta yang berjudi dengan memakai kartu sambil menyanyi Dalam Yesus kita bersaudara. Saya dengar di Cianjur juga ada yang main kartu, banting kartu dan berkata 'Dalam nama Yesus!' Saya mau kasih tahu orang itu tidak jaga hatinya, tidak jaga hatinya; dia punya hati diijinkan ... mengijinkan hatinya dipermainkan oleh kuasa iblis. Jaga hati! Jaga hati, hati ini harus jaga. Nah, kita lihat lebih dahulu Mazmur

34:19 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.  

Saya ingin baca dalam bahasa Inggris, 'Tuhan itu dekat kepada orang yang mempunyai hati yang pecah', a broken heart, hati yang patah, haleluyah! Kadang-kadang kalau ada orang susah, hatinya pecah, hatinya susah ... kita nggak mau tahu, kita nggak mau open. Dia lagi susah urusan dia, itu bukan urusan kita. Tapi Tuhan kita lain, Tuhan kita justru memperhatikan orang yang hatinya lagi susah, hatinya lagi patah. Saudara bertanya mungkin, kita kasih apa ya sama Tuhan, supaya Tuhan itu senang? Kita kasih uang, kita kasih emas atau kita kasih kue, kita kasih makanan ya, apa kita kasih buah? Kita kasih makanan, kita sembahyang, kita angkat hio supaya senangTuhan? Tidak! Mazmur 

51:18 Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan ~ Makanan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. 
51:19 Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. 

Siapa di antara saudara pada sore hari ini mempunyai hati yang patah, hati yang remuk oleh sikon, oleh seseorang, oleh sesuatu, oleh kondisi di sekitar kita, hati kita remuk hati kita patah, hati kita pecah, ingat ... Tuhan memperhatikan hati kita! Itu sebabnya Salomo berkata, pelihara hati, jaga hati. Dengar baik-baik. Saya, lebih baik saya ditipu daripada saya menipu. Nggak ada yang bilang haleluyah? Kalau kita nggak mau di tipu, jangan nipu orang. Tapi kalau di bandingkan antara menipu dan ditipu, saya lebih senang ditipu daripada saya menipu orang. Karena waktu saya ditipu orang, hati saya masih bisa jaga baik ini hati. Tapi kalau saya menipu orang itu artinya hati saya sudah tidak baik, peliharalah hati. Di dalam II Korintus

13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 
13:6 Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. 

Saya yakin yang suruh diselidiki bukanlah usus. Selidikilah dirimu sendiri maksudnya usus kita di selidiki, tidak! Isi perut kita di selidiki, tidak! Yang di maksud oleh firman Allah tentang selidikilah dirimu sendiri, saya yakin adalah isi hati kita. Selidik, ini perintah firman Allah! Kita dulu yang meriksa, apa dalam hati kita ini ada sesuatu hal yang salah, ada sesuatu yang keliru, ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, selidik hati kita! Apa saya ini tidak tahan uji? Apa saya orang cepat tersinggung? Apa saya ini orang lemah iman? Apa saya ini cengeng? Apa saya ini orang yang mabuk pujian? Dan sebagainya. Selidik hati kita, selidik diri kita! Apa kita tahan uji apa tidak? Tetapi, selain kita yang menyelidik hati, dalam Mazmur
 

139:23 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; 
139:24 lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

Saudara bisa bilang amin? Selidikilah aku, ya Allah dan kenallah hatiku. Bahasa inggris, know my heart, kenalilah hati saya Tuhan. 2 Korintus 13, kita, saya menyelidik hati saya, saudara menyelidik hati saudara. Mazmur 139, Tuhan, coba tolong periksa. Sama seperti kita tiap enam bulan kita check up, tambah umur kita mesti check up, siapa tahu kita nggak tahu kerja-kerja-kerja darah kita udah tinggi, check up, wah dokter bilang ini darahnya tinggi, ya sudah.

Saudara kasih pelajaran sisipan di tengah-tengah khotbah ini, saya kasih pelajaran. Kenapa orang kristen melarang makan darah? Karena nyawa ada di dalam darah. Kalau orang nggak ketahuan ini orang sakit apa, panasnya nggak turun-turun, sudah dikasih obat nggak turun-turun, sudah dijeksi nggak turun-turun, dokter akan ambil darah. Ketika darah itu diselidik ketahuan ... apakah ada hepatitis, hepatitis ada A, ada B, ada C ... apakah ada sakit yang lain, apakah ada kanker, apakah ada gula, apakah ada ... semua macam penyakit? Itu kelihatan di dalam darah. Maka kita, melarang kita tidak boleh makan darah. Yang boleh kita makan darah hanya darah Yesus, tapi lain dari itu darah binatang kita tidak boleh makan karena ada nyawa, ada hidup didalam darah. Itu pelajaran sisipan.

Tetapi kita kembali ke sini, selidikilah akan aku ya Allah, ayat 23 perhatikan, “kenallah hatiku”. Tetapi ayat berikutnya, saya minta perhatian saudara “ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.” Bahasa Inggris bukan pikiran-pikiranku tetapi my anxieties, kekuatiran-kekuatiranku. Tuhan mau tahu apa kekuatiran-kekuatiran saudara. Ada jemaat yang suka ngomong, ah, masa soal begini aja kasih tahu sama Tuhan, Tuhan mah cuman mesti kasih tahunya soal-soal yang gede, soal-soal yang berat ... masa sih soal-soal kecil, soal-soal tetek-bengek mau kasih tahu sama Tuhan, tidak! Tuhan mau mengetahui pikiran-pikiran kita, kekuatiran-kekuatiran kita. 

Saudara, maka Tuhan Yesus bilang ada kita sudah bikin lagu 'Jangan kamu kuatir', kenapa? Karena Tuhan tahu kita kuatir. Maka Dia kasih larangan “jangan kamu kuatir.” Salah satunya jangan kuatir akan hal besok. Besok tuh saya hidup bagaimana? Dengan siapa saya hidup? Yang belum menikah, saya akan menikah dengan siapa? Dimana saya akan menikah? Kalau sudah menikah, saya kerja apa, bisnis saya apa ya? Itukan kekuatiran-kekuatiran kita. Saya kan pernah begitu waktu saya masih muda, tapi Tuhan tahu kekuatiran-kekuatiran kita. 

Maka Tuhan larang, jangan pikir dari hal besok, besok ada soalnya sendiri. Jangan takut. Tuhan menguasai hari esok, besok lusa Dia kuasai, kita nggak usah takut. Nah, salah satunya yaitu dengan minta Tuhan menyelidiki hati kita dan mengetahui kekuatiran-kekuatiran kita. Saya sudah serahkan sama Tuhan, Tuhan siapa yang ganti saya nanti di sini kalau saya mati, saya sudah serahkan sama Tuhan. Itu ternyata bukan urusan saya karena ini pekerjaan Tuhan punya, berarti Tuhan sudah tahu siapa yang akan gantikan saya. Saya juga sudah serahkan siapa nanti gantiin saya kalau saya mati, siapa yang akan jadi direktur sekolah Alkitab ... Tuhan maha tahu. 

Ya, bagaimana Tuhan ini jemaat saya teh, aduh, maunya sama ko Yoyo, segala-gala mau sama ko Yoyo, ya. Di Jakarta pengen sama ko Yoyo, di mana hayang ko Yoyo, semuanya ko Yoyo. Bagaimana kalau ko Yoyo nya ko’it? Kita punya Tuhan Yesus yang mengetahui pikiran-pikiran kita, yang mengetahui kekuatiran-kekuatiran kita. Mungkin saudara akan mulai berdoa sekarang: Tuhan, kasihlah ko Yoyo panjang umur, kasihlah panjang umur “panjang umur - panjang umur.” Saya baru di cabut gigi paling belakang, dokter giginya saya baptis dulu waktu belum jadi dokter gigi. Sekarang udah jadi dokter gigi, nyuntik nggak terasa, nyabut nggak kerasa, syaraf dicabut sekarang nggak kerasa, hebat sekarang. Dia bilang, ini oom, ini gigi sebetulnya nggak ada, nggak boleh ada. Ya, tapi nggak tahu bagaimana barangkali oom, jadi tiba-tiba di belakang masih ada tumbuh satu lagi. Sebetulnya gigi udah dua puluh enam cukup sudah, ini ada yang ke dua puluh tujuhnya. Yang itu, saya gila lihat gigi itu saudara, gigi itu bisa berbulu, ada brewokannya. Ternyata bukan Onesimus aja yang brewok, gigi saya juga brewok, ada bulunya. Udah, jangan dipegang-pegang, katanya, jangan, udah lupakan saja.

Tuhan tahu pikiran-pikiran kita. Nah, tetapi saya kembali kepada firman Allah yang pertama, peliharalah hati kita lebih dari segala sesuatu yang patut di pelihara. Mari kita mulai satu per satu, pelan-pelan mulai dari kitab Kejadian

4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." 
4:2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 
4:3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 
4:4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 
4:5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. 
4:6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 
4:7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." 

Baru di tegur dalam ayat ke-7, ayat ke-8 Kain membunuh adinya, Habel. Mari kita menyelidiki dengan hati yang terbuka. Kain ini koko, Habel ini adik. Habel mempersembahkan domba ... korban, Kain mempersembahkan buah-buahan ... hasil tanah panen. Di persembahkan kepada Tuhan, artinya dua-dua ini mengenal Tuhan. Koko mengenal Tuhan, Habel mengenal Tuhan. Tapi, nggak tahu kenapa Tuhan senang kepada korbannya dari Habel yang membawa korban domba itu. Korbannya Kain tidak diindahkan-Nya, tidak di terima-Nya. 

Ibu saya dulu waktu sekolah minggu cerita, korbannya dari Habel itu lurus katanya, asapnya keatas berarti diterima sama Tuhan, lagi ceritera sekolah minggu. Korbannya dari Kain ini nggak tahu kebawa angin asapnya nggak lurus, seperti nggak diterima sama Tuhan. Nah, itu masuk di pikiran saya. Kalau saya jadi Kain, kalau saya punya korban kok nggak di terima ... cari tahu dong, kenapa ya, saya nggak di terima, bukan? Kalau kita masukkan anak sekolah, anak orang lain di terima, anak kita nggak di terima, cari tahu dong ... kenapa ya nggak di terima? Apa kurang NEM-nya, apa kurang ininya, apa sudah penuh, kenapa? Apa kurang ngajar mungkin murid, anak saya sama gurunya, kenapa ya nggak di terima? Cari tahu! Supaya ini kita bisa masuk di sekolah favorit, cari tahu kan! Bukan menempeleng anak yang di terima. Masa.

Tapi ini yang terjadi dengan Kain. Adiknya punya persembahan diterima, dia punya tidak di terima. Hati Kain ... ayatnya yang ke-5, menjadi sangat panas dan mukanya muram. Bahasa Inggris, wajahnya itu jatuh. Saya belajar melukis juga dari ibu saya. Mama saya itu hampir di bawa ke Cung Kuo dulu, tapi dia jatuh disepeda, patah tangannya ... jadi nggak jadi. Dia ngajar dulu. 

Untuk membuat orang tersenyum garisnya ke atas mulutnya diginiin, ini hidung ini tersenyum ke atas, tersenyum itu gambar. Untuk membuat orang muram, bikin jatuh itu garis ... melengkungnya ke bawah - cemberut. Jadi mungkin itu yang di katakan oleh firman Allah, wajahnya jatuh ... cemberut. Maka kalau saudara ke salon kecantikan, saya lihatin saudara-saudaraku ya, kalau di salon kecantikan, ditemplengin ke atas, nggak marah yang ditempelengin malah kamsia lagi, dibayar lagi yang nempelenginnya. Nempelenginya ke atas tariknya ke atas supaya garis-garisnya itu nggak turun, ke atas di tempelengin plek-plek-plek-plek. Reuseup di situ mah ditempeleng nya juga berasa, katanya. Kenapa? Garisnya naik, garisnya supaya naik, supaya garis-garis kerut muka ini nggak cepat turun, nggak seperti buldog terus ke atas ya, supaya naik ke atas. 

Nah, ... wajahnya itu cahaya mulai meredup turun. Maka kalau hati kita panas, hati kita marah ... nggak bisa wajah kita jadi bagus, manis, enak di pandang, nggak bisa! Nggak bisa orang yang hati panas lalu mukanya itu ketawa padahal panas, susah. Orangnya panas hati, aduh bari seuri, urang teh panas euy ka manehna, nggak bisa, nggak bisa saudara-saudara nggak bisa. Kalau hati panas, wajahnya fell down, dia mulai cemberut dia mulai marah dan di tegur sama Tuhan. Teguran Tuhan itu harus kita perhatikan. Firman Tuhan: Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu. Bahasa Inggris, dosa terbaring, tergeletak di depan pintu dan dia akan sangat menjadi penghalang. Disana di katakan, ia sangat menggoda engkau. Tapi di katakan dalam bahasa Inggris, dia akan menjadi panghalang, ya, dia akan menjadi panghalang. 

Wah, sesuatu yang, saudara mau buka pintu keluar pintu, disitu ada karung tergeletak menghalangi. Saudara mesti mau buka pintu, pintunya nggak bisa di buka ... ada karung di situ menghalangi. Angkat dulu kan karungnya baru pintu bisa di buka. Nah, kalau itu pintu rejeki, kalau hati kita panas ... dosa menghalangi di depan pintu rejeki, geserin dulu itu panas hati, geserin dulu itu karung kebencian, baru pintu rezeki bisa di buka. Pintu berkat, pintu sukacita, pintu keuangan - apa saja kalau ada dosa yang berbaring di depan pintu, itu pintu nggak bisa di buka.

Sebetulnya Tuhan ingin membuka pintu itu berkat untuk saudara. Maleakhi 3:10, bawalah perpuluhan maka engkau akan melihat jendela-jendela surga akan di buka, engkau akan mempunyai berkat yang tidak sempat engkau pegang. Tetapi bagaimana jendela akan bisa di buka kalau di depan jendela ada yang menghalangi, di depan pintu ada yang menghalangi, tergeletak. Apa yang tergeletak? Kebencian, tidak senang, dendam. Bahasa Sundanya, nyeuri hate, raheut, nyeuri hate. Saudara ... disini kan banyak apotik. Di cianjur sekarang apotik banyak, karena untung sekali buka apotik itu, karena apa? Karena manusia sakit terus kan. Jadi kalau buka apotik pasti laku dan buka rumah makan pasti laku karena orang makan teruskan. Apotik saudara cari, ada obat untuk sakit hati? Coba cari, nggak ada. Maka katanya firman tadi, Salomo berkata: pelihara ya hatimu, pelihara kondisinya; jangan sampai ada hati panas, jangan sampai ada kepahitan. Amsal

15:13 Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. 

Jadi hati bisa patah, semangat bisa patah kalau hati pedih. Hati yang gembira membuat muka berseri-seri.

Ayat 15, Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.

Ada haleluya saudara? Kalau hati kita selalu bergembira ... dijaga, menjaga hati kita dengan firman Allah. Memang kita nggak bisa jaga sendiri ... jaga dengan sabda Tuhan - kita akan selalu berpesta. Jarang saya lihat orang ke pesta cemberut kecuali sakit gigi. Tadi ada penganten di Jakarta, uih, semuanya pakai baju, pakai jubah sampe pengantennya ketawa, tersenyum karena pesta. Betapa harus kita jaga ini hati. 

Saya udah tahu kalau saya di bawah tabe-tabe itu ngetes saya. Jemaat yang hatinya sukacita tabe-nya juga senang, ser-ser ketawanya. Ada yang ... wah, baru di suntik dia, disuntik nggak tahu suntik apa dia sakit kali, sakit gigi barang kali. Kelihatan hati yang bersuka dan hati yang pedih berat beban itu kelihatan. Bila hati kita susah - pertama kan susah itu hati  Penuh dengan beban b'rat ... Jangan takut dan jangan bimbang ... Ada Yesus menolong. Cuman Yesus yang bisa rubah kondisi hati kita. Nah, saudara-saudara saya ingin mengajak kepada satu ayat di belakang sekali, 1 Yohanes

3:17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

Saya mau berhenti dulu. Saya bukan mau bicara tentang ....... bahwa hati kita bisa di tutup. Kita ini bisa menutup hati. Kita tabur kesabaran, kita tabur hati yang baik, kita tabur ketenangan, kita tabur nasehat. Coba saudara nabur sama papa, sama mama baik, anak-anak muda!

Saya udah lihat kok, saya cukup lama hidup, 55 tahun kan cukup lama ... melihat anak yang kurang ajar sama papa kurang ajar sama mama, ngelawan. Wahyu 3:20 ada ayat berbunyi gini: “tengoklah Aku berdiri di muka pintu sambil mengetuk," kata Yesus, "barang siapa yang mendengar dan membukakan Aku pintu Aku akan masuk dan makan dengan dia dan dia dengan Aku.” Itu maksudnya bukan Yesus ketok pintu rumah kita di rumah, tidak. Yang maksudnya Dia ketok pintu - hati kita! Kenapa di ketok? Karena hatinya lagi tertutup. Tengoklah, kataNya, Aku berdiri di muka pintu sambil mengetuk. Yesus mau masuk. Kan ada nyanyian: Mari masuk, mari masuk ... Masuk hatiku, ya Yesus ... Datang sekarang Datang tinggal ... Dalam hatiku, ya Yesus.

Dulu di Cibadak ada satu tante dua-duanya sekarang udah meninggal, namanya tante Sek. Tante Sek ini berpacaran, berpacarannya sama yang namanya Yan Awondatu. Yan Awondatu itu papa saya. Yang bawa suratnya dari papa saya kepada tante Sek itu mama saya. Jadi mama saya ini tukang bawa surat sama tante Sek di tungguin balasannya, masih muda. Tante Sek tulis surat balasan. Karena mungkin lagi cinta papa saya tulis surat, mama saya bawa lagi. Orang sunda bilang panglayar jadi panglayur. Nakal ini ibu saya, setiap surat dia buka. Mama saya cerita sama saya di buka tutup lagi.

Nggak tahu bagaimana ceriteranya jadinya sama mama saya ini papa saya. Mungkin kalau papa saya kawin sama tante Sek saya nggak ada di sini karena saya akan turun melalui ayah saya dengan ibu saya. Nah, tante Sek ini patah hati, patah hati sampai dia meninggal dia nggak kawin lagi, tutup hatinya. Orang lelaki hai man - hai man ... sudah tutup, karena dia cinta sama papa saya. Tapi dia nggak benci. Waktu saya ke Surabaya dia di Ishak Leo, aduh Iyo ... dia panggil saya Iyo, sudah besar, ya. Nggak pernah dia tanya papa kumaha, nggak. Mama kumaha? Yang dia tanya ibu saya. Wah, dia jadi penginjil, dia jadi guru, puasa - doa - puasa - doa sampai dia di panggil Tuhan dia meninggal. Dia kalau tulis surat sama saya kasih nasehat jadi penginjil dan sebagainya, begitu ceritanya. Hati itu bisa di tutup. 

Nah, kalau Yesus ketok pintu, Yesus itu bukan orang Ambon, saudara. Kalau orang Ambon: Buka pintu buka pintu beta mau, mau-mau masuk kee. Yesus mah nggak genit begitu, saudara. Dia mah ketok pintu, tengoklah Aku berdiri di muka pintu sambil mengetuk, siapa yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk dan makan dengan dia dan dia dengan Aku. Maukah pada sore hari ini saudara buka pintu untuk Yesus, kenapa? Karena kalau Yesus di dalam hati, Dia ikut menjaga hati kita, amin saudara-saudara? Kalau ada Yesus dalam hati kita nggak mungkin ada muram, nggak mungkin ada benci, nggak mungkin ada kecewa, nggak mungkin ada kepahitan, nggak mungkin ada dendam, nggak mungkin ... karena ada Yesus raja damai. 

Maka sebelum kita makan perjamuan kudus, sebelum kita terima berkat Tuhan - tubuh dan darah Yesus, coba jaga hati kita, periksa hati kita. Aduh, Tuhan, coba lihat hati saya kalau ada jalan yang serong, kalau ada jalan yang keliru Tuhan betulkan supaya saya ikut Tuhan dengan lurus kembali dan kenalilah kekuatiran-kekuatiranku, jagalah urusan-urusan hidup saya Tuhan, jaga ... Tuhan sendiri berkata “ujilah dirimu ya, jaga dirimu jangan sampai kamu tidak tahan uji, uji dirimu.” Dan saya mau jaga Tuhan malam hari ini saya mau perjamuan kudus, Tuhan jaga hati saya, saya mau dapat berkat. Dan kalau saudara mau dapat berkat malam hari ini, jaga hati saudara. Hati bisa di tutup, hati bisa di buka. Boleh saya kasih satu ayat lagi saja, boleh? Yesaya 

57:15 Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.

Dua kali disebut rendah hati, satu kali di sebut hati yang remuk. Banyak hal bisa menghancurkan hati kita, banyak hal bisa bikin hati kita kecewa, tapi kalau ada Tuhan ... tadi tidak kebetulan yang nyanyi Raja hatiku. Kalau Yesus jadi Raja hati kita, apapun bisa terjadi ... tapi kita mau kondisi hati kita ini tetap baik. Kan kita nggak terus hidup di dunia toh? Kalau kita nanti meninggal, kita meninggal dengan hati yang jernih, hati yang lurus.

-- o --   

Minggu, 03 Agustus 2003

SALIB

Kita akan buka alkitab kita didalam injil Lukas 10, dan kita akan membaca satu dua ayat 

10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 
10:26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" 
10:27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 
10:28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 

Ada seorang ahli Taurat mau mencobai Yesus. Kalau ahli Taurat sekarang itu kaya doktor teologi, ahli teolog. Dia datang sama Yesus, apa yang wajib aku perbuat supaya mendapat hidup yang kekal? 

Tuhan berkata dua hukum, yaitu kasihilah Tuhan dengan segenap hati segenap jiwa segenap kuat segenap akal budi, dan mengasihi sesama. Jadi kalau ini garis yang pertama, mengasihi Tuhan, garis yang kedua mengasihi sesama. Kita memiliki tanda salib (+). Kalau kita cuma punya mengasihi Tuhan saja (I), dia hanya satu tunggul, satu angka satu, yang tidak artinya apa-apa. Tapai kalau saudara mempunyai kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama, saudara mempunya salib atau lambang plus, tambah. Saya balik sekarang, saudara bisa cinta sesama tapi nggak cinta sama Tuhan - saudara minus (-), min ... nggak ada apa-apanya. Jadi kita harus diminta sama Tuhan mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. 

Nampaknya bagi kita lebih gampang kita mengasihi Tuhan sebab Tuhan mah nggak kelihatan. Kita bikin nyanyian mengasihi Tuhan. Kita bikin lagu 'menyenangkanmu.' Lebih gampang kita mengasihi Tuhan daripada kita mengasihi sesama. Sedangkan lambang kekristenan itu salib (+) -  mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Tapi dalam prakteknya kita seringkali cuma mengasihi Tuhan, kita tidak mengasihi sesama.

Di dalam Lukas 7, ada satu cerita yang akan membuktikan cerita ini.    

7:36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 
7:37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 
7:38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 
7:39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." 
7:40 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru." 
7:41 "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 
7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" 
7:43 Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." 
7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 
7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 
7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 
7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." 
7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." 
7:49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" 
7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

Satu kali ada seorang Farisi, ahli Taurat, ahli agama, ahli kitab .. mengundang Yesus makan. Saya rasa semua kita bisa terima kalau Yesus yang diundang. Saudara akan siapkan makanan dan masakan yang hebat karena saudara mau mengundang Yesus, bukan? Yesus diundang, tidak ada yang protes. Saya juga mau undang Yesus, kakak juga mau adik juga mau .. semua mau undang Yesus. Tapi bersamaan Yesus yang diundang datang, ada tamu yang tidak diundang. 

Nah, injil Lukas saudaraku, adalah injil yang suka membandingkan cerita, tidak ada diinjil yang lain. Saya kasih contoh. Lazarus dan orang kaya. Orang kaya dan Lazarus yang miskin, dibandingkan. Orang Farisi dan pemungut cukai, dibandingkan. Hakim yang lalim dengan janda yang miskin, dibandingkan. Nah sekarang, Yesus yang mulia yang tidak ada dosa, yang tidak ada salah, yang mulia Juruselamat dunia, dibandingkan digabung dengan perempuan berdosa. Ada didalam satu pesta. 

Saya tadi bilang kalau kita mengundang Yesus nggak ada keberatan, nggak ada yang protes. Yesus mah penuh kasih penuh sayang, yang sakit saja sembuh, yang buta saja melek, yang timpang aja berjalan, 5 roti 2 ikan mengenyangkan 5.000 orang - nggak ada yang protes. Yesus mah afdol .. puji Tuhan, senang kita undang Yesus. Tapi inilah yang saya katakan tadi: mengasihi Tuhan mah gampang, mengundang Yesus gampang, tapi mengasihi sesama ini yang susah.     

Datang perempuan yang berdosa, dikenal di kota itu sebagai perempuan yang berdosa. Kalau saudara baca perempuan berdosa ini adalah bahasa yang halus; kalau saya pakai bahasa yang lama disebut perempuan sundal, pelacur.  Saya mohon saudara-saudara kembali kepada pemikiran yang mula dari kristen. Agama kristen itu bukan agama eksklusif tapi agama kristen adalah agama inklusif, yang merangkul orang-orang marhaen, orang-orang dosa, orang-orang busuk diterima diampuni supaya mereka tidak busuk lagi, ada haleluyah saudara?   

Yesus berkata, orang sehat tidak perlu tabib. Aku datang bukan untuk mencari orang benar, orang benar tidak perlu Aku. Maka kalau orang yang merasa dirinya benar .. nggak berdosa, dia nggak akan jadi kristen, karena dia rasa benar. Saya mah nggak perlu Yesus, saya mah benar kok. Dia nggak akan perlu Tuhan. Tapi karena kita merasa kita orang berdosa, kita ini sakit - kita perlu Yesus. Ada haleluyah, saudara? Aku datang untuk menyelamatkan orang berdosa. Nah, termasuklah ini perempuan yang tidak diundang, dikatakan dalam ayatnya ke 38: Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya

Tadi ayat ini berkata Yesus duduk makan. Kalau Yesus makan, duduknya bukan seperti saudara duduk digereja. Saudara lihat di gambar ini, inilah yang paling tepat, perjamuan kudus apapun juga duduknya seperti ini. Ini yang membelakangi saudara ini paling tepat. Jadi tangan itu ditaruh disini. Nanti makanan ditaruh didepan dia, kaki ngelonjor sampai diujung dipan sampai kesini dibawah. Sebab nggak boleh keatas kotor. Begitulah orang kalau makan jaman dulu. 

Nah, sekarang perempuan itu datang, dia berdiri keliling muter dibelakang kaki Yesus. Jadi kalau Yesus ngadap kesana, Dia lagi makan begini, itu perempuan dengan nangis, dia puter dibelakang kaki Yesus, dia menangis di kaki Yesus, lalu mencuci kaki Yesus dengan air matanya, menciumi kaki Yesus, lalu dilap kaki Yesus ini dengan rambutnya dikasih minyak wangi. Sementara lagi kejadian begitu, Simon yang punya pesta nggak bisa protes. Tapi dia kesal, kenapa ya Yesus biarkan ini perempuan begitu? Kalau dia nabi kan dia tahu nih cewe seperti apa. Ini cewe ini kotor ini, najis, ini kan pelacur. Itu mungkin didalam hatinya. Kelakuannya busuk, masa Yesus nggak tahu. Yesus bisa baca dia punya omongan. Ini yang saya katakan tadi. Kita mah gampang cinta Tuhan. Cinta orang jatuh, cinta orang berdosa, cinta orang yang salah supaya saleh, cinta orang keliru. Maaf saudara, kita - kalau saya bilang kita termasuk saya - kita sering jadi Simon. Oh, rumah kita terbuka untuk Yesus ... Mari masuk .. Mari masuk, tapi hati kita tertutup untuk orang-orang yang berdosa.       

Saya sudah minta ampun sama Tuhan, kalau sudah pernah berbuat begini. Hati kita tertutup. Kita menjadi "orang" beragama; saking beragamanya, kita sudah jadi suci hama - anggap orang lain itu terkutuk semua, kita nggak mau bergaul. Pakai bahasa pun mungkin bahasa yang orang dunia aja nggak pakai, kita pakai bahasa itu. Kan tadi saya katakan mencintai Tuhan mah gampang, cinta sesama yang susah.  

Saya sembahyang, saya tadi malam sudah sembahyang. Tuhan, jangan sampai saya teh mengasihi orang hanya karena benda, hanya karena orang itu suka memberi, hanya karena orang itu menyenangkan, hanya karena orang itu suka bisa tidak bikin sulit. Tapi Tuhan ajarkan saya seperti Engkau.    

Perhatikan nggak, ini perempuan nangis dikaki Yesus. Yesus nggak narik kakinya: Eh, jangan .. jangan. Nah, karena Simon ngomong begitu dalam hatinya, dipanggil sama Yesus: Simon, Aku ada cerita. Eh, orang Farisi ada namanya - Simon, pelacur mah nggak ada namanya, saudara. Tukang beca nggak ada namanya, buruh tani nggak ada namanya, orang kecil nggak ada namanya, rakyat jelata nggak ada namanya, ketua DPR mah ada namanya Akbar Tanjung, ketua MPR ada namanya, orang Farisi ada namanya. 

Nah, kadang-kadang orang yang punya nama seringkali ngolok neken sama orang yang nggak punya nama. Kalau saya disuruh pilih sama Tuhan, kamu mau dipihak mana, kamu mau jadi Simon atau mau jadi seperti perempuan berdosa itu? Saya mau jadi perempuan berdosa. Karena disayang Tuhan. Diampuni, dicari. Tidak berdosa terus tapi dicari diampuni. 

Ada apa Tuhan, kata Simon. Ini, ada dongeng. Ada dua orang punya hutang, satu gope 500 dinar, satu gocap 50 dinar. Menurut Matius 20:2, gaji orang satu hari kerja 1 dinar. Jadi 500 dinar, marilah saya kurang lebih kan lebih kurang itu gaji orang kerja 2 tahun. 50 dinar gaji orang kerja lebih kurang 50 hari ..  2 bulan. 60 hari diambil hari-hari sabat dan sebagainya. Yang satu utangnya gaji 2 tahun, yang satu utang gaji 2 bulan. Dua-duanya nggak bisa bayar. Yang utang 500 dinar nggak bisa ngomong sama yang gocap, kamu mah enak ya utangnya cuma 50 lho, aku mah 500. Yang 50, biarin aku utang 50 juga nggak bisa bayar. Yang utang 5.000 kalau bisa bayar mah nggak apa-apa. Ini utang 50 juga nggak bisa bayar. Nggak punya apa-apa. Nggak bisa nih yang 500 bilang mending nya maneh mah ngan gocap, urang mah gope. Dua-duanya gocap sama gope nggak bisa bayar. 

Maka dihadapan Tuhan nggak ada dosa kecil nggak ada dosa gede, dua-duanya nggak bisa bayar, amin? Biar pembunuh biar nggak membunuh sama dihadapan Tuhan orang berdosa.  Tidak bisa bayar. Lalu yang diutangin itu yang kasih hutang bilang, udahlah sudah sudah cincai, yang gope sama gocap sudah bebas. Senang dong utang besar nggak bisa bayar dibebasin. Coba saja saudara kredit mobil Kijang 5 tahun, baru satu tahun sudah macet, nggak bisa bayar. Wah, ini mobil sudah mau diambil tapi daripada diambil dari Toyota bilang udahlah mobilnya ambil saja sama engko, saya ampunin deh itu yang utang 4 tahun. Saudara akan bilang apa? Bukan hanya kamsiah, saudara akan cari tahu saya bisa nolong apa sama bapa saya bisa nolong apa sama ibu. Mungkin kita bilang sama istri anak-anak kita coba tolong bawain kue aduh hutang kita banyak sama dia, tapi dia udah ampuni. Karena utangnya besar. 

Lalu kata Yesus, dari yang gope sama gocap ini, yang mana lebih mengasihi orang yang mempunyai piutang? Simon itu jawab, yang utangnya besar. Yesus bilang seratus, betul. Dalam cerita ini Yesus lagi ngobrol lagi ngomong yang utang gocap itu Simon, yang utang gope ini perempuan. Banyak dosa, utangnya besar. Sekarang mau diampuni mau diputihkan sama Tuhan. Lalu ayat nya yang ke 43 Yesus bilang: "Betul pendapatmu itu." 

7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini?

Tadi malam sampai jam 12.15 saya renungkan ini ayat. Engkau lihat perempuan ini? 

Saya KKR di Magelang Rabu Kamis Jumat nggak dikasih ayat ini. Tapi baru tadi malam baru baca alkitab dikasih ayat ini, engkau lihat perempuan ini? Simon, lihat perempuan ini. Kamu kan udah nilai perempuan ini harganya berapa, derajatnya perempuan ini sampai dimana kan kamu udah nilai. Seolah-olah begitu Yesus bilang. Ayo, kamu kan lebih hebat dari perempuan ini dong. Kamu mah orang Farisi, berkedudukan tinggi, bisa ngundang Aku makan, perempuan ini mah cuman perempuan lacur. Menjual diri, berdosa, masyarakat juga muak lihatnya. Kamu tahu dong lihat perempuan ini tahu dong harganya tingkatannya, kualitasnya, derajatnya perempuan ini kamu tahu dong. 

Nah, sekarang, ada 3 hal Aku mau bicara, kata Yesus. Yang pertama, 

Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia - yang kamu nilai rendah, yang kamu nilai berdosa, yang kamu nilai perempuan berdosa - membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Ini yang pertama. 

Kamu udah nilai dong ini perempuan jeleknya derajatnya sampah masyarakat kan. Kamu kan tokoh masyarakat, dia mah sampah masyarakat. Kamu mah hebat very important person, ini mah very impotent person. Tidak baik, iya kan? Sudah. Tapi waktu Aku datang ke rumahmu, kamu tidak menyediakan air. 

Orang Yahudi saudara kalau mengundang orang, akan didepan rumah itu disiapin air satu gentong untuk orang cuci kaki. Untuk cuci kaki supaya nggak kotor karena dia mau naik di dipan ini tadi. Cuci kaki. Ini paling rendah. Ini mah udah nggak usah diajarin.  

Kalau saya jalan dulu di Jawa Timur, masuk di desa-desa, menginjil, ikut satu pendeta, jalan kaki lewat gang, lewat kampung desa, tiap didepan rumah itu ada kendi. Saya pikir kenapa ya didepan rumah ada kendi. Oh, itu sudah kebiasaan orang Jawa. Air. Jadi siapapun juga termasuk kita, kalau kita mau berhenti minta air, dalam rumah bilang, silahkan. Sudah disiapkan air itu untuk umum. Tidak ada gelas. Saya diajar sama papa saya minum  dari teko nggak usah pakai gelas, bisa. Karena papa saya dari Jawa juga. 

Jadi menyediakan air untuk cuci kaki itu udah biasa, itu udah paling rendah, nggak usah diajarin. Eh, orang Farisi ini gagal nyiapin air. Tuh, kadang-kadang kita itu saudara lupa yang paling rendah. Bahwa kalau ada hamba Tuhan, ada pendeta kita kasih tangan kita hormat, itu teh paling rendah, itu nggak usah diajarin lagi. Kalau ada orang tua cari tempat duduk, kita yang muda nggak usah diajarin lagi. Menghormat orang tua - nggak usah diajarin. Kalau kita ada di bus lagi duduk, terus ada ibu hamil berdiri aja pegang tiang. Udah hamil udah 9 bulan udah mau beranak. Saudara jangan bilang begini anak muda, gua pengen lihat ini beranak nggak di bus, jangan. Tapi, silahkan tante duduk disini biar saya berdiri saya masih muda 16 tahun, nggak usah diajarin lagi. 

Ini nyiapin air nggak usah diajarin, udah musti begitu. Kalau kita diajak makan sama orang, udah selesai makan saya suka begini kamsiah ya kamsiah; biar dia orang Manado, orang apa pokoknya kamsiah aja. Terima kasih ya. Nggak usah diajarin lagi. Dikasih apa aja saya mah terima kasih ya. Karena hidup kita ini hanya hidup oleh karena anugerah. 

Gagal ini orang Farisi, Simon ini gagal nyiapin air. Lihat itu perempuan, kataNya, yang kamu udah nilai brengsek, sampah masyarakat tapi dari tadi begitu Aku masuk, tidak henti-hentinya haleluyah dia membasahi kakiku dengan airmata dan menyekanya dengan rambutnya. 

Saudara, yang paling rendah adalah air basuhan cuci kaki, yang paling mahal adalah air mata. Simon nggak bisa nyiapin air mentah aja nggak bisa. Kenapa perempuan yang dicap brengsek ini bisa menyediakan air matanya untuk mencuci kaki Yesus? Cinta Tuhan mah gampang, cinta sesama yang susah. 

Kalau saudara naik becak ya nggak kenal sama tukang becak, dihati saudara itu musti ada doa: Aduh, Tuhan biar satu kali kelak ini tukang becak bisa kenal Engkau. Naik dokar, naik oplet, naik angkot juga: Biar supir ini Tuhan - kecuali kalau saudara bisa ngobrol bisa bersaksi -, bisa kenal Tuhan, bisa kenal Engkau. Jadi jangan injil itu cuma didalam gereja ... dia musti keluar menjangkau. Ini nggak usah diajarin ... nyiapin air mentah nggak bisa. Lihat perempuan ini, air mata dia siapkan untuk Yesus. Dia mengerti bahasa ... Tetesan air mata ... 

Kalau saudara-saudara dihargai air mata saudara, ingat, Tuhan juga menghargai air mata orang lain. Kalau Simon dibebaskan walaupun hutangnya cuma 50 dinar, perempuan ini juga dibebaskan walaupun utangnya 500 dinar. Dua-duanya orang bebas. Mustinya nggak boleh satu orang merasa lebih tinggi, karena satu hutang kecil satu hutang besar, nggak. Mustinya yang dipikirkan itu bebasnya itu. Ini yang pertama, kenapa? Perempuan itu datang dikaki Yesus bukan dimukanya. Jadi perempuan ini nggak cari muka, dia cari kaki Yesus. Paling rendah. 

Yang kedua. Yesus bilang sama Simon, ayat 45   
7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 

Tadi saya kira perempuan ini mencium setelah Yesus duduk berbaring. Tidak. Dari masuk dia udah ngerayap dibawah ciumin kaki Yesus. Nah, mencium jaman dulu adalah juga satu kebiasaan. Sampai sekarang orang Israel sama orang Arab juga terbawa sampai ke Eropa. Nah, kebiasaan saja Simon gagal mencium Yesus ... sampai lupa cium Yesus. Makanya saudara,  kalau ketemu hamba Tuhan itu jangan lupa tabe, inikan yang paling rendah: Oom baik, tante baik? Lihat orang tua. Kasih tangan. Ini hal yang paling kecil, salam. Memberi salam memberi hormat. Ngomong selamat pagi, nggak rugi. Tapi Simon gagal; dia tokoh agama, dia doktor teologi gagal nggak cium Yesus. Lihat ini perempuan yang sudah dicap sundal yang udah dicap jelek yang udah dicap brengsek, dia malah begitu masuk saja kaki Yesus udah diciumi. Saat Yesus duduk tetap diciumi dengan nangis dicepretin minyak wangi, nangis dengan air mata dilap sama rambutnya. Kenapa? Hutangnya besar. Maka cintanyapun besar, sayangnya besar. 

Yang ketiga ayat 46   
7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 

Ini custom yang ketiga ini, dan ini paling harus dikerjakan oleh Simon karena dia orang Farisi. Dia itu tamu diundang. Umpamanya ada yang tinggal di Panembong, itu kan 3 km, Ciraden itu 3 km, diundang. Dulu kan nggak ada angkot. Umpamanya undangannya disini, Simon punya rumah disini. Saudara diundang, jalan dari sana. Pesta kan biasanya siang, jalan kaki. Pake jubah. Apa nggak keringatan? Keringatan, saudara. Nggak ada dokar nggak ada beca. Jalan. Si tuan rumah itu punya minyak. Minyak itu terubat dari dua bahan, mur dan akasa. 

Mur itu pembunuh rasa sakit. Nggak tahu bagaimana kaya afitson. Kalau afitson digosok ditempat yang sakit kalau minyak itu nggak udah dicampur mur, ditaruh dikepala yang sakit disini yang sakit dikaki tiba-tiba jadi lentur, jadi enak. Badan itu jadi enak. Yang kedua Akasa. Akasa pembunuh bau. Orang jalan jaman dulu saudara, jaman sekarang aja orang Arab kaya apa baunya saudara kan tahu. Saudara bisa bayangkan bau jaman dulu. Orang Yahudi juga sama. Keringat. Nggak ada minyak wangi seperti sekarang. 

Nah, ini minyak yang ada akasa ini ditaruh diminyakin dikepalanya. Jadi orang itu yang jalan kaki juga enak kakinya tiba-tiba wanginya juga menutupi bau-bau keringat itu hilang. Nggak kecium, kalah sama bau minyak ini. Nah, ini Simon nggak kasih. Kenapa? Mungkin, ini perasaan saya, dia mau menghemat. Biasa kan Yahudi kopet, medit skaker pelit. Sarua Yahudi Arab bodas. Tapi lihat perempuan ini, kata Yesus, minyak wangi dia pake bukan ke kepalaku tapi ke kakiku diminyaki. Yang kamu udah nilai jelek, yang kamu udah nilai perempuan berdosa, yang udah kamu nilai brengsek, malah dia melakukan jauh lebih besar dari kamu. 

Kalau saudara merasa saudara bukan orang berdosa, saya yakin saudara punya cinta kepada Yesus itu tidak akan terlalu besar. Karena saudara rasa tidak terlalu banyak dosa saudara. Maka ada nyanyian Dosaku banyak ... hatiku noda ... Sehingga dunia ... Pandang amat hina ... Mungkin wanita ini begini. Tapi darahNya ... Yang berkuasa ... Sudah cucikan ... Dosa saya. Oh besar, besar anugerahNya ... Menetes itu air mata karena kita tahu hutang kita besar. Ya besar besar kuasanya ... Tak terhitung tak terhingga ... KasihNya ... Oh besar besarlah ... kasih Allah. Karena kita kalau nggak ada Yesus mati kita dineraka, kita nggak akan beubeulieun, nggak perlu ditanya kapan dibaptis, kapan dibaptis, nggak! Karena kita rasa utang kita terlalu besar. Kita yang akan datang sama Yesus, boleh saya dibaptis?     

Malam hari ini, apa kita punya mental masih mental Simon, gampang menerima Yesus tapi menutup pintu kepada orang lain yang berdosa? Apa hati kita seperti Tuhan Yesus, ya Simon diterima, ya perempuan yang salah juga diterima untuk diperbaiki. 

Sebagai konklusi, terakhir ayat 47  
7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. 

Saya mau berhenti disini. Di sekolah alkitab saya diajar bahwa dosa itu diampuni oleh karena anugerah, bukan oleh perbuatan. Tapi disini Yesus sendiri yang ngomong. Bukan saya mau protes, tapi Yesus sendiri ngomong, dosa perempuan itu diampuni karena dia punya perbuatan kasih yang banyak, karena dia banyak berbuat kasih. Saya ulangi, dosanya yang banyak itu telah, berarti sudah lewat, telah diampuni sebab ia telah banyak berbuat kasih. 

Jangan saudara sangka, ah, kalau gitu orang ini tetap berdosa, tidak. Kenapa dia sampai datang sama Yesus sampai nangis? Karena dia tahu kelakuan dia itu salah. Dia tidak ada jalan keluar; jalan keluarnya hanyalah kepada Yesus.  Maka dia ketemu dengan Yesus dia tidak tahan, dia keluarkan emosinya cintanya yang besar itu kepada Yesus. Nggak diminta dia bawain minyak wangi, nggak diminta dia ciumi kaki Yesus, nggak diminta dia nangis diatas kaki Yesus, nggak diminta dia buka rambutnya dia lap kaki Yesus. 

Sekarang hanya terbagi dua, saudara cinta kepada Yesus dengan BBS - Bisa Biasa Saja, BBS - Begitu Begitu Saja, atau saudara mengasihi Yesus dengan LBS - Luar Biasa. Mencintai Yesus nggak bisa diwakili. Saudara boleh datang sama saya: Ko Yoyo, bantu doa ya, saya punya suami sakit ...  saya punya anak sakit. Saya doakan. Tapi saudara nggak bisa ngomong begini: Ko Yoyo, kasih tahu sama Tuhan ya, saya cinta kepada Dia. Saudara sendiri ngomong.

Jadi saya perhatikan juga, jemaat yang mencintai Tuhan biasa-biasa saja. Melayani pekerjaan Tuhan biasa-biasa saja. Dengan sistim Simon, bisa undang Yesus senang undang Yesus untuk duduk makan tapi hatinya tertutup kepada orang lain. Satu lagi perempuan ini; dia melayani Yesus dengan luar biasa. 

Saya hanya berdoa supaya saudara dibukakan sama Roh Kudus melihat betapa rusaknya kita tanpa Yesus, betapa dosa kita itu besar tapi oleh karena Yesus kita diampuni kita dilupakan kita diputihkan. Maka dari hati kita, sebetulnya nggak usah disuruh-suruh. Musti ada cinta kepada Tuhan, musti ada sayang kepada Yesus. 

Kenapa nggak merokok lagi? Pan sok merokok, kenapa? Karena Yesus. Kenapa teu lalajo deui, pan biasa sok lalajo bioskop? Yesus. Biasa kan tupok cap sah tay poh? Ayeuna mah cap cay cah. Kenapa berhenti? Karena Yesus. Kita diolok karena Yesus kok. Dosa saya banyak kok dulu, sekarang diampuni ... jadi saya musti cinta kepada Dia. 

Berikutnya kita cinta sesama. Tuhan Yesus bilang kalau kamu lagi sembahyang minta apa-apa sama Tuhan, ingat masih ada satu saudara yang hatinya disakiti sama kamu, nah berhenti dulu berdoa - datang dulu sama saudara itu, bikin beres dulu urusan. Minta maaf, bikin beres. Hubungan dengan Tuhan beres, hubungan dengan sesama beres. Sekian renungan firman Allah, semoga Tuhan memberkati saudara. Kita berdiri bersama-sama.    

-- o --   

Minggu, 10 Agustus 2003

CELAKA

Yesaya

5:18 Celakalah mereka yang memancing kesalahan dengan tali kedustaan dan dosa seperti dengan tali gerobak, 
5:19 yang berkata: "Baiklah Allah lekas-lekas dan cepat-cepat melakukan tindakan-Nya, supaya kita lihat; dan baiklah keputusan Yang Mahakudus, Allah Israel, datang mendekat, supaya kita tahu." 
5:20 Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit. 
5:21 Celakalah mereka yang memandang dirinya bijaksana, yang menganggap dirinya pintar! 
5:22 Celakalah mereka yang menjadi jago minum dan juara dalam mencampur minuman keras; 
5:23 yang membenarkan orang fasik karena suap dan yang memungkiri hak orang benar. 
5:24 Sebab itu seperti lidah api memakan jerami, dan seperti rumput kering habis lenyap dalam nyala api, demikian akar-akar mereka akan menjadi busuk, dan kuntumnya akan beterbangan seperti abu, oleh karena mereka telah menolak pengajaran TUHAN semesta alam dan menista firman Yang Mahakudus, Allah Israel. 

Sore hari ini kita akan melihat 4 macam hal yang Tuhan bilang, celakalah orang yang melakukannya. 
5:18. Celakalah mereka yang memancing kesalahan dengan tali kedustaan.

Bahasa Inggris kata celaka, itu memakai kata woe, bahasa Indonesia lama memakai kata wai - jadi lebih celaka dari kata celaka ini sendiri. Salinan lama berkata wai, woe, tidak terbayangkan, katanya Tuhan. Lebih dari celaka, mereka yang memancing kesalahan. Bahasa Inggris, mereka yang menarik kejahatan dengan tali kesia-siaan. Lebih dari celaka, tidak terbayangkan ... orang yang menarik kejahatan dengan tali-tali kesia-siaan. Seperti menggarami air laut, itu pekerjaan yang sia-sia. 

Saudara, kalau kita hidup selalu menarik kejahatan dengan tali kesia-siaan, ya saudara akan menemukan kesia-siaan. John Sung berkata dalam lagunya 'Dunia kosong, semua kosong ... Cuma salib-Nya tak kosong ...  Pangkat, mas dan perak ... Semuanya kosong ... Cuma salib-Nya tak kosong.' 

Orang kalau sudah ketemu Yesus, dia bisa mengalami ... mengetahui bahwa dunia ini kosong, dunia ini tidak ada apa-apanya, dunia ini hampa. Kalau seorang bisnisman besar, pegang uang trilyunan, lompat dari atas hotel tingkat 56, betul-betul dunia ini kosong. Kalau orang membawa bom, hanya untuk meledakkan bom didepan hotel supaya orang lain mati, tidak tahu apa yang dia cari - ... nggak mungkinlah mau masuk surga kita dengan membunuh orang lain! Tak mungkin, nggak mungkin. Betul-betul orang menarik kejahatan dengan tali kesia-siaan. 

Tidak terpikirkan mereka itu kemana, tidak terpikirkan, katanya firman Allah. Wai. Tidak terpikirkan, menarik dosa dengan tali gerobak. Dosa seperti dengan tali gerobak. Dosa itu beratnya luar biasa, dia berton-ton lebih berat, katanya. Kalau orang sudah kena dosa, dia sudah tidak lagi pikir bagaimana hidup, bagaimana nanti. Dia mati ... mati saja, lompat dari hotel itu urusan nomor tujuh. Tadi saya dengar lagi ada satu pasien yang sakit dari RS di Cipto Mangunkusumo tingkat lima. Nggak tahu barangkali dia tidak baik-baik, apa dia tidak bisa bayar rumah sakit. Dia juga lompat, meninggal, wanita. Sekarang ini sudah musimnya lompat. Saya harap saudara kalau mau lompat juga, lompatlah di kolam renang yang dalamnya dua, tiga meter. Masih ada ban, bisa menolong. Tapi ini lompatan yang sudah tidak dipikirkan lagi. Dikatakan, menarik dosa seperti dengan tali gerobak. 

Dosa itu berat tetapi orang ini bilang bisa ditarik. Taruh aja di gerobak, biar berat bagaimana kalau ada rodanya dia bisa jalan. Kita tarik aja. Nggak apa-apa dosa. Itu saya aja yang pikul sendiri, kok. Itu pendeta mau khotbah apa, macem-macem, nggak peduli, cuekin aja. Dosa kita tarik aja dengan gerobak. Kita bisa bawa. Wai. Tidak terbayangkan, tidak terpikirkan. Haleluyah. Celakalah mereka yang memancing kesalahan dengan tali kesia-siaan dan dosa seperti dengan tali gerobak. Yang berkata - ini yang berat saudara -, baiklah Allah lekas-lekas, cepat-cepat melakukan tindakanNya supaya kita lihat. Baiklah keputusan yang Maha Kudus, Allah Israel datang mendekat, supaya kita tahu. Nantang sama Tuhan. Memang kalau orang sudah biasa dengan dosa, sudah biasa dengan gerobak-gerobak dosa bisa ditarik, dia gampang nantang Tuhan. 

Satu kali Samuel masih muda, 17 tahun. Dipanggil sama Tuhan, dua, tiga kali. Baru dia bilang, berfirmanlah Tuhan, bicaralah. Saudara, Tuhan bicara sama Samuel. Dia bilang begini: Kasih tahu sama Imam Eli - Imam Eli sudah 85 tahun umurnya - kasih tahu sama dia karena dia nggak didik anaknya baik-baik. Karena dia nggak kasih muka asem sama anak waktu anaknya salah. Aku akan membuat begini, begini, begini. Kasih tahu sama dia, kecuali dia bertobat. Polos. Samuel masih muda, dia datang sama Eli: Oom, saya dapat pesan dari Tuhan. Eli duduk, sudah 85 tahun. Apa pesan Tuhan? Dia bilang, kalau bapa nggak begini, begini, begini. Kalau bapa terus begini, begini, begini, bapa nanti akan begini, begini, begini. 

Apa kata Eli? Bukan bertobat. Dia bilang, biarinlah Tuhan mengerjakan apa yang Dia mau. Biarin aja Tuhan kerjakan yang Dia mau. Dan saudara, imam Eli meninggal waktu dia jatuh dari kursi, lehernya patah. Satu cara meninggal yang nggak enak kedengarannya sebagai hamba Tuhan. Nantang. Nantang sama Tuhan. Mau bangkrut, bangkrut kek saya punya toko. Nantang. Nantang!

Saudara-saudara, orang kalau udah biasa naik gerobak dosa, narik gerobak dosa. Sampai dia bilang itu dosa ditarik dengan tali kesia-siaan. Dia berani nantang sama Tuhan. Bukan cuma jemaat biasa, pendeta juga. Yang namanya Yunus, disuruh ke Niniwe ke utara, dia malah ke Tarsis ke selatan. Nantang sama Tuhan. Naik kapal laut pergi ke Tarsis. Beli kelasnya bukan kelas diatas, kelas dibawah dikapal paling bawah. Terus tidur. Dia pikir, Tuhan nggak lihat kalau dia tidur, tutup mata. Kalau udah tutup mata artinya Tuhan nggak lihat, katanya. Itu menurut Yunus. Kalau saudara-saudara perhatikan orang yang makan di restoran, kalau habis makan suka tusuk gigi, korek gigi. Saya bilang, itu sudah kurang sopan. Yang lebih sopan, tutup mata baru korek gigi. Nggak kelihatan orang. Nah, mungkin Yunus nih begini. Saya mah tidur aja dah, Tuhan mana tahu. 

Apa kata Daud? Kalau aku naik ke langit, Engkau ada di sana. Kalau aku ke tempat yang paling gelap di bumi, Engkau ada di sana. Kalau aku ke tempat yang paling gelap, Engkau jadikan gelap itu menjadi terang. Itu kata Daud. Artinya nggak bisa lari dari matanya Tuhan. Tapi nantang ini pendeta ini, namanya Yunus. Dia tidur di kapal. Tuhan panggil angin, tiup itu kapal. Angin lebih nurut perintah daripada pendeta. Tiup perahu. Ditiup, akhirnya bergejolak, saudara. Buang barang masih bergejolak. Minta-minta ampun ini yang punya kapal. Akhirnya ngaku ini Yunus, lempar saja saya ke laut pasti beres semua. Beres. Sudah dilempar ke laut, telan sama ikan. Tenang, air laut tenang. Dimuntahin sama ikan. Sudah minta ampun dia, sembahyang tiga hari tiga malam di perut ikan. Sudah disuruh ke Niniwe dia khotbah, tapi masih nantang sama Tuhan. Saudara tahu ceritanya. Ditunggu-tunggu 40 hari 40 malam supaya Niniwe terbalik, tetapi orang Niniwe bertobat. Tiga hari tiga malam mereka puasa. 

Dikatakan dalam Kitab Yunus, sampai binatang pun ikut puasa. Nggak makan, nggak minum, tiga hari tiga malam. Mereka pakai baju karung. Mereka pakai baju berduka cita. Dari raja sampai binatang puasa. Hatinya Tuhan penuh kasih sayang. Seringkali kita lebih kejam dari Tuhan. Lebih kejam dari Iblis malahan. Tuhan begitu lihat ada orang nangis minta-minta ampun dosa-dosa mereka, Tuhan sayang sama orang Niniwe. Diampuni. Nggak jadi dihukum. Dikasih tahu sama Yunus. Yunus, Aku nggak akan hukum Niniwe. Mereka bertobat, udah minta ampun, Aku nggak jadi hukum. Marah Yunus. Hah, Tuhan, bagaimana, saya sudah nubuat 40 hari 40 malam lagi Niniwe akan hancur. Kenapa nggak jadi? Saya nanti dicap nabi palsu. Jadi nama baik nomor satu dari pada menolong jiwa-jiwa. Sampai Tuhan bilang, aduh Yunus, disana itu ada 120 ribu orang, nggak tahu bedain mana tangan kanan, mana tangan kiri. Kasihan dong. 

Kalau orang sudah berdosa, kalau orang sudah nantang sama Tuhan, nggak ada belas kasihan lagi sama manusia. Pokoknya urusan gua, pokoknya nama gua, pokoknya gua, aku, aku, aku, aku. Tapi disini nggak ada, ini di Niniwe. Aku, aku, aku. Wai, katanya, ... celaka. Ini membawa kita kepada wai atau celaka yang kedua. 

Ayat ke 20, Celakalah mereka yang menyebut kejahatan itu baik, dan kebaikan itu jahat. Yang mengubah gelap menjadi terang, dan terang menjadi gelap. Yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit. 

Saya mau baca dalam salinan bebas, bunyinya begini : Celakalah mereka yang menyebut jahat itu baik, baik itu jahat. Yang menyebut gelap itu terang, terang itu gelap. Yang menyebut pahit itu manis, dan manis itu pahit. Celaka yang pertama urusannya sama Tuhan - urusan dosa. Celaka yang kedua urusannya dengan sesama. 

Kita dengar tadi ada yang nyanyi kan? Saya Cinta Tuhan Yesus. Kita musti jujur, saudara. Ini yang nyanyi ini suaranya bagus. Betul. Amin, saudara? Nggak mungkin juara kalau nggak bagus. Saya pencipta lagu. Saya juga penyanyi, tapi kalau dibanding sama dia kalah suara saya. Saya musti jujur. Nah, kalau saya iri sama dia, saya iri. Namamu siapa? Anton? Kalau saya iri sama dia, saya ngomong, dibelakang-belakang, kurang bagus nih suara. Kurang bagus, fals. Suara orang bagus, saya bilang kurang bagus. Suara saya jelek, saya bilang, suara saya mah sudah mantap. Ge-eR. Saya kasih contoh nih. Anton suaranya bagus begitu, kita bilang, kurang bagus. Dia ngomong cintanya juga tadi, sinta. Padahal dia bagus. Nah, ini yang dimaksud oleh Tuhan, yang baik disebut jahat, yang jahat disebut baik. 

Duh, geulisnya awewe teh, geulis nya ~ Duh, cantik ya wanita itu. Cantik ya. Ah, naon geulis, geulis kitu. Pinter nya? Ah, biasa weh. Aduh, dia mah universitas, urang mah aduh sakola SD ge teu lulus. Biasa. Naon na nu biasa? Manehna mah universitas . Kenapa? Karena iri. Iri hati. Yang cantik, kita bilang nggak. Geulisan keneh ge si eta ~ Cantikan juga si itu. Nu mana tea? ~ Yang mana?. Si eta ~ Si itu. Nu mana? ~ Yang mana? Nu eta, nu kamari di pengkolan, nu ti dagor ~ Yang itu, yang kemarin di belokan ..., kenapa? Karena iri. Aduh majunya, manehna tokona gede pisan, bisa maju ~ Maju ya dia punya toko besar sekali. Yah, pinjaman dari bank, pinjaman dari bank. Maju, maju oge pinjaman dari bank. Iri. 

Kalau orang sudah iri, manis disebut pahit, pahit disebut manis. Baik disebut jahat, jahat disebut baik. Karena iri. Rumah orang bagus disebut nggak bagus. Mobil orang bagus disebut kurang bagus. Nah, dikatakan disini, celaka mereka yang menyebut jahat, baik. Baik, jahat. Mengubah kegelapan jadi terang dan terang menjadi gelap. Yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit. 

Semua orang bisa nyanyi, tapi orang juga tahu kalau Ade Manuhutu nyanyi, dia mah penyanyi. Haleluyah. Kenapa yah saya ini tidur udah dua malam ini ketemu sama orang yang sudah meninggal terus. Saya ketemu Tante Idup, Ibu Tan Yan Bun. Dia pake kebaya putih, pake samping putih biru, ketawa sama saya, jalan. Nganterin kado buat si Sharon. Bingung saya jadinya. Ini mimpi, permainan mimpi. Terus malam tadi ketemu mama Suli, ketawa terus sama saya. Rek nepak, siga baheula we ~ Mau mukul, seperti dulu aja. Sudah meninggal. Apa kenangan saya sama mereka jadi terus keingetan mereka? Ketemu mertua lelaki saya, ko Dodo tea. Kapanggih, ngan teu ngomong nanaon ~ Ketemu, cuma nggak ngomong apa-apa. Haleluyah. 

Lihat yang ketiga, celaka yang ketiga. Ayat 21, Celaka mereka yang memandang dirinya bijaksana, yang menganggap dirinya pinter. Bahasa Inggris, celakalah mereka yang bijaksana dalam pandangan mata mereka dan pandai di dalam penglihatan mereka. Menganggap diri mereka pinter, menganggap diri tahu, menganggap diri bisa. Justru disinilah kejatuhan kita kalau kita mulai menganggap diri kita bisa. Saya ingat dulu, mama saya di rumah sakit di Bunut, dibuang, ada tumor di payudaranya. Dibuang. Jadi saya bulak balik. Makan jeung naon ~ Makan sama apa, kata mama di rumah sakit. Makan jeung naon? Geuslah ngagoreng deeng we ~ Menggoreng dendeng saja. Ada dendeng di lemari. Sudah, Yo, ngegoreng dendeng saja. Iya. Ngegoreng dendeng mah gampang. Saya ngegoreng dendeng. Diangkat tutung ~ hangus. Diangkat gosong, diangkat gosong. Pahit. Lapor sama mama. Sebelum lapor ada engku disini. Engku Cai Hwat. Bukan begitu dong kalau ngegoreng dendeng mah, begini. Bagaimana, da saya mah nggak tahu. Gini, ngegoreng mah. Dia ngegoreng. Sama, gosong juga. Sok tahu, sok bisa. Nah, nanya ke Sukabumi lagi. Ma, geuning tutung, kieu tutung kitu tutung ~ Ma, kok gosong, gini gosong, gitu gosong? Dasar nggak pernah masak. Rendam dulu di air, baru masukin ke minyak. Oh, iya. Balik lagi, ngegoreng, ambil dendeng, masukin di air, goreng. Tidak lagi gosong. 

Berbahaya saudara, kalau kita sok tahu. Kalau kita merasa diri pandai. Coba kita baca dua ayat di dalam Roma. Dalam Roma pasalnya, nanti kita kembali kepada Yesaya. Roma pasalnya yang ke 12, disana dikatakan beberapa ayat. Yang pertama kita baca ayat 3, demikian bunyinya: 

12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: - termasuk saya - Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Ayat 16: 

12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! 

Ada haleluyah, saudara? Kalau kita merasa kurang, kan kita mau belajar. Kita kan belajar. Kenapa saya baca Alkitab tiap hari? Saya tahu, saya kurang. Saya baca Alkitab tiap hari. Saya perlu, saya buka Alkitab. Saya tahu, saya tidak pandai. Saya tidak menganggap diri saya pinter. Kalau saya pinter, saya nggak akan baca Alkitab. Mau apa saya baca Alkitab, udah pinter? Tapi saya masih perlu Alkitab. Masih baca saya. Apalagi nanti hari rabu, sekolah Alkitab dibuka, angkatan ke 16. Wah, sudah mulai sibuk lagi. Satu bulan saya 60 kali bicara. Rata-rata itu, bisa lebih, bisa kurang. Musti belajar, musti banyak belajar, musti banyak baca. Jangan merasa diri pandai. Justru disini. Ketika kita merasa diri kita pandai, disitulah kita jatuh. The Beatles aja nyanyi, I saw it's true pride comes before its fall I'm telling you so you don't want lose all. Aku lihat, katanya, dia ambil dari Amsal Sulaiman. Aku lihat memang sombong datang sebelum kejatuhan. Aku cerita kepadamu supaya kamu nggak kehilangan terlalu banyak. 

Kenapa orang sombong? Nggak mau dinasehatin. Sudah tahu saya. Sudah, sudah tahu dah. Ini begini. Ah, sudah tahu lah. Sudah, nggak usah dinasehatin, wo udah tahu. Geus nyaho, geus nyaho ~ Sudah tahu, sudah tahu. Sudah tahu saya, nggak usah dinasehatin. Ada orang naik pesawat terbang, orang kulit putih. Duduk. Disebelahnya ada perempuan kecil, orang Korea. Ini orang Amerika ini anggap remeh. Perempuan Korea, kasihan, sudah Asia, kecil lagi, lu bisa apa? Gua mah Amerika, badan aja gede. Yah, kamu ini perempuan Korea, Asia lagi. Akhirnya dia karena panjang ini penerbangan, dia bilang: Bu, dari mana? Oh, saya dari Korea. Saya ini orang penting dari perusahaan, gini, gini, gini. Oh iya. Ibu kerja di mana? Oh, saya mah ibu rumah tangga biasa saya mah. Saya dari Korea dipanggil sama anak, suruh nengok. Oh iya, ya, Yuk kita ini yuk, kita bertaruh. Ibu nanya apa saja sama saya. Kalau saya nggak bisa jawab, saya kasih 500 dolar. Kalau saya bisa jawab, ibu kasih sama saya cukup 50 dolar. Si ibu bilang, oh iya, iya. Yang kasih tanya saya? Iya. Ya, saya tanya yah. 

Apa yang naiknya pelan, turunnya cepet?, cek si perempuan teh nih. Kalau yang naiknya cepet, turunnya pelan mah pan udah tahu, leho ~ Ingus. Ini mah pan yang naiknya pelan, turunnya cepet. Aduh, si orang bule teh mikir udah pake gaya Mister Bean, dia nggak dapet-dapet. Akhirnya dia ngaku, iya saya kalah dah. Bayar saudara, 500 dolar. Maaf, kalah yah. Iya. 

Pas pesawat mendarat. Terima kasih nih 500 dolar. Begitu sampe, turun. Begitu turun dari pesawat, dia penasaran. Jawabannya apa sih, ibu? Apa sih jawabannya itu? Terus terang aja, pak, saya juga nggak tahu. Jadi dia ambil dari 500 dolar tadi, 50 dolar dia kasih. Nih, 50 dolar, saya juga nggak tahu. 50 dolar. Saudara, jangan merasa diri pandai. Amin? Jangan menganggap remeh sama ibu-ibu tua, yang kecil, ya ampun ... saudara jangan menganggap remeh. Puji Tuhan. Kita lihat kembali kepada Yesaya 5. Lihat celaka yang ke empat.

5:22 Celakalah mereka yang menjadi jago minum dan juara dalam mencampur minuman keras; 
5:23 yang membenarkan orang fasik karena suap dan yang memungkiri hak orang benar. 
5:24 Sebab itu seperti lidah api memakan jerami, dan seperti rumput kering habis lenyap dalam nyala api, demikian akar-akar mereka akan menjadi busuk, dan kuntumnya akan beterbangan seperti abu, oleh karena mereka telah menolak pengajaran TUHAN semesta alam dan menista firman Yang Mahakudus, Allah Israel. 

Ayat 22, Celakalah mereka yang menjadi jago minum, bahasa Inggris, orang yang menjadi pahlawan dalam soal minum. Berarti minum minuman keras, mabuk-mabuk. Wai, celaka. Gang Bombay, Bojong Meron, Waru Jajar, udah dulu daerah prit. Itu istilah orang Arab, prit itu artinya mabuk. Mau berkelahi, minum dulu. Kalau mau ngamuk, dulu pernah ada di rumah kita ada yang mabuk. Banting-banting batu di depan rumah, waktu di Gang Bombay. Wah, kita telepon polisi. Polisi datang jadi sadar. Yang mabuk teh jadi sadar aja datang polisi mah. Aya pulisi euy, aya pulisi euy ~ Ada polisi, ada polisi. Hor, mabok teh kieu ieu mah ~ Mabuk kok gini? Milih, aya pulisi. Tetapi tahu nggak saudara, bahwa dengan minuman keras banyak terjadi kejahatan-kejahatan. Minuman keras terjadi banyak kejahatan-kejahatan. Kita lihat dulu Amsal pasal 23. Dalam Amsal pasal 23, disana kita melihat satu, dua ayat yang kita bisa belajar dari dalamnya. Pasal 23:20, 

23:20 Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging. 
23:21 Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping. 

Dikatakan disana, saudara-saudara, bahwa minum-minum anggur, mabuk-mabuk itu adalah menjadi keluarga orang-orang yang miskin. Akan menjadi miskin orang yang biasa dengan minuman, akan menjadi  miskin. Di Amerika ada satu ibu terikat dengan minuman keras. Saking terikatnya, saudara-saudara, karena mereka baru penganten baru, anak yang pertama itu baru 10 tahun. Suami tidak tahan lihat ini istrinya. Sebentar-sebentar di tempat minum. Sebentar-sebentar di kedai minum. Pulang mabuk, pulang mabuk. Karena perlu uang, akhirnya mulai gaji, tabungan dipakai minum minuman keras. Sudah terikat, sudah terikat. Dia bilang, saya tidak bisa lepas, saya ingin minuman keras. Minuman keras, tidak pagi, tidak siang, apalagi malam. Akhirnya suaminya ambil jalan pintas. Maaf, aku tidak bisa hidup seperti kamu, dia minta cerai. Cerai. Biasa yang minta cerai perempuan, ini lelaki yang minta cerai. Cerai sudah, karena tidak tahan. Dia tidak peduli, cerai, cerai. Asal tidak bercerai dengan minuman keras, dengan minuman keras, dengan minuman keras. Anak diambil sama keluarga, karena sudah tidak diopenin lagi.

Satu kali anak itu sakit, mati. Ketika mati, sudah di peti mati, didandanin sudah pake jas, anak lelaki. Panggil mamanya. Mamanya ada dari bar, datang. Mana anak saya? Nangis. Dia lihat anaknya. Anaknya punya sepatu tuh, sepatu orang sudah mati, dibuka. Dijual 3 dolar, beli minuman keras. Saudara ini bukan dongeng, ini kejadian betul. Ikatan minuman keras. Heran, minuman keras ini selalu hubungannya dengan mafia. Coba lihat di film-film. Minuman keras itu dengan berkelahi, ribut, buka pistol, pake disini. Orang-orang mabuk. Ayatnya yang ke-29.

23:29 Siapa mengaduh? Siapa mengeluh? Siapa bertengkar? Siapa berkeluh kesah? Siapa mendapat cidera tanpa sebab? Siapa merah matanya? 
23:30 Yakni mereka yang duduk dengan anggur sampai jauh malam, mereka yang datang mengecap anggur campuran. 
23:31 Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat, 
23:32 tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak. 
23:33 Lalu matamu akan melihat hal-hal yang aneh, dan hatimu mengucapkan kata-kata yang kacau. 
23:34 Engkau seperti orang di tengah ombak laut, seperti orang di atas tiang kapal. 
23:35 Engkau akan berkata: "Orang memukul aku, tetapi aku tidak merasa sakit. Orang memalu aku, tetapi tidak kurasa. Bilakah aku siuman? Aku akan mencari anggur lagi." 

Ini orang mabok, begini. Sudah berkelahi, nggak kerasa. Itu mukamu sampai bengkak. Nggak kerasa. Engkau akan meracau, engkau akan ngomong sendiri, katanya. Dari mana kesusahan? Darimana? Kita baca lagi ayat 29. Siapa mengaduh? Siapa mengeluh? Bahasa Inggris bukan mengeluh, siapa yang susah? Siapa bertengkar? Siapa berkeluh-kesah? Siapa yang menggerutu? Siapa mendapat cidera tanpa sebab? Siapa merah matanya? Baru dikatakan, mereka yang duduk dengan anggur sampai jauh malam. Masa sampai Tuhan pakai ayat khusus. Celaka orang yang jago mabok. Juara minum, celaka! Maka kalau ada diantara kita masih suka minum bir, minum whiski, minum minuman keras dengan hati yang penuh cinta, hati yang penuh sayang, saya omongkan,  berhenti dalam nama Yesus! - supaya kita tidak hidup celaka. Tapi hidup diberkati oleh Tuhan. 

Kembali kepada Yesaya pasalnya yang ke 5 ayatnya yang ke 22, Celakalah mereka yang menjadi jago minum, juara dalam mencampur minum keras, yang membenarkan orang fasik karena suap, dan yang memungkiri hak orang benar. 

Saudara, orang yang bawa bom itu dibayarnya katanya 25 juta. Kalau ledak gitu bom itu di Soekarno Hatta, ledak. Yang taruh bom disana dibayar 25 juta. Menggiurkan kan? Menggiurkan. Kepala orang kristen 5 juta, kepalanya. Kepala pendeta 80 juta. Itu di Palu, di Sulawesi Tengah. Kepala orang kristen 5 juta. Untung ketahuan. Jadi latihan itu Jemaah Islamiyah, Al Qaida itu yang di Indonesia, itu di daerah Palu latihannya. Di film sama CNN dari atas. Nggak ketahuan. Nggak bisa lagi Wakil presiden, Hamzah Haz, wah kalau punya anak mah jangan dikasih nama Hamzah aja. Dia bilang, nggak ada Al Qaida, nggak ada yang ngebom, nggak ada Jemaah Islamiyah. Buktinya bledag bledug terus. Diem sekarang dia. Makanya dia nggak akan kepilih lagi. Karena apa? Dia ngomongnya, aduh terlalu melindungi. 

Orang kristen diem. Diem aja orang kristen mah. Gereja di bom, diem. Gereja dibakar, diem. Pendeta dibunuhin, diem. Orang kristen dibakarin, diem. Tapi kita untung punya Tuhan Yesus. Dia yang bela kita. Tapi dikatakan disini, yang membenarkan orang fasik karena suap, yang memungkiri hak orang benar. Sebab itu seperti lidah api, memakan jerami, seperti rumput kering habis lenyap dalam nyala api. Demikianlah akar-akar mereka akan menjadi busuk dan kuntumnya akan beterbangan seperti api. Saudara, kalau akar jadi busuk, ini hanya hiasan yah, pohon diatas seluruhnya akan jadi begini. Kalau akar jadi busuk, pohon meranggas. Tidak ada daun, tidak ada hijau, tidak ada bunga, tidak ada buah. Boro-boro bunga, buah, daunpun tidak ada. Hanya meranggas saja, kayu, pohon. Tidak ada kehidupan. 

Di Puncak, karena saya sering lewat, ada satu pohon begitu. Tapi kalau hujan, dia mulai ada hidup. Karena akarnya masih hidup. Ini dikatakan akarnya mati. Kalau akar mati, pohonnya mati. Kalau akar mati, tidak ada buah. Kalau akar mati, tidak ada daun. Akar mati tidak ada bunga, tidak ada sukacita. Akarnya sudah mati. Banyak orang kristen seperti itu. Pohonnya sudah menjulang besar. Kristen tapi jadi sejarah. Jadi tonggak sejarah. 

Orang tuh ngomong begini: Aduh, nih pphon dulunya bagus lho. Dulu nih kita suka disitu, suka berteduh, daunnya rindang. Kenapa sekarang meranggas yah? Sudah mati pohonnya, akarnya mati. Ada juga yang ngomong begini: Aduh, orang kristen. Dulu tuh dia aktif di gereja. Maju dia gereja, rajin, setia, kebaktian, ikut bedstone, maju, aduh. Kenapa dia sekarang begitu yah? Sudah jadi sejarah. Pohonnya, pohon tapi kering - akarnya sudah mati. Dia tidak jadi teladan, tapi jadi sejarah. 

Saya suka dengar kesaksian. Saudara-saudara,  yang akan bersaksi ini hamba Tuhan ini, dulu mantan penjahat. Yang ini mantan perampok. Bertobat di penjara, jadi hamba Tuhan. Yang ini mantan penipu, sekarang bertobat terima Yesus. Masih mending, daripada: Saudara, ini yang meninggal adalah mantan pendeta. Artinya, dulunya  pendeta sekarang nggak. Mantan orang kristen. Mantan maju. Baheula mah aduh, baheula. Dulu mah begini, brur. Wah aktif, saya dua, tiga kali seminggu ke gereja. Haleluyah, puji Tuhan. Belum, gereja belum buka, saya sudah di depan pintu gereja. AC belum on, saya sudah on. Kalau ayeuna ~ sekarang? Nya kitu ayeuna teh, weugah. Kaditu kadieu teh weugah ~ Sekarang malas. Kesana kemari malas. Hayu atuh ka gereja yu. Ayo ke gereja, yu. Lewat gereja mah teu nanaon. Tapi ka gereja mah, aduh. Sudah jadi mantan. Pohon aja. Kering. Nggak ada daun, nggak ada apa. Ini mah hiasan. Kering. 

Dikatakan lebih jauh, kuntum akan beterbangan seperti abu oleh karena mereka telah menolak pengajaran Tuhan semesta alam dan menista Firman yang Maha Kudus. 

Saya mau kasih kesaksian. Tadi pagi saya sudah kasih kesaksian tapi saya mau tambah malam hari ini. Waktu saya di Samarinda, pendeta Ekel Tumondo itu jemput saya di airport. Ia anggap masih saya ini bapa rohaninya. Dia sudah ketua majelis daerah. Yang bawa setir, supir itu, namanya bapak Marni. Dia tinggi besar, lebih tinggi dari saya, gemuk, kumis item. Jadi saya kira orang Batak. Saya bilang, halakita, halakita orang Batak tapi ana uli. Bukan, pak, saya orang Dayak. Huh, kok Dayak item? Biasanya Dayak itu putih-putih. Iya pak, Dayak ada dua macam, ada yang putih, ada yang item. Saya ini bagian yang item. Dia nganggur, dulu, sebelas tahun. SD aja tidak lulus sekolah. Dalam masa nganggur ini, dia memaksa minta untuk jadi supir pendeta. Kemana saja bapak pendeta, nggak di gaji, nggak di kasih uang. Tapi dia mau setirin pendeta, Brur Ekel ini. Dia setirin, dia setirin, dia setirin, kemana-mana. Sebelas tahun. 

Sekarang, dia sudah beli mobil kijang baru, dia beliin pendeta Ekel. Hebat, saya bilang. Jemaat saya di Cianjur belum ada yang beliin saya mobil. Tapi di sini, jemaat beliin dia mobil untuk pendeta Ekel. Dan waktu KKR saya disana, dia maju kedepan. Waktu didoakan dia bilang, bantu doa saya. Sekarang saya jual beli batu bara. Dia pegang beberapa tambang batubara. Saudara, SD nggak lulus. Kalau Tuhan berkarya, SD tidak lulus tapi dia pegang uang milyar-milyar. Sekarang, saudara, dia bisa kasih pendeta mobil. Sebelas tahun nganggur dia jadi supir pendeta. Jangan tidak percaya. 

Kesaksian yang kedua. Hari jumat kemarin, saya KKR di Krawang. Entah kenapa, setelah selesai khotbah, siapa ada keperluan maju kedepan. Maju kedepan. Banyak. Berapa pendeta disitu, ada Gereja Bethel Tabernakel, ada GBI Bethani, macem-macem. Sembahyang disitu. Doakan. Setelah pulang, duduk-duduk itu mereka. Saya masih tergerak ingin berdoa. Padahal yang didoakan sudah duduk. Jadi saya bilang, siapa yang ada keperluan dalam bisnisnya, ijinkan saya berdoa untuk bisnis saudara. Taruh tangan di dada. Banyak orang taruh tangan di dada. Sudah doa, amin, sudah. Saya pulang. Tadi malam, berarti sabtu, hanya satu hari. Satu bapa dari Krawang, dia telepon saya. Di telepon dia tiga kali berhenti, saudara, ngomong. Menangis dia. 

Oom, saya mau berterima kasih sama oom. Kenapa? Berterima kasih apa? Saya kebaktian kemaren malam, oom. Iya, kenapa? Oom bilang, siapa ada keperluan soal bisnis. Iya, kenapa? Saya kan sudah nganggur, oom. Saya di PHK di satu perusahaan cukup besar. Dia dikasih uang cukup besar, tapi dia nganggur. Orang yang biasa kerja, tidak ada kerjaan itu rasa terpukul. Tapi waktu Oom bilang ada keperluan, taruh tangan kanan. Saya taruh. Oom, setelah sembahyang, saya pulang ke rumah, ada yang telepon dari Jakarta. Dia bilang, saya mau bikin satu perusahaan dan kamu akan jadi direktur keuangan. Kamu yang harus pegang uang. Kamu nggak akan ke lapangan, ke Kalimantan perusahaan saya. Tapi kamu jadi direktur keuangan, kamu yang pegang uang perusahaan. Dia sampai rasanya nggak percaya. Dia cuma minta syarat, syaratnya satu. Hari selasa, bapa musti minta doa dari pendeta Awondatu. Ajak dia makan, kita doa sama-sama. Karena saya takut, ini kita pegang uang ini bukan uang kecil. Saudara-saudara, nganggur. Tapi kalau Tuhan mau buka jalan, kalau Tuhan mau buka jalan, sekejap. Sekolah bukan ukuran. Ukuran kita Tuhan. 

Biar kita bodoh, biar kita buta huruf, biar kita perempuan, lemah ... tapi kalau kita punya Tuhan, kalau kita punya Yesus, saudara-saudara, dari keluarga sampai kepada perusahaan, Dia pasti jamin dan berkati. 

Malam hari ini, saya tidak panjangkan Firman Allah. Jauhkan diri, saudara, dari empat hal ini. Supaya kita tidak celaka. Jauhkan diri kita menganggap remeh Tuhan. Jauhkan diri kita menganggap diri pandai. Jauhkan diri kita merobah baik jadi buruk, buruk dianggap baik, manis dianggap pahit, pahit dianggap manis. Jauhkan diri daripada minum minuman keras. Supaya kita diberkati Tuhan. Supaya rejeki itu dekat kepada kita. Dan nama Tuhan dipermuliakan. Kita berdiri bersama-sama. 

-- o -- 

Minggu, 24 Agustus 2003

SET - BERKAT PENGGANTI

Siapa yang ikut Family Camp akan lebih gampang mengerti Firman Allah ini. Karena dalam Family Camp tentang 'Keluarga dimata Tuhan', saya membicarakan Kejadian 1 sampai Kejadian 3. Sore hari ini saya mohon saudara perhatikan baik-baik Firman Allah. Kejadian pasal yang ke 4. Dalam Kejadian pasal yang ke 4, kita akan membaca ayat 25.

4:25. Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: "Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya." 

Dalam bahasa Inggris, ayat ini berbunyi begini: Adam mengenal kembali istrinya dan dia melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama dia Set, karena Allah sudah menentukan benih yang lain untukku sebagai pengganti Habel yang telah dibunuh oleh Kain. Di dalam Kejadian

4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." 
4:2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 
4:3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 
4:4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 
4:5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. 
4:6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 
4:7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." 
4:8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. 
4:9 Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?" 
4:10 Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. 
4:11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. 
4:12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." 
4:13 Kata Kain kepada TUHAN: "Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. 
4:14 Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku." 
4:15 Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia. 
4:16 Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden. 

Di dalam ayat ke 17, Kain sekali lagi, Kain bersetubuh dengan istrinya dan dia mempunyai anak, Henokh, dan sebagainya. Tetapi sore hari ini, saya ingin saudara-saudara melihat dari sudut Hawa. Saya sudah cerita di Family Camp, seperti apa keluarga, dari mana keluarga, dari siapa keluarga, dan sebagainya. Lalu Adam dan Hawa ini mulai mempunyai anak. Anak yang pertama itu, Kain. Dan kalau saudara membaca ayat 1 tadi, Hawa, itu ibu, dia  bicara karena dia yang mengalami melahirkan anak. Dia yang mengalami sakit. Dia berkata, aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan. Dan Kain dilahirkan atas pertolongan Tuhan. Jadi Kain ini bukan anak haram, Kain ini bukan anak jahat. Dia anak sulung. Anak yang kelahirannya saja ditolong oleh Tuhan, menurut kesaksian dari Hawa sebagai ibu, sebagai istri dari Adam. 

Berikut dia mempunyai anak yang kedua, yaitu Habel. Habel tidak bicara apa-apa ini Hawa. Dia tidak bicara bahwa Habel didapat karena pertolongan Tuhan. Apa terjadi? Kain menjadi seorang petani. Menanam buah, menanam sayur. Tetapi Habel menjadi seorang peternak. Berikut, saudara-saudara, dua-duanya kasih korban sama Tuhan. Berarti dua-duanya kenal Tuhan. Dua-duanya sayang kepada Tuhan. Satu memberikan korban buah-buah, hasil tanah, hasil sayuran yang terbaik. Tapi yang pertama, buah sulung dari buah yang terbaik, yang pertama, Kain ini, anak pertama dia memberikan yang pertama dari buah, sayur yang terbaik untuk Tuhan. 

Menurut saya tidak ada yang salah dari Kain. Karena dia memberi yang terbaik, yang utama, yang pertama untuk Tuhan. Tetapi Habel mempersembahkan, yaitu korban dari dombanya. Dikorbankan kepada Tuhan dengan lemaknya. 

Nah, ternyata Tuhan itu, saudara-saudara, kan maunya Tuhan. Tuhan itu kan otoritas, nggak bisa kita atur. Dia senang dengan persembahannya Habel. Kenapa, sekarang, Dia senang sama persembahannya Habel, juga kita nggak boleh protes. Nggak boleh protes, termasuk Kain. Nggak boleh protes. Pokoknya Tuhan senang dengan persembahan Habel. Dan Dia, saudaraku, tidak mengindahkan persembahan dari Kain. Ini kita belajar satu hal. Kalau kita berdoa, lalu tidak dijawab Tuhan ... kita nggak boleh marah. Kita tidak bolah marah kepada orang yang kok doanya dijawab. Maunya Tuhan dong, mendengar kita atau tidak mendengar kita. Menjawab kita atau tidak menjawab kita, sembahyang - itu haknya Tuhan. Biar saya nonggeng, kepala di bawah, kaki di atas, berdoa sampai saya berkeringat darah, kalau Tuhan tidak suka? Ada ayat dalam Amsal berkata, doa orang yang jahat, kebencian kepada Tuhan. Orang jahat juga berdoa, tapi Tuhan benci dengar doanya. Lha, kenapa benci? Yah mau-maunya Tuhan. 

Begitu Kain tahu, bahwa Habel punya persembahan diterima, dia tidak, marah dia ... dibunuh. Adiknya nih dibunuh. Ayo, kita ke padang. Dibunuh. Dan saudara musti tahu, pembunuhan pertama itu di padang, di ladang, tanah terbuka. Bukan di gua. Di tanah terbuka. Terang benderang, bikin bunuh. Dan pembunuhan tidak pakai pisau, tangan kosong. Dipukul sampai adiknya ini meninggal. Mati. Mari kita hentikan cerita sampai disana. 

Mari kita lihat Hawa. Hawa dapat Kain, saudara. Dia berkata saya sudah dapat anak ini dengan pertolongan Tuhan. Saya kehilangan anak, meninggal. Susahnya luar biasa. Tapi saya pikir, saya yakin, yang melahirkan anak, ibu, itu lebih kehilangan. Dalam satu hari, salah satu anak mati. Dan akibat matinya bukan karena sakit, tapi dibunuh. Pembunuhnya kalau dari musuh nggak apa-apa. Yang bunuh anak lagi dia sendiri. Koko membunuh adik. Koko membunuh dede. Satu darah, satu daging. 

Bagaimana perasaan dari Hawa? Saya rasa itu double porsi kesulitan. Seperti pedang, seperti pisau menusuk, merusak hatinya. Tidak dituliskan, tapi saya rasa Hawa meraung-raung ... menangisi anaknya yang mati. Kalau Tuhan saja sampai protes, Tuhan saja sampai perhatikan, apalagi Hawa. 

Mari kita terapkan dalam hidup keluarga di mata Tuhan. Yang ikut Family Camp mengerti. Saudara-saudara, tidak ada problem yang paling menyakitkan hati seorang ibu kecuali anak-anaknya ribut sendiri. Anak ribut di dalam keluarga sendiri, anaknya ngelawan anaknya sendiri. Si koko melawan dede. Dede melawan koko. Ribut didalam keluarga sendiri. Satu she, satu shio, satu darah, satu turunan, darah daging, ribut dan mati. Alasannya apa? Agama. Satu diterima Tuhan, satu tidak diterima Tuhan. 

Tahu nggak saudara, bahwa pembunuhan-pembunuhan sekarang ini beralaskan agama? Israel dan Palestina tiap hari bunuh-bunuhan. Tiap hari. Yang satu pakai bom membunuh orang Israel. Sampai wanita umur 14 tahun berani pakai, seperti orang hamil, karena dia bawa bom. 14 tahun berani mati. Palestina. Israel tembak lagi. Karena apa? Agama. 

Kenapa ada bom di Bali? Bom di Hotel Marriot? Bom di Afghanistan? Bom di kantor PBB di Irak? Orang yang tak bersalah mati. Karena agama. Rasanya kok sakit hati kita. Seorang wanita yang namanya Hawa, ibunya anak sendiri, mati dibunuh oleh anaknya yang lain. Sampai Kain itu, tanpa sadar dia ngomong, pasti ada orang bunuh saya lagi. Walaupun Tuhan bilang, tidak, engkau tidak akan dibunuh. Tetapi siapa tabur, dia akan tuai. Engkau nanam apa juga tidak akan ada hasilnya, kata Tuhan. Suratan Yohanes dibelakang, kalau engkau membenci seseorang, itu engkau sudah menjadi pembunuh. Kita tidak pakai pisau. Kita membenci, kita keluarkan kata-kata kasar, kita membenci, memusuhi satu orang, "saudara seiman", maka kita dihadapan Tuhan adalah pembunuh. Ada perasaan tidak enak, ada perasaan benci, ada perasaan dendam - kita sudah jadi pembunuh. Terus, terus, terus. Dari hari ke hari. Siap? Sekarang dengar. 

Dalam ayat 25 tadi, Adam bersetubuh pula dengan istrinya. Bahasa Indonesia terlalu kasar, terlalu vulgar. Bahasa Inggris memakai kata know, and Adam knew his wife again ... dan Adam mengenal istrinya kembali. Mengenali istrinya kembali. Menghampiri istrinya kembali. Boleh saya pakai bahasa yang lebih luas, menawarkan kesempatan yang lain, menghampiri istrinya kembali. Menawarkan kesempatan yang lain. Adam mendekati Hawa dan menghampiri dia, menawarkan kesempatan yang lain. Menawarkan kasih lagi. Menawarkan "benih" untuk Hawa. 

Mari kita dengan pemikiran yang sederhana. Mungkin Hawa menolak pertama-tama, tidak mau. Nggak mau. Adam datang, tidak mau. Aku sudah sakit, aku sudah perih kehilangan Habel. Kalau dia mati karena sakit, tapi dia mati karena dibunuh. Dibunuh oleh anak sulungku, anak yang pertama ... yang aku dapat dari Tuhan, atas pertolongan Tuhan. Dia membunuh, kok dia bunuh Habel, darah dagingku sendiri. Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau. 

Tapi Adam menghampiri Hawa. Dia menawarkan kesempatan yang lain. Dia menawarkan kesempatan yang kedua. Mungkin Hawa bilang, tidak, saya tidak mau. Saya sudah patah, saya sudah kecewa. Saya sudah sakit, saya sudah grounded, saya sudah tidak mau lagi. Tidak mau lagi saya. Yesus digambarkan oleh Surat Korintus sebagai Adam yang terakhir. Gereja Tuhan - saya suka gambarkan - Hawa yang terakhir, Hawa yang kedua. 

Kapan Hawa dibuat? Ketika Adam rusuknya diambil, jadi Hawa. Kapan gereja dilahirkan? Ketika diatas Golgota, Yesus, Adam yang terakhir ditusuk lambungnya, keluarlah darah dan air. Saat itu gereja, saudara dan saya, Adam dan Hawa, Hawa yang kedua, saudara dan saya, dilahirkan. Amin? 

Mungkin di dalam jalan hidup kita ada berkali-kali kejadian-kejadian yang sudah menyakitkan hati kita. Dan berkata, ah sudah, saya tidak mau lagi. Ah sudah, saya sudah putus asa. Sudah tidak ada pengharapan lagi saya. Ah sudah, anak saya sudah tidak ada harapan lagi. Dia sudah terhilang, dia tidak akan kembali lagi. Saya tidak ada harapan lagi. Ah sudah, toko saya sudah down, sudah jadi mau dilelang sama bank. Tidak ada harapan lagi. Ah sudah, sudah, sudah, sudah. 

Tetapi berkali-kali Adam yang terakhir, Yesus, menghampiri Hawa, menghampiri saudara dan berkata menawarkan diri, kesempatan kedua, Aku akan memberkati yang lain. Aku akan memberikan yang lain. Aku akan memberikan benih yang lain. Aku memberikan cara yang baru. Dan kita tidak mau. Nggak usah lagi Tuhan, tidak usah. Saya tidak mau. Nggak usah. Cukup pahit pengalaman saya, nggak usah, nggak usah. Saya nggak mau dagang lagi, aduh. Jangan, jangan. Saya nggak mau toko itu lagi. Saya nggak mau perusahaan itu. Saya nggak mau lagi. 

Kita lihat ayat 25, Adam menghampiri pula istrinya lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya Allah telah mengaruniakan kepadaku anak lain sebagai ganti Habel itu yang sudah mati, yang sudah hilang. 

Saudara-saudara, bukan hanya Hawa yang kehilangan tetapi Tuhan juga kehilangan. Dan Dia tahu perasaan dari Hawa. Dia tahu perasaan dari Adam yang kehilangan. Dan Dia mengatakan, Hawa mengakui God is appointed  ... Set. Allah sudah menentukan. Allah sudah, kalau Allah disini, Allah sudah menentukan Set. 

Sebelum Adam mendekati Hawa, Allah sudah menyimpan Set untuk menggantikan Habel yang hilang. Disini Dia sudah siap Set untuk menggantikan Habel yang hilang. Saya katakan, Tuhan sudah punya Set untuk menggantikan Habel yang hilang. Tuhan punya sesuatu untuk menggantikan apa saja yang saudara hilang. Saudara yang ikut Family Camp gampang mengerti, yang tidak ... mungkin 50% mengerti. Apa keluarga di mata Tuhan? Air mata Adam, air mata Tuhan. Keluhan Adam, keluhan Tuhan. Set datang sebagai pengganti dari Habel. Betapa cinta besar Tuhan. 

Habis Family Camp, saudara, saya terima banyak sms. Satu gadis dari Jakarta, oom, persis saya pulang dari Family Camp, Tuhan kasih pekerjaan yang baru. Ada haleluyah, saudara? Langsung dia diterima bekerja. Saudara Joko, masih family kita, menantu dari Ci Uli. Dia baru tadi kirim sms. Dia sudah dengar khotbah ini di Jakarta hari selasa. Sebelum ke Family Camp, Tina istrinya itu kehilangan barang-barang di kantor. Dia terus tekad ikut family camp. Pulang dari family camp, dia dengar khotbah Set menggantikan Habel. Dia kirim sms tadi. Apa yang hilang diganti oleh asuransi. Biasanya asuransi mengganti apa yang hilang 100, diganti 100. Ini yang hilang 100, diganti 200. Jadi saya bukannya rugi, kehilangan, oom. Saya malah jadi keuntungan, mempunyai keuntungan. Ada haleluyah, saudara-saudara? 

Ada satu lagi bapa. Dia kirim juga sms. Setelah family camp, terima kasih oom. Suami saya dioperasi matanya, yang kata orang, waduh, sukar, sulit.  Mungkin bisa buta. Tetapi sukses. Tuhan mengganti Set untuk Habel yang hilang. 

Malam hari ini, nampaknya tidak ada yang bisa merampas berkat kita, saudara. Saudara punya uang ditipu orang? Ditagih susah? Biarin aja antepin. Kalau saya antepin aja. Tuhan ganti nanti, saudara-saudara. Lebih dari yang saudara hilang. Kok nggak percaya? Tuhan ganti lebih daripada apa yang saudara hilang. Kenapa? Karena Set dia punya anak, ada buahnya. Set punya anak, ayat 26, lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga, dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama Tuhan. Eh, yang pengganti Habel punya anak. Sama dengan opanya, suka sembahyang, suka berdoa. Habel yang digantikannya, doanya diterima sama Tuhan. Ini yang menggantikannya, Set, punya anak lagi satu, Enos. Suka berdoa. 

Ternyata ada hubungan, saudara, antara suka berdoa dan tidak hilang. Kalau saudara suka berdoa, tidak akan ada yang hilang dari saudara. Ada haleluyah, saudara-saudara? Mungkin hilang cuma pertama tapi beitu diganti, ini yang kehilangan diganti 200 % ini jaraknya kurang dari satu minggu. Luar biasa Tuhan. Saya baru pulang dari Jayapura, tiga hari KKR. Belum pernah saya KKR seperti ini. KKR nya ditengah-tengah kota, di alun-alun, di taman kota, disitu. Jadi karena Jayapura ini seperti kobokan. Jadi ini Sentani, turun, turun, turun, kota Jayapura. Dari Angkasa Pura, turun, turun, turun, Jayapura. Bikin disitu, di tengah kota. Pertama saya ngeri juga, karena saya lihat, bawahnya aspal. Jadi itu panggung dibikin diatas aspal. Yang ada kursi cuma berapa saja, yang lain itu duduk di taman saja. Heran luar biasa. Orang berjubel, berjubel, berjubel, berjubel. 

Hari pertama baik. Hari kedua seminar. Belum pernah banyak seperti ini, katanya seminar. Biasanya seminar cuma 100 orang. Ini sampai 500 orang ikut. Hari ketiga seminar, hujan deras. Tapi orang tidak absen, mereka datang terus. Lalu pas mau KKR hujannya berhenti. Yang banjir di tempat lain. Ditempat kita kebaktian tidak banjir. Waktu pulang, saudara, disebelah saya ini ada orang. Satu anak muda dikirim oleh departemen perhubungan untuk menjajaki apa bisa di Jayapura ini ada kereta api. Wah, nampaknya susah ya, pak yah, karena harus bikin terowongan terus sepanjang Jayapura. Ngomong, ngomong, ngomong. Bapa bisnis apa? Saya pendeta. Oh pendeta, dari mana? Dari Cianjur. Kalau disini dalam rangka apa, pak? Saya dalam rangka diundang kebaktian. Oh, di gereja apa, pak? Yah, saya diundang, yang ngundang gereja Pantekosta. Cuma tadi malam, tiga hari, saya tuh kebaktian di taman kota. Oh, yang di taman kota itu, pak? Saya ada, pak. Saya ikut, pak. Saya susah sekali cari tempat duduk, pak. Di emper-emper toko saya cari nggak ada. Susah. Dan saya senang dengan pemberitaannya. 

Sudah itu saja. Dia orang islam. Berarti Injil sudah masuk di telinga-telinga orang islam. Ada haleluyah, saudara? Yang buka walikota. Walikota bilang begini sama panitia, saya cuma buka saja ini kebaktian. Setelah buka, saya terus cabut, karena ada Surya Paloh sedang kampanye Golkar disana. Saya musti nemenin di gedung negara, Surya Paloh. Dia datang ini, dia kasih sambutan, dia mau duduk dulu 5 menit, katanya. Setelah saya khotbah, nanti diem-diem jalan. Dia lima menit, dia dengar khotbah, terus 10 menit, 15 menit, setengah jam, satu jam, satu jam setengah, sampai kebaktian selesai, Surya Paloh ditinggalkan saja, saudara. Karena siapa? Yesus lebih menarik dari pada Surya Paloh. Ada haleluyah, saudara? 

Kembali kepada Firman Allah, Tuhan punya Set menggantikan Habel saudara yang hilang. Apa Habel saudara malam ini? Usaha yang hilang? Kesempatan yang hilang? Pekerjaan yang hilang? Uang yang hilang? Kekayaan yang hilang? Atau manusia yang hilang? Anak yang hilang? Semuanya? Tuhan punya gantinya. Dia punya Set. 

Ini saya tidak bernubuat. Tetapi mungkin juga bernubuat. Tuhan sedang mencari-cari, siapa umatnya yang sedang kehilangan Habel. Pak pendeta, mungkin di hati saudara, ... saya kehilangan kasih sayang suami saya. Tuhan kembalikan. Saya kehilangan kasih sayang istri saya. Tuhan kembalikan. Saya kehilangan kasih sayang anak saya. Tuhan kembalikan. Saya kehilangan kasih sayang orang tua saya. Tuhan kembalikan. Dia punya Set. Set, dan arti nama Set, berkat pengganti. Atau pengganti berkat. Saya dikuatkan oleh kesaksian bapak Joko, yang hilang 100, yang diganti bukan 100, diganti 200. Ini Tuhan. Kita lihat Markus pasal 10. Dalam Markus pasal 10, kita tidak akan berlambat-lambat dengan ayat ini. Markus

10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" 

Segala sesuatu sudah hilang karena ikut Engkau. Petrus bilang, kami ini telah meninggalkan segala sesuatu, sudah kehilangan semuanya, dan kami mengikut Engkau. Yah, agak-agak nyesel sedikit. Hai, apa kata Yesus, 

10:29 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, - Saya mau minta ijin saudara, dalam khotbah ini saja, kata meninggalkan saya ganti kehilangan. Hanya untuk menghubungkan dengan khotbah ini -  saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, 
10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali - Kok nggak ada haleluyah?  Menerima gantinya kembali - seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. 

Ada haleluyah, saudara-saudara? Ada amin? Maka saudara jangan takut korban. Jangan takut, jangan kopet. Jangan medit. Disana ada satu penyanyi, gadis, masih 14 tahun. Namanya Ida Meles, orang Irian. Memang hitamnya hitam meles. Ida Meles. Baru rekaman di Jakarta. Tapi tiga kali dia menyanyi untuk Tuhan. Aduh, suaranya tinggi sekali, suaranya bagus sekali. Waktu saya jabat tangan, ya ampun kecil amat badannya. Tapi Tuhan pakai. Dia nggak sayang kasih suaranya untuk Tuhan. Dia nggak minta bayaran. Dia kasih. Saya tahu dan saya yakin dia nyanyi sungguh-sungguh hati. Dia nyanyi. Maka saya tidak heran kalau saya dengar nanti di hari depan, dia keponakannya Edo Kondolongit. Ini keponakannya, perempuan. Saudara-saudaraku, saya tidak heran dia diberkati Tuhan. Karena dia nyanyi untuk Tuhan. Begitu dengan segenap hati, begitu dengan sungguh-sungguh. Haleluyah. Berkat luar biasa. 

Yang ngundang saya makan malam terakhir, pendeta GBI. Panitianya GPdI. Nggak bisa dari dulu sampai sekarang juga GPdI sama GBI bisa bareung-bareung pendetanya. Susah. Tapi ini kok pendetanya kok ngundang makan, dan GPdI nya mau. Ada satu pendeta lain, lain lagi, sedang ribut-ribut mau juga kirim dua anaknya makan, sama-sama saya. Orang bertanya-tanya, kok pak Awondatu mau makan disitu, pendeta GBI? Mereka baru tahu, pendetanya murid SAC, angkatan I dan angkatan V, Barnabas Mangiding, saudara-saudara, ngundang makan malam. Oh ini kenapa dia masuk GBI? Sebab dulu dia mau buka gereja GPdI, Majelis Daerah bilang tidak boleh. Jadi dia masuk GBI. Sekarang sedang bangun gereja. Tahun depan ditahbiskan. Mau ngundang saya lagi. Saudara-saudara, Tuhan pegang Set, berkat pengganti. Tidak akan ada yang hilang dari saudara. Tidak akan ada yang hilang. 

Siapa yang karena Injil dan karena Aku meninggalkan rumah, meninggalkan saudara laki-laki, meninggalkan saudara perempuan? Haleluyah. Meninggalkan sawah, meninggalkan ladang, karena Aku, di dunia juga, nggak usah di surga, di dunia, Aku ganti 100 kali lipat. Walaupun ada aniaya, tetapi Aku akan ganti 100 kali lipat. Saudara, belajar dong kalau bicara berkat itu, saudara bilang amin, haleluyah. Karena kalau nggak ngomong, nggak sampe sama saudara. Belajar. Biasakan, amin, haleluyah, gitu. Karena kalau nggak ngomong, nggak sampe. 

Jadi saudara, Tuhan mau kasih 100 kali lipat berkat. Kembali lagi kepada Firman Allah. Kita tidak usah antri beras. Waduh, katanya, saya lihat di televisi di Jayapura, di Jakarta orang salat katanya seribu orang, minta hujan. Orang Cianjur mah nggak minta-minta hujan, deras sekali hujannya, kata bapa Onesimus, sampai nggak ada setrum hari kamis yang lalu. Karena apa? Karena ada anak Tuhan. Tuhan punya hujan buat saudara. 

Yang di Jayapura nggak usah minta-minta hujan, datang hujan. Malah pendeta-pendetanya bilang, Tuhan jangan hujan dulu, Tuhan jangan hujan dulu ... karena ada KKR. Saudara-saudara, Tuhan punya berkat pengganti. Ada haleluyah, saudara? Dia selalu punya berkat pengganti yang lebih baik dari pada yang hilang. Yang lebih baik dari yang tidak ada. Itu ada pada tangan Tuhan. 

Saya mau tutup dengan satu ayat. Untuk supaya saudara lebih mengerti bahwa Tuhan mempunyai berkat pengganti yang lebih luar biasa, yang lebih hebat, yang lebih indah, yang lebih berkuasa, yang lebih dari segala yang ini - berkat pengganti! Kita mau lihat dulu Ayub pasal yang terakhir. Ayub pasal 42 ayat 2,

42:1 Maka jawab Ayub kepada TUHAN: 
42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. 
42:3 Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. 
42:4 Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. 
42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. 
42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu." 

Ayub minta maaf, karena sudah salah ngomong tentang Tuhan. Ayat berikutnya,  

42:7 Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. 
42:8 Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." 
42:9 Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub. 
42:10 Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. 
42:11 Kemudian datanglah kepadanya semua saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia uang satu kesita dan sebuah cincin emas. 
42:12 TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba - dulu tujuh ribu -, dan enam ribu unta - dulu tiga ribu -, seribu pasang lembu - dulu lima ratus -, dan seribu ekor keledai betina - dulu lima ratus -. 
42:13 Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan; 
42:14 dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh. 
42:15 Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki. 
42:16 Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. 
42:17 Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.

Bahasa Indonesia lama, dengan sepuas-puas umurnya, Tuhan memberkati dia lebih dari yang dulu. Tuhan punya berkat pengganti. Saya tadi katakan, dari Kejadian ... ada hubungan antara Set dengan Enos. Berkat pengganti dengan doa! Ayub diberkati setelah dia berdoa. Setelah dia berdoa, memaafkan saudara-saudaranya, teman-temannya, nggak ada kepahitan, nggak marah - justru Tuhan buka pintu surga, dikasih berkat. Orang kasih cincin emas, orang kasih piring emas, orang kasih kekayaan, lalu anak-anaknya semua sepuluh-sepuluhnya dapat harta milik pusaka. 

Sekarang saudara, cuma anak lelaki yang dapat warisan. Anak perempuan nggak dapat. Karena anak perempuan menikah nanti dapat dari suaminya. Tapi anak Ayub, nggak laki, nggak perempuan ... semua dapat. Betapa kayanya Ayub. Ayub pasal 1 dimulai ada orang yang paling kaya di daerah itu namanya Ayub. Sekarang Ayub terakhir, dua kali lipat kayanya. Nggak disebut lagi paling kaya, udah lagi satu kali lipat aja udah disebut paling kaya. Sekarang Tuhan bikin dia dua kali lipat. Maka saudara kalau lagi ada kehilangan, ada kerugian, jangan takut. Tuhan punya Set menggantikan Habel. Kita berdiri bersama-sama.  

-- o --   

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________