Khotbah Rabu Juli - Agustus 2004

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Rabu, 14 Juli 2004

BERTUMBUH DALAM IMAN

Kita akan meneruskan pelajaran kita dari injil Lukas  

6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

Dulu saya tidak mengerti kenapa Tuhan Yesus ajar satu pelajaran yang sangat berat ini. Hampir-hampir tidak masuk akal dan saya pikir ini ajaran terlalu ngawang di atas langit. Tetapi baru beberapa hari ini seperti Tuhan berbicara kepada saya bahwa hal ini bisa terjadi kalau orang itu dewasa di dalam Tuhan. Kasih contoh saja. Biasa hari rabu lebih banyak dari minggu kan. Karena hujan ada yang datang ada yang tidak. Yang tidak dan yang datang itu kan sudah lain, dia punya iman di hadapan Tuhan sudah lain. Hanya karena hujan saja mereka tidak kebaktian. Itu hanya contoh.

Jadi ternyata di dalam kekristenan juga demikian, saudara. Ada kelas-kelasnya. Rasul Paulus berkata di dalam surat Korintus, orang-orang yang masuk surga itu seperti bintang bercahaya. Tapi cahaya yang satu berbeda dengan cahaya yang lain. Demikian juga orang-orang kristen anak-anak Tuhan dia bisa satu gereja, dia bisa satu kebaktian, pendetanya sama tapi pertumbuhannya bisa berbeda. Ada yang bertumbuh cepat dan mudah sekali sehingga tidak usah terlalu banyak diawasi, pertumbuhannya ini membanggakan ya, pertumbuhan imannya ini. Tapi ada yang sudah disirami sudah disiangi dibersihkan, malahan kuntet terus, buntet terus, tidak bisa bertumbuh. Sama dengan ini.

Jadi mengenai kasihilah musuhmu, ini kita tidak bisa kalau orang kristen ... orang kristen biasa, orang kristen yang baru kenal Tuhan beberapa waktu, orang kristen yang baru saja mengenal Tuhan belum lama. Nggak mungkinkan, mana kita bisa mengasihi musuh, nggak mungkinkan? Kita baru diomongin aja, telinga kita sudah panas. Baru dirugikan sedikit saja kita sudah pakai pengacara.

Kalau kita lihat di dalam Firman Allah, begitu kita pakai pengacara, kita sudah kalah, kita bukan anak Tuhan lagi, kita nggak suka dirugikan, kita mau menang. Coba kita pegang dulu Lukas 6. I Korintus

6:5 Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?
6:6 Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya?
6:7 Adanya saja perkara - Ada kasus saja - di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?

Siapa yang suka dirugikan? Siapa yang lebih suka menderita ketidakadilan? Maka Tuhan berbisik bahwa ini nggak bisa sembarangan orang kristen mengalaminya. Dia harus betul-betul yang sudah dalam, yang sudah kuat imannya, dia akan masuk dalam kelas ini - kelas mengalah. Kita ini selalu mau mempertahankan hak kita. Lukas

6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;  

Love your enemy. Ini yang pertama, tugas dari Tuhan, kasihilah musuhmu. Orang yang kita tanya nggak jawab saja buang muka kitanya sudah kesal. Musuh. Tuhan bilang kasih. Saya katakan kepada saudara bahwa ternyata kita ini harus bertumbuh di dalam kasih. Ada masa anak-anak, ada masa dewasa. Kalau kasih kita masih kondisinya kasih anak-anak, nggak mungkin kita bisa mengasihi musuh. Nggak mungkin, dah. Saya juga harus sabar kan, nggak bisa memaksakan jemaat musti sempurna musti mengalah ... karena dia masih kanak-kanak. Pendeta saja belum tentu mampu. Karena rasul Paulus berkata aku tidak menganggap diriku sudah sampai tapi aku merendahkan diriku. Kita lihat pelan-pelan, kita lihat dulu kasih yang seperti anak-anak ini. I Korintus   

3:1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa - Berarti masih anak-anak - dalam Kristus.
3:2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.
3:3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan - Ribut - bukankah hal itu menunjukkan, - Atau membuktikan - bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?
3:4 Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

Jadi inilah orang yang masih anak-anak. Secara kasih, dia tidak bisa mengasihi, saudara sendiri dimusuhi. Satu gereja tapi tidak ngomong, kenapa? Karena kasihnya masih anak-anak. Nggak mau kalah, nggak mau mengalah. Boro-boro ditampar pipi kanan kasih pipi kiri, wah, nggak mau mengalah. Tempat duduk kita yang biasa aja didudukin orang lain sudah nggak enak. Kita batuk ditegur jangan batuk aja udah kesal kita, padahal saudara, ini gereja satu-satunya di dunia mungkin yang jemaatnya nggak usah didoakan batuk tapi sudah sembuh batuknya. Memang ini gereja kita unik dibikinnya dari kedap suara. Jadi kita ngomong sedikit saja kedengaran. Jadi memang jemaat yang bukan Cianjur ya nggak ngerti, belum ngerti tapi yang di Cianjur ya udah nganyahokeun. Gimana kita mau disebut orang kristen dewasa ... biar kita nyanyi menari waduh hebat tapi lihat buktinya kok masih ribut, masih berselisih?

Langsung rasul Paulus berbicara dalam Efesus

4:11 Dan Ialah - Yesus - yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,
4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,
4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,
4:14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, ...

Nah ini, kita diminta tidak lagi anak-anak terus. Kita menjadi dewasa. Ini kata Firman Allah. Orang kristen itu bukan nyanyinya yang dinilai oleh Tuhan, bukan penampilan luarnya, bukan. Dia boleh saja sederhana tapi yang dinilai oleh Tuhan adalah iman. Sekarang saya mau kasih ilustrasi. Saudara lihat saya rapi kan? Rapi. Tapi tahu nggak saudara kalau saya buka ini kemeja, di sini ini ditempel koyo oleh shin she, 2 koyo besar. Karena tangan saya ini sakit, nggak tahu keseleo atau bagaimana, sakit. Nggak kelihatan. Yang Tuhan mau lihat bukan bajunya; yang Tuhan mau tolong, keseleo saya ini musti disembuhkan; urusan-urusan yang di dalam itu musti diurus.

Maka jangan terus jadi anak-anak, Lihat kebunku penuh dengan bunga, tapi jadilah dewasa. Nah, ini problem kita. Kita marah kalau dianggap masih anak-anak. SBY aja marah karena dia disebut seperti anak-anak oleh Taufik Kiemas. Marah kalau kita disebut anak-anak. Tapi kalau kita disebut cepat tua, juga marah. Jadi kumaha atuh?

Jadi dewasa ini saudara, ada orang yang mungkin belasan tahun, 20 tahun, 23 tahun tapi cara berpikir sudah dewasa. Ada orang yang sudah di atas 50 tahun, cara berpikir masih anak-anak. Efesus

4:14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, 
4:15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Nah, saudara melihat bahwa kita akan bertumbuh dari anak-anak menjadi dewasa. Saya mau pelan-pelan bicara dan saya mau ajak saudara kembali membaca di belakang, I Yohanes

4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, - Kata sempurna dalam bahasa asli, disalin dengan "dewasa," - yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna - Kasih yang dewasa - melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. - Ia belum dewasa di dalam kasih.
4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

Ada haleluyah? Kenapa kita takut terus? Jawabannya kita sudah dapat - kasih kita belum sempurna, masih anak-anak! Kenapa kita berselisih? Kenapa kita ribut salah paham, satu gereja tapi nggak ngomong? Saha pendetanya? Awondatu. Saha pendeta? Ko Yoyo. Sarua keneh ko Yoyo ... Awondatu Awondatu keneh. Nggak ngomong. Satu duduk di depan, satu duduk di belakang. Lamun balik didagoan, keun manehna heula we. Ke geus kira-kira 5 menit, karak urang kaluar. Supaya teu amprok. Padahal tadi nyanyi Ku kasihi kau dengan kasih Tuhan ... Ku kasihi kau dengan kasih Tuhan ... Kulihat di wajahmu kemuliaan Raja ... Ku kasihi kau dengan kasih Tuhan.

Tapi ai ngomong ka batur: Sebel, nempo beungeutna sebel. Ceunah kemuliaan Raja, kulihat di wajahmu. Tapi lamun ngomong: Sebel. Kenapa? Sekarang kita ngerti, kasih kita masih anak-anak, belum dewasa, belum sempurna. Siapa mungkin yang tertempelak sore hari ini, saya ingin memberitahu: Jangan putus asa, mari kita lihat, karena bertumbuh.  

Saya mau tanya sama saudara, minta dijawab. Apa usaha saudara dari bayi saudara bertumbuh sampai umur 10 tahun, saudara usahanya apa? Ada usaha? Nggak ada! Kita bertumbuh karena sudah memang begitu. Ibu kita memelihara kita memberikan susu. Tadi rasul Paulus katakan, aku beri susu. Memang masih bayi. Tapi walaupun diberi susu, untuk apa? Supaya bertumbuh. Satu jemaat kita, anaknya Ci Eper, menantunya kemarin kebaktian, saya tanya: Anak sudah bagaimana? Sudah bisa tengkurap. Coba lagi bayi, boro-boro nengkurap, telentang aja salah. Buka matapun dia belum tahu yang mana papa yang mana mama. Bahasanya sama, ea ..ea ..ea .. tapi dipelihara dikasih susu oleh ibu supaya bertumbuh.

Jadi kita jangan kecil hati kalau memang kasih kita belum bertumbuh. Tuhan akan memberikan feeding, Tuhan akan memberikan makanan sampai satu kali jadi besar, saudara bisa makan bubur tepes campur jeung wortel, campur jeung sadri. Udah bisa bubur tepes ... bisa bubur bener, disuapin. Akhirnya, coba kasih kuah ayam. Perutnya sudah siap. Lama-lama ... lama-lama ... terus ... akhirnya maranggi. Ketan. Salak nu haseum. Yang keras-keras. Nasi. Bacang. Duren dimakan. 

Orang kalau sudah dewasa di dalam kasih, dia menghadapi duri seperti duren, asam seperti salak - dia bisa ngatasi, dia sudah dewasa. Haleluyah? Coba bayi dikasih duren ... langsung almarhum. Coba bayi dikasih cuka ... aduh, ieu budak teh can makan titadi, urang bere ieu cuka ... nggak kuat dia.

Kembali kepada kasih, kasihilah musuhmu ... Maka saya katakan ini nggak mungkin kita lakukan kalau kita belum bertumbuh menjadi dewasa di dalam kasih. Karena kalau kita lihat orang itu, musuh kita saingan kita ... kita nggak akan takut menanya sama dia, kita nggak akan takut kita tidak akan dijawab. Justru kita dipenuhi dengan kasih.

Tahu nggak saudara bahwa kasih itu bisa dirasa. Anak-anak sekolah minggu yang datang kebaktian hari minggu kalau lihat saya bukannya takut, lari dia mendekati saya mencium. Mau cium opa Yoyo, mau cium dulu engkong. Sampai anaknya Inge mau ketemu saya Inge marah sama siswa-siswi yang suka bilang: Tuh ada oom Yoyo, tuh awas awas ... takut ... Emangnya gua barongsay. Kenapa? Anak itu bisa rasa. Sampai menantu saya bingung, kenapa ya anak saya ini katanya, ngomong itu opa Yoyo ... opa Yoyo. Anak saya baru telepon: Kalau lagi ngelamun orang lagi bicara, dia ngomong sendiri: Opa Yoyo, opa Yoyo ... Kasih itu bisa dirasa.  

Maka saudara, nanti bertumbuh di dalam kasih. Mula-mula kita mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri, lalu kita mulai mengasihi sesama manusia seperti Tuhan sudah mengasihi kita. Akhirnya kita mengasihi ... musuh kita! Ini kelas paling tinggi. Dia tidak lagi menyeramkan. Saya ajar anak saya dua-duanya berenang, saya bilang: Ini air bukan musuh kamu. Air ini teman kamu. Jangan takut masuk air, air ini teman kamu. Takut, pah. Jangan, ini teman, air itu. Saya lempar saudara yang tiga meter. Akhirnya dia bisa berenang. Pah, bisa nyeberang. Lukas   

6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;

Saudara berbuat baik sama orang yang berbuat baik pada saudara nggak aneh. Ah, kita kasih kue sama dia ... dia suka kirimin lalap. Gampang. Kebaktian di Ngadirejo: Oom, saya yang dibaptis sama oom 24 tahun yang lalu. Dimana? 400 jiwa dibaptis waktu itu. Persis oom yang baptis. Lupa. Maka, mobil saya oom pake ngantar kemana. Balas budi karena saya yang baptiskan. Gampang. Tapi berbuat baik kepada orang yang membenci saudara. Kembali lagi kepada kedewasaan. Berbuat baik.

Mari kita lihat di dalam ilmu jiwa. Ketika saudara mau saja berbuat baik sama orang yang saudara anggap saingan, yang saudara anggap membenci sama saudara, beban itu - moral, sudah saudara lempar sama dia. Saudara nggak ada beban lagi. Ketemu dia saudara manggut. Dia buang muka, urusan dia. Dari saudara tidak ada lagi kabut, tidak ada lagi tirai. Maka saudara kita itu disebut orang kristen karena bukan karena nyanyi bukan karena pakai kalung salib, kita berbuat baik, kita mengasihi sampai kepada orang yang membenci kita, kita sanggup berbuat baik.     

6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

Sekarang yang kedua adalah berbuat baik kepada yang membenci kamu. Berbuat baik, bahasa Inggrisnya do good, berbuat baik, justru kepada orang yang membenci kita. Mari kita buka pertama-tama Matius

5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Terang itu lebih bercahaya pada waktu apa? Gelap. Saudara orang kristen, sekeliling saudara tidak ada yang kristen, saudara harus jadi terang. Orang lain minum bir, minum mabuk-mabukan, kita tidak. Nggak usah ngutuk, nggak usah ngejek, kita diam saja. Orang lain narkoba, kita tidak; orang lain selingkuh, kita tidak; orang lain berdosa, kita tidak; orang lain suka curiga, kita tidak; orang lain korupsi, kita tidak; orang lain tidak jujur, kita tidak. Saudara nanti seperti terang di tengah tempat yang gelap. Di mana saudara berada nanti orang akan lihat saudara lain dari yang lain. Ini kok lain - orangnya lain, orangnya ramah, nggak ada kompromi sama dosa.

Saya pernah cerita sama saudara mengenai Lim Khe Sung, anggota satu gereja di Jakarta. Papanya bawa sama saya, gimana caranya supaya dia bisa ke Australia? Tapi dia kerja di satu toko, sekarang sudah 20 tahun lebih, nggak apa-apa saya ngomong. Dia kerja di toko Lay Hun, di Pasar Baru. Toko Lay Hun ini memborong jalan di Bali di Denpasar. Saudara Khe Sun ini disuruh jadi pengawas. Begitu dia mengawas, mandor bilang, ini datang pasir 2 truk ... kita tulis 3 truk. Uangnya kita bagi dua. Jangan. Ini semen datang 2.000 zak, kita tulis 3.000; ini aspal sekian, kita tulis ... pokoknya mau dibikin nggak jujur. Nggak mau saya. Kita fifty-fifty. Dan dia tetap aja jujur kerja mandorin. Bikin jalan umpamanya 7 cm, kita turunin 5 cm. Jangan, nanti boss marah.

Sudah satu tahun kerja, dipanggil. Khe Sun, lu udah punya istri belum? Saya pakai istilah Jakarta. Belum. Cari istri, lu kawin, gua yang nanggung. Habis lu kawin, gua kasih rumah satu untuk lu suami istri. Tapi kwalitet jaga, kejujuran tetap harus dijaga. Dia bingung, kejujuran apa? Cerita di Bali gua udah dengar. Karyawan-karyawan pada lapor, Khe Sun memang lain dari yang lain. Dia jadi terang. Semua mandor-mandornya kita korupsi, dia tidak mau.            

Jadi saudaraku, kalau orang jujur, itu hidup di mana saja. Orang cari, kok. Boss cari pegawai bukan hanya rajin tapi yang jujur. Coba kita lihat Daniel. Daniel itu lewat 3 Raja: Raja Darius, Raja Beltsazar, Raja Nebukadnezar. Tiga raja mati, Daniel masih hidup dan dia jadi berkat. 3 presiden lewat, dia tetap jadi menteri yang disukai - dia jadi terang. Difitnah orang, yang fitnahnya masuk kandang singa. Jadi terang, saudara. Di mana kita berada? Jangan karena berkat kurang maju sedikit, kita mau mundur.

Kalau ada langganan saudara biasa beli barang sama saudara, tiba-tiba berhenti: Ayeuna mah moal balanja deui, saya mah. Umpamanya ada 5 orang langganan ngomong sama saudara: Saya mah moal balanja deui ka engko. Jangan nangis. Terima kasih sama Tuhan. Tuhan bisa beri langganan yang baru, yang mungkin 7 - 8 mungkin 9 yang akan membeli lebih banyak. Jadi berpikirlah positif sama Tuhan. Nggak apa-apa. Nuhun. Mangga ... mangga. Walaupun hati kita kecewa tapi kita bilang, ini toko juga Tuhan punya, nanti Tuhan ganti. Ieu mah langganan hiji euweuh, nyeuri beuteung; dua euweuh, batuk; tilu ... muriang; opat euweuh langganan, nyeuri tulang. Saudara tenggelam saudara nggak percaya kepada kekuatan perbuatan baik.

Yang terakhir, Roma 

12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.

Itu dengan nubuat, soal-soal rohani. Sekarang kita mau membaca soal-soal praktis. Ayat 17

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.
12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Jadi kalau musuhmu lapar kasih makan, dia haus kasih minum. Kalau kamu berbuat begitu seolah-olah kamu taruh bara api arang yang masih hurung masih ada apinya ... seolah-olah kamu taruh ke atas kepala orang itu. Coba saudara bayangkan kalau ada orang lagi duduk, saudara taruh arang di atas kepalanya. Jadi serba salah dia. Kalau orang itu sudah berbuat jahat sama saudara, fitnah ngejelekkin saudara, tapi saudara tetap berbuat baik. Dia lagi perlu pertolongan, saudara tolong; dia lagi kesulitan kepepet, saudara tolong; dia nanti seperti kita taruh bara api di atas kepalanya.

Di Jakarta, saya sudah cerita berkali-kali, ada satu istri ngadu sama pendetanya: Boksu, boksu ... suami saya suka tempeleng saya. Kalau dia mabuk dia tempeleng saya; kalau dia pulang kalah judi, dia tempeleng saya. Memang suaminya belum dalam Tuhan. Boksunya, pendetanya bilang ayat ini tapi ngomongnya jelas: Apa ibu sudah taruh bara api di atas kepala suami? Maksudnya berbuat baik. Si istri salah paham, nggak suka baca alkitab: Oh, bara api mah belum, pak pendeta. Kalau air kopi sering. Kalau saya marah, saya lempar aja air kopi ke kepalanya. Saudara, kalau saudara lempar air kopi, nggak akan berobah orang. Tapi kalau saudara berbuat baik, seolah-olah saudara taruh bara api, ada haleluyah saudara?

Saya rasa kita belajar dua ini saja. Nanti minggu depan kita teruskan dua lagi. Kita berdiri bersama-sama.   

-- o --   

Rabu, 21 Juli 2004

BERKAT UNTUK YANG MENGUTUK KITA

Selamat sore selamat berbakti dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Puji Tuhan kalau kita masih boleh setia iring kepada Tuhan. Pada satu hari kelak kita akan berpindah dari dunia ini kepada tempat yang kekal. Lukas

6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

Kita adalah pengikut-pengikut Kristus. Kalau orang mengutuk kita,biarin aja ... asal jangan kita mengutuk mereka. Orang memfitnah kita nggak apa-apa asal jangan kita yang memfitnah mereka. Tetapi itu masih kita pasif, kalau kita aktif maka mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu. Saya mulai dari ayat 27. Beberapa rabu yang lalu; yang pertama adalah mengasihi musuh. Kalau musuh saja kita harus kasihi apalagi kalau ada orang yang mengasihi kita tentu kita harus lebih mengasihi. Yang kedua adalah berbuat baik. Justru berbuat baik kepada orang yang membenci kita. Kalau orang yang membenci kita, kita wajib berbuat baik apalagi kalau orang itu tidak membenci kita malahan mengasihi kita.

Nah, yang ketiga kita akan belajar sekarang, adalah mintalah berkat atau bahasa Inggris berkata, berkatilah orang yang mengutuk kamu. Ini adalah kasih di dalam kata-kata. Karena orang itu mengutuk juga dengan kata-kata. Apa sebabnya orang mengutuk kita? Kita tidak tahu. Pendeta Susianti yang ditembak di Palu itu lagi khotbah. Apa sebabnya katanya ditembak, saya tidak tahu. Tapi sudah ada 17 pendeta yang ditembak di sana.

Menurut kabar angin, 1 kepala pendeta yang ditembak itu dibayar 80 juta. Jadi sekarang ada bisnis baru - menembak pendeta! Jadi pendeta yang ditembak itu mati, dia, orang yang nembak itu dibayar oleh orang yang kita tidak tahu dari Jakarta, 80 juta. Kalau pendeta biasa, mungkin pendeta pembantu 40 juta. Pengerja 20 juta. Untuk gembala kecil ... 5 juta. Puji Tuhan. Kita ada harganya daripada kepala nggak ada harganya, ya; diisi otak tapi nggak pernah dipakai. Kembali lagi kepada Firman Tuhan bahwa kita harus memintakan berkat. Ini memang aneh Tuhan Yesus punya ajaran ini. Unik. Orang yang mengutuk kita, kita musti minta Tuhan berkati dia, aneh bukan?

Tapi saudara sudah biasa dengan ini, biasa memberkati orang yang mengutuk kita, saudara akan melihat bahwa hati saudara dilapisi oleh kasih Tuhan sampai lama-lama ... lama-lama hati saudara bukan lagi dilapisi oleh kasih Tuhan, saudara punya hati akan dilapisi oleh Tuhan sendiri sampai nanti orang yang membenci kita itu akan kecele, akan merasa salah; mereka membenci kita itu merasa bersalah. Mereka mengutuk kita, mereka merasa bersalah karena melihat kita punya reaksi justru reaksi yang memberkati dia.

Jadi saudara, marilah kita belajar. Sayapun sudah belajar, saya sudah lewat ini. Saya tidak mau khotbah kalau saya belum mengalami. Saya sudah mengalami dan sudah lewat, sudah menang. 

6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.       

Kata mencaci ini ada karakter meludahi ... seperti itu, tetapi tepat dikatakan berdoalah. Aduh, kalau saudara lihat keempat hal ini saudara akan lihat bahwa hati kita tidak ada kabut. Orang yang mencaci, memaki-maki. Puji Tuhan. Ini baru empat, ini dari hal mengasihi musuh, berbuat baik kepada orang yang membenci lalu memberkati orang yang mengutuk, berdoalah untuk orang yang mencaci.  

Jadi sekarang Al Qaeda itu pintar, nah Al Qaeda nggak lagi dia nyerang ke Indonesia dengan bom karena dia punya uang dari luar negeri cukup banyak, jadi dia sewa pembunuh bayaran. Sebodo itu pendeta. Satu kepala, 80 juta. Jadi ini menjadi satu tantangan bagi kita. Nah, itu sebabnyalah jemaat kristen orang kristen itu lambangnya itu salib - itu penderitaan. Tapi di belakang penderitaan itu adalah mahkota yang luar biasa. Jadi ke 4 hal ini, coba saudara perhatikan ayat 27, itu dia bilang begini:  

6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, - Di sana kita ketemu kata mendengarkan. Sekali lagi apouo dalam bahasa Yunani, yaitu dengar dan menyimpannya di dalam hati - Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; - Lalu Dia terangkan lebih jauh lagi di dalam ayatnya yang ke-29,

6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.

Dalam hal ini kita memiliki satu prinsip baru, yaitu prinsip mengalah. Kalau saudara mengingat khotbah saya hari minggu, biarkan, kata Tuhan Yesus, ... biarkan perempuan ini meminyaki kepala dan meminyaki Kaki-Nya, biarkan - dia sudah berbuat apa yang dia bisa buat. Kita baca 3 perikop waktu hari minggu, yaitu Yohanes 12, disebut Maria menaruhkan minyak narwastu di kepala Yesus. Dalam Markus 14, tidak disebut Maria hanya disebut seorang perempuan dalam Markus 14, banyak orang memarahi perempuan itu. Dalam Matius 26, murid-murid Yesus yang lain, bukan hanya Yudas memarahi perempuan itu.

Kita mendapatkan gambaran 2 hal, yaitu Simon yang kusta, yaitu di rumah Simon yang kusta dan Maria ini. Saya sudah katakan tidak mungkin kalau belum sembuh dia bikin pesta. Karena orang kusta harus ada di tempat yang lain. Karena dia sudah sembuh dia bikin pesta, ini adalah kelas yang biasa. Karena saya sudah sembuh, saya mau berterima kasih sama Tuhan, saya mau bikin pesta untuk Tuhan Yesus. Diundanglah banyak orang bikin pesta. Saya sakit tapi karena Yesus saya sudah sembuh, sekarang saya adakan selamatan. Berterima kasih kepada Tuhan, itu biasa.

Orang kristen terbagi dua, yaitu kristen Simon si kusta yang membalas cinta Tuhan sebagai hal yang biasa tapi ada satu perempuan yang disebut Maria, yang dalam dua buku tidak ditulis namanya. Dia nggak sakit lalu disembuhkan, tidak; dia tidak ada sesuatu dasar untuk membalas cinta Tuhan, bukan - tapi dia mengasihi. Dia mengasihi begitu rupa dan dia bukan bikin pesta biasa; dia beli minyak narwastu yang harganya 300 dinar, yang kalau dibandingkan dengan biaya pesta, itu biaya pesta nggak ada apa-apa, dibandingkan harga minyak narwastu ini. Karena ini gaji orang satu tahun. Orang kerja udah 3 tahun baru bisa kumpulkan 300 dinar. Jadi apa artinya pesta mengundang 4-50 orang makan roti dengan beberapa buah-buah hanya rame-rame minum sedikit anggur makan anggur, dibanding dengan 300 dinar? Maka kenapa orang-orang marah sama Maria? Karena ini minyak harganya mahal sekali. Kenapa Yudas marah? Karena dia lihat sepertinya dihamburkan ini untuk Yesus, mustinya kasih orang miskin. Kenapa murid-murid yang lain marah? Karena mereka nggak pernah mengasihi Yesus seperti Maria ini.

Jadi ada orang mengasihi Yesus dengan kelasnya Simon yang kusta, biasa-biasa saja, kasih yang normal, ke gereja juga normal, nggak mati-matian, nggak fanatik, dia normal-normal saja. Ke gereja normal, kolekte normal, nyanyipun tepuk tangannyapun diatur. Nggak berani bilang, Haleluyah, amin ... normal. Pokoknya Simon ini serba normal. Nyanyipun normal nggak mau kegerakan, nggak mau teriak-teriak tepuk tangan, angkat tangan, wah itu mah cadu urang mah. Normal-normal wae. Sudah tahunan ke gereja tapi nggak pernah saudaraku dia tepuk tangan. Macam-macam.

Tapi ada kalangan kristen yang seperti Maria ini. Dia tidak pernah sakit disembuhkan, nggak pernah celaka selamat - nggak pernah. Tapi dia mengasihi Yesus luar biasa sampai dia memiliki minyak yang mahal harganya dicurahkan di kepalanya Yesus. Markus sama Matius bilang di kepala Yesus, Yohanes bilang di kakinya Yesus. Yesus bilang pada tubuh-Ku, jadi dari kepala sampai kaki, dari kepala diminyaki Yesus bilang tubuh-Ku, badannya juga diminyaki sampai kaki-Nya, menurut Yohanes - itu basah kuyup oleh minyak yang paling wangi. Sampai Yesus bilang, nggak apa-apa ... nggak apa-apa ... biarin, jangan dimarahi. Biar. Karena Aku seperti dipersiapkan untuk Aku mati nanti. Lihat, ada kristen biasa, kristen kelas Simon si kusta. Saya mah normal-normal saja. Ada Family Camp lho, ah keun we nu sejen we lah, saya mah nggak. Saya mah biasa-biasa saja. Jadi ada yang lain masuk kelas yang lebih tinggi, ingin lebih mendalam di dalam Tuhan.

Nah, sekarang baru saya bisa terangkan apa artinya ditempeleng pipi kanan kasih pipi kiri? Barang siapa menampar pipimu yang satu, kiri atau kanan, kasih lagi yang lain. Ini adalah prinsip mengalah. Nah, prinsip mengalah ini nggak bisa saudara dilakukan kalau kita belum mengalami Kristus di dalam hati kita. Kalau saudara mau percaya, kalau saudara mengalah, kalau mau percaya nih, itu berkat orang lain itu bisa dipindahkan sama saudara. Saudara punya berkat nggak akan kemana-mana tapi berkat yang Tuhan mau kasih sama yang lain tapi orang lain itu pengen menang sendiri dan saudara mengalah, berkat itu dipindahkan sama saudara. Saya kasih ayatnya dalam I Korintus     

6:1 Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus?
6:2 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?
6:3 Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.
6:4 Sekalipun demikian, jika kamu harus mengurus perkara-perkara biasa, kamu menyerahkan urusan itu kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat?
6:5 Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?
6:6 Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya? - Orang dunia.
6:7 Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?

Nah, saudara lihat prinsip mengalah sudah diajarkan oleh Paulus kepada jemaat Korintus. Kita ada persoalan saja sama sesama jemaat sudah kalah. Minta tolong sama orang dunia, apakah dia pengacara apakah dia polisi, lebih kalah lagi. Mau menangnya bagaimana? Ngalah. Mengalah dan Tuhan tidak buta. Mengalah. Kan saudara tahu berkat mah sumbernya dari Tuhan. Kenapa saudara ngeukeukeuweuk yang 100, 200 ribu ... yang 10-20 juta, sedangkan Tuhan bisa memberkati saudara bermilyar-milyar? Mengalah. Ini artinya tempeleng pipi kiri, kasih pipi kanan. Kenapa saya ajarkan begini? Karena baik Tuhan Yesus maupun rasul Paulus pernah ditempeleng, dia nggak kasih yang sebelahnya. Ketika Yesus ditampar, Dia nggak kasih yang sebelahnya. Ketika Paulus ditempeleng, dia tanya, kenapa kamu menampar aku? Paulus malah bertanya.

Jadi prinsip yang diajarkan Yesus ini bukan pipi sebenarnya. Karena pipi ini bicara dari perasaan. Kalau orang merasa malu, merah dia pipinya. Orang merasa takut, pucat pipinya. Orang beuger, jerawat pipinya. Dan sebagainya. Jadi pipi ini bicara dari perasaan kita. Nah, perasaan kita ini ditempeleng, perasaan kita disinggung, perasaan kita disakiti. Kalau orang biasa, Simon si kusta, kita akan marah, kita akan tersinggung, kita akan pakai pengacara, kita akan pakai polisi. Padahal itu polisi pengacara nggak percaya Yesus. Ngomong tentang keadilan, yang adil mah duit. Kalau ada duit? Yang melaporkan malahan yang akan dihukum.

Dan sekarang saudara ada orang berhutang ditagih, yang berhutang lebih galak dari yang dihutangi. Sekarang orang saudara seperti ngecia makan duit dari rakyat Indonesia, kabur ke luar negeri, pura-pura sakit, dia aman, dia dilindungi. Tapi yang ngelapornya malah bisa dipenjarakan - merusak nama baik. Padahal sudah betul dia mencuri. Sekarang itu begini. Jadi yang betul tetap Yesus. Sebab apa? Dia adalah Tuhan yang adil! Dia Allahku yang adil ...

Pertama, Dia adil. Bahkan Tuhan Yesus itu mencintai keadilan. Maka kita jangan ragu-ragu, kita mengalah saja. Kembali lagi kepada Lukas 6, sekarang saudara mengerti prinsip mengalah.

6:29 ... barangsiapa yang mengambil jubahmu, - Bukan meminta, mengambil ini. Ingat ini, bukan minta. Kalau minta, kita memberinya juga ikhlas. Mengambil! - biarkan juga ia mengambil bajumu. - Jangan dipertahankan, katanya. Baju dalammu, itu dalam bahasa Inggris. Biarkan saja.

Belajarlah mengalah. Waktu SD saya belajar menulis halus: Orang sabar kasihan Tuhan ... Orang sabar kasihan Tuhan! Kita nggak ngerti bahwa Mardi Yuana ini Katolik, jadi pelajaran-pelajaran alkitab itu dimasukkan dalam pelajaran. Rajin pangkal pandai! Hemat pangkal kaya! Orang sabar kasihan Tuhan! - Itu ajaran kristen. Memang aduh geregetan kita, kita nggak salah, kita dirugikan, kita dipermainkan kaya bal kesana kemari. 

Saudara, orang ngambil jubah ... orang zaman dulu kan pakaian dalam terus jubah, kalau orang ngambil jubah, saudara biarkan, saudara masih punya baju. Tapi kalau sudah baju kita diambil kita musti biarkan, kita kan setengah telanjang. Dipermalukan. Maka penderitaan Yesus yang paling berat itu bukan ditusuk bukan ditempeleng bukan dipukul tapi waktu Dia dikhianati, waktu Dia ditelanjangi, waktu Dia diolok, waktu Dia rambutnya dijambak, waktu janggutnya ditarik, waktu Dia diludahi, waktu perempuan sundal ngambil kotoran lempar sama Dia. Maka saya bilang: Jangan tinggalkan Yesus, sakit hati Yesus itu nanti. Waktu Dia lihat muridnya yang Dia sayang, murid yang Dia percaya pegang duit, malah jual Dia ... bagaimana perasaan Dia? Tapi Dia bilang: hai, sahabat. Ngalah. Nggak ngelawan sedikit juga, nangkis barangkali ... nggak. Ditutup matanya digetok kepalanya dibelakang, nubuatkan siapa yang pukul kepala-Mu? Diam.

Inilah Juru Selamat kita, inilah Junjungan kita, inilah kekristenan yang sejati. Bukan yang sakit disembuhkan yang lemah dikuatkan, itu mah nomor 17. Ini mengalah ini yang susah. Kadang-kadang kita dianggap masih kaya anak kecil musti diatur. Soal ini dianggap remeh masih anak kecil. Tapi belajarlah mengalah dan di belakang itu ada berkat yang besar. Sekarang ayat 30  

6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.

Rugi kan? Ini Yesus ngajar bagaimana. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Biar saja. Siapa mengalah diberkati Tuhan. Ayat 31 adalah ayat yang harus kita pegang sampai kita mati nanti.

6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Saudara ingin dihormat? Mari kita menghormat orang lebih dulu. Saudara ingin disayang oleh orang-orang? Mari kita menyayangi orang-orang lebih dulu. Saudara ingin dihargai oleh orang lain? Mari dari pihak kita, kita menghargai lebih dulu orang lain. Ada peribahasa bilang begini: Siapa ingin punya teman, dia harus menjadikan dirinya teman bagi banyak orang, pasti dia banyak teman. Kalau kita memposisikan diri kita sebagai teman bagi semua orang, pasti kita banyak teman. Kalau kita memposisikan diri terbuka, hati kita terbuka, pasti orangpun terbuka sama kita.   

Kemarin hari selasa saya kaget - ini menjadi berkat bagi saya - datang satu wanita umur 40 tahun, ibu Gloria: Pak Awondatu, ini sedikit berkat, kue dia bawa. Saya bertobat dulu dengar khotbah pak Awondatu. Tahun 86. Tidak bicara panjang. Bersaksi dong, saya bilang. Nanti minggu depan. Saya dilahirkan cacat, jadi dia dilahirkan cacat karena mamanya mau menggugurkan dia, mengugurkan dari kandungan tapi tidak berhasil jadi dia lahirnya cacat, tangannya. Dia beberapa tahun lamanya dia benci sekali mamanya karena mau menggugurkan dia.

Tapi tahun 86 dia dengar Firman Tuhan. Sebetulnya saya bukan mau dengar khotbah, saya cuman mau dengar katanya ada pendeta lucu. Nggak tahunya saya malah jadi percaya sama Yesus. Saya terima Yesus sebagai Juru Selamat. Sekarang dia menjadi hamba Tuhan. Bukan pendeta hamba Tuhan seperti saya begini tapi dia menampung anak-anak haram, anak-anak yang digugurkan, yang dibuang; dia menemukan banyak bayi dia tampung sekarang, ada yayasan menampungnya. Sampe berapa tahun dia tidak bisa ampuni mamanya. Tapi akhirnya ketika Tuhan sembuhkan, ketika dia sudah mengampuni mamanya, Tuhan sembuhkan, tangannya normal sekarang. Dia jadi gadis normal. Umur 40 tahun sekarang dia.

Kalau Tuhan bekerja, yang sudah jungkir balik, Tuhan bisa balik kita. Yang sudah tidak mampu lagi bangkit, tidak bisa ngampuni mama tapi ketika dia sudah bisa mengampuni, dia dipakai oleh Tuhan dengan luar biasa.

Jadi pesan saya di malam ini, jangan membatasi Tuhan untuk memakai saudara. Saudara jangan berhenti dalam ukuran rohani yang sekarang ini; saudara bisa dipakai lebih daripada yang lain. Saudara bisa dipakai lebih banyak - asal kita mengasihi Tuhan jangan ukuran Simon yang kusta, yang biasa-biasa saja - tapi kita mengasihi Tuhan seperti Maria!

Sudah disebut dimarah, dimaki tapi dia tidak jawab; dia hanya siram saja minyak yang wangi untuk Yesus. Dan apa kata Yesus: Kemana saja injil diberitakan, perbuatan wanita ini akan didengar oleh banyak orang! Jadi kita musti mengasihi Tuhan itu lebih dari yang lain.

Saya kasih ilustrasi terakhir, Rut dari Moab. Pulang, miskin. Dengan Naomi mertuanya. Sampai ke Bethlehem, dia minta izin: Ma, izinkan saya memungut jelai. Gandum. Di ladang Boaz. Mamanya bilang: Iya, dah. Dia mungut pagi, dia minta izin dulu dia memungut. Jadi zaman dulu kalau orang memetik gandum itu, menuai gandum itu cepat. Karena cepat ada yang kececer. Yang kececer nggak boleh diambil. Itu hukumnya, hukum tidak tertulis ... biarkan untuk orang miskin. Jadi setelah ini yang kerja kira-kira 10 meter, dibelakangnya, mungut dia.

Waktu jam istirahat, teng ... istirahatlah pegawai Boaz. Ini yang saya mau katakan ini normal. Sudah kerja, teng ... istirahat, istirahat. Nggak salah teng ... istirahat semua, istirahat, nggak salah, termasuk kepala regunya istirahat. Minum dulu, mungkin setengah jam sebelum meneruskan lagi. Tapi Rut tidak istirahat, Rut terus.

Nah, ketika itulah lewat Boaz, yang punya tanah. Itu perempuan, kalau bahasa Indonesia lama: Siapa punya perempuan itu? Dia bukan tanya gini: "Siapa perempuan itu?" Nggak. Dia tanya: "Siapa punya perempuan itu?" Jadi ada keinginan Boaz untuk memiliki perempuan itu. Karena jaman dulu seorang kaya bisa memiliki banyak budak, banyak karyawan bisa dibeli. 

Apa yang terjadi saudara? Bersaksilah kepala karyawan: Dia itu Rut orang Moabi yang pulang ... menantunya dari Naomi, dia pulang dan sekarang ada disini. Tadi pagi dia minta ijin untuk memungut ini jelai sama gandum. Dan dia dari pagi bekerja sampai petang tidak berhenti. Dan memang orang lain istirahat dia tidak berhenti. Nah, itu yang tadi normal itu Simon si kusta biasa, cinta Tuhan biasa. Tapi Rut ini luar biasa, dia mengasihi Tuhan yang kuat.

Milikilah, yang saya bilang, kasih yang seperti ini! Baru-baru ini saya memperjuangkan satu staff saya yang banyak bantu saya untuk mendapatkan bantuan 1 juta atau 1 juta setengah perbulan. Yang nolak dia sendiri. Nggak usah, oom, saya kerja buat Tuhan, nggak usah. Saya kerja buat Tuhan, nanti Tuhan bantu buat saya. Bangga saya, karena saya lihat kerjanya memang berat, semua hampir pekerjaan saya ditackle sama dia. Tugas-tugas saya ditackle sama dia. Jadi saya mau perjuangkan dari MD ada dana untuk dia. Dia ingin kerja itu lebih, dia ingin kerja bukan yang normal-normal; dia ingin kerja bukan yang biasa. Mari kita berdiri bersama-sama.    

-- o --   

Rabu, 18 Agustus 2004

JANGAN MENGHAKIMI

Kita akan meneruskan injil Lukas 

6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
6:38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."
6:39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?
6:40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
 
6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Ayat ke-37 dan 38 kita akan terangkan karena akarnya kedua ayat ini sama: Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum. Kita akan lihat ayat 37, yaitu menghakimi.

Dalam kata menghakimi ini, dipakai dalam bahasa inggris "judge not", jangan menjadi hakim. Ini kalau dalam bahasa inggris, judge ini hakim tapi juga kalau dalam kata kerjanya menghakimi judge not, jangan menghakimi, atau kalau disalin, jangan jadi hakim.

Karena kenapa kita menghakimi? Karena kita merasa diri sudah bisa jadi hakim. Kata Tuhan, janganlah menghakimi. Kita akan lihat yang pertama, bagaimana penghakiman itu dimulai dari mata karena mata kita sering menilai manusia dengan mata. I Samuel 16, di sana seorang hamba Tuhan yang baik, yaitu Samuel yang tidak ada salah tidak ada keliru, tidak ada cacat soal moral, tidak ada salah soal keuangan, tidak ada salah soal kedudukan, tetapi dia pernah salah menilai dalam I Samuel 

16:6. Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya."

Perhatikan kata-kata Samuel, dia mengatakan begitu dia lihat Eliab, dia sudah lihat Eliab, kata-kata yang pertama  keluar dari mulutnya: Sungguh ...

Saudara, di Family Camp kita belajar apa arti kata Amin - Setia dan benar. Benar. Sungguh. Ini dia yang ngomong, Samuel ngomong: Ini sungguh ... Sekali lagi saya baca: Sungguh, di hadapan TUHAN. Dia sudah anggap ini kehendak Tuhan. Sungguh, di hadapan TUHAN. Samuel nggak salah soal seks, nggak salah soal uang, nggak salah soal kesombongan, tapi soal menilai orang. Dia bilang: Sudah, ini dia, di hadapan Tuhan. Seolah-olah dia sudah tahu Tuhan pasti senang sama Eliab. Sungguh. Menilai. Tapi apa yang terjadi?

16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Tapi bukan itu yang akan kita bicarakan tapi bagaimana orang menghakimi. Bagaimana kita bisa salah menilai orang dari penglihatan. Mari kita lompat ke belakang, Wahyu 22. Yohanes tidak pernah salah soal moral tapi pernah salah soal kedudukan; dia ... kita baca 

22:8 Dan aku, Yohanes, akulah yang telah mendengar dan melihat semuanya itu. Dan setelah aku mendengar dan melihatnya - Dua kali kata melihat, aku tersungkur di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya.
22:9 Tetapi ia berkata kepadaku: "Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!"

Saudara lihat bahwa Yohanes di Surga pernah salah menilai; dia anggap malaikat itu patut untuk disembah; dia anggap inilah sudah, luar biasa, ini patut disembah. Wahyu

19:9 Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."
19:10 Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat."

Saudara pernah dengar peribahasa ini: Masa kamu berbuat begitu lagi, keledai aja tidak masuk ke dalam lubang yang sama dua kali. Itu peribahasa benar. Keledai nggak akan masuk ke lubang yang sama sampai dua kali. Nggak akan! Tapi kenapa Yohanes - rasul, menilai salah, dua kali berturut-turut, hanya beda satu pasal saja, 2, 3 pasal sudah menilai malaikat salah.

Jadi betapa berbahayanya kita kalau menilai salah ini. Kita seringkali menilai yang kita nilai itu sesama. Kita nilai ada orang ini, kalau orang datang ke gereja beberapa jemaat datang ke gereja nggak ada suaminya, kita sudah nilai yang tidak baik. Ada orang datang istrinya tidak dibawa, nilainya udah nggak baik. Nggak boleh. Kita tidak boleh sembarangan menilai. Kita tidak mengerti apa yang sedang dihadapi oleh orang itu, kita tidak mengerti apa yang dihadapi oleh orang itu.

Di Family Camp, ada pasangan muda yang baru satu tahun menikah sudah mau pisah. Saya bilang, coba tunggu dulu. Saya bilang sama yang pria: Kamu datangi yang perempuan. Coba negosiasi lagi, coba. Sudah dua-duanya keras sudah nggak mau balik. Coba kamu mengalah negosiasi lagi. Tiga hari, nurut dia, negosiasi. Pagi-pagi dia telepon: Saya sudah negosiasi oom, sudah gini gini gini ... tapi "menurut penilaian saya", dia sudah tidak mau balik karena saya sudah begini, dia begitu; saya begitu, dia begini. Coba aja oom bayangin, saya begini begini, dia begitu; saya begitu begitu, dia begini.

Menurut penilaian saya! Hati hati lho kita sudah menikah di hadapan Tuhan, sudah bersumpah di hadapan Tuhan - hanya kematian yang menceraikan kita berdua. Saya sudah berusaha oom, tetapi menurut penilaian saya. Selalu penilaian saya. Saya tidak jawab cuma saya masih mau kirim sms: Mungkin satu hal yang belum kita kerjakan, yaitu berdoa! Kita tidak pernah berdoa untuk pernikahan ini. Saya mau tinggalin saja, saya mau cari perempuan lain. Kok gampang sekali. Menurut penilaian saya!

Kita seringkali menghakimi bahwa dia ini nggak bisa baik lagi, dia ini nggak bisa baik lagi. Saya punya prinsip begini: Orang yang benar mempunyai kans 100% dia bisa jatuh kalau dia tidak hati-hati; orang yang jatuh orang yang salah dia punya kans 100% untuk bertobat. Jadi kita nggak bisa menghakimi. Siapa yang sangka anak terhilang bungsu pulang baik, kok kokonya nggak mau terima? Nggak pernah bapaknya sangka. Siapa yang sangka yang biasa di sound system orang Sukabumi, Semi, 41 tahun umurnya, hari kamis yang lalu masih hidup, mau ikut family camp, dipanggil Tuhan. Dinilai dari tubuh sehat seger tidak ada penyakit, tapi katanya serangan jantung. Banyak orang tua kalau sudah batuk itu sampai melengkung badannya, belum mati.  

Jadi nggak bisa menghakimi. Siapa yang sangka Hizkia ditambah 15 tahun, siapa yang sangka, kata Firman Allah, orang yang melawan orang tua umurnya jadi pendek. Orang yang setia kepada Tuhan, umurnya dipanjangkan. Umur panjang pendek itu gimana Tuhan. Siapa yang sangka. Walaupun kita tidak bisa menghakimi orang yang pendek umurnya itu dihukum Tuhan. Yesus saja 33 tahun. Bahwa orang yang panjang umurnya itu, itu diberkati Tuhan, belum tentu. Jadi kita tidak bisa menghakimi, tidak bisa menjadi hakim.    

Satu gambaran yang indah dari adiknya Yesus, yaitu Yakobus.

2:1 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.
2:2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk,
2:3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",
2:4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?
2:5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?
2:6 Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?
2:7 Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah?
2:8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik.
2:9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.
2:10 Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.
2:11 Sebab Ia yang mengatakan: "Jangan berzinah", Ia mengatakan juga: "Jangan membunuh". Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.
2:12 Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.
2:13 Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.

Jadi kalau kita nggak ada belas kasihan sama orang, dalam menilai nggak ada sayang gitu sama orang, nanti orang menilai kitapun sama. Jadi jangan memandang muka. Kenapa? Karena dalam Yakobus 5, yang dimaksud orang kaya ini bukan semua orang kaya. Yakobus 

5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!
5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!
5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.
5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.
5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan. - Perhatikan ayat 6 -
5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

Siapa yang dibunuh, orang benar oleh orang kaya? Itu Yesus. Karena yang tulis ini Yakobus adalah adiknya Yesus. Jadi yang membuat plot sampai Yesus disalib, itu orang kaya yang tidak suka sama Yesus; dia yang kasih uang 30 keping perak sama Yudas, dia yang nyewa saksi-saksi dusta untuk bikin kesaksian bohong asal Yesus disalib. Karena bisnis penjualan domba itu dipegang sama mereka. Karena orang kalau minta ampun dosa melalui Taurat musti beli domba potong domba. Nah, jual beli domba seluruh Israel dipegang oleh orang kaya. Sekarang datang Yesus: Akulah Anak Domba Allah, kamu diampuni dosa tanpa harus beli domba. Ah, marah mereka: Ini bisnis kita bisa mati. Maka harus dibunuhlah Yesus. Sekarang saudara mengerti bahwa jangan kita menilai orang dengan keliru. Judge not, jangan menghakimi.

Nah, kalau kita kembali kepada Lukas  

6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah - Tiba-tiba datang kata ampunilah, dan kamu akan diampuni.

Saudara, kenapa saya katakan ayat ini 37 berikat dengan ayat 38, ayat 38 mengenai memberi. Memberi itu bahasa inggrisnya GIVE, tapi dalam ayat 37 akhir, itu ada mengampuni, pelajaran mengampuni yang sudah belajar banyak di family camp, itu dalam bahasa inggrisnya FORGIVE. Jadi kata mengampuni dan memberi ada persamaannya. Mengampuni mempunyai 4 huruf sama dengan kata memberi. Jadi kalau ini saya pecah ini huruf jadi dua, FORGIVE, kalau saya salin dengan bahasa pasaran, FOR itu untuk, GIVE itu memberi. Jadi  mengampuni adalah untuk memberi.

Saya yakin satu hal saudara, orang yang suka memberi biasanya orang yang suka mengampuni. Saya balik, orang yang suka dan bisa dan mudah mengampuni, itu biasanya mudah dalam hal memberi. Karena yang dalam pengampunan yang diberi adalah korban perasaan, yang diberi hatinya, yang diberi perasaannya, yang diberi keakuannya, yang diberikan kasihnya, apatah lagi cuma memberi soal materi. Gampang.

Maka Yesus datang dengan dua cara: Dia datang untuk mengampuni dosa, dan kedua, Dia datang untuk memberi hidup yang kekal. Bagaimana kita bisa dapat hidup yang kekal kalau belum dapat pengampunan dosa. Maka Tuhan Yesus datang dengan mengampuni dosa kita - forgive, dan Dia memberi kepada kita hidup yang kekal, Dirinya sendiri Dia beri kepada kita.

Maka orang yang suka memberi biar sedikit tapi dia suka, dia itu senang, seperti mata air. Mata air itu biar ditutup, dibuka ... dia keluar lagi. Saudara ngomong sama mata air: Berhenti. Nggak bisa. Mata air kok, keluar terus. Orang yang suka memberi, biasa memberi, itu nggak berat kalau mengampuni. Saya balik, orang yang biasa mengampuni orang, salah besar saja diampuni apalagi salah kecil, mengampuni orang, dia tidak ada kesukaran memberi.

Jadi kalau saya gambarkan dengan hal soal memberi, yang ini yang kita beri, tidak kelihatan mata; yang ini yang kita beri, nampak dengan mata. Yang pertama kita beri ampun, ampun kan tidak kelihatan mata. Pengampunan, dengan kasih kita bisa mengampuni kita bisa mengerti ya sudahlah, memang dia salah sama kita tapi ya sudahlah. Gampang kita memberi. Prinsip ini saudara, haruslah menjadi way of life, jalan hidup kita.

Saya tidak pernah terima kolekte dari family camp, nggak pernah. Tapi kemarin ada orang kasih uang sama saya 5 juta. Nah, saya harus bagi. Wartawan Kerajaan Allah datang, saya tidak tanggungkan kepada kas Kerajaan Allah, saya bagi untuk tiket pesawat pulang. Itu pemain musik itu yang pegawai karyawannya saya kasih tip, 100.000, 100.000 ... pemain musik saya kasih.

Kalau saudara tahu rahasia ini, wah saudara akan berlomba-lomba memberi, kenapa? Ketika saudara memberi, datanglah ayat 38, Berilah dan kamu akan diberi.

Mungkin itu saya punya ... seperti sekolah alkitab, saya tidak pernah saudaraku saya ngajar di sekolah alkitab 16 tahun,  tidak pernah sepeser saya ambil uang dari keuangan sekolah alkitab untuk honor saya, saya nggak, Malah saya isi dari kolekte saya di Jakarta, saya isi 50% untuk sekolah alkitab. Saudara lihat di Kerajaan Allah ada dompet Kerajaan Allah  dari Jakarta, itu kolekte saya, saya beri. Jadi orang tidak boleh ngiri kalau Tuhan berkati saya, karena saya tidak pernah hitungan. Beri, saya tahu, pasti Tuhan akan memberi.

Nah, saudara yang bagikan kemarin itu pembatas alkitab untuk SMS, dia yang nawarkan sama saya. Dulu sama uang saya pribadi kirim sms. Terus pakai uang dia pribadi. Akhirnya dibuka jalan. Sekarang, oom nggak usah keluar uang, ternyata ini diminati oleh Telkomsel, oleh Satelindo, oleh Pro XL, diminati. Dia biasa 3 juta satu bulan keluar untuk bayar kalau saudara minta ayat, dikirim, itu sudah tanggungnya. Sekarang punya bisnis diberkati Tuhan. Tidak ada hitungan sama Tuhan. Nah, kita lihat, berilah dan kamu akan diberi.  

Kata berilah dalam bahasa Yunani dipakai kata didomi. Didomi artinya kembar. Didomi artinya berganda atau kembar. Yohanes 

21:1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.
21:2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, ...

Didimus datang dari kata didomi, karena Tomas ini salah satu dari anak kembar. Tomas yang bergelar Didimus, dia anak kembar. Jadi Didimus adalah kata dari didomi itu disebut tadi artinya kembar. Jadi, barang siapa memberi, dia akan ...

Nah, saya belum terangkan bahwa kata didomi ini mempunyai 9 arti: Memberi, mengantarkan, memberkati, membawa, menghentar. Lalu mencurahkan. Ini memberi lho tapi arti yang kesembilan ini yang saya bingung. Sudahlah yang satu sampai delapan kurang lebih sama. Pokoknya ada delapan itu sama mirip. Tapi yang kesembilan ini, artinya saya sampai baca dua kali di kamus, betul itu artinya, didomi berarti menerima. Jadi ketika saudara memberi, yang bahasa Yunaninya itu didomi, pada waktu yang sama, saudara mempunyai hak voucher, cek, karcis, tiket, untuk menerima! Siapa yang memberi, dia akan diberi, itulah bunyinya ayat itu. Kembali lagi pada Lukas

6:38 Berilah dan kamu akan diberi.

Ketika saudara memberi, saudara aktif. Beri. Saudara yang aktif. Tapi perhatikan kedepan. Waktu saudara diberi, saudara non aktif, saudara diam, artinya apa? Saudara nggak minta, artinya apa? Saudara nggak ngareupin. Tiba-tiba akan diberikan kepadamu. Di .. di .. di .. Contoh. Saudara yang sudah ikut Tuhan mau ikut Yesus lebih dalam harus di ... baptis. Dibaptis bukan berarti saudara masuk air sendiri tapi saudara diam, ada dua orang yang akan membaptis saudara. Saudara diam. Saudara bisa makan sendiri tapi kalau lagi sakit kadang-kadang tangan lagi diinfus, saudara akan disuapi. Di itu kita diam. Saudara, kita di dalam Kristus disucikan. Bukan kita menyucikan diri dengan makan tidur di atas duren, tusuk gigi dari paku, dan sebagainya. Tidak. Kita disucikan.

Jadi waktu ada kata di, kita itu diam, kita itu non aktif. Maka waktu saudara memberi, saudara aktif; tapi waktu saudara diberkati, saudara nanti kaget. Seperti yang saya bilang di family camp, tiba-tiba ... tunggu, berapa lama? Nggak tahu! Tunggu. Tapi nanti pertolongan Tuhan datang dengan tiba-tiba, amin saudara? Dan saudara tidak tahu tidak mengerti. Tiba-tiba datang ... diberi kepada saudara, satu takaran yang baik.

Nah, bahasa inggris memakai kata takaran itu memang measure. Measure itu memang ukuran, takaran. Di dunia ini berapa banyak pom bensin yang dilaporkan karena beli 30 liter kok yang punya mobil kok 30 liter si jarumnya kok nggak naik-naik. Biasanya setengah kok ini cuma seperempat. Coba di pom bensin yang lain. Isi 30 liter, setengah. Balik lagi sama pom bensin itu, isi 30 liter seperempat. Wah dilaporkan. Kenapa? Ukurannya measurenya dimainin, nggak baik ... dikurangin.

Yang jual emas, seringkali 22 karat. Tapi sebetulnya bukan 22 karat mungkin cuma 20 karat dijual dengan 22 karat. Dikurangi, karena untuk keuntungan. Dunia. Ada orang kawin mengaku belum menikah padahal sudah dua kali nikah. Ukurannya dikurangi.   

Saya ngawinin pengantin di Wiradesa dulu. Satu janda suaminya meninggal dengan satu muda. Sebelum pemberkatan dibacakan dulu catatan sipil: Menikah saudara ini belum pernah kawin dan saudara ini belum pernah kawin. Jadi di catatan sipil belum penah kawin dua-duanya, padahal yang satu sudah janda. Ukuran dikurangi. Itu measurenya dari dunia. Kebaktian dimulai jam 4, diakhiri sampai jam 6 lah. Ada yang jam 4 kurang 15 sudah datang, ada yang jam 4 tepat datang tapi ada yang pas mau firman Tuhan baru datang. Dikurangi.

Jadi jangan marah kalau sama Tuhan nanti Tuhan juga dikurangi. Karena saudara main kurang-kurang terus sama Tuhan. Bedston jam 5 mulai jam 6 selesai. Berapa banyak yang datang jam 6 kurang 15. Ayo terus saja dikurangi measurenya. Tapi Tuhan tidak pernah mengurangi. Siapa yang memberi sama Tuhan akan diberi kembali dengan caranya Tuhan - dengan ukuran measure yang baik! Tidak kurang. Sudah baik ditekan. 

Di dalam masanya orang-orang Yahudi, ukuran yang dipakai selalu adalah ukuran gandum. Sama dengan kita ukuran beras, literan beras. Masukin beras, disipat dengan baik. Jangan mau kalau beli beras zaman dulu, beli beras literannya dimiringin, jangan mau tuh. Rugi saudara. Harus tegak. Ini sudah tegak ... Di press down, digoyang, digoncang. Sudah ditekan, kan turun lagi itu beras, diisi lagi. Itu berkat. Press down. Goyang. Press down.

Sudah press down, eh luber keluar. Tumpah. Jadi si gandumnya berasnya itu sampai atas ini sampai tumpah keluar berceceran keluar. Maka orang Israel kalau petik gandum yang kececer nggak boleh diambil ... itu untuk orang miskin, untuk orang yang dibelakangnya - seperti Rut mungutin gandum, nggak boleh diambil. Demikian juga kita. Kalau kita diberkati sama Tuhan, nanti ada yang tercecer untuk mereka yang sisa.  

Korban yang terbaik dihadapan Tuhan, pertama untuk pembangunan rumah Tuhan, yang kedua untuk orang miskin, yang ketiga baru untuk hamba Tuhan. Apa yang terjadi saudara? Kalau saudara datang kepada Tuhan dan memberi dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan hati saudara itu adalah hati yang memberi, maka apa yang terjadi? Akan tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Ribaan itu bukan tangan. Ribaan itu di sini pakai kain, haribaan pelukan. Waduh terlalu berat dia musti duduk terimanya. Udah tercecer kemana-mana. Itu berkat dari Tuhan. 

Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Saudara memberi sama Tuhan dengan ukuran gelas perjamuan kudus, Tuhan akan memberi kepada saudara dengan ukuran gelas perjamuan kudus. Nggak mungkin saudara memberi sama Tuhan dengan ukuran gelas perjamuan kudus, saudara minta dari Tuhan satu drum. Ukuran yang kita pakai untuk mengukur. Saudara nggak kasih perpuluhan tapi kasih bulanan yang bukan perpuluhan. 

Ini saya baru dengar kemarin di televisi. Saya sampai mau nangis rasanya. Ini satu pendeta ini dia lihat surga. Pendeta ini di Amerika dia lihat surga dia ketemu Yesus. Yang heran yang dia cerita mirip dengan mama saya waktu mama saya lihat surga. Sama, mirip. Dia bilang begini: Saya melihat anak-anak bayi, roh yang besar. Ditanya sama Tuhan: Ini roh apa ini, ini roh siapa ini, cantik-cantik, ganteng-ganteng? Ini adalah anak-anak yang digugurkan. Menurut dia, Tuhan bilang: Biarpun dia cuman umurnya 3 minggu, digugurkan sama ibunya, Aku pelihara di sana. Jadi bayi yang belum lahir cuma 3 minggu hamil, satu bulan hamil, digugurkan, atau keguguran, itu ada di sana. Saya nangis. Kita anggap nggak ada, kan? Apa yang kita mau simpan di dunia ini waktu kita hidup? Waktu lahir kita nggak bawa apa-apa, waktu kita mati kita nggak bawa apa-apa. 

Masa sih Tuhan mau suruh kita jadi miskin, masa sih Tuhan mau suruh kita jadi kekurangan. Nggak mungkin. Nah, ayat ini, dua ini harus berjalan bersama-sama. Kita tidak boleh ada hati yang dendam marah, dendam kesumat gondok, ... nggak boleh. Karena itu artinya kita memberi pengampunan. Yang kedua, kita juga tidak boleh menyimpan roh kekikiran, kita harus suka memberi.   

Beri sama orang miskin ... kasihan, mulai dari yang kecil-kecil. Nanti saudara lihat: Toko saudara diberkati, ada saudara diberi kesehatan, sama Tuhan dikasih bongbolongan ... ada jalan keluar. Kita berdiri bersama-sama.         

-- o --   

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________