KHOTBAH RABU JANUARI - FEBRUARI 2008

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Rabu, 13 Februari 2008

JANGAN JUAL BELI DENGAN TUHAN

Selamat sore, selamat berbakti dalam nama Tuhan Yesus. Kita lihat bagian terakhir dari Lukas

19:45 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,
19:46 kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."
19:47 Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia,
19:48 tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Kita mendapat perikop atau cerita pendek mengenai Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah. Dalam bahasa Inggris, Tuhan Yesus membersihkan Bait Allah.

Dalam cerita membersihkan Bait Allah, di dalam Injil ditulis dua kali. Jadi dua kali Yesus membersihkan Bait Allah.

Kali yang pertama, Dia membuat pecut atau tali, dan dia pukul itu pedagang-pedagang dengan tali; Dia tendang itu meja dan terbalik itu meja. Dia hamburkan uang-uang yang tukar uang itu dan Dia berkata: Robohkan Bait Allah ini, Aku akan membangunnya kembali dalam tiga hari. Itu orang Yahudi marah.

Tetapi ternyata mereka tidak bertobat. Mereka kembali mengadakan jual beli di dalam Bait Allah.

Jadi datanglah ayat ini yang kita baca, Dia mengusir. Di sini Dia tidak memakai pecut, Dia tidak menendang, Dia tidak membalikkan meja tetapi Dia mengusir. Dalam bahasa Inggris, memakai kata mendorong, menuntun, menyeret orang-orang keluar, keluar, keluar, kamu tidak boleh jualan di sini. Diseret keluar.

Kita akan melihat beberapa pelajaran.

Yang pertama, manusia itu bandel.

Dan yang disebut manusia bandel ini bukan orang dunia, bukan orang yang belum percaya Tuhan tapi justru mereka yang disebut umat Tuhan, orang-orang Israel, orang-orang Yahudi. Sampai dapat gelar oleh Tuhan, bangsa yang keras tengkuk. Artinya lehernya keras, susah nengok.

Di dalam ayat yang lain, orang Israel disebut kekasih Allah, disebut anak kesayangan Tuhan ... yang didukung oleh sayap burung Nasar. Biji mata Tuhan! Hebat nggak, saudara? Hebat. Umat pilihan Allah. Kekasih Tuhan. Bangsa pilihan Tuhan. Biji mata Tuhan. Harus ditambah satu lagi: Bandel. Ini orang Israel yang kita ngomong, bukan saudara.

Kenapa saya bilang bandel? Itu orang Israel kalau bikin salah bukan sekali. Berkali-kali. Dia selalu berbuat jahat; apa yang di hadapan Tuhan tidak dikehendaki, dia bikin jahat, dia bikin berkali-kali. Jadi sekarang saya mau belajar ngerti, orang itu susah dikasih ngerti karena memang udah dari sononya memang begitu. Kita buka dulu kitab Hakim-hakim. Kita mulai dengan Hakim-hakim

3:7 Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera.
3:8 Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, sehingga Ia menjual mereka kepada Kusyan-Risyataim, raja Aram-Mesopotamia dan orang Israel menjadi takluk kepada Kusyan-Risyataim delapan tahun lamanya.

Lihat keras kepalanya dari orang Israel. Saya mau tanya sama saudara: Ditolong Tuhan nggak? Ditolong. Tetapi ayat 12, ayat 11 itu bilang aman loh. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun. Nah, ayat 12,

3:12 Tetapi orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; lalu Eglon, raja Moab, diberi TUHAN kuasa atas orang Israel, oleh sebab mereka telah melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Ayat 14,

3:14 Delapan belas tahun lamanya orang Israel menjadi takluk kepada Eglon, raja Moab.

Akhirnya mereka minta ampun, lalu Tuhan ampuni. Yang pertama berapa tahun tadi? Delapan tahun. Yang kedua? Delapan belas tahun. Jadi tambah lama, ya. Dalam Hakim-hakim 

4:1 Setelah Ehud mati, orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN.
4:2 Lalu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan, yang memerintah di Hazor. Panglima tentaranya ialah Sisera yang diam di Haroset-Hagoyim.
4:3 Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, sebab Sisera mempunyai sembilan ratus kereta besi dan dua puluh tahun lamanya ia menindas orang Israel dengan keras.

Yang pertama berapa tahun? Delapan tahun. Yang kedua? Delapan belas tahun. Yang ketiga? Dua puluh tahun. Itu nggak belajar-belajar itu orang Israel, selalu balik lagi kepada yang jahat. Di dalam Hakim-hakim 13, itu zaman Simson dilahirkan. Kita membaca hal yang sama. Ayat 1,

13:1 Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.

Saya mau ulangi dari pertama. Pertama berapa tahun? Delapan tahun. Kedua? Delapan belas tahun. Ketiga? Dua puluh tahun. Keempat? Empat puluh tahun. Lihat, nggak belajar. Maaf, saya harus ngomong ini. I Korintus 10 berkata, apa yang terjadi kepada orang Israel, itu contoh, teladan bagi kita orang yang hidup pada zaman sekarang. Jangan sampai kita bandel. Merasa diri tahu firman Allah, merasa diri sudah jago, nggak perlu pendeta lagi, nggak perlu nasehat, sudah tahu. Inilah kesalahan dari orang Israel.

Sampai kepada zaman Yesus - kita kembali kepada Lukas -, ayat 45, kedua kali Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ. Kata pedagang itu nggak enak. Tapi dalam bahasa Inggris, yang membeli dan menjual. Yang membeli dan menjual. Jualan di dalam rumah Tuhan. Kalau di dalam Yohanes 2, mereka jualan di halaman Bait Allah. Ini sudah di dalam Bait Allah. Membeli dan menjual. Dari kata membeli, kita tahu mereka punya cukup uang. 

Maaf kalau saya katakan, sering kali kita datang kepada Tuhan tidak dengan hati yang terbuka, tidak dengan hati yang rendah. Sampai firman Allah katakan itu mah bukan firman Allah, itu mah firman si Yoyo. Hatinya tertutup, hatinya tidak dibukai Tuhan. Jadi mau dengar firman Allah yang mana? Yang enak di kuping, yang mengelus-ngelus. Makan saja pakai sambel. Lebih pedas sambelnya lebih semangat makan. Kenapa kalau makan musti pakai sambel, kalau khotbah pengen yang manis-manis? Musti bubur tepes. Udah pisang, musti dikerokin pakai sendok, musti disuapin.

Bubur aja musti bubur hokian, yang kaya air. Nggak mau yang keras-keras. Kita datang ke gereja untuk membeli dan menjual. Kalau makanannya baik, suka, saya beli, saya terima. Tapi kalau makanannya tidak saya suka, saya jual, saya tidak mau terima. Kenapa orang menjual? Karena dia tidak butuh lagi Tuhan. Kenapa saudara beli? Karena saudara membutuhkan itu.

Amsal 23:23 berkata: Belilah kebenaran, jangan jual. Firman Allah itu kebenaran. Menurut Yohanes 17:17, kalau saudara sudah berani menolak firman Allah, saudara menolak pembicaranya. Dan ini dilakukan oleh orang Yahudi. Semua yang diutus untuk membawa firman Allah, dibunuh. Kita lihat Matius

23:34 Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota,

Jadi saudara lihat, Tuhan mengirimkan nabi-nabi 100%. Mengirimkan orang bijaksana, mengirimkan ahli-ahli Taurat, 50%nya, separuhnya, dibunuh. Lalu yang lain akan disesah, disiksa, di mana? Di dalam rumah ibadat.

Jadi, lebih dari 50% firman Tuhan itu ditolak. Dengan cara menolak orang yang membawa. Justru dianiayanya bukan di luar gereja ... di dalam gereja. Penganiayaan untuk gereja bukan datang dari agama lain - datang dari orang kristen sendiri. Disesah, disiksa. Dia jadi pendeta tapi disiksa, luka batin terus. Menggembalakan domba yang bertanduk, yang bandel-bandel.

Satu pendeta dari Amerika, dia bilang: Aduh, Tuhan kok sabar benar, ya. Yang lain dianiaya dari kota ke kota. Saya nggak suka ini pendeta, pindahin aja. Pindah ke kota lain. Di sana nggak disukai. Saya nggak suka ini pendeta, pindahin aja, tendang aja. Dianiaya dari kota ke kota. Siapa yang nganiaya? Orang sendiri.

Siapa yang menyerahkan Yesus? Yudas, murid sendiri. Bendahara. Siapa yang suka ngomongin pendeta? Jemaat. Kembali kepada Lukas.

Di dalam ayatnya yang 45 tadi, mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ yang membeli dan menjual. Tadi saya sudah cerita yang pertama. Sekarang yang kedua.

Membeli dan menjual seperti ini. Saya mau memberi kepada Tuhan supaya saya diberi oleh Tuhan. Memang ada ayatnya. Ada ayatnya. Kalau engkau memberi, engkau akan diberi. Ada ayatnya. Tetapi jangan kita berkata, saya mau memberi untuk diberi. Kalau ada yang ngomong korban itu nggak sakit, bohong. Korban itu sakit. Saya mengalami sendiri. Jadi korban itu harus ada kehilangan. Itu pahlawan. Pahlawan itu harus ada yang hilang dari dirinya. Hidupnya hilang, kesempatannya hilang.

Bung Karno itu masa mudanya hilang. Semua dipakai untuk perjuangan. Dia baru jadi presiden umur empat puluh lima tahun. Waktu mudanya dia berjuang, belajar, masuk keluar penjara. Nah, itu kita sebut pahlawan. Satu wanita dari Sumatera, dia masuk satu daerah. Masuk harus naik kapal empat jam. Masuk lagi ke situ. Dia mengajar anak-anak sekolah yang tidak ada punya sekolah, yang nggak bisa bayar uang sekolah, nggak ada gedung sekolah. Dia memberi hidupnya. Itu pahlawan.

Jadi jangan kita memberi untuk diberi. Beri itu korban. Beri itu hilang. Beri itu kita harus ikhlas. Kalau kita memberi tapi nggak ikhlas, jangan memberi. Lamun pendeta na datang ka imah saya, karak saya daek ka gereja. Itu jual beli. Sama. Dia nggak akan bisa ngerti, gembala itu banyak kesibukan. Tidur aja paling empat, lima jam.

Apa yang terjadi, saudara-saudara? Kita sering memaksakan Tuhan, ikut saya punya kehendak. Tapi kalau kita nggak mau ikut kehendak Tuhan. Ini juga jual beli. Tuhan berkati saya, kalau tidak, awas. Ini juga jual beli. Ada yang pernah ngancam Tuhan begitu? Tuhan berkati saya, kalau nggak, awas. Ada? Berani gitu, langsung mangpet hidungnya, mati. Jangan, kita nggak boleh. Kita tidak boleh jual beli dengan Tuhan. Apa kata firman Allah? Wahyu

3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
3:18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

Kita harus membeli dari Tuhan. Tapi jangan pernah jual sama Tuhan. Itu yang ke Gunung Kawi kan semua jual beli. Saya jual nih jiwa saya. Mau jadi monyet, mau jadi babi, terserah. Saya jual. Anak saya mati nggak apa-apa. Saya jual jiwa saya asal saya dikasih kaya. Setan pun tahu jual beli. Maka hati-hati, ya.

Kembali kepada Lukas 19:46, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Saya mau gambar satu rumah, ya. Kita buka I Korintus

3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?
3:17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

Saudara dan saya disebut rumahnya Tuhan. Rumah-Ku, kata Tuhan. I Korintus

6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

Jangan berani bilang: Saya punya badan, saya punya sendiri. Yang kawin saya, yang dagang saya, yang jalan-jalan saya, yang mau ke mana saya. Kumaha urang, we. Saudara bukan milik saudara sendiri. Tubuh kita milik Tuhan.

Yang ketiga, II Korintus

6:16 Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Perhatikan itu ayat yang terakhir. Sampai saudara sadar bahwa tubuh kita adalah bait Allah. Saya ulangi, sampai kita tahu dan sadar bahwa tubuh kita adalah bait Allah, baru kita bisa menjadi umat-Nya Tuhan.

Yang keempat, I Petrus

2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat - Saudara milik siapa? Milik Tuhan. Jangan susah-susah, jangan sedih-sedih. Saudara milik Tuhan. Tidak boleh ada yang korek-korek kita, dia akan mengorek Pemiliknya - milik kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Saya mau tanya: Saudara girang nggak jadi umat Tuhan? Girang nggak bahwa rumah Tuhan ini adalah tubuh kita sendiri? Dulu waktu saya ingin punya motor, nggak bisa beli. Teman saya di Bandung: Sudah bawa ini motor, bawa. Ko Yoyo, bawa dah ke Cianjur. Saya nitip di Cianjur. Ya, kalau nggak bawa, coba tuh di situ. Enak nih motornya. Coba, coba. Nggak mau. Karena saya tahu ini bukan milik saya. Kalau ada apa-apa, kalau umpamanya saya jatuh sampai cacat motornya. Musti ganti karena bukan milik saya. Nggak ah saya nggak mau.

Sekarang tubuh kita bukan milik kita. Siapa punya? Maka kita musti hati-hati. Rumah-Ku, kata Tuhan, akan disebut rumah doa. Kembali kepada Lukas, akan disebut rumah doa. Di dalam bahasa Ibrani adalah tehilla, rumah pujian, rumah doa.

Maaf, doa ini bukan doa orang Farisi yang penuh dengan kesombongan. Doa orang Farisi itu nyindir sama orang. Dia berdoa sama Tuhan tapi doanya nyindir sama orang. Dia merasa penuh dengan diri sendiri. Dia merasa paling benar, dia merasa paling hebat, dia merasa luar biasa. Bahkan doanya nyindir sama orang, ya. Hati-hati kalau berdoa jangan sampai saudara berdoa nyindir orang. Doa itu antara kita dengan Tuhan. Kita buka dulu Lukas

18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar ...

Kata dirinya benar, di dalam bahasa Inggris nggak ada. Tapi dalam bahasa Inggris, kepada orang yang menganggap, yang mempercayai diri sendiri. Banyak kan orang dunia kalau ngomong pokona urang kudu percaya diri sendiri. Urang kudu percaya diri sendiri. Nah, ini nih ayat buat mereka. Percaya kepada mereka sendiri bahwa mereka itu benar, menganggap salah orang lain.

Sekarang ini zaman modern, ada jemaat yang merasa diri benar, pendeta salah. Hamba Tuhan salah, saya benar. Nggak tahu dia pakai Alkitab cetakan mana. Cetakan Cikalong barangkali. Kalau alkitabnya sama dengan alkitab saya, yang bener itu adalah Tuhan. Manusia kan banyak kekurangan.

Nah, lihat ini doanya. Ayat 10,

18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. - Perhatikan doa orang Farisi. yang suka nyindir orang lain, membenarkan diri sendiri:
18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini - Dia nggak ngomong di mulut - : Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; - Karena pemungut cukai lagi berdiri di luar, lagi sembahyang -. Tuhan, saya tidak seperti dia itu. Berikutnya : -
18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Saya mau baca dari salinan bahasa Indonesia lama. Menarik sekali sebab bahasa Indonesia lama lebih dekat dengan bahasa orang Cianjur. Saya orang Cianjur, kita semua orang Cianjur, lebih dekat. Ayatnya yang ke-10, bunyinya begini: Bahwa adalah dua orang naik masuk ke bait Allah hendak berdoa. Yaitu yang seorang ialah orang Farisi dan yang lain seorang pemungut cukai. Maka berdirilah orang Farisi itu serta berdoa di dalam hatinya demikian: Ya Allah, aku ucapkan syukur kepada-Mu sebab aku bukannya sama seperti orang lain, yaitu orang perampas, orang lalim, orang berzinah atau seperti pemungut cukai ini. Bukan doa itu yang diinginkan oleh Tuhan. Ayat 13, ada doa yang lain.

18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Jadi di hati kita itu selalu ada doa yang seperti itu. Sebab tubuh kita adalah bait Allah. Jadi doanya harus sesuai dengan Allah. Tidak boleh mau-maunya kita. Apa tadi pagi saudara berdoa: Biarlah hari ini saya dipenuhi belas kasihan-Mu. Karena tanpa belas kasihan Tuhan, kita nggak bisa masuk sorga. Kita hanya bisa dapat belas kasihan Tuhan, mari kita dapat istirahat dari Tuhan.

Sekarang kita kembali lagi kepada Lukas 19. Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Ini diambil dari kitab nabi Yesaya 56:7, sama bunyinya. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."

Dalam bahasa Inggris, den of thief. Den itu gua; di dalamnya banyak pencuri-pencuri, thieves. Beda sekali gua dengan rumah. Di dalam rumah ada terang. Di dalam rumah ada makanan. Di dalam rumah ada kasih. Di dalam rumah ada saling care satu dengan yang lain. Di dalam rumah ada saling mendukung, saling membutuhkan. Di gua? Di gua tidak ada potongan rumah. Di gua itu siapa yang paling terkenal suka tinggal di gua? Saudara sendiri nggak tahu siapa yang tinggal di gua. Ali Baba dengan empat puluh penyamun, itu cerita Ali Baba.

Tuhan nggak mau kita jadi Ali Baba. Tuhan mau kita diam di rumah. Di gua itu tidak ada. Yang suka di gua, di dalam alkitab, siapa? Daniel. Daniel dimasukkan ke gua singa. Tutup. Guanya itu ke bawah. Ditutup, dikunci. Tapi Tuhan pelihara. Lalu Tuhan bilang, serigala ada lobangnya. Lobang serigala di mana? Di gua. Tempat serigala itu di gua. Burung di udara ada sarangnya. Kita musti belajar. Saya belajar sedikit sekarang. Saya minta ampun sama Tuhan. Saya belajar sedikit sekarang bahwa gigi kita manusia sama dengan gigi apa di binatang?

Saudara pernah lihat kucing makan kangkung? Pernah saudara lihat harimau makan terong? Beruang makan daun gedang ... pepaya? Apa saudara pernah lihat sapi makan kelinci? Sapi sama dengan kita, giginya rata. Yang dia makan itu rumput. Kita manusia seperti sapi. Makan harus banyak rumputnya. Kalau kita jadi seperti harimau, makan daging. Nggak cocok. Tetapi kalau sayuran cocok menurut saya. Tapi lihat, Tuhan menciptakan gigi kita bukan untuk makan yang mentah-mentah, yang robek-robek.

Jadi kalau kita lihat, apa makanan utama orang Israel? Roti. Apa makanan utama orang Tiongkok? Bapao. Sama apa? Bubur. Apa makanan utama orang Jepang? Tahu, tempe. Beda antara gua dengan rumah.

Tuhan lihat, kok ini rumah-Ku mustinya Aku datang kamu lagi berdoa, Aku datang kenapa kamu lagi ngerumpi? Aku datang kamu lagi jual beli. Suka ada yang jual beli cerita. Dosa sekali kita belum tahu duduk perkaranya, udah cerita duluan. Cerita duluan. Aduh, cerita duluan.

Empat tahun lalu, ada satu pendeta ngomong sama saya: Saya dengar brur Rompas stroke, betul brur? Nggak tahu. Tapi deg-degan juga. Pulang, saya telepon: Halo, ada oom Rompas? Cageur oom? Cageur. Sehat? Sehat. Puji Tuhan. Pendeta Rewas stroke. Betul brur? Saya cek lagi. Nggak stroke, sehat. Omongan teh begitu. Saya ditelepon dari Kalimantan: Halo oom, ini saya ini eks angkatan ini. Iya, kenapa? Katanya oom meninggal? Masa meninggal saya bisa ngomong? Aduh, di sini pendeta ngomong oom meninggal, katanya.

Ada satu lagi orang Batak dari Bekasi. Dia bekas sopir di Yayasan. Telepon. Oom, baik? Baik. Ini oom lagi berdiri apa lagi duduk? Memangnya kenapa? Katanya di kursi roda. Ah, kamu macem-macem saja. Aku lagi berdiri terima telepon ini. Oh ya, terima kasih. Dari Manado datang sendiri pendetanya ke sini: Brur, katanya di Manado sudah tersiar brur sudah duduk di kursi roda, brur sudah Parkinson. Itu omongan teh gitu. Jahat. Itu bukan orang dunia ... pendeta. Maka jangan kita ngomong dulu kalau belum tahu ceritanya. Menghakimi dulu, nggak tahu duduk perkaranya.

Kalau kita ambil batu, lempar ke sepuluh anjing. Yang kena anjing itu, yang ngeguik. Saya kalau khotbah, kalau ada yang marah sama saya, dia kena khotbah itu. Ngaguik. Jadi saya mah tenang saja.

Tiba-tiba lompat kepada ayat 47, jauh berbeda. Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Ini yang saya minder kalau baca ini. Saya lebih kurang enam puluh kali dalam satu bulan. Tapi khotbah ini tiap-tiap hari, Dia mengajar di dalam bait Allah. Rumah Allah itu apa? Kita sendiri.

Kalau saudara peka kepada Roh Kudus, saudara akan dengar Yesus mengajar tiap-tiap hari di dalam hati. Dia akan mengajar apa yang kita harus lakukan, kemana kita harus pergi, apa tindakan kita. Dia akan ajar. Asal kita peka. Terkadang kita lagi makan, kita tahu, Dia ngomong. Kadang kita lagi stir mobil, Dia ngomong. Betapa Hebat kuasa-Nya ... itu Tuhan kasih saya lagi naik mobil. Saya tidur di mobil dari Jakarta. Tiba-tiba itu lagu di kuping sebelah kiri. Terus saya ikut nyanyi. Sampai di rumah catat. Jadi lagu itu.

Kalau kita peka, kita dengar kata-kata. El Shaddai, waktu saya mau tidur. Saya dengar lagu Tak usah ku takut. Saya ambil patlot, pensil, tulis. Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia.

Siapa yang mau membunuh Tuhan? Orang terkemuka, tokoh-tokoh agama. Dia mau membinasakan Tuhan. Tuhan salah apa? Dia mengajar firman Allah. Dia hanya memperbaiki. Tapi karena manusia itu bandel ... dinasehati, marah; dinasehati, mau bunuh.

Itu roh orang-orang zaman sekarang. Roh akhir zaman. Nggak boleh dinasehati. Nggak boleh, nggak bisa terima kalau dinasehati. Ngelawan, ngejawab bahkan mau membunuh. Lihat Yohanes Pembaptis. Dia beritakan kebenaran. Herodes saja tidak berani membunuh. Tapi Herodiah, tersinggung dia. Dia bikin acara ulang tahun. Ketika anaknya menari, menyenangkan papanya, papanya bilang, kamu minta apa, papa kasih karena ini ulang tahun papa. Saya minta kepala Yohanes Pembaptis. Kepalanya ditaruh di pinggan, ditaruh di tatakan, dibawa. Ini Yohanes Pembaptis. Nyesal itu Herodes. Kalau dipotong, nggak bisa bicara lagi dong. Ini leher, bicara itu dari leher. Kalau dipotong, dia tidak bisa bicara lagi.

Saudara-saudara, cintailah firman Tuhan. Cintai pembicaranya. Cintai Sumbernya, yaitu Tuhan.

Ayat terakhir. Tetapi mereka tidak tahu bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Saudara dan saya adalah bagian dari orang-orang yang terpikat oleh Dia. Amin? Kita meninggalkan rumah untuk duduk di kebaktian karena kita terpikat.

-- o -- 

Rabu, 27 Februari 2008

HAL OTORITAS

Kita lanjutkan pelajaran kita dari Injil Lukas. Kita sama-sama melihat Injil Lukas

20:1 Pada suatu hari ketika Yesus mengajar orang banyak di Bait Allah dan memberitakan Injil, datanglah imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta tua-tua ke situ,
20:2 dan mereka berkata kepada Yesus: "Katakanlah kepada kami dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu, dan siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu!"
20:3 Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan suatu pertanyaan kepada kamu. Katakanlah kepada-Ku:
20:4 Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia?"
20:5 Mereka mempertimbangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Mengapakah kamu tidak percaya kepadanya?
20:6 Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, seluruh rakyat akan melempari kita dengan batu, sebab mereka yakin, bahwa Yohanes adalah seorang nabi."
20:7 Lalu mereka menjawab, bahwa mereka tidak tahu dari mana baptisan itu.
20:8 Maka kata Yesus kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."

Saudara-saudara di dalam kehidupan kita, banyak sekali kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan hidup, pertanyaan bagaimana kita menghadapi orang mati? Bagaimana kita kalau mati nanti masuk dalam sorga apa tidak? Bagaimana saya harus hidup? Bagaimana ini, bagaimana itu? Seribu satu macam pertanyaan terjadi juga di antara manusia.

Dan saya ingin beritahu, tidak semua pertanyaan itu pertanyaan yang membawa berkat. Tidak semua orang bertanya itu karena belum tahu. Kebanyakan mereka bertanya untuk mencobai. Ada yang mau bertanya menaruh jaring di depan kita. Sebab kalau kita jawab, kita salah, terus ditangkap perkataan kita.

Kita mau belajar dari Tuhan Yesus bagaimana caranya menjawab orang yang bertanya dengan jebakan. Dikatakan di sana: Pada suatu hari.

Di dalam bahasa Inggris tidak dipakai kata suatu hari tetapi: Ini terjadi dalam satu dari banyak hari-hari. Kejadian ini terjadi pada satu dari banyak hari-hari. Maksudnya, cerita yang kita sedang pelajari ini terjadi hanya pada satu dari banyak hari-hari dari Tuhan Yesus. Hari-hari dari Tuhan Yesus dihabiskan untuk menolong orang, berbuat baik, menyembuhkan banyak orang.

Kita buka dulu Kisah Rasul 10 sebab ini Kisah Rasul ditulis oleh Lukas juga. Kisah Rasul 10, kita lihat apa yang dikerjakan pada hampir setiap hari dari Tuhan Yesus. Ayat 38,

10:38 yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.

Amin? Jadi kehidupan mayoritas hari-hari yang Yesus lakukan setiap hari, dari usia Dia yang cuma tiga setengah tahun dalam pelayanan-Nya. Dari umur tiga puluh tahun sampai umur tiga puluh tiga setengah, hari-hari-Nya penuh dengan perbuatan baik untuk orang lain: Menyembuhkan orang sakit, menghibur orang susah, membangkitkan orang mati, menolong orang yang memerlukan pertolongan. Itulah.

Kalau kita kembali kepada Lukas, cerita ini - Lukas 20 - adalah pada satu hari dari banyak hari-hari yang ada pada Tuhan Yesus.

Kejadian ini terjadi pada satu dari banyak hari-hari ketika Ia mengajar orang-orang di dalam Bait Allah dan memberitakan atau khotbah Injil. Jadi perlu saudara perhatikan. Yang pertama Yesus kerjakan itu di dalam pasal 20 itu mengajar. Baru yang kedua dikatakan memberitakan. Bahasa Inggris, preaching ... berkhotbah. Coba saya mau tanya, kalau menurut saudara, yang lebih penting mengajar atau berkhotbah? Mengajar. Sebelum Dia berkhotbah, Dia mengajar. Yang saudara sedang pelajari sekarang adalah pelajaran.

Saya sedang mengajar, saudara. Saya bukan khotbah. Kalau mau tahu khotbah hari minggu. Kalau khotbah, kalau perahu itu motor boat, pancar gas. Kelihatan ada nyanyian, ada kesaksian, ada paduan suara, nyanyi riuh rendah, dan sebagainya. Rame, kelihatan orang, pakai motor boat. Mesinnya kelihatan, suaranya, waduh, ... itu berkhotbah. Tetapi mengajar, itu kaya kapal selam. Masuk ke dalam lautan, tidak kelihatan di luar, di atas. Tapi dalam. Kalau berkhotbah di permukaan air. Kalau mengajar di bawah, di dasar lautan. Kalau berkhotbah motor boat. Kalau mengajar kapal selam.

Saya mau tanya, kalau perang orang pakai motor boat apa pakai kapal selam? Kapal selam. Demikian juga orang kristen, kalau dia banyak mengalami di dalam pelajaran, maka dia seperti kapal selam. Tidak banyak cerita, tidak banyak bicara, tidak terlalu menonjol, tidak kelihatan orang, tidak senang rame-rame, tapi ada isi. Di dalam hatinya dia punya kekuatan; Ada peluru-peluru kendali, peluru-peluru nuklir. Saya tidak pernah dengar motor boat membawa peluru kendali. Tidak pernah. Salah-salah ditembakkan, motor boatnya yang hancur.

Ketika kita tahu bahwa Tuhan Yesus itu yang pertama Dia mengajar. Dia mengajar baru Dia berkhotbah. Di dalam ayat ke 1, ketika Dia mengajar di dalam Bait Allah dan berkhotbah. Tempatnya sama, di Bait Allah. Di Bait Allah Dia mengajar. Kalau saudara baca ayat-ayat yang sebelumnya, tiap hari, pagi-pagi, Dia mengajar di Bait Allah.

Kalau saudara perhatikan hari minggu sore, itu saya bagi dalam empat macam khotbah. Kadang khotbah saya seperti penginjil. Kadang khotbah saya sebagai gembala. Kadang saya khotbah sebagai guru, mengajar juga, ada pelajaran sedikit. Kadang saya berkhotbah, tidak banyak khotbah. Tetapi menyembah kepada Tuhan, memuji kepada Tuhan. Kita berbahasa Roh, berkarunia lidah. Tapi inti dari pertumbuhan kita itu dalam pengajaran. Kita mau belajar.

Jemaat di Jakarta sekarang bikin SOM, School of Ministry, Sekolah Orientasi Melayani. Supaya jangan pemimpin pujian itu lagi, itu lagi. Yang jadi singer itu lagi, itu lagi, nggak ada gantinya. Mereka mau belajar. Ternyata dari gereja lain pun ikut, enam puluh orang di Jakarta. Kalau di Karawang sekarang sudah SOM yang kedua kali. Mereka mempunyai tanda lulus. SOM yang pertama sepuluh kali tatap muka. SOM kedua sepuluh kali tatap muka. SOM pertama empat puluh orang. Sekarang enam puluh orang.

Semua gereja kirimkan orangnya untuk belajar. Dari Protestan datang, GBIB datang, dari gereja Bethel ada, dari GPdI ada, paling banyak. Saudara tidak sadar bahwa hari rabu ini saudara sebetulnya kita sedang belajar. Mereka cuma belajar pokok. Mereka hanya mempelajari pokok. Kita berat belajar sekarang pokok. Untuk orang-orang di Karawang pokok bersaksi, sepuluh kali ketemu tiap jumat. Kalau hari senin SOM di Jakarta, kita belajar pokok melayani. Saudara tiap minggu, satu tahun 52 kali, saya kasih Injil Lukas. Bukan pokok lagi, embernya.

Saudara sedang mempelajari bukan ikan di dalam ember. Embernya saudara sedang pelajari. Sayang saudara tidak bawa catatan. Jadi jangan saudara anggap kebaktian hari rabu itu, gitu-gitu aja. Puji-pujiannya cuma sepuluh menit. Terus Ko Yoyo ngajar, khotbah, terus bubar, terus makan. Saudara tidak mengerti bahwa saya sedang mengajar. Justru hari minggu enteng, nggak terlalu berat. Saudara bikin hari minggu sebagai ibadah raya. Saudara anggap kebaktian hari minggu sore seperti kebun raya dan hari rabu kebun singkong. Salah. Ini ibadah raya. Karena saudara makan firman Allah yang benar, penuh gizi, penuh pengertian. Satu ayat diterangkan, satu kata diterangkan. Kita sedang di dalam kapal selam, di bawah laut.

Kita lihat lagi ayat 1, ketika Yesus mengajar orang banyak dan memberitakan Injil, datanglah imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta tua-tua ke situ. Ada tiga golongan: Imam-imam kepala. Lebih tepat ditulis kepala imam-imam, komandannya. Yang kedua dikatakan ahli Taurat. Dan yang ketiga, tua-tua.

Yang disebut tua-tua, bukan yang berjenggot panjang. Bukan. Tapi yang dituakan. Orang Yahudi itu punya kalau orang itu berpengalaman, kalau orang itu pengetahuannya dalam, nah, dituakan dia. Tiga orang ini sebetulnya sudah tahu. Imam kepala sudah tahu dong soal rohani. Ahli Taurat sudah tahu. Tua-tua juga sudah tahu. Bagaimana dia akan jadi tua-tua kalau mereka tidak tahu apa-apa tentang firman Allah. Sudah tahu. Tapi inilah, mereka mau mencobai dengan satu pertanyaan. Ayat 2,

20:2 dan mereka berkata kepada Yesus - Mereka. Tiga-tiganya. Tiga golongan itu berkata kepada Yesus - : "Katakanlah kepada kami dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu, dan siapa yang memberikan kuasa itu kepada-Mu!"

Mereka lihat Yesus menyembuhkan orang, berbuat baik, mengadakan mujizat. Sudah tahu dong mereka secara teori: Tidak mungkin ada mujizat kalau Tuhan tidak beserta dengan Yesus. Tapi mereka bertanya: Dengan kuasa apa? Kata kuasa itu di dalam bahasa Inggris itu otoritas. Exousia yang artinya otoritas. Sekarang saudara bukan polisi lalu lintas. Saudara orang biasa. Tapi saudara pinjam baju polisi lalu lintas. Saudara pinjam, saudara pakai sepatu, saudara pakai pakaiannya.

Saudara bukan polisi tapi saudara pinjam bajunya, seragamnya, saudara pakai topinya. Saudara terus ke Warung Batu di sana saudara stop truk. Datang truk besar, saudara angkat tangan saja. Berhenti apa nggak? Berhenti. Dia berhenti apa karena saudara, apa karena seragam saudara? Seragam. Nah, itu yang disebut otoritas. Itu sopir udah kesal, wah duit deui yeuh. Tapi dia takut kepada seragam saudara. Otoritas. Polisi sudah kasih berhenti. Berhenti kita. Itu otoritas.

Yang ditanya oleh orang-orang ini, otoritas apa yang kamu pakai? Dan siapa yang memberi otoritas? Siapa yang memberi kuasa kepada-Mu? Jadi yang ditanya, apa otoritasmu dan siapa yang kasih. Yesus tahu, mereka sudah tahu tetapi kenapa mereka tanya lagi. Di sini hebatnya. Dia jawab dengan pertanyaan lagi.  

20:3 Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan suatu pertanyaan kepada kamu. Katakanlah kepada-Ku:
20:4 Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia?"

Ingat saudara, ini baptisan bukan aturan gereja, bukan aturan pendeta, bukan aturan merk gereja pantekosta, tidak, tapi ini adalah kehendak Tuhan. Supaya mereka yang dibaptis ngerti, saya dibaptis ini bukan karena aturan gereja pantekosta, bukan. Supaya kita mengerti bahwa ini adalah aturan firman Allah.

Sekarang Yesus tanya: Baptisan Yohanes itu dari sorga atau dari manusia? Secara gamblang, dari Allah atau dari manusia? Eh, ini tiga ahli-ahli ini ngomong sendiri. Di antara mereka begini.

20:5 Mereka mempertimbangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? - Karena orang Yahudi tidak percaya kepada Yohanes Pembaptis -
20:6 Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, seluruh rakyat akan melempari kita dengan batu, sebab mereka yakin, bahwa Yohanes adalah seorang nabi." - Jadi akhirnya mereka, ayat 7, menjawab -
20:7 Lalu mereka menjawab, bahwa mereka tidak tahu dari mana baptisan itu.
20:8 Maka kata Yesus kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."

Karena kamu nggak mau jawab, Aku juga nggak mau jawab. Karena kamu nggak mau menjawab pertanyaan-Ku yang sederhana, Aku juga tidak mau menjawab pertanyaanmu. Habis.

Tapi di sini kita belajar satu hal. Ada orang yang saudara tidak perlu jawab, ada orang harus kita jawab, dengan pertanyaan lagi. Seperti Yesus.

Dulu ada mahasiswa-mahasiswi dari Batu mau mengundang saya. Gereja masih gereja lama. Garasi sebelah sini. Datang. Sebelum mereka mengundang, saya turun dari loteng mereka sudah lihat saya punya sepeda motor; ada yang 250cc, ada yang 350cc. Hobi sih, ya. Akhirnya satu perempuan dari satu mahasiswi itu ngomong begini: Kami mau tanya sama bapak, mohon dijawab.

Apakah bapak mencintai Tuhan? Ya, saya bilang. Nomor dua, apa bapak memberitakan Injil atau melakukan firman? Saya bilang, melakukan. Yang ketiga pak, apa bapak percaya lebih berkat memberi dari pada menerima? Saya bilang, saya percaya. Mereka kasih pertanyaan skak mati - menurut mereka: Kalau begitu kami minta satu motor bapak. Mereka nggak main-main, mereka nggak ketawa.

Saudara, pada saat itu, tiba-tiba saja, tek Tuhan kasih jawaban: Ada tertulis, saya bilang, menurut firman Allah, jangan kamu mengingini barang orang lain. Mereka ketawa. Kalau begitu bapak memang seorang guru, kita kalah. Baru mereka mau mengundang. Jadi ada masanya kita harus menjawab.

Baru-baru ini rapat majelis daerah: Bagaimana pak ketua, ini di majalah ini ada ngomong-ngomong begini? Saya tanya, mau dijawab jadi rame, apa kita diam? Akhirnya dia ambil keputusan, diamin saja.

Jadi Yesus tanya, baptisan Yohanes dari sorga apa dari manusia? Mereka ngomong, cilaka ini, kita bilang dari sorga, nanti Dia bilang kenapa kamu tidak percaya. Kita bilang dari manusia, 10 orang bisa merajam kita dengan batu. Sudahlah ambil jalan tengah, ... tidak tahu. Yesus bilang, kalau kamu tidak tahu, kamu juga tidak tahu dengan hak apa Saya memakai otoritas ini. Mereka tidak dikasih tahu. Tapi saudara harus tahu, otoritas itu kuasa itu dari siapa dan kenapa. Matius.  

28:16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. - Kata kuasa dipakai kata exousia. Dalam bahasa Inggris, otoritas. Yang ditanyakan oleh orang-orang Farisi, oleh ahli-ahli Taurat, otoritas apa yang Kamu pakai? Sekarang Dia kasih tahu sama kita, segala kuasa segala otoritas telah diberikan kepada-Ku di langit dan di bumi, telah diberikan kepada-Ku -        
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

Sekarang kita tahu jawabannya. Baptisan Yohanes Pembaptis dan semua baptisan datang dari sorga apa dari manusia? Dari sorga, dari Tuhan. Berikutnya.

28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Maka saya melakukan ini ayat. Hari ini, malam ini saya sedang melakukan ayat ini.

28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Ada yang kurang satu kata. Dalam bahasa Inggris ada kata amen. Dalam bahasa Indonesia tidak ada. Sebetulnya harus ada kata amen. Ketika zaman ini akan berakhir, Dia tetap bersama kita. Waktu malam yang gelap .. Atau di pinggir maut .. Yesus selalu ada .. Yesus selalu serta .. Aku beserta kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Saudara takut percobaan nggak? Tidak. Karena Tuhan beserta, bersama. 

Minta maaf, kalau saya di Jakarta, setiap habis kebaktian, selalu ada 2 orang yang angkat 1 kopor saya tas saya, yang satu angkat Alkitab saya. Mereka bawa. Kalau yang angkat koper itu ngajak makan, begitu sampai di restoran saya turun, dia lompat dia ambil tas saya. Makan, dia yang bayar. Diangkat lagi tas saya. Sampai saya naik mobil mau pulang ke Cianjur. Dia seorang bisnisman yang kaya raya tapi mau mengangkat tas saya.

Sekarang bisnisman itu kita pakai Yesus. Saya adalah saudara. Saudara mau makan, Yesus angkatkan tas saudara. Tas itu beban; Dia angkat. Saudara turun dari mobil, Yesus angkat. Dia peduli kepada saudara. Ketika saudara makan, Dia yang bayar. Saudara senang punya Yesus? Luar biasa Yesus ini, Dia menjaga kita, apapun Dia jaga. Cuma ini kita seringkali nggak ngerti dan nggak mau ngerti. Dikasih ngerti nggak mau ngerti sehingga kita hidup takut, takut, curiga, takut, takut, putus ada, dan sebagainya. Kita nggak perlu takut, nggak perlu putus asa, karena apa? Yesus selalu beserta. Sampai di pinggir maut, malam yang gelap, nggak usah takut Yesus selalu ada Yesus selalu serta. Dia bilang apa di dalam ayatnya 20,  

Dan ketahuilah,

Kita nggak mau tahu. Terus terang saja saya ngomong. Kita buka pintu untuk ketakutan, kita buka pintu untuk kebimbangan, kita buka pintu untuk perasaan yang menakutkan. Tuhan bilang, kamu musti tahu. Ketahuilah, Aku bersama dengan engkau. Kelihatan atau tidak kelihatan, dirasa atau tidak dirasa, Dia ada bersama dengan kita. Ketahuilah. Makanya wawasan pengetahuan kita ini musti diisi dengan apa? Pengajaran dari firman Allah. Kenapa waktu murid-muridnya - ayat 17- beberapa orang ragu.    

28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.

Sama dengan jemaat. Ada yang kalau kebaktian langsung nyembah Tuhan, oh haleluyah, Tuhan ... berlinang-linang air mata. Tapi ada yang ragu.

Jangan sampai kita menjilat manusia, kita anggap dia Tuhan. Tapi kita di gereja, kita anggap Tuhan itu manusia. Nggak tepuk tangan. Nggak ada hatinya. Banyak yang tidak tahu sudah dengar firman nggak mau tahu, apa kata Tuhan? Ketahuilah. Kalau itu terbalik, mereka sudah tahu pura-pura tidak tahu. Dari mana Kamu punya hak otoritas, siapa yang kasih? Mereka sudah tahu. Terbalik dengan kita. Kita dikasih tahu, kita tidak mau tahu. Dikasih pengetahuan, kita tidak mau tahu, maka kata Tuhan? Ketahuilah, Aku beserta kamu.

Kalau bedston saya dengar doa. Kalau doanya positif, saya bilang amin. Kalau doanya negatif, terus doanya aduh, seperti Tuhan itu ninggalin dia. Tuhan bisa merubah hati kita, Tuhan bisa merubah cara kita berdoa.

Tangan kita punya 2 pilihan: Terbuka atau tertutup. Suka memberi atau tidak mau memberi. Tangan yang terbuka untuk memberi, dia punya hak tangan itu diberi lagi oleh Tuhan. Kalau saudara tidak mau memberi maka tangan itu juga tidak punya hak untuk diberi oleh Tuhan.

Ini kejadian di Amerika. Orang Amerika sekarang takut dengan kuman-kuman. Katanya kuman banyak tinggal di tangan orang-orang. Itu sebabnya mereka tidak mau jabat tangan dengan sesamanya. Kalau habis pegang apa saja, ada obat yang dibotol itu sst sst ... 5 menit lagi dia pegang apa, botol sst sst .... Nggak mau jabat tangan. Takut tangan orang itu ada kuman. Tetapi kalau memang musti tabe, mereka robah jadi tinju. Jadi tinju sama tinju. Aneh nggak rasanya? Aneh.

Nah maaf, kita sama Tuhan begitu. Kita nggak buka tangan, kita tinju sama Tuhan. Dia mau mengasihi kita, Dia beserta sama kita sampai kesudahan alam.

-- o --   

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________