Khotbah Rabu Mei - Juni 2002 

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Rabu, 01 Mei 2002

KEHENDAK TUHAN ADALAH PERCAYA

Selamat sore, selamat berbakti lagi didalam nama Tuhan Yesus Kristus. Lukas   

1:20 Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya." 

Nah, kita akan melihat bagaimana seorang Zakharia ini adalah seorang imam. Dia imam yang mempunyai tugas sebagai pemimpin didalam Rumah dan Baitnya Tuhan. Setiap hari pekerjaannya adalah pekerjaan sebagai seorang imam, yang berdiri diantara Allah dengan umatnya Tuhan. Kepada Tuhan dia mewakili umat, Tuhan tolonglah umatMu begini ... begini ... begini. Tapi dari Tuhan dia dapat Firman, dia berbicara kepada umat, inilah maunya Tuhan itu begini ... begini ... begini. Itu imam. 

Nah, imam itu seharusnya memang dia mengenal dua macam suara, yaitu suara dari Tuhan dan suara dari umat. Dan dia harus berdiri ditengah sebagai timbangan, sebab tidak boleh berat sebelah; dia harus jadi imam. Inilah imam. Bukan berarti imam itu tidak punya keinginan lagi. Nah, banyak orang menganggap kalau jadi hamba Tuhan, kalau jadi pendeta tidak punya keinginan lagi. Tidak. Imam ini boleh beristri, boleh menikah, boleh berkeluarga. Dan mereka juga mempunyai keinginan punya anak. Dan ini anak sudah ditunggu-tunggu - Yohanes Pembaptis - bertahun-tahun, tetapi tidak dapat karena Elisabet ternyata mandul.

Jadi kalau sudah divonis mandul, tidak ada dokter, tidak ada tabib didunia yang bisa mengobati wanita yang mandul sampai bisa punya anak. Ilmu kedokteran sekarang menemukan satu cara dengan bayi tabung. Bagaimana sperma sang ayah disuntikkan kepada sel telur sang ibu. Setelah dibuahi nyata, disuntikkan kembali kepada kandungan ibu. Tetapi kami ada jemaat di Jakarta yang sudah melakukan segala macam, juga ada keluarga kami, sudah dengan cara kedokteran - tapi tidak bisa berhasil. Inilah yang disebut mandul. Jadi kalau sudah divonis mandul, sudah tidak ada lagi pengharapan. 

Nah, Zakharia ini cuma punya keinginan punya anak. Seorang imam bukan hanya saudaraku dia berdiri diantara 2 suara, suara Tuhan dan suara umat, dia juga berdiri diantara 2 kehendak, yaitu kehendak Tuhan dan kehendak umat, kehendak manusia. Kehendak Tuhan itu dosa itu harus dihukum, upah dosa itu maut. Kehendak manusia dosa itu diampuni. Diputihkan. Utang tidak bisa bayar maka seringkali konglomerat hitam, konglomerat yang licik, yang mencuri uang rakyat, dia bikin rumah, dia memperkaya diri, simpan uang di luar negeri, terus balik ke Indonesia, bilang dia tidak punya duit bangkrut, inilah sistimnya konglomerat di Indonesia - cuma mentereng petantang-petenteng tapi yang dia pakai uang rakyat, dia kaya lintah darat - minta diputihkan. 

Nah, rakyat, umat Israel suaranya itu minta Tuhan itu ngerti, kesalahan mereka minta diampuni. Suara dari Tuhan nggak bisa. Kami harus menghukum semua dosa. Inilah imam. Sampai datang seorang bernama Yesus. Dia berdiri ditengah-tengah, maka saudaraku, Dia mati diatas bukit Golgota. Didalam tubuhnya, ada satu ayat dalam II Korintus 5, Dia dijadikan dosa - itu saya sampai sekarang tidak bisa ngerti. 

Maka saudara-saudara, lalu dosa itu dihukumkan diatas Bukit Golgota, hatinya Tuhan disenangkan, dosa manusia ditaruh dalam Yesus, dihukum - mati. Hatinya umat juga disenangkan karena dosa mereka diampuni didalam Yesus. Jadi saudara kita harus lebih sayang, lebih cinta kepada Yesus. 

Tadi pagi saya ditelepon ketua umum GPdI, Oom Hanny Mandey. Dia telepon cukup panjang, dia minta tolong saya gini ... gini ... gini -  untuk mengurus 2 orang hamba Tuhan karena saya masih anggota MD, dua orang hamba Tuhan di Jawa Barat. Saya sudah pernah bilang di kelas. Pada kelas 2 ya, yang mengalami persoalan. Jadi sekarang kita lihat imam ini memang berat ya. Bukan berarti imam tidak punya kehendak, kemauan. Imam ini punya cita-cita. Dia ingin punya anak tapi istri mandul. Jadi secara manusia hands up, sudahlah, gimana Tuhan saja. Hanya tinggal tunggu usia, meninggal. Siapa diantara saudara-saudara sama seperti Zakharia pada sore ini, sampai kepada mentoknya? Pangharapan kita sampai, ah sudah, tidak bisa lagi, yah. Tidak bisa lagi. Nah, dengarlah Firman Tuhan ini. Gabriel datang, saya sudah cerita. Dia bilang kamu akan punya anak dan namanya ini, namanya. Lalu nanya Zakharia ini, bagaimana bisa? Bagaimana bisa, ayatnya yang ke 18: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya." 

Ini adalah orang percaya, karena kalau sudah jadi imam kan harus orang percaya tapi yang tidak percaya. Unbelieve believer, orang percaya tapi tidak percaya. Kalau saudara sekarang sedang dengar Firman Tuhan, lalu ada janji Tuhan yang saya sedang khotbah, saudara ada ragu, saudara sama dengan Zakharia. Orang percaya yang tidak percaya. Apa itu salah? Memang salah, tapi itu cukup manusiawi. Karena kalau kita membuka Markus  

16:9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. 
16:10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. 
16:11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. 

Yang tidak percaya ini murid, disciples. Padahal tiga hari lalu sudah dengar janji Tuhan, tiga hari lagi Aku bangkit. Tidak percaya! Ayat 12

16:12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, -ke Emaus- ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. 
16:13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. 

Dua saksi bersaksi, mereka tidak percaya. Ini orang kafir? Orang Arab? Bukan, murid Yesus! Saudara, bahaya sekali orang percaya yang tidak percaya, unbelieve believer. 

16:14. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. 
16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 
16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 

Dalam perikop ini, lima kali kata tidak percaya, dua kali kata percaya. Orang Arab? Bukan. Sampai Tuhan Yesus pernah menegur dua kota, Kapernaum dan Korazim. Kalau Kapernaum, kalau kejadian, mujijat yang terjadi di kota kamu itu terjadi kepada orang lain, orang lain sudah percaya. Tapi kenapa kamu tidak percaya? Di Kapernaum itu banyak mujisat. Tapi orang-orang Israel, orang-orang Yahudi tidak percaya. 

Kemarin saya diberi satu selebaran, delapan lembar lebih, surat terbuka diedarkan di seluruh Jakarta, mengenai satu jemaat di Jakarta, yang besar. Tapi ternyata busuk didalamnya. Yang kasih sama saya bilang: Ini yang oom Yoyo bilang dua-tiga tahun lalu, kok kejadian ya sekarang? You nggak percaya sih! Saya bilang ini gereja nggak sehat. Sekarang ... tinggal tunggu hancurnya saja. Pendetanya mau dituntut di pengadilan. Anak pendetanya kena narkoba. Putar film biru, padahal rumahnya sudah diurapi oleh minyak urapan. Pendetanya keluar masuk surga, tiap hari. Dibongkar sekarang sama jemaatnya yang tahu kebusukan. Pendeta itu suka mengutuk dari mimbar. Saya sudah ngomong jauh-jauh hari, ini nggak beres. Tapi banyak yang tidak percaya, dikiranya saya iri hati. Sekarang kejadian. Saya rampas itu surat, sudah. Sudah tahu, sudah. Sudah jangan disebar-sebarkan. Karena surat itu bilang, foto-copy sebanyak-banyaknya dan edarkan supaya lebih banyak orang tahu. 

Jadi kadang-kadang, kalau saya gembala itu, kalau kita ngomong yang bener - nggak dipercaya. Yah, hati juga musti terhibur. Yesus juga ngomong sama muridnya, muridnya nggak percaya. Datang Gabriel beuleugeudeugan, Gabriel datang di depan, Gabriel, malaikat Gabriel datang. Kalau saya sudah gemetar, iya, saya percaya dah. Hai Zakharia ... Bandelnya luar biasa, nggak percaya, bisu. Maka saya punya satu tanda, kalau orang tidak berani bersaksi ke depan, dia orang tidak percaya. Bisu. Dia maunya terima berkat dari Tuhan, terima, tapi nggak pernah bersaksi ke depan. Nggak pernah. Bisu dia. Karena dia tidak percaya. 

Coba kita lihat satu ayat yang, bukan bilang aneh, bukan bilang ajaib, tapi ini ayat lucu, saudara. Yudas, sebelum Wahyu itu ada satu ayat namanya Yudas. Satu buku namanya Yudas. Ayat 11,

1:11 Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah. 

Oke, kalau saya bilang Korah itu, memang pelawan. Kalau bilang Kain ini, memang pembunuh. Tapi Bileam, ini hamba Tuhan. Bileam ini nabi. Tuhan sudah bilang, jangan kutuk yah, ini umat Israel, umatKu yang diberkati. Jangan dikutuk, yah. Eh, dia mau disogok sama raja Balak, satu milyar umpamanya. Asal kamu bisa ngutuk dah, kutuk itu Israel. Sogok satu milyar. Saudara-saudara, mujijat terjadi, keledai yang nggak bisa ngomong, nggak pernah les bahasa Ibrani .... Nah, saya punya murid-murid di sekolah alkitab, kalau saya tulis bahasa Ibrani, nulisnya aja sudah salah. Saya sudah tulis dipapan tulis masih salah mereka tulis, kalau saya periksa catatan bahasa Yunani. Apalagi ngomong. Saya pikir, bahasa Indonesia aja salah-salah, kok bisa banyak pendeta sekarang punya gelar doktor? Doktor palsu. Ini nanti besok saya kupas. 

Karena baru tadi saya dengar di radio, semua gubernur-gubernur yang pakai gelar palsu harus diberhentikan. Bupati-bupati, walikota, pake gelar, beli gelar palsu, harus diberhentikan. Menteri-menteri yang pake gelar, beli gelar palsu, harus diberhentikan. Dunia sudah begitu, saudara. 

Kalau di gereja ada pendeta masih senang pakai gelar palsu, beli, bangga pake toga, bukan dari sekolah tapi dari pemberian. Nah, kalau umpamanya begini, saudara. Kalau saya nih dapat gelar honoris causa, dipanggil oleh satu sekolah di Amerika, saya kasih gelar kehormatan kepada bapak Awondatu, doktor honoris causa. Saya terima, umpamanya. Tapi saya tidak boleh pake di depan nama saya, di kartu nama, nggak boleh. Karena itu gelar doktor hanya gelar kehormatan, bukan gelar asli saya dapat, hanya kehormatan. Kalau di Indonesia kan lain. Sudah gelar beli, udah gelar bohong, gelarnya kehormatan, ditulis didepan. Namanya ditulis kecil, doktornya digedein. Keledai bisu, bicara, saudara. Bileam yang seharusnya bicara, bisu, tidak bicara. Ini yang saya katakan, unbelieve believer. Ayo kita lihat lagi satu cerita, bagaimana unbelieve believer ini. Masih beberapa ayat lagi kita akan lihat. Lukas pasal yang ke 24:25,

24:25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 

Saya mau tanya saudara, yang dimarah sama Yesus siapa? Muridnya. Jadi kalau saya bilang sama murid saya, bodoh kamu. Saya alkitabiah dong. Yesus saja bilang sama muridnya bodoh. Kenapa kamu tidak percaya? Coba saudara, nanti kalau saya bilang bersama-sama, kita baca sama-sama yah. Lalu Ia berkata kepada mereka:"Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, - sama-sama - sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu - stop -  

Sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, stop. Kita buka pelan-pelan I Korintus 13. Dalam I Korintus 13 disana ada ayat yang indah sekali. Rasul Paulus menceritakan kepada kita, ayatnya yang ke 4,

13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, - Itu tanda kasih - 

Yang ditegor sama Yesus, kenapa kamu tidak percaya segala sesuatu yang dikatakan nabi? Tanda orang yang ada kasih, dia percaya segala sesuatu. Jadi jangan cuma nyanyi, Ya Tuhan kupercaya, aku percaya. Aduh, cuman mulutnya saja percaya, tapi saudara-saudaraku, tidak ada kepercayaan. Yang saya takut itu begini, saudara. Kita kebaktian mah ongkoh, tapi yang kita terima di dalam kebaktian itu kita nggak percaya. Atau kalau kita percaya, cuman 30x ganda, 60x ganda. Nah, kalau percaya kita 30x ganda, 60x ganda, mujijat tidak akan terjadi. Lampu ini tidak akan menyala begini terang, kalau spanengnya turun, tekanannya turun, voltagenya turun. Umpamanya ini lampu 220 volt, dia turun jadi 110 volt, lampu tidak akan nyala. Dia nyala tapi kecil. 

Jadi kalau percaya kita cuman 110 volt, nggak bisa kita memindahkan gunung tercampak ke dalam laut. Buktinya ini imam Zakharia. Bisu, karena tidak percaya. Maka murid saya banyak yang keluar dari sekolah alkitab ini sudah diladang Tuhan. Saya cuman bagi dua, mereka yang berhasil dan mereka yang, saya pakai istilah, belum berhasil. Tapi yang berhasil ini, saya lihat nampaknya, mereka yang percaya. Mereka yang bertindak. Mereka yang percaya dan melakukan apa yang diajarkan di sekolah alkitab. Itu mereka lakukan dengan percaya. Mereka percaya kalau doa puasa ada mujijat. Mereka percaya kalau mereka bertahan, ada mujijat. Nah, itulah yang terjadi. Yang belum berhasil, itu mereka yang seperti capung cebok. Hinggap disini, hinggap disana. Hinggap disana, hinggap disini. Tidak ada kekokohan. 

Nah, sekarang saya mau bicara sedikit mengenai kehendak Tuhan. Ternyata kehendak Tuhan itu adalah percaya. Saya mau kasih kesaksian. Tahun 67, 11 Nopember, itu saya sudah ambil keputusan. Saya mau sekolah alkitab. Sudah. Sudah mulai sekolah alkitab, sudah. Bilang sama papa saya, saya mau sekolah alkitab. Tapi saya kan masih delapan belas tahun, saudara. Temen-temen di band saya ini masih ngajak main band. Yuk, kita main band, masih di Bukit Hijau, Hotel Bukit Hijau kalau nggak salah yah. Main band sana. Ada arisan, yuk kita ngiring sana. Ini belum, saya belum sekolah alkitab, tapi baru mau. Sekolah alkitabnya Januari. Dulu, suka kita suka loncat tinggi di dalam gereja. Karena saya suka sapu gereja, nah banyak anak-anak remaja ini, salah satunya tuh anaknya Lie Pak Nyan, Asam. Itu dua anak, tiga anak loncat-loncat tinggi di gereja. Karena dulu saya atlet loncat tinggi, saya kasih tahu nih kalau loncat tinggi tuh begini. Dua anak itu pegang tongkat, saya loncat tinggi, nggak pake sepatu. Itu kan jubin, saudara-saudara. Saya loncat tinggi, keseleo. Kaki saya bengkak. Tapi waktu saya keseleo, kaki saya bengkak itu, di hati saya sudah mulai ada keinginan untuk tidak pergi ke sekolah alkitab. Ada wavering, ada goyah. 

Iya yah, saya masih muda, mau apa saya jadi pendeta? 18 tahun. Lebih baik saya main band dulu, senang-senang. Jadi pelatih band, dibayar, dapat duit. Saudara bayangkan, dulu saya pake celana, cicak tidak bisa masuk, bener. Karena berani masuk, saya injek. Nggak akan masuk itu cicak. Jadi saudaraku, ini cicak nggak berani masuk karena sempit sekali, 17 senti. Itu model dulu. Dulu saya 67 berat badan, jadi kurus. Kepala saya juga nggak segede gini dulu, kecil. Jadi Tuhan mungkin lihat itu di hati saya, ada mulai pemberontakan, nggak mau ke sekolah alkitab. Mau merubah rencana. Heran, Tuhan kenakan kaki. Sampai papa saya tanya, masih mau sekolah alkitab? Udah sadar saya. Masih mau pergi nggak? Pergi, saya bilang. Jadi dengan kaki pincang itulah saya ke sekolah alkitab. Kaki pincang, saudara. Heran, turun dari kereta api di Surabaya, sembuh. Siapa yang keseleo-keseleo, coba, coba, coba. Barangkali ada disini yang keseleo, coba mungkin ini suara Tuhan, mungkin. Karena kaki saya bengkak, saudara, engkelnya aduh, sampai jalan begini. Sampai papa saya tanya, masih mau pergi nggak? Dia sudah ragu. Pergi, saya bilang. Aneh saudara, papa saya kan pendek, saya tinggi. Dia tarik-tarik di kereta api, dia tarik-tarik saya, karena saya nggak kuat naik kereta api, bengkak. Tapi saya pergi. Sudah nekat, karena ternyata saya sadar. Wah ini suara Tuhan, karena saya udah mau berbalik. Saya nggak mau tiba-tiba ada keledai bisa ngomong. Saya tidak mau tiba-tiba si blacky, si bronce, bisa ngomong : Yo, pergi ke Beiji. Wah, saya nggak mau dah. 

Mengerti maksud saya, saudara? Mengerti? Mengerti nggak? Jangan ha, ha, he, he, nggak ngerti khotbah saya. Ngerti nggak? Oke, bahwa kita harus percaya. Jangan jadi bisu. Percaya. Janganlah kamu tidak percaya. Satu lagi ayat, satu lagi. Yohanes

20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 
20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 
20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 
20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 

Jadi ini tekanan Tuhan. Hari minggu pagi saya khotbah untuk saudara : Siapa diantara saudara, sudah doa, sudah puasa, sudah bawa perpuluhan, sudah korban, setia kepada Tuhan, kebaktian rajin - tapi cita-cita saudara, keinginan saudara, belum diberi sama Tuhan? Kan saya bilang, saya kasih ayatnya. Percaya ada hubungan dengan sabar. Kalau saudara baru percaya, tidak sabar - musti ada sabar. Jangan tidak percaya lagi. Percayalah, kataNya. Banyak untungnya percaya daripada ruginya. Lebih baik saudara percaya daripada tidak percaya.

Ada satu orang yang tidak percaya Tuhan di Amerika. Dia lihat ditaman itu ada orang kristen ibu-ibu lagi baca Alkitab di taman. Dia mau ngenye: Selamat sore, bu! Selamat sore. Are you christian? Apakah kamu kristen? Ya, saya kristen. Katanya itu nabi Yunus ditelan dalam perut ikan, katanya. Iya. Apa betul itu nabi Yunus itu dalam perut ikan, apa betul? Ini ibu memang bukan lulusan sekolah alkitab, dia jawab polos saja: Nanti saja di Surga saya tanya sama nabi Yunus, apa betul dia ada dalam perut ikan apa nggak. Oh, begitu ya. Kalau nanti di Surga Yunus nya nggak ada? Dia jawab lagi: Kamu nanti yang nanya sama dia kalau memang Yunus nggak ada.

Nah, saudara lebih baik kita percaya daripada kita tidak percaya.

Kembali lagi kepada injil Lukas dan kita mau tambah satu dua ayat disana.
1:19 Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. 
1:20 Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya." 
1:21 Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. 

Saudara lihat ini ya. Ini imam Zakharia. Orang banyak disini. Saya pakai kata UMAT, menanti-nantikan Zakharia. Umat menanti, menunggu Zakharia. Didepan saya ini ada murid Sekolah Alkitab yang besok akan berangkat meninggalkan almamater, sumur bor, dan akan mulai ... untuk kelas 2 khusus ini ... mulai masuk di ladang Tuhan. Ingatlah, umat menanti pelayanan anda. Seperti Zakharia ini ditunggu. Coba ini saudara lihat. Umat ini sangat - seperti barang pecah belah - mudah pecah, mudah retak, fragile. Umat nggak tahu bahwa imamnya ini tidak percaya. Umat nggak tahu bahwa pimpinannya ini ternyata tidak percaya, yang ragu - dia tidak tahu. Itu umat. 

Maka Tuhan Yesus pernah ngomong sama orang Farisi: Kamu seperti orang buta nuntun orang buta. Kamu pemimpin orang Israel, orang Israel buta, kamu sendiri buta. Umat itu dengan polos, dengan tidak ngerti apa-apa. Maka saya lihat ada orang Katolik cium tangan Paus dengan menangis, saya ngerti karena polosnya dia. Dia tidak mengerti. Dulu ada murid saya saudaraku, dulunya muslim jadi hamba Tuhan di daerah Lampung. Asal ketemu saya dia cium tangan. Saya bilang jangan cium-cium tangan saya dah. Dia cium lagi, cium lagi. Dia punya gigi ini agak tonggor, kedepan. Dia cium, luka saudara saya punya tangan. Saya bilang tuh lihat tuh merah tuh tangan oom kena gigi kamu, kamu paksa sih. Untung bukan giginya yang patah. Udah deh jangan cium-cium. Itu umat, saudara. Polos. 

Udah setengah sebelas, jam sebelas, saya sudah mau tidur di Langoan, udah mau tidur. Tok, tok, tok, pintu kamar diketuk, ada suara mobil diluar. Saudara tahu, Langoan jam delapan malam saja seperti jam 4 subuh di Cianjur. Sepi. Ngak ada bioskop disana. Udah cape-cape, ada apa. Satu mobil jemaat dengan pendetanya diluar. Ada keperluan dengan brur. Aduh, jadi kita tukar lagi baju, jalan keluar, pinggir jalan dingin-dingin. Ada apa, Brur? Oh, kita cuma mau pegang tangan, cuma tabe katanya. Aduh saudaraku, itu pasukan Bodrex turun dari mobil, dan semua tabe. Aduh, ceuk saya teh, pan isukan ge bisa nya. Kudu tabe. Saya kalau belum pegang tangan Pendeta belum bisa tidur. Aduh sudah. Naik lagi. Udah tinggal. Itu umat saudara. 

Kita lihat. Ini yang bikin saya tergetar lihat di Pangkal Pinang masih ada 400.000 orang Khe belum kenal Yesus. Di Bangka kita mau bikin KKR disana. Mungkin 2 x KKR. Tidak ada Sungai Liat yang mengundang, kita ke sungai lumpur saja. Saudaraku, ada 400.000 juga orang Khe disana yang menyembah berhala, tidak mengerti. Umat itu polos. Saya lihat di Bangkok, patung dari Raja Rama V, memang paling disayang sama rakyat, udah puluhan tahun sudah mati, patungnya saja orang rakyat sudah datang ... Dia nggak tahu, itu cuma patung, mungkin engkong dia yang bikin ini patung. Ada patung gajah putih bawa makanan. Kita bisa ketawa tapi itu umat. 

Kepada murid kelas 2, umat seperti inilah yang sedang menanti anda. Nah, ini anda jangan jadi imam yang tidak percaya. Karena kalau ini kita tidak percaya, umatpun tidak percaya. Maka saya mau jadi pendeta yang percaya mujijat, supaya jemaat saya semua percaya mujijat dan melihat mujijat. Mengalami mujizat. Tidak bisu, bersaksi, ngajak teman, tetangga. Saudara kita nggak cukup: Oh Tuhan, isilah bangku-bangku kosong Tuhan, dengan jiwa-jiwa baru. Memangnya ... Tuhan yang suruh: Pergilah kamu ke seluruh bumi ... Beritakanlah Injil ... Kita yang pergi. Kita yang isi bangku-bangku kosong itu dengan jiwa-jiwa. Kita yang bersaksi, kita yang ngajak. Nggak cukup sembahyang. Kalau cukup dengan sembahyang, Yesus nggak usah turun ke dunia. Dia sembahyang saja dari Surga. Oh Bapa, Aku mengasihi seluruh isi dunia ini. Biarlah mereka diselamatkan karena mereka mau percaya kepadaKu - tapi Dia tidak turun ke dunia, siapa mau percaya? 

Jadi kalau dengar - siapapun yang khotbah ya - saudara dengar FT mengenai ada ini - percaya saja. Maka orang pantekosta dulu, itu lebih sederhana imannya. Nyanyiannya juga sederhana. Only believe Only believe All things are possible Only believe. Ke Indonesia jadi Percaya saja Percaya saja S'mua pasti jadi Percaya saja. Kalimatnya kurang tepat. Hanya percaya Hanya percaya S'mua perkara mungkin terjadi bisa terjadi Asal percaya. Kalau tidak percaya saudara, biar Gabriel datang sore hari ini disini, saudara nggak percaya - bisu kita. Saudara nggak percaya. Tapi kalau saudara percaya .... 

Jadi ada 3 macam percaya. Saya mau akhiri dengan ini. Yang pertama, yang terindah, yang terhebat, yang termahal, yang no. 1, yang paling asoy, yang paling hebat, yang paling an ciang adalah saudara percaya walaupun belum melihat. Ini yang pertama. Yang kedua second best no. 2 adalah imannya Tomas - percaya setelah melihat. Yang ketiga, yang paling jelek, yang paling be say - itu sudah lihat tapi tetap tidak mau percaya, sudah dengar tapi tetap tidak mau percaya. Jadi itu murid Yesus dalam Markus tadi sudah dengar 2 kali kesaksian: Yesus sudah bangkit, Yesus sudah bangkit - nggak percaya. Be say betul. Sampai Yesus tegur. Yang Yesus tegur bukan potongan rambut, yang Yesus tegur bukan pakain - yang Yesus tegur percayanya nggak ada!

Saya baru kirim sms bagi saudara. Yesus berkata: Hei, kamu yang kurang percaya, mengapa bimbang hatimu? Siapa yang ada keperluan mau didoakan, silahkan maju ke depan.        

-- o --   

Kamis, 10 Mei 2002 - Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus

MAKSUD DARI KENAIKAN YESUS

Nah, pada hari ini kita merayakan atau memperingati kenaikan Isa Almasih, ya, kenaikan Yesus Kristus. Yesus Kristus itu sudah naik ke Surga 2.000 tahun yang lalu, jadi sudah menjadi fakta sejarah, sudah menjadi hal yang sudah lewat kejadiannya. Jadi saudara boleh percaya, boleh tidak percaya - Yesus sudah naik ke Surga. Pada saat Dia naik ke Surga saudara, hampir 2.000 tahun yang lalu, itu Dia meninggalkan 3 hal yang saya akan berikan kepada saudara sore hari ini, sebagai dampak atau hasil dari kenaikan Yesus ini. Karena kalau tidak, hanya hari libur saja kita, bermacet-ria di Puncak karena hari libur. Jadi saudaraku kita hanya mempunyai hari libur saja kalau kita tidak mengerti arti makna dampak arti dari kenaikan Yesus Kristus itu.

Tetapi pada sore hari ini, saya akan memberitakan 3 dampak atau 3 maksud dari  kenaikan Yesus. Kita akan lihat pertama-tama dalam Kisah Rasul 

1:9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. 
1:10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, 
1:11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." 

Apa yang kita pelajari dari kenaikan Yesus ini, saudara? Yang saya aneh ini, orang lain, agama lain bisa percaya Yesus naik ke Surga tapi tidak bisa percaya Yesus mati dan bangkit. Herannya Yesus itu, waktu Dia mati ada saksi, waktu Dia disalib ada saksi, waktu Dia bangkit ada saksi, ada yang lihat, waktu Dia naik ke Surga pun ada saksi ada yang lihat - tidak seperti nabi lain yang berkata pergi kesana, pergi kesini tapi cuma dia sendiri yang tahu, tidak ada saksi. Tetapi Yesus ada saksi. Setiap kejadian yang Dia alami ada saksinya. 

Nah, apa berkat Tuhan dari kenaikan Yesus yang pertama? Itu ada didalam ayat 9 bagian ke dua. Dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Yesus yang menjadi tempat berlindung, Yesus tempat mereka mengadu, Yesus tempat mereka berbicara, Yesus tempat mereka ... ada sedikit apa saja Yesus. Ada yang sakit bawa sama Yesus. Ketika perahu mau tenggelam ... oh, Yesus apakah engkau tidak peduli kami binasa? Sedikit-sedikit Yesus. Ada punya mertua sakit dibawa Yesus ke rumah. Apapun yang terjadi Yesus. Ada punya anak dibawa kepada Yesus. 

Yesus menjadi sentral dari kehidupan orang-orang saat itu, baik murid-murid Yesus maupun orang lain. Pada waktu 5.000 orang tidak punya makanan 3 hari 3 malam ikut kepada Yesus tidak punya makanan, orang lari sama Yesus ... bagaimana kita bisa dapat roti uang, uang 200 dinarpun tidak cukup. Datang sama Yesus semua. Ada ini 5 roti dan 2 ikan tapi apa masa cukup sampai didepan orang banyak ini. Dibawa sama Yesus. Jadi Yesus ini menjadi sentral dari hidup mereka. Sedikit-sedikit Yesus ... sedikit-sedikit Yesus.

Sekarang Yesus yang tiap hari mereka lihat selama 3.5 tahun dan sudah dilihat waktu kebangkitan, tembus tembok  keluar pintu tertutup Dia tembus tembok, Yesus yang sama tidak kelihatan lagi tertutup oleh awan. Apa yang terjadi dengan Yesus ini? Mereka masih ingin lihat Yesus tapi sudah tidak ada lagi. Saya yakin Tuhan mengajar satu hal kepada kita. Berbahagialah orang yang percaya walaupun tidak melihat. Sekarang waktunya bukan lagi engkau melihat Aku tetapi waktunya engkau berjalan mengarungi seluk belukar dari dunia ini dengan segala macam permasalahannya - dengan iman dan bukan dengan penglihatan.

Didalam II Korintus 5, rasul Paulus bersaksi tentang apa yang dikatakan oleh FA ini, bersaksi dengan jelas ayat 6. 
5:6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, 
5:7 --sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-- 

Jadi saudaraku, saya yakin iman saudara masih jauh lebih baik dari iman murid-murid Yesus atau orang-orang pada saat Yesus ada, karena mereka lihat, pernah lihat Yesus, mereka pegang Yesus. Saudara kan nggak lihat Yesus, saudara kan nggak pegang Yesus, kita cuma lihat lukisan Yesus ... bisa betul, bisa kurang tepat. Tetapi kita tidak lihat Yesus, kok kita bisa  percaya. Maka saya yakin iman kita agak lebih baik dari mereka. Karena mereka saudaraku harus lihat baru percaya, tapi kita tidak lihat kita percaya. Maka tadi ada yang bersaksi hampir ketabrak angkot karena dia tidak lihat karena dia berjalan dengan iman. Nyebrang tidak nengok kiri nengol kanan, dia berjalan dengan iman dia tidak lihat itu angkot, karena yang dia lihat mungkin hanya kebaktian saja. Puji Tuhan, untung angkotnya kasih klakson. 

Saudara, saya ingin beritahu kepada saudara ini adalah pengajaran yang pertama Tuhan ajarkan. UmatKu sekarang belajar ikut kepada Tuhan tanpa lihat. Makanya kenapa kita sembahyang tutup mata. Tidak ada satu ayat di Alkitab : Hendaklah engkau berdoa dan tutup mata. Nggak ada. Tetapi kenapa kalau kita berdoa kita tutup mata? Karena waktu kita tutup mata, kita tidak lihat apa-apa. Kita tidak lihat tangan yang menolong, kita tidak lihat ada orang jendral bintang empat ... kita tidak lihat. Tapi waktu kita tutup mata, iman kita bekerja. Kita tidak melihat apa-apa tapi kita yakin Tuhan ada, Tuhan menolong kepada kita. Dalam Injil Yohanes

20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 
20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 
20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 
20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Ini ajaran pertama dari kenaikan Yesus. Dia sudah tertutup awan. Murid-murid  kelas 2 di SAC tahu itu awan ada 12 macam awan. Tapi salah satu macam arti dari awan, awan juga bisa bicara dari awan problem, awan persoalan, awan yang gelap. Mungkin kelihatannya Tuhan nggak kelihatan karena percobaan kita besar. Mungkin ada disini satu bapa satu ibu satu pemuda satu pemudi sedang mengalami percobaan yang besar. Yesus tidak kelihatan lagi karena tertutup awan yang gelap. Itu bukan berarti Tuhannya nggak ada. Dia tertutup tapi bukan berarti Dia tidak ada.  

Kalau saudara lihat pesawat terbang dia naik, dia terbang. Saudara lihat terus ... terbang masuk awan ... terus saudara lihat saudara cuma dengar suaranya, pesawatnya saudara tidak bisa lihat lagi. Apakah dengan tidak bisa lihat pesawat itu, pesawatnya hilang atau pesawatnya tidak ada? Suaranya saudara dengar, pesawat ada walaupun kita tidak bisa lihat. Tuhan seperti itu. Walaupun kita tidak bisa lihat, tetapi Dia ada. Kalau saudara duduk dengan tenang saja, saudara akan bisa rasa tiupan AC. Ada dingin. Saudara bisa lihat AC anginnya? Nggak bisa. Apa saudara bisa lihat ini angin warna hijau? Nggak. Saudara nggak bisa lihat angin, tapi dia ada. Demikian juga dengan Tuhan. Kalau saudara sedang menghadapi awan yang gelap, Tuhan nampak tidak kelihatan bukan berarti Tuhan lupa saudara. Berjalanlah dengan iman Dia pasti menolong kita. Ada haleluyah? 

Sekarang kita mau lihat pelajaran yang kedua. Dalam pelajaran yang kedua dari kenaikan Yesus, Yohanes

16:4b "Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu, 
16:5 tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? 
16:6 Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita. 
16:7 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. 
16:8 Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; 
16:9 akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; 
16:10 akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; 
16:11 akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. 
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. 
16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. 
16:14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. 
16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku." 

Berkat yang kedua dari kenaikan Yesus adalah dengan datangnya Roh Kudus. Tetapi Yesus tidak pakai istilah Roh Kudus saaat itu. Dengar baik-baik. Sebelum Dia pergi Dia berkata: Aku akan pergi - Dia bilang sama murid-murid-Nya. Dan karena Aku akan pergi, kamu akan berdukacita, kamu akan merasa susah. Dia bilang itu.   

Waktu ayah saya masih ada, saya sudah jadi hamba Tuhan. Tetapi setiap saya bangun pagi, tidak ada beban, karena kalau saya bangun pagi habis bedstone dsb., doa, saya tahu ada ayah saya yang cari uang, ada ibu saya yang masak nasi. Jadi walaupun saya hamba Tuhan, saya tidak memerlukan iman terlalu banyak karena papa mama saya hamba Tuhan, sehingga pada saat itu, kalau saya bangun, pasti mama sudah masak nasi, pasti mama bikin nasi goreng. Kalau siang pasti ada sayur kacang jogo yang bening itu. Itu makanan nasional saya. Kacang merah tuh, yang bening itu. 

Ketika ayah saya meninggal, perubahan drastis terjadi. Beban mulai ada dikedua pundak saya. Saya disebut bung atau abang oleh seluruh keluarga besar Awondatu karena papa saya ini yang sulung dari 5 saudara. Karena anak yang sulung adalah saya, maka saya disulungkan oleh semua anak-anak dari 5 saudara ini, padahal ada yang lebih tua dari saya tetapi karena saya disulungkan, saya dianggap bung. Ada sedikit apa-apa, datang sama saya. Mulai ada beban. Mulai saya berpikir, mulai saya bilang sama mama : Gimana ini, ada uang belanja apa nggak? Bagaimana ini? Kita musti atur sekarang. Saya yang bayar ledeng, saya yang bayar PLN, saya musti bayar listrik, saya harus begini dan seterusnya, mulai ada beban. 

Ada beda ketika ada ayah dan tidak ada ayah. Apalagi ketika ibu saya waktu belum meninggal, saudara, dia dioperasi di Sukabumi, diangkat payudara ada tumor tidak ganas ... harus diangkat. Nah, sementara diangkat saya harus  masak sendiri. Bingung. Untuk cari gampang, nasi saja sama dendeng. Gampang. Dendeng digoreng saja. Saya goreng dendeng ... gosong. Semua gosong. Ada engku saya, oom Cay Hoat, almarhum sekarang. Dia bilang : Begini kalau goreng dendeng ... bukan begitu ... kamu gosong nggak bisa. Dia goreng ... gosong juga. Akhirnya saya ke Sukabumi sambil besuk mama, saya tanya ma kenapa kita goreng dendeng gosong. Abuskeun heula ka cai, bahasa Ibrani nya. Masukkan dulu kedalam air, baru angkat. Oh, begitu. Jadilah dendeng yang manis. Mulai ada lain ketika ...

Nah, ini sedikit-sedikit Yesus. Gelombang ada percobaan Yesus, angin ribut Yesus. Tidak ada makanan Yesus. Ada persoalan apa Yesus. Sekarang Yesus nggak ada. Yesus tahu kamu akan susah. Jadi saya itu punya perasaan gini loh saudura. Nggak mang-mang tuh sama jemaat. Apapun yang sedang dihadapi jemaat, nggak mang-mang karena Yesus tahu. Maka Ia sebut Roh Kudus itu pertama Penghibur.  Dia tahu menghibur ini Roh Kudus, tapi Aku harus pergi dulu ke Surga. 

Seringkali banyak orang kristen, tidak sedikit orang pantekosta, tidak mengerti Tritunggal,  Trinitas Allah. Tri-unity. Oom, Tuhan kita itu satu apa tiga? Nah, inilah iman harus kita mengerti. Tuhan kita itu satu, tapi didalam 3 pribadi, sifat karakter yang berbeda, yaitu Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Dalam segi tiga sama sisi 60 derajat, 60 derajat, 60 derajat : Bapa tidak lebih besar dari Yesus, Yesus tidak lebih besar dari Bapa, Yesus tidak lebih kecil dari Roh Kudus, Roh Kudus tidak lebih kecil dari Yesus, Roh Kudus tidak lebih besar dari Bapa, Bapa tidak lebih besar dari Roh Kudus. Karena kalau kita bikin segi tiga kan begini, lalu kita taruh Bapa diatas, itu bukan berarti Bapa lebih tinggi dari Yesus dan Roh Kudus. Kalau kita balik, Yesus dan Roh Kudus, Bapa dibawah, itu bukan berarti Bapa lebih rendah. Tidak. Kita sedang belajar segi tiga sama sisi 60 derajat 60 derajat 60 derajat. Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ini yang saya sebut segi tiga Allah. Inilah Allah, ukurannya dalam segi tiga ini, inilah Tuhan kita. Bapa adalah Allah, Yesus adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. Tapi Bapa bukan Yesus, Yesus bukan Roh Kudus, Roh Kudus bukan Bapa.         

Contoh lain. Es itu dalil kimia nya H2O. Air H2O juga. Uap air kalau saudara nanak nasi keluar diangkat ada uap air H2O juga dalam rumus kimia. Tapi uap bukan air, air bukan es. Sekarang awan. Awan itu H2O, dia mengandung air. Lebih banyak air, lebih banyak air dia makin gelap. H2O dia. Sudah gelap dia turun jadi hujan. Hujan H2O juga. Jadi sungai. Sungai H2O juga tapi sungai bukan awan, awan bukan hujan, hujan bukan sungai. Bapa Allah, Yesus Allah, Roh Kudus adalah Allah. Tapi Bapa bukan Yesus, Yesus bukan Roh kudus, Roh Kudus bukan Bapa. 

Nah, sekarang sang Kristus ini saudara pergi kepada Bapa karena pekerjaanya sudah selesai. Sekarang Aku kirimkan kepadaMu Penghibur. Apa yang diartikan Penghibur? Karena Dia tahu anak-anakNya murid-muridNya sedang susah. Maka saudara-saudara, kebanyakan anak-anak Tuhan kenal kepada Tuhan itu mula-mula melalui Roh Penghibur ini. Aduh, susah. Nah, lagi susah, ayo kita ke gereja. Yuk, di gereja nanti dapat penghiburan dari Tuhan. Dia kenal Tuhan melalui penghiburan Roh Kudus, dengan menyanyi, dengan berdoa. Aduh, saya dapat problem, saya dapat percobaan. Ayo, kita datang kepada Tuhan. Aduh, di dalam Tuhan, ada dapat penghiburan. Saya sakit. Ayo kita datang sama Tuhan. Nanti Tuhan kasih penghiburan, Tuhan kasih kesembuhan, terhibur kita. Ada amin, saudara-saudara? 

Tapi yang kedua, Dia tidak sebut lagi Roh Kudus itu penghibur, tetapi, di ayat ke 13, Roh Kebenaran. Maka jadi orang kristen, jangan cuma nyanyi-nyanyi tok, yang pinter nyanyi-nyanyi. Kita mesti tahu kebenaran. Yesus berkata dalam Yohanes 14:6, Akulah jalan, kebenaran dan hidup, tidak seorangpun sampai kepada Bapa kecuali dengan Aku. Akulah jalan kebenaran. Benar sama betul, beda saudara. Karena kalau betul sama benar, sama. Akulah jalan, kebetulan dan hidup. Tapi Yesus bukan jalan kebetulan, Dia jalan, kebenaran dan hidup. Ada haleluyah, saudara-saudara? 

Mulai kita belajar FirmanNya. FirmanMu ini kebenaran. Yohanes 17:17, oh, ... kita tidak boleh takut, takut itu dosa. Itu kebenaran. Oh, ... kalau kita sudah punya Tuhan, kita sedikit demi sedikit musti buang perkara-perkara yang tidak baik. Rokok ... buang. Minuman keras ... dibuang. Hal-hal yang tidak betul ... dibuang. Jangan seperti satu orang, orang ini ngomong begini, saudara. Ini pakai bahasa Jakarta, yah. Gua baca di koran, bahayanya rokok. Besok gua berenti merokok. Gua baca di koran, bahayanya minuman keras. Gua berenti minum minuman keras. Gua baca di koran, bahayanya seks. Gua berenti baca koran. Kenapa? Karena rokok dia bisa buang, minuman keras dia bisa buang, seks ... dia nggak bisa buang. Jadi daripada seks yang dibuang, korannya berenti. 

Tah, urang teh loba nu kitu. Firman Tuhan yang dibuang. Bukannya belajar dari Sabda Tuhan. Ada satu anak kecil, anak kecil, yah, umur dua belas tahun. Tatarucingan sama satu bapa. Bapa udah dewasa lima puluh tahun. Oom, coba teka-teki. Apa, kata si oom teh. Anak dua belas tahun mau teka-teki sama lima puluh tahun, rambut udah putih, jagoan atuh lima puluh tahun. Nih, oom, ada tiga wanita, oom. Tiga-tiganya lagi makan es krim yang pakai cup itu. Yang satu, perempuan yang satu makan es krimnya tuh dari bawah. Yang satu jilatin es krim dari pinggir. Yang satu langsung disogot dari atas. Dari tiga itu, yang mana, oom, yang sudah menikah? Si oom, karena pikirannya dewasa, dia pikir, yang disogot itu yang sekaligus, itu yang udah menikah. Salah, oom. Yang betul apa? Yang pakai cincin kawin. Jadi kembali lagi saudara-saudaraku, kepada Firman. Dia harus belajar sedikit demi sedikit kita membuang apa yang ... kita tidak bisa dengan kekuatan kita. Harus dengan kekuatannya Tuhan. Karena itu Dia katakan, mula-mula Dia datang sebagai Roh Penghibur, kedua Dia datang sebagi Roh Kebenaran. 

Di Jakarta ada satu ibu namanya ci Mei. Dia memang orang kaya, punya salon. Dia dulu yang bikin Ibu Hartini Soekarno itu dia yang bikin salon kecantikan itu dia. Jadi langganannya itu ibu, dengan Bung Karno itu dia suka ngobrol. Saya tidak tahu, bahwa dia itu suka merokok. Saya tidak tahu. Tapi menurut dia, dua puluh lima tahun dia merokok. Asal dia kebaktian, katanya, menurut dia punya kesaksian. Ko, dia panggil saya ko Yoyo - ko Yoyo itu selalu khotbah tentang rokok. Sampai ci Mei bilang, apa ini sentimen Ko Yoyo sama saya? Asal saya datang, dia khotbah rokok lagi. Tapi dia nggak mau peduli, sebodo amat. Ko Yoyo mau khotbah, dia kan nggak tahu gua ngerokok? Karena dia kalau ngerokok, kalau tidak di wc, di kamarnya, atau di Singapur. Di Singapur dia ada rumah. 

Nah, satu kali, saudaraku, Tuhan sayang sama dia. Dia ke Singapur, menunggu pesawat, dia merokok. Masih belum dilarang di airport. Pada waktu merokok, eheh ... darah keluar. Nah, udah darah keluar, masuk dia ke dalam wc dan dia menangis di wc. Tuhan Yesus, saya tahu sudah di warning, dikasih peringatan sama hambaMu berkali-kali, jangan merokok. Tapi saya bandel. Mulai saat ini, Tuhan, tolong saya supaya saya berhenti merokok. Dalam nama Yesus, saya tidak mau merokok lagi, tapi sembuhkan dulu - nah ini liciknya kita - tapi sembuhkan dulu ini batuknya supaya berhenti. Saya janji Tuhan mau berhenti merokok. Tuhan sayang. Berhenti aja batuknya, nggak keluar darah lagi. Sampai sekarang, dia tidak merokok lagi. Jadi ini selasa dia sudah, ayo nanti makan, Selasa nanti makan. Sekarang gantinya rokok apa? Permen. Kalau permen kan nggak dilarang di alkitab. Janganlah makan permen karet, nggak ada saudara. 

Jadi kembali lagi kepada Firman, saudaraku. Mulai kita belajar kebenaran. Sedikit demi sedikit, belajar kebenaran. Tidak bisa dengan kekuatan kita. Nggak bisa deh. Saudara mau memakai kekuatan kita? Nggak bisa! Nah ini membawa kita kepada berkat yang ketiga dari keangkatanNya, kenaikanNya Yesus, yaitu dalam Roma pasal 8. Maka saya tanya tadi, siapa yang lihat di TVRI tadi jam dua, warta berita. Hanya dua orang yang diwawancara, yaitu satu katolik. Satu, nggak tahu kenapa, justru ke tempat kebaktian kita, ini TVRI nyelonongnya. Puji Tuhan. Diwawancara dan saya sendiri tidak lihat karena saya ada di jalan. Ayat ke 1 dan ayat ke-2,

8:1 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.

Jadi ini berita pertama. Anak Tuhan yang sudah menerima Yesus, yang sudah ada di dalam Yesus, tidak akan lagi menghadapi penghukuman. Mati itu sudah bukan lagi jadi persoalan. Akhirat sudah bukan lagi persoalan. Kalau saudara ada di dalam Tuhan 'hidup dengan baik, hidup dengan benar', ada di dalam Tuhan, maka saudara ada di dalam keselamatan. Ayat ke 2 yang saya ingin bicara. Dimulai dengan kata Roh. Ini kurang tepat, sebetulnya di dalam bahasa Inggris ada kata law. The law of the Spirit of life. Jadi hukum. Kalau saudara ada ballpoint, boleh dipinggirnya, boleh diatasnya, saudara kasih kode. Sebelum kata roh itu ada kata hukum. Jadi bunyinya begini:

8:2 Hukum Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. 

Hidup kita ini adalah hidup didalam hukum atau law, wet, dalil-dalil yang ada di dalam hidup ini. Contoh, air itu basah. Itu salah satu dalil. Es itu dingin, itu dalil. Saudara ingin minun, ingin dingin, langsung otomatis saudara akan ambil ke lemari es, ambil es batu, supaya ingin dingin cepat. Kalau ingin tidak terlalu cepat, taruh di lemari es supaya dingin. Nggak mungkin, saya ingin minum dingin nih ah, aduh hareudang, ingin minum dingin, saudara ambil air mendidih, itu saya rasa, saudara ada kurang satu tetes. Jadi saudara-saudaraku, kita harus tahu bahwa api itu panas, nah, itu adalah wet. 

Kenapa saya, maaf yah saya pakai ini, ini yang enteng (saputangan, peny.), saya lempar. Dia turun. Saya lempar, dia turun. Karena ini tertarik oleh satu law, satu gravitasi bumi, magnit bumi. Gravitasi, law ini ... penumpang 400 orang, belum barang-barangnya. Ini pesawat dari baja, berapa ratus ribu liter bahan bakar, belum ibu-ibu yang borong belanja, sanggulnya yang dipake, tingkatnya kaya borobudur, beratnya kaya apa. Ia, saudara-saudaraku, menurut ilmu, ini yang kita nggak ngerti nih, mana mungkin itu yang berat begitu bisa terbang? Tapi pinter sekali mereka, ilmu pengetahuan. Ternyata gravitasi ini kecepatannya sekian. Nah, itu pesawat makanya harus lari dulu. Lari dulu, kalau helikopter, putarannya itu musti lebih cepat, lebih cepat dari daya magnit bumi. Angkat kepala dia naik. Kalau saudara-saudara ada di dalam Yesus, di dalam Tuhan, ini memang paling berat. Di dalam Yesus, di dalam Tuhan sama dengan saudara di dalam pesawat. Ketika saudara masuk ke dalam pesawat, lalu saudara disuruh duduk, saudara jadi apa? Penumpang pesawat. Ketika saudara diluar pesawat, calon penumpang. Saudara bisa ke gereja, tapi kalau saudara belum di dalam Yesus, saudara masih calon surga. Tapi kalau saudara di dalam Yesus, saudara sudah menjadi penumpang menuju ke dalam surga. Nah, kalau saudara, saya, sudah masuk ke dalam pesawat, nggak usah kita teh aduh, jejeretean, nggak usah. Jejeretean itu apa bahasa Indonesianya? Wah, saya ingin lekas terbang, lekas -nggak usah. 

Apa kata pilot? Duduk, rileks, bahkan nanti dilayani. Lalu dia jalan dengan kecepatan tertentu, terangkat hidungnya dia naik. Tambah lama tambah cepat, 200, 250, 300 km sampai 1.000 km/jam kalau ke luar negeri. Diatas 10 km, kok nggak jatuh? Karena dia terbang lebih cepat dari daya magnit bumi. Nah, saudara, daya magnit bumi nih saya contohkan dengan dosa. Kita ini semua ada di dalam hukum maut dan dosa. Kalau kebenaran harus diajari, tapi kalau untuk berdosa, manusia nggak usah diajari. Karena dia sudah didalamnya. Dosa itu sudah didalam dia. Untuk nyeleweng itu sudah di dalam. Tapi untuk kebenaran, harus diajari. 

Wah, siswa-siswi, saudara-saudara, saudara kira saya percaya sama mereka? Saya mah nggak percaya. Apa saudara kira saya nggak tahu, mereka tuh nulis di bangku siswi, pake ballpoint. Dia tahu siswi duduk disitu, dia tulis pake ballpoint, aku sayang kamu, pake ayat Firman Allah. Saya kan tahu. Cuman saya kasihan sama mereka. Kalau saya pake kekerasan, saya keluarin. Aku sayang kamu, pake ayatlah Kidung Agung sagala rupa ... coba. Kejo ge makan, nyatu, masih keneh diparaban. Geus Kidung Agung, aku sayang kamu. Nggak usah diajarin kalau untuk nyeleweng, saudara-saudaraku - mereka sudah tahu. Tapi untuk bener, kita harus diajarin. Nah, bagaimana supaya kita tidak begitu? Hiduplah didalam Yesus. Hiduplah di dalam satu hukum rohani. Hiduplah di dalam pesawat terbang. 

Jadi mari, saya ingin beritahu rahasia saya kepada saudara, mari kita hidup rileks didalam Tuhan. Contoh, waktu Adam mau dikasih istri, Tuhan nggak gantung Adam dikerekan lalu diayun-ayun. Nggak. Disuruh swei ciau, saudara tahu swei ciau kan? Tidur. Mungkin ngorok. Mungkin Tuhan bilang, aduh ini ganteng si Adam, aduh kasian dia nih. Dia tahu keperluan Adam. Udah dikasih simpanse, dia nggak mau. Dikasih king kong dia nggak demen. Dikasih orang utan, nggak suka juga. Ambil aja dari rusuk dah. Operasi, ambil. Dia mah tidur aja. Dijadikanlah Hawa. Dalam Mazmur 127, buat apa kamu bangun pagi-pagi, tidur sampai jauh malam, makan roti dengan kesukaran? Karena Tuhan memberikan berkat kepada yang dikasihiNya pada waktu tidur. Artinya apa? Kita harus rileks di dalam Tuhan. 

Ingat saudaraku, Yesus di perahu? Wah, murid-muridnya kemasukan air, ribut. Yesus mah tidur, acuh bei-beh. Dia mah tidur. Kenapa? Karena Dia tahu, Dia mah nggak akan tenggelam. Waktu dibangunin, Yesus bangun, bangun, tidak tahukan Engkau, kita mau binasa? Ah Yesus mah, diam, teduhlah engkau. Memang kalau kita lagi ngadepin percobaan, kalau sedang menghadapi masalah, rasanya langit itu mau runtuh. Sembahyang, wah udah segala macem bahasa udah kita pake. Duh Tuhan Yesus. Saya pernah lihat yang sembahyang, kunaon eta teh, stip? Wah, percobaan sangat besar. 

Coba kita belajar rileks. Lah, ko Yoyo teh ngomong ngeunah lah, rileks-rileks. Coba ngasaan nu oweh boga percobaan. Ah, embung. Saya mah embung, eta mah percobaan didinya, saya punya percobaan sendiri. Haleluyah. Tapi saudara-saudaraku, mari kita, maksud saya rileks tuh begini. Bukan rileks, ah kumaha lah, sabodo teuing lah, sabodo teuing ah. Bukan begitu. Tapi maksudnya, di dalam pesawat itu, pesawat goncang. Kalau lewat angin, lewat ada yang kosong, dia goyang, pesawat. Tapi itu jauh lebih aman, daripada saudara bilang sama pramugari: Zus, coba buka pintu pesawat dah. Kenapa bapa? Bukalah, saya mau lihat-lihat kebawah. Begitu saudara buka, kesedot saudara. Kesedot. Karena diluar tuh dinginnya luar biasa, bisa - 50 derajat, kesedot saudara. Bahkan bisa meledak. Tapi umpamanya nggak meledak, saudara keluar aja, sudah. Begitu keluar dari pesawat, saudara, walaupun gelar saudara profesor, doktor, karburator kotor, bocor, dllajr, sdsb, bawa ember, tetapi kalau saudara keluar dari pesawat, maka gelar saudara bertambah dengan almarhum. Mengerti, saudara? Tetapi kalau saudara tetap ada di dalam pesawat, haleluyah, saudara akan sampai di Singapur dengan selamat.

Nah, ci Mei ini punya satu pembantu, orang Tionghoa. Polos orangnya. Diajak ke Singapur. Sampai di Singapur dia ngomong, saya dengar. Ci Mei, pilotnya pinter yah. Kenapa? Itu kan diudara kan nggak ada penunjuk jalan, di sebelah kiri berapa kilo meter lagi, kan nggak tahu ci Mei? Kita cuma lihat ke bawah, awan. Kok si pilot bisa tahu yah, dimana pelabuhan dia bisa tahu? Padahal kan pake radar, saudara. Pilot juga nggak tahu, pake radar. Kalau kita rileks, sampai di tujuan. Bukan berarti goncang nggak ada, ada goncang. Tetapi pilot berkata, kita akan lewat goncangan ini. Coba ikat, sebentar lagi ada goncangan. Karena dia udah lihat dari radar. Tapi aman. Pesawat sekarang aman. Kalau saudara ada di dalam Yesus, bukan berarti nggak ada goncangan. Ada goncangan. Tapi aman! Tenang aja. Tenang. 

Nah, belajar hidup di dalam suasana Hukum Roh. Karena hanya hukum penerbangan yang bisa mengalahkan hukum daya tarik bumi. Saya mau tanya sama saudara. Apakah waktu pesawat terbang ini terbang, magnit bumi, daya tarik bumi ini hilang? Tidak. Dia tetap narik, tapi nggak bisa kuat - karena ini terbangnya cepat. Apakah kalau kita hidup berkemenangan, dosa, iblis, setan, genderuwo, kuntilanak, sama dunia, tidak mau menarik kita supaya berdosa? Dia tarik terus. Selama kita hidup di dunia, dia mau tarik kita berdosa. Bagaimana supaya kita tidak berdosa? Hidup didalam Tuhan. Hidup di dalam Hukum Roh. Ayat terakhir, Matius pasal 6. Dalam Matius pasalnya yang ke 6, saudara-saudara, di sana kita akan lihat satu hal yang indah, bagaimana Yesus membuka satu rahasia dari doa Bapa kami. Matius pasal 6:9,

6:9. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, - Kelihatan apa tidak? Bapa kami yang di sorga. Kelihatan apa tidak? Tidak .- Dikuduskanlah nama-Mu, - Tidak kelihatan -
6:10 datanglah Kerajaan-Mu, -Tidak kelihatan- jadilah kehendak-Mu di bumi - Kelihatan - seperti di sorga. - Yang tidak kelihatan. 

Jadi apa saja yang kita hadapi, yang kelihatan sekarang. Itu sebelumnya sudah terjadi didalam 'suasana dunia', kalau pake kata dunia, yang tidak nampak. Tiap jam empat pagi, saya paksakan diri harus bangun, mengisi hati saya, jiwa saya, dengan Firman Tuhan dari berbagai sumber. Bisa dengan pembacaan, bisa dengan perenungan, bisa dengan penyelidikan. Hampir tiap hari. Karena kalau tidak, bagaimana saya bisa khotbah enam puluh kali satu bulan. Saya mau diundang lagi ke Amerika, sudah tujuh kebaktian menunggu saya, di Amerika, di LA. Bagaimana orang mau dengar, apa tidak bosan kalau saya tidak mempelajari. Jadi waktu saya berkhotbah disini, yang kelihatan. Itu dimulai dengan apa yang saudara tidak bisa lihat. Saya menggali Firman Tuhan. Keberhasilan saya diatas mimbar, dibelakang mimbar, adalah hasil dari sesuatu yang tidak kelihatan, yang saya kerjakan sebelum ini. Berkat saudara ditoko, berkat saudara-saudara di perusahaan, berkat saudara dalam rumah tangga, berkat saudara dalam keluarga, itu harus dan akan terjadi di tempat yang saudara tidak lihat, yaitu di dalam kerajaan surga. Jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga. 

Mari mulai hidup didalam Hukum Roh. Waktu saya diwawancara sama TVRI, bagaimana menurut bapa mengenai Indonesia sekarang ini? Saya selalu bicara positif. Jadi kita tidak boleh kehilangan pengharapan, tidak bisa. Sebagai orang kristen dilorong yang gelap kita bisa lihat itu ada cahaya. Dan ini diyakinkan oleh 2 siswa. Satu siswa satu siswi melihat penglihatan yang sama. Dia melihat masuk satu terowongan - gelap, tapi diujungnya ada terang. Kok bisa sama, siswi duduk disana siswa duduk disini. Dua-duanya cerita penglihatan yang sama. Apa pesan bapak untuk bangsa Indonesia? Untuk bangsa Indonesia saudara. Nah, kenapa TVRI ujug-ujug nyelonong aja ketempat saya kebaktian? Ada bapak. Pak, bapak siap pak, di shooting sebentar, TVRI mau datang. Saya bilang terserah datang saja. Maka saya bilang sama jemaat, saudara jemaat, nanti sebentar lagi TVRI datang shooting, saudara jangan ada yang lihat ke kamera. Jangan nanti wah ge-er lihat daa .. daa.. Jangan.  

Mari kita belajar hidup dalam hukum Roh. Kalau kita lihat BPPN. Bank. Nggak ada bank di Indonesia yang bagus. Nggak ada, semua jelek. Gebyar BCA - cuma gebyarnya saja. Udah jelek, dinilai sudah jelek. Tidak ada yang bagus. Mandiri - mandi sendiri - udah jelek. Lippo - lama lama Indonesia pasti punya oe - sudah jelek. Semua nggak ada yang bagus. BRI udah jelek. Citibank yang Amerika juga kurang bagus. Pokoknya oom, katanya, kalau bank di Indonesia apapun nama bank nya musti ati-ati. Apa lagi yang namanya bangkawarah (keras kepala, -peny.), weuh hati-hati.

Tapi apa kita mau terpengaruh dengan itu? Jangan. Kita mah hidup didalam pesawat terbang rohani. Kalau kita sudah naik pesawat saudara, hujan dibawah kita, angin ribut banjir dibawah kita. Kalau saudara sudah naik pesawat diatas 10.000 M, itu langit biru. Biar dibawah hujan lebat hujan es ada banjir ada angin, kita naik diatas pesawat terbang tinggi. Demikian juga orang yang hidup didalam ... Inilah berkat yang ketiga dari naiknya Yesus kristus. Dia mengajar kita untuk hidup didalam suasana hukum rohani. 

Nah, kalau saudara bisa hidup disitu saudara, saya umpamanya meninggal - saudara tidak takut. Saudara hidup dengan hukum rohani. Ada ko Yoyo nggak ada ko Yoyo, bedstone ada ko Yoyo nggak ada ko Yoyo. Aku hidup dalam pesawat rohani, kok. Kebaktian ada pdt Awondatu atau tidak ada. Jangan kaya dulu jaman  papa saya baru meninggal. Saya suka ada pendeta yang tua. Datang satu jemaat: Tante, saha nu khotbah? Ko Yoyo lain? Lain, pendeta itu. Aduh, oeh mah teu reuseup ah, ieu we mihape kolekte, yeuh. Ieu kolekte kahiji, ieu kolekte kadua. Oeh mah edek balik we. Nggak boleh gitu saudara. Karena saudara sudah mempunyai pesawat yang tadi, hukum roh tadi yang mengatasi hukum maut itu. Jadi, saudara ketemu problem apa saja disini kuncinya. Pak, pendeta kenapa begini ya? Ini kuncinya. Anda masih hidup diluar pesawat. Kalau diluar pesawat, begitu pesawat mau jalan - torek euy - maka orang kalau diluar pesawat nya Tuhan, denger khotbah - dia nggak bisa dengar. Coba. Disikat deui urang euy, torek yeuh. Coba masuk dalam pesawat. Nggak kedengaran, semuanya kedap suara. Kalau sudah didalam Yesus, saudara, FT indah. Siapapun yang khotbah kerasnya gimana - nikmat. Aduh, kaya orang Manado makan kalau nggak ada rica-rica tidak suka, tambah pedes dikasih pedes, puji Tuhan - karena sudah didalam pesawat. 

Saya harap dengan keterangan yang pendek ini, saudara akan mengerti perjalanan kekristenan kita. Tidak ada satupun yang patut kita takutkan. Selama kita ada didalam Tuhan, ada didalam Kristus - saudara diluar penghukuman. Saudara tidak akan dihukum lagi karena Hukum Roh yang memberi hidup itu, membebaskan kita dari hukum maut dan dosa. Mari kita berdiri bersama-sama.

-- o -- 

Rabu, 22 Mei 2002

KARENA KETIDAK-PERCAYAAN, ZAKHARIA JADI BISU TULI

Haleluyah. Selamat sore. Kita akan melihat kembali dari Injil Lukas pasalnya yang pertama. Kita sudah sampai kepada ayat yang ke berapa? Ayat 21. Ayat 20,

1:20 Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya." 
1:21 Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. 
1:22 Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu. 
1:23 Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah. 

Saudara-saudara, ini masih saudara ingat, bahwa akibat tidak percaya dari Zakharia kepada janji daripada Tuhan, maka Gabriel berkata : Kamu akan menjadi bisu. Dengan lain perkataan, kamu akan menjadi tidak bisa berbicara. Tetapi ketika saya menyelidiki kata bisu, dalam bahasa Yunani itu dipakai satu kata sophor. Bisu ini, kata sophor ini ternyata bukan hanya bisu tetapi juga disalin dengan kata bisu tuli. Kita mau lompat dulu, bagaimana Yohanes Pembaptis dilahirkan. Ayatnya yang ke 57:

1:57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. 
1:58 Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 
1:59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, 
1:60 tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." 
1:61 Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." - Perhatikan ayat 62 - 
1:62 Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. 
1:63 Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan merekapun heran semuanya.

Nah, saudara perhatikan ayat ke 62. Ketika mau dikasih nama ini Yohanes Pembaptis, dia tanya sama Zakharia, mau dikasih nama apa? Tetapi mereka memakai isyarat. Kalau Zakharia tidak tuli, kan tidak usah pakai isyarat dong. Mereka akan langsung bertanya sama Zakharia. Zakharia, apakah nama dari anak ini? Kan hanya bisu saja kan bisa dengar. Tetapi kata bisu, sophor ini, juga berarti tuli. Jadi benar ini, Zakharia ini bukan hanya bisu tetapi juga tuli. Karena orang ngomong sudah pakai isyarat. Ini anak mau dikasih nama apa? Kalau dia tidak tuli, kan tidak usah pakai isyarat, ngomong aja. Bapak Zakharia, ini anak mau dikasih nama apa? Gitu dong, nggak usah pakai isyarat dong. Nah, didalam Lukas 7. Dalam Lukas pasal 7, kita membaca ayat yang ke 22,

7:22 Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, - Nah, kata tuli disana, dipakai juga kata sophor. Jadi memang, saudaraku, sophor ini berarti bisu dan berarti juga tuli. Kembali kepada Lukas pasal 1 - orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. 

Sekarang kita mengerti, saudara-saudara, ayatnya yang dimaksud, 22: Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka. Jadi kalau saudara baca ayat 20: Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu. Kata bisu dalam ayat 20 dan kata tuli dalam Lukas 7:22 datang dari kata yang sama, yaitu sophor - bisu dan tuli. Makanya saya katakan, berbahaya sekali kalau kita tidak percaya sama Tuhan. Kalau saudara dan saya tidak percaya kepada janji-janji Tuhan. Sangat berbahaya, karena apa saudara-saudara? Saudara akan bisu. Tidak berani bersaksi. Disuruh berdoa, tidak berani. Disuruh bersaksi sama tetangga, boro-boro berani. Saudara jadi orang bisu. Dikantor, saudara tutup mulut. Padahal saudara anak Tuhan, saudara orang kristen. Tapi karena saudara tidak percaya kepada Tuhan, saudara jadi bisu. Pendeta khotbah, tidak percaya. Bisu dia. Tidak ada keberanian untuk bersaksi. Boleh saya bicara sekarang? Sudah didoakan berkali-kali supaya penuh Roh Kudus, nggak penuh-penuh. Apa itu nggak bisu? 

Saya bingung di Jakarta tadi malam. Penuh ... penuh, dari mimbar. Siapa yang mau maju ke depan untuk dipenuhkan Roh Kudus? Satu ibu lari ke depan, penuh. Anak kembar, satu berdiri disini, satu berdiri di sini. Ini penuh, sana penuh. Sampai mike saya ini, saya buka. Saya kasih dimulut dia yang sedang berdoa dalam bahasa Roh supaya semua orang dengar. Tergerak saya, jalan lagi pada si kembar satu ini. Saya buka lagi, suruh dengar. Bahasanya lain. Kembar. Nggak percaya, jadi bisu. Ikut Tuhan udah tahunan, belum penuh Roh Kudus. Apa salah Roh Kudus? Salah Tuhan? Salah pendeta? Mungkin karena kita tidak percaya. Ada orang GKI, suka nyanyi, nyumbang, suka nyanyi dia, satu ibu. Maju juga ke depan, penuh. Satu bapak, temen saya, dia orang GKI, lebih dari 15 tahun kita kenal. Dia punya toko di Plaza Indonesia, dia kerja sama familinya. Rambut sudah putih, gigi sudah ada ompong. Kaget saya, dia maju ke depan. Dia bapak pertama yang penuh. Berkata-kata dengan berbagai bahasa. 

Ada suami istri datang. Istri orang Manado, suami orang Tionghoa. Istri lebih dulu kenal Yesus, karena orang Manado kan dari kecil sudah kristen. Suaminya ini dia bawa, 15 tahun yang lalu ke Tanah Abang, sampai terima Tuhan. Yang penuh suaminya dengan Roh Kudus, istrinya belum sampai sekarang. Bisu. Malu kedepan teh. Sieun. Bisu. Ngomong apa atuh nanti di sana? Nggak tahu saya. Jadi bisu. Bukan hanya bisu tetapi juga tuli. Tidak bisa dengar suara Tuhan. Kadang saya suka bingung, ada jemaat yang nyanyi sampai neteskan air mata. Bukan dia waktu percobaan. Dia nggak. Dia tidak ada percobaan. Tapi waktu dia menyanyi, memuji kepada Tuhan, dia meneteskan air mata. Dia mendengar. 

Saya cerita sama saudara beberapa waktu yang lalu mengenai orang yang belum beragama. Dia bilang, Tuhan saya adalah Tuhan saya, belum Yesus, pak. Dia yang nyumbang tiga lukisan untuk dijual, supaya sumbang untuk orang jompo, rumah jompo. Dia kemaren datang di kebaktian. Jadi saya tidak harapkan dia akan maju kedepan, tapi saya kaget, dia maju kedepan. Sekarang saya bisa terima, pak. Sekarang saya bisa mengerti. Telinganya bisa dengar sekarang. Semua pertanyaan saya sekarang sudah terjawab. Dia saksi sama saya dia punya istri lumpuh. Dia harus mandikan dia harus ganti pakaian dia harus bawa ke kamar mandi dia harus dorong-dorong kursi roda selama 4 tahun. Saya ini lelaki yang paling celaka! Sampai dia bilang sama istrinya: Lebih baik lu mati dah. Kamu juga nggak menderita, saya juga nggak susah. Seperti Tuhan dengar dia punya doa, dia ketemu satu orang satu bapa yang punya istri juga lumpuh sudah 15 tahun. Masih ada yang lebih susah dari saya, dia bilang ini. Setelah dengar FT, dia baru tahu selama ini sebetulnya Tuhan sudah bicara sama saya. Engko kan lelaki, ko? Tinggalin aja istri seperti itu. Tapi dia tidak tinggalkan, dia layani. Dia suapin dia mandiin. Maaf bicara, dia cebokin karena istrinya lumpuh. 

Tadi malam istrinyapun dibawa, dengar FT. Asalnya dia tidak bisa jalan tapi sekarang pakai tongkat dia bisa jalan sendiri. Sampai dia tadi apa namanya sama saya itu humor: Aduh pak pendeta, cuma tinggal saya lemparkan tongkat saja, katanya, saya sudah jalan. Tinggal lemparkan tongkat saja. Dia masih pakai tongkat. Dulu 6 bulan berbaring tidak bisa apa-apa. 

Saudara, yang paling celaka itu kita ke gereja, dengar khotbah, pulang - nggak dapat apa-apa. Apa Tuhan bicara sama bapak sama ibu tadi di kebaktian? Nggak tahu. Saya pakai bahasa Sunda. Aya nu kapulung heunteu di kebaktian teh? Apa dari nyanyian, apa dari kesaksian, dari FT, apa ada yang kita dapat untuk bawa pulang? Apa pesan Tuhan yang buat saya pribadi? Nggak ada. Ini yang paling celaka. Karena kita sudah tuli. 

Dalam Markus 4 saudara, disana kita akan membaca satu perumpamaan lain.      

4:9 Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" 
4:10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. 
4:11 Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, 
4:12 supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." 

Ini Firman Yesus tentang orang Yahudi, orang Israel - yang keras kepala,  keras tengkuk, merasa diri hebat, merasa diri super, dikasih Mesias malah disalibkan. Dikirim nabi malah dibunuh. Baru kita tahu rahasianya. Maka Yesus berkata siapa yang punya telinga untuk mendengar - jadi fungsinya telinga itu bukan untuk ditaruh anting, fungsinya telinga ini untuk mendengar. 

Saya baru pulang dari Manado. Saya lupa saksikan hari Minggu. Hari pertama saya khotbah, dibelakang saya ini laut. Di kota Manado. Dan disini adalah boulevard, jalan yang dibangun. Ini tanah yang diurug, jadi ada reklamasi pantai. Diurug, disitu sudah dibangun ruko-ruko yang mewah, besar-besar. Disebelah ruko ini  ada lapangan kosong - disitulah kita KKR. Persis dibelakang mimbar saya ini sudah lautan. Sebelah sini warung-warung, orang minum kopi, makanan dsb. Setelah saya khotbah selesai, setelah doakan orang-orang selesai, lompatlah satu orang ke mimbar. Saya duduk berlutut. Pak, ijinkan saya bersaksi 3 menit saja. Saya bilang: Tanya sama panitia. Dia tanya sama panitia, panitian bilang silahkan. Ternyata dia orang Cianjur pribumi, 10 tahun yang lalu orang Islam, dan baru 10 tahun yang lalu dia terima Yesus. Dia bersaksi.  Dan dia bersaksi satu kesaksian. Dia bilang luar biasa. Dia panggil dua jemaat dari orang KKR, dipanggil suruh berdiri. Saya tanya bapa dan ibu. Satunya sdr Aan dari Kerawang. Apa kalau bapa mati sekarang, ibu mati sekarang percaya masuk Surga apa tidak? Ini dua saudara, dua-duanya ngomong: Saya percaya masuk Surga. Apa yang menyebabkan anda percaya masuk Surga? Karena anugerah Tuhan. Tepuk tangan untuk Tuhan. 

Nah, kalau anda masuk Surga lalu tiba-tiba Yesus bilang: Siapa yang ijinkan kamu masuk Surga kesini? Dua-dua ibu dan bapa ini bilang : Hanya oleh anugerah Tuhan. Ya sudah. Lalu dia saksi: Saya punya oom, saya punya paman, anggota DPR di Cianjur. Pernah terjadi DPR itu rapat karena ada gereja mau bangun gereja di Cianjur tidak dikasih ijin. Saya mulai bingung apa gereja kita, apa Yayasan Kabar Baik. Ini oom saya ini tokoh Islam, dia bilang jangan dikasih ijin itu gereja. Pada waktu paman saya berkata di DPR: Jangan dikasih ijin - langsung nyungsep diatas meja dan dia langsung mati. Saya kaget. Saya orang Cianjur. Jadi saya dengar lagi mancing ikan dibelakang mimbar. Tahu-tahu kok ada nyanyian-nyanyian rohani. Saya tanya, ada siapa? Oh, ini ada pdt Awondatu dari Cianjur. Jadi dia tinggalkan pancingnya, dia dengar FT. 

Kok bagaimana orang Cianjur, islam, muslim, 10 tahun yang lalu terima Yesus bisa begitu yakin berani lompat dari ... ini ribuan orang saudara - lari dari bawah naik ke mimbar mau bersaksi - karena dia tidak bisu!. Kenapa dia lagi mancing ikan dia punya hobby sedang mancing malam ini dia dengar itu FT, dia langsung lompat. Karena telinganya tidak tuli, dia menanggapi langsung Sabda Tuhan. Nah, kalau kita sudah tahu ini hari Minggu, sudah tahu ini hari Rabu, sudah tahu ini hari Kamis, sudah tahu ini hari kebaktian lalu kita ada kesempatan untuk berbakti dan kita tidak berbakti, maaf, hati-hati, mungkin Tuhan sudah bilang tadi: Biarkanlah mereka mendengar ... mendengar ... mendengar tapi tidak ngerti; melihat ... melihat ... melihat tapi tidak menanggapi. Kenapa? Karena sudah terlalu ... 

Nah, di Manado ini saudara ada satu ketua majelis daerah namanya Pdt H Oha Awuy. Saya kenal dia dari tahun 74. Jadi 28 tahun yang lalu saya kenal dia wktu dia suami istri masih naik sepeda motor Honda 90 CC biru. Sekarang jadi ketua MD. Dia sedang sakit tapi jemaatnya disuruh kirim mobil. Ini bukan panitia KKR, kirim mobil  untuk ke Pak Awondatu. Saya tidur di satu hotel saudaraku, jam 6.30 pagi sudah diketuk pintu hotel. Waktu saya buka, 3 pengerja perempuan. Oom, ini dari tante. Bawa makanan kue, yang mungkin 3 regu pasukan bodrex tidak bisa habiskan itu makanan. Saya bilang banyak amat. Tidak tahu, tante yang suruh.

Malam kebaktian dia sakit-sakit dia paksa datang karena saya menghargai brur. Dia sungguh-sungguh sahabat, sungguh-sungguh baik. Nggak pernah cerita jelek tentang saya, selalu baik. Begitu saya pulang kemarin, saya dengar dia ada di RS. Wah, kaget saya. Tidak bisa bernafas. Saya kirim sms sama teman-teman disana. Betul apa tidak? Betul. Tidak boleh bicara. Tamu tidak boleh masuk, dia di ICCU. Asal berbaring tidak bisa bernafas. 

Wah, saya bilang itu mungkin seperti saya punya problem dulu. Tolong diperiksa. Dia tidak masuk ke RS. Dia tidak mau makan obat, tidak mau dokter, tidak mau disuntik. Tapi mungkin karena sudah tidak tahan, dia menyerah. Saudaraku, dikasih satpam didepan. Pendeta manapun tidak boleh masuk, dia musti istirahat. Tidak boleh ada yang masuk. Tapi saya bisa bicara langsung dengan dia. Itu sahabat. Saya kirim sms sama teman: Bawa HP ini, coba saya ingin bicara sama oom Awuy. Oom Yoyo ingin bicara. Langsung dibawa masuk HP nya. Saya bicara. Hallo brur? Aduh, ko Yoyo, saya punya darah tinggi 220 diatas, yang bawah 120. Kenapa sampai begitu lama tidak turun. Dokter bilang sudah terlalu lama, darah tinggi ini tidak diatasi, tidak makan obat, tidak diatasi. Terlalu lelah, banyak pikiran, urus gereja, urus pekerjaan Tuhan, urus 1000 pendeta di Sulawesi Utara. Jadi naik terus darahnya. 

Mungkin karena kita seringkali terlalu lama tidak dihandle sama Tuhan sehingga Dia bilang telinganya jadi tuli. Tidak dengar apa-apa. Tapi sekarang sudah turun. Saya sudah 150 atas bawah 90 ah, sudah normal lah. Terima kasih ya, brur Yoyo. Dia pakai bahasa Manado: Kita sudah bisa tidur sekarang. Lihat saudara, puluhan hamba Tuhan nggak boleh masuk, nggak boleh bicara. Pak Awondatu mah HP suruh masukin. Masuk. Karena teman baik.   

Kalau saudara jadi teman baiknya Tuhan, lagi kepepet bagaimanapun juga saudara, kalau saudara berteman baik sama Tuhan, pasti Dia mau bicara sama kita. Maka kita tidak boleh tuli, kita musti siap ini telinga. Itu sebabnya saudara datang pada sore hari ini saya yakin Tuhan itu disenangkan hatinya. Oh, ini umatku yang mau mempersiapkan hati, mempersiapkan diri untuk mendengar apa pesan-pesan dari FA. Karena dari kalimat-kalimat yang saya bawakan untuk bapak A, lain untuk ibu B, lain untuk bapak C, lain untuk ibu D lain, padahal khotbahnya sama. Tapi Tuhan akan melengkapi saudara dengan cara yang berlain-lainan.  Bahayanya kalau kita tidak percaya - bisu dan tuli.

Nah, kita tidak terlalu lama dengan itu. Kita kembali kepada Lukas 1, kita akan menyelidiki hal yang lebih penting dari hal tersebut. Kembali kepada ayatnya yang ke-21.   

1:21 Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. 
1:22 Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu. 

Mari, saya akan mengajak saudara untuk melihat apa yang disebut oleh Alkitab itu - mereka, yaitu umat yang ada diluar, menanti-nantikan apa yang terjadi dengan Zakharia atau dengan imam mereka ini. Karena jaman dulu saudara-saudara, Tuhan berbicara melalui nabi, Tuhan bicara melalui imam. Coba kita lihat Ibrani dulu.

1:1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, 
1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. 

Jadi dulu mereka harus menanti-nantikan umat ini apa yang terjadi dengan Zakharia imam karena waktu dia keluar itu dia akan ngomong begini: Inilah Firman dari Tuhan untuk kalian. Ini yang saya terima untuk kalian. Tapi kali ini lama. Kok, lama bener. Berarti sebelum ini, pesan dari Tuhan itu tidak lama. Maka pada hari Minggu itu saya sudah sembahyang: Tuhan, ... kalau saudara mau tahu sebetulnya saya ini tidak puas dengan interaksi dari jemaat kalau kebaktian. Mungkin karena kondisi gereja kita yang kecil. Saya mau ajak saudara maju ke depan, ini seperti sudah dipatok loudspeaker ini, mic. itu. Saya lagi pikir apa nanti semua singer memakai saja yang wireless, ya. Yang wireless itu bisa ditaruh dibawah, jadi kalau tidak lagi dipakai  ditaruh disamping. Ini bisa untuk jiwa-jiwa yang didoakan. Diatas keburu weugah turun. Jadi saya sembahyang. Tuhan saya nggak akan minta mereka maju ke depan tapi dimana mereka berdiri Tuhan, Engkau sanggup memenuhkan mereka. 

Nah, saya minta tanda kalau tidak karunia lidah, saya minta tanda biar Tuhan kirim sore ini. Jakarta saya tidak minta karena mereka masih rendah. Saya minta di penuhkan saja dengan RK, saya minta ada nubuat. Tuhan beri. Berarti Tuhan dengar dong saya punya kerinduan ini Tuhan dengar. Jadi kalau Tuhan dengar kerinduan hati saya, saya yakin, Tuhan juga dengar kerinduan hati saudara. Jangan saudara curiga sedikitpun Tuhan tidak mendengar. Yang harus kita curigai justru telinga kita, telinga rohani kita. Kita dengar nggak pesan Dia? Kita dengar nggak suaranya Tuhan? 

Satu jemaat kami ini dia kerja di toko kacamata sebagai wakil manajer. Itu jam sore itu jam dia punya pekerjaan, dia tinggalkan. Dia datang kebaktian Selasa kemarin, dia ingin penuh RK. Penuh. Nah, saya beri saudara rindu dulu sore ini nanti hari Minggu kita akan berdoa supaya kerinduan kita ini mendekatkan saudara kepada sang Roh Kudus itu. Jadi sebelum ini, asal Zakharia masuk Bait Suci keluarnya cepat, sudah ada pesan dari Tuhan. Nah, sekarang kan saudara nggak bisa tunggu saya, dan nggak usah tunggu saya. Tuhan mempunya cara melalui Firmannya dalam kebaktian - siapapun yang khotbah, siapapun yang bawa FT, siapapun yang khotbah. 

Saya baru dapat kesaksian dari Bapak Anton dan Sus Eper dari Bandung. Dia ada di GPdI Kopo Permai dibawah gembala Tom Runkat. Nggak betah. Aduh, nggak betah. Kenapa? Kebaktian anak-anak lari-lari ... jerit-jerit. Di Cianjur mah nggak boleh, batuk pun ngak boleh. Jadi dengar FT itu enak ... nikmat. Nah! Doa puasa sus Eper datang paling pagi, yang lain belum ada, cuma 6-7 orang. Cianjur mah doa puasa kaya gini banyaknya. PA.  Pendalaman Alkitab. Dan jam 5 mulai, jam 5 kurang 15 sudah banyak orang datang. Sampai Pak Anton bilang: Teu beubeunangan nya, nggak dapat apa-apa. Baru nampak sekarang bahwa Cianjur teh hebring, ya.

Maka saudara, saya itu ada maksud. Kenapa? Kedap suara. Maka khotbah saya ini nggak usah ngomong keras. Begini aja saudara dengar. Jadi saya seperti ngomong dipinggir tempat duduk saudara. Kalau ada orang Manado disini khotbah, pareuman ieu. Erek naon da kadengean atuh. Udah pakai loudspeaker masih jojorowokan keneh, pareuman we nggeus. Aduh, suka nggak sampe ke belakang. Yang belakang ngobrol wae. Coba dengarkan baik-baik FT. Da kadengeran atuh, kalau kita memperhatikan mah. Semua yang di Jakarta pun kebaktian dimana nggak betah. Ribut. Kenapa saudara? Jadi kalau kita dengar FT plus ribut, itu FT berapa persen yang kita tampung? Waktu saudara bilang ssssttt sama anak-anak, FT itu lewat, kita nggak dengar. FT hilang, padahal itu mungkin yang kita perlu. Wah, kita batuk, uhuk uhuk, wah lagi begitu FT lewat. 

Makanya saudara, aduh tiris di gereja teh. Meunding dingin meunding hareudang, kitu we. Heg we. Negara-negara yang diberkati Tuhan, negara-negara besar, negara-negara yang ekonominya kuat - semuanya kebanyakan negara dingin. Jepang negara dingin. Amerika negara dingin. Australia negara dingin. Eropa negara dingin. Yang miskin negara panas. Afrika negara panas. 

Saya mau kasih satu hal lagi yang terakhir. Injil Lukas.
1:22 Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka

Tidak ada sesuatu yang dibawa. Lalu mereka ini mengerti. Wah, ini ayat luar biasa saudara. Mereka nggak bilang kenapa? Nggak. Tapi mereka mengerti: Wah, Zakharia imam kita ini pasti mendapat sesuatu bahwa ia telah melihat satu penglihatan didalam bait Suci. Coba saudara bayangkan. Zakharia bisu, dia cuma keluar, tidak dapat pesan apa-apa, dia cuma keluar setelah lama, umat Tuhan langsung mengerti: Oh, sudah lihat penglihatan ini. 

Saudara ingat waktu nabi Musa naik ke gunung puasa 40 hari 40 malam untuk menerima 2 loh batu mengenai Taurat. Waktu dia turun, orang Israel tutup pake kain serap (silau - peny.) lihat wajah Musa. Terlalu bercahaya. Maka untuk beberapa hari, Musa punya muka dipake tudung begini - karena terlalu bercahaya dia baru ketemu Tuhan. Wih, luar bisa. Jadi kemungkinan Zakharia punya wajahpun bercahaya, sampai ini umat tahu dan mengerti - ini pasti sudah melihat Tuhan. Jadi tandanya saudara sudah lihat Tuhan.

Nah, bibi saya ini yang dibawah, yang suka bikin bubur, itu punya kesaksian kepada saya: Neng, da lamun eta teh jemaat dongkap ka gereja teh naros kabibi teh: Neng Yoyo aya teu aya? Upama ku bibi teh : Aya. Langsung we ka la luhur we, heunteu loba ribut. Lamun cek bibi teh: Teu aya. Wah seuseurian ... bebas aku bebas ... free. Jadi bibi juga sudah punya kesaksian yang hidup tentang saudara. Da eta teh lamun aya neng Yoyo teh balalageur mi rarapih repeh rapih, da lamun teu aya neng Yoyo mah pada ajojing sadayana.

Oke. Saya tidak panjangkan FT dulu tetapi kita akan mengerti kalau kita melihat Tuhan, orang lain akan melihat ada cahaya didalam kehidupan kita. Siapa yang bertugas tolong. 

-- o --    

Rabu, 29 Mei 2002

PULANG KE RUMAH BAPA

Kita akan membuka kembali pelajaran kita dari Injil Lukas pasal yang pertama, dan kita melihat ayat yang selanjutnya kita pelajari. Lukas

1:23 Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah. 

Banyak kali kita menganggap seorang nabi, seorang pelayan Tuhan, seorang hamba Tuhan, seorang imam itu sudah setengah dewa yang tidak bisa salah, tidak boleh ... sedikit juga nggak boleh salah. Dan ini saya rasa tidak adil karena nabi, rasul, imam, pelayan Tuhan itu masih harus pulang ke rumah. Artinya masih punya tanggung jawab sebagai manusia biasa. Setelah selesai tugas jabatannya, waktu dia menjabat itu dia jadi imam. Tapi ketika dia selesai jabatan dia sebagai imam, dia pulang ke rumah. Tidak lagi sebagai imam tetapi sebagai seorang bapa Zakharia yang ada istri, yang ada rumah, yang ada segala kesibukan sebagai manusia biasa. 

Nah, disinilah kita seringkali sangat tidak adil kepada hamba Tuhan. Sehingga kita anggap hamba Tuhan itu sudah setengah dewa. Tidak boleh salah lagi, tidak boleh punya hobby, tidak boleh senang sedikit. Nggak boleh. Ia musti setengah tapa, dia musti tinggalnya seperti diatas gunung, ya. Inilah sangat keliru. Itu sebabnya Yesus itu adalah satu - saya mau pakai istilah - 'satu sindiran' dari Tuhan bahwa Allah sendiri menjelma menjadi manusia biasa. Allah yang agung, yang besar saja mau menjadi menjelma menjadi manusia biasa, apalagi yang manusia. Lha, Tuhan yang besar saja jadi manusia biasa apalagi masih kita ini manusia. Jadi kita jangan sampai hilang kemanusiaan kita  ini. Jadi setelah tugas jabatan selesai, ada tanggung jawab dirumah. 

Nah, didalam 1 Petrus 2:9 kita itu juga disebut imam. Mari kita buka. 

2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, - Artinya imam-imam yang mempunyai kerajaan - bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. 

Kita disebut imamat atau imam-imam. Jadi yang disebut imam bukan hanya Zakharia. Kembali lagi kepada Lukas. Ternyata saudara dan saya juga disebut imam. Kapan kita menjadi imam? Waktu di gereja, waktu kita berdoa, mendoakan keluarga yang belum menerima Yesus, mendoakan seseorang yang sakit, mendoakan keluarga yang didalam percobaan - itu kita jadi imam. Mendoakan problem, mendoakan persoalan ini, mendoakan itu - itu kita jadi imam, ya. 

Tetapi, setelah kita berdoa, ingat kita masih punya rumah, kita masih manusia biasa. Masih mempunyai keperluan sehari-hari, masih harus mencari nafkah. Jadi jangan sampai saudara nanti baca Alkitab ditoko - yang seharusnya saudara jaga toko, saudara baca Alkitab. Orang belanja kita tak peduli, kita baca Alkitab terus. Berbahasa roh, ya. Haleluyah. Orang tanya harganya ini barang berapa, kita berbahasa roh. Lalu kita mulai setengah jadi dewa tidak bisa sakit lagi kita, tidak boleh sakit. Sampai ada anggapan kaget kalau pendeta itu sakit, itu kaget. Lho, ko Yoyo mah nggak boleh sakit, harus sehat terus. Dia mau kerja jadi seperti kuda lumping, pokoknya musti sehat aja. Musti khotbah aja terus dan khotbahnya musti enak. Jam berapa dia bangun, lelahnya seperti apa, makan apa dia apa tidak makan itu mah nomor 17. Yang penting kita ke gereja, Ko Yoyo kalau khotbah ... Pak Awondatu harus enak. Kita lupa bahwa pak Awondatu itu masih manusia yang terbatas kekuatannya. Saking sibuknya saya nggak bisa diperiksa dokter, dokter periksa melalui telepon. Karena dokter di Cianjur lebih susah dipanggil daripada di Jakarta. Dokter di Jakarta mah gampang, saudara. Saya telepon saja, pak Awondatu sakit apa ... ini ... ini ... ini ... mungkin ini gejala tipes telalu capai. 

Ada satu ibu kirim ayam supaya sehat. Terima kasih. Untung nggak ada yang kirim kerbau. Tapi saya ingin beritahu bahwa masih manusia biasa. Zakharia harus pulang ke rumah. Secara rohani kita pun tidak terus didunia ini. Kita pun harus pulang ke rumah, kerumah Bapa. Kita ini sibuk, dari kecil kita sekolah, dari sekolah kita cari titel. Sudah dapat titel kita jadi pemuda remaja. Jadi mulai kita tertarik dengan lawan jenis, sampai kita ketemu jodoh kita, sampai kita menikah, sampai kita punya anak, anak kita besarkan, sekolah lagi itu anak, anak itu cari jodoh juga, anak itu sudah dapat jodoh, anak itu mempunyai anak, sampai kita panggil dia cucu. Terus-terus begitu. Apa terus begitu kita hidup? Tidak. Musti pulang. Mama saya itu pernah bikin lagu Pulange, pulange .... dengar Tuhan panggil, pulange. Waktunya sudah dekat, Tuhan panggil pulange. Pulange, pulange, pulange, Pange nge nge nge itu orang Ambon. Pulange, Pulang. Nyanyian dari Barat bilang : The world is not my home. We just passing by. Dunia ini bukan rumah kita. Kita cuma lewat. Orang Jawa bilang anak Tuhan : Mung mampir ngumbe. Cuma mampir minum di dunia ini. Biar kita kaya, kita nggak terus kaya kok, nanti pulang. Waktu kita susah, kita nggak terus susah, nanti kita pulang. 

Jadi saudara,  pelajaran pada sore hari ini adalah mengenai pulang ke rumah Bapa. Di dalam Mazmur 

23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. - Lihat saudara ya, mulai dengan satu adventure, satu perjalanan pengembaraan -.
23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, - Ini padang kan bukan kandang bukan rumah, ini perjalanan - Ia membimbing aku ke air yang tenang; Nah, kita ngalami sebagai domba dibawa ke air yang tenang 
23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar - Berarti kita ini masih di jalan, dalam perjalanan -  oleh karena nama-Nya. 
23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah - Kita lewat lembah, antara 2 gunung itu lembah -  kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. - Gada dan tongkat bukan alat rumah tangga, tetapi alat perjalanan dari gembala. Masih dalam satu perjalanan - 
23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; - Ada hidangan tapi masih belum di rumah karena ada lawan -  Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. 
23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; - Nah, sudah sampai seumur hidup dalam perjalanan - dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Kalau Zakharia masih musti pulang ke rumah kita juga musti con. Kalau dulu kita nih orang Tionghoa terkenal dengan con tong san. Kita nggak con tong san sekarang didalam Tuhan. Con Sorga. Pulang ke rumah Tuhan sepanjang masa. Nah, inilah saya katakan rumah Tuhan sepanjang masa. Ada diantara kita yang tidak akan lama lagi akan pulang ke rumah Tuhan. Ada banyak sebabnya, yang sakit, ada yang ini, ada yang itu. Ada yang tidak sakit tahu-tahu pulang, itu sudah disuratkan sama Tuhan. Umur berapa kita akan berjalan, mengikuti jalan masuk di sungai, air, dsb. Lewat lembah kekelaman itu cuma sampiran belaka. Mung mampir ngumbe. Cuma mampir minum di dunia ini. Nanti kita pulang. 

Dulu papa saya memimpin sangkur. Saya suka disuruh ikut. Masih saya SD, sudah suruh ikut sangkur. SMP disuruh ikut sangkur suara 4 lagi. Na .. na .. na ... menuju pulang. Na .. na .. na .. Di pantai emas Kami tinggal bersama-sama Susah lalulah Kami tibalah Dipantai emas. Mengenai pulang semua. Jadi kalau saya sudah lihat foto-foto jemaat yang dulu, melihat oom Go Gwan Bo sudah pulang, Tante Eng Hoat sudah pulang, ibu Eng Sun sudah pulang, Gouw Gie Peng sudah pulang, Sus Giok sudah pulang, tante Sim disana sudah pulang, sus Emi sudah pulang. Ong Giat Nio sudah pulang - saya bisa hafal saudara. Tante Idup sudah pulang. Pak Tan Yan Bun, pak Tan Eng Bun, mertua saya, sudah pulang. An Yi So sudah pulang, An Yuk So sudah pulang. An Yuk Pak sudah pulang. Menantunya sudah pulang. Toko Gigi Kim San, Ay Lie sudah pulang. Tji Hwa sudah pulang. Yung Lie sudah pulang. Anak saya sudah pulang. Mama sudah pulang, papa sudah pulang. Kita mau kemana? Sus Enok sudah pulang, Tjin Liang sudah pulang. Ke kaler, Rita sudah pulang, suaminya sus Nancy sudah pulang. Sus Kiaw sudah pulang.

Itu tidak boleh bikin kita sedih. Tapi bikin kita sadar, kita juga akan pulang. Mamanya Yu Ngo sudah pulang. Lebih dari 100, ya. Pak Dema sudah pulang. Banyak yang sudah pulang. Nah, kita sedang menuju pulang. Jadi visi kita ini harus punya visi, rumah Tuhan sepanjang masa. Karena Daud tidak pernah ada di rumah Tuhan sepanjang masa. Yang dia maksud rumah Tuhan sepanjang masa adalah rumah Tuhan di Surga. Mazmur

27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. 

Yang kedua adalah rumah Tuhan seumur hidup. Nah, ini ada hubungannya rumah Tuhan seumur hidup inilah yang disebut kita gereja. Ini rumah Tuhan sepanjang masa. Nanti. Ini rumah Tuhan seumur hidup. Saya rasa kalau kita setia dengan rumah Tuhan yang seumur hidup, kita mempunyai keyakinan akan dapat tempat di rumah Tuhan  sepanjang masa. Waktu dia masih bekerja sebagai imam, Zakharia. Tapi waktu sudah tepat waktunya dia pulang ke rumah ketemu urusan-urusan sehari-hari di rumah. Ini jangan lupa, saudara. Kita kaya, diberkati, nggak terus. Sebentar meninggal. Kita susah, dapat kesulitan, nggak terus, kita meninggal. Kita menuju pulang. Dan waktu kita pulang ke sanalah, kerumah Bapalah nanti kita bisa mengerti apa itu maksudnya dari Firman Allah ini. 

Satu ayat lagi. Dalam Yohanes 14, yang biasa kita dengar khotbahnya kalau ada orang meninggal. 

14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 
14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. 

Dalam salinan bahasa Inggris bukan rumah biasa, tapi mansion. Bukan vila biasa yang disusun-susun. Bukan satu vila 3 kamar, keluarga A dikamar sana, keluarga B dikamar ini. Tidak. Satu orang punya mansion satu istana seperti istana Bogor. Didalam rumah Bapaku, there are many mansions. Tempat kediaman yang besar. Ini yang saya yakin yang dilihat oleh mamanya Yu Ngo. Karena mamanya Yu Ngo antara sadar dan tidak sadar dia bicara: Saya punya rumah besar sudah disiapkan oleh Tuhan. 

Saya punya teman sdr Hutomo Santoso. Ketika sebelum meninggal, panggil pendeta. Saya ada disini, di Cianjur jauh. Dipanggil pendeta yang dekat, yang ada pendeta orang Belanda apa Jerman, panggil doakan. Pada waktu mau didoakan, ini pak Hutomo ini nama kecilnya Iyam. Ko Iyam - ia suka bahasakan dirinya Iyam. Ia  tiba-tiba melotot: Apa Tuhan? Itu ... itu buat Iyam? Terima kasih Tuhan. Meninggal. Jadi ini pendeta bilang: Dia lihat mansion. Dia lihat rumah. Yang dia kaget, kok, hebat seperti itu mungkin rumahnya. Itu buat Iyam, Tuhan? 

Saudara Akau, temannya sdr Kwe Kong itu, dia meninggal di Belanda. Leukemia. Dibawa. Sebetulnya saya yang musti antar, tapi sibuk. Jadi cihu nya Kwe Kong yang antar dia. Satu bulan di RS di Belanda. Dia sakit Leukemia sampai tulangnya seperti bubur karena lembek sudah lemah. Dokter bilang tidak ada harapan. Jadi dokter datang kasih tahu bahwa you tidak lama lagi akan meninggal, karena tidak ada harapan, leukemia. Wah, saudara A Kau cabut semua infus, marah dia. Agama mu apa? Saya kristen. Kalau kristen jangan takut, kita punya rumah, kita punya Tuhan. Jangan kecil hati, dikasih hiburan sama dokter.  Dia tenang. Cihu nya duduk dekat dia. Satu pagi dia bilang : Lihat nggak itu Yesus? Dia bilang, mana? Ini di ujung tempat tidur saya, lagi duduk. Bercahaya wajah dia. Senang. Masa you nggak lihat ini Yesus? Dia meninggal. 

Ini yang dilihat juga oleh satu ibu di Jakarta, umur 42 tahun. Meninggal. Suaminya peluk sama dia. Mama jangan berat sama saya, jangan berat sama anak. Kalau memang mau pergi, pergi. Sudah nggak tahan. Mama sudah lihat Tuhan belum? Ini disebelah saya, ini Yesus. Nangis suami? Betul? Betul, ini Yesus sebelah saya duduk. Meninggal. Aduh senang sekali. 

Jadi untuk kita anak-anak Tuhan, pulang ke Surga ada hubungan dengan setia didalam rumah Tuhan sepanjang umur hidup. Kalau kita setia kepada Tuhan, dirumah Tuhan seumur hidup, maka kita berhak penuh punya akses yang penuh untuk bertemu masuk didalam mansion ini. Didalam rumah BapaKu ada banyak tempat. Ada banyak tempat kediaman.

1 Korintus 3. Di sana ada rumah yang lain.

3:16. Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? 

Sekarang yang ke tiga. Kita sendiri adalah disebut Bait Allah. Kita sendiri. Jadi kalau saya gambarkan itu begini. Saya gambar. Ini rumah Tuhan sepanjang masa nomor 1. Ini rumah Tuhan seumur hidup. Ini badan kita sendiri jadi rumah Tuhan. Ini harus ada disini, supaya kita masuk disini. Jadi kalau saya gambar ada tiga. Yang nomor 3 harus ada didalam nomor 2 dan barulah semua akan ada di dalam rumah nomor satu. Badan kita musti ada di gereja, tubuh kita ini musti setia ada di kebaktian supaya nanti masuk didalam rumah yang kekal itu. I Korintus


6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?    
                                                    

6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Kita bisa memuliakan Tuhan dengan tubuh kita. Ya, waktu kita bertepuk tangan, waktu kita menyembah Tuhan, menyanyi, mengangkat tangan - kita memuliakan Alalh dengan tubuh kita, dengan gerakan tubuh kita. Tetapi lebih jauh lagi kita menjaga tubuh kita supaya kudus. Kita menjaga tubuh kita supaya kita tidak munafik, ya. Kita tidak dibikin-bikin. Saya kok bisa rasa, ya, kalau ada pengerja menghormat saya dibikin-bikin, sama menghormat saya dengan tulus. Itu saya bisa rasa. Pengerja ini. Pengerja yang mengasihi saya dengan tulus dan pengerja yang mengasihi dengan dibikin-bikin atau pengerja yang taat kepada saya dengan setulus-tulus taat, dengan taat yang dibikin-bikin kalau ada saya saja, kalau kelihatan saya, taat. Itu kok saya bisa rasa. Apalagi Tuhan.

Jadi mari kita bawa diri kita kepada Tuhan apa adanya, dengan segala keberadaan kita ini. Bawalah diri kita ini sebagai rumah dimana Ia mau tinggal didalam diri kita. Sekali lagi kita buka Wahyu 

3:20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk. Saya mau tanya, pintu apa ini? Masa nggak tahu. Jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama dengan Dia dan Dia bersama dengan Aku. Pintu apa? Pintu rumah. Rumah apa? Rumah rohani kita. Tok .. tok .. tok. Dia ketuk, supaya kita berbuat baik. Tok .. tok .. tok. Dia ketuk hati nurani kita, supaya kita bertobat. Dia ketuk hati nurani kita, supaya kita taat kepada pimpinan. Dia ketuk hati nurani kita, supaya kita jujur dengan hal yang kecil, supaya kita bisa dipercaya dalam hal yang besar. Dia ketuk hati nurani kita, supaya setia dalam perkara yang kecil, supaya Tuhan percayakan kepada perkara yang besar. Dia ketuk hati nurani kita untuk buka pintu. 

Sekarang saya pakai kata mutiara: Kalau kita bukakan pintu rumah kita untuk Tuhan, nanti Tuhan buka pintu rumah-Nya untuk kita. Siapa yang malu mengaku Aku, Aku malu mengaku Dia didepan BapaKu. Tetapi siapa yang tidak malu mengaku Aku, Akupun tidak malu mengaku dia didepan BapaKu. Kalau kita mau buka pintu hati kita untuk Tuhan, nanti Tuhan tidak malu. Dia buka pintu selebar-lebarnya untuk saudara dan saya. 

Saya suka tanya dalam hati saya, bukan ngomong, tapi suka tanya dalam hati: Tuhan, kenapa jemaat ini kok nggak diberkati? Kenapa jemaat disana kok diberkati? Kenapa jemaat ini kurang diberkati? Tuhan ingatkan ini. Ternyata ada yang buka pintu untuk Yesus, cuma sedikit buka. Mau apa Yesus, ada apa? Buka pintu. Ada apa Yesus, ada apa? Ya, nanti pintu berkatnya Tuhan juga Tuhan buka sedikit. Keclak ... kaluar sabenggol. Keclak. Saudara kalau buka .. Yesus .. buka pintu lebar-lebar. Silahkan masuk Yesus dalam hati saya. Nanti saudara dibukakan juga. Saudara, tidak hanya pintu Surga .. no .. no .. no. Bukan hanya pintu Surga, saudara.  

Kita buka Roma 8. Kita akan membaca satu ayat yang saya terangkan sedikit di Jakarta. 

8:31 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ini salinan agak kurang tepat. Kalau buat saya senang bahasa Indonesia lama : Jika Allah dipihak kita, siapakah lawan kita? Nggak ada yang bisa. Ayat 32 perhatikan.
8:32 Ia, - Allah Bapa - yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya - Bukan memberi, Dia serahkan -  bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama - Dengan siapa saudara? - dengan Dia? - Dengan Yesus -

Jadi kalau saudara buka sedikit pintu sama Yesus, yah, berkatnya juga sedikit. Karena berkat ada didalam Yesus. Saudara buka pintu sedikit, mau apa Yesus ketuk-ketuk pintu? Aku mau masuk. Saudara cuma buka pintu sedikit, tidak ijinkan dia bekerja. Tentunya Roh Kudus bisa kerja 100X lebih dari yang biasa di kebaktian kita. 100X lipat lebih kuat tapi saudara buka hatinya begitu. Sedikit-sedikit. Takut. Gengsi. Jadi saya nggak bisa salahkan Tuhan. Nggak bisa, saudara. 

Sekarang tukang pijit. Saudara keseleo di bahu. Masa saudara cuma kasih kelingking, pijit disini aja. Sok cingir we pijit mah? Kan yang keseleo bahu, sampe ka bengkak. Ah, pijit we didieu. Coba ijinkan sama Tuhan, pijit, biar Dia gosok sampai disini. Besan saya ini sudah bisa ngobatin pake listrik, saudara. Saya nurut sama dia. Buka baju, buka baju. Duduk, duduk. Belakangin saya, belakangin. Strum dimasukkan. Dia injak itu strum, dia mulai pegang badan saya. Mulai. Dia bisa besar, bisa kecil. Dimana sakitnya, disini? Itu kaki saya yang bengkak bisa kempes. Karena jalan darahnya, jadi jalan lagi. Nurut sama dia. Saya rasa udah. Nggak, belum. Nih kepala, nih tangan bisa terangkat sendiri. Bisa begitu karena dia pakai aliran, badannya ala strum. Serahkan sama dia. Ini bagaimana saya, saya bisa kecilin saya bisa gedein strumnya, dia bilang begitu. Bagaimana you, kalau you kuat saya kasih gedean strumnya, kalau nggak kuat saya kecil-kecilin. 

Tuhan nggak jauh kaya gitu. Tuhan mau kasih yang gede, tapi kita sering, ah, udah dah kelingking aja dah. Apakah Dia tidak kasih semua yang kita perlu didalam Yesus? Jadi kalau Yesus itu cuma sampul Alkitab, berkat nya ini seluruh ini. Kalau kita terima Yesus, kita terima seluruh berkat yang ada didalam Yesus. Ya, kalau kita tolak Yesus, yah, berkatnya juga yang ada didalam Yesus tidak masuk kepada kita. 

Kan yang mau terima apa nggak saudara? Yang mau percaya atau tidak kan saudara. Ada yang buka toko di Jakarta, saya nggak kenal. Dia kirim di e-mail saya nama saya ini. Saya minta bapak bantu doa, saya punya jualan ini, ini, ini. Saya nggak kenal. Saya cuma kirim sms saja tiap hari. Gereja mana, jemaat mana saya nggak tahu. Tapi tiba-tiba dia kirim sms, saya mau kirim buah sulung saya. Satu barang saya pertama laku, seluruhnya saya akan persembahkan untuk bapak. Nah, kita? Gimana kita? Mau kopet? Terserah. Mau memberi? Terserah. Mau buka pintu kecil? Terserah. Mau bener? Terserah, saudara yang dapat. Mau maju? Terserah, saudara yang maju, kok. Mau bahagia? Ayo, saudara yang bahagia. TanganNya terbuka menunggulah Tak tersembunyi kuasa Allah. Yang tersembunyi mah kita. Kitanya yang sembunyi. Kuasa Allah mah tidak sembunyi. Gimana kita. Tuhan mah bagaimana dibawanya. Sekarang Dia ketok. Tok .. tok .. tok, siapa mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk. Demikianlah renungan FA untuk sore hari ini. Kita masih ada urusan-urusan dirumah tapi ingat juga kita akan pulang ke rumah Bapa yang kekal. Kita tidak akan tinggal di sini terus tapi kita akan pulang ke rumah Bapa.  

-- o --   

Rabu, 19 Juni 2002

BERDIAM DIRI DAN MENUNGGU

Lukas 

1:24 Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: 
1:25 "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."

Kejadian                                                                                                                                                                   

8:1 Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun. 
8:2 Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit, 
8:3 dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari. 

Seratus limapuluh hari atau lima bulan.  Kembali kita melihat betapa 5 bulan ini sepertinya dibiarkan oleh Tuhan menjadi satu waktu dimana orang-orang mengalami kesulitan. Wahyu  

9:10 Dan ekor mereka sama seperti kalajengking dan ada sengatnya, dan di dalam ekor mereka itu terdapat kuasa mereka untuk menyakiti manusia, lima bulan lamanya. 

Satu dalam kitab Kejadian - paling awal. Satu didalam kitab Wahyu - paling akhir dari Alkitab. Yang awal dan akhir mengandung istilah lima bulan. Di tengah-tengahnya - injil Lukas - Elisabet, saudaraku, mengandung selama 5 bulan, dia tidak menampakkan diri keluar. Dia bersembunyi selama 5 bulan. Tidak ada artinya 5 bulan bagi kita tetapi mari kita ambil arti rohaninya. Lima bulan adalah waktu di mana Elisabet berdiam diri dan menunggu dan menanti. Dia sudah tahu dia bakal punya anak. Dia sudah hamil tetapi dia tidak open bar keluar, dia tidak ceriwis, cerita ke tetangga-tetangga: Lihat saya sudah hamil, lihat aku punya ... Tidak. Tapi dia bersembunyi selama 5 bulan lamanya.

Nampak di sini, tidak menampakkan diri bukan berarti tidak hebat. Tentu saja saudara yang saya percaya, yang saya pikir mampu dan bisa, saya suka panggil kedepan untuk berdoa, baik pria maupun wanita. Bukan berarti yang tidak dipanggil kedepan itu rohaninya rendah. Tidak. Mungkin saja bapa dan ibu yang tidak pernah dipanggil oleh saya atau saudara yang lain untuk berdoa tidak pernah tapi di pemandangan mata Tuhan justru saudara rohaninya tinggi. Kita tidak tahu. Belum tentu yang dipanggil-panggil maju ke depan untuk berdoa itu rohaninya tinggi. Saya hanya undang karena saya tahu dia mampu dan sudah memperlihatkan buah-buah yang baik - kesetiaan. Jadi saya percaya dia bisa bawa doa, khususnya setelah saya khotbah itu paling penting doa. 

Kalau saya perhatikan, saya khotbah tentang iman yang berdoa ngelantur berdoanya tentang kasih, wah ini orang tidak bisa saya panggil lagi lain kali untuk berdoa setelah Firman. Mungkin dipanggil sebelum Firman. Yang penting sekali bagi saya adalah yang doa setelah Firman. Dia harus mengangkat jemaat dalam doanya. Dia harus mengerti khotbah yang saya khotbahkan. Ini hanya contoh saja.

Tetapi sekali lagi tidak menampakkan diri bukan berarti tidak hebat. Justru yang menampakkan diri ini, saya mau beri nama roh antikris. Ini roh atau spirit dari anti kristus. Roh yang ingin menonjolkan diri. Kita lihat pelajaran pertama dari Tuhan Yesus sendiri. Dalam  Yohanes 7, Tuhan Yesus memberi contoh kepada kita, sama dengan apa yang dilakukan oleh Elisabet. Ayat 1.

7:1 Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. 
7:2 Ketika itu sudah dekat hari raya - Hari raya saudara tahu pesta - orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. 
7:3 Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: "Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. 
7:4 Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia." 

Ini saudaranya Yesus sendiri berkata. 

7:5 Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya. 
7:6 Maka jawab Yesus kepada mereka: "Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu. 
7:7 Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat. 
7:8 Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap." 
7:9 Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea. 

Tidak mau ke pesta, tidak mau menonjolkan diri keluar. Dia diam. Saudara-saudaranya bilang open bar, kasih lihat dong. Kasih lihat kamu itu bisa bikin mujijat, kasih lihat ... padahal adik-adiknya, saudara-saudaranya ini tidak percaya. Coba. Satu kandungan Maria tapi nggak percaya sama Yesus. Tapi ngomongnya enak: Ayo dong perlihatkan dirimu, show dong, kasih lihat. Roh antikris. Nonjolin diri. Lihat Kristus. Tidak. Saya diam saja di Galilea. Sama waktu air jadi air anggur dalam Yohanes 2. Maria berkata: Lihat mereka kehabisan air anggur. Lekas berbuat sesuatu. Saudara ingat dimana Yesus ada? Dia tidak dipesta, Dia didapur. Dia diam. 

Ini pelajaran bagi kita, pelajaran bagi saya: Lebih matang kita didalam Tuhan, lebih tunduk, lebih tenang, lebih teduh, lebih steady, lebih tidak kemana-mana, lebih mantap, lebih diam, tidak kemana-mana tapi teduh, teguh, imannya kokoh. Lima bulan diam tapi dia punya bayi, punya anak. Dia sudah tahu ini berkat Tuhan. Dia nggak nonjolkan diri. Dia sembunyi di kamar 5 bulan lamanya. Ini salah satu pelajaran bahwa kita harus bersembunyi, berdiam, tenang, teduh, duduk di kaki Yesus. Marta, Maria? Marta, masak, masak, masak, masak, masak. Show. Maria? Nggak banyak teori - duduk, diam, tenang, teduh. Pelajaran yang lebih besar lagi kita belajar dari Rasul Paulus. Dalam II Korintus 

12:1 Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan. 
12:2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - Dia cerita tentang dirinya, tapi dia bilang, empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu - Dia tidak bilang saya - tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. 
12:3 Aku juga tahu tentang orang itu, - entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya  
12:4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia. 

Sampai disitu. Paulus itu dia cerita tentang dirinya. Berkali-kali saya baca ini, saudaraku. Saya cuma baca, Paulus naik ke langit yang tiga. Paulus naik ke surga, diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga. Baru akhir-akhir ini, belum lamalah, belum lama, saya perhatikan ayat ke empat. Dia bukan hanya ke surga tetapi juga ke Firdaus. Surga dan Firdaus adalah tempat yang berlainan, walaupun dalam satu. Seperti kita Jawa Barat, tapi Bandung dengan Padalarang. Bandung itu surga, Firdaus itu Padalarangnya gitu. Dia ke Firdaus. Tapi dia simpan empat belas tahun. Cerita ini dia nggak kasih tahu. Elisabet lima bulan, Paulus empat belas tahun, nggak cerita dia udah lihat surga. Dia nggak cerita sama Timotius, bahwa dia sudah ke Firdaus. Dia nggak cerita. 

Ada pendeta di Jakarta, ngomong nggak ada akhir-akhirnya, hampir tiap minggu dia bulak-balik masuk keluar surga, katanya. Sampai akhirnya saya dikirimi satu bundel begini, surat protes dari jemaatnya. Kenapa bapak minyakin bapak punya rumah, sudah diurapi, dikipratin pake minyak urapan, kok anak bapak narkoba? Kenapa mobil bapak sudah dicipratin minyak urapan kok supir bapak berjinah? Itu suratnya. Dia tiap pagi, tiap khotbah, bolak-balik aja masuk keluar surga. Saudara sekarang mengetahui yang benar. 

Lihat Paulus, empat belas tahun dia diam. Nggak ngomong. Dia nggak bilang saya, dia bilang ada orang yang saya tahu empat belas tahun lalu, entah di dalam tubuh, entah di luar tubuh. Matang, dewasa, kokoh, teguh, punya pengalamannya tuh kuat. Nggak mencla-mencle. Ada satu pelajaran yang saya nggak pernah saya terapkan di jemaat saya, belum. Memang saya rasa belum waktunya. Yaitu pelajaran disiplin gereja. Belum waktunya. Karena nampaknya gereja kita juga dari pusat memakainya juga masih separo-separo. Kalau kita pake apa yang ditulis oleh Alkitab, waduh cilaka, saudara. Cilaka kita. Cilaka. Saya belum pake ini. Nggak pake. Banyak pendeta tanya sama saya, broer sudah pake? Saya bilang, nggak. Saya nggak pake. Pokoknya gereja saya terbuka. Orang mau masuk, kita tidak bisa tolak. Orang mau keluar, kita nggak bisa cegah. Siapa saya, saya bilang. Saya cuma menyediakan makanan saja. Orang doyan makanan saya, yah puji Tuhan, ban-ban kamsiah. Tapi mungkin orang tidak suka makanan saya. Saya juga tidak bisa paksa. Jadi saya bilang, saya ikut papa sayalah, oom Yan. Buka, pintu terbuka. Politik pintu terbuka. Tapi saya lagi pikir, pintu gereja saya, saya mau bikin kunci di bagian belakang, supaya orang bisa masuk tapi nggak bisa keluar. Kita harus berdoa supaya kita punya hikmat dari Tuhan, bagaimana orang bisa masuk tapi nggak bisa keluar lagi. Biar dia betah di gereja kita, gitu. Kok nggak ada haleluyah? Berarti saudara nggak betah. 

Nah, ini saudara, mungkin di seluruh Jawa Barat, mungkin seluruh Indonesia, kebaktian dan puasa seperti ini banyaknya, cuman di Cianjur, di gereja kita saja. Jadi saya bilang, saya nggak pake deh. Disiplin itu saya terapkan di sekolah Alkitab, tapi untuk jemaat, saya bilang nggak. Nggak pake dulu. Kalau pake disiplin, waduh, saudara-saudara, waduh ngeri. Ngeri. Dulu pernah gereja kita, dulu, jaman papa saya, pake. Pusat musti pake KTP, kartu anggota. Sudah pake foto, di stempel. Teuing kamana teteh ayeuna mah KTP teh, laleungitan. KTP ieu nu ti lurah ge sok laleungitan, komo deui KTP gereja. 

Nah, jadi saudara-saudara kita kembali lagi, bahwa kedalaman, ketenangan, keteduhan, diam diri. Diam, nggak banyak omong, tenang, teduh. Kan peribahasa bilang, air yang tenang menghanyutkan. Itu adalah keteduhan. Jadi, saudara-saudara, tidak menampakkan diri adalah satu karakter dari Kristus. Salah satu karakternya, Dia tidak suka menampakkan diri. Saudara, saya tidak sebut beberapa ayat, tapi saudara bisa baca dalam Injil, Yesus suka ngomong begini : Jangan kamu katakan kepada siapapun yah, lalu Dia pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa, di gunung sendirian. Ada pendeta yang suka khotbah, siapapun yang datang sama Yesus, Dia tidak tolak. Betul, memang ada ayat itu. Tapi saya pernah baca, orang berbondong-bondong minta dilayani Yesus, Yesus tinggalkan. Yesus pergi untuk berdoa. Mari kita lihat Yohanes pasal 6, yang berikutnya untuk melihat bagaimana apa yang diajarkan oleh Tuhan bagi kita. Yohanes 

6:22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. 
6:23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. 
6:24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ternyata Yesus meninggalkan mereka, saudara-saudara. Yohanes 

6:15 Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri. 

Dia nggak mau nonjolkan diri, nggak mau kasih lihat, nggak. Dia menyingkir seorang diri. Ketahuilah saudara-saudara yang sedang berpuasa dan berdoa sore hari ini, di hadapan Tuhan saudara sedang menyingkir. Saudara sedang mengasingkan diri. Karena puasa itu bukan hanya tidak makan dan tidak minum, tapi juga saudara mengurangi pikiran-pikiran yang tidak bikin kita pusing, kita kurangi. Bicara yang tidak perlu, kita juga jauhi. Masih dalam Yohanes

6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. 
6:67 Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" 
6:68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; 
6:69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." 

Saudara bayangkan Yohanes 6:66. Jadi saudara jangan lupa seumur hidup, gampang ingatnya, Yohanes 6:66. 666 - banyak murid meninggalkan Yesus. Berarti Dia ditinggalkan. Dibiarkan sepi. Dulu banyak murid. Sekarang Yesus ditinggalkan murid. Saya ingat perkataan almarhum pendeta Pandeirot dari Kadipaten, sudah meninggal. Dia berkata di Sukabumi, waktu itu rapat pendeta, saya masih muda masih baru punya anak satu, Melvin. Dia bilang begini, kalau jemaatmu berkurang karena orang-orang itu tidak mau hidup benar, tidak mau hidup suci - itu bukan berarti jemaat anda mundur, tetapi jemaat anda itu maju. Itu saya ingat. Kalau ada jemaat yang 'bermasalah' dan 'berpenyakit' pergi meninggalkan jemaatmu, itu bukan satu kemunduran, itu satu berkat, itu satu kemajuan. Karena penyakit, masalah tidak ada lagi di dalam jemaat. 

Banyak murid ini yang ikut Yesus ternyata bermasalah semua. Mau roti tapi tidak mau salib. Waktu Yesus berkata : Akulah roti hidup, siapa yang makan, Aku akan mati ... Mereka tidak mau, terlalu keras ini bicara. Maka ditinggalkanlah Yesus, sehingga Yesus kembali tidak menampakkan diri. Artinya, Dia ditinggalkan sendiri sampai Dia menantang Petrus dan murid-murid yang lain : Apa kamu tidak mau pergi juga sekalian meninggalkan Aku? Petrus dengan jujur dia bilang: Kepada siapa lagi kami mau pergi? Kepada siapa lagi kumengadu ... Hanya padaMu Yesus ... Kudatang s'karang kepada Mu Yesus ... Kubawa beban hidupku yang berat. Ini murid-murid yang meninggalkan Yesus itu nekad saudara-saudara. Sumber air hidup ditinggalkan. Roti hidup ditinggalkan. 

....................................................  (to be censored at Pdt JE Awondatu's request) ......................................................

Sekarang saudara mungkin mengerti apa itu artinya sembunyi. Bukan kita saja yang sekarang sedang dilanda kesusahan, orang islam yang Tuhan buka matanya, yang terima Yesus, bukan orang sembarangan, ............ Saya bisa kasih kesaksian, di Amerika ada satu keluarga, suami istri islam. Suami baca qur'an, malam-malam mau baca qur'an, wajah Yesus disitu. Waduh, dia lompat, berdiri, bangunkan istrinya, ada wajah Yesus ini. Ah, kamu mah kurang mandi, kurang tidur kali kamu. Masa, dia bilang. Dilihat qur'an nya nggak ada wajah apa. Aku lihat nabi Isa. Nggak ada. Istrinya itu cuci muka, wudhu, mau sembahyang. Itu di bak air, wajah Yesus disitu. Tidak lama dua-duanya terima Yesus. Sekarang jadi jemaat di Amerika. 

Jadi dia sudah dengar khotbah saya hari Minggu, dia ingin masuk sekolah alkitab Cianjur padahal dia sudah lulusan sekolah alkitab di Jakarta. Saya bilang, bisa sembunyi saja di Cianjur tapi ya keselamatan saya tidak jamin karena yang jamin keselamatan itu cuma Tuhan. Datang sama Yesus jangan takut. Tapi sekarang saudara mengerti apa artinya tidak menampakkan diri. Dia bangun itu sudah maut dah. Maut. Tidak tahu, lihat siapapun mungkin mau dibunuh. Jadi kalau dia ini tanya sama saya, saya mau ganti nama apa, saya kasih nama dia Paulus. Karena Paulus juga dia bunuhin orang kristen dulu, sekarang menjadi penginjil. Saudara mengerti sekarang ya, apa artinya menyembunyikan diri.

Nah, kembali kepada Lukas sebelum kita berdoa, kita lihat satu dua kata lagi, ayatnya ke 24.
1:24 Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: 
1:25 "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang." 

Siapa diantara saudara yang merasa saudara mengalami aib didepan orang. Mungkin dalam keuangan, mungkin dalam hal yang lain, orang mencap saudara aib. Dengar Firman Allah. Tuhan sanggup merubah. Sekarang, Ia berkenan menghapuskan, bukan merubah saja - aibku. Kalau ini aib, lihat ke depan. Seluruh masyarakat di kota Cianjur tahu saudara ada aib, Tuhan dengan kuasaNya dan kemuliaanNya sanggup menghapus. Saudara tidak ada lagi aib. Jangan saudara tidak percaya ini. 

Dua menit ini saya pakai ngomong jangan saudara tidak percaya ini. Renungkan Paulus. Dia bunuhin orang kristen - aib dong. Seluruh orang kristen tahu dia pembunuh. Tapi kok Tuhan bisa percayakan dia jadi rasul, diangkat ke Surga, langit yang ke tiga, diangkat lihat Firdaus. Saya tanya sama saudara: Apa sih istimewanya Paulus, sampai Paulus diangkat ke surga, ke langit yang ke tiga? Nggak ada. Dia pembunuh. Tapi kalau Tuhan hapuskan aibnya, kita mau bilang apa? Maka dalam Mazmur 32 Daud berkata: Berbahagialah orang yang dosanya ditutupi, yang kesalahannya tidak ditanggungkan atasnya. Artinya apa? Dihapus, sudah tidak ada lagi. Semua keaibannya sudah nggak ada. Sudah Tuhan bikin  putih lagi bersih. Jadi aib itu bisa datang karena keuangan, karena pribadi, karena kelakuan, ... apapun saja bisa. Tapi ini jangan saudara tidak percaya, Tuhan bisa menghapuskan aib. Supaya saudara tidak kaget ya. Saya diundang ke Belanda bulan September. Nanti Juli ini, saya ke Sorong, Irian. Eks Cianjur, sudah berhasil dia. Sudah bangun gereja, alat musik lebih modern dari ini. Eks Cianjur bikin KKR sekarang. Eks Cianjur dikumpulkan, bikin  dikota Sorong. Tapi cuma 3 hari. Di Belanda 4 hari kebaktian tapi dalam jangka 10 hari. 

Elisabet yang mandul punya anak. Paulus yang pembunuh jadi penyelamat jiwa. Matius tukang pajak jadi pencari jiwa. Nelayan Petrus, Tuhan pakai jadi penjala jiwa. Kalau saudara-saudara rela dipakai oleh Tuhan, ijinkan Tuhan menghapus aib saudara. Ijinkan Tuhan dengan sayangnya menghapus aib saudara, dan ijinkan Tuhan mulai menulis kehidupan yang baru, sejarah yang baru dalam hati saudara. Dan saya dari mimbar ini akan merasa bangga, akan merasa suka cita, akan merasa berbahagia. Sus Angka sudah dipanggil Tuhan. Saya hanya mengingat waktu dia pemudi, waktu dia ikut Tuhan. Dia berangkat mendahului kita, umurnya baru 60 tahun, belum terlalu tua. Masih banyak yang lebih tua dari dia. Tapi kalau Tuhan sudah panggil, mau apa kita? Kan kita nggak terus disini kan? Karena kita nanti kembali juga kesana. Kenapa nggak dari sekarang kita minta: Aduh Tuhan, biar aku sembunyi dibawah kepak sayap-Mu. Saya mau nyanyi satu nyanyian. Nyanyian ini kuno tetapi selalu memberkati hati saya. Baik berlindung t'rus .. Dalam cintanya Allah .. Baik berlindung t'rus .. Dalam naungNya  Tuhan .. Disanalah kita pun dapat sentosa .. Kudalam lindungan Tuhan. 

Ada kesulitan 5 bulan namanya. Ada air bah 5 bulan namanya. Dan Elisabet bersembunyi 5 bulan namanya. Diluar ada banyak kesukaran kesulitan. Kemana kita mau pergi, selain kita berlindung dikaki Tuhan. Sekali lagi kita menyanyi. Baik berlindung t'rus ...  

-- o --   

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________