Khotbah Rabu Juli - Agustus 2007

Gereja Pantekosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Rabu, 01 Agustus 2007

NANTIKANLAH TUHAN

Mari kita membuka kembali Injil Lukas 

17:35 Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan."
17:36 (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.)

Saya sudah cerita rabu yang lalu, baik yang dibawa maupun yang ditinggalkan kedua-duanya selamat tetapi dengan cara yang berbeda. Ayat 37,

17:37 Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."

Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar atau burung rajawali.

Saudara, burung rajawali adalah pemakan daging, pemakan bangkai. Maka Tuhan Yesus berkata, di mana ada mayat - dalam bahasa Indonesia lama dipakai kata: Di mana ada bangkai, di situ berkerumunlah burung nasar. Di dalam ayatnya yang ke-37, maka sahut mereka itu serta berkata kepada-Nya, di manakah, ya Tuhan? Maka kata Yesus kepadanya, barang di mana ada bangkai di situlah juga berkerumun burung nasar.

Puji Tuhan. Di dalam firman Allah, kita buka lebih dahulu Yesaya 

40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Kata rajawali di dalam Yesaya adalah sama dengan kata burung nasar di dalam Injil Lukas. Eagle, rajawali. Di dalam Lukas dipakai kata burung nasar. Tetapi di dalam Yesaya dipakai kata rajawali. Disebutkan ini adalah lambang orang yang menanti-nantikan Tuhan. Orang yang menanti-nantikan Tuhan, orang yang menunggu kepada Tuhan.

Saya mau mulai dari hal yang sederhana. Saudara memohon sesuatu kepada Tuhan, minta sesuatu kepada Tuhan tapi belum diberi, belum dikasih. Apa yang saudara rindukan, inginkan dalam hati, saudara cita-citakan, tampaknya belum kelihatan. Tuhan belum memberi.

Ayat ini bilang, Yesaya bilang, orang yang menanti-nantikan Tuhan walaupun belum diberi, dia akan menanti-nantikan Tuhan. Maka dikatakan, Dia akan membaharui kuatnya. Kekuatan saudara akan dibaharui. Bisa bilang amin? Kekuatan saudara dan kekuatan saya berbeda. Mungkin saudara lebih kuat dari saya. Tetapi ketika kita sama-sama menanti-nantikan Tuhan, bukan menantikan kedatangan-Nya. Tapi kita menantikan Tuhan, menunggu Tuhan. Kadangkala di dalam waktu kita berdoa, saya nggak ngomong, saya nggak minta, saya nggak bilang haleluyah, saya nggak bilang puji Tuhan. Saya cuma diam. Saya cuma menanti di kaki Tuhan, menunggu di kaki Tuhan. Bisa dengan berlutut, bisa dengan berdiri, bisa dengan duduk. Kalau saudara sakit bisa dengan berbaring. Tapi hati kita menantikan Tuhan.

Orang yang menanti itu kan paling nggak enak. Menunggu itu paling nggak enak. Tetapi dikatakan oleh firman Allah, orang yang menantikan Tuhan seperti rajawali. Jadi rajawali dalam Lukas 17 adalah anak-anak Tuhan yang menanti-nantikan Tuhan. Di dalam Mazmur

27:14 Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

Dalam bahasa Inggris agak lain sedikit bunyinya. Saya lebih senang dalam bahasa Inggris. Saya baca buat saudara dalam bahasa Inggris. Nantikanlah Tuhan, beranikanlah dirimu, dan Dia akan menguatkan hatimu.

Kalau saudara baca teguhkanlah hatimu, kita yang meneguhkan hati. Tetapi kalau dalam bahasa Inggris, Dia, Tuhan akan menguatkan hatimu. Tunggu, aku katakan di hadapan Tuhan, nantikanlah Tuhan. Dua kali disebut nantikanlah Tuhan. Yesaya bilang, orang yang menantikan Tuhan akan membaharui kuatnya.

Jadi burung nasar atau burung rajawali atau eagle itu di dalam Lukas 17 adalah orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan. Di dalam Kisah Rasul 1, perintah Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Dia naik ke sorga. Ayat 4,

1:4 Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang--demikian kata-Nya--"telah kamu dengar dari pada-Ku.
1:5 Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus."

Jadi saudara-saudara, sama seperti anak saya Revi, pada usia 13 tahun dia sudah bisa setir mobil tapi saya tidak ijinkan. Tetangga kami mau berbaik hati, saya atur deh nanti dia dapat rebewes dari polisi, saya atur ... gampang. Saya bilang, nggak usah, jangan biarin aja ... masih kecil. Saya bilang, tunggu, nanti. Helga juga bisa setir mobil. Tapi saya bilang jangan ke mana-mana, jangan jauh-jauh, di Cianjur saja putar-putar. Bandel. Belum waktunya, dibawa ke Cipanas. Masuk di Yasmin. Sambil setir mau betulin sandal, dia nabrak pohon. Nangis dia, biasa. Kenapa? Karena belum waktunya dia setir mobil.

Jadi orang yang bikin peraturan sudah tahu. Kalau belum tujuh belas tahun, belum matang, belum saatnya, sekalipun dia sudah bisa. Secara teknik dia sudah bisa. Belum matang. Jadi kita musti menunggu, menantikan saatnya.

Di Jakarta ada satu jemaat. Dia punya anak baru kelas lima SD. Dia bilang, papi, papi saya pengen berpacaran. Hus, papinya bilang, masa baru kelas lima SD sudah berpacaran. Teman-teman saya juga ada pacaran. Tunggu, nggak boleh, belum waktunya.

Saya tidak bisa bayangkan kalau saya diminta memberkati penganten, penganten lelakinya baru kelas lima SD, pengantin perempuannya kelas tiga SD. Jadi kita harus menanti, menunggu waktunya Tuhan. Amin? Kalau belum waktunya, Tuhan belum kasih. Tapi kalau sudah waktunya, saudara lupapun Dia sudah beri. Karena memang sudah waktunya, sudah saatnya. Coba kita bandingkan dengan Galatia

4:4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat

Kalau sudah waktunya, Tuhan saja bekerja. Dia mengirimkan Anak-Nya. Dulu kita mau bangun ini gereja, duh susahnya. Saya ingat papa saya sampai ditunjuk-tunjuk sama pengacara. Papa saya sampai sakit, sampai meninggalnya. Karena dia memikirkan uang gereja yang ditipu. Nggak besar, hanya dua, tiga puluh ribu. Tapi saat itu tahun 70-an, cukup besar. Papa saya nggak bisa tidur. Papa saya memikirkan. Belim waktunya.

Tapi ketika tahun 78, gereja pertama kita bangun. Tahun 98, dua puluh tahun kemudian, gedung ini diberkati. Kalau sudah waktunya, Tuhan beri. Amin?

Jadi nggak bisa maksa. Kalau sudah waktunya Tuhan, nanti saudara sendiri akan bingung. Kok saudara bisa dapat ini? Kok saudara bisa dapat itu? Karena memang sudah waktunya. Waktunya Tuhan untuk saudara mendapatkan berkat. Jadi tunggu sebelum waktunya datang.

Jangan jadi anak terhilang. Belum waktunya keluar rumah, dia sudah minta uang. Belum waktunya dapat warisan, dia sudah minta warisan. Dan apa yang terjadi? Dia jatuh miskin. Karena belum waktunya. Dalam Amsal dikatakan, berkat atau warisan yang diberikan sebelum waktunya, justru akan merusak.

Jadi penting sekali kita menunggu waktu, menantikan waktu Tuhan.

Siapa tadi yang disebut menantikan waktu Tuhan? Anak-anak Tuhan yang seperti rajawali. Kita teruskan dalam Pengkhotbah 

3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Semuanya ada waktunya. Ada waktu kita mengalami percobaan tapi ada waktunya kita mendapatkan kelepasan. Ada waktunya kita mendapatkan kesulitan, ada waktunya kita dapat pertolongan. Itu adalah irama dari kehidupan.

Nah, kita kembali lagi kepada ayat pokok kita di dalam Lukas 17:37 dikatakan

17:37 Kata mereka kepada Yesus: "Di mana, Tuhan?" Kata-Nya kepada mereka: "Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar."

Whereever the body is there, the eagles will be gathered together, di mana ada tubuh, daging, di mana ada mayat di situlah burung-burung rajawali atau burung-burung nasar berkumpul.

Mayat ini tidak lain adalah tubuh Yesus, badan Yesus. Di dalam Yohanes

6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.
6:36 Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.
6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.
6:39 Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." - Kita lompat kepada ayat 53 -

6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Haleluyah? Bagaimana Yesus bisa kasih makan daging kalau Dia belum meninggal? Bagaimana Dia bisa kasih minum darah kalau Dia belum meninggal?Ini adalah gambaran dari perjamuan kudus. Ketika Dia mengambil roti, Dia berkata: Inilah tubuh-Ku. Lalu dipecah-pecahkan. Yang dipecahkan karena kamu, yang pecah karena kamu, yang jadi hancur karena kamu. Dia jadi mayat karena kita. Dia jadi hancur karena kita. Dengan jelas Dia bilang, yang tidak makan daging-Ku, dan tidak minum darah-Ku, dia tidak mendapatkan hidup yang kekal.

Ada ayat yang berbunyi, burung nasar itu, anak-anak burung nasar itu, dia mematuk darah, bukan hanya daging. Kita akan lihat beberapa ayat bagaimana satu burung nasar yang menjadi lambang anak Tuhan di akhir zaman mendapatkan kekuatannya. Tadi kita dengar kekuatan datang dari sayap. Tapi apa yang dikatakan oleh firman Allah. Kita mau lihat apa yang dikatakan sabda Tuhan mengenai burung nasar.

Keluaran 19:4, di sana Tuhan Yesus menjadi contoh sebagai burung nasar. Keluaran

19:4 Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. - Tetapi di dalam Wahyu 4:7 -

4:7 Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. - Wahyu 12:13,

12:13 Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.
12:14 Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.
12:15 Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu.
12:16 Tetapi bumi datang menolong perempuan itu.

Jadi burung rajawali, burung nasar bukan hanya menjadi lambang kepenuhan Roh Kudus tetapi dia juga menjadi lambang saudara dan saya yang berkerumun. Coba saudara perhatikan kebaktian perjamuan kudus. Aneh tapi nyata di semua gereja, nggak protestan, nggak katolik, nggak pantekosta. Kalau kebaktian perjamuan kudus, jemaat itu datang, banyak. Tapi ini ayat digenapi, di mana ada mayat di situlah berkerumun burung nasar, bururng rajawali. Di mana ada tubuh dan darah Kristus, perjamuan kudus, di situlah orang berkerumun.

Nggak katolik, nggak protestan, nggak pantekosta, nggak GBI, nggak GPP, kalau perjamuan kudus penuh orang. Betul digenapi ayat firman Allah ini. Di mana ada mayat, di situlah burung nasar berkerumun.

Untuk menerangkan lebih jauh, kita melihat I Korintus 11. Mengenai perjamuan kudus, kita lihat bahwa perjamuan kudus adalah lambang tubuh dan darah Yesus. Jadi lambang jenazah, lambang mayat. Ayat 17,

11:17 Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.
11:18 Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.
11:19 Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji.
11:20 Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. - Lihat, perkumpulan itu dihubungkan dengan perjamuan Tuhan. Sekarang istilah perjamuan kudus, perjamuan suci sudah diganti. Menurut aturan anggaran dasar gereja disebut perjamuan Tuhan. Kalau kita sudah kebiasaan perjamuan kudus atau perjamuan suci. Tetapi sekarang disebut perjamuan Tuhan karena di alkitab disebut perjamuan Tuhan. -
11:21 Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk.
11:22 Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji.
11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku

Yang diambil oleh Yesus itu roti, bukan tubuh-Nya. Lalu Dia berkati, Dia doakan. Setelah didoakan, Dia pecahkan dan berkata: Inilah tubuh-Ku. Demikian juga dengan perjamuan kudus. Yang diantar oleh orang-orang pada waktu saudara menerima perjamuan kudus adalah roti dan anggur. Tetapi setelah didoakan yakinlah bahwa itu adalah tubuh Tuhan. Kenapa? Karena kita adalah rajawali-rajawali yang berkerumun di atas daging dan darah Yesus. 

11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"
11:26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.

Kematian Tuhan, jenazah. Kalau kita bilang kematian Tuhan, Tuhan bilang jenazah. Tuhan mati, Yesus mati, Dia tidak bergerak. Dan Firman Allah tadi katakan, di mana ada badan, di mana ada tubuh, di mana ada jenazah, di mana ada mayat, di situ berkerumunlah burung-burung nasar.

Jadi kalau buat saya, perjamuan Tuhan jauh lebih berharga dari hari natal. Kita mati-matian bikin acara natal. Latihan dua bulan sebelumnya, tari-tarian, nyanyian Malam Kudus dan sebagainya, kumpulkan uang untuk hari natal. Dan kita lupa, Tuhan tidak pernah perintahkan peringatilah kelahiran-Ku. Nggak pernah.

Tuhan bilang: Ingatlah kematian-Ku. Maka saya ingin gereja kita menghargai paskah lebih besar dari hari natal. Karena paskah itu ada di Perjanjian Lama, ada di Perjanjian Baru. Bagaimana Tuhan menyelamatkan kita melalui kematian-Nya. Ada haleluyah?

Sekarang kita sedang menikmati kehidupan-Nya. Tapi sebelum kita menikmati kehidupan-Nya, kita harus bisa menikmati kematian-Nya. Bangkai. Kematian. Saya kasih ilustrasi. Dulu ada yang tanya sama saya, kenapa gereja katolik salibnya ada Yesusnya, sedangkan gereja-gereja protestan termasuk pantekosta, salib nggak ada Yesus?

Saya bilang begini: Gereja katolik pakai salib yang ada Yesusnya untuk mengingatkan pada umatnya karya kematian Tuhan. Karena kematian Tuhanlah dosa kita diampuni. Karena kematian Tuhanlah pintu sorga dibuka. Karena kematian Tuhanlah kita diterima menjadi anak. Sedangkan gereja protestan tidak pakai Yesus untuk mengingatkan bahwa Yesus nggak mati terus. Tetapi pada hari yang ketiga, Dia bangkit. Jadi orang katolik mengingatkan kita kepada kematian Tuhan, kita orang-orang protestan dan pantekosta mengingatkan kita kepada kebangkitan Tuhan Yesus. Amin? Haleluyah?

Jadi, pada waktu Yesus berkata di mana ada bangkai di situ berkerumun burung nasar, Dia sedang mengingatkan kita kepada kematian-Nya. Dan Paulus bercerita tentang kematian dan kebangkitan Tuhan itu dalam Roma 5. Kita akan membaca perbandingan kematian dan kebangkitan Tuhan. Roma

5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,
5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--.
5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
5:9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
5:10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! - Bukan kematian-Nya. Oleh hidup-Nya, oleh kebangkitan-Nya -
5:11 Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

Jadi kita sekarang sedang menikmati kehidupan Kristus. Bukan kematian. Kematian sudah lewat. Kita sudah terima pengampunan. Kita sudah terima perdamaian. Kita sudah diperdamaikan dengan Tuhan. Dan saya harap tidak ada yang masih bermusuhan dengan Tuhan. Kita sudah diperdamaikan oleh darah Kristus, oleh kematian Tuhan. Nah, sekarang kita sedang menikmati berkat-berkat karena kehidupan Kristus. Paulus berkata: Hidupku bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalamku. Dia menikmati kehidupan Kristus. Ayat sebelumnya, ayat 19 dari Galatia 2, aku tersalib bersama dengan Kristus. Dia bicara kematian Kristus. Galatia

2:19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;  - Dia hidup dalam kematian. Diselamatkan oleh kematian Kristus. Ayat 20, -
2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Sudah berhentilah hidup di alam kematian Kristus karena kita sudah diselamatkan. Kita sudah selamat oleh kematian Kristus. Kita sudah diaku. Sudah lewat. Sekarang mari kita nikmati berkat dari kehidupan Kristus. Kita sekarang harus menikmati berkat dari hidupnya Kristus. Puji Tuhan. Haleluyah. Karena waktunya sudah cukup, sampai di sini dulu. Nanti kita akan teruskan.

-- o -- 

Rabu, 22 Agustus 2007

CARA MENDEKATKAN DIRI KEPADA TUHAN

Mari kita membuka kembali Injil Lukas

18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan. Kita harus mengetahui caranya. Apa yang Tuhan suka? Apa yang Dia tidak suka? Apa yang Tuhan suka dan apa yang Dia tidak suka? Kita akan mulai dari yang Dia tidak suka. Dimulai dari orang yang datang ke gereja. Waktu itu Bait Allah itu disebut sinagoga. Sekarang gereja, bahasa Indonesia. Kalau bahasa Latin, igreha. Kalau orang Sunda bilang garejra. Itu sekarang bukan gedungnya. Gereja itu saudara dan saya ... orangnya yang di dalam. Walaupun bangunan kita umpamanya dari gedek tapi kita berbakti, tetap itu di hadapan Tuhan adalah gereja.

Supaya saudara tidak salah pikir bahwa Tuhan itu menilai gereja dari bangunannya. Nggak. Kita tetap berdoa, supaya siapa tahu tanah di belakang bisa diberikan. Kalau bisa diberikan ini gereja enak nanti kelihatannya. Kalau sekarang mencong-mencong karena letter L gitu, ya. Tapi tetap gereja. Tetap kita disebut gereja. Puji Tuhan.

Kita mulai dari orang Farisi. Kenapa Yesus berkata? Karena ayat 9 berkata, kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini.

Jadi sejak zaman Yesus, banyak sekali orang yang suka menganggap rendah orang lain, menganggap dirinya benar. Dalam bahasa Inggris, bukan merasa diri benar tetapi yang percaya kepada dirinya sendiri.

Dia datang kepada Tuhan, dia tidak percaya kepada Tuhan. Tetapi dia percaya kepada dirinya sendiri. Percaya kepada kebenaran dirinya sendiri. Dia hakul yakin bahwa dirinya orang benar. Despise itu anggap remeh orang. Dia merasa, dia begitu, dia percaya, kepada diri sendiri. Dia yakin kepada diri sendiri bahwa dirinya itu benar. Dan orang lain yang di sekitar dia, dia despise, dia anggap remeh.

Orang Farisi itu tokoh. Tokoh dari agama Yahudi. Yesus bilang satu perumpamaan. Ayat 10,

18:10 Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.

Kalau saya pakai timbangan, yang satu orang Farisi, yang satu pemungut cukai. Dalam timbangan ini tidak seimbang. Karena menurut mata kita, orang Farisi ini hampir tiap hari ada di Bait Allah. Sedangkan orang pemungut cukai adanya di kantor pajak. Jadi di hadapan manusia, sebetulnya kita lihat, ini orang Farisi di sini, di sini pemungut cukai.

Pemungut cukai itu dianggap enteng kalau kita nilai. Kenapa? Begitu masuk saja ke gereja atau ke sinagoga, kita lihat itu orang Farisi itu, wah, orang terhormat. Sudah bajunya penuh dengan rumbai-rumbai. Terus orang Farisi suka gantungkan kitab Taurat di pinggangnya. Lalu janggutnya panjang. Itu yang suka dia kerjakan. Kalau tukang pajak, dia datang apa adanya. Mungkin masih pakai seragam tukang pajak.

Supaya saudara tahu, di Israel dulu yang terbuang itu cuma dua orang. Disebut orang terbuang, paling dibenci oleh orang Israel, yaitu pelacur dan pemungut cukai.

Kalau sudah pelacur, sudah. Sampai sekarang juga kalau orang pelacur, sudah tidak ada harganya dah. Kedua tukang pajak. Sama juga. Sekarang juga kalau kita lihat orang pajak, sudah siap berkelahi saja. Karena tukang pajak itu seringkali nggak jujur. Zaman dulu juga begitu.

Jadi kalau kita pakai mata kebiasaan kita, kita lihat. Begitu kita masuk di Bait Allah, kita lihat ada satu orang Farisi, ada satu tukang pajak. Nah, kalau orang Farisi ini berbobot, maka timbangannya berat. Kalau tukang pajak, nggak ada rohaninya dah.

Ayat 11, orang Farisi itu berdiri dan berdoa.

Dalam Injil Matius Tuhan Yesus pernah menegur orang Farisi: Kamu suka berdoa di tikungan-tikungan jalan raya. Jadi kalau zaman dulu ada tikungan. Misalnya tikungan ini deh. Tikungan dari Hasyim Ashari ke Salakopi, tikungan Mangun Sarkoro ke Cokroaminoto. Itu orang Farisi suka di tikungan itu dia berdoa. Oh, Yahweh, shalom Yahweh, dinyanyikan. Nah, orang-orang yang lewat, ck .. ck .. ck .. tokoh agama. Kalau lewat itu aduh, hormat karena ada yang sedang berdoa.

Sekarang dia di rumah Allah, dia berdiri dan berdoa. Keras lagi. Tetapi kerasnya itu di dalam hati. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah. Kok Dia bisa tahu, kan dalam hati nggak kedengaran? Di sini kita belajar bahwa lain kali kalau kita berdoa kita nyusun baik-baik doa kita. Padahal yang Tuhan lihat itu di hati. Kadang-kadang walaupun kita nggak enak hati, kita bikin doa yang baik, kita ngomong, keluar yang bagus. Nampaknya orang ini di dalam hatinya, dia tutup mulut, tapi hatinya penuh dengan diri sendiri.

Lihat. Dia berdoa, ya Allah. Sekarang kita bagi dua. Ini doa orang Farisi. Ini doa orang berdosa, pemungut cukai. Kita lihat alamatnya. Alamatnya sudah benar: Ya, Allah. Sudah benar, dia berdoa kepada Allah. Bagus. Yang kedua, aku mengucap syukur. Yang kedua dia tahu mengucap syukur. Banyakan kita datang kepada Tuhan nggak mengucap syukur. Tapi orang Farisi ini mengucap syukur. Tapi dia bilang mengucap syukur karena aku tidak sama seperti orang lain. Dia mengucap syukur karena dia ini beda dengan orang lain.

Lalu orang lain itu dia gambarkan seperti apa, ya. Aku beda dengan orang kebanyakan. Dia mahiwal, berbeda dengan yang lain. Dia katakan, aku bukan perampok, aku bukan orang lalim, aku bukan pezinah dan aku bukan pemungut cukai.

Dengan dia berkata pemungut cukai, dia sudah menganggap remeh orang yang kedua. Sebab orang yang kedua berdoa itu pemungut cukai. Dia sudah tahu. Jadi ketika dia lihat ada pemungut cukai, dia sembahyang, dia bilang: Oh terima kasih Tuhan, aku bukan orang jahat, aku bukan orang lalim, aku bukan orang pezinah, aku juga bukan pemungut cukai. Oh, terima kasih, aku mengucap syukur, terima kasih.

Lalu dia ceritakan dia punya perbuatan, dia punya kelakuan. Satu, aku berpuasa dua kali seminggu. Dan aku memberikan sepersepuluhan, aku memberikan sepuluh persen.

Banyak orang kristen kalau saya ngomong perpuluhan, waduh, apa sih ini, apa sih itu. Dari segala penghasilanku. Memang pendeta kalau sudah ngomong perpuluhan, memang peka, ya. Soal uang, kita ngomong duit itu peka. Tapi saudara musti tahu, uang persepuluhan itu yang saya terima, baik dari Jakarta maupun dari mana-mana. Saya bagikan.

Yang pertama, saudara pernah dengar, saya bagi seratus juta, itu untuk pembangunan Convention Centre. Lalu saya bagikan, ini Jawa Barat terdiri dari sebelas wilayah. Banyak pendeta yang masih susah. Jemaatnya 4, jemaatnya 5, jemaatnya 6, susah. Untuk makan saja sudah susah. Saya bagikan perwilayah sembilan juta. Sekarang ada sebelas wilayah. Jadi 99 juta saya bagikan. Saya beri sudah lebih dari persepuluhan.

Saya yakin, kalau kita memberi, Tuhan akan selalu akan mengembalikan berlipat kali ganda. Saya sekarang terbeban untuk memberi sepeda motor kepada banyak hamba-hamba Tuhan. Nah, kita kasih motor bukan yang baru. Kita kasih motor yang sederhana saja, yang bekas.

Ada satu pendeta. Gerejanya, maaf, mirip kandang babi. Tanah di bawah. Ini daerah Cikarang di daerah Cibitung. Tanah, kursi-kursi, dari gedek, panasnya luar biasa. Tapi dia setia, dia tidak pernah minta-minta ke kota besar, dia nggak pernah datang ke pendeta-pendeta. Ada tiga teman saya, mereka lihat, tergerak hatinya, kumpul uang. Diberilah hamba Tuhan itu lima juta. Kita sedang cari hamba-hamba Tuhan seperti itu. Bukan kita kelebihan duit. Tapi saya punya prinsip, kalau kita memberi pasti Tuhan akan memberi kembali. Saya punya prinsip itu. Saya nggak pernah takut kekurangan.

Nah, ternyata banyak sekali hamba Tuhan yang tidak ada kaki, tidak bisa ke sana kemari. Nah, itu kita mau bantu, asal dia ada prestasi bagus. Tetapi sebaliknya kalau kita hamba Tuhan ngomong persepuluhan di jemaat, peka sekali. Peka sekali. Orang itu suka ngomong begini: Keur urang sorangan oge hese, komo deui mere persepuluhan ... Buat diri sendiri saja susah apalagi memberi persepuluhan. Itu yang diomongin oleh adik saya sendiri. Tapi ketika dia memerlukan sekali keuangan, saya bilang, itu karena kamu tidak bawa perpuluhan. Bawa persepuluhan.

Dia bawa persepuluhan. Waktu itu di Bandung sama oom Sriyoto. Hidupnya senang, diberkati. Dia bisa beli rumah. Anaknya sekolah di London. Tetapi jangan persepuluhan kita banggakan kepada Tuhan. Karena persepuluhan itu menurut firman Allah, milik Tuhan. Jadi sebetulnya orang yang mengembalikan persepuluhan, belum memberi; dia baru kembalikan miliknya Tuhan.

Saya suka ngomong dulu sama anak-anak muda, sekarang sudah banyak yang sudah menikah. Kalau kamu membawa persepuluhan sejak sekarang kaum muda, belajar. Dikasih uang jajan sama papa seratus perak, 10 perak jangan dipakai. Bungkus, masukkan. Dan Tuhan akan tahu itu persepuluhan. Nanti saudara akan lihat mujizat terjadi. Bahwa ada saja.

Tapi nggak usah ngomong seperti orang Farisi. Dari segala penghasilan saya, dari adas manis, dari selasih, saya bawa persepuluhan. Untuk banggakan diri. Tukang pemungut cukai mah korupsi.

Nah, sekarang saya mau tanya sama saudara. Coba, dia sembahyang alamatnya sudah benar: Allah. Diapun sudah mengucap syukur. Dia bilang dia mahiwal dari yang lain. Dia bukan perampok, dia bukan lalim, dia bukan pezinah, dia bukan pemungut cukai. Dia puasa dua kali seminggu. Dia bawa persepuluhan.

Zaman dulu, saudara, ibu-ibu punya anak gadis, bapa-bapa punya anak gadis, itu sembahyang sama Tuhan: Aduh Tuhan, kalau bisa anak saya ini kawin sama orang Farisi. Karena orang Farisi itu dia punya moralnya baik sekali. Bayangin, nggak pernah berzinah, nggak pernah merampok, bukan orang lalim, bukan pemungut cukai, puasa senin kamis ... dua kali seminggu, dan suka membawa persepuluhan.

Tapi di akhir cerita, ini Tuhan nggak terima. Kenapa? Kita baca, kenapa Tuhan nggak terima. Ayat 14,

18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Ini saudara-saudara, doanya penuh dengan tinggi rohani. Penuh dengan kesombongan.

Sekarang saya mau ngomong begini: Kalau yang berdoa aja alamatnya benar sama Allah, nggak bisa masuk sorga, bagaimana yang nggak suka berdoa? Mau masuk ke mana? Kalau orang mengucap syukur saja baik, Tuhan nggak terima, bagaimana orang yang suka ngarasulah, nggak pernah ngucap syukur, ambek-ambekan wae, luh-leuh? Kalau orang yang bukan perampok saja nggak bisa masuk sorga, yang rampok masuk ke mana?

Kalau orang yang nggak lalim saja nggak bisa masuk sorga, orang yang lalim mau masuk ke mana? Kalau orang yang tidak suka berzinah saja nggak bisa masuk sorga, yang suka berzinah, selingkuh, miara piaraan, mau masuk ke mana? Kalau pemungut cukai, tukang pajak saja nggak bisa masuk sorga, bagaimana yang suka majek, yang suka korupsi? Mau masuk ke mana?

Kita tidak akan mengerti ini. Kalau sudah puasa saja dua kali seminggu, nggak bisa masuk sorga, bagaimana yang nggak suka puasa? Kalau yang bawa perpuluhan saja nggak diterima, Aku nggak mau kenal, Aku tolak doanya, bagaimana yang nggak suka bawa persepuluhan?

Mari kita lihat cara mendekatkan diri kepada Allah yang kedua. Yang dilakukan justru oleh orang yang terbuang, oleh orang yang hina, oleh orang yang tidak berlayak sebetulnya ada di Bait Allah, yaitu seorang pemungut cukai. Dan ini diceritakan cuma satu ayat, ayat 13. Tiga belas itu angka sial, orang bilang. Dia udah jelek, udah pemungut cukai, ditaruh di ayat tiga belas, angka sial. Tapi saya ingin berkata, di dalam Tuhan tidak ada angka sial.

Jadi saudara jangan percaya. Kita lihat ayat 13,

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah.

Kita lihat, alamatnya sama. Sembahyang kepada Allah yang sama. Dua, dia berkata, kasihanilah aku. Yang ketiga, orang berdosa. Saudara bisa baca sebelumnya, dia berdiri jauh-jauh. Kalau gereja umpamanya di sini, dia nggak berani masuk. Dia di bawah dekat tempat parkir motor. Dia begitu masuk saja dia sujud. Ya Tuhan Allahku, - belum masuk di gereja - kasihanilah - dia pukul-pukul dada. Nggak berani menengadah ke langit. Kalau orang Farisi menengadah ke langit.

Ya Allahku, kasihanilah aku. Alamatnya sama: Allah. Tapi yang kedua, dia memerlukan belas kasihan Tuhan. Saudara dan saya sama. Saya suka ulang. Saya berdiri di atas bukan berarti saya lebih diterima oleh Tuhan dari saudara. Nggak. Kita sama. Saya dan saudara perlu belas kasihan Tuhan.

Kita seperti anak terhilang. Kita perlu belas kasihan Bapa. Kita seperti orang yang berhutang sepuluh ribu talenta nggak bisa bayar. Perlu belas kasihan dari raja. Kita ini orang berdosa, perlu belas kasihan.

Maka sejak kita mengenal belas kasihan Tuhan, kita tidak akan berani menghakimi orang lain. Kita harus menangis lihat orang yang jatuh dalam dosa. Karena kita ada sebagaimana kita ada oleh karena belas kasihan Tuhan. Dan Tuhan terima. Tuhan nggak akan balas ini. Ya Tuhan, kasihanilah aku. Yesus tidak akan jawab: Kasihan deh lu. Tidak akan. Dia justru hati-Nya keluar, Dia mengasihi.

Saudara, Tuhan Yesus adalah satu Pribadi yang saudara bisa dipercaya. Kalau Dia mengasihani kita, Dia mengasihani kita dengan sungguh-sungguh. Ada amin, saudara?

Lalu yang ketiga, orang berdosa.

Surat Roma 3, tidak ada seorangpun yang benar, tidak ada seorangpun yang mencari Aku.

Di hadapan Tuhan, tidak ada seorangpun yang benar. Kita di luar Kristus juga orang berdosa, kok. Apa bedanya kita sama orang yang menjarah toko-toko, yang mencuri karena lapar? Dia berdosa, tapi kita juga berdosa. Apa bedanya? Orang mau pakai jubah, pegang tasbih, piara jenggot. Saudara anggap itu orang suci? Nggak. Di hadapan Tuhan itu orang berdosa.

Maka cara kita yang baik mendekatkan diri kepada Tuhan adalah cara yang merendah. Nggak berani nengok ke atas. Karena Allah yang disembah begitu mulia, begitu suci, begitu kudus, begitu segala-galanya. Dia maha hadir, Dia maha besar, Dia maha agung. Kita di hadapan Tuhan hanya setitik pasir yang tidak ada gunanya. Dan kita tidak berani berdiri tapi kita pukul-pukul diri. Pukul-pukul dada itu orang yang menyesal, orang yang bertobat. Zaman dulu kalau orang ditinggal mati, dia suka pukul-pukul dada. Aduh, Tuhan, kasihanilah aku. Dia minta dikasih belas kasihan oleh Tuhan. Lalu dia berkata, aku orang berdosa.

Maka kata Tuhan, yang ini ditolak. Yang ini diterima, pulang dibenarkan. Kita lihat ayat 14,

18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini - pemungut cukai - pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan.

Ayo ngomong kiri kanan, kita senang kita dibenarkan oleh Tuhan Yesus. Puji Tuhan. Kita dibenarkan oleh Tuhan. Ada haleluyah, saudara? Saudara senang dibenarkan oleh Tuhan Yesus? Kita orang berdosa semua. Jangan saudara anggap, wah dia tuh lebih suci dari kita. Tidak. Kita semua orang berdosa. Tapi kita sudah dibenarkan! Jadi pulang ke rumah sudah dibenarkan.

Jadi kalau sembahyang itu harus punya kerendahan. Harus ngerti bahwa siapa tahu kita nggak sengaja kita sudah berdosa. Kalau datang kebaktian, ampuni saya, aku orang berdosa.

Saudara sekarang tahu kekristenan. Kekristenan bukanlah pekerjaan manusia. Aku mengucap syukur. Mengucap syukur tidak menyelamatkan. Aku bukan perampok, bukan lalim, bukan pezinah, bukan ... Bukan ini yang meyelamatkan. Yang menyelamatkan adalah Yesus. Ketika kita mengaku kita orang yang perlu dikasihani, kita orang berdosa maka Allah yang agung, yang besar itu, mau datang kepada kita dan menarik tangan kita: Ayo, ke sini.

Seperti anak terhilang. Dia terbata-bata. Dia lihat bapanya dari jauh. Dia nggak berani ngomong: Papa. Nggak berani. Dia sudah berdosa, dia sudah habiskan uang papanya, dia sudah compang-camping. Dia lapar, dia nggak boleh makan ampas makanan babi. Tapi begitu bapanya lihat dari jauh, bapanya lari dan dia memeluk anaknya, mencium.

Pada sore hari ini, Bapa di atas segala bapa, mau memeluk saudara, mau mencium kita. Apapun kekurangan kita, apapun kesalahan kita, kalau kita kembali kepada-Nya, minta belas kasihan: Tuhan, saya orang berdosa. Ampuni Tuhan ... Dia akan datang.

Tuhan punya satu jari menunjuk dosa kita. Tapi kalau kita mengaku dosa kita, Tuhan punya dua tangan untuk memeluk. Tangan yang sama.

Mari kita berdiri. 

-- o --   

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________