KHOTBAH RABU JULI - AGUSTUS 2009

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Rabu, 01 Juli 2009

LUAR KOTA

Selamat sore, selamat berbakti dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kita kembali akan melihat injil Lukas pasal-pasal yang terakhir. Kita akan membaca tiga ayat terakhir, Lukas

24:50 Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka.

24:51 Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.

24:52 Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.

24:53 Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.

Ada satu kata yang hilang, yaitu amin. Dalam bahasa Indonesia tidak ada, dalam bahasa Inggris ada amin. Mari sore hari ini kita mau mendalami firman Tuhan. Kita mau melihat kalimat ini yang berkata: Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota. Untuk mengerti ayat ini, kita mau baca lebih dulu Lukas

4:1 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.

Jadi padang gurun tidak disukai. Tetapi setelah Yesus dibaptis - Lukas 3:21, Yesus dibaptis. Lukas 4:1, Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun.

Jadi setelah Dia penuh dengan Roh Kudus, Yesus dibawa ke padang gurun. Sekarang Lukas 24, Yesus membawa mereka - murid-murid - keluar kota. Saudara bisa lihat, seperti Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun pada awal pelayanan-Nya, sekarang Yesus membawa murid-Nya keluar kota. Coba saudara renungkan, delapan kali Tuhan Yesus ada di Yerusalem.

Yerusalem itu kota paling besar di dunia waktu itu. Tidak ada kota yang lebih besar dari Yerusalem. Tapi lihat Tuhan Yesus, Dia bawa murid-Nya keluar kota Yerusalem bahkan sampai di Betania, satu desa kecil yang jaraknya cuma tiga kilometer. Saya ulangi pelan-pelan. Seperti Roh Kudus, Lukas 4:1, membawa Yesus ke padang gurun, sekarang pola ini diikuti Yesus. Yesus membawa murid-Nya keluar kota. Sekarang apanya yang sama, coba? Membawanya sama. Tetapi ada lagi yang sama.

Seperti Roh Kudus membawa - membawanya sama - Yesus ke padang gurun, Yesus membawa murid-murid keluar kota. Yang sama itu, padang gurun sama dengan luar kota. Di dalam alkitab saudara baca ada istilah luar kota, itu tidak lain sama dengan padang gurun rohaninya, pengalamannya.

Mari kita lihat Ibrani

13:12 Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang - Ini pintu gerbang Yerusalem, luar kota - untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.

13:13 Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan - semuanya diluar - dan menanggung kehinaan-Nya.

13:14 Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.

Sekarang saudara lihat gambar yang jelas. Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun. Yesus setelah kebangkitan membawa murid ke luar kota. Ibrani bilang, di luar kota Yesus itu menderita untuk menebus umat-Nya dengan darah-Nya sendiri. Itulah sebabnya, mari kita menyongsong Dia bersama dengan Dia pergi ke luar kota ... kitapun harus mengalami penderitaan Kristus. Itu maksudnya. Setiap kita akan mengalami padang gurun. Setiap kita akan mengalami pengalaman di luar kota. Kita buka dulu Lukas

23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.

Ini terjadi di luar kota, terjadi di luar pintu gerbang Yerusalem, seperti apa yang saya katakan tadi. Nah, kalau di dalam kota kita semua senang tinggal. Kita senang tinggal di dalam kota. Tetapi apakah kita juga rela menderita bersama dengan Yesus ini? Satu ayat lagi, Matius 

27:32 Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Ini bukti bahwa Yesus disalibkan di luar kota. Kalau saudara sudah mengerti ini, kita akan mengalami di luar kota ini. Kita kembali kepada Lukas

24:50 Lalu Yesus membawa mereka keluar kota.

Apa artinya luar kota? Penderitaan hidup, sengsara, aniaya, percobaan. Tapi yang bikin saya senang itu ayat itu nggak berhenti di situ ... sampai dekat Betania. Betania artinya penghiburan, rumah penghiburan. Baitania. Betania, rumah penghiburan. Saudara mau nggak kalau di ujung jalan ada rumah penghiburan? Jadi bukan yang tengah jalan yang penting, bukan di luar kotanya ... di ujungnya ada penghiburan.

Kalau saudara ngerti ini, jalan ini, cara ini, pola ini, ketika kita mengalami tantangan, ketika kita mengalami sesuatu yang memberatkan, kita tidak akan kecewa tapi kita akan merasa sukacita karena kita sedang menuju kepada satu rumah penghiburan. Dalam Kisah Rasul 5, tentu kita tidak akan mengalami ini tapi kita buka dulu Kisah Rasul

5:40 Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.

5:41 Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.

5:42 Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias. - Kalau kita baca ayat 29 -

5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

Ini cerita rasul setelah penuh dengan Roh Kudus, mengajar di mana-mana, mengajar tentang Yesus. Dilarang sama majelis agama. Kami musti menurut Tuhan dari pada menurut manusia. Ditangkap, dipukulin, disiksa. Keluar, mereka bergembira. Ayat 41 bilang, mereka bergembira karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus. Kalau kita ke gereja nyanyi, angkat tangan, sukacita, haleluyah, nyanyi paduan suara, main musik, gampang. Tapi apakah saudara rela mengalami penghinaan oleh karena nama Yesus?

Kita dihina oleh karena kita orang kristen, rela nggak? Nggak ada yang jawab kan? Kalau saya tanya, saudara rela dapat berkat? Haleluyah. Tapi kalau saya tanya, rela nggak mengalami penghinaan, diolok, diejek karena kita orang kristen? Ini tapak kaki, napak tilasnya dari Yesus itu begini. Sebab di ujungnya ada penghiburan.

Saya baru pulang dari Manado. Hari minggu ke Manado pagi-pagi. Dari airport langsung dilarikan ke gereja sebab di gereja jam sepuluh sudah khotbah. Jam dua memberkati orang kawin. Murid SAC dua-duanya. Sorenya jam tujuh kebaktian lagi sampai jam sembilan kurang seperempat. Diajak makan. Makannya ikan semua. Mungkin masuk angin. Tidur.

Jam delapan pagi-pagi harus sudah bangun. Turun, karena harus ke airport. Buang-buang air saya, saudara. Sebelum berangkat sudah tiga kali buang air. Jadi saya mau antisipasi, nanti di pesawat ini bagaimana. Sebab kalau saya duduk di kelas ekonomi, kalau mau ke wc musti jalan ke belakang. Nanti kalau ada pramugari lagi bagikan makanan, saya kan mengganggu. Jadi saya bilang sama panitia, tolong minta saya upgrade ke kelas bisnis, saya ada kartu anggota.

Panitia belum sampai, saya sudah sampai di airport. Tiket saya ada di sana. Angkat barang. Yang angkat barang itu pantekosta. Yang jemput saya orang pantekosta juga. Dari pada oom tunggu di sini, tunggu di dalam. Tunggu, saya bilang, tiket saya masih di pegang orang. Datang satu wanita dari dalam: Om pendeta lebih baik tunggu di dalam. Tiket belum ada. Nggak apa-apa, tunggu di dalam. Begitu sampai di dalam, ada pegawai Garuda, perempuan; dia yang megang Garuda di airport. Saya bilang, tolong saya mau naik ke bisnis class. 

Begini saja, oom, sudah tenang. Oom dan tante kami upgrade ke bisnis class. Tidak usah dipotong dari penerbangan. Kita kasih sebagai bonus. Jadi saya baru dengar belakangan, penumpangnya beludak, penumpangnya penuh, kelebihan. Jadi mesti ada yang di upgrade ke bisnis class. Terpilih saya dan istri. Penghiburan kan? Saya kira kenapa saya bisa muncrut? Oh, mau dihiburkan, mau naik ke bisnis class. Jadi caranya bagaimana saja ada.

Jadi, kalau ada apa-apa, kalau ada masalah, saudara hadapi saja dengan tenang sebab nanti di belakangnya itu ada Betania. Amin? Kalau kita kembali membaca Injil Lukas tadi dan kita akan membaca ayat 50 tadi,

24:50 ... Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka.

Jadi ketika sampai di Betania, Betania lambang apa? Penghiburan. Bukan cuma dihibur tapi di sana Tuhan Yesus angkat kedua tangan-Nya lalu memberkati mereka. Ini bukan pendeta. Pendeta kalau doa berkat, pendeta nggak bisa memberi berkat untuk jemaat. Pendeta saja perlu berkat dari Tuhan. Ini hanya doa berkat, mengangkat tangan dan doa berkat.

Kalau Tuhan Yesus, Dia angkat tangan ... memberkati. Jadi bukan hanya penghiburan tapi juga dapat berkat dari Tuhan. Bisa bilang amin haleluyah? Jadi pertamanya kita di luar kota, menderita. Tapi jangan kecil hati di belakang penderitaan ada penghiburan. Setelah penghiburan ada berkat dari Tuhan. Amin? Saya ini tukang nyelidik, tukang membanding-bandingkan ayat firman Allah.

24:51 Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. 

Ketika sementara Dia mengangkat tangan memberkati mereka, terangkatlah Yesus. Pelan-pelan naik ke langit berpisah dengan mereka. Yang saya senang apa, saudara? Sebelum Yesus meninggalkan murid, Dia memberkati dulu, Dia memberikan penghiburan, Dia memberkati murid, baru Dia terangkat naik ke sorga. Apa akibatnya yang terjadi?

24:52 Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.  

Mari saudara lihat ke depan. Di belakang penderitaan - luar kota -, ada penghiburan. Di belakang penghiburan ada berkat dari Tuhan Yesus. Tiga hal ini yang membuat murid Yesus menyembah kepada Tuhan. Sujud menyembah kepada Tuhan. Maka saya bisa ngomong sama jemaat, mari kita sembah Tuhan. Tapi kalau jemaat belum lewat ini: Menderita, dihiburkan, diberkati oleh Tuhan, ... dia tidak mungkin bisa menyembah. Sebab justru murid ini tidak menyembah waktu Yesus dibangkitkan. Justru menyembah sekarang.

Maka jemaat yang biasa dan bisa menyembah, mengerti penyembahan adalah jemaat yang sudah lewat penderitaan, penghiburan, dan mengalami berkat dari Tuhan. Kalau saya bilang berkat dari Tuhan, bukan hanya materi. Materi mah nomor ke berapa. Tuhan memberi berkat kepada kita dengan luar biasa. Amin? Saya mau selingi dengan Amsal 

10:22 Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.

Saudara susah mengerti, ya. Saya baca dari salinan bahasa Inggris. Berkat Tuhan yang membuat seseorang menjadi kaya, dan Ia tidak menambahkan kesusahan dengan berkat itu. Penderitaan, penghiburan, berkat, menyembah. Berkat Tuhan yang menjadikan seseorang kaya. Kenapa dibilang: Dan Dia tidak menambah kesusahan. Kenapa? Kenapa ayat itu bilang Dia tidak menambahkan kesusahan dengan berkat itu, kenapa? Karena kita sudah lewat penderitaan. Haleluyah?

Kita kan pertama menderita dulu. Di luar kota bersama dengan Yesus, diolok, dihina, mengalami percobaan. Baru dihiburkan. Setelah dihiburkan baru berkat. Berkat Tuhan ini yang menjadikan kita kaya. Saya mau saudara perhatikan ini dan jangan sampai terbalik. Kekayaan tidak bisa menjadikan berkat Tuhan. Banyak orang kaya di dunia, uang bermilyar-milyar. Tadi saya dengar di televisi: Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya gudangnya uang palsu. Ratusan milyar dibikin di Sukabumi di Cianjur di Tasik dan daerah-daerah dingin supaya tidak cepat rusak. Trilyunan. Bukan milyar lagi. Karena lagi pemilu diperlukan itu untuk bayar orang demonstrasi pakai duit palsu. Kasihan kan saudara. 20 ribu lagi.

Kalau Tuhan yang menjadikan saudara kaya, Dia tidak kasih uang palsu, Dia kasih uang sungguhan. Tapi ingat ya, kekayaan tidak bisa membuat berkat Tuhan. Jangan dibalik.

Berkat Tuhan yang menjadikan toko saudara diberkati. Berkat Tuhan yang menjadikan saudara berkelimpahan. Kitab Ulangan berkata: Engkau akan jadi kepala bukan ekor. Engkau akan meminjamkan uang dan engkau tidak meminjam uang. Apa yang engkau pegang akan berhasil. Itu bukan hebatnya kita.

Kalau saudara nggak ngerti firman Allah, saudara bisa dijajah terus oleh Iblis. Saudara dibikin orang miskin. Bohong bisa kaya. Bohong anak Tuhan bisa kaya, kamu susah terus, kamu kuli terus.

Kita harus lawan. Bahwa firman Tuhan berkata: Berkat Tuhan yang menjadikan kita kaya. Dan tidak ada dukacita ditambah oleh Tuhan. Kenapa? Karena kita tahu isi firman Allah, kita tahu janji Tuhan. Jadi kalau buka toko: Terima kasih Tuhan, berkat Tuhan yang menjadikan toko saya diberkati. Haleluyah. Berlutut, sembahyang dulu, lima menit, dua menit, tiga menit: Tuhan, berkati toko saya, saya mau buka toko. Lindungi, jaga, jangan sampai ada mara bahaya, penodongan, garong, pencurian, dan sebagainya. Berkatilah toko saya. Dalam nama Yesus, haleluyah. Buka.

Kalau mau bikin kue, sembahyang dulu. Sebab berkat Tuhan yang menjadikan kita kaya: Tuhan, saya mau bikin kue mangkok. Urapi tangan saya supaya jangan sampai saya mau bikin kue mangkok jadinya kue piring. Amin? Ingat buka toko, doa dulu. Mau ke kantor, mau kerja, doa dulu. Sebab berkat Tuhan yang menjadikan kita kaya. Ini supaya saudara punya wawasan lebih luas.

Tuhan senang melihat saudara kaya. Ingat itu. Yang nggak senang lihat kita kaya itu setan. Pencuri datang untuk mencuri, membunuh, membinasakan. Tapi Aku, Yesus, datang untuk memberi hidup kepada domba. Dan hidup itu berkelimpahan. Jadi Tuhan itu senang melihat saudara diberkati. Tadi waktu saya bilang ikut Tuhan harus menderita, saudara nggak ada yang amin, nggak ada haleluyah. Tapi begitu sudah sampai diberkati, aduh, mulai senang, glori. Saudara mau diberkati Tuhan? Apa yang membuat saudara diberkati? Berkat Tuhan menjadikan kita kaya. Dan Dia tidak tambah kesusahan. Itu kita sudah lewat, sudah lulus. Di sini kita diberkati, nggak pakai kesusahan lagi.

Nanti hari minggu saya akan bicara di kebaktian sore Kelimpahan Di tengah Kekurangan.

Kita kembali kepada ayat 52,

24:52 Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.

Great joy. Joy saja sudah bersukacita. Sukacita ini great. Tapi saya baru mengerti sekarang bahwa tidak akan ada sukacita sebelum kita lewat menderita bersama dengan Kristus, dihiburkan oleh Kristus. Setelah dihiburkan ada apa? Diberkati. Yang keempat, menyembah. Yang kelima, sukacita.

Saya ingat lagu itu Hadirat-Mu penuh sukacita .. Hadirat-Mu penuh damai. Kalau kita menyembah Tuhan, hasilnya akibatnya akan ada sukacita.

24:53 Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.

Dan ini yang saya agak bingung, bagaimana menaruhnya. Sebab di dalam Kisah Para Rasul, Tuhan Yesus larang murid-Nya, jangan keluar dari Yerusalem, tinggal di loteng Yerusalem menunggu janji dari Tuhan, yaitu Roh Kudus. Tapi di ayat ini disebut mereka senantiasa berada di dalam bait Allah.

Jadi yang keenam, orang yang sudah lewat semua ini, selalu ada di kebaktian, selalu ada di bait Tuhan. Jadi kalau orang pakai alasan inilah, itulah tapi nggak ke gereja, dia belum mengalami berkat Tuhan, belum mengalami penghiburan dari Tuhan, belum mengalami menyembah Tuhan. Sebab akhir, ujung dari menyembah Tuhan itu, datang di kebaktian, sukacita, menyembah Tuhan, datang di kebaktian. Dipakai kata continuously, terus menerus. Mazmur

65:5 Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus. 

Saudara tahu di rumah Allah selalu ada banyak hal yang baik. Amin? Mazmur

84:5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela

Jadi saudara adalah orang yang berbahagia karena ada di rumah Allah. Mungkin saudara nggak rasa tapi saudara bahagia.

Sekarang begini umpamanya. Saudara dapat undian dari bank. Dapat kulkas. Saudara di rumah nggak punya kulkas, sekarang dapat kulkas. Begitu saudara ditentukan, nomor saudara dapat kulkas, itu kulkas milik saudara bukan? Iya. Tapi tahu nggak? Nggak sadar, sebelum diberitahu. Begitu dikasih tahu, wah saya punya kulkas. Begitu juga kalau ke gereja.

Banyak orang nggak tahu dia diberkati Tuhan. Musti Tuhan pakai hamba Tuhan memberitahu: Hei, anda ini orang bahagia. Amin?

Saya mau baca Mazmur 84:5 dalam salinan lama: Berbahagialah segala orang yang boleh duduk dalam rumah-Mu serta memuji akan Dikau senantiasa. Ini sudah jadi lagu Berbahagialah .. Segala orang .. Yang boleh duduk dalam rumah-Mu .. Serta memuji akan Dikau .. Senantiasa.

Begitu saya masuk gereja, begitu saya masuk di dalam kebaktian, begitu saya main musik, begitu saya menyanyi, saya tahu saya orang berbahagia. Karena itulah saya menyanyi terus, memuji Tuhan. Karena apa? Karena kita ada di dalam rumah Tuhan!

Yang ketujuh,

24:53 Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.

Di sini dipakai kata memuliakan Allah. Tapi dalam bahasa Inggris, dipakai kata memberkati Allah. Apa nggak salah ini, biasa kan Tuhan yang memberkati kita; Dia yang lebih memberkati kita yang kurang. Di sini kita yang memberkati Allah. Saya kasih contoh, ya. Saya ajak dua cucu saya makan di restoran. Dia pilih satu makanan. Yang bayar kan saya. Kamu mau apa? Sementara dia makan, si kecil ini, cucu saya ini: Ini buat opa. Apa karena dia kenyang, apa karena dia nggak suka tapi ini buat opa.

Itu saya rasa diberkati. Mengerti saudara? Anak itu dapat makanan itu, saya yang bayar bon. Tapi waktu dia makan, dia bagi itu makanan, dia kasih: Ini buat opa. Seperti itulah memberkati Tuhan.

 

Uang itu datang dari Tuhan, loh. Kekayaan itu datang dari Tuhan. Tapi sementara kita berbakti, ada bagian yang kita kembalikan kepada Tuhan untuk pekerjaan Tuhan. Itu bagian memuliakan Tuhan. Ayat terakhir Amsal

 

3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,

3:10 maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

Tuhan kok yang bikin anggur. Tuhan yang memberkati umat-Nya. Kenapa Dia bilang: Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu. Adakah kasih itu dari anak kepada Bapa dalam hati kita? Kiranya Tuhan memberkati saudara sekalian. Dan selesailah pelajaran Lukas. Kalau kita ketemu lagi kita akan teruskan dengan pelajaran Tesalonika.

Kita berdiri bersama-sama.

-- o --   

Rabu, 08 Juli 2009

JEMAAT

I Tesalonika

 

1:1 Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu.

1:2 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami.

1:3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

Surat Tesalonika ini ditulis oleh Rasul Paulus, dibantu oleh Silwanus dan Timotius.

Seperti saudara tahu bahwa karena Paulus itu dicegat oleh Tuhan Yesus di jalan di Damaskus, di Damsyik, ketika dia melihat cahaya dan dia buta selama tiga hari. Kemudian didoakan. Setelah dia doa, didoakan oleh Ananias. Dia mulai terbuka mata. Tetapi seiring dengan usia yang sudah lanjut maka pandangan matanya agak kurang. Jadi kemungkinan besar, dia ngomong saja. Dia bicara, lalu Silwanus dan Timotius yang menulis. Atau Paulus menulis, kebetulan ada Silwanus dan Timotius menemani Paulus.

Dari hal ini, saya mengucap syukur, karena Paulus itu tidak disendirikan tetapi dia punya teman. Dia punya murid, dia punya kenalan yang namanya Silwanus dan Timotius. Silwanus ini mungkin agak muda tidak terlalu jauh usianya. Tetapi kalau Timotius itu jauh. Paulus itu usianya 58 tahun. Mungkin Silwanus itu usia 40 tahun. Tetapi Timotius itu 16 tahun, jadi sangat muda. Jadi kalau kita berteman jangan yang tua sama yang tua, yang muda sama yang muda. Menengah sama yang menengah. Shio tikus sama shio tikus. Shio ayam dengan shio ayam. Shio liong sama shio liong. Jangan.

Mari kita mempunyai teman dari berbagai tingkat. Amin? Sebelum saya lanjutkan, kita buka dulu Lukas

 

8:2 dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,

8:3 Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Puji Tuhan. Ini ada tiga nama perempuan: Susana, Yohana, dan Maria Magdalena. Maria Magdalena ini dulunya kerasukan setan. Tujuh setan. Yohana ini istri menteri keuangan. Istri Khuza, bendahara Herodes. Menteri keuangan istrinya itu Yohana. Susana ini wanita biasa. Jadi kalau saya susun, Yohana itu paling tinggi karena dia istri menteri keuangan. Susana mungkin orang biasa, wanita biasa. Tetapi Maria Magdalena bekas orang gila, bekas orang kerasukan setan. Toh, ada perempuan lain yang nggak disebut namanya. Mereka berteman, melayani rombongan Tuhan Yesus.

Kalau kita kembali kepada Tesalonika lagi maka kita melihat bahwa Paulus juga bergaul dengan Silwanus dan bergaul juga dengan Timotius, anak rohaninya. Jadi zaman dulu kalau tulis surat itu, pengirim dulu ditulis: Dari Paulus. Kemudian berikutnya: Kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah. Ada kata jemaat. Jemaat di dalam bahasa Yunani atau gereja di dalam bahasa Yunani itu dipakai ekklesia. Sekali lagi kita belajar ini kata ekklesia. Apa artinya ekklesia? Ek yang keluar, klesia dari dunia. Jadi ekklesia, jemaat itu adalah yang keluar dari dunia.

Kita hidup di dalam dunia tetapi jemaat, gereja itu harus keluar dari dunia. Itu sebabnya kita tidak boleh berpolitik. Gereja tidak boleh berpolitik, tidak boleh ikut partai politik. Dia tidak boleh jadi anggota partai politik. Umpamanya saya jadi caleg, tidak boleh. Peraturan gereja kalau saya jadi caleg, saya musti berhenti jadi pendeta, kasih sama orang, lalu saya jadi caleg.

Jadi apa artinya jemaat? Ekklesia, keluar dari dunia. Banyak kali orang kristen sudah keluar dari dunia tapi dunia tidak keluar dari hati dia. Contohnya Michael Jackson meninggal. Itu adalah sudah jadi sejarah. Tapi orang-orang pada ngomong begini: Aduh, Michael Jackson sudah mati tapi dia tetap hidup di hati saya. Namanya kenangan. Kalau dalam hal kenangan ya sudah nggak salah. Tapi dalam hal jemaat nggak boleh. Kalau kita keluar dari dunia, dunia tidak boleh ada di dalam hati kita. Bisa bilang amin apa nggak?

Kalau jemaat itu dia keluar dari dunia, cara berpikirnya lain dari orang dunia. Cara hidupnya lain dari orang dunia. Cara kerjanya laun dari orang dunia. Perasaannya lain dari orang dunia. Karena dia ekklesia, keluar dari dunia.

Jadi kita musti seperti ikan di laut. Laut asin tapi ikannya nggak asin. Laut asin, ikan hidup di air asin tapi ikannya tidak asin. Kita ada di dalam dunia, kita bergaul di dalam dunia. Sehari-hari kita ketemu dengan orang dunia. Kita bicara dengan orang dunia. Kita dagang dengan orang dunia. Tapi kita tidak bisa seperti mereka. Kita tidak seperti mereka. Terpengaruh sebagai orang dunia, tidak.

Jadi yang disebut jemaat ini bukan gedung gerejanya, tetapi pribadinya. Saudara dan saya disebut jemaat. Maka kalau orang dunia diajak oleh kita, ayo kita terima Yesus. Ajak kenal Tuhan supaya diselamatkan. Mereka lihat cara hidup kita, sama sama mereka. Orang dunia judi, orang kristen judi juga. Orang dunia jual toto gelap, togel, orang kristen jual togel juga. Buat apa saya jadi kristen? Sama kok orang kristen juga. Maka jemaat ini setingkat lebih tinggi. Kisah Rasul

 

20:7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.

20:8 Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu.

Kalau saudara baca ayat 7 di situ Paulus bicara kepada saudara-saudara. Siapa saudara-saudara ini? Jemaat. Di mana mereka berkumpulnya? Di ruang atas. Jadi jemaat ini yang disebut jemaat, cara hidupnya musti di tempat yang tinggi. Roh Kudus turun di loteng Yerusalem. Paulus berkhotbah di ruang atas. Kita juga ada di ruang atas. Yang di bawah itu yang ngobrol, yang ribut. Apa artinya di ruang atas? Tingkat rohani kita, tingkat kehidupan kita harus lebih tinggi dari orang dunia.

Kalau bikin rumah harus lebih tinggi dari jalan. Kalau lebih rendah dari jalan, begitu hujan banjir masuk. Harus lebih tinggi dari jalan. Jadi kita itu harus lebih tinggi. Di ruang atas ini ada banyak lampu dipasang berarti terang. Jadi yang disebut jemaat itu bukan saja keluar dari dunia tetapi rohaninya harus di tempat tinggi dan cara hidupnya terang, transparan. Keuangan transparan, jujur, terbuka semua. Nggak ada yang gelap, terang. Sekilas saja saya bicara tentang ekklesia atau jemaat. Kita kembali kepada Tesalonika.

Dalam surat Tesalonika kembali kita membaca ayat 1 tadi,  

1:1 Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu.

Sebetulnya kata orang-orang itu nggak usah ditulis saja sudah sama. Jemaat Tesalonika, yaitu terdiri dari orang-orang. Puji Tuhan. Kepada jemaat Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Banyak orang kristen dia tidak hidup di dalam Tuhan. Dia baru dalam gereja, gedung. Ekklesia itu adalah jemaat yang ada di dalam Allah Bapa dan dalam Tuhan Yesus Kristus.

Apa saudara sudah ada di dalam Tuhan? Begini, orang yang di dalam gereja, orang yang masuk gereja belum tentu di dalam Tuhan. Tapi orang yang di dalam Tuhan sudah pasti ada di gereja. Bisa mengerti saudara? Orang yang ke gereja belum tentu dia di dalam Tuhan. Tetapi orang yang di dalam Tuhan, dia pasti ke gereja.

Saya punya teman di Jakarta. Gereja full AC, tingkat enam. Bubar kebaktian, pulang, pulang, pulang, hilang organ. Jadi ada orang ke gereja bukan jemaat. Dia ngintip organ sebab tidak pernah dijaga. Tiba-tiba hilang. Lapor sama satpam sudah nggak ada. Sebab dia jalan seperti orang kristen, nggak ada orang sangka.

Jadi orang ke gereja belum tentu dia dalam Tuhan. Tapi orang dalam Tuhan sudah pasti ada di gereja. Saya yakin saudara-saudara semua sudah di dalam Tuhan. Tapi dia bukan hanya disebut ada di dalam Allah Bapa. Yang keduanya: Di dalam Tuhan Yesus Kristus. Jadi kita tidak cukup dengan percaya Allah. Iblis juga percaya ada Allah. Iman kita, keberadaan kita harus ada juga di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kita percaya Dia mati bagi dosa kita. Kita percaya dosa kita sudah diampuni. Kita percaya harus ada kehidupan baru di dalam Tuhan. Kita percaya kita harus setia kepada Tuhan. Kita percaya kalau kita meninggal, kita akan melihat wajah Tuhan Yesus Kristus.

Yang terakhir dalam ayat 1, kasih karunia - grace, dan damai sejahtera - peace ... menyertai kamu. Anugerah atau kasih karunia dalam bahasa Yunani dipakai kata kharis. Damai sejahtera, eirene, ini menyertai kamu. Tidak akan ada nomor dua kalau tidak ada nomor satu. Harus ada kasih karunia, anugerah Tuhan. Saudara bisa jadi orang kristen itu bukan karena saudara hebat tapi karena anugerah Tuhan memanggil saudara. Dan kalau sekarang kita mundur ke belakang. Waktu kita kecil, kita sekolah minggu. Kan kita nggak pernah pikir waktu kita sekolah minggu, kita akan jadi seperti sekarang.

Kita jadi jemaat, nggak pernah pikir bakal jadi bagaimana nanti. Sekarang kita tahu. Dulu kita belajar sekolah minggu. Tuhan seperti mempersiapkan untuk kita jadi sekarang ini, tambah kuat. Mau rasa damai? Terima anugerah dulu. Anugerah ini apa, kharis ini artinya apa? Pesona, daya pesona. Kaya Michael Jackson itu, ya. Nggak usah dirubah sebetulnya mukanya. CD nya saja paling laku di dunia, 26 juta keping, belum ada saingannya sampai sekarang. Pesona itu.

Kita harus tertarik oleh daya pesona Tuhan Yesus. Karena anugerah itu adalah satu pribadi yang ada di dalam Yesus Kristus. Kita musti terpesona kepada Dia, tertarik kepada Tuhan. Tertarik kepada firman-Nya. Terpesona dengan sabda Tuhan. Luar biasa ini firman Allah. Kalau kita lihat cuma begitu-begitu saja kata-kata-Nya. Tetapi ketika Dia membukakan rahasia, kita terpesona oleh kebaikan Tuhan. Terpesona oleh penggembalaan Tuhan. Terpesona oleh kasih sayang Tuhan. Kalau kita sudah terpesona, tertarik, daya tarik oleh anugerah Tuhanm baru damai sejahtera ini bukan kita rasakan ... kita alami. Kita mengalami damai sejahtera. Walaupun banyak problem, persoalan, tidur tidak akan susah karena kita punya damai. Mazmur

3:1 Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya - karena mau membunuh dia -

3:2 Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku;

3:3 banyak orang yang berkata tentang aku: "Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah." Sela

3:4 Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.

3:5 Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela

3:6 Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!

 

Sampai ayat 6, saya tanya saudara: Percobaan sudah lewat belum? Belum. Banyak musuh, anak sendiri mau bunuh sama dia. Tetapi dia tidur. Kita lihat Kisah Rasul

 

12:1 Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat.

12:2 Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.

12:3 Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi.

12:4 Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.

12:5 Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

12:6 Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu.

Besok mau mati, loh. Besok mau dihukum mati, mau diperhadapkan kepada orang banyak supaya dirajam. Dia dijaga empat tentara supaya Petrus nggak bisa ke mana-mana. Dia mah tidur saja. Saudara gampang tidur apa susah tidur?

Saya mau kasih satu kesaksian. Hari jumat yang lalu ada satu mempelai di Jakarta, jemaat mau kawin. Kawinnya di Mangga Dua ITC. Di ITC itu ada hotel. Dia ingin menyenangkan gembalanya, saya disuruh tidur di situ. Kamarnya suite lagi. Dua kamar gede. Saya check-in nya malam jam sepuluh. Saya sudah kecapean, tidur. Besok pagi-pagi, cukur sebentar, balik lagi, langsung pemberkatan. Jam tujuh pesta, sudah. Naik ke tempat tidur.

Tapi jam setengah dua ada bunyi, saudara. Kaya orang taruh uang receh di meja. Saya terbangun. Saya diam. Bunyi terus. Di atas ada orang jalan. Setan, saya bilang. Tamu mungkin, kata istri saya. Masa tamu jam dua bolak balik, bolak balik, nggak ada kerjaan. Jam dua pagi bolak balik. Itu bunyi di kamar tuh. Akhirnya dia pindah ke kamar sebelah saya. Saya bangun, saya periksa. Diam itu suara. Nggak ada. Saya tidur lagi. Bunyi lagi.

Saya bilang, silakan you mau ngomong apa, mau bikin apa, silakan, saya mau tidur. Saya tidur. Jam lima terbangun. Itu bunyi masih ada. Yang jalan masih ada. Tamu gila mana yang jalan-jalan dari jam dua pagi sampai jam lima? Setan itu. Tapi nggak bisa ngeganggu saya untuk tidak tidur. Saya cerita sama jemaat. Oh iya, pak, betul, sebab itu dulunya bekas kuburan. Tidak bikin kita takut untuk kita tidur. Tidur aja. Nggak apa-apa.

Satu kali saya ke Situbondo pakai mobil sendiri, setir sendiri. Sampai di Pekalongan, jemaat sana dari gereja lain: Om, tidur saja di kita punya losmen. Dia punya kamar satu, dua, tiga, empat, lima, enam, nomor tujuh dan delapan digembok. Saya ditaruh di nomor empat belas. Saya tanya: Itu nomor tujuh dan delapan kenapa digembok? Ada setannya, om. Sopir-sopir tidur di situ katanya mereka minta ampun, nggak mau lagi tidur di situ. Dia lagi tidur jam dua malam ada orang mandi, jebur-jebur. Dia lihat goyang air, basah semua, tapi nggak ada orang.

Kamar sebelahnya kalau dia lagi tidur, ada yang jawil-jawil, selimut ditarik. Mau nggak saya doain? Oh, silakan. Saya doain. Begitu masuk saja sudah berdiri bulu kuduk. Ini setan demi nama Yesus kamu pergi, tempatmu bukan di sini. Dalam nama Yesus, haleluyah, pergi. Pergi dalam nama Yesus. Dua kamar itu saya doakan. Langsung ke Situbondo. Pulangnya ke situ lagi. Eh, nomor tujuh, nomor delapan sudah dibuka. Ini nomor tujuh, nomor delapan sudah nggak digembok? Iya, saya coba, om. Habis didoain sama om, saya sewakan. Nggak ada gangguan lagi.

Setan itu musti takut sama kita. Jadi lihat kita tuh dia musti takut. Bukan kita takut sama setan. Amin?

Kembali lagi kepada Tesalonika. Kasih karunia, anugerah, daya pesona Tuhan dan damai sejahtera, ketenangan, keteduhan dari Tuhan menyertai kamu. Bahasa Indonesia pakai menyertai tapi dalam bahasa Inggris grace to you, anugerah dan damai bagimu. Sekarang saya tanya: Mana saudara mau pilih, menyertai saudara atau bagi saudara? Saya pilih bagimu. Sebab dikatakan kasih karunia dan damai sejahtera bagimu. Bukan menyertai kamu. Kalau menyertai kan dia cuma ikut saja kita. Kalau bagimu kita punya, di dalam kita, bagi kita.

Baru ayat 1 saja, ayat ini kita sudah tenang. Kita sudah tenang. Kita sudah keluar dari dunia. Kita ada di tingkat yang atas. Kita hidup di dalam terang. Kita menikmati pesonanya Tuhan. Kita mengalami damai dari pada Tuhan yang bagi kita itu. Kita tidak usah terganggu dengan segala macam kesulitan. Kita pasti tidur. Kita masuk dalam ayat yang ke-2 ya. 

1:2 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami.

Tadi SBY pidato: Saya mengucap syukur kepada Allah SWT karena terpilih kembali menjadi presiden. Gampang kalau mengucap syukur begitu. Kalau Megawati sama Jusuf Kalla, dia berkata: Kami mengucap syukur karena tidak terpilih ... itu baru mengucap syukur yang asli.

Mengucap syukur ketika saudara senang, gampang. Oh saudara-saudara, saya mengucap syukur hari ini saya berulang tahun. Tuhan begitu baik sama saya, saya berterima kasih. Saya mengucap syukur karena hari ini ulang tahun saya. Gampang.

Tapi mengucap syukur waktu kesedihan? Mengucap syukur waktu kita nggak punya apa-apa? Tetap mulut kita itu mengucap syukur. Ketika semuanya kelihatan serba salah, kita tetap mengucap syukur sama, itu yang hebat.

Kitab Mazmur terdiri dari dua nyanyian. Nyanyian penyembahan pujian kepada Tuhan dan nyanyian keluhan. Mazmurnya menyanyi di dalam keluhan: Oh Tuhan, beban saya begini berat tetapi Engkaulah penolongku. Seperti rusa aku rindu pada Engkau, seperti rusa rindu sama air. Aku rindu kepada-Mu Tuhan. Karena dia sedang di dalam peperangan. Itu yang berharga. Memuji Tuhan walaupun keadaan susah.

Kemarin malam saya makan, jemaat ajak. Masuknya di restoran Jepang jam sembilan. Wah kita musti makan cepat ini. Pelayannya semuanya ramah-ramah. Senyum. Dalam hati saya nih, hebat ini pelayan. Saya tahu dia sudah cape, sudah malam ini. Tutup jam berapa? Jam sepuluh, pak, sebentar lagi. Tujuh orang kita makan. Pas di depan saya itu, si pelayan membelakangi saya, dia lagi pesan makanan pakai komputer. Di atas komputer itu ada satu huruf nyala mati, nyala mati, terus. Hurufnya ngomong begini: Smile to customer, smile to customer. Artinya: Senyum sama langganan, senyum sama langganan. Supaya pelayan-pelayan itu nggak lupa. Senyum sama langganan.

Jadi mereka sudah disetel mukanya. Karena sudah disuruh. Senyum sama langganan. Saudara, ini komputer kita. Dan komputer kita berkata: Mengucap syukur, mengucap syukur, mengucap syukur, berterima kasih, berterima kasih, berterima kasih. Dalam segala-galanya berterima kasih. Sehingga ketika masa yang tidak enak datang, kita bisa berterima kasih. Karena kita dicuci otak oleh firman Allah.

Mengucap syukur, mengucap syukur, mengucap syukur, berterima kasih, berterima kasih, bersyukur, terima kasih Tuhan ... saudara akan dapat berkat yang luar biasa.

1:2 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. 

 

Saudara suka mendoakan saya di rumah? Atau cuma waktu bedstone atau waktu doa malam saja?

 

Tuhan semua jemaat yang ada di dalam Engkau, yang mengirimkan sms, dia ada keperluan apa, Tuhan tolong. Dulu belum ada handphone, saya mulai dari Panembong. Turun dari Ciraden - saya lagi sembahyang - turun ada bapak Frans Adiwinata pabrik es. Turun lagi ke bawah sudah agak bingung. Ko Eng Sun, Cen Cen, Totong, saya doakan. Turun ke bawah terus, ada brur Eng Hoat, kita doakan, disebut dalam doa. Dari Pengkolan saya berhenti dulu. Mau ke mana dulu, ke bawah dulu ke arah Waru Jajar. Satu duit itu paling rame. Pokoknya kalau lupa, saya ingetin mukanya. Saudara, saya kan nggak ada waktu buat tabe, enam ratus orang. Banyak yang saya doakan.

 

1:2 ... dan menyebut kamu dalam doa kami. 

Jadi ucapan syukur pertama dari seorang hamba Tuhan adalah jemaatnya: Tuhan saya berterima kasih karena engkau mempercayakan jemaat-Mu di Cianjur kepada saya, hamba-Mu. Berkati mereka, berikan pertolongan kepada mereka. Yang belum dapat pekerjaan, buka jalan. Yang sedang menghadapi ujian sekolah, Engkau berikan hikmat kebijaksanaan, berikan kepandaian. Berikan damai sejahtera dalam keluarga. Semuanya saya doakan.

Jadi saya suka city tour di dalam doa. Masuk gang keluar gang. Kalau ada yang saya lupa, Tuhan Engkau tahu. Pokoknya jemaat-Mu Engkau berkati. Engkau tolong, Engkau berkati tokonya, usahanya, pekerjaannya, pertaniannya, perikanannya, peternakannya. Tuhan berkati semua yang berdagang, berkati. Saudara belum diberkati bukan salah saya. Saya sudah doakan berkat bagi saudara.

1:3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

Saya sampaikan sampai di situ dulu, ya. Nanti kita sambung.

-- o --   

Rabu, 22 Juli 2009

IMAN, PENGHARAPAN DAN KASIH

I Tesalonika 

1:3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

Saudara perhatikan ayat 3, saya mau baca dalam bahasa Inggris. Bandingkan ayat 3 ini. Saudara lihat di bahasa Indonesianya, saya salin dari bahasa Inggrisnya: Mengingat tanpa henti pekerjaan imanmu, kelelahan kasihmu dan kesabaran pengharapanmu di dalam Tuhan kita Yesus Kristus dalam pemandangan Allah dan Bapa kita. Beda ya. Ini akan saya terangkan dengan pelan-pelan seperti didikte supaya kita tahu apa maksud dari ayat ini. Bahasa Indonesia memakai 'kami selalu mengingat'. Bahasa Inggris, mengingat tanpa henti pekerjaan imanmu.

Kita diselamatkan bukan oleh pekerjaan. Bukan karena saudara ke gereja, saudara diselamatkan. Bukan karena saudara puasa, saudara akan masuk sorga. Kita diselamatkan bukan oleh pekerjaan kita. Saya ulangi pelan-pelan lagi. Kita diselamatkan oleh iman kita. Amin? Bukan oleh pekerjaan kita. Orang yang lumpuh, yang tidak bisa turun, yang di kursi roda, asal dia percaya kepada Yesus, dia sudah diselamatkan. Tetapi walaupun kita tidak diselamatkan oleh pekerjaan kita, setelah kita selamat kita harus mempunyai pekerjaan iman. Ada haleluyah?

Sekarang saudara nyanyi ke depan. Itu usaha kasih, itu usaha iman. Bukan supaya saudara diselamatkan tapi karena saudara sudah diselamatkan, saudara ke gereja. Karena saudara sudah diselamatkan, saudara berpuasa. Karena saudara sudah diselamatkan, saudara kebaktian. Saudara bisa bedakan apa tidak mengenai pekerjaan iman dan kita diselamatkan oleh iman. Kita buka dulu Efesus

 

2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu - Maksudnya bukan hasil pekerjaan kita. Bukan saudara bedston pagi, saudara selamat. Bukan. Bukan saudara dengan berpuasa, saudara selamat. Tidak. Bukan karena saudara bawa perpuluhan, saudara selamat. Tidak. Bukan karena saudara mengasihani orang miskin, saudara selamat. Tidak. Saudara diselamatkan oleh iman. Bukan pekerjaan kita, tapi kado - tetapi pemberian Allah,

2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Jadi baik saya pendeta, saudara jemaat, saya tidak boleh memegahkan diri di depan saudara. Saya sudah selamat karena saudara juga berhak untuk selamat. Kita tidak boleh bilang: Dia nggak selamat. Nggak boleh. Karena bukan pekerjaan kita menyelamatkan. Pekerjaan siapa, saudara? Tuhan. Oleh karena iman kita diselamatkan. Bukan pekerjaan kita.

Kalau kita kembali kepada ayatnya dari Tesalonika, ayat 3 tadi. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu. Jadi setelah kita percaya, setelah kita diselamatkan oleh iman. Sudah selamat nih kita, semua sudah selamat, sudah percaya Yesus. Pokoknya sudah percaya Yesus mah selamat saja. Percaya, dibaptis, selamat. Tenang. Mau mati kapan, mau meninggal kapan tinggal saudara pilih saja. Selamat dah.

Tetapi selama kita hidup di dunia, kita dituntut untuk memproduksi pekerjaan iman. Kenapa saudara ke gereja? Karena saudara beriman. Saudara percaya bahwa kalau kebaktian, saudara dapat kekuatan dari firman. Saudara percaya kalau kebaktian, saudara dapatkan penghiburan. Saudara percaya kalau kebaktian, rohani kita bertumbuh. Ini yang disebut pekerjaan iman. Dan saya hidup oleh iman.

Empat ayat: Satu di perjanjian lama, tiga di perjanjian baru ...  yang mengajar orang benar akan hidup oleh karena iman. Kita lihat Ibrani 

 

10:37 "Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.

10:38 Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya."

10:39 Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

 

Ini hanya satu yang saya baca, ada empat. Galatia 3, ini semua pasal bicara tentang iman. Ayat 9,

 

3:9 Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. - Ayat ke 6 -

3:6 Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

3:7 Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. - Ayat 11 -

3:11 Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman."

 

Sudah dua. Roma

 

1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

 

Yang terakhir di Perjanjian Lama. Habakuk

 

2:4 Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.

 

Bahasa Inggris, oleh iman.

Kita belajar sekarang. Bagaimana tandanya, dia itu orang beriman? Gampang, dia tidak suka membusungkan dada. Sebab yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya. Tapi orang benar hidup dari iman. Saudara mau hidup dengan iman? Amin. Saudara mau hidup dengan iman? Haleluyah. Selama 61 tahun saya dipelihara oleh ayapan firman Allah. Papa mama saya tidak ada gaji. Membuang diri di ladang Tuhan. Mau hidup, hidup. Mau mati, mati. Bayangkan setelah punya anak satu. Bayangkan setelah punya anak dua. Betapa sulitnya. Tapi kok sampai di garis akhir, sampai di ujung jalan. Dengan beriman kepada Tuhan, dipelihara kok. Adik saya sampai jadi insinyur, istrinyapun insinyur, anaknya sudah ada di London. Oleh karena iman yang sama. Saya tidak sekolah tinggi. Tapi lihat itu iman.

19 Mei 1963, Cianjur lautan api, saudara. Toko-toko dijarah, digedor. Barang-barang taruh di jalan dibakar. Hari minggu itu. Gereja kita ini jadi tempat pelarian. Kalau saya ingat itu, aduh luar biasa Tuhan, ya. Maka saudara itu jangan main-main sama Tuhan, jangan heureuy sama Tuhan. Dia mau menjamin, betul-betul menjamin. Dia mah menolong, benar-benar menolong. Dia kalau memberkati, benar-benar memberkati. Kalau Dia sayang kita, betul-betul sayang. Karena iman.

Setelah kita diselamatkan seperti itu, saya digerakkan oleh Tuhan ... sekolah alkitab, terasa panggilan. Itu yang saya bilang pekerjaan iman. Saudara main musik, pekerjaan iman. Saudara yang jalan kolekte, pekerjaan iman. Saudara yang berdoa untuk hamba Tuhan dan untuk pendeta, itu pekerjaan iman. Kita kembali kepada Tesalonika. Di Tesalonika ini yang pertama adalah pekerjaan iman. Dan ini yang membuat Paulus tidak bisa berhenti mengingat pekerjaan iman saudara.

Saya tidak lupa waktu saya sepuluh tahun, pak Husni Husada ajak saya ke Bandung. Jalan Pasir Kaliki itu saya tidak lupa ada toko sepatu. Saya di ajak ke sana. Saya dibeliin sepatu baru. Waktu saya SMP ko Asam kasih saya batu sepah hitam. Mama saya bikinin pakai emas. Diambil sama engku, dijual sama dia. Sedih. Tapi sampai sekarang terpelihara. Kalau saya bayangkan itu, semua itu pekerjaan iman. Saya tidak bisa dan tidak mungkin melupakan pekerjaan dari jemaat itu.

Sebab jemaat ini disayang. Buah pemberitaan dari Paulus. Disayang sama Paulus karena dia sudah mempunyai pekerjaan iman. Hujan ke gereja. Waktu 19 Mei itu, tidak ada kebaktian. Pagi masih ada sekolah minggu. Tapi sore kebaktian jam lima nggak ada. Jadi papa saya pakai piyama berdiri di jalan. Saya masih ingat itu Tan Han Giok, dia jalan dari atas emper-emper toko, bawa perjanjian baru kecil. Kebaktian. Di sebutnya Benny: Benny, nggak ada kebaktian. Nggak ada ya, oom? Nggak ada. Begini ribut. Sudah pulang lagi. Pulang.

Dia nyeberang lagi, pulang. Sampai di seberang, papa saya ngomong begini sama saya: Itu anak jadi orang. Pasti diberkati Tuhan. Karena kita kan kalau ke gereja kalau lagi eng-eng, kalau ada waktu, kalau nggak sibuk, kalau di rumah sudah rengse semua pekerjaan, baru kita ke gereja. Ini lagi ribut. Dan saya kagum karena - kalau tiga cicinya tidak, mamanya sendiri tidak - tapi mamanya bisa kasih izin anak itu kebaktian. Dari jalan tengah ke sini, jalan kaki.

Pekerjaan iman seperti itu yang tidak bisa dilupakan. Maka saudara, tidak bisa lupakan akar kita.

Waktu gereja di Siti Jenab, mesjid bilang terlalu dekat sama mesjid. Mestinya paling sedikit seratus meter. Ini mah ini mesjid Agung, ini gereja di sini gereja Pantekosta. Jadi carilah tanah, beli tanah, pindahlah gereja. Papa saya bikin les, minta sumbangan. Tante Idup, Om Go Goan Po ke Jakarta. Ketemu om Rungkat. Minta bantuan mau bangun gereja. Disuruh pulang: Pulang, pulang lagi kamu. Pakai lututmu, pakai doa. Pulang ke Cianjur. Aduh, sakit hati, katanya. Tapi di situ Tuhan memberi mujizat.

Rumah ini harganya cuma delapan puluh ribu rupiah pada tahun 57-58 itu. Itu sangat, sangat murah karena yang punyanya diganggu setan terus. Kadang-kadang ada suara, kadang-kadang ada yang ketok pintu. Jadi dijual murah. Mesjid Agung itu ikut cari, dapat di sini tanahnya. Bikin sepotong. Jadi dulu kalau saudara ke gereja, masuk ke gereja tempat sepeda di sebelah kiri. Kamar pertama, kamar kedua, kamar mandi dua, dapur, belakang garasi. Garasi dipakai kamar makan. Depan ini sampingnya mimbar, terus gereja. Jadi kalau kita bisa sampai bisa punya gereja seperti ini, ini kita tidak lepas dari akar kita dulu. Orang yang mendahului kita, orang tua kita dulu. Tapi itu semua hasil pekerjaan iman. Haleluyah? Kalau saudara ada di sini, itu pekerjaan iman yang bekerja di dalam kita.

Yang kedua, dalam ayat ke 3, usaha kasihmu. Dalam bahasa Inggris, labour of love, jerih payah kasih. Iman dengan kasih ini nggak bisa pisah. Bahkan tiga hal ini nggak bisa pisah, iman, kasih, pengharapan, nggak bisa pisah. Tapi kita belajar dulu mengenai kasih. Labour of love, usaha atau jerih payah kasihmu. Itu juga diingat terus oleh Paulus.

Jadi jangan saudara menganggap kebaikan saudara itu saya lupakan. Tidak akan. Tidak mungkin dan tidak akan pernah saya lupakan kebaikan jemaat. Sebab saya tahu mayoritas jemaat di Cianjur itu baik-baik. Mayoritas, semua, 99.9% itu baik. Yang kurang baik hanya kurang pengetahuan saja musti belajar firman Allah supaya jadi baik. Ada haleluyah? Saudara mau diperbaiki oleh Tuhan?

Mari kita bicara tentang kasih. Kalau tadi iman, yang tidak ada menjadi ada. Ini kasih sekarang ini luar biasa. Kalau nggak ada dia, saudara nggak bisa masuk sorga. Kita buka I Korintus 

13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

13:4. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. - Ayat 13 -

13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Yohanes Pembaptis bilang begini: Patutlah Dia, Yesus, yang makin bertambah. Aku ini - Yohanes Pembaptis termasuk juga Yohanes Awondatu, makin kecil. Dia makin besar, aku makin kecil. Saudara merasa besar di depan Tuhan atau merasa kecil? Jangan dijawab. Sekarang saudara musti bisa belajar menjadi kecil di hadapan sesama manusia. Kalau kita sudah belajar menjadi kecil, aduh Tuhan, kecilkan saya. Saya tidak ada artinya. Kecilin saya, Tuhan. Saya bukan orang penting, saya orang biasa, saya orang berdosa. Kecilin, Tuhan, saya.

Kalau ngomong: Jadi bagaimana atuh? Bagaimana sekarang? Ngomongnya begitu. Kecil, kecil, kecil. Saudara kalau punya mental seperti ini, mau dikecilin. Ada persoalan apa dibikin kecil, dibikin kecil. Aman. Dari mana peperangan? Karena tidak ada yang mau merasa kecil. Merasa diri hebat, merasa diri besar. Yesus saja Raja segala raja Dia jadi kecil ... turun ke dunia jadi manusia biasa terus merendahkan diri jadi orang biasa, kecil. Apa kata Tuhan? Siapa yang merendahkan diri, dia akan ditinggikan.

Saya kalau melihat anak Tuhan diberkati, hati saya senang. Orang itu merendahkan diri maka Tuhan angkat. Saudara diberkati Tuhan kalau saudara merendahkan diri. Datang dari kasih. Bayangin saudara punya iman memindahkan gunung tapi nggak ada kasih, nggak ada gunanya. Kasih itu sabar, panjang sabar, tidak pernah gagal. Ini yang selalu membuat Paulus selalu ingat terus sama jemaat Tesalonika.

Yang ketiga, dan ketekunan pengharapanmu.

Saya tulis ya tiga kata ini dalam bahasa Yunaninya. Iman, bahasa Yunaninya pistis. Kasih, bahasa Yunaninya agape. Pengharapan, bahasa Yunaninya elpis. Bukan elvis. Elpis. Maka tiga ini tidak bisa dipisah. Tapi dari ketiga ini yang paling bagus kasih. Yang paling utama kasih. Bukan berarti iman tidak perlu, bukan berarti pangharapan tidak perlu. Pengharapan itu perlu. Ibrani

11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan - Jadi iman itu dasarnya dari pengharapan. Nggak bisa pisah. -  dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

 

Roma

 

5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Dalam ayat ke-5, pengharapan tidak bisa dipisahkan dari kasih. Pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah. Jadi pengharapan bekerja sama dengan kasih. Ayat 1, iman. Kita yang dibenarkan karena iman, hidup dalam damai sejahtera. Bagaimana kita bisa damai? Karena ada kasih. Jadi iman dengan kasih tidak bisa dipisahkan. Iman dengan pengharapan, Ibrani 11:1 tadi, tidak bisa dipisahkan. Kasih dengan pengharapan, Roma 5:5, tidak bisa dipisahkan. Jadi tiga-tiganya penting. Kembali kepada Tesalonika.

1:3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada - Dalam bahasa Inggris, di dalam - Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

Untuk yang keempat, ini mungkin ayat yang terakhir bagi sore hari ini. Ayat 4,

1:4 Dan kami tahu - Paulus dengan teman-temannya sesama hamba Tuhan tahu -, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu.

Kenapa Paulus mencintai jemaatnya? Karena dia tahu Tuhan dia sudah memilih orang Tesalonika. Kenapa saya mengasihi saudara? Bukan keharusan. Kalau keharusan bukan kasih. Saya begitu saja mengasihi saudara. Saya cuma minta: Tuhan, berilah roti hidup, beri rumput yang hijau untuk saya memberi makan kepada jemaat yang Engkau kasihi, yang Engkau pilih.

Kalau kita sesama orang yang dipilih sama Tuhan, patutkah kita ribut? Nggak patut kan. Alkitab berkata: Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih. Tapi kamu, kata Paulus, kami tahu engkau dipilih oleh Tuhan.

Siapa yang merasa dipilih oleh Tuhan? Saya nggak merasa dipilih oleh Tuhan. Tapi saya percaya, saya dipilih oleh Tuhan. Nggak bisa dirasain. Saudara merasa nggak dipilih Tuhan? Nggak rasa. Bagaimana perasaannya dipilih? Apa diketok kepalanya ... kamu terpilih. Apa dijewer? Tidak, kita nggak rasa apa-apa. Tapi kita percaya kita dipilih oleh Tuhan. Banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih.

Jadi kalau saudara dipilih saudara nggak rasa tapi saudara percaya, saya dipilih oleh Tuhan, jangan takut hari depan. Hari depan buat saudara gemilang dan penuh dengan kemenangan karena saudara orang pilihan Tuhan.

Dulu zaman Bung Karno ada gadis-gadis SMA, tingginya musti sama, kaya Paskibraka gitu. Disebut wanita pilihan atau pagar ayu. Kalau Bung Karno lewat kiri kanannya itu pagar ayu. Gadis-gadis sama tingginya. Semua mukanya musti muka Indonesia. Terpilih. Kalau cuma dipanggil aja kan jelek. Wanita panggilan. Jelek. Tapi kalau wanita pilihan, terpilih. Kalau beras yang dipilih itu beras kepala. Keuntungan kita yang paling hebat, kita telah dipilih oleh Tuhan. Saya sedang melihat orang-orang yang dipilih oleh Tuhan sore hari ini.

Mari kita berdiri bersama-sama.

-- o --   

Rabu, 29 Juli 2009

PEMBERITAAN INJIL

I Tesalonika 

 

1:5 Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.

1:6 Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

Lima kata pertama yang ditulis rasul Paulus ini adalah sebab Injil yang kami beritakan. Buat apa Injil, apa artinya Injil kalau tidak diberitakan? Apa artinya pemberitaan, pidato, kalau isinya bukan Injil?

Jadi Paulus berkata, Injil yang kami beritakan. Jadi Injil ini punya pasangannya. Pasangannya itu harus diberitakan. Buat apa Injil kalau Injil ini tidak diberitakan, tidak disaksikan? Buat apa kesaksian, buat apa pemberitaan, cuma ngomong doang, kaya pengumuman kalau bukan Injil?

Injil dalam bahasa Yunani adalah euangelion. Ini g nya satu tapi dibacanya seperti dua. Ini bukan v yah, orang suka salah baca, evangelion. Salah. Euangelion. Artinya dari euangelion itu kabar sukacita, kabar baik. Sebetulnya salinan yang tepat adalah kabar sukacita. Kabar baik belum tentu sukacita. Kabar sukacita selalu baik, kabar yang baik, good news, berita yang baik. Itu sebabnya orang kristen itu harus memancarkan berita yang baik. Dari mulutnya keluar berita-berita yang baik, yang positif. Dari kata-katanya selalu ada kata-kata yang pandai, bukan kata-kata yang bodoh ... kata-kata yang punya kebaikan. Amin?

Dengan saudara berkata amin saja itu sudah menebar kebaikan. Baru saudara bilang amin. Tanpa sadar saudara mungkin sedang duduk dan bilang haleluyah, mengaminkan yang khotbah. Haleluyah, amin ... saudara sudah menebar kebaikan, saudara sudah menebar berita Injil.

1:5 Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. 

Makanya saya selalu ingin hal-hal yang dilakukan di kebaktian, urusan dengan Tuhan itu dilakukan dengan sepenuh hati, dengan sungguh-sungguh. Dari mulai latihan sudah sungguh-sungguh sampai nyanyinya kita. Nyanyi cuma sekali loh hari minggu itu, umpamanya, tapi latihannya berkali-kali, diulangi lagi, diulangi lagi supaya tidak ada kesalahan.

Kalau dalam latihan saja sudah tidak baik maka ketika nanti hari minggu nyanyi juga tidak baik. Kalau suasana hati kita lagi latihan berpihak-pihak maka nanti waktu nyanyinyapun nggak ada kuasa. Saya mau cerita banyak kesaksian. Salah satunya di GKI. Saya tidak tahu pendetanya ternyata masih keluarga, masih family. Pendetanya perempuan. Ini yang saya cerita Gereja Kristen Ketapang, Jakarta. Yang cerita kepada saya ini seorang dokter. Adik dokter ini murid saya di persekutuan saya di Jakarta. Dari mulut dia, dia cerita.

Ketika hari natal, sangkoor itu nyanyi. Tentu nyanyian sangkoor ini semuanya hal yang baik, kabar baik, good news, berita yang baik. Nyanyi kepada Tuhan. Ini dokter duduk di belakang. Dia sampai berdiri. Dia lihat berdiri. Sebab di samping penyanyi paling kanan, dia lihat ada orang yang dia tidak kenal berjubah putih ikut menyanyi. Maka dia sadar bahwa itu adalah malaikat Tuhan. Maka itu saudara, saya ingin beritahu kepada saudara, ketika saudara menyanyi di depan atau menyanyi menyembah kepada Tuhan, itu jangan asal. Jangan asal bunyi, asal keluar. Tapi harus nyanyi dengan segenap hati. Sebab kadang-kadang malaikat turun turut menyanyi dengan kita. Tidak kelihatan sama semua orang, hanya dokter ini saja yang lihat.

Kesaksian yang kedua, dokter yang sama dia duduk di depan satu bus ketika gereja mengadakan retreat. Pulangnya lewat Jagorawi. Ini sopir kayanya kesurupan, ngebut luar biasa di Jagorawi. Dia sudah bilang, nggak usah cepat-cepat dah pak sopir. Nggak usah cepat-cepat deh pa sopir, nggak usah cepat-cepat. Seperti nggak didengar, cepat terus. Jadi dia sembahyang.

Ketika dia sembahyang amin, dia kaget. Di depan bus itu malaikat merentangkan tangannya, membelakangi bus menghadap ke depan. Dia tahu sekarang, tiap orang kristen pergi ke mana-mana yang berdoa di rumah, malaikat melindungi. Mungkin sopir abal-abalan, dia ngebut, tapi Tuhan melindungi.

Waktu papa saya masih hidup, ada orang namanya ko Ketip. Ko Ketip itu mau coba-coba ke gereja, kebaktian di sini. Papa saya khotbah. Itu ko Ketip duduk di paling belakang. Dia sampai berdiri. Apa ini lampu neon, katanya, dia sampai berdiri.

Papa saya juga bingung, ini orang kenapa jalan-jalan saja. Tapi dia nggak tegur. Nanti habis kebaktian baru dia ngomong: Oom Yan, saya tuh bukan jalan-jalan kurang ajar, minta maaf. Tapi saya lihat di belakang om ini ada cahaya. Makanya saya bilang ini cahaya neon apa bukan? Tapi dari manapun saya lihat, cahaya di belakang om itu yang melingkupi om.

Jadi, saudara, setiap kali kita ke gereja, makanya saya walaupun main organ, main saxophone, saya tidak anggap saya main buat saudara. Saya main untuk Tuhan.

Makanya bekerjalah untuk Tuhan. Pemberitaan firman juga kita laksanakan. Tadi malam saya diundang makan oleh satu jemaat. Dia bawa satu orang. Oom, saya bawa satu orang, ini kalau oom ingat oom sudah baptis dia tiga tahun lalu. Saya lupa. Nama saya Frans, oom. Saya dibaptis sama oom di Pasar Minggu, dua setengah tahun yang lalu, desember 2006. Saya nggak ingat. Tapi dia tetap bilang, saya dibaptis oleh oom. Terus jemaat saya ini sudah nggak sabar. Ayo Frans ceritain dong, ceritain.

Saya ini kenapa saya dibaptis oom dulu itu karena waktu saya dengar oom khotbah, di belakang oom itu ada api. Api di belakang oom. Waktu oom main saxophone, saya juga lihat seperti ada api. Nah tadi oom khotbah, barusan oom khotbah, juga saya rasakan itu hal yang sama. Tapi ada satu ayat yang tidak saya mengerti yang tadi oom khotbah. Apa artinya? Saya kasih tahu. Oh, kalau begitu berhubungan. Kalau buat dia, dia sudah tahu. Kuasa yang hebat yang besar itu berita Injil. Kabar kesukaan.

Saya sudah ajar SOM, di Jakarta sudah dua kali SOM. Sudah ada enam puluh sekarang di Jakarta. Jemaat sudah bisa khotbah sekarang. Jadi setiap kebaktian, pemimpin pujian akan beri kesempatan. Kebaktian ini brur sana kasih renungan, lima sampai tujuh menit, di tengah kebaktian. Nanti kebaktian yang lain, orang lain lagi. 60. Lelaki perempuan. Sudah berani berbicara di depan. Dari semuanya itu saya dengar khotbahnya luar biasa. Saya saja kagum dari mana dia dapat kata-kata itu, bagaimana dia bisa memecahkan firman Tuhan itu.

Maka saya yakin dengan sangat yakin bahwa firman Allah, Injil ini adalah kabar kesukaan. Yang tidak diberitakan hanya dengan kata-kata tetapi juga dengan kuasa. Kuasa yang bisa menghidupkan. Kuasa yang bisa mengangkat orang yang lemah. Kuasa yang membangun iman. Kuasa yang memberikan keberanian. Kuasa yang memberikan semangat kepada kita. Kita mau lihat Injil yang pertama yang dikatakan oleh firman Allah. Lukas

4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:

4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku

4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

 

Saya ingin mengajak saudara melihat aslinya dari ayat ini. Yesaya 61. Sebelum disitir oleh Yesus, ini ditulis oleh Yesaya. Kata-kata yang penuh kuasa ini ditulis dalam Yesaya 

 

61:1 Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,

61:2 untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung,

61:3 untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka "pohon tarbantin kebenaran", "tanaman TUHAN" untuk memperlihatkan keagungan-Nya.

61:4 Mereka akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan mendirikan kembali tempat-tempat yang sejak dahulu menjadi sunyi; mereka akan membaharui kota-kota yang runtuh, tempat-tempat yang telah turun-temurun menjadi sunyi.

 

Amin? Inilah kuasa dari Injil. Dia memperbaiki, dia membangun, dia menambal, dia memperbaiki, dia merestorasi. Ini Injil dari Tuhan. Kembali kepada Tesalonika. Ayat 5, Sebab Injil yang kami beritakan. Sekarang kita memperhatikan kata beritakan. Dalam Roma 10, di sana rasul Paulus menceritakan bagaimana kita harus memberita. Roma

 

10:14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

10:15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"

Bagian akhir kita baca sama-sama: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"

Nah, ini salinan nggak tepat. Salinan bahasa Indonesia dulu lebih tepat. Saya salin dari bahasa Inggris, how beautiful are the feet of those who preach the gospel of peace, betapa indahnya kaki mereka yang membawa kabar baik tentang perdamaian, yang memberitakan kabar sukacita dan hal-hal yang baik. Semua bicara tentang pemberitaan. Jadi saya ingin setiap jemaat, saudara dan saya, laki-laki perempuan, jemaat kita, ini menjadi sumber berita yang baik. Amin?

Kalau orang datang kepada saudara, yang didengar cuma yang baik. Beritanya cuma yang baik, yang enak sekali didengarnya, hal-hal yang baik, hal-hal yang enak didengar. Ini dikatakan juga oleh Paulus dalam surat Filipi. Dalam Filipi

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Jadi saudara sumber dari delapan hal yang baik: Yang baik, yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, semua ini disebut kebajikan dan patut dipuji.

Pada waktu hari senin yang lalu itu penutupan SOM - School Of Ministry - di Jakarta. Semua harus bisa khotbah. Dipanggil satu-satu, khotbah lima menit. Ada satu bapa, jauh lebih muda dari saya, ... dia khotbah mengenai hidup kudus. Di tengah-tengah khotbah dia bersaksi, bagaimana dia seorang perokok berat mulai dari umur 17 tahun. Kita kaget, kita nggak tahu. Tapi setelah dia jadi orang kristen, dia tahu bahwa merokok itu nggak baik buat orang kristen, nggak cocok.

Jadi dia coba tidak merokok. Dia bilang sampai tiga kali dia coba tidak merokok. Dapat seminggu, merokok lagi. Kena lagi firman Allah, coba tidak merokok lagi. Beberapa bulan merokok lagi. Sampai akhirnya dia sembahyang. Jadi Injil itu bukan cuma kata-kata saja tapi kuasa itu benar. Dia berdoa: Tuhan, saya ingin tidak merokok tapi saya gagal terus. Tuhan kasih saya kekuatan. Dia menyerah sama Tuhan dan tidak lagi merokok sampai sekarang ini, katanya.

Karena apa? Karena Injil yang dia dengar itu adalah sesuatu yang penuh kuasa. Hari selasanya dia sudah bawa jiwa baru. Kesana kemari bawa jiwa baru. Itu jiwa baru juga ikut SOM. Kembali kita lihat lagi Tesalonika. Sebab Injil yang kami beritakan - saudara mau dipakai oleh Tuhan? Mulut saudara menjadi pemberita-pemberita firman Tuhan. Sebab kaki saudara saja indah kalau beritakan firman Tuhan. Apalagi bagian tubuh yang lain pasti jadi indah, jadi cantik. Bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja tetapi juga dengan kuasa oleh Roh Kudus dan dengan satu kepastian yang kokoh.

Bahasa Indonesia, kepastian yang kokoh. Dalam bahasa Inggris, keyakinan yang banyak, keyakinan yang besar.

Jadi ada empat kelas. Kelas yang paling bawah, paling jelek: Orang nggak punya keyakinan. Kelas dua, yang kedua: Punya keyakinan tapi kecil. Lebih tinggi lagi, punya keyakinan tapi setengah full. Paling bagus, keyakinan yang kuat, keyakinan yang besar. Yakin. Luar biasa. Itu keyakinan itu, di sini dipakai kata kokoh. Kepastian yang kokoh.

Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. Bahasa Inggris bukan: Memang kamu tahu bagaimana kami. Tetapi  dengar baik-baik: Seperti kamu tahu, orang macam apakah kami di antaramu oleh karena kamu. Jadi dia bilang begini, Paulus bilang: Saya ada di sini di Tesalonika di antara kamu karena kamu. Dan kamu sudah tahu, saya ini orang macam apa.

Salah satu murid yang ikut SOM itu dari El Shaddai. Dia bilang: Saya sudah delapan belas tahun kenal pak Awondatu, tahu pak Awondatu. Pak Awondatu itu seperti duren, berduri di luarnya tapi dalamnya wangi. Saya sama saudara kan sudah 61 tahun. Saudara belum lahir kan saya sudah ada. Ada yang saya belum ada, saudara sudah lahir. Sudah sama-sama kita. Saudara boleh nilai saya. Orang macam apa saya ini yang bekerja di antara saudara. Ada orang melayani Tuhan karena uang, ada. Ada orang melayani Tuhan karena upah, ada. Ada orang melayani Tuhan dari hati, ada. Itu dinilai sama Paulus. Filipi

1:14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

1:15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.

1:16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,

1:17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.

1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,

Jadi Paulus tahu ada yang ikhlas, ada yang dengan maksud baik, itikadnya baik. Ada yang karena ingin upah, ada yang tidak ikhlas, ada yang dengki, ada yang berselisih. Tapi karena Injil itu kabar baik maka kita hamba-hamba Tuhan, pendeta-pendeta harus memberitakan kabar baik ini dengan niat baik, dengan tujuan baik, dengan hati yang baik, dan dengan maksud yang baik. Kembali lagi ke Tesalonika. Orang macam apakah kami yang bekerja di antara kamu. Ayat 6,

1:6 Dan kamu telah menjadi penurut kami - Lebih tepat pengikut kami, dan pengikut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

Haleluyah? Kita ini dengar firman Allah tenang loh. Tenang, tempatnya ber-AC, hawanya dingin. Kita mau belajar firman Tuhan yang baik itu. Di sini disebut kamu telah menjadi pengikut kami dan pengikut Tuhan. And you become followers of us and of the Lord. Ada dua, dikatakan kamu telah menjadi pengikut kami. Kami ini Paulus dan kawan-kawan. Dan pengikut dari Tuhan. Apa bedanya, apa maksudnya pengikut kami dan pengikut Tuhan? Apa yang dimaksud oleh firman Allah bahwa pengikut kami - kamu telah penurut-penurut kami dan penurut Tuhan?

Menurut kami, menurut Paulus adalah dalam penderitaan-penderitaannya. Paulus dibikin susah, dipenjara, Paulus ditahan, Paulus dipukulin, dicemeti. Dalam penderitaannya Paulus itu, jemaat Tesalonika tetap mengikuti Paulus, nggak mundur. Maka dia sebut yang kedua, engkau juga pengikut Tuhan. Karena Tuhan juga menderita. Sebelum disalib, Dia dianiaya dulu, ditekan, dicambuk, diludahin, dipukul dengan tongkat, dianiaya bahkan dibunuh disalib. Tapi tidak bikin surut orang Tesalonika untuk tetap menjadi pengikut Kristus.

Nah, kristen seperti inilah kristen sejati. Kristen yang tetap mengikut Tuhan walaupun apa yang terjadi. Saudara mau menjadi pengikut Tuhan? Saudara mau masuk sorga? Saudara mau mengikut Tuhan atau mau masuk sorga? Atau mau dua-duanya? Sebab kalau kita mau masuk sorga tapi nggak mau ikut Tuhan ... nggak bisa sampai. Kalau kita nggak mau masuk sorga tapi kita mengikut Tuhan, kita dapat sorga. Sebab orang yang mengikut Tuhan pasti dapat sorga. Jadi yang penting bukan ikut gereja, bukan ikut pendeta. Ikut Tuhan!

Tapi dia bilang, engkau pengikut kami karena dalam penderitaan kami engkau tetap cinta kepada gembala. Engkau tetap cinta kepada yang melahirkan kamu, yaitu Paulus dan kawan-kawan.

1:6 ...; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

Orang kristen yang berkemenangan adalah orang kisten yang bersukacita. Orang kristen yang bersukacita belum tentu dia berkemenangan. Tapi orang kristen yang berkemenangan, orang kristen yang menang, dia sudah pasti orang kristen yang bersukacita. Sebab Alkitab berkata: Kesukaan dari Tuhan adalah kekuatanmu. Sebagai ayat terakhir, Filipi 

4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

Ada hubungan antara bersukacita, disebut dua kali, dengan kebaikan. Sukacita disebut dua kali. Kebaikan dan kedekatannya Tuhan dengan orang-orang sedemikian. Jadi kalau saudara mau Tuhan dekat sama saudara, kita harus menjadi orang kristen yang bersukacita dan hati kita selalu berbuat baik. Hendaklah kebaikan hatimu. Bagaimana orang bisa tahu hati kita berbuat baik? Hati yang baik akan mengeluarkan kata-kata yang baik. Nah, kata-kata yang baik, good news adalah Injil. Injil adalah kabar yang senang.

Kita berdiri bersama-sama.                                                       

-- o --        

Rabu, 12 Agustus 2009

MENJADI TELADAN

I Tesalonika 

 

1:7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.

1:8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu.

1:9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar,

1:10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Di dalam ayatnya yang ke-7, kata 'sehingga' itu adalah tujuan akhir dari ayat ke 6. Saya baca lagi ayat ke-6,

1:6 Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Jadi mereka menerima firman Tuhan yang dikerjakan dengan sukacita dari Roh Kudus itu justru pada waktu mereka tertekan. Kalau kita melihat ayat ke 6, dalam penindasan yang berat.

Jadi kalau kita hanya mengalami penindasan-penindasan kecil saja, hanya berbentuk nama kita diaibkan, menurut kitab nabi Yesaya, janganlah kita kecil hati karena jemaat di Tesalonika ini dalam penindasan yang luar biasa. Hari senin kemarin saya ada rapat Majelis Daerah di Bandung. Lalu sorenya ulang tahun satu gereja GPdI Margahayu yang ke-25 tahun. Digembalakan oleh seorang ibu gembala, janda karena suaminya meninggal dalam usia yang sangat muda.

Diceritakan bagaimana gereja itu dari tidak ada sampai menjadi ada. Saya terharu sekali, saudara. Karena dari gereja itu, beberapa tahun kemudian dibongkar sama rakyat. Mau bangun, dibongkar sama rakyat. Tiga kali mereka menghadapi pindahan. Jadi sekarang ini mereka bertahan. Cukup besar ini jemaat dalam penindasan.

Jadi saya lihat, ketika kita mengalami penindasan justru pada saat itu jemaat berkembang. Amin, saudara? Untuk pribadi kita, kalau kita mengalami penindasan, Tuhan akan mengembangkan iman kita.

Jadi jangan takut akan penindasan. Sebab rencana Tuhan bagi kita bukan yang negatif tetapi selalu positif. Masih ayat 6,

1:6 ... kamu telah menerima firman dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Lalu akibatnya ayat 7, sehingga.

Jadi Tuhan izinkan ayat ke-6 supaya ayat ke-7 itu dialami. Sehingga kamu telah menjadi teladan. Bahasa Inggris, so that you became example. Kata sehingga dalam bahasa Inggris, supaya kamu menjadi teladan-teladan. Jadi tujuan Tuhan izinkan penindasan dialami oleh orang Tesalonika, Dia ada punya tujuan.

Tujuannya supaya jemaat Tesalonika menjadi teladan-teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.

Sekarang saudara mengerti kalau Tuhan mempercayakan kita mengalami 'penindasan', 'penghinaan'. Saudara nggak salah ya, nggak ada salah apa-apa, tapi saudara ditindas, dihina, diolok, ditekan, disalahpahami. Jangan saudara terpana dengan ayat 6. Ingat ayat ke-7, supaya. Jadi Tuhan punya maksud dalam setiap hal. Supaya kita menjadi teladan-teladan untuk semua orang yang percaya. Dikatakan di sana, di wilayah Makedonia dan Akhaya. Ayat 8,

1:8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema - Bahasa Inggris, bersuara - bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu.

Karena orang Tesalonika menerima firman Tuhan dengan sukacita dari Roh Kudus, padahal mereka sedang teraniaya, tertindas maka mereka sudah terkenal di Makedonia dan Akhaya. Tetapi Paulus berkata, bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja tetapi kepada semua orang. Sehingga Paulus tidak usah menginjil lagi. Paulus tidak usah ngomong apa-apa lagi. Paulus tidak usah menginjil ke tempat itu lagi. Nggak usah. Karena orang ini sudah dengar jemaat Tesalonika menerima firman waktu ditekan dengan sukacita dari Roh Kudus.

Haleluyah? Jadi kalau saudara tabah ikut Tuhan, saudara kuat ikut Tuhan, mengalami apapun juga saudara tabah ... itu ketabahan yang datang dari Roh Kudus, kekuatan dari Roh Kudus itu bergema. Bahasa Inggris, sound off ... bersuara dengan nyaring. Padahal orang Tesalonika tidak bersaksi, tidak buka mulut. Hanya bersukacita pada waktu mereka ditekan. Bersukacita pada waktu mereka mendengar firman Tuhan itu. Coba kita bandingkan dulu dengan Matius

 

13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.

13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.

13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

13:10 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?"

 

13:18 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu.

13:19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya - Jadi cuma datang ke gereja, ngadon ngadem saja di gereja tapi tidak mengerti firman Allah -, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.

13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.

13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.

 

Hanya karena penindasan. Mereka terima firman Tuhan, sukacita tetapi karena ditindas, mereka murtad. Beda dengan Tesalonika. Ketika ditindas mereka terima firman Tuhan dengan sukacita yang datang dari Roh Kudus. Maka jadi jemaat yang dewasa itu perlu waktu. Sebab kebanyakan dari kita nggak suka percobaan. Kebanyakan kalau dapat penindasan, ngomel. Kalau dapat penindasan, membela diri. Padahal kebenaran tidak perlu pembelaan. Yang membela kita Tuhan Yesus Kristus. Amin?

 

Kalau sudah serahkan persoalan kepada pengacara, kita malahan jangan ngomong. Pengacara bilang, bapak jangan bicara nanti salah ngomong, saya yang ngomong. Sebab saya pengacara bapak. Begitu juga Roh Kudus. Kalau saudara sudah melaporkan persoalan saudara, mengadukan kepada Roh Kudus, Roh Kudus menjadi pengacara saudara. Kita nggak usah ngomong lagi, diam saja. Nanti Dia yang beracara. Namanya saja pengacara. Roh Kudus membela.

 

13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti - Mengerti itu susah. Dan karena mengerti itu ia berbuah -, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

Saya tertarik kalau kita membaca lagi Injil Lukas 8. Lukas 8 kita mau melihat tanah yang baik itu mempunyai kelebihan, satu kata saja. Lukas 8:15, saya baca pelan-pelan.

8:15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

Ini yang tidak ditulis oleh Matius. Ketekunan. Apa artinya tekun? Nggak mundur-mundur, maju terus. Ada persoalan maju terus. Maju terus. Tekun. Satu ayat dalam Mazmur, dari usaha yang tidak tahu lelah sampailah manusia kepada perbuatan-perbuatan yang besar. Saya pernah bicara, bahwa di dalam hati saudara ada benih keberhasilan, di dalam hati kita itu ada benihnya. Cuma benih ini hidup di mana? Hidup di jalan yang keras? Benih ini hidup di yang berbatu-batu atau semak belukar? Atau di tanah yang baik? Benih keberhasilan itu akan nampak.

Jadi saudara itu punya benih untuk keberhasilan. Tapi tekun apa tidak. Dalam bahasa Inggris, ketekunan itu dipakai kata sabar. Jadi kesabaran itu diperlukan bukan waktu lagi senang. Lagi senang nggak perlu kita kesabaran. Justru lagi kita ditekan, lagi kita susah, lagi kita ditindas, kita butuh kesabaran. Maka siapa yang sabar - Lukas tidak bilang tiga puluh, enam puluh kali, seratus kali ganda. Menghasilkan buah. Di mana saja saudara hidup, kalau saudara hidup dalam ketekunan, kesabaran, berkat itu hanya soal waktu saja. Kita kembali kepada Tesalonika ayat 7,

1:7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.

1:8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu.

 

Saudara mungkin kenal saudara Aan Andreas dari Karawang. Itu baru pulang dari Himalaya. Dia kemarin bersaksi di kebaktian di Jakarta. Dia baru pulang dari Himalaya. Dia hanya sampai kepada ketinggian 5.500. Oksigen sangat tipis. Dia sampai kepada satu kota namanya Katmandu. Mayoritas orang di sana beragama budha. Lalu dia lihat satu nenek, mungkin umurnya 70 tahun lebih, naik tangga tujuh ratus tangga ke temple yang paling tinggi. Waktu dia lihat itu, ah saya nggak mau naik, nggak akan sampai. Tapi dia lihat nenek ini jalan sambil sakit, karena sudah tua. Naik tangga itu sakit.

 

Agama budha, Tuhan mereka nggak sama dengan Tuhan kita. Tapi ketekunan nenek itu bikin dia tersentuh. Saya harus pulang ke Indonesia dan berkarya untuk Tuhan Yesus lebih tekun dari pada nenek ini berkarya. Naik tangga. Sampai. Kita juga sedang mendaki. Mendaki iman kita, naik step by step, rabu, sabtu, minggu, selasa. Kita sedang mendaki. Tekun. Matius 24 bilang, siapa yang bertekun sampai ke akhir dia akan diselamatkan. Ayat 9,

 

1:9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar,

 

Saudara tahu penghiburan saya? Hiburan saya itu bukan perkutut. Hiburan saya bukan naik motor. Salah. Itu hobi. Tapi penghiburan saya itu adalah jemaat. Saya lihat saudara sore hari ini. Mungkin di Jawa Barat kitalah yang paling besar gereja kebaktian tengah minggu. Jarang di GPdI di Jawa Barat kebaktian tengah minggu banyak seperti sekarang. Puasa lagi. Jarang. Sampai oom Brodland pernah khotbah di sini, ini kebaktian minggu atau kebaktian tengah minggu? Karena lihat saudara berhaus.

 

Keadaan ini, pendeta yang pernah ke sini cerita ke mana-mana: Itu kalau di Cianjur kebaktian begini, begini, begini. Hari rabu itu begini, begini, begini. Bedston tuh begini, begini, begini. Kita nggak usah bersaksi, orang lain yang bersaksi untuk saudara. Sekarang, orang-orang yang di bawah tadi, semua orang bersaksi kepada Paulus. Bagaimana kami, katanya, kamu orang Tesalonika sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar.

 

Saudara masuk Australia bawa barang, bawa buah, bawa makanan, kadang-kadang orang bawa jamu atau obat. Di situ ada tulisan, declare atau buang ke sampah. Orang itu suka untung-untungan. Dia kaya nggak salah. Dia nggak declare, lewat saja. Dan orang sana kan tahu ilmu jiwa. Orang gugup sedikit saja, berhenti. Buka. Ketahuan. Saudara bisa ditolak masuk. Dari kata itulah kata declare ini. Jadi ketika Paulus ketemu dengan semua orang ini, orang-orang itu meng-declare. Ini saya buka rahasia, saya kasih tahu, bapak ini bilang, bagaimana dia itu dulu nyembah berhala sekarang terima Yesus melalui pelayanan bapa. Terhibur itu Paulus.

 

Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut. Bahasa Inggris, declare concerning us what manner of entry we had to you. Dengan cara bagaimana kita, aku ini entry, masukkan Injil kepadamu itu bagaimana caranya, pengalamannya bagaimana. And how you turned it to God from idols we serve the living and true God. Bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala.

 

Jadi kita ini musti sabar, saudara-saudara, kepada orang-orang yang masih percaya kepada berhala. Sebab engkong saya sendiri dia bawa berhala dari Tiongkok, tepekong macan yang sampai sekarang masih ada di Sukabumi. Keluarga yang memelihara itu tepekong macan di Sukabumi sudah terima Yesus, sekarang jadi tua-tua sidang di GBI Sukabumi. Tapi bagaimana orang itu yang lain, yang anggap tepekong macan itu betul-betul juru selamat? Padahal engkong saya yang bawa dari Tengsiah.

 

Dan Engkong saya sudah terima Yesus, sudah dibaptis. Salahnya dari beberapa anak, ada satu anak yang mau pelihara itu tepekong. Anak-anaknya ada yang jadi katolik, semua terima Yesus. Jadi kita ini sekarang musti sabar kepada mereka yang menyembah berhala. Untuk memperkenalkan Yesus itu, Tuhan yang hidup itu kita musti sabar. Mertua saya, papi Dodo, siapa yang mau bersaksi sama dia? Orang kristen kalah tingkah lakunya. Orang kristen perbuatannya kalah salah sama dia. Dia sembahyang tiga kali satu hari sama tuhan allah, pagi, siang, malam. Sembahyang onde, sembahyang apa semua, dia ikuti. Saya bilang, jangan bersaksi sama papi, jangan. Sabar saja. Kita sembahyang saja.

 

Pagi-pagi, gereja masih yang dulu, dia bawa Hubert, anaknya Debby. Nangis. Yo, tadi malam papi mimpi. Ini Hubert ini patah tulang sudah tiga bulan nggak kering-kering, pennya nggak kering-kering. Jahitannya nggak itu rapet-rapet. Tiga bulan. Jadi ini papi Dodo sembahyang tiga kali sehari. Dikasih mimpi. Orang jubah putih, katanya, jenggot putih, Dia bilang begini, katanya: Kalau kamu mau cucumu itu sembuh, bawa sama menantumu yang pendeta, suruh dia sembahyang. Jadi papi ke sini. Nangis loh, saudara. Jam tujuh pagi. Saya senang. Itu Yesus, pih, itu Yesus. Saya sembahyang. Sembuh, kering. Hanya dalam satu minggu kering. Kan langsung telepon ke Surabaya ke acinya yang cung-cung-cep juga. Terima baptisan air. Haleluyah, saudara?

 

Tidak dengan menginjil. Sabar saja. Sebab nanti orang itu akan bercerita sendiri bagaimana mereka berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar. Ayat 10,

 

1:10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Sekarang diuji lagi kita, perihal kesabaran lagi. Sebab ayat 10 mengatakan: Menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga.

Buat kita orang kristen ada dua macam kedatangan. Yang satu adalah kedatangan Tuhan bagi seluruh dunia, global. Ini kedatangannya Yesus yang kedua kali. Yang kedua adalah kedatangan secara pribadi ketika kita meninggal. Itu Tuhan datang secara pribadi kepada kita. Dua-duanya kita harus berjaga. Kalau kedatangan secara pribadi tidak Dia datang. Kita masih hidup sampai Yesus datang. Dia datang dalam global, seluruh dunia Dia datang, seluruh dunia akan lihat.

Sekarang yang dikejar teroris di Temanggung, kita di Cianjur bisa nonton melalui televisi. Yang terjadi di Israel, kita nonton melalui televisi. Yang sepak bola di Eropa, kita nonton di kamar ... ada televisi. Jadi ini sudah di akhir zaman. Nanti kedatangan Yesus akan disiarkan secara global. Seluruh dunia akan lihat Yesus datang. Sebab Alkitab katakan, semua manusia akan lihat. Kita yang penuh Roh Kudus lihat secara rohani di padang gurun. Tapi mereka yang ketinggalan akan lihat datang. Mereka yang meninggal di dalam Tuhan, bangkit lebih dahulu.

Sebab mau nggak mau, rela nggak rela, ikhlas nggak ikhlas, sadar nggak sadar, kita harus lewat itu kematian baru bisa melihat sorga. Jadi kalau Yesus terlambat datang untuk dunia, Dia akan datang kepada kita secara pribadi. Waktu Dia datang kepada kita secara pribadi, Dia nggak lihat umur. Anak saya lima belas bulan, papa saya lima puluh dua tahun, mama saya delapan puluh tiga tahun. Nggak lihat umur. Kalau mustinya kan, papa saya dulu meninggal, baru mama saya, baru anak saya. Nggak. Papa saya, anak saya, baru ibu saya.

Itu sebabnya firman Tuhan lebih dari tujuh kali berjaga-jagalah, sambil menanti kedatangan Tuhan.

1:10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Haleluyah? Jadi bukan kedatangan Yesus saja yang akan datang di hari depan. Tetapi ada murka juga yang akan datang. Kita lompat dulu kepada I Tesalonika

5:9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,

Haleluyah. Amin. Jadi Tuhan tidak menentukan kita untuk kena murka Allah. Ini senangnya. Makanya dalam family camp itu temanya Yesus Tidak Pernah Tinggalkan. I Tesalonika

5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Haleluyah? Jadi di hari depan kita ini bukan hanya kesempurnaan gereja yang terjadi. Sekarang ini tanda-tandanya sudah sangat dekat sekali. Orang sudah berani bunuh diri, tujuh belas tahun, delapan belas tahun bunuh diri. Sekarang sudah dekat sekali. Kejahatan bertambah-tambah. Itu sebabnya kita menanti. Kembali kepada I Tesalonika tadi, kita sedang menanti. Ayatnya yang ke-10, 

1:10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Jadi begini, saudara. Ini sekarang kita bikin apa? Tekun. Ikut Tuhan dengan tekun dan sabar. Ada yang ngomongin kita, nggak usah dibalas. Dia Pembela kita. Ada yang menjelek-jelekan kita, ada yang menekan kita, jangan balas, jangan bela diri, diam saja. Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Saudara tetap tekun dalam Tuhan Yesus.

Sampai di sini pelajaran firman Tuhan semoga Tuhan memberkati saudara. Kita akan sambung pada hari rabu yang akan datang.

Kita berdiri bersama-sama.

                                                                                                                     -- o --   

 _________________________ 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________